Cast : Kwon Jiyong – Kim Taeyeon

About : SoshiBang Pairing

Author : Diyuntaechan

Genre : Romance

Lenght : Oneshot

a/n : Jangan kemakan TITLE! ini BUKAN fanfic NC. Anggap saja ini songfic nggak nyambung okeh?! ^^v dan ini fanfic perdana saya di sini :3 Satu lagi *banyak omong deh* ini fanfic pernah saya publish di blog prbadi saya.. :D mohon responnya kekeke~ Ghamsahamnida (_ _) *bow*


Gadis mungil bermata cokelat itu berlarian di tengah hujan yang turun rintik-rintik. Ia menutupi kepalanya dengan tas kecil yang dibawanya.

Sampai di sebuah bangku di bawah pohon oak, gadis itu berhenti. Menatap sekeliling. Mencari seseorang.

Gadis mungil itu melihat jam tangannya yang berwarna ungu gelap. Pukul 11 malam. Dia terlambat dua jam dari yang ia janjikannya pada seseorang.

Taeyeon—gadis itu—duduk lemas di bangku yang ada di belakang tubuhnya sekarang. Taeyeon mengeluarkan ponselnya dari tas. Layar ponselnya sedikit basah karena air hujan menembus tas kecil miliknya. Ia mengelap air itu dengan jarinya. Tak lama, Taeyeon telah sibuk mengirim pesan pada orang yang ia tunggu saat ini.

‘Oppa, kau di mana? Kau sudah pulang, ya?’

Kakinya terus bergoyang. Bisa ditebak, ia cemas. Khawatir orang yang ia tunggu akan marah karena ia terlambat dua jam. Ah, tidak hampir tiga jam ia terlambat.

‘Oh, kau sudah datang? Aku ke sana sekarang.’

Begitu balasan yang ia terima setelah tiga menit ia menunggu. Taeyeon sudah mulai dapat bernapas sedikit lega. Itu artinya oppa tidak marah, pikirnya.

“Taeyeon!” Taeyeon dengan cepat menoleh ketika mendengar namanya di panggil. Oknum yang memanggil tersenyum, menghampiri Taeyeon yang kini telah berdiri dengan senyum menghiasi bibirnya yang mungil itu.

“Sudah lama menunggu?”

Taeyeon menggeleng. “Oppa, daritadi kau menungguku, ya?” Taeyeon bertanya dengan wajah polos. Membuat orang yang ada di depannya terkekeh pelan.

“Maaf, aku terlambat. Aku harus debat dengan manager oppa dulu.” Taeyeon tersenyum kecil. Jiyong—orang itu—tersenyum, tangannya perlahan terulur mengelus lembut rambut kecoklatan Taeyeon.

“Aku tahu kau sibuk.” Katanya sabil tersenyum. Taeyeon balas tersenyum kemudian duduk.

“Aku bawa sesuatu untukmu.” Taeyeon mengubek-ubek tasnya sebentar, kemudian tangannya mengeluarkan sebuah gantungan kunci berbentuk hati warna putih dengan ukiran yang membentuk huruf ‘T’ dan ‘J’.

“Oh! Bagus sekali! Dapat darimana?”

“Dapat? Aku pesan itu sebulan yang lalu, dan baru selesai sekarang.”

“Baru selesai atau baru diambil?” Jiyong berusaha memancing tangan Taeyeon agar hinggap di pundaknya. Dan berhasil, tangan Taeyeon dengan pelan menyenggol lengan Jiyong. Lelaki itu tertawa senang.

“Ini untukku? Mana punyamu?” Jiyong giliran menyenggol ringan tubuh Taeyeon.

“Iya, sebentar. Ehmm.. Ini dia!” Tangan Taeyeon kembali mengeluarkan sebuah gantungan kunci yang sama seperti gantungan kunci yang dipegang oleh Jiyong, hanya warnanya yang berbeda.

“Kau putih dan aku pink.” Taeyeon tersenyum. Walaupun senyumnya tak bisa membentuk sebuah eye smile, tapi, itu cukup manis bagi seorang Kwon Jiyong.

Mereka diam beberapa saat, diam dan saling bertatapan.

“Ehm.” Jiyong berdehem singkat dan memalingkan wajahnya yang mulai memanas melihat wajah Taeyeon.

“Kau tidak apa-apa keluar sekarang? Inikan sudah malam.” Jiyong bertanya, berusaha mencairkan rasa gugupnya. Taeyeon menggigit bibir bawahnya sebentar.

“Aku kabur.”

“Apa?”

Jiyong menoleh kaget, menatap gadis mungil yang sekarang tengah menatapnya—lagi-lagi—dengan tatapan polosnya.

“Tahu resiko tidak?” Jiyong mengacak rambut Taeyeon gemas. Beberapa kali gadis mungil itu dapat masalah karena sering kabur dari dorm untuk menemuinya.

“Ahh~ Oppa! Ini kan karena kau!” Taeyeon menunduk berusaha menghindari tangan Jiyong yang semakin liar bergerak-gerak di kepalanya.

“Aku kan bisa ke dormmu!”

“Percuma! Laki-laki dilarang masuk ke dorm kami!” Taeyeon menggembungkan pipinya. Jiyong tertawa.

“Aku bisa menyelinap kok.”

“Yeah?”

Taeyeon berdiri mendongak menatap atas pohon oak.

“Ji Oppa.” Taeyeon memanggil Jiyong tanpa menoleh pada lelaki itu. Matanya masih tetap terfokus pada dedaunan hijau—sebenarnya tidak terlalu jelas—yang ada di pohon itu.

“Aku ingin kita tinggal di sini saja.”

“Maksudmu?”

“Kita menikah, lalu tinggal di sini.” Taeyeon tersenyum lebar. Jiyong ikut tersenyum. Ia berdiri dan mendekati Taeyeon.

Tanpa aba-aba, Jiyong memeluk tubuh Taeyeon dari belakang.

“Oppa.” Taeyeon tersenyum kecil, tangannya menggenggam tangan Jiyong yang melingkar di pinggangnya.

“Ah~ Kalau bisa aku ingin jadi produser grupmu.” Jiyong menggoyang-goyangkan tubuhnya ke kanan-kiri, dengan posisi masih memeluk Taeyeon.

“Memproduseri lagu-lagu kami? Ayo oppa!” Taeyeon tertawa ringan.

“Tapi tidak bisa. Tanggung jawabku masih banyak. Sayangnya kita beda agensi.”

“Ayo pindah ke-agensi kami.”

Jiyong tertawa mendengar ajakan Taeyeon yang sama-sekali tidak pernah terlintas dipikirannya.

“Kau saja yang pindah.” Balas Jiyong.

“Jangan bercanda!” Taeyeon terkekeh pelan. Jiyong tersenyum, ia melepas pelukannya, melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia sedikit tertegun melihat jarum jam yang telah menunjukan pukul dua belas malam. Terlalu malam untuk gadis seperti Taeyeon pulang sendiri ke dormnya.

“Sudah jam 12. Ayo pulang, Taeng.” Jiyong mengulurkan tangannya di depan taeyeon. Namun, gadis itu menggeleng.

“Jangan keras kepala! Kau itu leader! Tidak baik leader keluyuran malam-malam seperti ini.”

“Kata siapa?”

“Kataku. Ayo!” Jiyong menarik paksa Taeyeon menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempatnya sekarang.

*

“Onnie, kau dari mana saja?”

Taeyeon yang baru saja masuk ke dalam kamarnya diam-diam, dikejutkan oleh suara yang tidak asing lagi baginya.

“Oh, Yoong, bagaimana kau bisa di sini? Mana Sunny?” Taeyeon melempar tubuhnya ke ranjang tanpa berniat menjawab pertanyaan Yoona.

“Sunny onnie tidur dengan Yul, dia takut sendirian di kamar. Onnie! Kau belum jawab pertanyaanku! Kau dari mana saja?” Yoona memanyunkan bibirnya dan memasang wajah aegyo. Taeyeon hanya tertawa.

“Pertemuan singkat.” Jawab Taeyeon.

“Bohong! Kau pasti melakukan sesuatu dengan pacarmu itu!” Yoona menyenggol bahu Taeyeon. Gadis itu tertawa, kemudian bangkit dari baringannya.

“Jangan bercanda! Kami benar-benar hanya bertemu!” Taeyeon menampis dugaan Yoona dengan uraian tawanya. Yoona mendelik curiga.

“Kotjimal! Onnie bohong!”

“Aku serius!” Yoona diam, ia mulai percaya pada onnienya itu. Lagipula, dugaannya memang tak masuk akal.

“Ehm.. Onnie, memang siapa pacar onnie?” Yoona tersenyum—senyum licik. Taeyeon melirik ke arahnya dan tertawa.

“Itu Ra-ha-si-a!” Taeyeon menyentil hidung Yoona pelan.

“Aish! Onnie.. Apa dia artis? Leader grup? Aktor? Member boy band? Atau girl band?”

“Heh! Girl band apa maksudmu?” Taeyeon tertawa mendengar Yoona memborbardirnya dengan pertanyaan.

Yoona mengerucutkan bibirnya kesal.

“Onnie~” Yoona merajuk. Taeyeon tertawa.

“Satu clue—“ Taeyeon sengaja menahan kata-katanya, agar Yoona penasaran—pasti.

Yoona membulatkan matanya. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman nakal.

“—seorang leader.” Taeyeon tersenyum, kemudian meraih gitar akustik yang ada di samping tubuh Yoona. Taeyeon memejamkan matanya. Dengan perlahan, tangannya mulai memetik senar gitar.

Taeyeon menatap Yoona sekilas. Gadis itu masih menatapnya—bisa dibilang memelototinya. Taeyeon tersenyum.

“Tidurlah, aku mainkan sebuah lagu.” Taeyeon menekan pundak Yoona, agar gadis itu berbaring.

“Onnie~”

“Ya?”

“Kapan-kapan, ajak aku bertemu pacarmu itu ya?”

Taeyeon tersenyum mendengarnya.

“Besok, kalau kami sudah menikah.” Taeyeon tersenyum jahil. Yoona terkekeh, kemudian segera menutup matanya.

Taeyeon menghela napas, tangannya mulai memetik senar gitarnya lagi.

‘Forever you’re my boy Forever be my world

You are the only one

The only one I’ll ever need, my life is you and me

Forever you’re my boy Forever be my world

You are the only one

I’ll never break your heart “no”, so baby don’t let go..’

.:END:.