Jaloux

Author: Diyuntaechan

Cast : Shin Mi Chan – Kang Daesung

Other : Kim Jieun (OC)

Genre: Romance

Lenght: Drabble (788 Words)

a/n: untuk Tika unnie, saya pinjam fotonya wokeh ekekeke ._.v


Angin kencang mulai berhembus, langit juga telah berubah warna—jingga keabu-abuan—menaungi dua muda-mudi yang tengan berjalan santai. Bergandengan tangan menyusuri jalanan kota yang hari ini terlihat sepi.

Agaknya mereka tak mengindahkan gejala alam yang mulai tampak—angin kencang dan awan gelap. Mereka tak mempercepat langkah atau mencari tempat berteduh. Sepertinya mereka terlalu asik dengan dunianya sendiri. Dunia mereka berdua.

Tes.

Benar saja, setetes demi setetes air hujan mulai jatuh membasahi daratan yang dinaunginya. Kali ini peringatan sang langit berhasil menggerakkan dua pasang kaki itu. Berlari, ke sebuah etalase toko.

“Ah, aku lupa bawa payung! Bagaimana kita bisa pulang?” raut wajah si gadis tampak cemas, menatap serbuan benda bening bernama air itu. Si pria tersenyum kecil.

“Kalau kita tidak bisa pulang bagaimana?”

“Apa?”

“Hujan akan datang sampai kita mati, bagaimana?”

Shin Mi Chan menautkan alisnya bingung, tak mengerti dengan ucapan Kang Daesung yang tak ubahnya rumus-rumus fisika yang dipelajarinya selama ini, rumit.

“Kau ini bicara apa, sih?” bibirnya tampak maju beberapa senti, memberi petunjuk bahwa dia tak mengerti dengan segala ucapan Daesung. Daesung ikut memajukan bibirnya, kesal.

“Kau ini, sudahlah tidak jadi.” Daesung mengalihkan pandangannya, kali ini dia berharap hujan cepat berhenti. Mi Chan yang masih belum mengerti apa-apa langsung merajuk, gadis itu benar-benar penasaran.

“Ah, ganti topik saja. Besok kelas kita sepertinya kedatangan orang baru.”

Alis Mi Chan kembali menaut.

“Namanya Kim Jieun, wajahnya hampir mirip denganmu.” Daesung meneruskan kalimatnya tanpa memandang Mi Chan. Kali ini dahi gadis itu mengerut, menandakan ketidaksukaannya. Apa maksudnya Daesung menyamakan Kim Jieun dengan dirinya? Mau membuatnya cemburu? Ah, kalau sudah menyangkut perasaan, Mi Chan jadi sensitif.

“Maksudmu apa? Memangnya dia secantik apa? Huh?” kalimat ketus keluar dari bibir gadis berusia 16 tahun itu. Dan tanpa dikomandoi lagi, tawa Daesung menggelegar, bersautan dengan suara petir yang juga sesekali terdengar.

Daesung menatap Mi Chan penuh arti, kemudian mencolek dagu Mi Chan, “tentu tidak secantik kamu, honey.” Senyum terkembang dibibirnya, matanya yang sipit menjadi semakin sipit. Mi Chan mengerucutkan bibirnya, “yang benar?” matanya ikut menyipit. Daesung tersenyum manis.

“Benar.” Tangan Daesung merayap menyentuh tangan Mi Chan, menggenggamnya erat.

*

Annyeonghaseyo, Kim Jieun imnida, mohon bantuannya.” Gadis dengan rambut hitam panjang dan baju seragam yang berbeda dengan murid yang ada di kelas itu membungkuk sopan. Bibirnya tak pernah lelah menyunggingkan senyum pada siapapun yang ditemuinya. Sikapnya ramah dan parasnya cantik.

Di bangku paling belakang, Mi Chan sibuk mencorat-coret kertas kosong dengan bolpoin merahnya. Kesal sekali. Dari tadi dia mengawasi Daesung dari belakang, melihat reaksi laki-laki yang notabene adalah pacarnya itu. Berkali-kali gadis berwajah imut itu berbisik memanggil namanya, tapi—mungkin—karena jarak meja mereka cukup jauh; atau karena gadis itu? Daesung tak menoleh sedikitpun padanya.

Mi Chan menghela nafas berat, menatap lurus ke depan, ke arah gadis itu. Dia mendengus.

“Apanya yang cantik? Apanya yang mirip? Huh!” Mi Chan semakin menekan bolpoinnya. Dia kesal setengah mati.

Apa yang Daesung bicarakan kemarin sebuah ‘pertanda’, ya?

Mi Chan kembali melirik Daesung, laki-laki itu masih fokus memandangi Kim Jieun yang kini telah kembali duduk di kursinya. Mi Chan kembali menghela nafas berat.

*

“Ah, nona, kau tahu di mana perputakaan?” suara bernada tinggi dan terkesan sok imut itu membuyarkan lamunan Mi Chan. Gadis itu mendongak dan menyipitkan mata, butuh beberapa saat untuk mengetahui siapa yang berdiri di depannya sekarang ini.

“Tidak tahu, cari saja sendiri.” Dengan tanpa ekspresi dan nada datar.

Kim Jieun terpekur sesaat, tapi tak lama kemudian bibirnya kembali melengkung. “baiklah nona, terimakasih, maaf mengganggumu.” Senyumnya sedikit terlihat dipaksakan. Kemudian dengan beberapa langkah saja, Kim Jieun telah menghilang dari hadapan Mi Chan.

Mi Chan mendongak lagi, memanyunkan bibirnya.

*

“Serius kau tidak tertarik dengannya?”

Mi Chan menatap mata sipit laki-laki di depannya dengan ragu dan kesal.

“Iyup, memang kenapa Mi Chan-ah?”

“Aku tak yakin kau serius.”

“Maksudmu?”

“Kau suka padanya, ‘kan? Sampai tahu namanya, padahal dia belum masuk kelas kita. Pasti ada apa-apa!”

Daesung terkikik mendengar penuturan Mi Chan yang dirasanya tak masuk akal. Gosip anak baru itu sudah lama menyebar, jelas saja Daesung tahu. Tangannya bergerak liar mengacak rambut hitam Mi Chan.

“Jangan bercanda. Aku tidak mungkin suka pada gadis itu. Dia bukan tipeku.”

“Yang benar?”

“Iya, lagipula, gosip kedatangannya sudah lama terdengar, memang kau tidak tahu, ya?”

Mi Chan menggeleng, mendadak dia merasa cupu, ketinggalan berita. “Terlalu sibuk belajar, sih.” Kata Daesung sarkastik. Mi Chan mengangkat sebelah alisnya, “kau juga tidak beritahu aku, huh!” dengus Mi Chan kesal. Tawa Daesung kini meledak, menatap wajah polos Mi Chan.

“Kukira kau yang paling update.”

Mi Chan kembali mendengus, melipat kedua tangannya dan meletakkannya didada. Tapi Daesung menarik tangannya lagi, menggenggamnya.

“Sejuta Kim Jieun pun tak akan membuatku berpaling darimu, sayang.”

Mi Chan menoleh, matanya bertemu dengan Daesung. Dengan bibir dimajukan, Daesung mengedipkan sebelah matanya, memberi sinyal yang segara ditangkap oleh Mi Chan.

3..

2…

1….

-Fin-