Cast : Big Bang G-Dragon – 2NE1 Sandara Park

Type : Oneshot

Genre : –

Author : Diyuntaechan

**


“Aih! Kenapa lemari ini harus tinggi sih??” kesal Soora ketika ia ingin mengambil bola miliknya yang tergeletak di atas kemari milik ayah-ibunya. Soora diam sejenak. Matanya kemudian tertuju pada sebuah kursi di samping meja rias ibunya. Tanpa pikir panjang ia mengambil kursi itu dan menaikinya.

Masih belum cukup. Soora menyerah, akhirnya dia memilih untuk memanggil ayahnya.

“Appa!!!”

Ayahnya yang sedang duduk santai di depan Televisi mendatangi Soora dengan koran di tangan.

“Appa, tolong ambilkan bolaku!” ucap Soora. Ayahnya tersenyum lalu mengacak pelan rambut Soora.

“Kau ini wanita tapi suka main bola!” canda ayahnya. Soora cemberut.

“Ini turunan dari ibu.” Manyun Soora. Ayahnya tertawa kecil.

“Kau benar. Nah, yang mana bola milikmu?” tanya ayahnya sambil meraba-raba bagian atas lemari yang cukup tinggi tersebut.

“Itu! Sebelah kanan! Yak! Dapat!” seru Soora senang. Ayahnya tersenyum dan menggeser bolanya ke kanan hingga jatuh.

“PLUK!”

Sesuatu ikut terjatuh bersama dengan bola milik Soora.

Soora menunduk untuk mengambil ‘sesuatu’ itu.

“Appa! Apa ini appa dan umma??” tanya Soora, menunjukan sebuah foto pada Ayahnya.

Ayahnya hanya tersenyum dan mengangguk.

“Mau dengar cerita?”

Soora mengangguk kecil. Ayahnya tersenyum dan duduk di ranjang, kemudian menepuk-nepuk pahanya supaya Soora duduk di pangkuannya.

Soora berlari kecil dan membuang bolanya, kemudian duduk manis di pangkuan ayahnya yang mulai bercerita.

===

Seorang gadis berdiri tegang di samping seorang lelaki jangkung yang sedang serius membaca sebuah buku di stasiun bawah tanah. Matanya berkali-kali melirik saku celana lelaki itu. Gadis itu begitu tegang, karena ini pertama kalinya dia mengambil barang orang tapa ijin. Ia memperhatikan sekeliling sesaat lalu tersenyum setelah merasa aman. Dia sedikit merapatkan tubuhnya pada lelaki itu. Dan ketika lelaki itu lengah.

HAP!!

Ia mengambil dompet yang menyembul di saku belakang lelaki tadi. Gadis itu bermaksud untuk lari, tapi, langkahnya tertahan karena tangannya telah di genggam erat oleh pemilik dompet.

Lelaki itu menurunkan bukunya dan menatap tajam pada gadis pencuri dompetnya. Gadis itu mulai gemetaran, ia takut lelaki ini akan memukulnya atau berteriak.

“Sedang apa kau?”

Gadis itu mendesah lega. Cepat-cepat ia melepas genggaman lelaki itu dan berpura-pura tak terjadi apapun.

“Aku hanya lewat!” ketusnya, kemudian berlalu pergi sambil tersenyum senang.

Di belakangnya, lelaki itu tersenyum kecil dan mengeluarkan dompetnya dari saku bajunya. Ia menimangnya dan tertawa.

“Dasar bodoh!”

Dara menghampiri kerumunan teman-temannya yang sedang berkumpul di depan etalase sebuah toko.

“Hai semuanya!! Aku bawa hasil!” seru Dara senang. Teman-temannya tersenyum.

“Onnie, dapat berapa?” tanya Minzi seraya menghampiri Dara yang sedang mengacungkan sebuah dompet.

“1 dompet full!!” jawab Dara tersenyum. Minzi tertawa.

“Hebat juga pemula ini.” Ucap Taeyang. Dara makin mengembangkan senyumnya.

“Cepat buka!” titah Taeyang. Dara menurunkan dompet itu dan membukanya perlahan.

Ia tercengang melihat isi dompet yang kosong. Dara mengucek matanya, kemudian membalik dompet itu dan menghentak-hentakkannya.

“Jangan bilang kalau dompet itu kosong?!” tanya Taeyang merasa aneh pada kelakuan Dara.

Dara meringis.

Jiyong mengacungkan sebuah komik di depan sebuah rumah yang cukup besar di pinggir jalan raya. Di ambang pintu seorang gadis muda sedang mengerucutkan bibirnya dan berkecak pinggang melihat Jiyong.

“Aku bawa ini ya?” seru Jiyong yang dibalas hentakan kaki oleh gadis itu. Jiyong tertawa kecil dan berjalan santai menjauhi rumah itu.

“INGAT!! Hanya 2 hari!!” teriak gadis itu kesal. Jiyong tak menyahut. Dia malah berlari menghindari teriakan dan umpatan dari adik semata wayangnya itu.

Setelah merasa jauh, dia mulai membaca buku itu. Sesekali ia tertawa melihat gambar komik yang terlihat kocak.

“BRUUK!”

Dia menabrak seseorang. Seorang gadis sedang terduduk sambil mengaduh kesakitan. Jiyong tak bereaksi dan hanya menatapnya datar. Gadis itu melihat Jiyong dan mulai mengomel.

Tapi, kemudian omelannya berhenti ketika menyadari sesuatu.

Jiyong membulatkan matanya dan membuka mulutnya lebar.

“KAMU??!!”

Keduanya saling pelotot. Jiyong melipat kedua tangannya, lelu menaruh di dada. Sambil mendesah dia mencibir.

“Bertemu lagi nona pencuri dompet.” Katanya. Membuat gadis itu berdiri dan berkecak pinggang kesal.

“Siapa yang kau maksud ‘nona pencuri dompet’ Hah??!” kesal Dara. Jiyong tertawa tipis dan menatap dara dengan tajam.

“Kau pikir aku bodoh?! Lihat.” Jiyong mengangkat dompetnya, membuat Dara kembali terkejut. Tak lama, wajahnya mulai memerah malu.

“Aku tebak, dompet itu kosong.” Kata Jiyong merasa menang. Dara tersenyum kecut. Kemudian berlalu.

Jiyong tersenyum dan kembali berjalan.

Dara duduk di kursi halte bus dengan cemberut. Niatku kan baik! Memang siapa dia?! Batin Dara kesal.

Setengah jam menunggu, tapi, belum ada tanda-tanda bus akan datang. Dara menghentakan kakinya ke tanah dengan kesal.

“Cepatlah datang bus bodoh!!”

SSSSHH..

Tepat saat itu, bus berhenti di depan Dara yang masih mengumpat tak jelas. Senyum Dara sedikit mengembang, cepat-cepat dia naik ke dalam bus.

Di dalam, dara bernapas lega. Keadaan bus yang hampir kosong membuat harinya sedikit membaik. Ia melihat seorang lelaki muda tertidur dengan sebuah komik menutupi seluruh wajahnya.

Dara celingukan sebentar dan memutuskan untuk duduk di depan lelaki tadi.

Bus bergoncang kencang saat melewati jalan kecil. Membuat Dara tak nyaman.

“Astaga, aku bisa muntah kalau begini.” Ucap Dara yang muali merasa mual karena bus bergoncang terus sedari tadi.

“Sopir, bisa pelankan bisnya sedikit?” terdengar suara dari belakang Dara.

Dara mengernyit merasa suara itu tak asing lagi baginya. Dara menggeser duduknya dan menengok ke belakang dengan hati-hati.

“WHOA!!”

Dara menjerit kaget karena wajah Jiyong sangat dekat dengannya. Rupanya Jiyong juga ingin mengintip mendengar keluhan Dara tadi.

“Ish! Kenapa bertemu denganmu lagi sih?!” gerutu Jiyong kesal. Dara memanyunkan bibirnya dan berbalik pada posisinya kembali.

“Hariku benar-benar sial!” ucap mereka bersamaan.

“EH??” Keduanya saling menoleh. Mereka sama-sama melirikkan matanya dan kembali lagi pada posisi mereka.

“Haaah! Kenapa bisnya lambat!” gerutu Dara, merasa tak nyaman dengan kehadiran Jiyong.

Sementara Jiyong hanya diam menatap luar bis dengan datar.

“Eh??” Jiyong mengerutkan kening melihat jalan yang begitu asing, ia rasa tempatnya saat ini jauh dari perkotaan. Dia berdiri dan memanggil kondektur.

Dara yang sedang mencoba memejamkan mata ikut berdiri dan menguping pembicaraan mereka.

Tepat saat mereka berhenti bicara, bis tiba-tiba berhenti secara mendadak. Membuat Jiyong dan Dara yang tak berpegangan pada apapun oleng dan hampir terjatuh.

“Bisnya macet!!” seru sopir.

“APA??!!” kaget Jiyong dan Dara bersamaan.

Mereka kembali saling tatap dan mendengus. Kemudian memalingkan wajah dengan kesal.

Tapi, setelah itu keduanya terduduk lemas di kursi masing-masing.

Dara merapatkan kepalanya pada jendela dan menatap jalan yang sangat asing baginya. Juga gelap.

Dara sedikit menggidik. Dia mendengus pelan dan berdiri.

“Saya turun di sini saja.” Ucapnya pada kondektur yang berada dekat di depannya.

Kondektur mengangguk kecil.

Dara berjalan gontai menuruni bus. Ia memandang sekelilingnya dengan ragu. Dara menelan ludah. Dia menghela napas dan mulai berjalan mengikuti feelingnya. Berharap bisa keluar dari jalanan asing ini.

“Kau tak tahu jalan ini?”

Dara menoleh kaget ketika mendengar suara dari belakang. Jiyong sedang berjalan santai di belakangnya sambil membaca komik.

Dara mendengus.

“Apa urusanmu?!’ ketus Dara, segera berbalik melanjutkan langkahnya yang tertunda. Jiyong menyingkirkan komik yang menutupi wajahnya kemudian menatap punggung Dara kesal.

“Terserah padamu, tapi aku tahu jalan ini.” Kata Jiyong, membuat Dara kembali menoleh padanya. Jiyong kembali membaca komiknya dan berjalan cepat melewati Dara yang masih berbalik diam sambil memasang wajah kesal.

Jiyong menghentikan langkahnya dan menghela napas berat.

“Kau mau ikut tidak?!” tanya Jiyong, sedikit menoleh ke belakang. Dara tersenyum canggung dan mengikuti Jiyong yang mulai melangkah kembali.

Dara mengusap dahinya yang mulai berkeringat. Dia mendongkakkan kepala dan menatap langit yang sudah berubah warna. Dara menghela napas berat.

Hari sudah mulai sore, tapi, Jiyong belum juga menemukan jalan pulang. Dara menjadi sedikit ragu dengan Jiyong. Apalagi, sejak ia berjalan tadi, Jiyong belum mengajaknya berbicara sama sekali. Lelaki itu terus saja fokus pada bacaannya.

Dara menunduk, mencoba mencari kesibukan dengan menendang batu yang kebetulan tergeletak di depannya.

Gerakan batu-batu itu menimbulkan suara yang agak keras. Membuat Jiyong menghela napas.

“Bisa lebih tenang?!” serunya galak. Dara tertegun, kemudian cemberut.

“Bisa lebih lembut sedikit?!” balas Dara. Mereka saling lirik dan membuang muka dengan kesal.

“Uuuh..” beberapa saat kemudian, Dara mulai merasa lelah. Kaki-kakinya sudah terasa sakit akibat terlalu lama berjalan. Tapi, dara tak berani minta beristirahat melihat Jiyong yang terus berjalan. Baginya, sama saja perang kalau mengajaknya istirahat.

Sementara itu, Jiyong perlahan berjalan lambat, merasa tak ada orang yang mengikutinya. Dia menoleh sedikit dan melihat Dara berjalan terseok-seok.

Jiyong berhenti dan berjongkok membelakangi Dara.

“Naik!” perintah Jiyong. Dara menatap punggung Jiyong dengan bingung.

“Cepat naik! Ku hitung sampai 3!”

Mendengar ucapan Jiyong yang terdengar seperti ancaman, Dara cepat-cepat naik ke punggung Jiyong.

Jiyong berdiri perlahan dan mulai melangkah.

“Kau makan banyak ya?” tanya Jiyong, merasa tubuh Dara yang berat. Dara meringis.

“Appa dan Umma suka menyogokku dengan makanan waktu kecil, dan itu berlanjut sampai sekarang.” Senyum Dara. Jiyong mengangguk.

“Di mana tempat tinggalmu?” tanya Jiyong lagi. Dara memperhatikan sekeliling.

“Mungkin di dekat sini. Aku belum pernah ke daerah ini sebelumnya.” Jawab Dara.

“Mau ku antar pulang?” tawar Jiyong. Dara mendekatkan kepalanya pada kepala Jiyong, karena merasa salah dengar.

“Apa??! Kau mau mengantarku pulang? Aku tak salah dengar??” tanya Dara kaget. Jiyong mendengus pelan.

“Kalau tak mau turun!!” serunya galak. Dara memanyunkan bibirnya.

“Ya terserah padamu saja.” Ujar Dara, ia mengencangkan pegangannya pada pundak Jiyong.

Jiyong sedikit membungkuk karena tubuh Dara bertambah berat. Namun, seulas senyum berkembang di bibirnya.

“Hei! Bangun, kau bisa tunjukan rumahmu di mana?!” Jiyong mengguncang tubuhnya sendiri ketika mereka sampai di ujung desa asing itu. Dara mengerjap-ngerjapkan matanya sesaat lalu meregangkan tangannya.

“Turun! Kau pikir aku apa?! Tidur di punggungku!!” omel Jiyong, membuat Dara cemberut.

“Kau sendiri yang menyuruhku naik ke punggungmu.” Ketus Dara.

“Iya, naik ke punggungku, bukan tidur di punggungku!” balas Jiyong. Dara mendengus kesal mendengar jawaban Jiyong.

“Ok, rumahku itu di.. Sana!!” seru Dara semangat, melihat sebuah rumah yang cukup besar di pinggir jalan raya. Jiyong mengernyit.

“Itu??” tanya Jiyong kurang yakin. Dara mengangguk.

“Yoo~ Aku bisa jalan sendiri! Terimakasih atas tumpangannya. Emm.. Siapa?”

“Dragon.” Jawab Jiyong cepat. Dara tersenyum.

“Ok, aku Sandara! Sampai bertemu lagi, Dragon!” seru dara seraya berlari menuju rumahnya. Jiyong masih terpaku di tempatnya. Perlahan tangannya bergerak ke atas menyentuh dadanya.

Entah kenapa, saat gadis itu menyebut namanya, jantungnya berdebar tak keruan. Jiyong tersenyum kecil, lalu berlalu.

===

Dara menaiki tangga dengan cepat karena terlalu lama menunggu di meja makan. Dara membuka pintu kamar miliknya dan Jiyong secara perlahan. Di dalam, tampak suami dan anaknya sedang bercanda. Dara tersenyum kecil lalu melangkah masuk.

“Ayo, ceritanya selesai dulu! Makan malam sudah siap!” komando Dara.

“Umma. Appa baru bercerita tentang masa mudanya dulu. Nanti saja makan malamnya.” Kata Soora sambil memandang ayahnya yang sedang tersenyum jahil.

Dara tertawa, kemudian matanya menangkap barang yang dipegang Soora. Mata Dara tiba-tiba berbinar.

“Ampun, kau menemukannya sayang! Foto itu sudah kucari selama berhari-hari!” jerit Dara senang. Jiyong tersenyum kecil melihat tingkah Dara.

“Mau kau apakan?” tanya Jiyong melihat Dara mengambil foto itu dan menatapnya dengan mata berbinar.

“Mau ku pigura. Foto ini terlalu sayang kalau dibuang.” Senyum Dara. Soora masih menatap ibunya dengan mulut maju.

“Lalu bagaimana ceritanya Appa dan Umma bisa menikah?? Dan kenapa umma mencuri dompet appa??” tanya Soora belum puas dengan cerita ayahnya yang berakhir ketika ibunya masuk ke dalam kamar. Dara sedikit kaget, kemudian melirik sadis pada Jiyong yang sedang tertawa jahil padanya.

“Besok akan kuceritakan padamu saat appa pergi bekerja. OK?” Dara melirik Jiyong yang tertawa kecil. Soora tersenyum dan mengangguk.

“Baiklah! Saatnya makan! Aku sudah kelaparan menunggu kalian di bawah.” Tawa Dara seraya mendorong suami dan anaknya keluar dari kamar.

-END-