Cast : Yoon Eun Hye

: TOP – Seunghyun (Big Bang)

: Ju Yeon (Afterschool)

: Shin Hee (Free cast)

: cameo : Minho (shinee), Lee Joon (mblaq)

Backgroundmusic : Taeyang-Baby im so sorry

—————–

-Author scene-

Cuaca tidak begitu bersahabat ketika dia keluar dari rumah sakit. Yoon Eun Hye nama gadis itu. Dia keluar dari rumah sakit ketika Jam sudah menunjukkan pukul Sembilan malam. Angin malam yang tidak seperti biasanya seakan ingin mengeluarkan hujan yang begitu deras, namun untungnya ketika gadis itu sampai di sebuah Halte barulah awan memuntahkan isinya ke bumi, hentaman yang begitu kuat jatuh ke permukaan membuat di sekelilingnya basah akibat derasnya hujan yang turun.

Dia melemparkan pandangannya kesekeliling yang begitu sepi,mencari teman untuk mengobrol sembari menunggu bis di sela-sela hujan deras. Hanya ada seorang pria yang terlihat hancur dan tak berdaya di sudut halte. Pakaiannya sudah tidak rapi lagi, jas yang dikenakannya sudah tampak kusut. Wajahnya begitu frustasi dengan sebotol minuman yang beralkohol di genggamannya.”Kenapa kau melihatku!!” bentak pria itu ketika sadar Eun Hye memperhatikannya.

“Ani…” sahutnya tersentak kaget. Pria mabuk yang terlihat kusut dan frustasi itu berjalan mendekat kearah Eun Hye dengan langkah sempoyongan, di rangkulnya gadis itu dan berbicara ngaur kepadanya yang jelas-jelas tidak di mengerti sama sekali olehnya, gadis itu hanya bisa menghindar dan mencoba menjauh namun…

“HUEK”

Pria itu memuntahkan isi perutnya di samping eun hye.

“Heii apa yang kau lakukan?” gadis itu tersentak kaget, ia tahu itu percuma membentak orang yang sedang mabuk namun hatinya begitu kesal sudah dimuntahi oleh pria yang tidak dikenalnya.

Pria itu trus berdiri dan menatap sendu kearah eun hee sebelum ia pingsan tidak sadarkan diri.

****

Dia hanya bisa mengatupkan gerahamnya dengan erat, seperti menahan rasa sakit dan kehilangan yang membuatnya hampir gila.

******

Gadis itu menatap wajahnya yang tertidur pulas. Membuat dadanya tidak karuan. Jantungnya…

jantungnya.. berdetak kencang ketika melihat pria yang jelas-jelas belum di kenalnya.

Seung hyun mengerjapkan matanya mencoba mengenali tempat dimana ia berada. Rupanya ia berada di kamar gadis yang telah dimuntahinya. “Kau sudah sadar?” gumam gadis itu berjalan mendekat kearah namja yang sudah memuntahinya tadi malam dan meletakkan secangkir teh hangat di meja samping tempat namja itu tidur.

“mwo? Ada apa denganku? Kenapa aku bisa disini?”

“Semalam ketika aku menunggu bis di halte aku tidak sengaja memandangmu dan membuatmu marah,lalu kau mendekat kearahku dan berbicara kepadaku yang aku tidak mengerti apa maksudnya lalu tiba-tiba saja kau muntah dan pingsan”

Seung hyun teringat kembali kejadian semalam, tanpa sadar air matanya sudah mengalir di pipinya. “Hei..hei.. kau kenapa? Haduh, kenapa kau menangis? Aku tidak menyentuhmu kok” ujar Eun Hye panik.

“Aa anio, aku hanya..” Seung Hyun menyeka air matanya lalu mencoba bangun namun badannya yang lemah membuatnya kembali terjatuh ketempat tidurnya.

“Hey! Kau belum sembuh benar” Eun Hye mencoba membantu namja itu untuk berbaring kembali. “semalam kau terbentur cukup kuat di lantai halte jadi mungkin peningmu masih begitu terasa tapi beberapa jam lagi palingan kau sudah sembuh. Jadi beristirahat saja dulu.”

“Oh nee.. gomawo.Tapi kalau aku boleh tahu dengan apa kau membawaku kesini?”

“Tentu saja dengan bantuan orang. Kau kira aku sanggup membawa badanmu yang besar begitu ke apartemenku? Aku meminta bantuan supir taxi semalam”

“Hmm..mianhe, jeongmal mienhe sudah merepotkanmu.Dia mengulurkan tangannya kepada gadis itu ”Chonun Choi Seung hyun” ujarnya

“Yoon Eun Hye.” Jawab gadis itu dengan senyuman” Kau tinggal dimana? Apa kau ada keluarga yang bisa di hubungi?”

“Aku tinggal di daerah Apgujeong. Keluarga? orang tuaku sudah meninggal dua tahun yang lalu. Aku tinggal sendiri di apartemenku.”

“Oh.. mianhe” gumamnya cepat dengan tertunduk.

“aa gwenchana. Seharusnya aku yang meminta maaf karena sudah merepotkanmu sampai seperti ini”

“Ani..lagian aku juga tinggal sendiri jadi berhubung ada kau, aku merasa ada teman” gumam eun hye bangkit dari tempat duduknya . “Aku harus bekerja. Maaf aku harus meninggalkan mu sendiri di sini. Kalau ada apa-apa telp saja , ini no hp ku” ujarnya sambil menyodorkan secarik kertas kecil. “Kalau kau ingin makan, aku sudah menyiapkan bubur di meja.’

“Nee.. khamsahamida. Maaf sudah merepotkanmu. Dan terimakasih juga sudah mempercayai orang asing sepertiku.”

“nee, annyonghikyeseyo”

“nee..anyeong”

*********

Waktu sungguh cepat berlalu, gadis itu pulang dari tempat kerjanya dengan wajah yang begitu lelah “Aku pulang” ujarnya begitu sampai rumah dengan membawa kantong berisi buah di tangan kirinya

Seung Hyun yang sudah terlihat lebih baik dia duduk di sofa dengan kemeja yang sudah di bersihkannya begitu laki-laki itu pingsan “Bagaimana keadaanmu? Apakau sudah merasa lebih baik?” tanya gadis itu begitu mendapati namja itu.

“Nee… oh ia sepertinya aku harus pulang ke apartemen ku malam ini juga. Sekali lagi terima kasih sudah mau merawatku, dan kalau kau tidak keberatan besok siang aku ingin mengajakmu makan siang. Sebagai tanda terimakasihku padamu karena sudah mempercayaiku, walau kita baru bertemu”

“hmm arraso”

“kalau begitu aku permisi dulu. Aku sudah menyimpan no hp mu” ujarnya sambil membungkuk hormat

“Hati-hati di jalan. Oh ia ini aku belikan buah apel segar untukmu. Sebaiknya kau memakannya agar kondisimu kembali segar” ujarnya sambil menyodorkan kantong plastic kepada Seung Hyun sebelum ia pergi

“Sekali lagi terimakasih” ujar Seung Hyun membungkuk

“cheomaneyo”

-Author scene END

*******

Yoon Eun hye scene~

Keesokan harinya seperti yang sudah di janjikan Seung Hyun kepadaku kami bertemu di sebuah café yang alamatnya sudah di beritahunya padaku pada pagi harinya. Sebuah café yang begitu nyaman dengan music live nya, begitulah yang aku rasakan begitu sampai di dalamnya.”Hai” ujar Seung Hyun melambai kearahku begitu melihatku datang

“Apa kau sudah lama menunggu?” tanyaku begitu sampai dan duduk berhadapan dengannya

“Tidak juga. Oh ia kau mau pesan apa? “

“Makanan apa yang paling lezat disini?” tanyaku membolak-balikkan menu yang ada

“Menu yang paling enak disini adalah Bistik sapinya yang bisa membuat air liurmu keluar”

“hmmm berarti kau sering kesini ya? Baiklah aku pesan itu saja dengan lemon tea dingin”

“Baiklah aku akan memesankan nya untukmu!” Seung Hyun melambai kearah seorang pelayan yang berdiri di ujung pintu lalu memesan pesanan yang sama denganku kemudian mengucapkan terimakasih pada sang pelayang

“Oh ia, sekali lagi terimakasih karena sudah menolongku” lanjutnya.

“Sudahla. Sudah seharusnya manusia saling tolong menolong. Oh ia bagaimana kepalamu? Apa masih terasa sakit?”

Seung Hyun mengarahkan tangannya ke kepalanya mengelus pelan kepalanya “tidak, kepala ku sudah membaik berkatmu. Oh ia tidak ada yang marahkan aku mengajakmu makan siang?” tanya nya tersenyum.

Aku hanya tertawa mendengar pertanyaan laki-laki yang membuatku nyaman berada di dekatnya “Tentu saja tidak. Bagaimana denganmu? Apa wanita yang memiliki cincin di tangan kiri mu itu tidak akan marah?”

Wajah Seung Hyun seketika berubah ketika menatap cincin yang yang berada di tangan kirinya “Ini bukan apa-apa” sahutnya cepat dia menurunkan tangannya dari atas meja.

“Oh. Kalau begitu biar aku memperkenalkan diriku secara formal padamu, sambil menunggu pesanan kita datang” usulku

“Baiklah.”

“Perkenalkan aku Yoon Eun hye, aku bekerja di perusahaan swasta. Aku anak kedua dari dua bersaudara. Apa itu terlalu lengkap?” aku kembali bertanya padanya

“Anio, baiklah sekarang giliranku.” ujarnya, ”Perkenalkan, aku Choi Seung Hyun, aku bekerja sebagai arsitek dan sekarang sedang mencoba dunia potographi. Dan aku harap kita bisa menjadi teman baik” ujarnya dengan bibir yang membentuk lengkungan senyum yang manis.

“Nee..”

“Hmmm Aku ingin berterus terang padamu. Kenapa aku pingsan dan mabuk kemarin malam” ujarnya tertunduk dengan wajah yang serius

“Hmm, apa itu tidak apa-apa? Kau tidak harus menceritakannya sekarang jika kau tidak mau” jawabku merasa tidak enak, karena baru sehari kami kenal dia sudah ingin menceritakan masalahnya kepadaku.

“Tidak apa-apa, aku senang bisa mengenal mu, rasanya kita seperti sudah kenal lama” sahutnya. “Aku sudah bertunangan. Namun tunanganku meninggalkanku” sambungnya

“Mwo? Tunangan? “ tanyaku heran

“Nee.. kami sudah pacaran dua tahun, dan berencana menikah tahun depan. Tapi dia kembali lagi dengan mantan pacarnya” ujarnya pelan sambil tertunduk lemas.

Aku memberanikan diri menggenggam tangannya, sepertinya dia memang betul-betul hancur. Itu terlihat dari dia menatapku dan suaranya.

“Apa yang harus kulakukan Eun hye?!” nada suaranya terdengar begitu putus asa. Sepertinya selama ini dia tidak mempunyai teman untuk bercerita. Dan aku sungguh bisa merasakan rasa sakit yang dia rasakan.

Ku mengambil posisi duduk di sampingnya dan mencoba menghiburnya yang berubah menjadi kacau dan hancur. “Kalau dia memang mencintaimu, aku yakin dia akan kembali lagi padamu. Dan jodoh itu di tangan Tuhan”

Seung Hyun hanya memelukku dan menangis di pelukanku. “Mungkin karena itu dia terus memakai cincin itu.” pikirku.

*********

pertemuan tidak sengaja di halte membuat mereka menjadi akrab

*********

3 Month laters..

Hujan deras sudah mengguyur kota sedari pagi tadi, membuat jalanan sepi oleh pejalan kaki, mereka lebih memilih naik bus atapun kereta api bawah tanah ketimbang berhujan-hujanan.

Kepalaku sungguh sakit sehingga membuatku hampir pingsan siang ini, Shin Hee teman sekantorku menemaniku untuk keluar mencari obat pereda sakit kepala tidak jauh dari kantor. Tadinya Shin Hee ingin membelinya sendiri, karena melihat kondisiku yang terbaring lemas di ruang kesehatan kantor. Namun aku bergigih keras untuk ikut. Aku takut kalau dia tahu penyakitku.

Dan sekarang inilah kondisiku, lemah dan harus di bantu berjalan. “Tadi kan aku sudah bilang tidak usah ikut. Beginikan jadinya jalan saja harus di bantu” gerutu Shin Hee sepanjang jalan. Dan aku tidak menyalahkannya karena aku sendiri yang meminta ikut.

“Shin Hee~ya, bisa kau antarkan aku ke dokter saja?” pintaku dengan suara lirih.

“Baiklah” gumamnya tanpa banyak berkomentar.

Beberapa menit kemudian kami sampai kerumah sakit. Aku meminta Shin Hee agar memanggilkan dokter bernama Joon, untuk sesaat dia tampak bingung namun dia hanya menuruti perintahku yang terlihat begitu kesakitan. Aku sungguh tidak bisa menahan rasa sakit di kepalaku ini, apa benar kata dokter itu? tingkat klimaks dari penyakit ini adalah sakit kepala?

“Eun Hye” seseorang memanggil namaku, namun aku tidak dapat melihatnya dengan jelas, aku seperti berada dalam suatu tempat yang sunyi.

********

“Kenapa hpnya tidak di angkat-angkat? Ada apa dengan Eun hye, apa dia sakit? Sepertinya aku harus kerumahnya”.

TOK..TOK..TOK..

Tidak ada orang yang membuka pintu ataupun menyahut dari dalam ketika aku mengetuk rumahnya. Kemana dia? Apa dia pergi dengan temannya? Hmm mungkin besok aku akan mencoba menghubunginya kembali.

*****

Aku mencoba membuka mataku yang terasa berat, aku melihat seorang memakai baju putih di samping ku. “Apa kau sudah merasa baikan?” suaranya tidak terdengar asing ditelingaku. Aku menggosok mataku mencoba melihat lebih jelas siapa pemilik suara itu.

“Sebaiknya kau minum dulu” ujarnya membantuku untuk duduk, dengan kepala yang masih pusing. Namun tidak sesakit kemarin. “Joon?” sekarang aku sudah bisa melihat jelas siapa pemilik suara itu. Joon seorang seorang dokter yg kupercaya.

“Baiklah, aku akan langsung ke inti permasalahannya Eun Hye” suaranya terdengar serius, berbeda dengan yang tadi. Aku sudah tahu pasti dia akan membicarakannya.

“Sudah berapa lama aku tertidur?” aku mencoba mengalihkan pembicaraannya.

“Sudah tiga hari” gumamnya. “Baiklah kembali ke topic awal aku ingin membicarakan mengenai masalah..” belum sempat dia melanjutkan kata-katanya lagi aku sudah terlebih dulu memotongnya.“Temanku yang kemaren tidak tahu kalau aku..”

“Aku tidak memberi tahunya. Eun Hye tolong dengarkan aku dulu, aku belum selesai berbicara”

“Apa aku boleh pulang?” aku pura-pura tidak mendengar apa yang baru dikatakannya

“Yoon Eun Hye! Tolong dengarkan aku” ujarnya dengan suara meninggi

“Sebaiknya aku pulang Joon, aku harus kembali ker..”

“Kalau kau terus-terus tidak mendengarkanku KAU AKAN MATI!” kini aku tidak bisa berbicara lagi, rasanya seluruh tubuhku menjadi beku tidak bisa digerakkan sama sekali.

“Eun hye, ini sudah stadium akhir” suaranya kembali pelan, hampir tidak terdengar. Dia memelukku yang seperti patung tidak bergerak sedikitpun dan hanya mengeluarkan air mata.

“Jalan terakhir adalah di kemo Eun Hye, kalau tidak… maka semua akan terlambat.”

Apa yang sekarang harus aku lakukan? Kenapa semua ini terjadi padaku? Dulu appa meninggal karena penyakit yang sama dengan ku, dan sekarang apa aku harus menyusulnya juga?

“Eun Hye kanker ini sudah menyebar pada bagian mata, telinga, kelenjar leher dan sekarang otakmu.” Suara Joon terdengar begitu lirih.

“A..aa..aaku, butuh waktu untuk semua ini Joon” ujarku dengan suara bergetar.

************

Akhirnya aku bisa kembali pulang kerumah dengan keadaan yang lemah seperti ini.

Begitu banyak pesan yang masuk di teleponku. Apakah harus mengakhiri hidupku dengan kemo atau.. tiba-tiba seseorang mengetuk pintuku ketika aku hendak mengambil keputusan penting dalam hidupku.

“Seung Hyun?” dia berdiri di depanku sekarang, wajahnya terlihat begitu khawatir.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya

“aa~ aku baru saja pulang dari rumah sakit” ujarku mempersilakannya masuk

“apa kau sakit? Aku menelepon dan datang kerumahmu selama beberapa hari ini, tapi kau tidak ada aku pikir sesuatu yang buruk menimpamu”

Sesuatu yang buruk sudah menimpaku sejak lama Seung Hyun.

“aku hanya demam biasa, tapi dokter melarangku untuk pulang dan mengharuskanku untuk beristirahat di rumah sakit untuk beberapa hari.” Gumamku.

“kau yakin kau hanya demam?” dia sepertinya tidak begitu yakin dengan apa yang aku katakan.

“tentu saja. Oh ia, ada apa kau mencariku selama beberapa hari ini?” aku mencoba membawanya ketopic yang lain dan tampaknya itu berhasil.

“aah~ itu! aku baru saja menyelesaikan bangunanku dan aku ingin merayakannya bersamamu.”

“bersamaku?” jawabku tidak percaya

“waeyo? Apa kau tidak mau?”

“anio, bukan itu maksudku hanya saja..”

“apa kau masih merasa sakit? Kalau ia, lain kali saja kita perginya”

“tidak, aku sudah merasa lebih baik. Apa kita pergi sekarang?”

“kalau kau mau, kenapa tidak.”

“kalau kau tidak keberatan aku ingin mandi dulu”

“ohh.. baiklah aku akan menunggu mu disini”

“ok”

*********

Perasaan ini sudah terlanjur menggrogoti setiap relung hatiku, kenapa harus dia yang aku cintai? Padahal dia hanya menganggapku sahabatnya. Apa yang harus aku lakukan Tuhan? Disaat hidupku tidak lama lagi dan disaat hatiku benar-benar ingin memiliknya.

Aku ingin waktu berhenti sejenak,mengingat masa-masa yang sudah aku lalui bersama Seung Hyun, sentuhan tangannya, bisikannya, perhatiannya dan senyumannya, suranya, seakan menyanjung diriku. Menerbangkan setiap rasa sakit yang aku rasakannya. Namun sekarang itu kosong, semua kenikmatan yang pernah aku rasakan itu hilang.

Dia sudah kembali kepada gadis pujaannya dan kini itu semua hanya tergambar dalam setiap ingatanku.

“Eun Hye~ya.. berat badanmu turun drastis. Apa kau diet?” Shin Hee menatapku lekat-lekat, entah sudah berapa lama dia memandangiku seperti ini. Dan yang dia bicarakan hanya itu ke itu saja. Memang berat badanku sudah hilang entah kemana sejak aku putuskan ikut kemotrapi.

“Shin Hee. Aku tidak diet” akhirnya aku mengeluarkan suaraku, gerah dengan ocehannya

“Tapi kenapa dalam beberapa bulan ini bisa menjadi seperti ini?” tanya nya lagi. “aahh aku iri padamu Eun Hye.Iri!” dengusnya kesal. “Kau lihat timbunan lemak ini?” dia menunjukkan perutnya yang terlihat buncit. “Dan ini juga” ujarnya menunjukkan betisnya.

Aku hanya bisa terkekeh jika dia sudah seperti itu. Kau tidak akan iri padaku Shin Hee, kalau kau tahu keadaanku yang sebenarnya.

“Kau masih mengikuti kelas ‘….’ ” Aku hanya membentuk jariku menjadi tanda petik.

“Nee” angguknya. “aahh tapi tetap saja tidak berhasil, sudah semua alat olahraga yang berada disana aku coba tapi tetap saja tidak ada hasilnya”

“Sudahla… aku yakin kau akan menjadi kurus dengan sendirinya”

“aku harap juga begitu”.

*********

Jalanan sudah sepi saat aku berjalan seorang diri menelusuri setiap sudut tempat tinggalku yang tidak jauh dari kota. Aku menggosok telapak tanganku yang begitu dingin dan menarik sweaterku. Aku memberhentikan langkahku di sebuah gerai makanan yang terlihat ramai dipenuhi orang-orang yang pulang bekerja larut malam, aku memesan kopi hangat lalu duduk di salah satu meja yang hanya satu-satunya kosong.

Tidak butuh waktu lama seorang ajumma dengan wajah yang ramah mengantarkan pesananku. Aku menyesap pelan kopi panasku. Mencoba menikmati sisa hidupku yang tinggal sedikit.

Beberapa hari yang lalu saat selesai kemo, Joon menemuiku tanpa basa-basi dia mengatakan kalau hasil kemoku selama beberapa bulan ini tidak mengalami kemajuan dan itu tandanya waktuku hampir tiba.

“silhemhamida..” seorang laki-laki dengan postur yg tinggi menghampiriku.Aku hanya menatapnya heran. “Apa kami bisa bergabung denganmu? Meja yang lain sudah penuh” ujarnya

“aa~ nee” gumamku. Namja itu duduk bersama dengan seorang Yeoja.

“Mian mengganggu” gumam Yeoja itu tersenyum

“ani” sahutku cepat.

“yeobo, kau ingin pesan apa?” tanya sang namja pada yeoja nya

“hmm yang panas-panas sajala” ujar sang yeoja

“arraso. Ajumma sup dan nasinya dua” pesan sang namja

“nee” sahut ajumma sang pemilik gerai dari tempatnya.

“Apa kalian baru pulang kerja?” aku mencoba mengajak mereka mengobrol.

“nee, aku baru menjemput istriku dari kantornya.” Jawab sang namja.

“myotsiyeyo?” tanya sang yeoja padaku

“jam sebelas”

“ohh.. yeobo, apa anak-anak tadi sudah makan?”

“sudah, aku memasakkan stik hari ini untuk mereka”

“aa gomawo”

Aku sedikit iri dengan pasangan yang terlihat mesra di hadapanku sekarang ini, andai saja aku dan Seung Hyun.. aahh paboya! Kenapa aku masih mengharapkan dia.

“Chonun Minho imnida” namja itu mengulurkan tangannya padaku diikuti yeoja yang berada di sampingnya. “Chonun Eun Jul imnida”

“Yoon Eun Hye imnida, bangap seumnida” gumamku.

Yoon Eun hye scene END

**********

Seunghyun scene~

Dia terlihat berbeda dari sebelumnya. Kenapa perasaanku terhadapnya menjadi hambar?

Kenapa aku hanya memikirkan Eun Hye saat sedang bersamanya? Apa aku…

Aku harus menemuinya dan mengutarakan perasaanku padanya sebelum hubunganku dengan Ju-Yeon menjadi lebih serius. Aku tidak bisa terus-terusan menyembunyikan perasaanku.

Langkahku ku percepat menghampiri Ju Yeon yang berada di dapur apartemenku. Dia terlihat begitu terkejut dengan kedatanganku namun aku tidak memperdulikannya, ku pegang kedua tangannya lalu menatap serius kearahnya. ‘Waeyo oppa?’ tanyanya heran

“Ju Yeon, sepertinya hubungan kita sampai disini” ujarku lantang dan malah membuatnya tertawa tidak percaya

“aiish oppa, kau kira aku akan percaya dengan ucapanmu begitu saja hah? Sudahlah sebaiknya kau kembali menonton tv, aku sedang membuatkan makan malam untukmu.” Dia melepaskan genggamanku.

“Apa wajahku terlihat bercanda? Aku serius Ju Yeon. Aku tidak mencintaimu lagi. Aku mencintai orang lain” kini piring yang sedang di peganggnya jatuh, suara pecahan itu membelah kebisuan yang ada di antara aku dan dia.

“Apa kau mencintai gadis yang pernah menolongmu sekali itu?” tanyanya tanpa menatapku sedikitpun

“Nee”

“Dia hanya menolongmu sekali, dan kau langsung menyukainya?!” Ju Yeon menatapku tajam air matanya sudah jatuh membasahi pipinya

“Dia yang selama ini menghiburku disaat aku terpuruk. Aku mohon mengertilah” pintaku mencoba merengut tangannya namun dia menghempaskannya. Dia hanya diam dan terus menangis. “Baiklah kalau itu yang oppa inginkan, aku tidak bisa memaksa hubungan ini” ujarnya lalu pergi meninggalkan dalam kekacauan ini.

Seunghyun scene END

***********

Yoon Eun Hye scene

Waktuku tinggal sedikit, rasa sakit ini sudah menggerogoti seluruh tubuhku hingga aku tidak mampu lagi berjalan. Kini hari-hariku hanya berada di kursi roda. Aku memilih tinggal dirumah sakit, tanpa ada keluarga disampingku. Aku tahu mereka sibuk dengan bisnis mereka jadi aku tidak mau membebankan pikiran mereka.

Hanya saja Joon sudah memberi tahu Shin Hee sahabatku tentang kondisiku beberapa hari sebelum aku memutuskan untuk tinggal dirumah sakit hingga waktu ku tiba, dan itu benar-benar membuatnya terpukul sekaligus marah padaku karena aku tidak memberi tahunya tentang keadaanku yang sebenarnya.

“Hei.. kenapa melamun?” Shin Hee datang dengan membawa buah-buahan. “Aku akan mengupasnya untukmu” ujarnya.

“khamsahamida”

“Apa kau yakin tidak akan memberi tahu Siwon oppa dengan semua ini?” tanyanya.

“nee, aku tidak mau membuat mereka cemas tentang keadaanku. Sebaiknya kau saja yang memberi tahu mereka saat aku sudah pergi nanti”

“aiissh! Sudah kubilang kau masih ada harapan.” Ujarnya. Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya karena aku tahu dia hanya mencoba menghiburku.

**********

“Mwo? Yoon Eun Hye sekarang dirumah sakit?” dia begitu kaget mendengar ucapan yeoja paruh baya yang tinggal disamping rumah Eun Hye

“Nee.. kalau aku tidak salah dengar dia sakit kanker nasofaring, dia sudah lumpuh sekarang makanya itu dia lebih memilih tinggal dirumah sakit. Aish kasian gadis cantik itu, padahal dia sangat baik. Tapi kenapa dia harus mengalami ini”

“aa~ arraso gomawo.” sahut Seunghyun buru-buru lalu pergi

**

“Aku benar-benar tidak percaya apa yang aku dengar dari wanita itu. Eun Hye sakit kanker? Dia lumpuh? Ah, mungkin wanita itu salah dengar. Eun Hye yang aku kenal begitu sehat dan ceria mana mungkin dia sakit.” Batin Seunghyun.

Namun perkataan wanita itu terbukti setelah dia bertemu sesosok wanita kurus pucat memakai topi sedang duduk di kursi roda ketika a masuk kedalam sebuah kamar berwarna biru. Perasaannya hancur, yang hanya dapat dia lakukan adalah memandang lirih yeoja yang pernah menyelamatkannya dari keterpurukan, yeoja yang selalu membuatnya tersenyum dan yeoja itu pula yang menyadarkan perasaannya padanya.

Seandainya aku bisa memutar waktu, aku akan kembali ke masa lalu dan akan menjagamu. Tapi kini hanya sesal,kecewa, dan sedih yang kudapat. Aku hanya bisa menyesali kebodohan yang sudah kulakukan. Yaitu meninggalkanmu. desisnya dalam hati

*******

Seung Hyun? Kenapa namja itu bisa berada disini?

di saat aku menatapmu dan kau juga menatapku, aku ingin momen ini terhenti. Ya-terhenti, aku harap hanya ada kita berdua.

Di saat aku sedang berjuang melawan rasa sakit ini di saat itu pula dia datang..Aku berharap aku tidak akan pergi agar bisa bersamanya. Namun aku benar-benar tidak sanggup, rasa sakit ini sungguh membuatku menyerah.

Yoon Eun Hye scene END

********

Seunghyun scene..

Mentari seolah terkubur. Aku melihatnya, tetes demi tetes air menghujam bumi. Aku terdiam. Menikmatinya dengan hati seperti tertikam sebilah pisau. Kini Dia sudah pergi meninggalkan ku untuk selama-lamanya.

Satu kata yang belum sempat aku ucapkan padamu Yoon Eun Hye..

Sarrangheo. Sarrangheo yongwonhi

*********

Belaian dan sentuhan manisnya di bibirku masih dapat kurasakan semuanya. Membuatku candu untuk merasakannya kembali.

Rasa sakit ini tidak dapat kutahan lagi, aku tidak bisa berpura-pura lagi menutup rasa sakit ini. Aku ingin semua orang yang kucintai berada di sampingku saat aku ingin pergi..Memelukku dan mengucapkan kata perpisahan padaku. Tapi hanya dia yang berada disisiku. Mungkin ini yang dinamakan, ‘jika ada pertemuan, maka ada perpisahan’. Cintaku padamu tidak akan pernah mati walau tubuhku sudah mati.

Mianhamida Seung Hyun. Sarrange

THE END