We Should’ve Been Friends

Main Cast : Lee Chaerin – Kwon Jiyong

Other Cast : Mizuhara Kiko

Genre : Dunno ._.v

Lenght : Oneshot

a/n : Terinspirasi dari lagu Gummy yg judulnya sama =) asli deh keren banget lagunya..dalem-_- ok, happy reading ^O^



October, 3rd

“Chae-ah! Cepat!! Hari ini kita sibuk,” suara teriakan cempreng menyambutku ketika aku baru saja melangkah memasuki cafe—tempat kerjaku. Di belakang meja kasir, tampak seorang laki-laki bertubuh kurus melambaikan tangan padaku.

“Tolong antarkan menunya ke meja…emm..itu.” tangannya menunjuk ke sebuah meja di mana seorang gadis—yang aku rasa warga asing—duduk dengan menopang dagunya. Aku melengos, kemudian menggeleng.

“Aku baru datang dan kau sudah suguhi aku dengan tugas ini.” Aku mengibaskan tangan di depan wajahnya. Dia mendongak dan mendengus. Bisa kulihat dengan jelas, sepasang mata kucingnya yang imut memandangku kesal. Aku tertegun sesaat.

“Ini memang pekerjaanmu, pabo! Sudah sana cepat! Letakkan tasmu, lalu antarkan!” dia kembali menunjuk-nunjuk meja itu. Aku memanyunkan bibirku dan segera berlari ke sebuah pintu khusus.

“LEE CHAERIN!!”

Namaku Lee Chaerin. Aku bekerja di sebuah cafe kecil, bersama seorang laki-laki idiot yang menyebalkan—Kwon Jiyong. Kami bertemu 3 tahun lalu saat aku masih menyandang status mahasiswi di sebuah universitas jurusan seni. Dia juga, satu jurusan denganku, hanya saja, umurnya 3 tahun lebih tua dariku.

Walaupun begitu, aku tak pernah menganggapnya lebih tua atau apapun itu. Tingkahnya membuatku menganggap dia sebagai teman sebaya. Childish, dan manja. Dan sepertinya sikapnya itu sudah membuatku merasa bahwa kami memiliki hubungan lebih. Saudara, mungkin.

“Chae-ah—“

“Iya, aku kesana!” saat dia memanggilku, aku tahu itu kode bahwa aku harus segera melayani pelanggan. Tapi, saat aku mengambil daftar menu, dia menahan tanganku.

“Mau apa kau? Aku suruh cuci piring tahu! Sana!” Aku melongo. Sementara dia hanya tersenyum kecil—tidak memandangku—sepertinya memang bermaksud untuk balas dendam padaku. Aku berdecak, kemudian berjalan menuju pintu dapur, mencoba tak peduli dengan suara tawanya yang terdengar menggelegar itu.

Sampai di dapur, aku langsung tertegun melihat tumpukan piring yang tampaknya lebih banyak dari biasanya. Apa-apaan ini? Dia sengaja menambhakan piring kotor saat aku mencuci? Atau memang cafee hari ini sedang ramai?

Aku mundur beberapa langkah, mencoba mengintip aktivitas Jiyong. Normal. Dia tak melakukan apa-apa. Ah, melamun. Dia sedang melamun. Aku mencoba mengikuti arah matanya, dan,

Gila, wanita itu pasti sudah gila. Dia makan sebanyak itu? Piring berserakan di atas mejanya. Dan aku bisa melihat, semua pengunjung sedang memperhatikannya dengan heran.

asjhklgibdbdkshd!”

Jiyong akhirnya berdiri, keluar dari meja kasir, menghampiri wanita setengah gila itu. Duduk di depannya.

Aku rasa mereka sedang berbicara, ah, tidak, Ji yang bicara. Wanita itu tak peduli, terus makan dan berteriak dalam bahasa asingnya. Tunggu dulu, aku ingat, wanita itu yang kemarin, wanita asing yang datang kemarin.

Aku baru akan menghampiri mereka ketika Jiyong mulai menangkap wajah wanita itu.

DEG!

Waktu tiga tahun itu sepertinya hampir membuatku selalu merasa risih melihat Jiyong berada di samping wanita lain. Karena, ya, biasanya itu.. Aku. Rasanya, bagaimana, ya? Aku bingung menjelaskannya, tapi yang pasti, aku bisa merasakan tatapan yang berbeda dari Jiyong untuk wanita itu.

Harusnya kemarin aku yang mengantar pesanannya.

“Kamu tahu? Dia manis, lho.”

“Kau sudah bilang berapa kali, huh?”

“Ya, memang, tapi kau belum sekalipun merespon ucapanku yang itu.”

Aku menghela napas. Sejak tadi laki-laki kurus di depanku ini terus-terusan berkata kalau wanita asing itu manis, cantik, atau apalah itu. Aku tak mau terlalu banyak merespon. Malas.

“Bagaimana kalau aku pacaran dengannya?”

“Ya ya ya. Terserah sajalah.” Sebisa mungkin aku berusaha mengelak dari ucapannya. Well, aku memang benar-benar tak peduli dengan apa yang dia inginkan dari wanita itu. Tapi, aku sedikit menyayangkan bibir wanita itu yang kurasa terlalu tebal.

“Ji, bibir wanita itu tebal.”

“Terus?”

“Kau akan kalah saat menciumnya nanti,” Aku tertawa, agak terpaksa memang. Sementara Jiyong tak berkomentar lagi, “ya,” hanya itu yang dia ucapkan. Aku kembali menghela nafas.

“Jangan terlalu berharap,” Aku berkata singkat—tanpa menatapnya. Jiyong menatapku bingung, mata kucingnya melebar dan dahinya berkerut.

“Kenapa?” pertanyaan yang sudah bisa kutebak mengalir keluar dari mulutnya. Aku mengedikan bahu, berbalik pergi menjauh darinya.

December 17th

Malam ini udara terasa sangat dingin. Jaket tebalpun sepertinya tak dapat menaikkan suhu dibawah -5 derajat ini. Salju turun dengan lebat, hampir menutupi pandangan.

Aku membuka pintu cafe perlahan. Sepi. Hanya ada sepasang suami-istri—aku rasa—yang sedang minum coklat panas di pojok ruangan. Aku memperhatikan sekeliling, cafe ini terasa berbeda.

Aku merapatkan jaketku dan melangkah lebih dalam. Tampak Jiyong sedang sibuk bereksperimen dengan coffee lattenya.

“Ada apa ini, Ji? Kenapa cafe sepi sekali?” Aku melepas jaketku, menggantungnya di tempat khusus dan mendekati Jiyong.

“Aku suruh mereka semua pulang.”

“Apa? Kau sudah gila, ya?”

Anniya. Aku ada acara hari ini, jadi aku suruh mereka pulang. Emm..sebenarnya kau tak usah berangkat juga tak masalah, lho.” Kata Jiyong, masih fokus dengan coffee lattenya.

“Maksudmu, aku diusir.” Aku bertanya jutek. Tiba-tiba saja aku merasa tak dihargai. Jiyong akhirnya mengangkat kepalanya, menatapku dengan sorot mata memohon.

“Tolong, ya? Jebal~”

“Cih,” Aku mendengus, menampakkan sorot mata kesal, kemudian mengambil jaketku yang tadinya sudah tergantung rapi.

“Aku pergi.”

Ting tong

Suara bel dari luar rumah memecah konsentrasiku. Aku menahan nafas. Kartu yang sudah kususun rapi tanpa sengaja tersenggol oleh gerakan refleks yang disebabkan bunyi bel sialan itu. Aku menarik nafas dalam, berusaha tenang, menahan emosi, mengingat aku sudah mengerjakan kartu-kartu itu sejak tadi pagi.

“Siapa?” teriakanku terdengar tidak bersemangat. Dengan berat hati, aku membereskan kartu-kartu itu dan menunpuknya menjadi satu. Melemparnya sembarang, emosi.

“Chaerin-ah!”

Aku berani bertaruh, yang memanggilku pasti bukan Jiyong.

“Hi,” Aku tertegun melihat seorang wanita dengan bibir merah tebal, kulit putih, mata yang agak belo dan rambut panjang bergelombang menyambutku ketika aku membuka pintu.

Nugu?” Aku bertanya hati-hati. Wajahnya agak familiar, tapi aku lupa di mana tepatnya aku melihat wanita seperti ini.

“Ah, aku Kiko. Mizuhara Kiko, temannya Jiyong.” Dia tersenyum. Aku mengangguk, ingat,  ditangannya ada sebuah kertas yang aku rasa sebuah undangan.

DEG!

Untuk kesekian kalinya, aku menahan nafas, jantungku seakan berhenti berdetak. Undangan untuk apa? Apa ini artinya mereka akan segera menikah?

“Ada apa?” Suaraku sedikit bergetar, tapi sepertinya dia tak sadar. Dengan senyum mengembang dibibirnya dia menyerahkan kertas itu padaku.

“Aku tak mau menyampaikannya secara langsung, jadi, kau bisa baca sendiri.” Senyumnya kembali merekah. Aku menelan ludah, tanganku terulur perlahan, mengambil kertas itu dari tangan wanita itu. Membacanya hati-hati.

Bertunangan.

Aku menghembuskan nafas lega. Bertunangan bukan berarti menikah, kan?

Tanpa sadar, aku tersenyum padanya, kemudian menutup pintu secara perlahan.

“Tunggu!” Dia menahan pintuku. Aku melongok, menyembulkan sedikit kepalaku.

“Jiyongie bilang kau harus datang. Dia sangat mengharapkan kehadiranmu.”

Aku mengangguk kecil, tanpa senyum. Dia ikut mengangguk dan mundur teratur. Aku merenung sejenak setelah menutup pintuku.

Dia ingin aku datang setelah mengusirku kemarin. Aku menghela nafas, tanganku mulai gatal ingin merobek undangan itu, setelah membaca tanggal dan tempatnya mungkin aku akan langsung membuang ketas itu, menginjaknya, me—ah lupakan.

“Ah, sayang, jangan pakai benda itu di acara formal.”

Sudah satu jam lebih aku berada di kamar bersama Ibuku. Untuk acara seperti ini rupanya Jiyong sudah memberitahu Ibuku lebih dulu. Padahal aku tak ada niat mengajaknya pergi bersamaku, bahkan aku sebenarnya tak mau memberi tahunya tentang acara Jiyong.

Ibu mengeluarkan sebuah sepatu hak tinggi berwarna pink mencolok dari sebuah kardus yang dari tadi dibawanya. Dia meletakkan di depanku dan tersenyum lembut.

“Pakai ini.”

Aku bergidik melihat model higheels yang dipilihkan ibuku. Sangat tidak cocok dengan gaun pendekku yang berwarna merah tua.

“Umma, ini tidak cocok. Aku punya banyak di bawah sana.”

“Anniya, aku sudah memilihkan ini untukmu, dan soal cocok, siapa yang mau melihat ke arah kakimu.” Selalu begini, aku tak pernah bisa mengelak dari permintaan Ibuku sendiri.

“Yak! Umma, benar, deh! Ini norak!” Aku masih berusaha mengubah pikiran ibuku tentang high heels itu.

“Okay, aku menyerah. Cepat ambilkan kumpulan sepatumu di bawah. Bawa ke sini, dan kau tak boleh menolak untuk yang ini.” Kata ibu. Aku mengangguk dan segera berlari ke lntai bawah.

Tapi sebelum aku kembali ke atas, Ibu sudah duluan menyeretku pergi keluar rumah.

“Lupakan sepatu, pakai yang kau suka, kita hampir terlambat!”

Aku melirik jam dinding. Jam 6 lebih 40 menit, masih ada 20 menit, tapi Ibu sudah heboh buru-buru berangkat.

“Chaerin! Ayo cepat!”

Huh.

Aula itu kini mulai ramai, orang-orang berpakaian formal berseliweran di mana-mana. Ibu dan aku sengaja memisahkan diri. Ibu sepertinya sedang melepas kangen dengan Nyonya Kwon—ibunya Jiyong. Seperti reuni para orang tua.

Rasanya sesak di sini. Selain suasana yang ramai, tak ada orang kukenal di sini. Semuanya tampak asing. Bahkan aku tak menemukan Jiyong ataupun Kiko di sekitar sini.

“Selamat malam.”

Suara seorang wanita diringin dengan bunyi dengungan mic membuat aku membelokkan bola mataku ke arah panggung. Seorang wanita berperawakan tinggi dengan rambut kemerahan yang diurai tersenyum manis.

“Kita di sini akan blah blah blah—“

Aku tak perlu repot-repot mendengar semua penjelasan wanita itu, yang aku mau, acara segera dimulai, mereka segera bertunangan dan aku segera keluar dari sini. Dan acara terakhir, aku tinggal berusaha melupakan Jiyong.

Kedengarannya mudah.

Tapi saat wanita itu menyebutkan nama Jiyong dan Kiko aku merasa ada yang aneh. Kepalaku tiba-tiba terasa sakit, dan air mataku serasa mau keluar. Hei, ada apa ini?

Saat mereka berdua muncul dipanggung, mendadak aku tak bisa menatap wajah bahagia Jiyong. Rasanya…sakit.

Aku tak tahu kenapa aku jadi aneh seperti ini. Tadinya aku merasa biasa saja.

Dan saat mereka saling menyematkan cincin aku makin tak sanggup melihatnya. Aku membalikkan tubuhku, mendongak. Semuanya baik-baik saja, Chaerin.

“—aku ingin mengucapkan terimakasih pada sahabatku, Lee Chaerin, di sana, yang sedang membalikkan badan itu.”

Aku melotot, air mata yang daritadi kutahan mengalir begitu saja ketika dia mengucapkan kata itu.

Ada apa, sih Chaerin?! Kenapa menangis? Kau tak punya rasa apapun pada Jiyong.

“Chae-ah.”

“Ya?” Aku mengusap mataku yang sudah basah, make upku pasti luntur sekarang. Aku membalikkan badan dan ibu menyambutku. Dia tampak khawatir.

“Kamu kenapa, sayang?” Aku menggeleng dan tersenyum. Aku harus naik sekarang.

“Umma, aku harus ke sana.” Aku menepuk pundak ibuku dan berjalan terhuyung ke arah panggung. Aku bisa merasakan tatapan aneh orang-orang disekitarku. Tapi aku tak peduli.

Perlahan tapi pasti, senyuman Jiyong yang tadinya terukir di bibirnya kini hilang. Bergantinya dengan tatapan yang tak bisa kuartikan. Aku tersenyum ke arahnya.

“Chae-ah, kau baik-baik saja, kan?” Jiyong berbisik ketika aku berdiri di sampingnya. Aku mengangguk tanpa suara. Aku meraih mic yang disodorkan Mc padaku. Aku menarik nafas dalam-dalam. Hening. Itu yang kurasakan sekarang. Semua mata tertuju padaku, aku mencoba tenang.

“Aku—“ aku kembali menarik nafas yang kesekian kalinya. “—selamat, dan semoga hari kalian bahagia.” Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku, setelah itu yang kutahu, aku berlari turun dari panggung, keluar aula, dan menangis di balik sebuah mobil yang terparkir di depan aula.

Aku menangis. Lama.

“Ah, Kiko-sshi, aku keluar sebentar.”

Jiyong mengelus rambut Kiko singkat, kemudian berlari kecil keluar dari aula yang telah sepi dari para tamu undangan. Di ambang pintu aula, Jiyong berhenti, mengawasi sekeliling. Dia tersenyum kecil melihat seorang gadis tengah memainkan jarinya di atas tanah.

“Chae-ah,” Jiyong berjongkok, memperhatikan wajah Chaerin yang tampak bengkak.

“Eh? Ahhh! Jangan lihat!” Chaerin menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menutupi wajahnya yang bengkak itu. Jiyong tertawa.

“Jangan malu.” Jiyong menyentuh pipi Chaerin perlahan mengangakat wajahnya, agar Chaerin menatapnya.

“Maaf, ya.”

“Ungh?” Chaerin melenguh pelan. Dia menggerakkan kepalanya.

“Maaf untuk apa?”

“Kau sakit, kan?”

Anni.”

“Bohong. Hmm..kau tahu Chae-ah, Aku memang mencintai Kiko, tapi aku sayang padamu. Kau seperti saudaraku yang paliiiing baiik.” Jiyong tersenyum lembut. Chaerin menelan ludah.

“Kita masih bisa berteman, kan?” tanya Jiyong. Chaerin tak menjawab.

“Oh, jam berapa sekarang? Umma pasti bingung mencari ku, Ji-ah, aku harus pergi.“ Chaerin menahan nafasnya sejenak. Perlahan sudut bibrinya tertarik, dia tersenyum manis. Chaerin menurunkan tangan Jiyong lalu berdiri. Berjalan menjauhi Jiyong yang masih terpaku pada posisinya.

“Jiyong—“ Chaerin menahan langkahnya. Berbalik.

“—kita memang seharusnya hanya teman, kan?” gadis itu kembali melangkah pergi.

-Fin-

 maap aneh >.< kekeke n ga ada maksud nyinggung loh, aku suka kiko kok😀