Kemarin, kayaknya ada yang minta ff koplak sama aku kan? Nah, ini dia nih aku kasih ff.ku yang agak nggak waras. Ini ff lamaku sih, tp mudah2an lumayan bisa menghibur lah, berhubung aku bener2 nggak bisa bikin ff komedi… T.T

Tittle               : Mr. dan Miss Choi

Author            : Diyan Yuska ( @ShiraeMizuka )

Genre              : Romance dan sedikit komedi (gagal) mungkin… =.=

Rating             : PG+15

Length            : Doubleshot (mungkin?) atau…Tripleshot?! Belum tahu..sekitar itulah… ._.

Cast                : Choi Seung Hyun a.k.a TOP (BIGBANG), Choi Eun Kyo (OC’s) and other…

Disclaimer      : All casts except OC’s belongs to themselves. Story based on a bollywood movie; Ghajini .____.v, little bit  imagination

It’s possibly to got some typos because this fiction has no betaed yet. No copy, stealing, plagiarism or re-post without confirm me.

warning: OOC!! (Out of Character). Banyak hal-hal fiktif bertebaran jadi pintar-pintarlah membedakan mana yang nyata dan mana yang hasil pikiran gila authornya. Yang nggak suka roman picisan kayak sinetron… maka siap-siaplah muntah *?* hehe..

First published @ http://fanfictionist.wordpress.com/

~~~~~~~~~~~~~~~

Kisah kita mungkin bukanlah kisah paling romantis,

tapi pernahkah kau berpikir akan senyum yang selalu terulas di wajah mereka

kala kita bercerita tentang sebuah kisah,

kisah pertemuan kita.

Pertemuanku denganmu, Miss Choi!

Ketika aku sadar…

Tak akan ada gunanya mempertahankan sesuatu,

Bila hatimu telah terlanjur memilih yang lain…

~~~~~~~~~~~~~~~

Author POV

Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiingggggg…

Benda setan apa yang bisa berbunyi senyaring itu, heh? Lihat saja, nanti aku akan membuangnya ke gurun Sahara!

Seorang gadis mungil membalik-balikkan tubuhnya di tempat tidur dengan  gelisah tanpa berniat membuka matanya sedikitpun. Namun begitu, dahinya berekerut-kerut kesal.

Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinggggg……..

Aish, apa gurun Sahara kurang jauh? Bagaimana dengan Segitiga Bermuda?!

Kali ini gadis itu membalik tubuhnya lagi, masih tanpa membuka mata, ia menarik ujung selimut tebalnya hingga menutupi sebagian wajahnya sampai menutupi batang hidungnya.

Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinggggggg…

Astaga!

Coba katakan siapa yang sudah membuat benda konyol yang lengkingannya bisa mengalahkan jeritan eomma-nya Shinchan saat memarahi anaknya —yang abnormal dan tidak kunjung lulus dari sekolah TK itu— mencuri lipstik yang dibeli Misae saat diskon akhir tahun dan menjadikannya sebagai hidangan penutup untuk anjingnya, Si Putih?!

Gadis itu tetap berusaha mengabaikan suara berisik yang meraung-raung di  segala penjuru kamar ukuran 4 x 6 meter itu dan kukuh dengan mata yang masih tertutup.

Heggghhh….. Heghhhhhh….

Kali ini bukan lagi suara ‘kring’ panjang yang mengisi kesunyian kamar itu, melainkan suara hembusan nafas berat yang terdengar serupa dengkuran.

HEGHHHHHH…. HEGGGGHHHH…. EGH… EGH…

Makin berat saja suara nafas itu.

HAHHH… HAHHH… HAHHH…

Lebih parah, sekarang suaranya serupa orang yang kehabisan nafas sehabis dipaksa berlari mengelilingi lapangan sepak bola sebanyak seratus kali putaran. Dan tak lama kemudian….

“KYAAAAAAAAAAA…. SELIMUT INI BERNIAT MEMBUNUHKU!!!”

Si gadis bertubuh mungil menjerit kencang. Dalam gerakan tiba-tiba ia bangun dari tidurnya dan mencampakkan selimutnya yang tadi dengan begitu manis menutupi tubuhnya dan membuangnya jauh-jauh. Dan ia menatap horor pada selimutnya itu.

Tok-tok-tok…

Seketika gadis itu menoleh kaget ke arah pintu apartemennya ketika ia mendengar suara ketukan di pintu…

S-s-siapa itu?! Kali ini siapa lagi yang berniat membunuhku?!  Batin gadis itu.

“Eun Kyo-ya~, kau kenapa?! Kenapa teriak-teriak?!” tanya seseorang yang berada di luar pintu apartemennya.

Gadis bernama Eun Kyo itu segera menghembuskan nafas lega. Fiuuuuhhh… ternyata bukan orang yang berniat membunuhnya. Suara barusan itu suaranya Hae Ra, gadis yang tinggal di lantai bawah apartemennya.

“Se-se-selimutku berhantu, Hae Ra-ya~, ia mencoba membunuhku dan membuatku tidak bisa bernafas…” seru Eun Kyo dengan tampang sedikit cemas. Ia dengar dari salah seorang teman chatting-nya yang berasal dari Indonesia, memang ada yang namanya hantu selimut yang bisa membuat seakan seseorang dihimpit sesuatu saat tidur.

Sementara itu, di depan pintu apartemen Eun Kyo, Hae Ra hanya bisa menghela nafas panjang. Dahinya sudah keriting, tanpa bisa dicegah.

Huh, hantu selimut apanya?!

Hae Ra sudah sangat paham apa yang dimaksud dengan hantu selimut oleh Eun Kyo itu. Tidak ada hantu selimut sama sekali, melainkan hanya Eun Kyo yang dengan tololnya memasang selimut tebalnya hingga menutupi lubang hidungnya hingga membuat gadis itu sulit bernafas. Konyol sekali. Bukan sekali dua kali kejadian seperti ini terjadi, tetapi Eun Kyo tetap menganggapnya hantu selimut.

Payah!

Tapi Hae Ra sedang malas berdebat dengan Eun Kyo, makanya ia tidak ingin berkomentar tentang hantu selimut itu.

“Makanya cepat bangun, Eun Kyo-ya~, apa kau hari ini tidak bekerja? Ini sudah nyaris jam delapan, lho…” seru Hae Ra dengan suara agak tinggi. Memang harus begitu, agar suaranya bisa di dengar oleh Eun Kyo yang ada di dalam apartemennya.

Sementara itu di dalam…

“J-j-j-jam delapan?!” gumam Eun Kyo bingung. Kepalanya menoleh perlahan pada benda mungil berbentuk ayam jago yang bertengger manis di meja di samping tempat tidurnya. Benda itu menunjukkan kalau lima menit lagi menjelang pukul delapan. Kesadaran Eun Kyo mengumpul dengan cepat.

“KYAAAAAAAAAA…. AKU TELAT!!!” pekiknya. “AYAM BODOH, KENAPA KAU TIDAK MEMBANGUNKANKU, HAH?!” Ia mencak-mencak sejenak pada weker ayam jagonya, lalu buru-buru bangun dari tempat tidur, tergesa-gesa meraih handuknya dan segera menghilang di balik pintu kamar mandi.

Tak lama…

“KYAAAAAAAAA!!!”

Terdengar kembali jeritan panjang dari dalam kamar mandi.

“Kau kenapa lagi Eun Kyo?” Hae Ra yang belum begitu jauh dari pintu apartemen Eun Kyo segera mendekat kembali begitu ia mendengar jeritan Eun Kyo.

“Sikat gigiku jatuh ke lubang closet Hae Ra-ya~”

Dan diluar, Hae Ra kembali menghela nafas panjang nyaris frustasi. Jika setiap pagi terus-terusan seperti ini, Hae Ra harus segera mempertimbangkan untuk mencari tempat tinggal yang baru. Sebelum tetangganya itu membuatnya masuk rumah sakit jiwa atau bahkan membuatnya mati sebelum waktunya?!

*****

Author POV

Seoul Airport

Jejeran 3 buah mobil mewah melaju memasuki area airport. Tergesa-gesa, itulah kesan yang bisa di tangkap ketika mobil-mobil itu berhenti dan masing-masing dua orang lelaki dewasa dengan setelan perlente turun dari mobil-mobil tersebut. Beberapa dari mereka tampak sibuk berkomunikasi dengan alat dengar yang terpasang di telinga.

“Pesawatnya akan mendarat 10 menit lagi!” ujar salah seorang diantara mereka dan ke enam lelaki itu pun buru-buru masuk ke gedung airport. Bukan hanya sekedar menunggu di hall kedatangan, tapi mereka langsung menuju lapangan lepas landas pesawat. Dan masalah perijinan bukan hal sulit jika mengingat siapa orang yang mereka tunggu-tunggu saat ini.

Tak lama, orang yang mereka nanti-nantikan pun datang. Lelaki-lelaki dengan tampilan necis itu segera berbaris rapih ketika suara desingan pesawat yang baru saja mendarat dan berhenti beberapa belas meter di depan mereka. Ketika pintu pesawat terbuka dan sesosok lelaki  bertubuh tegap menyeruak dari dalam, mereka segera berlari-lari menghampirinya.

“Mr. Choi, bagaimana perjalanan Anda?”

Lelaki yang ditanya tersenyum sumringah. Ia balas mengulurkan tangannya pada para asistennya yang tangan-tangannya telah terulur untuk menjabatnya.

“Menyenangkan.” ujar lelaki itu. Senyum sumringah itu masih bertahan disana. “Apa semuanya baik-baik saja selama aku pergi?” tanyanya lagi.

Ne, tentu saja, Mr.Choi.” jawab salah seorang asisten lelaki itu yakin.

Lelaki yang dipanggil Mr.Choi —Choi, untuk Choi Seung Hyun— itu mengangguk dan segera berjalan di depan para asistennya yang segera menyusul langkahnya.

“Apa Anda ingin segera pulang, Mr. Choi?” tawar asistennya lagi.

Ani. Ada sesuatu yang masih harus aku lakukan setelah ini. Chunam hanya berjarak lima belas menit kan dari sini? Ayo kita kesana.”

*****

Author POV

Hae Ra sedang menyesap teh lemonnya di lobi gedung apartemennya dengan tenang sambil menyaksikan acara gosip yang memang biasa di putar channel TV Lokal di pagi hari melalui televisi yang sengaja di letakkan di lobi apartemen.

“Cih, apa tidak ada acara yang lebih berkualitas dari ini?” gerutunya. Ia meraih remote televisi dan mengganti channel-nya. Dan ia hanya bisa mendesah pasrah ketika mendapati acara di channel lainnya pun tidak jauh berbeda.

Ketenangan Hae Ra sedikit terganggu ketika ia mendengar suara berisik seseorang menuruni tangga apartemen. Tanpa menoleh pun Hae Ra tahu itu adalah Eun Kyo, tapi ternyata tetap saja ia tergoda untuk menoleh. Di sana, Hae Ra melihat Eun Kyo masih terengah-engah saat sepasang kaki gadis itu menjejaki anak tangga terakhir dan kemudian ia memasang tali sepatunya yang tidak terpasang dengan baik.

Hae Ra menaikkan alisnya. Ia melirik sebentar pada jam yang terpasang di lobi apartemen.

08.10 KST

Eun Kyo, gadis itu hanya butuh 10 menit untuk mandi dan berpakaian. Haruskah Hae Ra bertepuk tangan untuk itu? Karena bagi Hae Ra selama ini, untuk mandi saja, sepuluh menit itu tidak cukup dan kini Eun Kyo melakukannya dalam sepuluh menit dan perlu dicatat, dalam sepuluh menit itu Eun Kyo telah selesai berpakaian dan siap berangkat.

“Mandimu bersih kan, Eun Kyo~ya?” tanya Hae Ra setengah bergidik.

Eun Kyo menoleh dan menampilkan sengiran lebar pada Hae Ra. “Tentu saja bersih,” tanggapnya yakin. “…menurut standarku…” imbuhnya.

Hae Ra mendesah pasrah. Tentu saja… Harusnya ia tahu jawaban macam itu lah yang memang akan muncul dari mulut Eun Kyo.

Ya Tuhan…

Eun Kyo melirik jam di tangannya sekilas, lalu menepuk jidatnya. “Astaga, aku sudah telat tiga puluh menit, Hae Ra-ya. Padahal aku ada syuting pagi ini… Shit! Bisa-bisa peranku di ambil lagi oleh para pesaingku…”

Hae Ra akhirnya hanya bisa diam tak berkutik memperhatikan setiap gerak-gerik Eun Kyo yang segera berlari keluar dari lobi. Hingga beberapa detik kemudian ia tersadar, saat Eun Kyo sudah berlalu lumayan jauh darinya…

“Eun Kyo~ya, tadi ahjumma pemilik apartemen kemarin datang dan menagih uang bulananmu. Katanya kau sudah menunggak dua bulan, jika kau tidak segera membayarnya, kau di suruh segera mengeluarkan barang-barangmu.”

Eun Kyo menghentikan langkahnya dan menoleh sebentar pada Hae Ra. Dengan raut santai ia mengibas-ngibaskan tangannya, “ Sudahlah, abaikan saja nenek sihir itu. Lagi pula jika hari ini syutingku sukses, aku akan membayarnya lunas dan mentraktirmu, Hae Ra~ya…”

Sudah, begitu saja… Dan kemudian dengan langkah enteng, Eun Kyo kembali berjalan tergesa-gesa menuju halte bis sambil menggerutu, “Ah, dimana bis nya? Kalau begini, bisa-bisa jam sembilan aku baru sampai di kantor…”

*****

Seung Hyun POV

Ne, aku sudah sampai di Seoul.” Aku berbicara lewat ponsel yang kudekatkan ke daun telingaku.

“Jadi sekarang kau sudah sampai di rumah?” gadis yang berbicara di seberang sana bertanya padaku.

Ani. Aku di Chunam sekarang…” tanggapku. Dan bisa kudengar lawan bicaraku mendesah di seberang sana.

Astaga, Seung Hyun-ah… Kau baru sampai dan kau langsung bekerja?!”

Gadis itu melenguh penuh kekesalan. Aku bisa membayangkan bagaimana wajah cantiknya yang di tekuk sekarang. Tapi untuk itu aku justru melepas tawa.

“Aku harus rajin bekerja dan mengumpulkan uang yang banyak agar aku bisa melamarmu, kan?” balasku. Tanpa kusadari jantungku berdebar semakin cepat kala memikirkan jawaban seperti apa yang akan kudengar dari bibir gadis di seberang sana sebentar lagi.

Dia tertawa sejenak…

“Ne, bekerjalah yang rajin, Mr.Choi! Karena aku tidak akan mempertimbangkanmu sebelum kau berada di urutan pertama orang paling kaya di Asia! Aku akan menunggu sampai saat itu tiba…” ujarnya dan lagi-lagi ia tertawa.

Aku mendesah. Jawabannya itu memang terkesan memberi harapan, tapi aku sama sekali tidak senang saat mendengar ia mengucapkannya disertai derai tawa. Seolah tidak ada apapun yang bisa kuambil dari jawabannya selain kelakar yang justru menyisakan semburat rasa sakit di hatiku.

Tapi… sudahlah…

“Baiklah, Boomie-ah… pastikan nanti kau menepati janjimu itu…”

Kuakhiri sambungan telepon itu. Untuk beberapa saat aku mendesah, sebelum akhirnya aku menghampiri para asistenku.

“Bagaimana, kalian sudah menemukan tempat yang tepat?” tanyaku.

Para asistenku segera menoleh.

“Bagaimana jika disana, Mr. Choi?”

Aku mengikuti arah tunjuk asistenku. Dan kudapati dalam pemandanganku tiang-tiang bakal pembangunan sebuah jembatan yang menjulang tinggi di sebelah timur kota Seoul.

Terlihat menarik memang posisinya. Strategis dan terjangkau penglihatan dari arah manapun. Tapi tidak, terima kasih. Ada poin penting yang membuatku menolak pilihan asistenku itu.

“Tempat itu bagus.” tanggapku. Untuk sesaat asistenku mengumbar senyumannya. “Tapi lihatlah, Park ssi, jika kita memasang iklan pada posisi itu, saat matahari terbit, maka cahaya matahari akan menghalangi penglihatan orang pada papan iklan yang akan kita pasang. Kita akan melewatkan salah satu timing promosional yang penting, yaitu pagi hari.”

“Ah… benar juga…” gumam asistenku.

Aku tersenyum kecil.

“Lalu dimana pilihan Anda, kalau begitu, Mr. Choi?” tanyanya lagi.

Sekali lagi aku memutar pandanganku. Mencoba lebih awas terhadap setiap sudut yang dapat kulihat di distrik Chunam yang tepat berada di jantung kota Seoul. Pilihanku harus tepat.

Aku, Choi Seung Hyun, adalah seorang pemilik perusahaan penyedia layanan seluler terbesar di Asia, ‘Soul Voice’. Meski keturunan Korea, kantorku sebenarnya berpusat di Jepang, namun kini Soul Voice sedang berada dalam masa peluncuran produk baru dan Korea menjadi salah satu target pasar perusahaanku. Maka untuk itu, aku harus melancarkan strategi promosi sesegera mungkin.

Aku mendesah panjang…

Sejauh ini belum ada tempat yang benar-benar tepat.

“Sebaiknya kita berpencar. Aku belum menemukan tempat yang menarik perhatianku.” kataku. “Aku akan berjalan di sekitar daerah sini…”

*****

Author POV

Kaki-kaki jenjang Seung Hyun terhenti di depan sebuah bangunan tua. Kelihatannya sebuah apartemen yang tingginya beberapa tingkat. Lelaki itu mendongakkan kepalanya menatap puncak gedung itu.

Seulas senyum merekah di bibir lelaki itu.

“Aku menemukannya…” gumamnya. Lelaki itu sadar, dia baru saja menemukan tempat yang paling tepat untuk pemasangan papan iklan produknya.

Tak lama, lelaki itu segera melangkah masuk ke dalam gedung apartemennya. Dia harus segera membicarakan soal perijinannya dengan pemilik gedung apartemen itu.

Di lobi, Seung Hyun bertemu dengan seorang gadis yang tengah duduk santai sambil menonton televisi.

Annyeonghaseo…” sapa Seung Hyun ramah.

Sesaat gadis itu tampak kaget dengan kehadiran Seung Hyun yang tiba-tiba dan menjawab salam Seung Hyun dengan sedikit terbata. “Aannyeonghaseo…” tanggap gadis itu.

Seung Hyun mengulas senyumnya lagi, dan tak butuh waktu lama untuknya menjelaskan tujuan kedatangannya kepada gadis yang ternyata bernama Hae Ra itu.

“Humph, begitukah Seung Hyun ssi?! Sebenarnya ahjumma pemilik apartemen ini tinggal di luar kota. Ia hanya datang sekali sebulan dan baru kemarin ia kesini, mungkin Anda bisa meminta ijin kepadanya lewat telepon?” Hae Ra memberi usul.

Alis Seung Hyun menaik, sepertinya ide gadis itu merupakan cara yang paling praktis, “Tapi siapa orang yang tinggal di lantai atas apartemen ini? Maksudku, orang yang tinggal di sana mungkin akan sedikit terganggu selama pemasangan papan iklan nanti. Aku juga ingin meminta ijin padanya…

“Ah, Choi Eun Kyo?! Anda bisa menemuinya di tempat kerjanya… di sebuah studio…” tanggap Hae Ra lagi.

Seung Hyun mengangguk, lalu tersenyum simpul.

“Baiklah, terima kasih kalau begitu, Hae Ra ssi…”

~~~~~~~

To Be Continue

Komennya yaaaa….. 😀