Annyeonghaseo…

naneun diyan imnida… author baru disini… udah direkrut dari bbrp hari yang lalu tp baru sempat ngepost skrg… *dubrak* #ditendangyangpunyablog

yo wiss lah, ga perlu banyak cingcong… yukk mariiii dinikmati aja karya saya yang satu ini… semoga menghibur dan jangan lupa, kalo udah baca… tetep kudu mesti wajib tinggalin komennya…

Tittle               : Equipoise

Author            : @ShiraeMizuka

Rating             : G

Genre              : Romance, Angst

Length            : Oneshot

Cast                : Choi Seung Hyun (TOP Bigbang), Choi Eun Kyo (OC’s), Park Boom (2ne1)

Disclaimer      : My own plots and idea. Be careful to typos, cause this fiction has no betaed yet. All casts except OC’s belongs to themselves.

First Published          : http://fanfictionist.wordpress.com/

RCL to appreciate this story.

“Oppa…”

Seung Hyun menoleh pada gadis di sebelahnya, yang kini tubuh mungilnya sedang terayun-ayun perlahan oleh ayunan tali itu.

Baik ia maupun gadis itu masih sama-sama mengenakan seragam sekolahnya. Tadi sepulang sekolah, Seung Hyun memang langsung membonceng Eun Kyo dengan sepedanya menuju taman yang tak jauh letaknya dari tempat mereka bersekolah. Keduanya sama sekali tidak peduli jika nanti saat kembali ke rumah mereka akan dimarahi oleh orangtua mereka masing-masing karena pulang terlambat.

“Ada apa Eun Kyo-ya?” tanya Seung Hyun.

Eun Kyo terdiam sesaat, tapi keterdiamannya benar-benar hanya sesaat karena kemudian, dengan spontan ia sudah menyengir lebar.

“Aku sepertinya jatuh cinta padamu, oppa…”

“Ngh?” Mata Seung Hyun membola keheranan.

“Seterusnya, tidak peduli berapa kalipun, sepertinya aku akan terus jatuh cinta padamu.” lanjut Eun Kyo lagi. Dengan cepat semburat merah menghiasi pipinya.

Dan kali ini giliran Seung Hyun yang terdiam. Tapi sama saja dengan Eun Kyo, keterdiamannya hanya sesaat.

“Kenapa baru sekarang, Eun Kyo-ya?” tanyanya dengan cengiran yang sama lebarnya dengan milik Eun Kyo tadi. “Aku bahkan sudah jatuh cinta padamu sejak lama…”

~~~~~~~~

Author POV

Gadis itu berlari-lari kecil dengan sedikit terengah-engah. Bangunan itu sudah tertangkap dalam penglihatannya.

Sedikit lagi. Ya, sedikit lagi…

Dan sekali lagi senyum gadis itu menguar. Mencoba mengabaikan deru nafasnya yang terdengar tersengal-sengal, gadis itu semakin mempercepat langkahnya.

Sedikit lagi…

Ketika bangunan itu berada tepat di hadapannya, gadis berhenti sejenak. Tatapannya liar dan mencari-cari, menembus dinding kaca yang menjadi etalase bagian depan bangunan itu.

Disana… Lelaki itu ada disana… Lelaki itu sedang menunggunya…

Senyum gadis itu seketika merekah… “Oppa…” bisiknya lirih.

Sepasang kakinya melangkah spontan tanpa dikomandoi, semakin mendekat ke pintu bangunan itu. Langkahnya terasa begitu enteng, seakan degup jantungnya yang cepat dan kuat tengah memompakan tenaga tak terhingga untuk mengangkat tubuhnya, hingga ia serasa melayang…

Ringan dan seakan tanpa beban…

Pintu masuk ruangan itu didorongnya. Untuk sesaat ia bertingkah tamak dengan menghirup udara di sekitarnya dengan begitu cepat dan dalam, seakan udara di sekelilingnya tak lagi boleh dihirup siapapun selain dirinya sendiri dan kemudian ia melepasnya lewat hembusan pelan dan teratur…

Sekarang lebih baik. Jantungnya tidak lagi serupa genderang perang yang sedang ditabuh. Akan tetapi efek lain dari hal itu adalah wajahnya yang dirasanya kini memanas seketika. Ketika ia menangkap sekilas bayangannya di cermin-cermin yang terpasang sebagai hiasan interior ruangan itu, seketika ia terkesiap dengan warna itu, warna yang memerah luar biasa kini merona dan menjalar begitu saja di sepanjang area pertulangan pipinya yang agak berisi.

Astaga… Sebegitu berefekkah kehadiran lelaki ini baginya?!

Dia mendekat, semakin mendekat ke meja tempat lelaki itu menumpukan tangannya yang jari-jarinya dipertautkan satu sama lain.

Oppa…”

Gadis itu memanggil lelaki itu dengan suara tercekat, genderang kembali ditabuh tepat di rongga dadanya…

Lelaki itu mengangkat wajahnya dan menatapnya.

“Eun Kyo-ya…”

Lelaki itu menyebut namanya…

“Seung Hyun oppa…”

Dan gadis itu pun balas menyebut nama lelaki itu.

Cukup. Hanya dengan begitu saja Eun Kyo merasa dirinya telah begitu tercukupi. Hatinya terasa begitu penuh hanya dengan mendengar suara berat lelaki itu memanggil namanya. Ia tak butuh apapun lagi. Selain lelaki itu tentu saja…

Sederhana sekali untuk mengartikan cinta bagi gadis itu saat ini. Cintanya adalah Choi Seung Hyun. Dan Choi Seung Hyun adalah cintanya. Mudah sekali…

“Duduklah. Kau berkeringat, kau berlari kesini?” tanya lelaki itu padanya.

Sulit dipercaya, bagaimana mungkin suara berat itu bisa mengalunkan kalimat dengan begitu lembut seperti itu di telinga Eun Kyo…

“Duduklah.” tegur lelaki itu sekali lagi karena gadis di depannya tak juga memberikan reaksi. Ia menggerakkan dagunya ke arah kursi di depannya mengisyaratkan di sanalah Eun Kyo harus duduk.

Gadis itu menurut. Tanpa mengalihkan tatapannya dari lelaki di depannya itu, Eun Kyo duduk di kursi itu.

Oppa… Aku merindukanmu, kau tahu?” ujar gadis itu setengah berbisik. Akhirnya ia menyuarakan apa yang menjadi hasratnya…

Tentu saja Eun Kyo merindukan kekasihnya. Jarak dan waktu dengan begitu kejamnya telah memisahkan ia dengan lelaki yang ia cintai.

Dua tahun. Dua tahun ia tidak bisa melihat rupa lelaki itu secara langsung, tidak juga mendengar suaranya dan tidak juga dengan lembutnya sentuhan dan pelukan yang biasa ia dapatkan dari lelaki itu.

Dan kini, kerinduan yang telah diredamnya di dua siklus musim yang telah berlalu akan tertebus hari ini. Karena kekasihnya itu kini telah berada di hadapannya.

…tapi kenapa?

Kenapa lelaki itu tidak membalas ungkapan kerinduannya? Choi Seung Hyun kini mengalihkan tatapannya. Ia jelas-jelas sedang menghindari tatapan Eun Kyo padanya.

“Kau mau minum apa, Eun Kyo-ya? Bagaimana kalau lemon tea? Kau suka?” Lelaki itu bertanya. Dari suaranya yang bergetar, siapapun akan tahu kalau lelaki itu tengah menyimpan kegugupan.

Demi Tuhan…

Ada apa ini? Lelaki di depannya kini memiliki rupa Seung Hyun, tetapi tidak dengan perilakunya. Choi Seung Hyun-nya tidak pernah bertanya tentang kesukaan Eun Kyo. Dia tidak akan menanyakan sesuatu yang telah dihafalnya di luar kepala. Bukankah selama ini Choi Seung Hyun selalu tahu apa yang disukai dan tidak disukai oleh Choi Eun Kyo?!

Segala perasaan bahagia yang hingga beberapa detik lalu masih memenuhi dadanya seakan sirna seketika. Tergantikan oleh rasa cemas yang terasa begitu menekan. Gadis itu merasa sesuatu yang buruk akan terjadi sebentar lagi.

“Ada apa sebenarnya, oppa? Katakan saja apa yang ingin kau katakan…”

Seung Hyun mengembalikan tatapannya pada Eun Kyo. Matanya menatap lurus ke mata Eun Kyo yang membola dan memperjelas sorot menunggu disana.

Ah, seharusnya Choi Seung Hyun tahu, tidak ada gunanya bersikap basa-basi pada Eun Kyo. Gadis itu terlalu mengenalnya.

“Baiklah. Yang barusan itu kesalahanku, seharusnya aku tahu tidak ada gunanya menutup-nutupi sesuatu darimu.” desah Seung Hyun.

Untuk sesaat lelaki itu terdiam dan untuk sesaat kemudian ia menghela nafas dalam.

“Eun Kyo-ya… bagaimana kalau kita akhiri saja hubungan kita?”

Serentetan kalimat itu telah cukup untuk membuat Eun Kyo merasa hatinya baru saja dihancurkan hingga menjadi kepingan-kepingan kecil.

“Tapi kenapa?” Dan pertanyaan naif itu meluncur begitu saja dari bibir Eun Kyo dengan nada sangat menuntut.

“Aku sudah tidak mencintaimu lagi, Eun Kyo-ya…”

Choi Seung Hyun sudah tidak mencintaiku lagi. Batin Eun Kyo mengulang kalimat Seung Hyun.

Lelaki itu berkata tidak mencintainya disaat ia sadar cintanya pada lelaki itu justru semakin besar.

Tidak ada lagi yang bisa menahan air mata itu untuk luruh di pipi Eun Kyo, pipi yang beberapa saat lalu masih merona karena menyambut pertemuan ini.

“Dengarkan aku Eun Kyo, cinta itu adalah ketika kau mempunyai perasaan yang sama dengan pasanganmu. Sama jenisnya dan sama besarnya. Ketika selisih antara perasaan keduanya menjadi semakin besar, maka cinta itu hanya akan menjadi sumber penderitaan. Begitupun aku, kini… selisih perasaan kita sudah terlalu jauh dan aku tak ingin ada siapapun diantara kita yang akan tersakiti karena hal ini, terlebih itu kau. Aku harap kau mau mengerti…”

Seung Hyun kini terdiam. Ia tahu apa yang ia ucapkan itu akan sangat menyakiti Eun Kyo. Gadis yang menjadi sahabat kecilnya dan lima tahun terakhir berubah status menjadi kekasihnya.

Tapi bisa apa? Perasaan bukanlah sesuatu yang bisa ia atur dengan mudahnya. Ia tidak sanggup lagi rasanya mengimbangi besarnya cinta yang Eun Kyo berikan padanya. Ia sudah membaginya kepada gadis lain dan itu membuatnya merasa begitu berdosa jika harus terus merahasiakannya dari Eun Kyo…

oo000oo

Seung Hyun POV

Gadis itu bangkit dari kursinya dengan gerakan kaku serupa robot. Air mata itu masih mengalir dipipinya.

“A-a-aku… harus pergi sekarang, oppa…” ucapnya terpatah-patah. Dan benar saja. Gadis itu segera melangkah meninggalkan meja yang tadi kami tempati bersama. Ekor mataku  tetap mengikuti sosoknya. Saat ia membuka pintu untuk keluar dari kafe ini, ia sempat bertubrukan dengan seseorang. Tapi sepertinya ia tidak peduli lagi. Ia justru mempecepat langkah kepergiannya bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata maaf pun meninggalkan orang yang baru ditubruknya dengan raut agak kesal.

Aku terpaku.

Geez! Kenapa begini jadinya?! Aku pikir, setelah mengatakan semuanya pada Eun Kyo dan bersikap jujur padanya aku akan merasa lebih baik. Perasaan bersalah karena telah menduakannya tidak akan lagi menghantuiku.

Sesaat yang lalu, aku masih berpikir inilah keputusan yang terbaik. Aku hanya akan terus menyakiti Eun Kyo jika aku tidak cepat-cepat mengatakan yang sejujurnya padanya. Aku hanya akan terus menerus menambah dosaku dengan mengkhianati cintanya yang begitu besar padaku. Sama sekali tidak ada yang patut kubanggakan dari tindakanku yang seperti pengecut dengan tidak bersikap jujur padanya bahwa aku telah menduakannya cintanya selama setahun terakhir.

Yah, di negeri asing itu, tempatku menuntut ilmu dan sekaligus tempat yang telah memisahkanku dengan Eun Kyo, aku telah menemukan cinta lain.

Seorang gadis yang sedari tadi duduk di meja lain, tak jauh dari mejaku, bangkit dari tempat duduknya. Ia melangkah perlahan dan menghampiriku. Gadis itu duduk di kursi yang tadi di duduki oleh Eun Kyo. Tangannya terulur pelan dan mengusap tanganku.

Gadis itu tersenyum padaku, seakan ia sedang mencoba memberiku kekuatan lewat senyumannya itu.

“Boomie-ah…”

Aku memanggil nama gadis yang kini ada di hadapanku. Gadis inilah yang telah membuatku membagi cintaku pada Eun Kyo. Seorang gadis lembut dan cantik luar biasa yang membuat cintaku tergoyahkan

Gwenchana… Ia hanya membutuhkan waktu untuk bisa menerima semuanya…” ucap Boomie mencoba menghiburku. Tapi bagiku, itu sama sekali tidak merubah apapun. Tidak bisa memperbaiki apapun.

“Aku telah menyakiti hatinya, Boomie-ah…” rutukku dengan raut penuh keputusasaan. “Dan… rasa sakit itu juga terasa di hatiku…”

“Aku tahu ini tidak mudah, tidak hanya dia, kau pasti juga akan membutuhkan waktu.” Sekali lagi, Boomie mencoba menegarkanku.

“Rasanya begitu sakit, Boomie-ah dan yang Eun Kyo rasakan pasti jauh lebih sakit lagi…”

“Seung Hyun-ah…”

“Bolehkah aku menyusulnya, Boomie-ah?”

oo000oo

Boom POV

“Bolehkah aku menyusulnya, Boomie-ah?”

Aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku saat Seung Hyun mengucapkan kalimat terkutuk itu.

Bagaimana ini? Jangan katakan padaku bahwa aku telah kalah.

Aku mencintai lelaki ini. Sangat mencintainya.

“Untuk apa kau menyusulnya?! Bukankah kau baru saja telah mengakhiri semuanya…” Tanpa sadar nada bicaraku meninggi.

Salahkah? Salahkah bila aku bersikap egois dalam mempertahankan cintaku? Hanya untuk kali ini saja…

Hanya untuk kali ini saja, biarkan aku dengan keegoisanku untuk mempertahankan lelaki ini. Saat itu juga genggaman tanganku semakin erat menggenggam tangan Seung Hyun. Tatapanku tajam menghujam tepat ke manik matanya yang agak kecoklatan.

“Aku tidak bisa melepaskannya, Boomie-ah… Aku tidak bisa…”

“Dan itu artinya akulah yang akan kau lepaskan?” tanyaku pelan namun dengan nada menghakimi. Dadaku terasa begitu sesak saat mengajukan pertanyaan bodoh itu.

Mianhae…” Kepala lelaki di depanku itu tertunduk begitu dalam, seakan-akan ia tidak akan pernah mengangkatnya lagi untuk selamanya. Seakan ada magnet yang menarik matanya untuk tidak mengalihkan tatapannya dari lantai yang kini ia pandangi.

Aku membisu. Bahkan sebelum aku memperjuangkan apapun, aku sudah kalah telak oleh gadis bernama Choi Eun Kyo itu. Siapapun dia, bagaimanapun gadis bernama Choi Eun Kyo itu, sepertinya ia telah memiliki hati lelaki yang ada di hadapanku kini. Ia sudah memiliki hati Choi Seung Hyun seutuhnya.

“Kenapa baru sekarang kau baru menyadari bahwa kau tidak bisa kehilangannya? Setelah kau memberi harapan padaku. Kau bahkan sampai mengajakku bersamamu untuk hari ini…” ujarku pelan.

Mianhae, Boomie-ahMianhae…”

“Pergilah…” geramku.

Tetapi lelaki di hadapanku sama sekali tidak berniat untuk beranjak dari tempat duduknya.

Mianhae…”

Dan untuk berpuluh-puluh menit kemudian aku masih duduk terpaku, menemaninya yang terus-menerus menggumamkan permintaan maafnya. Hingga kemudian ponsel milik lelaki itu berdering.

Seung Hyun membiarkannya begitu saja. Sepertinya ia masih berada di dunia lain, dunianya yang masih penuh dengan kata ‘mianhae’ yang sedari tadi terus menerus digumamkannya.

Saat ponselnya berdering kembali, aku sudah tidak tahan lagi. Aku berdecak kesal, “Ck, angkat telponmu, Seung Hyun-ah!”

Dia menuruti bentakanku. Sesaat setelah itu hanya diam dengan ponsel yang masih tertempel di telinganya. Ekspresi di wajah lelaki itu berubah dengan cepat, entah siapa yang berbicara dengannya di ujung sambungan telpon itu. Namun dalam hitungan detik setelah itu, ponsel yang di pegang Seung Hyun terlepas begitu saja dari tangannya. Ponsel itu jatuh ke lantai, terpisah menjadi beberapa bagian.

“Eun Kyo kecelakaan…” bisiknya dengan suara nyaris tak terdengar.

oo000oo

Author POV

Mata gadis itu mengerjap perlahan. Dan seketika itu juga dada lelaki yang duduk di samping tempat gadis itu terbaring, seketika bergemuruh dengan begitu hebatnya. Matanya tak berkedip mengikuti setiap gerakan mata gadis itu, tidak membiarkan sekecil apapun gerakannya terlewati oleh penglihatannya.

Ketika mata gadis di depannya itu benar-benar terbuka, lelaki itu bahkan sudah tidak lagi bisa membendung hasratnya untuk mengulas sebuah senyuman sarat kelegaan yang luar biasa.

“Eun Kyo-ya…” Lelaki itu memanggil nama gadis itu penuh haru.

Tapi gadis itu sama sekali tidak bereaksi. Ekspresi di wajahnya datar sama sekali dan ia justru mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang dipenuhi dengan nuansa putih itu.

“Eun Kyo-ya…” Sekali lagi lelaki itu memanggil nama gadis itu. Barangkali kesadaran gadis yang masih terbaring di hadapannya itu belum sepenuhnya kembali dan ia masih bingung dengan tempat keberadaannya kini.

Setelah tidak menemukan siapapun selain lelaki di hadapannya itu dan dirinya sendiri, gadis itu kembali menatap lelaki itu dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Kau siapa?” tanya gadis itu dengan suara serak.

Dan seketika Seung Hyun tertegun. Sebelumnya, dokter pun sudah menjelaskan padanya tentang kemungkinan yang akan terjadi akibat benturan keras di kepala Eun Kyo saat kecelakaan. Kemungkinan Eun Kyo yang akan kehilangan ingatannya.

Tapi ia tahu, ia tidak—atau setidaknya belum—benar-benar siap bila Eun Kyo akan melupakannya seperti ini…

“Kau siapa?” tanya gadis itu sekali lagi.

Untuk sesaat Seung Hyun terlihat berpikir. Ketika keputusan itu diambilnya, ia segera menyunggingkan sebuah senyuman.

“Aku Choi Seung Hyun, sahabatmu. Dan kau… Choi Eun Kyo adalah sahabatku.”

Yah, mungkin ada baiknya seperti ini. Dia dan Eun Kyo akan memulai semuanya dari awal kembali. Seperti belasan tahun lalu, saat pertama kali ia mengulurkan tangannya kepada seorang gadis mungil yang menjadi tetangganya dan kemudian menjalin sebuah persahabatan hingga akhirnya saling jatuh cinta…

oo000oo

Epilog

1 Tahun Kemudian…

Author POV

Di ayunan yang sama yang mereka gunakan belasan tahun yang lalu saat masih sama-sama duduk di bangku sekolah dasar, Seung Hyun dan Eun Kyo kini duduk berdua sambil menatap langit sore dalam kebisuan.

Ya, oppa! Jangan menggerakkan tubuhmu terlalu kuat, ayunan itu sudah tua.” tukas Eun Kyo yang mengayunkan tubuhnya lumayan kuat di ayunan di sampingnya.

“Tidak apa-apa. Kalau ayunan ini rusak, aku akan membuatkan yang baru.” kata Seung Hyun santai, tetap bergerak maju mundur dengan ayunannya.

“Ck, bukan masalah itu, kalau kau jatuh bagaimana?” gerutu Eun Kyo lagi.

Seketika Seung Hyun menghentikan gerakannya. Dia menatap Eun Kyo seketika. “Kau mencemaskanku?” tanyanya.

“Tentu saja, oppa kan sahabatku…”

“Ah, benar juga…” gumam Seung Hyun.

“Jadi… sekarang kuliah oppa sudah selesai? Oppa tidak akan kembali lagi ke Jepang?” tanya Eun Kyo penuh harap.

Benar. Eun Kyo berharap lelaki dihadapannya itu tidak akan pergi kemanapun lagi. Sungguh ia tidak akan terbiasa hidup tanpa perhatian lelaki ini…

Saat setahun lalu ia terbangun dari komanya, lelaki inilah yang ada di sampingnya meski tak ada yang tersisa dari ingatannya. Namun lelaki ini benar-benar menjadi sahabatnya. Menjadi ingatan bagi kenangan masa lalunya yang sirna begitu saja. Ada disampingnya, menjaganya…

Meski setelah itu lelaki itu sempat pergi beberapa lama untuk menyelesaikan kuliahnya di luar negeri, tapi kini lelaki itu telah kembali… Dan ia berharap lelaki ini seterusnya akan terus bersamanya.

“Kuliahku sudah selesai dan selanjutnya aku akan menetap disini. Aku tahu ada seorang gadis manja disini yang tidak pernah bisa jauh-jauh dariku…” tanggap Seung Hyun setengah bercanda.

Eun Kyo kontan mencibir.

“Benarkah kita bersahabat sedari kecil, oppa?” tanya Eun Kyo kemudian. Lelaki di sampingnya hanya diam, tidak menjawab pertanyaan gadis itu. “Maafkan aku telah melupakan kenangan kita oppa…”

Seung Hyun kali ini hanya tersenyum kecil dan sebelah tangannya terulur mengusap kepala Eun Kyo lembut, “Gwenchana…”

Oppa…”

“Ada apa Eun Kyo-ya?” tanya Seung Hyun.

Eun Kyo terdiam sesaat,

“Aku sepertinya jatuh cinta padamu, oppa…”

Seung Hyun tertegun. Membiarkan Eun Kyo meneruskan kalimat yang terdengar begitu familiar di telinganya.

“Seterusnya, tidak peduli berapa kalipun, sepertinya aku akan terus jatuh cinta padamu.” lanjut Eun Kyo lagi. Dengan cepat semburat merah menghiasi pipinya.

Seung Hyun tersenyum kecil. Kenangan mereka belasan tahun yang lalu terulang kembali. Sama persis.

“Kenapa baru sekarang, Eun Kyo-ya?” tanyanya. “Aku bahkan sudah jatuh cinta padamu sejak lama…”

“Eungh?” Eun Kyo menatap heran pada Seung Hyun.

Dan seakan tak peduli dengan sorot kebingungan di mata Eun Kyo, Seung Hyun meraih jemari Eun Kyo ke dalam genggamannya.

“Dengarkan aku Eun Kyo-ya, tak peduli berapa kalipun, aku juga akan terus jatuh cinta padamu. Walaupun mungkin nanti aku merasa jenuh dengan cinta itu, setelah itu aku akan tetap kembali jatuh cinta padamu. Tidak peduli kau melupakanku hari ini, melupakan semua kenangan kita, tidak menjadi masalah sama sekali. Karena masih ada hari esok bagi kita untuk mengukir kenangan baru yang jauh lebih indah.”

Seung Hyun memamerkan senyuman lebarnya pada Eun Kyo. Berharap gadis itu akan terpesona padanya dan jatuh cinta padanya, lagi… dan lagi….

END