Cast : Jessica Jung – Choi Seunghyun

Other : Find it by urself

Author : Diyuntaechan

Genre : Romance

About : SoshiBang pairing

Lenght : Series

Disclaimer : Plot milik saya, cast milik orang tua mereka dan Tuhan.

a/n : Karena efek 49days menyerang, jadi terinspirasi untuk buat ff ini. Thankyou Scheduler mwaaaaahhhh~ :*

—–


 “Mau mencarikan aku pekerjaan?” mata gadis berambut pirang itu membulat, berbinar senang menatap seorang laki-laki yang sedang tersenyum manis di depannya. Mengangguk.

“Aku punya kenalan dan kuaras pekerjaan itu cocok untukmu.” Laki-laki itu kembali tersenyum, tangannya perlahan terulur mengelus rambut pirang si gadis. Sementara itu si gadis masih belum bisa mengukur betapa beruntungnya dia memiliki kekasih yang sangat pengertian seperti ini. Dia terlalu senang untuk mengatakannya.

“Terimakasih, Oppa~”

“Jangan-jangan, aku tak suka dipeluk.” Si laki-laki mundur beberapa langkah melihat gerak-gerik si gadis yang mencurigakan.

Si gadis cemberut, “aku pulang saja.” Berlagak marah, dia membalik tubuhnya berjalan pelan-pelan, menunggu respon si laki-laki. Tepat seperti dugaannya, si laki-laki dengan sigap menarik tangan si gadis, membalik tubuhnya lagi hingga mereka bertatapan.

“Iya iya. Sini.” Si laki-laki melepaskan tangan si gadis, kemudian merentangkan tangannya lebar, menunggu si gadis jatuh dalam pelukannya.

*

Sooyeon membuka matanya pelan. Cahaya matahari dengan beringasnya masuk ke dalam kamar kecil Sooyeon. Gadis berambut pirang itu bangkit. Menguap sesaat, kemudian berjalan terhuyung keluar dari kamarnya.

Sooyeon merentangkan kedua tangannya, sambil menguap—lagi—gadis itu berjalan menuju kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin. Saat gadis itu mendongak, dia terdiam. Menatap wajah seseorang yang terpantul dicerminnya. Wajah tanpa ekspresi dan semangat. Sooyeon memutar bola matanya sesaat, menghela napas dan segara keluar dari kamar mandi. Bersiap untuk kerja.

*

“Pagi, boss.” Sooyeon menundukkan kepalanya sedikit ketika berpapasan dengan seorang laki-laki berperawakan tinggi kurus—Ok Taecyeon.

Taecyeon hanya mengangguk kecil sembari memperhatikan wajah gadis dihadapannya saat ini. Semakin tirus jika diperhatikan. Lingkaran hitam di bawah matanya seakan tak bisa hilang lagi, padahal saat dulu pertama bertemu gadis itu masih mempunyai wajah semangat. Semangat hidup yang kini hilang entah kemana.

Sooyeon tak peduli dengan tatapan Taecyeon yang memang selalu seperti itu padanya. Tatapan menyelidik. Sudah hampir setahun dia bekerja di restoran ini, dan cara Taecyeon melihatnya tak pernah berubah.

Sooyeon berjalan pelan menuju meja kasir. Diam di sana beberapa saat, sebelum rekan kerjanya, Kim taeyeon, mendatanginya, menyodorkan daftar menu dan pergi meninggalkannya lagi. Sooyeon menatap dingin punggung Kim Taeyeon yang perlahan menjauh.

“Gadis aneh.”

Setidaknya hanya kata itu yang sempat Sooyeon dengar dari Kim Taeyeon. Sudah biasa, yakin, deh. Sooyeon sudah sering mendengar kata-kata itu, terlalu sering mungkin.

“Ah, Kim Taeyeon!” Sooyeon berteriak, tak tahu kenapa. Sebelum gadis dengan rambut pendek cokelatnya itu hilang dalam suatu ruangan, dia berbalik.

“Meja nomor 4.” Belum ditanya dia sudah menjawab. Dan seakan tak peduli dengan apa yang akan Sooyeon katakan, Kim Taeyeon kembali berjalan, kini benar-benar hilang dalam satu ruangan.

Sooyeon menghela nafas.

*

PRANG!

“Umma!” suara tangisan seorang anak kecil beradu dengan suara piring yang pecah. Sooyeon buru-buru berjongkok, memunguti pecahan piring tersebut. Sang ibu mulai mengomel dan si anak terus menangis, membuat suasana di resto itu menjadi ramai.

Tak pelak, suara-suara itu biasanya harus memaksa Ok Taecyeon turun tangan. Dan Sooyeon harus siap menghadapi hujan ceramah dari bossnya itu.

“Jung Sooyeon, bisa temui aku di ruanganku?”

Sooyeon mengangguk.

*

“Pulanglah,”

“Eh?”

Sooyeon yang sedari menunduk sejak memasuki ruang kerja Ok Taecyeon mendongakkan kepalanya, mimik wajahnya menunjukkan keterkejutan yang tak terlalu terlihat. Taecyon tersenyum kecil.

“Kau tidak kelihatan sehat hari ini, pulanglah.” Taecyeon berujar ramah. Sooyeon kembali menunduk.

‘Maaf.’

“Aku—“ Sooyeon mulai kehilangan kata-kata.

“—maaf.”

Taecyeon tersenyum tipis.

“Aku tak akan memaafkanmu bila kau tak pulang sekarang juga,” kata Taecyeon “bukan bermaksud mengusirmu, tapi keadaanmu benar-benar mengkhawatirkan, pergi temui doktermu.”

Sooyeon menarik sudut bibirnya sedikit, tersenyum, setidaknya itu yang dia lakukan. Taecyeon tahu maksud dari senyum kecil itu, dia mengangguk.

“Kau memang yang terbaik, Oppa!” si gadis terus menggenggam erat tangan laki-laki disebelahnya, mereka berjalan beriringan melewati pohon-pohon besar yang tumbuh rimbun di area itu.

“Aku sudah bilang pada temanku itu, jadi kau tak perlu khawatir.”

“Jingyoppa—“ si gadis menghentikan langkah saat laki-laki yang dia panggil ‘Jingyoppa’ itu bicara.

“..Aku benar-benar tak tahu apalagi yang bisa kukatakan padamu.” Matanya menyipit bersamaan dengan munculnya lengkungan senyum di bibirnya yang indah.

“Cukup bilang terimakasih saja, itu cukup.”

“Aku mencintaimu.”

“Aku juga.”

Sooyeon menyeret langkahnya menyusuri jalanan sepi. Angin mulai bertiup cukup kencang, membuat rambut pirangnya berkibar.

Kakinya terhenti, matanya memandang kosong ke depan, ke arah pertigaan yang kini membuatnya sedikit bingung. Rasanya ingin cepat pulang, karena memang tubuhnya sedikit tidak enak saat ini—ke kiri. Tapi rasanya dia ingin lewat jalan memutar—ke kanan. Tak tahu kenapa.

Sooyeon kembali melangkah, berbelok ke kanan, mengikuti sesuatu di dalam dirinya yang memaksanya untuk memilih jalan memutar.

Pohon-pohon rindang mulai menyambutnya, perasaannya sedikit aneh sekarang. Ada yang mengganjal entah apa, mungkin.. kenangan setahun lalu, atau entahlah.

Daun-daun berjatuhan, seakan menemani langkah Sooyeon yang lemah itu. Sooyeon menghirup nafas dalam, menghentikan langkah.

Tepat di mana dia kehilangan sesuatu. Sesuatu yang membuat semangat hidupnya timbul, sesuatu yang membuat semangat hidupnya runtuh seketika. Sesuatu…

Kaki Sooyeon kembali melangkah, menyebrangi jalan yang sepi. Tak sadar akan deru dari arah kanan yang terdengar makin dekat. Pikirannya melayang. Di tengah jalan, tiba-tiba langkahnya terhenti lagi.

“Sana, langit mendung, mau sampai kapan kita berdiri di sini?” si laki-laki mendorong pelan tubuh si gadis mendekati jalanan sepi. Si gadis cemberut.

“Mengusirku?”

“Kalau kau pikir begitu,”

Si gadis menyipitkan matanya kesal. Tapi kemudian tersenyum manis, “oke, oppa! Sampai jumpa! Aku mencintaimu!”

“Sudah!”

Si gadis terkekeh kecil sambil berjalan mundur menyebrangi jalan. Tak sadar akan datangnya sesuatu. Sesuatu itu semakin dekat.

Wuussshh

Sebelum si gadis sadar apa yang terjadi, tubuhnya sudah duluan terlempar ke samping. Si gadis sempat mengerling ke arah jalanan. Sempat melihat sebuah tubuh penuh darah tergeletak di sana.

“Op.. Oppa.”

Dan matanya menutup.

DIIIIN

Sooyeon tersadar, tepat saat itu, sebuah motor berhenti mendadak di depannya. Sooyeon melotot kaget, dan saat itulah keseimbangannya tumbang. Dia terjatuh, nafasnya terengah, pandangannya kabur.

Masih dalam keadaan sadar, dia dapat merasakan sebuah tangan menahan tubuhnya.

“Hei! Hei!”

*

Matanya terbuka, kepalanya terasa pusing dan tubuhnya pegal. Sooyeon mengerjapkan matanya sesaat. Berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih melayang kemana-mana. Ketika ia sadar, Sooyeon langsung waspada melihat dimana ia sekarang.

“Heh, kau,”

Sooyeon menoleh cepat, melihat seorang pria besar dengan rambut hitam yang cukup panjang, tatapan yang tajam, tubuh tegap, dan wajahnya yang jutek sedang memandangnya aneh.

“Membuatku repot saja, huh.”

Sooyeon menautkan alisnya.

“Kenapa kau tiba-tiba jatuh, hah? Di tengah jalan, lagi.” Pria itu mulai menggerutu. Sooyeon tak menjawab, otaknya masih berpikir, berusaha mengingat-ingat kejadian yang barusan dia alami.

“Ah, tapi bagaimanapun juga aku salah. Hihi. Maaf ya nona.” Laki-laki itu meringis. Sooyeon masih diam, sama sekali tak ada niat untuk membalas semua omongan laki-laki itu.

“Oh iya, ngomong-ngomong, siapa namamu, nona?” Laki-laki memandang Sooyeon dengan tatapn ramah. Sebuah tatapan yang lama tak dilihat Sooyeon.

“Namaku?”

“Ah! Jangan-jangan kau amnesia! Aduh.” Laki-laki itu langsung berjalan mondar-mandir di samping ranjang Sooyeon, membuat gadis itu mengerutkan kening bingung.

“Aku Sooyeon.”

Laki-laki itu langsung berhenti dan membuat cengiran lebar. Dia mengacak-acak rambutnya sambil tersenyum, “syukurlah, aku Seunghyun.” Laki-laki sekarang tersenyum manis. Sooyeon menyipitkan matanya.

Senyum itu…

Ceklek

Kedua orang yang di ruangan itu sontak menoleh ke arah pintu yang bersuara. Seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan itu dengan ekspresi cemas. “Sooyeon!” Laki-laki itu menghambur ke ranjang Sooyeon, menyentuh rambut pirangnya yang berantakan, menatap wajah Sooyeon dengan khawatir.

“Ada apa denganmu? Kenapa bisa di sini?”

“Bos, tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja.” Sooyeon menepis tangan Taecyeon yang hendak menyentuh keningnya. Taecyeon tak peduli, tangannya berpindah, menyentuh lengan Sooyeon dan wajahnya tampak lebih khawatir.

“Aku bilang aku baik-baik saja.” Sooyeon menatap Taecyeon sinis. Taecyeon menarik tangannya kikuk, kemudian mengalihkan pandangannya pada laki-laki yang sedang berdiri diam di sudut ruangan.

“Tak apa, aku tak akan mengganggu.” Seunghyun kembali menunjukkan cengiran polosnya. Taeyeon mendesis pelan, dia kembali menatap Sooyeon yang sekarang sedang mencoba untuk turun dari ranjangnya.

“Ikut denganku, kita pulang bersama.”

“Tidak.”

Taecyeon menarik tangan Sooyeon mendekat. Dia menatap gadis di depannya lekat-lekat.

“Aku bisa pulang sendiri. Aku tak butuh bantuanmu.” Sooyeon kembali menepis tangan Taecyeon, kasar. Gadis itu mulai berjalan terhuyung ke arah pintu. Seunghyun di sudut ruangan mengetuk-ngetukkan jarinya ke tembok, geregetan, ingin membantu tapi ada laki-laki lain di sini. Dia tak mau mengganggu acara pertengakaran dua pasangan kekasih—menurutnya.

Taecyeon masih diam pada posisinya, sementara Seunghyun segera berlari keluar mencari Sooyeon.

“Nona!”

Sooyeon menghentikan langkahnya dan berbalik. Berhadapan dengan Seunghyun. Menaikkan alisnya. Seunghyun tiba-tiba salah tingkah, lalu menggeleng kikuk, “tidak, hehe.” Laki-laki itu berlalu, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Sooyeon berbalik, berlari mengejar Seunghyun, menyamakan langkah dengannya.

“Kita keluar bersama.”

Seunghyun tersenyum.

*

“Kau yakin mau jalan sendiri?” Seunghyun mengencangkan helmnya, menatap Sooyeon dengan matanya yang besar. Sooyeon mengangguk.

“Yakin tidak mau ikut denganku? Hitung-hitung, permintaan maafku tadi.”

“Tidak perlu, aku duluan.” Sooyeon menundukkan kepalanya sesaat, sebelum kemudian berjalan pelan menjauhi Seunghyun.

“Eh, eh, serius, aku tidak bisa meninggalkanmu begitu saja, tahu!” Seunghyun menahan lengan Sooyeon, menunjukkan mimik wajah bersalah. Sooyeon menautkan alisnya, “kau terlalu baik, tuan. Aku bisa sendiri,” Sooyeon menunjukkan senyum tipisnya yang hampir tidak terlihat. Seunghyun dengan ragu melepaskan genggamannya dan mengangguk pelan.

“Hati-hati,”

“Aku akan ingat itu.”

Sooyeon membungkuk singkat, kemudian mulai berjalan pelan-pelan.

Seunghyun masih memandangi punggung gadis itu, terlintas sebuah ide. Seunghyun segera menaiki motornya kemudian melaju, melewati tubuh gadis pirang itu.

*

Langkah Sooyeon terhenti, pandangannya tertuju pada satu objek—seorang wanita. Sooyeon menyeret langkahnya mendekat. Matanya mengerling pada mobil sedan merah di pinggir jalan.

“Mau apa kau kesini?!” nada suaranya meninggi. Wanita itu menoleh, seketika senyumnya merekah—kecil dan sopan. Wanita itu membungkuk dan tersenyum dingin.

“Apa kabar?”

“Pergi.”

Kwon Yuri tercenung beberapa saat. Seulas senyum yang tadi bertengger di wajahnya kini hilang. Sooyeon tak peduli, dia berjalan mendekat, berhenti tepat di depan Kwon Yuri, kembali menatapnya tajam.

“Pergi sekarang, atau—“

“Jiyong tak akan suka jika kau terus begini.”

“Jangan sebut nama itu!” Bola mata Sooyeon membesar, nafasnya tak beraturan.

“Apa pedulimu. Dasar perempuan munafik! Pergi dari hadapanku sekarang juga!” Sooyeon berteriak di depan wajah Kwon Yuri. Gadis pirang itu menarik nafas dalam. Kwon Yuri mengangguk pelan, “aku tahu, baiklah, aku permisi.” Kwon Yuri meletakkan sebuah tas kecil di kaki Sooyeon, kemudian berjalan mundur, masuk ke mobilnya dan pergi.

Tes.

Air matanya jatuh, Sooyeon cepat-cepat membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalam.

Seunghyun memperhatikan semua percakapan Sooyeon dan Kwon Yuri, laki-laki itu termenung di atas motornya, “Kwon Jiyong.”

Bersambung—

Silahkan tinggalkan CL-nya yaaa.. I really appreciate ur coment ^_^ dan jangan salahkan saya kalau nanti ff ini mentok ditengah jalan. Kekeke :)