poster by : jiforG

Author : chanyb

Title : Pilih yang Mana??

Main Cast : Kwon Jiyong – Kim Jaejoong

Other Cast : Han Soo Hee

Akhirnya utang ff request lunas ¤.¤ Mian chingu kalo hasilnya gak sesuai harapan =.=v

Let’s Cekidot ^^

“Soo Hee-ya… Apakah kita akan selalu bersama selamanya seperti hari ini?? Apakah setahun 2 tahun ke depan tetap hanya ada aku seorang yang merajai hati dan pikiranmu??”
Sang pria menatap lembut kekasihnya,kemudian ia menengadahkan kepalanya menikmati langit bewarna kejinggaaan. Ia tersenyum puas seraya menggenggam erat tangan gadis bernama Soo Hee yang kini tengah bersandar pada bahunya.
Sepasang kekasih itu selalu menghabiskan waktu mereka dengan duduk bersebelahan di atas bukit dekat rumah sang gadis tiap sore menjelang. Seakan menjadi ritual wajib.

“Ji….”
Soo Hee membuka suaranya untuk menjawab pertanyaan tadi dan terhenti seketika saat sesuatu (?) yang lembut perlahan menyapu kilat bibirnya.

“Tak usah kau jawab…..”
Cegah sang pria masih dengan tatapan lembut.

Seandainya saja pertanyaan itu ia jawab mungkin sekarang Soo Hee tidak harus duduk sendiri di tempat,waktu,dan suasana yang sama seperti beberapa tahun lalu.
Setidaknya jawaban tersebut akan terpatri atau mengontrol reaksi kimia menyesakkan hati dan pikiran. Tapi sekarang jangankan terpatri apalagi mengontrol perasaannya,terlintas jawaban paling tepat saja sudah sangat klise.

Jiyong adalah kekasihmu,Jiyong adalah satu-satunya orang yang akan selalu diingat setiap tarikan nafas,Jiyong adalah,Jiyong adalah.
Hanya kalimat itu-itu saja ia ulang berkali-kali untuk dijadikan tameng pertahanan namun selalu saja terselip kata ‘tetapi’ sesudahnya. Ababil.

Ia duduk meringkuk sambil memeluk kaki dan menumpukan kepalanya ke atas lutut. Sedang merenungi keababilannya sendiri hingga tidak menyadari ada seorang pria tengah mendekat padanya.

“Soo Hee-ya?”
Panggil pria itu pelan seraya duduk di samping gadis galau binti ababil.

“Soo Hee-ya? Bebebb Soo Hee? Cintaku? Kasihku? Sayangku?”
Panggilnya lagi. Soo Hee tetap bergeming. Indera pendengarannya sedang mengalami ketulian sesaat.

Geram tak dianggap ada oleh gadis di sampingnya dengan sangat terpaksa ia melancarkan jurus pengembali kesadaran andalan. Pertama-tama ia mencium bau nafasnya,merasa sudah layak ia beralih menyingsingkan lengan baju dan PLEETAAAAAAAKK!! “Huuaaaaaaaa….”
Jurus beruntun andalan miliknya berhasil menyadarkan Soo Hee seketika.

“Aaaaawwww… Hooeeks… Berhentilah menjitak dan mengeluarkan hawa nagamu di hadapanku Kwon Jiyong!!”
Erangnya emosi sambil memukul pelan lengan pria yang ia panggil Kwon Jiyong.

“Salahmu sendiri… Kupanggil berulang kali tapi tetap saja kau melamun. Mengabaikan seorang pria tampan nan mempesona!!”
Sungut Jiyong manja lalu mengerucutkan bibirnya minta di kissue.

“Jiyongie… Kira-kira sudah berapa lama kita meninggalkan kebiasaan ini?”

“Heh?? Entahlah… Menurutmu?”
Jawaban dari Jiyong barusan sebenarnya sudah ia duga sebelumnya.

Ia menghembuskan nafas berat mengatur emosi.
“Lupakan!!”
Ujarnya lemah sembari menyibukkan diri dengan memain-mainkan cincin di jarinya sedetik kemudian ia merogoh saku celana jeansnya mengambil ponsel yang beberapa detik lalu bergetar.

Air muka gadis itu langsung berubah menjadi amat cerah melebihi cerahnya lampu petromax (?) saat membaca sebuah pesan.

“Nugu??”
Tanya Jiyong penasaran.

“Hmm… Bukan siapa-siapa!!”
ucapan bukan siapa-siapa disertai senyuman lebar Soo Hee malah membuat alisnya saling bertautan,dahi lebarnyapun ikut berkerut. Bisa diartikan sebuah ungkapan ketidak puasan.

Apakah Soo Hee memiliki pria lain? Pertanyaan itu sempat terlintas dalam benak Jiyong namun segera ia tepis dengan rasa kepercayaan. Memang hanya rasa kepercayaan saja yang bisa ia beri semenjak dirinya mulai disibukkan oleh profesinya sebagai arsitektur kenamaan di negeri ginseng yang menyebabkan ia hampir tak memiliki waktu untuk Soo Hee. Sementara dilain pihak,Soo Hee juga disibukkan dengan tugas akhirnya sebagai mahasiswi semester akhir ditambah lagi ia bekerja part time di salah satu restoran padang (?).

Untuk membiayai kuliah? Tidak. Orangtua Soo Hee masih tergolong mampu membiayai uang kuliahnya dan bukankah lebih baik ia berhenti agar bisa fokus mengerjakan tugas?
Seharusnya memang begitu tetapi ia sudah terlanjur betah bekerja di sana. Demi bekerja menjadi pelayan restoran Soo Hee rela membagi-bagi waktunya yang amat sempit.

Pagi kuliah,sore hingga tengah malam bekerja,tiba di rumah mengerjakan tugas dan hanya menyisakan waktu 2-3 jam untuk beristirahat. Jika diperbolehkan ia ingin membawa peralatan tidur ke restoran. Lebih gila lagi mungkin ia akan membangun gubuk cinta di dalam restoran tempatnya bekerja,saking betahnya.

Hal yang membuat Soo Hee betah,tak lain karena si pemilik restoran adalah seorang pria tampan naujubilah yang dulu pernah menjadi cinta monyetnya di bangku Sekolah Dasar. Jauh sebelum ia bertemu Jiyong.

“Jagie… Ayo kita pulang!! Biar aku antar dengan vespa kesayanganku!!”
Ajak Jiyong sambil memegang pergelangan tangan kekasihnya.

“Heh… Huh?? Ti… Tidak usah aku… Euhm., aku bisa pulang sendiri!!”
Tolak Soo Hee gelagapan.

“Wae??”

“Karena rumahku dekat… Lagipula nanti aku merepotkanmu!!”

“Repot?? Akh… Sudahlah aku tidak pernah merasa direpotkan!!”
Dengan pasrah Soo Hee Mengikuti ajakan Jiyong barusan.

KRETEEEK… KRETEEK… BRRRRMMMM….
Hanya suara mesin tua dari vespa milik Jiyong yang terdengar mengiringi perjalanan mereka. Jiyong fokus memperhatikan jalan di depannya sementara Soo Hee sibuk menenangkan pergejolakan batin.

“Bagaimana ini? Bagaimana kalau mereka berdua bertemu? Apa yang harus kukatakan? Bagaimana kalau dia minta putus? Huaaaaaa…. Andwaeeee!!”

Bertepatan dengan sampainya vespa yang ditumpangi Jiyong dan Soo Hee datang pula sebuah mobil odong-odong milik Jejung.
Saat ke-3 orang itu saling bertemu pandang hal pertama yang ingin dilakukan Soo Hee adalah berpura-pura pingsan agar ia tidak perlu menjawab pertanyaan ‘siapa’ dari kekasihnya.
Tapi,setelah dipikir ulang kepura-puraanya bisa saja memperparah keadaan jika Jejung yang menjawab pertanyaan,maka tamatlah riwayatnya.

“Nugu??”
Tanya Jiyong lebih kepada Soo Hee dengan raut yang tak bisa di jelaskan menggunakan kata-kata. Abstrak.

“Dia atasanku di restoran….”
Soo Hee menjawab sekenanya sambil memberikan kode pada Jejung melalui ekspresi wajah. Pria di hadapannya pun mengangguk mengerti.

“Oh… Ne,aku Jejung atasannya Soo Hee,senang bertemu dengan….”

“Jiyong!!”
Nada dingin tersirat saat ia menyebutkan namanya sendiri ia pun menepis uluran tangan Jejung kasar. Bagaimanapun juga ia tidak suka dan merasa risih bila ada pria lain yang datang ke rumah sang pujaan hati.

“Aku kekasihnya Soo Hee…!! Baiklah, jagie aku pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik!!”
Jiyong mengeluarkan tatapan sinis sejenak sebelum beranjak pergi.

Melihat tingkah kekanak-kanakan Jiyong,Jejung geleng-geleng disko dengan senyuman yang terkesan mencibir.

“Maafkan atas tingkah Jiyong barusan. Dia tidak bermaksud seperti itu!!”
Sesal Soo Hee sembari membungkukkan tubuhnya sekilas sebagai tanda maaf.

“Akan kupikirkan jika kau menjadi yeojachinguku!!”

Dag… Dig… Dug… Jdar!! Jantung Soo Hee mendadak menabuh genderang takbir lebaran,pupil matanya pun membesar 2 kali lipat (?) ketika ia mendengar bisikan cinta dari orang yang memang diharapkan sejak dulu.

“Tidak usah memandangku dengan tatapan seperti itu!! Aku hanya bercanda!!”
Jejung tersenyum nakal sedangkan Soo Hee bermuram durja.
Karena baru saja ia diterbangkan ke lapisan langit paling romantis menggunakan paus akrobatis namun dalam hitungan detik tabrakan pesawat Adam Air mengulak-alikkan dirinya hingga jatuh ke dasar laut atlantis. Patah hati.

XxxxX

Lembar demi lembar remukan kertas bertebaran di lantai ruang kerja Jiyong. Pikirannya terpecah menjadi 2 bagian. Hati dan pikirannya sedang tidak bisa berkompromi untuk fokus dalam 1 hal saja yaitu rancangannya.
Ia terus menggumam salah salah salah yang berujung dengan umpatan,hujatan dan terakhir menghempaskan diri ke sofa.

Jiyong menatap langit-langit kamar siapa tahu pikirannya bisa tenang seketika atau paling tidak dapat ilham. Merasa kelengkungan otak bertambah ia beralih mengambil ponselnya untuk menghubungi Soo Hee.
Cukup lama nada tunggu memekakkan telinga Jiyong sebelum akhirnya diangkat oleh si empunya.

“Jagie…”
Sapa Jiyong serak ingin dimanja.

“Mian Jiyongie… Aku sedang sibuk! Nanti kuhubungi lagi…”

Tut…Tut…Tut…

“Siaaalll!!”
Ia mengacak-acak rambut cepaknya frustasi.

Dengan dalih mencari makan ia menembus dinginnya malam menuju restoran padang tempat Soo Hee bekerja.
Rasa dingin makin terasa menusuk-nusuk tubuh tipis Jiyong yang tak memakai jaket,lebih tepatnya ia hanya memakai kaos tipis dipadu celana belel,ditambah sendal jepit ala kadarnya.

Meski Jiyong mengaku lagi kelaparan dan kedinginan ia lebih memilih duduk di atas motor sambil menggosok-gosok telapak tangannya berulang kali dan memeluk lengannya sendiri. Mengusir rasa dingin.

“Soo Hee-ya… Berapa lama lagi kau akan pulang??”
Gumamnya kecil dengan gigi gemelutukan.
Sayup-sayup ia mendengar suara seorang perempuan memanggil namanya, Jiyong langsung melempar pandangannya ke sumber suara lalu tersenyum singkat.

“Jiyongie… Apa yang kau lakukan di luar? Sudah berapa lama kau di sini? Kenapa tidak masuk? Terus kenapa kau tidak sms ataupun menelepon apa susahnya? Aish… Kau ini mau cari mati apa memakai pakaian setipis ini??”
Cerocos Soo Hee menghujani Jiyong dengan berbagai pertanyaan.

“……”

“Jiyongie… Gwenchana?”
Lagi-lagi Jiyong tersenyum singkat. Dalam penglihatannya Soo Hee memiliki banyak kembaran dan perlahan menjadi buram.

BRUUUKKK!!

XxxxX

Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden menyilaukan indera penglihatan Jiyong. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, merasa asing terhadap tempat ia berbaring sekarang,tidak seperti kamarnya.

Dengkuran kecil terdengar dari sampingnya. Jiyong menoleh dan menemukan Soo Hee tengah tertidur pulas dalam posisi duduk dengan kepala yang di rebahkan ke atas kasur.
Tanpa aba-aba dari otaknya Jiyong membelai rambut panjang Soo Hee.

“Jagie…..”
Panggilnya lembut yang dijawab erangan kecil. Gadis itu menggeliat lalu bangkit dari tidur.

“Jagie….”

“Hmm?!?”

“Aku lapar….”
Rengek Jiyong manja sambil mengelus perut datarnya. Cepat-cepat Soo Hee berlari menghambur ke dapur.

20 menit kemudian Soo Hee kembali dengan membawa semangkuk nasi,sup iga,kimchi lobak,serta segelas air panas yang ia letakkan di atas nampan.

“Jiyongie…. Kamu mau kemana??”
Soo Hee mengernyitkan alis saat melihat Jiyong sedang bersiap-siap.

“Mian Jagie,aku harus pergi sekarang!”
Jiyong menghampiri Soo Hee dengan wajah penuh sesal lalu mengecup dahi kekasihnya sebagai tanda maaf.

“Tapi kau belum… Akh sudah pergilah..!!”
Soo Hee mendecak kesal atas perlakuan Jiyong yang tak pernah memberikan kesempatan untuk memprotes tindakannya.

“Apa maunya si pria tipis itu? Bukankah tadi ia merengek kelaparan? Tapi sekarang,apa yang ia lakukan pada makanan ini jangankan disentuh dilirik saja tidak!!”
Umpatnya. Keemosiannya tersebut ia lampiaskan melalui nampan yang ia hempaskan ke lantai hingga menimbulkan suara ‘praang’ bertepatan dengan bunyi mesin tua vespa Jiyong.

“Soo Hee suara apa itu!!”

“Euhm… Bukan apa-apa eomma!!”

XxxxX

“Soo Hee-ya,pengunjungku akan kabur semua jika kau memasang wajah menyeramkan! Coba kau lihat sepi,kan??”
Jejung duduk di hadapan pegawainya yang sedang bertopang dagu,wajahnyapun berkerut-kerut.

“Biarkan saja… Aku tidak peduli!!”
Soo Hee menghela nafas panjang lalu menjatuhkan (?) kepalanya ke atas meja dan menggaruk-garuk meja frustasi.
Pria tampan sekaligus cantik merasa iba melihat tingkah pegawainya. Spontan ia membelai rambut panjang Soo Hee namun belaiannya tak bertahan lama dan berganti dengan sebuah jitakan keji.
PLETAAAAKK!!

“Kau sudah berani berkata tidak peduli pada pengunjungku? Apa kau mau gajimu kupangkas? Kalau tidak mau cepat kerja!!”

Enggan menanggapi ocehan serta jitakan dari sang atasan mau tak mau ia melaksanakan tugas seperti biasa. Ekspresi ceria dan ramah segera ia pajang di wajah cantiknya.
Bagaimanapun juga ia tidak mau mengalami pemangkasan gaji apalagi sampai dipecat. Kalau dipecat hilang sudah objek cucimata gratis.

Saat jam pulang tiba Soo Hee bergegas ke ruang ganti dan mengambil ponselnya. Ia membelalak kaget melihat puluhan pesan juga puluhan panggilan tak terjawab dari orang yang sama yaitu Jiyong. Rasa senang,riang gembira membuat Soo Hee berinisiatif menghubungi kekasihnya. Baru inisiatif saja belum sempat ia laksanakan karena kedatangan Jejung.

Pesan dan telepon Jiyong akan ia pikirkan setelah pulang ke rumah. Bisa dikesampingkan. Toh,kekasihnya sering mengenyampingkan hubungan mereka.

“Soo Hee-ya kau mau temani aku membeli hadiah untuk yeojachinguku,mau kan? Harus mau! Ini perintah!”
Ujar Jejung malu-malu dengan nada mengancam.
Kalau tahu begini lebih baik Soo Hee menelepon Jiyong daripada menerima fakta Jejung telah memiliki seorang pacar.

Ancaman Jejung barusan ingin ia jawab pergi saja sendirian,aku capek! Atau siapa pacarmu? Anak mana? Dan katakan pada pacarmu agar selalu mengawasimu dimanapun kau berada sebelum kuterkam!
Kalimat yang hanya sebatas angan-angan baginya.

“Oke…”

Singkat cerita mereka keluar masuk toko di mall. Soo Hee berjalan menghempas-hempaskan kakinya. Bosan bercampur kecemburuan membuat ia tidak ikhlas menemani Jejung.

Entah sampai kapan mereka akan keluar masuk toko tanpa hadiah ditangan. Boleh jadi sampai mall tutup mereka akan tetap berkeliling seperti orang gila.

“Oppa!! Berapa lama lagi kau akan mempelototi etalase perhiasan itu? Apa susahnya tinggal tunjuk 1,bukankah semuanya tampak bagus berkilauan?”
Gerutu Soo Hee akhirnya.

“Justru itu aku bingung harus pilih yang mana!”
Desah Jejung bimbang.

Dengan berat hati Soo Hee menunjuk salah 1 cincin termanis untuk dijadikan hadiah kepada seorang gadis apalagi kepada dirinya pasti lebih baik lagi.

“Baiklah aku beli yang itu 1!”
Seru Jejung semamgat.

“Kau tenang saja setelah ini ku traktir di tempat istimewa!!”
Sambungnya lagi sambil melempar senyuman penggetar hati lawan bicaranya.

XxxxX

“Jadi tempat ini yang oppa katakan tempat istimewa??”
Selidik Soo Hee menginterogasi ketika mereka telah duduk di salah satu warteg (?).

“Hehehe… Uangku habis karena membeli hadiah… Tapi,kau tenang saja makanan disini enak-enak dan terjamin halal toyiban!

DDDRRRTT… DDDRRRTT… DDDRRRTT…
Ponsel milik Soo Hee bergetar untuk kesekian kalinya. Malas-malasan ia mengangkat panggilan dari Jiyong.

“Yoboaseyo?”

“Jagie… Kau ingat sekarang tanggal dan tahun berapakan?”
Tanya orang diseberang.

“Ne… Aku tahu!!”

“Syukurlah….”
Hela Jiyong lega lalu menutup teleponnya.

Pesanan mereka sudah berada di atas meja. Jejungpun sudah lebih dulu menyantap makanannya rakus saat sambungan telepon terputus.

“Oppa hari ini masih tanggal 4 januari kan?”

“Ne… Wae??”

Gadis itu bingung atas pertanyaan Jiyong padanya ditelepon barusan. Padahal hari ini bukan hari jadi mereka. Lalu apa tujuan kekasihnya menanyakan tanggal dan tahun?

“Akh… Entahlah… ”
Soo Hee mengendikkan bahu.
Walaupun ia mengatakan tidak tahu,tetap saja ia memikirkan pertanyaan Jiyong.

Apakah ada yang terlewatkan olehnya? Soo Hee menghentikan sendokan makanan dan beralih ke ponsel.
Membaca 1 per 1 pesan. Isinya tetap sama yang tentu saja membuat ia bertambah bingung.
Ia benar-benar memutar otak untuk mengingat hari ini ada kejadian penting apa yang membuat kekasihnya terus menerus menanyakan hal sama.

Soo Hee-ya apakah kita akan selalu bersama selamanya seperti hari ini? Apakah setahun 2 tahun ke depan hanya ada aku seorang yang merajai hati dan pikiranmu??
————————————————————————————
Tak usah kau jawab…. Karena kupastikan 6 tahun dari sekarang di tanggal bulan dan tempat yang sama aku akan menunggumu disini untuk melamarmu…

Ucapan-ucapan Jiyong yang telah ia lupakan kembali terputar dengan teratur.

“Aish… Pabo!! Kenapa aku melupakan hal sepenting ini!!”
Soo Hee memukul-mukul kepalanya sendiri kemudian secara refleks menggebrak meja.
Jejung yang sedaritadi berbicara padanya namun ia abaikan tersentak dan melepaskan genggamannya.

Jejung mengira Soo Hee marah atas perlakuannya.
“Maaf.”
“Heh? Akh tidak bukan itu..!! Euhm… Mian oppa aku harus pergi sekarang juga!”
Pamit Soo Hee panik lalu beranjak pergi. Ia berlari tergopoh-gopoh dengan harapan ia belum terlalu terlambat menemui seorang Kwon Jiyong.

Jejung membuka kotak perhiasan berisi cincin. Ia tersenyum getir dan menatap sendu cincin tersebut. Cincin yang seharusnya bertengger manis di jari Soo Hee. Yah, pria itu berencana memberikannya pada Soo Hee saat ia menyatakan cinta namun diabaikan begitu saja oleh Soo Hee.

“Sepertinya aku belum beruntung.”

XxxxX

Di dalam taksi yang akan mengantarkannya ke bukit tempat ia dan Jiyong biasa menghabiskan waktu bersama. Bola mata Soo Hee terus menatap benda yang sama arloji dan memandang kaca jendela dengan gelisah.

“20 menit lagi…”

Perjalanan menggunakan taksi membuat jalan raya terasa semakin panjang seakan tidak akan pernah sampai tujuan.

“Ajusshie,sampai sini saja!”
Ia turun dari taksi yang berjalan lebih lambat dibanding siput menurutnya. Tergesa-gesa ia berlari kencang.

“15 menit lagi!”
Airmata Soo Hee mulai berjatuhan membasahi pipi putih kemerahannya akibat udara dingin di luar.

Ia menyeret paksa kakinya agar tetap berlari tanpa henti. Mengabaikan rasa letih yang menyerang ke tubuhnya. Pikiran gadis itu sangat kacau sampai-sampai ponselnya pun lupa dibawa. Tertinggal di warteg. Yang ia tahu harus segera menemui Jiyong.

“Sedikit lagi,kumohon tunggu aku!!”
Soo Hee menyeka airmatanya kasar. Menatap liar sekeliling bukit mencari sosok Jiyong.
Tidak ada Jiyong di sana. Tentu saja kekasihnya sudah pergi 10 menit lalu.

“Jiyongie… Mianhae… Mianhae…”
Isaknya tertahan.
Ia berjalan gontai menuju bibir bukit lalu duduk sambil memeluk kakinya. Tangisan Soo Hee kembali pecah. Tatapan matanya kosong sama seperti pikirannya. Ia terus menangis dalam diam.
Menangisi semua hal yang membuatnya tampak bodoh.

SREEEKK!!
Kaki Soo Hee menyentuh benda kecil di depannya yang membuat ia tertarik mengambil benda tersebut.
Mungkin sengaja ditinggal atau bahkan dibuang sang pemilik. Sebuah kotak perhiasan berisi cincin,lagi. Ia meremas benda itu penuh sesal.

“Kenapa aku begitu bodoh hingga melupakan janjimu 6 tahun lalu?? Aku bahkan berencana menduakanmu!! Mengabaikan pesan dan teleponmu! Menganggapmu telah mengenyampingkanmu!”

Sekarang ia menyerah tak berharap Jiyong akan menerimanya lagi sebagai seorang kekasih. Jiyong bisa memaafkannya saja mungkin sudah lebih dari cukup.

Soo Hee kembali menyeka airmatanya kasar. Mencoba menata hati dan pikiran. Ia berdiri lalu menepuk-nepuk celananya yang terkena serpihan tanah. Kokok (?) ayam jantan memaksanya meninggalkan bukit.

Tes… Tes… Tes…
Gerimis yang perlahan mejadi bongkahan-bongkahan hujan deras mengiringi kepulangan Soo Hee. Senada dengan hati gadis itu yang juga diguyur hujan deras. Ia tidak mempercepat langkah apalagi berteduh. Membiarkan hujan menimpa tubuhnya.

“Soo Hee-ya?? Kaukah itu??”
Ujar seseorang dari kejauhan. Sontak Soo Hee langsung menoleh ke asal suara dan secepat kilat menghampiri orang tersebut.

“Ternyata tidak sia-sia aku hmmmpphh….”
mulut orang tersebut dikunci rapat oleh Soo Hee menggunakan bibirnya.

“Tak usah kau lanjutkan Jiyongie…”
Pinta Soo Hee memelas lalu memeluk erat tubuh tipis Jiyong seakan tak ingin ia lepaskas.

“Mianhae Jiyongie,aku hampir melupakan janjimu,ani… Tetapi,benar-benar lupa!! Pokoknya mianhae atas semuanya!!”
Sambungnya lagi dengan nada memohon kemudian melepaskan pelukan.

“Tak apa-apa yang penting sekarang kau ada di hadapanku!”
Jiyong tersenyum simpul sambil mengacak pelan rambut basah Soo Hee.

“Jiyongie… Bolehkah aku jujur padamu??”
Ujar Soo Hee hampir tak terdengar. Suaranya kalah kencang dibandingkan suara rintikan hujan. Jadi terpaksa ia menarik Jiyong untuk mencari tempat berteduh agar mereka bisa berbicara lebih nyaman.

“Soo Hee-ya bukankah tadi kau berbicara sesuatu padaku??”
Jiyong menatap lekat gadis di depannya.

“Jiyongie… Bolehkah aku jujur padamu? Tapi,kau tidak akan marah,kan?”

“Tentu saja!!”

“Jiyongie sebenarnya aku pernah berniat selingkuh hehehe….”

“Mwo??”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
– Udahan Dulu Yaw –

Mian ceritanya lama b.g.t jadinya terus mian juga kalo gak sesuai harapan. Maklum tidak ahli dalam pembuatan ff romantis.