Author : Atikpiece

Cast :   Im Yoona – Kwon Jiyong

Sub cast :       Kwon Yuri

Genre :            Romance, Humor *maybe* ^^v

Rating :          G

Length :        Oneshot

Poster Design by : Cappuchino In Your Life #promosi, hehe…

 

Annyeong, I’m back ^o^…

Ngomong2, ada yang kangen gak sama author yang super cantik dan baik hati ini ?

Readers said : Tidaak ! *TT_TT

Wwkwk… oke oke,kangen dan enggaknya itu nggk penting.tapi, yang lebih penting skarang, aku kembali dngn FF baru #pentingapanya -_-“

Dan FF ini saya buat special di hari Valentine ato hari Kasih Sayang kali ini.Maaf jika ada banyak kata yg salah ato gaje di ini FF,ya.

 

Tapi ingat ! bila ada yang ngerasa pusing2 atopun mual2 dan sebagainya saat membaca FF yg lumayan panjang *menurutku* ini, maka bersiaplah kalian para readers untuk menyiapkan plastik,panci,ember dll untuk menampung semua isi perut kalian (baca : muntah :|) hehehe… #justkidding ^^v

 

Yeah, tanpa banyak cingcong, slamat menikmati, cekiduut……

           

 

 

 

~Kwon Jiyong – Im Yoona : In Valentine’s Day 2 tahun yang lalu~

 

“Oppa.” Panggil seorang yeoja kepada seorang namja yang tengah duduk di sampingnya.Namja tersebut hanya tersenyum menanggapi sambil mengusap-usap kepala yeoja itu.Mereka baru saja menjadi sepasang kekasih setelah seorang namja bernama Kwon Jiyong tersebut menyatakan perasaan sukanya kepada Im Yoona kemarin.

Cuaca hari ini begitu bersahabat dan banyak sekali orang-orang yang berlalu lalang di hadapan mereka.Baik untuk melakukan olahraga pagi ataupun hanya berjalan-halan saja di sekitar taman tempat yeoja dan namja tersebut bernaung.Selain itu, banyak juga anak-anak yang bermain bersama sanak saudara maupun bersama teman-teman mereka.Di musim liburan seperti ini, taman di kota besar Seoul itu memang sepantasnya dikunjungi oleh banyak orang.

Im Yoona yang tengah duduk di samping kekasihnya itu terus memperhatikan raut wajah Kwon Jiyong disaat namja tersebut sedang tidak memperhatikan dirinya.Yeoja itu berharap semoga namja itu akan memberikan ia coklat di hari kasih sayang ini.Namun, sangat disayangkan.Namja tersebut hanya berkata.

“Mian, Yoona-ah.Hari ini tidak ada coklat untukmu.”

Ekspresi wajah yeoja itu yang berawal dari sumringah, tiba-tiba saja berubah menjadi kusut akibat dari perkataan seorang Kwon Jiyong.Apa ? Tidak ada coklat ? Wae ? Coklat adalah sesuatu yang manis dan juga sesuatu yang di senangi oleh para remaja wanita.Apalagi jika coklat tersebut mereka terima dari kekasih mereka sendiri.Termasuk Im Yoona.Tapi, kenapa kekasihnya itu tidak memberikan ia coklat ? Karena itu, dengan cepat yeoja tersebut langsung memukul bahu namja itu.Walaupun hanya pukulan pelan, tapi hal itu sukses membuat Kwon Jiyong meringis menahan sakit.

“Hanya satu saja.Masa’ kau tidak membelikannya untukku, oppa ?”

“…..”

“Kenapa kau diam saja,oppa ? Jawab aku.”

Namja itu hanya diam saja sambil tersenyum, menatap lurus kedepan, melihat ada seorang pedagang balon yang sedang melayani anak kecil yang tadinya merengek kepada ibundanya untuk dibelikan balon berbentuk boneka beruang itu.Im Yoona yang saat ini sedang bingung dengan cepat ia lekas menoleh, melihat pedagang balon tersebut.

“Kamsahamnida.” Ucap ibu itu setelah pedagang balon tersebut memberikan balon yang diminta oleh anak kecil tersebut.Hanya senyum yang dapat pedagang tersebut berikan kepada ibu itu untuk membalas perkataannya.

Setelah anak kecil bersama ibundanya itu telah berlalu di hadapan pedagang tersebut, Kwon Jiyong hanya tersenyum santai.Dan kali ini ia benar-benar menatap wajah Im Yoona yang menurutnya sangat manis itu sambil menatap kedua bola mata yeoja itu lekat-lekat.

“Kau mau aku belikan balon sebagai pengganti coklat ?” Tanya namja itu sambil mengusap bagian belakang kepala Im Yoona dan ia terus saja memperlihatkan senyumannya yang tampak menawan itu di hadapan kekasihnya.Memang sejak awal, namja itu sudah mengerti akan apa yang disukai oleh Im Yoona sejak kecil.Yaitu, balon.

“Benarkah ? Baiklah,baiklah.Kalau begitu, belikan balon itu untukku. ” Teriak Im Yoona girang bak anak kecil sambil memasang raut wajah agyeo di depan Kwon Jiyong.Namja itu hanya mengangguk kemudian berdiri dari bangku dan mendekati pedagang balon tersebut.Memang, hal tersebut terlihat cukup murahan.Tapi, entah mengapa bagi Im Yoona, balon adalah sesuatu yang dapat membuat ia bahagia.Walaupun hanya dilihat oleh kedua matanya, benda itu sudah membuat ia senang.

……………………………………………………………………………………………………………………………………….

Langit senja pun lambat-laut semakin terlihat dan ini sudah waktunya bagi sepasang kekasih tersebut untuk pulang kerumah mereka masing-masing.Im Yoona yang sedari tadi tampak tertawa kecil di samping Kwon Jiyong pun segera menoleh kearah kekasihnya itu.Kini yeoja tersebut tengah melangkahkan kaki bersama dengan Kwon Jiyong dan namja itu terus saja menggenggam tangan Im Yoona yang putih nan lembut.

“Gomawo, oppa.” Kata yeoja itu sambil menggenggam erat tali yang tengah menggantungkan balon tersebut hingga balon tersebut tampak tepat berada di atas kepala Im Yoona. “Walaupun ini hanya balon dan bukan coklat, tapi aku senang karena kau telah membelikannya untukku sebagai hadiah Valentine.Biarpun nantinya balon ini akan mengecil, atau meledak.”

“Ah, kau ini.Bukan masalah.Tapi, apa kau benar-benar tidak menginginkan coklat hari ini ? Apakah coklat benar-benar telah tergantikan oleh balon kesayanganmu itu ? ” tanya Kwon Jiyong yang lagi-lagi ia mengusap-usap kepala Im Yoona.

“Iya.. menurutku,balon itu jauh lebih penting.”

“Oh, benarkah ? berarti, aku yang menjadi kekasihmu ini kau anggap tidak penting ? Ah, aku benar-benar merasa cemburu pada balonmu itu.” Kata Kwon Jiyong sambil menautkan kedua alisnya dan memasang raut wajah cemberut di hadapan Im Yoona.Yeoja itu pastilah mengerti bahwa Kwon Jiyong hanya bercanda.Maka dari itu, ia hanya bisa tertawa pelan akibat kelakuan namja itu.

“Tidak oppa.Kaulah yang jauh lebih penting di hidupku.Dan balon ini ada di urutan kedua.” Kata Im Yoona sambil melepaskan tangannya yang tengah digenggam erat oleh Kwon Jiyong.Kemudian dengan tangan kanannya itu, ia pun menampakkan dua jarinya di hadapan Kwon Jiyong.Hal itu sontak membuat Kwon Jiyong memeluk Im Yoona dengan erat karena saking gemasnya melihat wajah Im Yoona yang manis dan juga lucu itu.Tapi, peristiwa tersebut tidak berlangsung lama karena selang berapa detik, ia pun segera melepaskan pelukannya.

“Aku pasti akan selalu merindukanmu.” Kata Kwon Jiyong tiba-tiba dan tentu saja perkataannya itu membuat Im Yoona menautkan kedua alisnya, bingung.

“Merindukanku ?”

“Iya, mulai besok, aku akan pergi ke Perancis.”

Mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh namja itu, dengan cepat Im Yoona memberhentikan langkahnya dan cepat-cepat menatap wajah Kwon Jiyong.

“Apa ? Perancis ? Untuk apa ? Kenapa oppa baru memberitahukan hal itu kepadaku sekarang ? Kau baru saja menjadi kekasihku,oppa.. kenapa kau harus meninggalkanku ?” Tanya Im Yoona bertubi-tubi yang tentu saja membuat Kwon Jiyong bingung harus menjawab pertanyaan yang mana dulu.Tapi, dengan perasaan santai, ia menatap wajah Im Yoona yang tengah cemberut itu.Sungguh, bagi Kwon Jiyong, jika Im Yoona sedang marah, wajahnya bertambah manis dan membuat namja tersebut menjadi tambah gemas terhadapnya.

“Aku harus meneruskan kuliahku disana.Mungkin 2 tahun lagi aku akan kembali.Jadi, kau tenang saja ya.” Jawab namja itu sambil tersenyum dan menggenggam tangan Im Yoona lagi.

“Ah.. itu lama sekali, oppa.”

“Walaupun lama, tapi aku akan berusaha untuk terus memberimu kabar tentangku selama aku masih berada disana lewat e-mail.”

Im Yoona hanya terdiam dan ia pun mendengus pelan.Melihat Im Yoona yang terus saja cemberut, Kwon Jiyong pun akhirnya mengambil tindakan untuk mencubit kedua pipi Im Yoona.

“Ish.. sakit,oppa.”

“Akan lebih sakit lagi jika kau tidak merelakanku pergi, Yoona-ah.”

“Iya, oppa, iya.” Jawab Im Yoona sedikit ketus sambil membuang muka.Kencan pertama yang berawal dari keceriaan, pada akhirnya pun berubah menyedihkan, dimana saat ini Im Yoona masih terdiam, pertanda ia masih kesal akan rencana dari namja itu untuk meninggalkan dirinya ke Perancis demi menempuh pendidikannya.Dan pada akhirnya, Kwon Jiyong pun berpikir, pasti didalam pikiran yeoja itu, ia sedang merencanakan sesuatu untuk mencegah dirinya untuk pergi ke Perancis.

“Sampai kapanpun aku akan tetap pergi ke Perancis, Yoona-ah.Dan aku harap jangan sampai kau coba-coba untuk menyusulku kesana ya.Ingat ! Kau masih anak SMA.Jadi, belajarlah yang rajin.Aku akan selalu merindukanmu.”

Setelah yeoja tersebut menoleh ke arah Kwon Jiyong, matanya pun mulai terbelalak, seakan-akan namja itu telah mengetahui apa yang baru saja ia pikirkan sebelumnya.Mencegah namja itu untuk pergi ke Perancis.Ya, hal itulah yang ia pikirkan barusan.Tapi, Im Yoona saat ini sudah tidak bisa apa-apa lagi karena namja itu tetap saja akan pergi meninggalkan dirinya.Yah, kali ini memang sudah saatnya yeoja itu tidak bersikap egois dan mementingkan dirinya sendiri.Dia harus bersikap rela untuk melepaskan Kwon Jiyong selama 2 tahun.

Pada akhirnya, yeoja itu pun mengangguk pelan, pertanda bahwa ia merelakan kepergian namja itu.Walaupun agak sedikit terpaksa, Kwon Jiyong pun bisa mengerti bagaimana perasaan Im Yoona sekarang.Rasanya memang berat untuk melepaskan orang yang benar-benar ia cintai.

Namun, selang berapa menit mereka tenggelam di dalam keheningan, secara cepat Kwon Jiyong pun langsung memeluk yeoja yang paling ia cintai itu dengan erat.Tidak peduli jika Im Yoona saat ini sedikit merasa sesak napas.Di tambah lagi, balon yang terus di genggam oleh tangan kiri yeoja itu hampir saja terlepas dari jari-jemarinya.Tapi, lambat laun Im Yoona juga tidak dapat menahan perasaannya hingga kedua tangannya pun melingkar di leher Kwon Jiyong dan ia pun semakin mempererat pelukannya.

“Janji ya.Apapun yang terjadi di sana nanti, oppa harus memberitahukannya kepadaku.”

“Iya, yeoja-ku yang paling manis.”

…………………………………………………………………………………………………………………………………….

~2 tahun kemudian~

 

Besok adalah hari yang begitu menegangkan bagi siswa siswi SMA.Karena besok adalah hari penentuan kelulusan, dimana mereka harus menempuh waktu untuk melaksanakan ujian akhir.Tapi, tidak dengan Im Yoona.Kali ini ia benar-benar tidak merasa tegang, melainkan ia merasa…… malas untuk belajar.

Pada saat jam pelajaran berlangsung, tidak ada satupun pelajaran dari bapak ibu guru yang dapat dicerna di dalam otaknya.Itu pun di sebabkan karena ia tidak ada niat untuk belajar.Bahkan, dia sering tertidur di waktu pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial atau mengenai Sejarah.Namun, yang menjadi masalah, di dalam otaknya itu pun terus terbayang akan bayangan seorang namja bernama Kwon Jiyong yang saat ini sedang menempuh pendidikannya di negara Perancis.Im Yoona merasa sangat merindukan namja itu sampai-sampai ia meletakkan kepalanya di atas meja sambil menulis hal-hal yang tidak begitu penting baginya di dalam buku catatan.

TENG ! TENG !

Yap, akhirnya jam pelajaran Sejarah telah usai dan para siswa yang berada di dalam ruang kelas tersebut pun langsung berhamburan keluar untuk menghirup udara segar.Bahkan, ada salah satu siswa yang langsung pergi ke toilet untuk mencuci muka karena selama pelajaran berlangsung, ia terus menerima “hujan lokal” dari guru Sejarah itu.

Tapi, tidak bagi Im Yoona.Yeoja itu masih di dalam kelas dan ia juga masih menuliskan beberapa buah nama kekasihnya di dalam buku catatannya.

Kwon Jiyong, Kwon Jiyong, Kwon Jiyong.Entah sudah berapa banyak yeoja itu menulis nama Kwon Jiyong ke dalam bukunya.Sampai satu lembar kertas pun isinya telah penuh dengan nama namja miliknya itu.Dan…

BRAK !

Im Yoona sedikit terkejut atas gebrakan meja yang telah dilakukan oleh seorang sahabat lamanya bernama Kwon Yuri.Sahabatnya tersebut telah menggebrak mejanya sendiri yang bersebelahan dengan meja Im Yoona.Namun, Im Yoona sama sekali tidak peduli.Karena rasa penasaran akan apa yang tengah Im Yoona lakukan saat ini, dengan langkah jinjit Kwon Yuri mendekati bangku Im Yoona dan ia pun sedikit melirik ke arah buku catatan milik yeoja itu yang ternyata sudah penuh dengan tulisan nama “Kwon Jiyong”.Astaga, hebat sekali yeoja itu, bisa menulis hingga mencapai kira-kira 50 nama “Kwon Jiyong” dalam satu lembar.

Melihat kelakuan Im Yoona yang seperti ini, Kwon Yuri pun hanya bisa menghembuskan napas panjang sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Sudahlah, Im Yoona.Berhentilah untuk menulis nama itu.Kau tahu, nama kekasihmu itu tidak akan keluar ke dalam ujian.”

Dengan rasa malas, Im Yoona pun menoleh kearah sahabatnya itu.Tapi, ia hanya mendengus kesal.

“Tidak perlu kau beri tahu pun aku juga sudah tahu.” Jawabnya dengan nada sedikit meninggi.

“Hei, sepertinya hari ini kau sangat merindukannya.”

“Yah, sudah 2 tahun ia meninggalkanku.Tapi, entah kenapa dia belum juga kembali ke Korea.”

Kwon Yuri pun hanya mengangguk-angguk mengerti. “Tapi, bukankah dia telah berjanji akan terus memberimu kabar tentang keadaannya ?”

“Hmm, memang dia sering memberiku kabar lewat e-mail.Tapi tidak tahu kenapa seminggu yang lalu ia berhenti memberiku kabar.” Jelas Im Yoona setelah ia membenarkan posisi ia duduk, sesekali ia memutar-mutar bolpoin yang tengah ia genggam. “Kabar terakhir dari dia hanya sebuah fotonya yang tengah berada di depan menara Eiffel.Dan di bawah foto itu ia menulis ‘Yoona-ah,aku sekarang sedang berada di Paris.Dan kau tahu, hari ini Perancis terlihat sangat indah.Aku merasa sangat beruntung bisa pergi kesini.Aku harap suatu hari nanti, aku bisa mengajakmu kemari untuk berlibur bersama keluarga dan sanak saudara kita.Dan…. oh iya.Jujur, betapa aku sangaaat merindukanmu.Ingin rasanya aku kembali ke Korea untuk menemuimu.Tapi, kau tenang saja karena sebentar lagi aku akan segera pulang.Tunggu aku ya.Bye-bye…’ … hanya itu.”

“Mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaannya.Tunggu saja, dia pasti akan segera kembali.” Kata Yuri sambil mengusap-usap bahu Im Yoona, mencoba membuat Yoona tegar dan sabar menunggu kedatangan namja itu.Yeoja itu hanya mengangguk pelan, mengerti akan maksud dari perkataan Kwon Yuri.

…………………………………………………………………………………………………………………………………………

Hari ini sudah menjelang malam dan Im Yoona belum juga pulang ke rumahnya.Dia masih sibuk belajar bersama di rumah Kwon Yuri.Dia juga sudah minta izin kepada orang tuanya untuk menginap di rumah Kwon Yuri.Dan sekarang, ia juga telah mengganti baju seragamnya dengan baju yang sengaja dipinjamkan oleh Kwon Yuri untuknya.Walaupun sebenarnya dari dalam lubuk hati yeoja itu dia masih sangat malas untuk belajar, tapi ia tetap memaksakan diri karena besok adalah hari dimana ia harus berperang dengan soal-soal yang begitu menyebalkan di matanya.

Namun, demi Kwon Jiyong, ia harus benar-benar berusaha untuk menciptakan nilai yang bagus dan dia yakin ia bisa melakukannya.Dia juga bertekad untuk membuat orang tuanya dan juga Kwon Jiyong bangga terhadapnya.Siapa tahu juga, pada saat hari kelulusannya nanti, Kwon Jiyong akan datang ke sekolahnya dan memberikan ucapan selamat atas kelulusan yeoja itu sambil memeluknya dengan erat.Uh… membayangkannya saja sudah membuat ia terbuai.Kemudian…

PLAK !

“Hei, jangan melamun terus, ayo belajar ! ” teriak Kwon Yuri setelah ia memukul kepala Im Yoona dengan sebuah buku miliknya.Hal itu sontak membuat lamunan Im Yoona menjadi buyar hingga membuat wajah yeoja tersebut menjadi cemberut.Uh.. Yuri-ah.Kau benar-benar mengganggu imajinasiku.Kata Im Yoona dalam hati sambil mendengus kesal.Tapi, lambat laun, ia pun kembali belajar dan menghafal beberapa materi yang merupakan bahan ujian besok.

1 jam kemudian…..

2 jam kemudian….

3 jam kemudian….

”Ngrook..”

Kwon Yuri terkejut atas suara dengkuran yang tiba-tiba saja terdengar di telinganya.Kemudian, dengan segera ia menutup bukunya dan melirik ke seorang yeoja yang sedari tadi sudah meletakkan kepalanya di atas meja.Dengan hati-hati, Kwon Yuri mendekati Im Yoona dan ternyata yeoja tersebut sudah asyik bermain kealam bawah sadarnya.

”Ah… Im Yoona ! Ini bukan saatnya untuk tidur, kau harus belajar ! Bukankah kau sudah berjanji akan membuat Kwon Jiyong-mu itu bangga kepadamu ??” teriak Kwon Yuri lagi sambil mengguncang-guncangkan tubuh yeoja yang mungil itu.Tapi, Im Yoona tetap saja tertidur.Bahkan, sampai Kwon Yuri memukul kepalanya beberapa kali pun ia masih saja tidak mau bangun.Walaupun ia sedikit bersuara akibat pukulan ’beruntun’ dari Kwon Yuri, tapi setelah itu, ia tidur lagi.

”Jiyong-oppa… ” Oh, yeoja bernama Im Yoona itu tengah mengigau.Mungkin, dia sedang bermimpi bertemu dengan Kwon Jiyong di alam bawah sadarnya.Kwon Yuri pun secara tidak sengaja mendengar igauan dari yeoja itu.

”……. Belikan aku balon… yang banyak ya…”

GUBRAK ! igauan dari Im Yoona ternyata sukses membuat Kwon Yuri melongo.

”Yak ! Ternyata sampai sekarang pun kau masih menyukai benda yang kekanak-kanakan itu,hah ?? Huuh…. dasar yeoja ini !” pekik sahabat lama Im Yoona itu sambil memukul kepala yeoja itu lagi dengan keras.Namun, setelah Kwon Yuri melayangkan pukulannya di kepala Im Yoona, tiba-tiba saja tubuh Im Yoona pun bergerak.

Yeoja itu kemudian memposisikan dirinya untuk duduk tegak sambil mengacungkan bolpoin yang tengah ia genggam itu ke depan.Tetapi, kali ini kepalanya menunduk dan matanya pun masih terpejam, membuat ia tampak seperti orang teler yang sudah meminum beberapa botol alkohol.Tidak diragukan lagi jika hal tersebut benar-benar membuat Kwon Yuri merasa terkejut.

”Kalau kau………. kalau kau tidak mau membelikannya……….. aku akan……. aku akan membunuhmu…….. Kwon Jiyong-oppa…………. lihat saja nanti………” Igau Im Yoona lagi.Kemudian, secara tiba-tiba ia kembali ke posisi ia tidur disertai bunyi ”BRUK !” yang sedikit keras.Melihat keadaan Im Yoona saat ini tentu saja membuat Kwon Yuri menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendengus kesal.

”Oppa, kenapa kau tidak… kau tidak pulang juga… ? kau tahu,aku sangat merindukanmu….”

”Haah…. yeoja ini benar-benar sudah gila.” gumam Kwon Yuri sambil berkacak pinggang.

”Apa ?? Oppa, kau menyebutku gila ?? Aaaaa….. dasar kau anak kurang ajar…. Sudah 2 tahun kau ….. tidak pulang-pulang dan tiba-tiba saja …… kau mengatakan bahwa…….. aku gila, hah ?? kesini ! aku hajar kau sampai habis ….. dan…. dan aku akan buang jasadmu nanti ke sungai Han, camkan itu… !“ Teriak Im Yoona tiba-tiba yang sedari tadi masih saja mengigau.

Namun, di sela-sela igauannya kali ini, Kwon Yuri lah yang telah menjadi korban kekerasan bagi Im Yoona.Yeoja tersebut dengan sigap menjambak rambut panjang tergerai milik Kwon Yuri dengan posisi tubuh seperti sebelumnya layaknya orang teler.Walaupun dalam keadaan yang tidak sadarkan diri, namun kedua tangan yeoja itu pun dapat dengan kuat mencengkram dan menarik rambut Kwon Yuri.

“Kyaaaa ! … Yak ! hentikan ! lepaskan rambutku !! Kau mau aku menjadi botak akibat ulahmu, hah ?? Jangan gunakan aku sebagai tempat pelampiasan amarahmu pada Kwon Jiyong !! Hei ! kau benar-benar sudah gila !! “

“Oppa ! .. Kau menyebutku gila lagi ?? Huuh…. dasar sial ! awas kau.. ya !!“

“Aaaaaa !!“

Teriakan demi teriakan pun terus menerus berdendang hingga mengganggu tetangga sebelah karena dia tidak bisa tidur nyenyak akibat ulah kedua yeoja tersebut.

“Hei ! Diam kalian ! dasar anak-anak tidak tahu aturan ! Mengganggu orang tidur saja !“

……………………………

Pagi hari pun akhirnya datang juga.Seorang yeoja bernama Im Yoona itu tengah menggeliat, mencoba bangun dari tempat ia tidur.Dengan perlahan ia mengangkat kepalanya dari atas meja dan menguap sambil merentangkan kedua tangannya ke samping.Dengan tatapan sayu ia tengah menggaruk-garuk kepalanya yang terasa gatal.

Kemudian, setelah ia melirik kesana kemari, dilihatnya seorang yeoja yang sudah rapi mengenakan seragam sekolahnya sambil menggendong tas punggungnya.

“Yuri-ah, jam berapa sekarang ?“

Yeoja yang dipanggil Yuri itu langsung menoleh kearah suara, menatap seorang Im Yoona dengan tatapan sedikit menakutkan.Ya, tentu saja.Karena Kwon Yuri masih menyimpan rasa dendam kepada Im Yoona karena kemarin malam secara kasar plus tidak sadarkan diri yeoja tersebut telah menjambak rambutnya sampai banyak yang rontok.

“Jam 6.” Jawab Kwon Yuri ketus.

Mendengar jawaban dari Kwon Yuri, mata Im Yoona langsung terbelalak, kaget.

“Hei,itu berarti ……. ujian akan dimulai 30 menit lagi ? aaakh.. Yuri-ah, kenapa kau tidak membangunkanku ? Nanti kita bisa terlambat ! Dasar Yuri bodoh !”

“Kau yang bodoh ! Aku sudah beberapa kali membangunkanmu, tapi kau sama sekali tidak mau bangun !”

“Aish…. Lupakan ! ” Teriak Im Yoona setelah ia berdiri, mengambil seragamnya yang berada di atas sofa dan ia pun segera melesat pergi menuju ke kamar mandi.

……………………..

Kedua yeoja itu pun tengah berlari dengan tergesa-gesa menuju ke arah sekolah mereka.Dilihatnya gerbang sekolah yang akan segera ditutup oleh penjaga sekolah.Karena itulah, kedua yeoja itu pun semakin mempercepat langkahnya.Tapi, semuanya sudah terlambat.Sesampainya mereka di depan, gerbang sekolah itu sudah tertutup rapat.Ternyata sia-sia saja usaha kedua yeoja itu yang sudah berlari sekuat tenaga untuk sampai ke sekolah mereka.

“Pak penjaga, bisakah kau buka gerbangnya ? Kami ingin masuk !” Teriak Kwon Yuri sambil menggenggam erat jeruji besi yang merupakan bahan dasar pembuatan pintu gerbang itu.Sesekali ia mengatur napasnya yang terengah-engah.

Kemudian, selang berapa menit, penjaga sekolah itu akhirnya keluar juga dari tempat ia berjaga sambil berkacak pinggang.

“Tidak bisa ! Apakah kalian tidak ingat akan peraturan di sekolah ini ? Bagi siswa yang datang terlambat, dilarang untuk masuk !” kata penjaga tersebut dengan tegas.

“Tapi, kami ingin ikut ujian, pak.Apa bapak ingin jika kami berdua ini tidak lulus ujian ?” tanya Im Yoona yang napasnya juga terengah-engah kepada penjaga sekolah tersebut.Lalu, tanpa pikir panjang, Im Yoona langsung mendekati gerbang dan memasang raut wajah memelas.

”Ku mohon, biarkan kami masuk.” kata Im Yoona yang terus memperlihatkan raut wajah memelas dan ia sedikit menampakkan raut wajah agyeo-nya, berharap penjaga sekolah tersebut akan luluh dan dengan senang hati membukakan pintu gerbang itu untuk mereka.

Dan.. benar saja.Penjaga sekolah tersebut benar-benar luluh akibat ulah dari yeoja itu.Kemudian, dengan segera ia membukakan pintu gerbang tersebut, mempersilahkan kedua yeoja itu masuk.

”Tidak aku sangka, kau hebat juga.”

Im Yoona hanya bisa tersenyum mendengar apa yang baru saja di katakan sahabat lamanya itu.

”Tapi ingat ! Selama ujian berlangsung, jangan sampai kau menoleh kesana kemari untuk mee…”

”Iya-iya aku tahu.” Serobot Im Yoona sebelum Kwon Yuri menyelesaikan kata-katanya.Kemudian, yeoja tersebut langsung meninggalkan sahabat lamanya yang masih melongo di tempat.

……………………………………….

~Hari Kelulusan~

 

”Appa… Eomma ! Lihat ! Aku lulus ujian dengan nilai tertinggi !”

”Wah, benarkah ?” tanya Appa dari Im Yoona sambil memeluk putri semata wayangnya itu dengan erat pertanda ia merasa sangat bahagia.

”Benar, kau memang hebat, nak.” Kata Eomma dari Im Yoona itu setelah ia melihat nilai hasil ujian yang telah tertulis di selembar kertas, pertanda bahwa yeoja tersebut telah sukses memerangi soal-soal ujian yang begitu menyebalkan itu.Di tambah lagi, itu adalah hasil dari usahanya sendiri, tidak menoleh kesana kemari mencari kunci jawaban.

“Tidak sia-sia kau belajar bersama di rumah Kwon Yuri sampai larut malam, Yoona-ah.“

“Benar, Eomma.Aku sangat puas dengan hasil ujianku itu.Dan aku sama sekali tidak mencari kunci jawaban.Bukankah itu hebat ?“

Appa dan Eomma hanya bisa tersenyum bangga di hadapan Im Yoona.Tapi, di sisi lain, rasanya ada sesuatu yang tengah mengganjal di dalam benak Im Yoona saat ini.Sesuatu yang penting…….Tapi apa ?

Kemudian, dia pun segera berlari ke kamarnya dan dengan hati-hati ia merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk.Dan tentu saja ia masih terus mengingat-ingat akan ’sesuatu’ itu.Uh… kenapa aku sama sekali tidak ingat ? Rutuk Im Yoona dalam hati.

Namun, setelah kedua bola matanya itu telah melirik ke sebuah balon yang sudah mengecil, yang tergantung di gagang pintu lemari bajunya, raut wajah yeoja tersebut langsung berubah sumringah.Ah ! Akhirnya yeoja tersebut sudah mulai ingat akan sesuatu itu.Tatapannya terus terarah ke balon pemberian seorang namja yang benar-benar ia cintai itu, mengingat akan bayang-bayang kekasihnya yang sudah lama tidak ia temui itu.Kwon Jiyong !

Tanpa yeoja itu sadari, tiba-tiba saja ponselnya berdering, pertanda ada sebuah panggilan masuk.Sambil tersenyum ia mengambil ponselnya yang berada tepat di sampingnya sambil menduga-duga bahwa pasti yang menelepon adalah Kwon Jiyong.Kemudian, tanpa ba bi bu, ia segera melihat layar di ponselnya.Ternyata memang benar dugaannya.Yang menelepon benar-benar Kwon Jiyong.

”Yeoboseo.”

”Sekarang juga lihatlah keluar.”

KLIK !

Tiba-tiba saja jaringannya diputus.Yeoja itu hanya terdiam sembari menautkan alisnya, pertanda ia merasa bingung sambil menatap ponselnya lekat-lekat.Tapi, Kwon Jiyong bilang kalau ia menyuruh yeoja tersebut untuk melihat keluar.Apa memang namja itu benar-benar berada di luar ?

Karena rasa penasaran, Im Yoona pun segera mendekat ke jendela, membuka tirai yang tengah menutupi jendelanya hingga terlihatlah seorang namja yang sedang berdiri, menatap yeoja itu sambil mendongak dan tersenyum.

Sejenak yeoja tersebut tersenyum girang, melihat namja yang merupakan kekasihnya itu ternyata sudah kembali dari Perancis.Betapa senangnya yeoja itu.Ditambah lagi, namja tersebut membawa beberapa tangkai bunga mawar merah serta 2 buah balon yang berwarna merah muda itu untuk dirinya.

…………………………….

”Gomawo untuk bunga dan balonnya, oppa.” kata Yoona sambil tersenyum setelah ia menerima ’hadiah’ itu dari Kwon Jiyong, namja yang telah menjadi pendamping hidupnya selama 2 tahun lebih itu.Karena saking bahagianya, Dengan gerakan cepat Im Yoona segera memeluk Kwon Jiyong untuk melepas semua rasa kerinduannya kepada namja-nya itu karena memang sudah lama mereka tidak bertemu satu sama lain.

Dan sekarang, entah mengapa postur tubuh milik Kwon Jiyong itu sudah mulai meninggi dan bentuk badannya pun juga tidak sekurus 2 tahun yang lalu.Melainkan, kali ini kelihatan sedikit kekar. ^^

Sambil memeluk Im Yoona, Kwon Jiyong hanya mengangguk dengan sedikit menyunggingkan senyum di wajahnya dan tidak lupa ia juga mengacak-acak rambut yeoja itu dengan leluasa karena tingkah laku yeoja itu memang sungguh menggemaskan.

”Oh iya, aku dengar dari Kwon Yuri.Katanya, kau lulus ujian dengan nilai tertinggi, ya.” kata Kwon Jiyong setelah ia Im Yoona melepas pelukannya.

”Ya… sejak kapan anak itu memberitahumu ?”

”Baru saja ia meneleponku.”

Tidak menunggu waktu lama, namja tersebut langsung memeluk yeoja itu lagi.Tapi kali ini ia semakin mempererat pelukannya.

”Selamat atas kelulusanmu, yeoja-ku.”

”Ya.Gomawo, oppa.Emm… oh iya.Kenapa sekitar seminggu yang lalu kau tidak memberiku kabar,oppa ? Kau tahu betapa khawatirnya diriku waktu itu.” tanya yeoja itu, masih di dalam pelukan sang namja.

”Mian ya.Memang waktu itu aku sedang sibuk.Jadi, aku tidak sempat memberimu kabar.Tapi, sekarang kau tidak perlu khawatir lagi karena aku sudah berada di sini, menemuimu.” jawab Kwon Jiyong sambil mengusap pelan bagian belakang kepala Im Yoona.

Setelah mereka berdua terlalu lama untuk saling berpelukan, dengan perlahan, namja tersebut melepas pelukannya dan membiarkan yeoja itu bernapas lega karena pelukan dari namja itu benar-benar membuat ia sesak napas.

Sambil menatap kedua bola mata Im Yoona lekat-lekat, Kwon Jiyong pun sedikit mendekatkan wajahnya ke wajah yeoja itu, berharap yeoja itu mengerti akan maksud dari kelakuan Kwon Jiyong saat ini yang ingin melakukan ’tabrakan beruntun’ dengan dirinya.

Im Yoona yang masih menggenggam beberapa tangkai bunga mawar merah dan 2 buah balon itu, dengan menampakkan senyum termanisnya ia menarik kepala Kwon Jiyong agar wajah namja itu tertarik hingga berjarak beberapa senti saja dari wajahnya.Kemudian, yeoja tersebut mengedipkan kedua matanya, pertanda ia sudah siap untuk melakukan ’tabrakan beruntun’ itu.

Tapi, di saat kedua buah bibir mereka hampir bersentuhan, tiba-tiba saja yeoja tersebut menjauhkan wajahnya dari Kwon Jiyong.Kemudian,ia segera menoleh ke jalanan karena ia merasa ada seseorang yang tengah lewat di depan rumahnya.Dan, benar saja.Tatapan matanya pun tertuju kearah seorang pedagang balon yang sedang melewati jalan depan rumah yeoja itu.

”Oppa…. ” kata Im Yoona setelah pedagang balon tersebut benar-benar telah berlalu.

”Nae ?”

Yeoja tersebut kemudian memasang raut wajah memelas dihadapan Kwon Jiyong.Tidak lupa ia juga sedikit memperlihatkan wajah agyeo-nya.

”Aku tahu ini memang konyol. Tapi…… aku mohon, tolong kejar pedagang balon itu dan beli semua balon-balon itu untukku, ya ya ? Boleh kan ? Aku mohon, oppa….. ”

Tanpa disadari, kedua mata namja itu melotot, seakan hampir keluar dari tempatnya karena saking terkejutnya ia mendengar permintaan bodoh dari Im Yoona.

”M.. Mwo ??”

^^-THE END-^^