Background music :

– Big Bang- A Fool With Only Tears

-Taeyang- Baby I am so sorry

CAST :

*Kevin(ukiss)- as Yeo ji

*Top (Big Bang)- as Top

*Joon (Mblaq) – as Joon

*Gikwang(beast)- as Yeo Ji and Jessica cousin

*Jessica(snsd)- as Yeo Ji sister

*Park Jay Boem – as Jessica boy friend

                         

This fanfic made by my own, please don’t sue me 🙂

5 days later…

 

24 November

Yeo Ji pov

 

Aku mulai tak sabar setengah  jam berlalu sudah, dan Gikwang belum datang juga. Aku tahu dia memang pasti akan datang terlambat sehingga aku sudah mengundur waktuku selama aku bisa dari yang dia katakan saat berjanji akan menjemputku di Hotel tempat ku bekerja. Tetapi, kali ini dia benar-benar tidak bisa termaafkan lagi!

Bibirku hanya mampu merajuk. Kutengokkan kepala—ke kanan-kiri—sembari yang sudah sepi. Aku menarik slide hpku yang ku genggam berulang-ulang kali, mencoba menghubungi Gikwang, tapi tidak ada jawaban darinya sama sekali.

Hingga satu jam kemudian suara motor besarnya terdengar oleh telingaku. Dia memberhentikan motornya tepat di depanku, kemudian membuka helmnya. “Sudah lama” dia nyengir padaku. Ingin rasanya aku mencekek lehernya saat itu juga. “ CUKUP BERLUMUT AKU MENUNGGUMU DISINI!!” jawabku kesal kemudian naik keatas motornya.

“Mian, hpku tadi mati jadi tidak bisa menelponmu.” Dia hanya nyengir

“Oh” jawabku singkat. Kalau dia bukan sepupuku mungkin aku sudah memakinya dari—tadi.

___________

“Aku pulang” teriakku begitu sampai rumah. Malam ini benar-benar melelahkan bagiku. Bukan hanya mengurusi tamu yang datang tetapi menunggu Gikwang juga!.

“Baru pulang?” sahut Onni yang ternyata sedang makan di meja makan dengan Jay oppa.

“Ayo makan” ajak laki-laki itu tersenyum padaku

“Nee “ aku membuka kulkas mencari Jus jeruk yang kubeli beberapa hari lalu

“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Onni

“cukup ramai. Mungkin karena menjelang natal.”

“Oh ia, tadi sore Joon menitipkan sesuatu padaku. Katanya untukmu, aku sudah meletakkannya di kamarmu” kata onni

Aku berjalan gontai kekamar, namun setelah melihat sesuatu berwarna merah hati berada di atas tempat tidur dengan cepat aku menyambarnya dan membukannya. Sebuah syal. Ya—syal berbahan wol dengan warna biru langit, dengan cepat aku melilitkannya keleherku dan berdiri menuju cermin ingin melihat rupaku memakai syal pemberian Joon—namja chinguku. Ya, namja chinguku yang baru.

 **

Malam ini aku terjaga, tidak bisa menutup mataku sedikitpun. Ini bukan karena aku memikirkan Joon, tapi memikirkan seseorang yang pernah mengisi hari-hariku saat aku di Amerika. Aku teringat kalau di saat pertama kami jadian dia juga memberiku syal berwarna biru. Persis sama yang diberikan Joon padaku. Apa ini bertanda buruk bagiku?

Yeo Ji pov END

*****

25  November

Someone  pov

Aku masih bisa merasakan belaian dan sentuhan manisnya di bibirku—aku masih dapat merasakan semuanya. Membuatku candu untuk merasakan semua kebahagiaan yang pernah ada.

Sampai kapan aku harus bertahan?

“Apa kau yakin ingin menyusulnya ke Korea?”  suara seorang wanita terdengar dari dalam telpon

“Ia.”

“Kapan kau berangkat?”

“Besok malam.”

“Ini masalah serius. Sebaiknya kau pikirkan lagi.”

“Aku sudah memikirkannya berulang-ulang kali, aku sadar kalau aku tidak bisa hidup tanpanya. Mungkin sesampainya di Korea aku akan segera melamarnya.”

“T-a-api dia— kan”

“Aku tahu siapa dia, tapi aku benar-benar mencintainya”

“………..”

“Aku akan menghubungimu sesampainya aku di Korea. Bye”

“………..”

*****

Pikiran bodoh seperti apa yang merasuknya? Apa dia benar-benar akan pergi meninggalkanku?

Kalimat ‘itu’ seolah mengekang semua niatku. Bagaimana hal itu dapat terjadi?
Semua bersitan memori otakku benar-benar terasa sakit, tertelan semua emosi dibenakku. Membuatku berpikir untuk kedua kalinya demi mencari makna yang tersesat itu. Ya tersesat—

Dia tidak boleh menikahi Yeo Ji!

Someone pov END

********

26 November

Yeo Ji—pov

Joon menutup mataku. Lalu beberapa detik kemudian aku merasakan ada yang mendekapku. Hangat. Seolah aku sudah lama merindukan dekapan ini. Entah apa yang menuntunku, aku malah balas memeluk tubuh itu. Ku rasakan kedamaian dan beberapa detik berlalu. Ada yang menyentuh bibirku. Aku diam, seolah membiarkannya. Dan aku membalas ciuman itu tapi dengan cepat aku melepaskan tautan itu, seolah bukan dia— yang aku inginkan. Tapi orang lain.

“Sarrange” Joon berbisik, membuatku terdiam dan hanya memeluknya. Sungguh aku mencintai namja ini. Tapi tidak seperti aku pernah mencintai seseorang. Rasa-rasanya aku merindukan orang lain—

 Mataku tertuju pada wajah Joon, tapi pikiranku bukan padanya. Dan tanpa banyak kata, aku bangkit berdiri dari tempat dudukku mengajaknya pulang. Aku bisa melihat raut wajahnya yang sempat bingung dengan sikapku, tapi dia hanya menurutiku.

Ketika sampai dirumah aku menghempaskan tubuhku di tempat tidur, pikiranku terus melayang-layang. Seolah dia— ada di dekatku saat sekarang ini. Sudah setahun memang aku tidak berhubungan dengannya, karena aku pikir hubunganku dengannya dimasa lalu adalah sebuah kesalahaan besar setelah apa yang terjadi padaku sekarang ini, tapi aku malah mengulangi kesalahan yang sama. Pada orang yang berbeda.

“Yeo Ji” aku terbangun dari tidurku ketika onni memanggil namaku, entah sudah berapa jam aku tertidur hingga onni mengetuk kuat pintu kamarku.

Nee, aku datang”. Aku membuka pintu kamarku, tampak onni terlihat pucat. “ada apa?” tanyaku sambil mengikat rambutku asal.

“Jay kecelakaan” tangis onni pecah, dia memelukku dengan erat “aku takut sesuatu terjadi padanya” isak onni di bahuku

“Sebaiknya kita menyusulnya kerumah sakit, aku yakin oppa akan baik-baik saja” aku mencoba menenangkan onni yang terlihat shock.

Aku segera mengganti bajuku dengan pakaian panjang dilapisi jacket kemudian dengan cepat menyetir mobil onni yang terparkir di halaman depan rumah. “onni sudahlah, oppa akan baik-baik saja” tangan kiriku terus menggenggam tangan onni. Yang dari tadi dia hanya diam.

“ini salahku Yeo Ji, kalau saja aku tidak menyuruhnya mengantarkanku pulang mungkin dia tidak akan seperti ini”

“ani, itu bukan kesalahan onni. Itu hanya sebuah kecelakaan”

****

27 November

“Bagaimana keadaan oppa?” tanyaku pada onni yang menemani Jay oppa sejak beberapa hari yang lalu.

“Kondisinya membaik, dia baru saja tidur.”

“Baguslah kalau begitu. Apa ajumma(Jay mom) disini?”

“Nee, dia sedang ke kantin rumah sakit”

“Oh, sampaikan salamku padanya.”

“kau mau kemana?”

“Gikwang menelponku tadi, dia meminta bantuanku ada beberapa temannya yang dari Jepang sedang mencari hotel”

“Ya sudah hati-hati” aku memeluk onni sebelum pergi.

*

DRRTT.. DRRTT

Hpku bergetar

Joon CALLING

 

Dengan cepat aku menekan tombol hijau

“yebboseyo” jawabku

“yebboseyo Yeo-Ji ya, kau sedang dimana?”

“aku sedang dirumah sakit, tapi mau ke tempat Gikwang. Ada apa?”

“Bagaimana kabar Jay-hyung?”

“Dia sudah lebih baik.”

“Baguslah, oh ia Yeo Ji nanti malam kau bisa hadir di gereja tidak? Aku butuh orang untuk memberi ide mengenai kostum yang akan di pakai anak-anak, soalnya Emily sedang sakit demam”

“Baiklah, tapi aku baru bisa sekitar jam tujuh, apa tidak apa-apa?”

“nee, baiklah. Kami akan menunggumu di gereja.”

“Nee.. bye”

“Bye.. “

Yeo Ji pov END

******

TOP pov

“Bagaimana kabarmu? Maaf kemarin tidak langsung menghubungi mu begitu aku sampai, karena aku mengalami jetleg, jadi aku langsung beristirahat.”

“Its okay. Did you find Yeo Ji?”

“Not yet, aku belum menemuinya.”

“…………”

“Baiklah, aku ingin mencari alamatnya dulu. Nanti kalau aku menemukannya aku akan segera menghubungimu lagi”

“Baiklah”

TUUTTT…

Dia menetup telpon.

TOP pov END

*****

-Author pov-

Seoul tidak pernah berubah. Meskipun sudah hampir lima tahun dia meninggalkan kota ini untuk menikmati gemerlap Negeri lain, tapi, tetap saja Seoul memiliki daya tarik tersendiri yang mengundangnya untuk selalu kembali.

“Mungkin sebaiknya aku beristirahat di café itu, kemudian melanjutkan mencari rumah Yeo Ji” batinku

 

Sejam berlalu begitu saja, laki-laki bertumbuh tinggi itu kembali melanjutkan perjalananku mencari alamat Yeo Ji setelah mengisi perutnya di sebuah café , setelah berkeliling hampir kurang lebih satu jam dengan taxi akhirnya dia sampai di sebuah perumahan yang terlihat indah. Memang bukan hal yang mudah menemukan alamat rumah Yeo Ji karena ada beberapa nama perumahan yang sama di Seoul.

“Aku turun disini saja”  ujarnya  pada supir taxi. Dia memutuskan berjalan kaki mencari rumah Yeo Ji yang kemungkinan besar memang di perumahan ini, “sudah lama tidak menikmati hawa dingin Seoul, setelah bersekolah dan menetap di Amerika  aku tidak pernah lagi kembali ke tanah kelahiranku ini, hingga hari ini aku kembali hanya untuk menemui Yeo Ji” bisiknya dalam hati.

“Alamat ini cocok dengan yang tertulis disini”  senyumnya mengembang kemudian menekan bel yang berada di samping pagar, namun beberapa kali laki-laki tinggi itu menekan bel tidak ada seorangpun yang keluar dari dalam rumah. Dari arah belakang terdengar suara motor, saat laki-laki itu membalikkan badannya kebelakang sang pemilik motor itu memberhentikan motornya tepat di depan rumah Yeo Ji, “siapa namja ini?” laki-laki itu bertanya dalam hatinya

“Mereka tidak ada dirumah” ujar laki-laki bertubuh tidak terlalu tinggi dan tidak juga terlalu pendek, dengan badan yang bidang. Kemudian membuka helm nya. Dia Gikwang.

“Kau siapa?” tanya laki-laki tinggi itu

“Kau yang siapa berdiri dirumah keluargaku” suara laki-laki itu meninggi, dia berjalan kearah gerbang dengan tidak melepaskan pandangannya pada orang asing yang berdiri di depan rumah sepupunya.

 

Keluarga? Apa jangan-jangan pria ini suami Yeo Ji? T-a-ppi bisa saja dia suami kakaknya Yeo Ji, karena setahuku Yeo Ji tinggal dengan Jessica di sini.

Laki-laki tinggi itu bergelut dengan pikirannya sendiri dan dengan cepat menjawab “Aku pacar Yeo Ji”

“Mwo? Pacar?” Gikwang  tampak kaget.

“Ia, kau siapa?”

“aku sepupunya. Dia sedang bekerja, sepertinya malam nanti baru pulang. Ada pesan?”

“Baiklah kalau begitu, besok aku akan datang lagi”

“Namamu siapa?” teriak Gikwang berdiri dari tempatnya ketika laki-laki tinggi itu berlalu meninggalkannya

“Dia pasti sudah tahu.”

“Aisshh pria pabo! Kan yang tahu namamu kan Yeo Ji bukan aku!” cibir Gikwang

-Author pov END

*****

Back to Yeo Ji pov~

“Gikwang!!” teriakku begitu sampai rumah dengan tangan yang penuh dengan barang-barang

“apa?” dia menghampiriku

“tolong bantu aku” pintaku yang sedang berdiri oleng di depan pintu.

“baik.. waaaa banyak sekali barang belanjaanmu?” dia mengambil sebahagian barang-barang yang berada di tanganku.

“tidak semua punyaku, yang plastic berwarna merah dan biru itu kostum anak-anak sekolah minggu (ibdah untuk anak2 kecil biasanya hari minggu pagi) yang akan di pakai untuk natal nanti”

“ohh.” Gikwang meletakaan sebagian barang belanjaanku di dapur.

“fuuiihh sungguh melelahkan”

“kau tadi singgah ke gereja lagi?”

“Ia nanti. Oh ia Gikwang coba tebak tadi sebelum pulang aku di beri apa oleh Joon?”

“mana aku tahu”

“TA-DA..” aku memamerkan cincin di jari manisku

“Apa dia melamarmu?” tanya Gikwang antusias namun beberapa detik kemudian wajahnya berubah menjadi datar. “Tapi.. kau kan..” dia enggan melanjutkan kalimatnya

“Ya— aku tahu siapa—diriku. Tapi sekarang aku sudah seutuhnya wanita. Kau tidak lihat dadaku ini” gumamku pelan memperhatikan cincin yang melekat di jari manisku sebelah kiri.

“Aissh tidak usah memamerkan dadamu itu padaku. Oh ia, tadi sore ada yang mencarimu”

“Siapa?”

“Dia tidak mau memberi tahu namanya, tapi katanya dia dari Amerika.”

Aku tercekat mendengar kalimat ‘Amerika’ .”Sii-a-a-a-pa?” aku terbata

“Kau kenapa?”

“Apa dia tinggi? Tatapannya tajam?” tanyaku cepat

“Ia, terus dia bilang, ‘Aku pacarnya Yeo Ji’. Apa maksudnya coba?“ Gikwang terkekeh, tapi kemudian ekor matanya menatap Yeo Ji. “Jangan bilang kalau pria itu— pacarmu yang—“

Aku mengangguk lemas. “Ia dia mantan pacarku”

“Jadi bagaimana dengan Joon?”

“Aku tidak tahu, apa yang harus kulakukan Gikwang?”
“Katakan saja kalau kau sudah punya pacar. Bereskan?”

“Masalahnya— aku juga belum bisa melupakannya”

“Kau dalam bahaya besar Yeo Ji, sebaiknya kau memutuskan hubunganmu dengan Joon sebelum semua kegilaan ini menjadi semakin parah. Apa kau tidak mencintai Joon?”

“aku mencintai Joon”

“Kau gila! Mencintai dua orang pria sekaligus?! Aku tidak mengerti jalan pikiranmu” keluhnya

*********

28 November

 

Hidupku terasa semakin sulit dengan semua masalah ini. Aku berjalan gontai keruang tamu yang tampak kosong. Tentu saja Onni sudah berangkat kerja dengan Gikwang dari pagi tadi, sedangkan aku baru bangun dari tidurku yang panjang. Aku duduk menatap tivi, tapi pikiranku menerawang entah kemana hingga seseorang mengembalikan pikiranku yang sudah pergi jauh dengan menekan bel rumah berkali-kali.

Dengan jantung yang berdebar aku membuka knop pintu.

Dan sekarang dia sudah berdiri disana. Berdiri dengan senyuman yang aku sendiri tidak bisa menolaknya  “Oppa?”

“Yeo Ji” spontan dia memelukku. Aku benar-benar merindukan hangatnya pelukan pria ini. Tapi aku segera tersadar dan menjauhkan diriku dari dirinya.

“Kenapa kau disini?”

“I really miss you”

“Itu bukan jawaban yang aku inginkan” potongku

“Kau memang tidak berubah.” Dia menyentuh pipiku dengan jemarinya yang panjang.

“Sudahla oppa, kita tidak ada hubungan lagi. Aku mohon lupakanlah masalalu kita” kutepis jarinya dari pipiku “Aku mencintaimu Yeo Ji, menikahla denganku”

Aku benar-benar tercekat dengan apa yang dikatakannya. Dia menggenggam tanganku kemudian menciumnya. “Maaf … aku tidak bisa” aku melepaskan tanganku dari tangannya kata-kata itu terucap begitu saja dari bibirku, walau jauh dari dalam hatiku aku menginginkannya. Menginginkannya lebih dari Joon.

What happen with you? This is not you!” suaranya meninggi membuatku takut.

“Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, aku mohon tinggalkan hidupku oppa. Please leave me alone

I cant! You make me addiction” dia semakin mendekat kearahku

Are you crazy!!”

“Yeo Ji, menikahla denganku. Aku mohon!” dia menarik kembali tanganku

I cant TOP!” kini suaru ku meninggi, dia malah menarik paksa tanganku masuk kedalam rumah dan mencoba menciumku, dengan sekuat tenaga aku menjauhkan diri dari tubuhnya yang tinggi besar. “Leave me alone!!” teriakku dan sejurus kemudian seseorang berhasil menarik tubuhnya menjauh dariku dari belakang membuatnya berteriak kesakitan.

“Apa kau baik-baik saja?!” Joon memegangi bahuku setelah berhasil menjauhkan TOP dariku. “Apa yang terjadi?” tanyanya menarikku menjauh dari TOP

“Apa gara-gara pria ini kau tidak mau menikah denganku?!” TOP berjalan gontai kembali ingin mendekat padaku.

“Apa maksudmu?” Joon menyembunyikanku di belakang punggunggnya, menghalangi TOP mendekat padaku

“Aku akan segera menikah dengan Yeo Ji” TOP menatap tajam kepada Joon membuatku takut. Aku takut TOP akan berbuat gila padanya.

“TOP, aku mohon tinggalkan kami”

“Akui saja Yeo Ji, kalau kau masih mencintaikukan!! Tatap aku!” sontak TOP berteriak. Dia begitu gila membuatku tidak berani menatap matanya.

“Jahui dia, dia sudah mengatakan kalau dia tidak mau lagi denganmu!” teriak Joon geram tetap menyembunyikannku dari TOP.

“Apa urusanmu? Apa hanya karena kau sekarang pacarnya makanya kau mengatakan itu!”

“Ya! Karena dia pacarku dan aku akan segera melamarnya”

Melamar? Apa-apaan semua ini? Kenapa mereka mengatakan hal— semacam itu di saat genting seperti ini.

“Menikah?” ulang TOP, seakan kata-kata yang baru di ucapkan Joon seakan sebuah candaan baginya. “Apa kau tahu siapa dia?!”

Spontan aku berteriak, melangkah maju menghadapi Top mengimbangi teriakan mereka berdua yang memekikkan telinga “TOP hentikan semua omong kosong ini!!” aku takut kalau TOP akan mengatakan hal—yang sama sekali tidak ingin kudengar dari mulutnya

“Yeo Ji, aku tahu kau masih menginginkanku. Dan kau tidak akan mungkin menikahi pria ini kan?”

“Apa maksudnya Yeo Ji?” Joon menggenggam kedua lenganku memaksaku untuk mengatakan hal yang tidak ingin aku katakan padanya saat ini.

“Apa kau tidak mengatakan apa-apa padanya?” kini TOP benar-benar keterlaluan, dia pasti sengaja mengatakan ini semua.

“Yeo Ji jelaskan padaku, apa yang di maksud pria ini!”

 

Joon memegang bahuku, membuatku berhadapan dengannya. Aku benar-benar tidak sanggup harus jujur padanya kalau selama ini aku hanya ingin mencoba melupakan TOP dengan mencari cinta yang baru… Dan kini.. aku hampir berhasil, namun aku tidak akan pernah sanggup mengatakan yang sebenarnya pada Joon tentang siapa diriku sebenarnya. 

Joon.. Mianhe..

Tobeco


how how?? gaje?? wkwkwkw~~