poster by : jiforg

Main Cast : Im Seulong

Other Cast : Choi Yoon Ji

Cameo : Dong Young Bae

Perusuh : Shin Jee Hee (Author ngeksis atas permintaan dan persetujuan yang ngerequest :p)

Author : Chanyb aka bini sah Taeyang sejak 50 tahun silam

Yo… Yo… Yo… Mai lapeli readers <3#sok asik. Kali ini diriku membawa FF request again. Ceritanya bagus atau tidak sungguh saia tidak tahu karena hanya readers dan Tuhan YME yang tahu. Silahkan dipelototin

Let’s Cekidot ^^

Ungkapan cinta pada pandangan pertama mungkin tidak akan berlaku bagi ke-2 anak manusia ini terlebih lagi bagi seorang gadis remaja yang duduk di kelas 3 Sekolah Menengah Atas di Kota Gwangju.

Mungkin butuh puluhan kali berpandangan terlebih dahulu baru ia bisa membuka hatinya untuk pria yang sedari tadi berjalan mengiringinya. Gadis itu tampak gusar atas sikap pria di sebelahnya yang tak juga pergi meninggalkannya meski telah ia usir ribuan kali.

Jauh berbeda dengan pria tersebut,ia seolah tidak peduli terhadap umpatan-umpatan yang cukup untuk membakar puntung-puntung emosi jiwa. Ia terlihat baik-baik saja malah terlampau sangat santai berjalan sambil membaca buku ‘Panduan Menggaet Hati Seorang Gadis Berkepala Batu Karang’ yang ia beli sesaat setelah bertemu dengan gadis di sampingnya.

“Jangan mengikutiku lagi,sudah cukup saat kau menjemputku tadi!! Atau kau sudah bosan hidup,huh??”
Teriak gadis yang biasa disapa Yoon Ji frustasi sambil menatap sangar pria di sebelahnya. Pria itupun menoleh ke arah lawan bicaranya lalu tersenyum menyeringai.

“Aku akan bosan hidup bila tanpamu chagiya… Lagipula bukankah kau tunanganku?? Apakah kau melupakan pertunangan kita??”

“Yak kau Im Seulong!! Berani-beraninya kau mengungkit-ngungkit perkataan yang membuatku gila!!”
Yoon Ji kehilangan akal untuk menyangkal ungkapan pria yang ia panggil Seulong mengungkit pertunangan mereka saat ke-2nya masih bayi.

XxxxX

Yoon Ji

Tiap kali memikirkan ucapan Seulong tentang ‘Pertunangan Kami’ otakku dipenuhi berbagai pertanyaan yang takkan berkesudahan 7 hari 7 malam 7 tahun jika dijabarkan satu persatu mengenai pertunangan gila yang dicetuskan oleh ke-2 orangtuaku dan orangtua Seulong saat kami masih merah aka baru brojol,baru melek,baru melihat dunia fana tapi sudah tertimpa kesialan akibat ide mereka.

Pasti modus 2 keluarga ini sama yaitu demi bisnis keluarga apapun rela dilakukan termasuk menjual anaknya. Cish… Mereka pikir sedang berada dalam sinetron murahan.

Bertatap muka dengan orang yang ternyata sudah ditunangkan denganku saja baru tadi malam. Itupun karena eomma dan appa tiba-tiba mengajak aku anaknya hanya seorang gadis cantik nan mempesona,untuk makan malam bersama keluarga Im yang notabene adalah orangtua dari pria mengesalkan seperti Seulong!!
Apa mereka tidak memikirkan masa depan anaknya bila kami benar-benar menikah,lalu melakukan hal yang diinginkan kemudian memiliki anak,
1 anak…
2 anak…
3 anak…
4 anak…
5 anak dan seterusnya…

“Andwaaaaeeee…. Nanti rumahku jadi tempat percetakan anak!!”
O… O… Kenapa mulut lancang ini tidak bisa kukunci rapat malah berteriak-teriak sambil mengacak-acak rambut frustasi akibat imajinasi tidak jelas tadi hingga menjadi pusat perhatian pejalan kaki.

Dari depan,belakang,samping kiri,samping kanan,semua orang memperhatikan kami ralat tepatnya aku dan mulai berbisik-bisik satu sama lain.

‘Lihat–gadis–itu–masih–sekolah–tapi–sudah–membawa–drumband.’
Kalimat yang sempat terdengar ditelingaku.
Ingin rasanya menyimpan wajahku ke dalam ransel saking malunya.

Sementara Seulong… Kemana pria itu?? Ck… Dasar kejam meninggalkanku ditengah-tengah kejadian memalukan harkat dan martabatku,bukankah dia tunanganku??

Hah… Kenapa dia berjalan menuju sekolah yang sama denganku??

“Hei… Long(panjang)(?) mengapa berjalan ke arah sana hah??”
Secepat kilat aku berlari dan mencegatnya dengan ekspresi bak centeng pasar. Ia menatap wajahku lekat dan lagi-lagi mengembangkan senyuman yang kubenci lahir batin.

“Chagiya apa kau tak melihat seragam kita sama??”

JDERRR!!CKICIITTT…DUUAAARR!!
Kepalaku serasa disambar petir dibombardir bom buku setelah mendengar ucapannya yang mengacaukan duniaku.
Aish… Yoon Ji kau harus memeriksakan matamu sepulang sekolah!!

“Ingat… Sampai di sekolah,kau harus menjaga jarak radius 10 meter dan anggap saja kita tidak saling mengenal!!”

“Terserah kau saja chagiya,lagipula dirimu ada dihatiku!!”

XxxxX

Sesampainya di kelas aku mencari keberadaan 2 makhluk yang kebetulan menjadi sahabat sekaligus pemancing amarahku.
Nah… Itu mereka,seperti biasa sedang melempar pujian-pujian dengan kata-kata yang tidak patut ditiru oleh pasangan lain termasuk aku kalau sudah memiliki pasangan tentunya,karena kata-kata yang mereka gunakan tergolong kasar.

“Bae-Hee…”
Panggilan couple mereka saja tidak sedap didengar. Ke-2 orang itu menoleh bersamaan dan memasang senyum dipaksakan. Yah,setidaknya ada kekompakkan dari mereka meskipun kadarnya hanya nol koma sepersekian persen atau hampir tidak ada kecocokkan sama sekali.

Biarkan saja pasangan aneh itu membahas hal-hal seragam tiap hari yang penting sekarang aku ingin mengeluarkan semua kepenatan akibat sosok Seulong.

“Wae Yoon Ji-ya?”
Alis Young Bae saling bertautan saat aku duduk berhadapan dengan mereka dipojokan kelas,mungkin ia merasa terganggu atas hawa kehadiranku yang membawa firasat tak enak untuknya.
Tetapi,aku mengabaikan pertanyaannya dan beralih ke Jee Hee.
(kalo e diganti a pada je jd jaahee :d)

“Jee Hee,kau ingat pesan yang kukirimkan semalam?”
Kurasa tak perlu mendengar jawabannya terlalu lama menunggu otaknya berpikir.

“Kalian lihat ini!!”
Bae-Hee membelalakkan mata mereka ketika melihat foto Seulong yang kutunjukkan dan tanggapan dari 2 orang di depanku sangat mengecewakan hanya kata-kata ‘tampan,nasibmu lebih beruntung daripada aku.’
Tanggapan macam apa itu? Yang ada tanggapan dari ke-2nya menyulut pertengkaran antara mereka.

Tak bisa diharapkan,mengapa aku memiliki sahabat seperti mereka?? Gendang telingaku bisa pecah akibat tercemar oleh kata-kata yang sama setiap hari.

“Saat aku menerimamu sedang mati lampu!! Anggap saja kau beruntung Jee,dasar body tv plasma!!”

“Kau pikir ketika aku mengatakan aku jatuh hati pada jambul gogon mu bukan suatu kekhilafan huh?? Dasar kurang ketinggian!!”

Aaaaaaarrrrggghh… Mengobrol bersama 2 orang ini bukannya menenangkan pikiran malah menambah emosi. Tuhan… Ampuni dosaku!!

BRAAAAKKK!!
Tak sabaran aku menggebrak meja lalu menunjuk wajah mereka bergantian.

“Kaliaaaannn!!!”

Ting… Nung… Ning… Nung… Ning… Nung… Ning… Nung…

Mereka beruntung kali ini diselamatkan bel masuk. Tapi,awas saja jika istirahat kelak 2 orang ini masih melakukan hal yang sama akan kucincang sampai tak tersisa.

Selang beberapa menit setelah bel berbunyi Kang seongsaenim masuk kekelas membawa petaka di belakangnya. What the Neraka!! Kenapa aku selalu dipertemukan dengannya??

Tapi,mengapa dia terima-terima saja saat mengetahui dirinya telah bertunangan sejak bayi tidak sepertiku yang uring-uringan memikirkannya?? Apakah dia tidak memikirkan masa depannya kelak dan menyetujui pernikahan diusia muda??

Bukankah seharusnya Seulong menolak hingga tetes darah penghabisan seperti sinetron-sinetron yang ku tonton.

“Apppwaaaa bertunangan? Ini tidak mungkin!! Lebih baik aku mati bunuh diri saja!!”
Seharusnya ucapan itu yang keluar dari mulutnya tadi malam. Lalu ia berlari meninggalkan meja makan,ketika sampai di rumahnya ia mengambil tali jemuran,menggantung diri dengan kata-kata terakhir “selamat tinggal dunia!” kemudian ditemukan tewas keesokan harinya dan terakhir dibenamkan ke tanah sedalam-dalamnya.

Aku jadi senyum-senyum sendiri sambil menopang dagu dengan tangan kananku membayangkan adegan-adegan yang terputar di otakku.

“Chagiya,kau kenapa??”

CTAAAARRR!! Kepalaku kembali tersambar petir melihat pria yang kubayangkan tewas gantung diri sudah duduk manis di sebelahku.
Gara-gara imajinasi menyesatkan tadi aku sampai tidak menyadari kehadiran makhluk kasar disampingku.

“Sudah kukatakan jaga jarak dalam radius 10 meter! Kenapa kau tidak menolak saja perintah
Kang Seongsaenim yang menyuruhmu duduk disampingku??”
Bisikku sengit seraya menaik turunkan intonasi bibirku(?) agar ia takut.

“Jangan memanyun-manyunkan bibirmu seperti itu,atau kau mau kutabrak pakai kissue?? Muach… Muach…”

“Kyaaaaaaa…. Dasar mesum!!”

XxxxX

Seulong POV

“Kyaaaaaaa…. Dasar mesum!!”
Teriak Yoon Ji histeris lalu berdiri ketakutan sembari menunjuk-nunjuk wajahku berulang kali. Hah,baru diancam dengan memanyun-manyunkan bibir ke arahnya saja dia sudah berteriak sehisteris itu.

“Yoon Ji-shi,siapa yang mesum?”
Kang seongsaenim menatap horor Yoon Ji seolah akan melahapnya hidup-hidup kemudian dimuntahkan lagi karena tak layak konsumsi.

“Mian seongsaenim,maksud tunanganku tadi ‘ayo ke museum sepulang sekolah!’ dia mengajakku terlalu semangat sampai-sampai mengucapkan ‘dasar museum’ padaku!!”
Aku angkat bicara,sebelum ia menjawab yang tidak-tidak. Sekalian mengklarifikasi hubungan kami agar tak ada seorang pria pun yang berani mendekatinya karena dia hanya milikku seorang.

Aku sudah menebak bagaimana reaksi Yoon Ji sebelumnya,ia terkejut setengah hidup sampai-sampai mulutnya hampir jatuh ke lantai dan pada detik selanjutnya ia memperagakan gaya orang akan menyembelih hewan kurban yang ia tujukan padaku. Ck,dia pikir aku takut?
Tak jauh beda dengan Yoon Ji orang-orang seisi kelas juga sama terkejutnya termasuk Kang Seongsaenim.
Menanggapi keterkejutan mereka aku melempar senyum canggung ke seluruh penjuru ruangan.

Alasan mengapa aku menerima pertunangan tak masuk akal yang tercetus dari otak ke-2 orangtuaku dan orangtuanya ialah karena aku menyukainya sedari awal. Ditambah hasil penelitian yang kulakukan jauh-jauh hari sebelum resmi bertemu dengannya,aku menemukan hal menarik dalam dirinya.

Ia adalah tipe gadis yang perfeksionis,apa-apa ia kerjakan sendiri dengan sesempurna mungkin 1 lagi Yoon Ji tidak pernah dan tidak akan pernah mau mengalah terhadap siapapun terlalu rakus. Sifatnya yang seperti itu membuat adrenalinku tertantang untuk mengalahkan dan membuatnya jatuh hati padaku lagipula tak ada ruginya ia menerimaku sebagai tunangannya wajah tampan iya,berpostur tinggi tegap iya,istilahnya memenuhi standar nasional.

XxxxX

19.45 KST

Berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan setelah aku mengenal serta bersekolah di tempat yang sama dengannya. Sikap Yoon Ji belum bisa kujinakkan masih tetap sangar. Kedatanganku kesekolahnya yang perlahan-lahan menggeser posisinya dimata guru dan siswa-siswi di sekolah itu membuatnya bertambah marah,bersikap acuh,tiap bertemu pandang matanya selalu berkilat-kilat penuh amarah mungkin karena sebelumnya ia tidak memiliki lawan seberatku yang mampu mengalahkannya di berbagai bidang akademik. Bukan… Bukan karena ia terlalu cerdas tetapi karena obsesinya akan sesuatu yang selalu membuat ia berhasil.

Dan akibat itu semua aku harus duduk di samping Young Bae seorang pria ramah,jujur,serta tepercaya. Sedangkan Yoon Ji,ia duduk dipojokan kelas dekat jendela bersama Jee Hee nama yang aneh persis seperti tingkah lakunya yang abstrak kadang aku kasian pada Young Bae karena memiliki kekasih semacam Jee Hee.

Dan sekarang aku sedang memilah-milah pakaian yang akan kubawa kerumah Yoon Ji. Mulai malam ini dan seminggu ke depan aku akan tinggal di rumahnya karena orangtuanya berenca berlibur ke pulau Jeju bersama pembantu mereka bukan bersama Yoon Ji anaknya.

Sebenarnya liburan ini adalah hasil persengkokolanku bersama orangtuanya dengan dalih agar kami semakin akrab. Yah,supaya aku bisa menjinakkannya sebelum kami benar-benar menikah suatu hari nanti. Aku hanya tak mau baru beberapa bulan menikah ia sudah konser pulangkan saja aku pada ibuku atau ayahku…. Uwo… Uwo…(?)

Tiba di kediaman Yoon Ji bukannya disambut hangat malah disambit dengan teriakan teriakan menggelegar dari gadis berkepala batu karang. Aigo… Telingaku bisa tuli mendadak akibat aumannya.

“Eomma… Kenapa kalian harus liburan ke pulau Jeju membawa-bawa mereka?? Apakah di sana kalian masih membutuhkan mereka??”
Ujarnya berapi-api sembari menyilangkan ke-2 tangannya sendiri sebagai tanda tidak mungkin ke-2 orangtuanya membutuhkan pembantu mereka di sana.

“Kami memang tidak membutuhkan bantuan mereka,tapi eomma pikir mereka juga perlu liburan Yoon Ji-ya!!”
Jawab eommanya enteng seraya tersenyum singkat padaku. Sifat eommanya berbanding terbalik dengan Yoon Ji.

“Baiklah,tapi apa perlu pria aneh ini diserumahkan denganku?? Lagipula aku bisa mengerjakannya sendiri!!”
Balasnya lagi tetap tak ingin mengalah.

“Termasuk memasak??”
Kini giliran appanya membuka suara. Yoon Ji hanya duduk diam sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam serta mencengkram celananya bringas. Ia tak menjawab pertanyaan appanya sepatah katapun.

Bukankah ini berarti kelemahannya adalah urusan perdapuran? Perempuan macam apa yang tidak mengerti urusan perdapuran? Jawabannya yaitu perempuan keras kepala,obsesian,pemarah,de el el terlalu banyak keburukan pada dirinya lalu kenapa aku menyukainya?? Aku tidak tahu alasannya apa.

“Jadi,kau harus menerima Seulong sampai seminggu ke depan arrachi!!”
Titah Choi ahjumma dengan nada bicara dibuat-buat tegas.

“Ta… Tapi,eomma bukankah aku masih memiliki Jee…”

“Tidak!!! Temanmu itu samasekali tidak bisa dipercaya!!”

Sebelum beranjak dari ruang tengah dengan segala kegusaran yang menggelayuti jiwanya ia masih sempat menendang tungkai kakiku cukup kuat untuk ukuran seorang perempuan.

XxxxX

Yoon Ji dibangunkan dari tidur panjangnya oleh indera penciumannya sendiri yang mengendus keberadaan makanan penggugah lidah bergoyang. Ketika ia duduk manis di depan meja makan penampilannya sangat kucal dengan rambut acak-acakan,wajah bak lukisan abstrak akibat bekas genangan air aki yang berasal dari salivanya (iler).

“Kau bisa memasak,huh??”
Ujar gadis itu meremehkan sambil mengucek-ngucek sepasang matanya dan disusul uapan lebar. Seulong yang tengah asik dalam dunia Rudi Choirudinnya(?)menoleh sekilas kemudian melanjutkan kembali aktifitasnya semula.

“Basuh dulu wajahmu sebelum duduk di depan meja dan melahap masakanku!!”
Balas Seulong memerintah.

“Cish… Sombong jiwamu wahai anak muda!!”
Meski sempat mengumpat namun akhirnya Yoon Ji melakukan perintah dari Seulong setelah mencium hawa naga.

Sekembalinya Yoon Ji dari mengemban misi pentingnya demi sepiring makanan,hidangan merekapun telah tertata rapi di atas meja. Mata gadis itu berbinar-binar bak menemukan harta karun yang terkubur ribuan tahun lalu melihat santapan yang siap dilahap kapanpun juga.

Dengan semangat 2 x 45 menit Yoon Ji meluncur lalu menyantap makanan tersebut dengan lahap sedangkan Seulong tersenyum puas penuh kemenangan di seberang meja menyaksikan masakannya disantap oleh Yoon Ji tanpa banyak protes.

“Chagiya,enak??”

“Biasa saja nyam…nyam…aku hanya terpaksa memakan masakan yang tidak jelas ini!!”
Elak gadis itu berdusta dan melenggang meninggalkan ruang makan tanpa mengucapkan terimakasih terlebih dahulu. Gadis itu tak ingin mengakui kekalahannya atau mungkin merasa dikalahkan tetapi,tak mau mengakuinya.

“Cish… Biasa saja tetapi,piringnya sampai mengkilap! Pendusta besar!”
Hardik Seulong berang memperhatikan piring bekas makan Yoon Ji tersapu bersih oleh si empunya.

Pria yang mendadak jadi juru masak gratis ini mencium gelagat mencurigakan saat ia beranjak dari ruang makan dengan tergesa-gesa bak dikejar-kejar kamtib.
Tak ingin kalah cepat Seulongpun mengambil langkah seribu bayangan menuju kamarnya untuk berganti pakaian seragam sekolah.

Yoon Ji POV

Setelah menghabiskan makanan dalam sekejap mata hingga tak tersisa aku melengos pergi menuju kamar mandi sekedar mengguyur tubuhku sedikit dengan air bahasa kerennya mandi ala koboi.

Sikapku memang kurang sopan padanya sudah memakan seluruh masakannya bahkan kalau bisa kumakan mungkin piring di atas mejapun sudah kuhantam tetapi,sikap yang kuambil malah meninggalkannya tanpa mengucapkan arigatou,gomawoo,thanks dan lain sebagainya sebagai tanda syukur telah diberi makanan. Itu karena kadar gengsi dalam darahku terlalu kental hingga mengucapkan kalimat semudah itu saja aku tak mampu.

Cepat-cepat aku memasang sepatu lalu berlari keluar rumah untuk menghindari Seulong yang selalu membayangi langkahku kemanapun kecuali ke kamar mandi karena kalau sampai ia berani melakukannya akan kumutilasi rambutnya(?).
Aku celingukan kesegala arah memastikan tidak ada orang itu dibelakang.

“Hah… Syukurlah…”
Desahku lega sambil mengurut dada.

“Ne,chagie syukurlah kau berhasil mengejarku!!”

Sial… Sial mengesalkan sekali si panjang(long)ini!! Kenapa dia bisa mendahuluiku?? Apakah gelagatku mudah sekali terbaca??

“Sangat jelas Yoon Ji-ya!! Di dahimu tercetak papan reklame ‘Jauhi Seulong secepat yang kau bisa!’.”
Shuuuuttt… Psssshhh… Tubuhku seakan kempes seketika mendengar ucapannya yang tepat sasaran.

“Apakah kau alergi pada lawan jenis?? Atau kau tak menyukai pria euhm… Maksudku….”

“Stoopp!! Aku normal jangan asal mengambil asumsi tidak jelas!!”
Aku menatapnya sangar tapi ia mendekat dan melempar seringaian puas lalu didetik selanjutnya tangannya telah melingkar di lenganku. Seketika itupula aku merasa tersengat aliran listrik saat kulit kami saling bersentuhan. Apakah ditubuhnya didirikan menara sutet??
Pertanyaan bodoh apa ini? Hentikan Yoon Ji!! Jangan berkhayal lagi dengan imajinasi sesatmu!!

XxxxX

Darh kejauhan aku melihat kerumunan siswa-siswi di depan mading,apakah ini pengumuman tentang…
Mau tak mau,sebenarnya mau sih hehehe… Aku turut berdesak-desakan di tengah-tengah kerumunan manusia yang banyaknya hampir setara dengan kerumunan orang-orang mengantri dana BLT.

Namun apa daya tubuhku terlalu lemah tak berdaya(?)hingga tak bisa meringsek masuk lebih jauh lagi dengan berat hati aku meninggalkan kerumunan itu lalu duduk dibangku dekat mading sembari menunggu kerumunan itu sepi.

“Yoon Ji-ya,besok malam kau ikut ke acara ulang tahun sekolah,kan??”
Teriak Jee Hee sumringah tak jauh dari tempatku sekarang sambil menyeret-nyeret kasar lengan Young Bae.

“Apa pengumuman yang ditempel tadi hanya berita itu saja? Tidak ada yang lain??”
Desahku kecewa mengingat perjuangan penuh peluh tadi yang sia-sia,ku kira ada promo dessert gratis di toko dekat sekolah.

“Ne,kau ikut kan?? Kau tenang saja di sana ada banyak dessert kesukaanmu!!
Kalau aku sudah pasti pergi bersama ayank tae!!”

“Hentikan panggilan menjijikkanmu itu padaku!! Yoon Ji-ah kau ajak saja Seulong..!!”
Young Bae menunjuk sosok Seulong yang berdiri di arah jam 9.

“Yang benar saja,aku mengajaknya tidak akan pernah!!”

XxxxX

Yoon Ji tampak menunggu dengan gelisah di sebuah bangku taman belakang sekolahnya. Berulang kali ia berdiri kemudian duduk kembali detik selanjutnya ia mondar-mandir tak karuan.

Jari-jari gadis pemarah itu amat terampil menari-nari di keypad ponselnya berencana menghubungi Jee Hee sahabatnya tetapi yang terdengar hanya nada sambung ST12 (Suara tuttut 12 kali).

“Ck… Dimana mereka??”
Yoon Ji meremas ponselnya gemas karena panggilannya tak dijawab.

DDDDRRRTTT…DDDDRRRTTT…DDDDRRRTTT…

Ia melihat sekilas caller id lalu mengangkat telepon tersebut.

“Yoboaseyo… Hei… Dimana kau sekarang??”

“Dirumah…”

“Mwo?? Yak kau Jahe apa maksudmu di rumah hah?? Cepat datang!!”
Amarah Yoon Ji memuncak hingga menandingi tingginya Mount Everest. Ia semakin kalap ketika orang yang menghubunginya menyampaikan sesuatu yang tidak ingin ia dengar. Gadis itu menutup ponselnya kasar lalu berjalan menuju gedung tempat acara berlangsung.

“Jam 12 malam katanya?? Mereka pikir aku Jinderella menunggu mereka selama itu?? Sekarang masih jam 7 sialan kalian Bae-Hee!!”

BRRUUUKK.!!

“Hai,anak manis,sendirian?? Mau ikut sama oppa??”
Ujar seorang pria bersama temannya yang ditabrak oleh Yoon Ji barusan.

“Aku tidak sendirian,mungkin kalian tidak bisa melihatnya tetapi,disini masih ada seorang lagi!!”
Jawab Yoon Ji gelagapan sambil menunjuk-nunjuk angin di sampingnya.

Ke-2 orang pria penggoda tersebut perlahan-lahan menjauhi sosok gadis di depannya. Tak dapat dipungkiri mereka sedikit ketakutan dengan tingkah orang yang mereka goda.
Tak mau berlama-lama dalam situasi semacam itu,Yoon Ji segera berlari secepat yang ia bisa.

GREEEPP!!
Tangannya berhasil dicengkram 2 pria di belakangnya.

“Kau pikir kami percaya??”

Seulong POV

Aku tahu jika Yoon Ji tidak akan mau mengajakku ke acara ulang tahun sekolah jadi,aku berkompromi dengan pasangan Bae-Hee kemarin.

Flash Back

Sesaat setelah Yoon Ji ke kelas. Aku langsung menghampiri Bae-Hee yang tengah asik bercengkrama tetapi seperti sedang bertengkar di bawah pohon beringin. Dasar aneh!!

“Annyeong!!”
Mereka mendongak ke arahku lalu tersenyum singkat.

“Bisakah besok malam kalian tak usah datang ke pesta ya,Jebal!!”
Aku menatap mereka sendu sambil menangkupkan telapak tanganku tanda memohon. Mereka tampak berpikir lama.

“Wae??”
Tanya Young Bae dengan mimik serius seraya menata jambulnya.

“Kalau ada kalian pasti aku takkan ada peluang mendekati Yoon Ji!!”
Jawabku sekenanya lalu melempar senyum 5jari.

“Imbalannya?? Jaman sekarang tak ada yang gratis!!”

Ck…. Apa-apaan Jee Hee?? Apa mau jadi pemalak liar??

“Ne… Imbalannya apa??”

Whatt?? Young Bae yang sopan ramah tamah rajin membantu orang-orang tampan sepertiku ternyata juga tukang palak!!
Dengan berat hati aku memberikan 2 tiket konser BigBang yang kudapatkan susah payah pada mereka dan reaksi ke-2nya sungguh berlebihan. Loncat-loncat sambil berpegangan tangan lalu melenggang pergi entah kemana. Sepertinya aku salah orang untuk dimintai pertolongan.

Flash Back End
Dari informasi yang kudapatkan melalui Jee Hee, Yoon Ji sedang menunggu di taman belakang sekolah. Mau apa gadis itu gelap-gelapan??
Samar-samar aku melihat punggung Yoon Ji yang terlihat ketakutan karena 2 pria di depannya. Secepat kilat aku mendatangi TKP lalu berdiri di belakang tunanganku.

“Dia milikku,mau apa kalian??”
Ujarku sarkatis sambil menyingsingkan lengan kemejaku.
Yoon Ji menoleh ke belakang dan tersenyum lega. Dengan ancaman yang tak seberapa itu saja mereka sudah lari terbirit-birit bagaimana kalau kutunjukkan absku??

Pulang dari pesta ulang tahun sekolah aku membawa beban berat di punggungku. Gadis ini memakan semua hidangan di setiap stand makanan. Selera makannya sangat besar untuk tubuh semungil dirinya bukan karena hal ini yang menyebabkanku membawa beban berat tetapi karena ia menenggak habis anggur buatan tahun 76 hingga teler seperti ini.

Bagaimana nasibku saat membawanya pulang?? Bukankah orangtuanya tiba malam ini,kepulangan mereka dipercepat sehari atas permintaanku sendiri.

“Hei,pabo kenapa kau tak katakan saja kalau kau tidak kuat minum mana pakai acara manjat-manjat atap gedung saat mabuk. Menyusahkan!!”
Walaupun pundakku tempat kepalanya bertengger manis ku naik turunkan tetapi,tetap saja ia tidak bangun.

Took… Took… Took…
Dengan susah payah aku mengetuk pintu dan tak lama kemudian pintu terbuka.

“Ahjumma,mian aku membuatnya mabuk dan mian karena aku harus pulang ke Seoul malam ini juga!!”
Aku membungkuk 90 derajat saat berpamitan. Memang belum genap seminggu aku tinggal di rumahnya tapi,ada hal yang harus kulakukan di kota asalku yah,sebelum pindah ke gwangju aku berdomisili di jantung Korea Selatan.

“Apakah harus malam ini?? Tidak ingin mengucapkan kata-kata perpisahan dulu??”

“Ani…”

XxxxX

Semenjak kepergian Seulong,Yoon Ji bukannya menjadi senang riang gembira sepenuh hati tetapi malah makin uring-uringan tiap kali mengingat tunangannya. Baik di sekolah maupun di rumah yang terbayang-bayang hanya Seulong seorang. Wajah pria itu seolah telah menjadi poster artis terkenal yang tertempel di otaknya.

Jangankan untuk menelepon sekedar bertegur sapa, berkirim pesan salah kirim saja ia tak bisa lakukan pasalnya gadis ini tak mempunyai nomor Seulong samasekali. Ingin meminta pada sahabat ataupun eommanya ia gengsi. Sama saja menjilat ludah sendiri pikirnya.

Ditambah lagi dengan ide gila yang disampaikan oleh ke-2 orangtuanya beberapa hari lalu yang menyatakan bahwa ia akan bertunangan dengan anak sahabat appanya lagi dan lagi.

Saat ini Yoon Ji tengah duduk di sudut kamarnya sembari memeluk ke-2 lututnya. Ia tak peduli jika gaun yang ia kenakan kusut dan kotor. Dipikirannya sekarang adalah bagaimana caranya bertemu dengan pria yang secara pelan tapi pasti menguasai hatinya.

“Bagaimana ini,aku tidak mau bertunangan apalagi menikah bersama orang yang baru aku temui sekarang!! Tidak!! Bukan hanya orang itu tapi,siapapun juga!! Kalau bukan Seulong aku tidak mau!!”
Ujarnya sangat lirih hampir tak terdengar.

Tanpa pikir panjang Yoon Ji berlari ke balkon yang terletak di depan kamarnya ia berencana melarikan diri.

“Hanya lantai dua,aku pasti bisa!!!!”
Secepat kilat ia memanjat pembatas balkon tersebut dan tanpa ragu gadis pemarah ini mulai melaksanakan misinya.

“Hah,Seulong?? Kyaaaaaaaaaa…..”
Yoon Ji terperanjat ketika melihat sosok Seulong yang sedang tersenyum dan melambai ke arahnya. Hal tersebut menyebabkan dirinya terpeleset serta berhasil mendarat dengan mulus di pelukan pria berbadan kekar yang tak lain adalah tunangannya sendiri.

Mata gadis itu tak henti-hentinya berkedip sedangkan wajahnya mulai merah merona.

“Chagiya,kau berat!!”
Seulong membuka suara dengan sebuah protesan.
Agak canggung Yoon Ji berangsur turun dari pangkuannya.

“Kau dari mana saja Seulong-ah,kau tahu aku akan dijodohkan lagi tapi bukan dengan mu,aku tidak mau kalau bukan denganmu!!”
Ujar gadis itu blak-blakan menyatakan perasaan yang membuat hati Seulong terbang ke langit 7 lapis legit.

“Maksudmu kau menerimaku?? Benarkah itu chagie?”

“Yoon Ji kau sudah berteman baik dengan Seulong?? Syukurlah berarti makan malam antara kalian berdua akan berjalan lancar!!”
Ujar eommanya yang mendadak berada di tengah-tengah mereka. Yoon Ji merasa lega sekaligus bingung dengan pernyataan eommanya barusan ia menatap Seulong dan eommanya bergantian tanda meminta penjelasan lebih lanjut.

“Yang akan ditunangkan denganmu itu adalah aku!!”

“Tapi,bukankah kita sudah bertunangan sejak masih bayi??”
Seulong diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan gadis di depannya.

“Ne,tapi saat itu belum resmi!! Bukankah belum ada cincin tunangan yang melingkar dijarimu chagiya!!”
Pria itu menggenggam erat tangan Yoon Ji lalu tersenyum riang.
Genggaman Seulong yang ke-2 kalinya ia rasakan secara sadar kembali membuat tubuhnya seakan terkena sengatan aliran listrik.

“Long,apakah ditubuhmu didirikan menara sutet??”
Pertanyaan bodoh yang berada diotak Yoon Ji mengalir begitu saja tanpa ia rencakan.

“Mwo???”

“Hehehe… Abaikan,aku hanya bercanda.”

Setelah berulang kali berpandangan dan bertatap muka hati sekeras batu karang Yoon Ji akhirnya luluh juga. Ia sendiri bahkan tak tahu mengapa tiap kali berdekatan dengan Seulong di hatinya selalu meletus ribuan kembang api warna warni bak di tahun baru.
.
.
.
.
.
.
.
.
– Udahan Dulu Yaw –

Huuhaaaa. . . . . .#Ngelap iler
Akhirnya jadi juga ffnya Mian kalo jelek saeng m(_._)m