Author : chanyb

Title : Who Is

Main Cast(s) : Choi Seunghyun – Dong Young Bae

Other Cast(s) : Park Hye Rin – Lee Hyo Ri

Genre : romance, gaje, school life

Length : Ficlet

Warning : OOC, Gaje, Penuh kenistaan, Typo beranak pinak (maybe), dan FF ini dibuat hanya untuk hiburan semata tidak bermaksud menjatuhkan tokoh-tokoh di dalamnya. Serta mian kalau ff req. Diluar harapan.
#banyakbacot

Let’s Cekidot ^^


Di pinggir lapangan basket suatu SMA Swasta terkemuka di Korea Selatan terdapat kerumunan siswi hobi bersolek sedang jejeritan histeris, meneriaki nama seseorang.

Diantara siswi-siswi tersebut ada seorang gadis yang tampak paling menonjol, dengan seragam super ketat serta rok 5-6 cm di atas lutut, menambah kesan seksi, bohai, cicicuit pada dirinya.

Seantero sekolah juga tahu siapa dia, Hyo Ri dan jika bertanya kepada seluruh siswa tentang Hyo Ri maka akan mendapat umpan balik seperti.

Oh… Hyo Ri, siswi yang ‘ckiiitt’ super bohai itu kan? Begitulah kira-kira tanggapan seluruh siswa pada gadis yang sama histerisnya dengan siswi-siswi lain. Malahan mungkin dia lah yang paling antusias.

Ia bersorak-sorai seraya membawa karton bertuliskan nama seorang pebasket bertubuh proposional yang tengah mendrible bola basket, lincah. Sangat-sangat lincah.

Walau terkadang pebasket itu menyempatkan diri untuk tebar pesona sambil melambaikan tangannya pelan, dan mengerlingkan sebelah matanya tiap kali berhasil memasukkan bola ke dalam ring.

Ia sangat menyukai saat-saat dimana namanya menggaung dari para gadis.
‘Top Hyong… Kau hebat — Kyaaaaa… Aku meleleh — Oh, I can’t breath’

Beralih ke sebuah ruang kelas XII F kelas terujung. Tempat dimana biasanya menjadi sarang siswa-siswi bernilai pas-pasan.
Tetapi, tidak berlaku untuk kelas ini. Kelas ini adalah sarang siswa-siswi bernilai di atas rata-rata namun, berkelakuan minus.

Di dekat jendela, tepatnya di bingkai jendela ada seorang siswi duduk santai sambil melemparkan pandangannya keluar.
Letak kelas yang berada di tingkat 5 memungkinkan ia menatap keseluruhan benda di bawahnya.

Penampilan Hye Rin nama gadis itu berbanding terbalik dengan Hyo Ri.
Kacamata tebal berbingkai gelap selalu ia kenakan seolah ingin mempertegas bahwa ia adalah siswi pandai. Rambut hitam kemerahannya yang unik ia ikat ke belakang membentuk ekor kuda.

Jika dilihat sekali pintas mungkin orang-orang akan beranggapan Hye Rin adalah siswi teladan namun jika diteliti lebih jauh maka kesan urakanlah yang lebih dominan.

“Hye Rin-ah, apa yang kau sedang melihat?”
Pecah sebuah suara milik seorang siswa bertubuh kekar dan selalu mengenakan topi serta headset disetiap kesempatan.

Sebenarnya tak ada satu lagupun mengalun dalam ipodnya tetapi, ia masih enggan melepas headset dari telinganya.
Ia berpendapat kalau tanpa ke-2 benda itu terasa bagai rujak tanpa buahan.

Hye Rin menoleh sekilas ke sumber suara lalu menghembus permen karetnya hingga berukuran cukup besar sebelum menjawab teman sebangkunya, Young Bae.

“Bukan apa-apa, hanya melihat kerumunan siswi-siswi menor meneriaki nama pebasket kacangan seperti Seunghyun!”

“Heh? Pebasket kacangan seperti Seunghyun? Apa aku tidak salah dengar?” Young Bae mengelus dagunya saat berbicara.

“Tidak!”

“Aku tahu kau berbicara seperti itu karena kau merasa tidak termasuk ke dalam kriteria Seunghyun. Lihat penampilanmu! Memakai kacamata tebal padahal kau sama sekali tidak rabun!” Young Bae duduk di kursi dekat Hye Rin dengan kaki yang ia letakkan menyilang di atas meja.

“Dan lihat seragammu tidak rapi, terkesan tabrak lari dari kacamata tebalmu!!”

Sontak Hye Rin mendelik ke arah Young Bae, tangan kanannya terkepal meredam emosi. “Bukan urusanmu!!”

XxxxX

Hye Rin duduk di ujung terjauh kafetaria sekolahnya.
Suasana kafetaria yang sepi karena masih terlalu pagi, gadis itu leluasa tidur, kepalanya bertumpu di atas meja.

Di menit pertama masih terdengar ketukan berirama jari telunjuknya. Dan pada menit ke-5 ketukan tadi sudah tidak terdengar lagi.
Tetapi, ia belum sepenuhnya tertidur.
Hye Rin masih bisa merasakan dengan jelas ada seseorang menyibak anak-anak rambutnya.

“Begini lebih cantik!”

Suara berat seorang siswa yang memuji dirinya membuat Hye Rin mendongak perlahan. Mata gadis itu berulang kali berkedip.

Omo… Aku pasti bermimpi! Ini pasti mimpi! Bangun Hye Rin… Bangun!! Batin Hye Rin sambil sesekali membetulkan posisi kacamatanya. Ia tak percaya atas penglihatannya yang menunjukkan penampakan makhluk tampan rupawan sedang duduk di atas meja, tersenyum simpul padanya. Tanpa permisi siswa itu mencubit pipi Hye Rin.

“Ekspresimu lucu spergi dengan langkah kikuk.

“Namaku Seunghyun… Choi Seunghyun! Kau pasti mengenalku kan? Kita, kan, sekelas, Hye Rin-ah!”
Teriak siswa itu heboh saat manatap punggung Hye Rin yang mulai menjauh.

“Hei, perempuan aneh!” Tegur seorang siswi, seksi, bohai, cicicuit yang bersandar di tiang penyanggah tak jauh dari kafetaria kepada Hye Rin. Namun Hye Rin berjalan acuh tak acuh melewatinya.

“Yak, kau perempuan aneh apa kau juga tuli?”

Malas-malasan Hye Rin berbalik. Ia menatap tajam dari balik kacamata tebal berbingkai gelapnya pada sosok siswi menor yang menegurnya.

“Perempuan aneh ini punya nama!”

“Dan aku tidak peduli kau punya nama atau tidak!”

Hyo Ri membalas tatapan tajam lawan bicaranya.

“Kuperingatkan jangan pernah mendekati Seunghyun, arraseo! He is mine, not yours!”

Hye Rin memutar bola matanya, tanda sedang berpikir sangat keras lalu tertawa ringan menghampiri Hyo Ri.

“Hmmm… Baiklah aku tak mau membuang-buang waktu bersama mu Hyo Ri ahjumma!”

Dia tersenyum, tetapi hampir tidak terlihat emosi dalam senyumannya. Apapun itu yang tersungging di bibir Hye Rin lebih mirip sebuah seringaian daripada senyuman.

GLEEEK!

Gadis menor nan seksi bohai cicicuit itu tersedak ludahnya sendiri ketika menerima seringaian mengerikan dari gadis urakan, dengan sangat terpaksa ia segera menghilang.

“Young Bae-ya, kenapa kau memasang wajah masam padaku, heh? Apa kau masih marah padaku karena kemarin aku sempat menarik kerah bajumu?”

Young Bae melirik dengan enggan kemudian terperanjat kaget melihat aegyo buatan seorang Hye Rin, yang kini duduk di sampingnya.

“Jangan pernah menampakkan aegyo mengerikan mu padaku! Kau tidak pantas melakukannya!”

Wajah Hye Rin menggembungkan pipinya kesal mendengar pernyataan Young Bae. Terkadang ia menunjukkan sisi manja tetapi hanya pada Young Bae, sahabatnya sedari kecil. Yah, berkat sifat kadang-kadangnya tak ada seorangpun berani mendekat apalagi berteman kecuali Young Bae.

“Aku salah memilih sahabat!”

“Kalau kau tidak terus mengikuti kemanapun aku pergi saat di Taman Kanak-Kanak mungkin kau tak akan salah memilih SAHABAT, Hye Rin!”

Flash Back

Di bawah pohon besar nan rindang seorang anak lelaki 4 tahunan sedang membuka kotak bekal makan siangnya. Tak jauh dari tempat anak lelaki itu duduk, terlihat seorang anak perempuan berambut hitam kemerahan sebahu. Penampilannya persis seperti kekasih boboho. Ia menatap sendu sandwich yang tergeletak jatuh berlumuran tanah.

Anak perempuan itu menoleh perlahan ke arah Young Bae. Pandangannya tertancap pada kotak bekal bergambar Hello Kitty sementara lidahnya menjilati bibir dengan lapar sambil sesekali menghisap ingusnya yang naik turun.

“Ini… jangan beri aku tatapan kelaparan yang mengibakan seperti itu!”
Ujar Young Bae seraya mengulurkan tangan kanannya yang memegang sebuah roti isi.

“Orang baik!”

Flash Back End

“Orang baik… kau mengataiku adalah orang baik hanya karena aku memberimu sepotong roti isi!”

“Kata eomma ku orang yang memberiku makanan pasti orang baik!” Ujar Hye Rin polos lalu tersenyum riang menatap Young Bae.

Ku mohon Hye Rin-ah hentikan senyumanmu, setiap kali kau tersenyum jantungku terasa akan terjun bebas ke lambungku! Batin Young Bae gelisah dan sudah menunjukkan kegugupannya.

XxxxX

Seperti biasa Seunghyun berangkat ke sekolah menggunakan kendaraan pribadinya. Menyandang status sebagai anak juragan angkot membuat ia bisa membawa angkot beserta sopir-sopirnya untuk mengantar ke sekolah. Maklum takut menyetir sendiri, ia berdalih arus lalu lintas terlalu padat di pagi dan siang hari.

Di tengah perjalanan ia melihat sosok siswi berjalan gontai menuju sekolahnya.
Sejurus kemudian Seunghyun menyuruh sang sopir untuk menepi tepat di samping siswi itu.

Ia menurunkan kaca angkotnya.

“Hye Rin-ah, sepertinya kita ditakdirkan bertemu di jalan pagi ini!”

Siswi itu menghentikan langkahnya lalu membungkuk sedikit untuk melihat orang yang menyapanya.

“Heh… kau?”

“Apa kau bisa menyetir?” Seunghyun tersenyum ramah.

“Ajusshi, bisakah kau turun di sini? Aku ingin berangkat bersamanya!”

Sang sopir mengangguk pasrah dan turun dari bangku kemudi tanpa banyak protes.

“Tapi, aku tidak….”

“Ne, tidak ada penolakan, karena aku sedang memaksa!”

Setelah memarkir angkot milik Seunghyun di pelataran parkir.
Ia turun dan tak sengaja menabrak Hyo Ri yang juga baru turun dari mobil.

Aaaaaaarrrggh… Sial!! Kenapa harus sekarang!! Rutuk Hye Rin dalam hati lalu melempar kunci kepada pemiliknya.

Dengan sigap Seunghyun menangkap kunci yang dilemparhan Hye Rin padanya sambil mengerlingkan sebelah mata setelahnya.

“Bukankah sudah kukatakan jauhi Seunghyun?” Bisik Hyo Ri mengintimidasi dan menarik kasar lengan lawan bicaranya menuju toilet.

Gadis itu menyeret paksa Hye Rin hingga menjadi tontonan di sepanjang lorong sekolah.

BRAAAAKKKK!!!
Suara punggung Hye Rin yang terbentur ujung westafel.

“Sakitkah?”

========================================================================

Beberapa menit kemudian, Hye Rin keluar dari toilet khusus perempuan dalam keadaan sangat-sangat-sangat berantakan. Menyedihkan, apakah gadis itu di bully habis-habisan oleh Hyo Ri si gadis cantik seksi, asoy, geboy, bohay, cicicuit?

Jawabannya tidak mungkin! Mustahil.

Karena gadis urakan itu masih sempat-sempatnya mengulas senyum kemenangan dan lambaian tangan ke arah Hyo Ri. Entah apa yang dilakukan Hye Rin pada Hyo Ri di dalam toilet hingga penampilan Hyo Ri bak tikus kecemplung got dimuntahi sapi perah (hancur).

“Kau salah memilih korban Lee Hyo Ri!!”

Hye Rin melangkah besar-besar menuju gerbang sekolahnya.
Ia berjalan amat cepat melewati pinggiran lapangan basket sambil mencengkram erat tali (?) tas selempangannya. Menahan emosi yang saat ini sedang menggelegak.

“Hye Rin-ah!!”

Mendengar suara berat yang ia ketahui, Hye Rin semakin mempercepat langkahnya. Tak ingin berurusan dengan si pebasket tampan yang menurutnya masih kacangan dan pembawa petaka pada dirinya pagi ini.

“Hye Rin-ah!!”
Panggil Seunghyun lagi sambil melambaikan tangan serta tebar pesona lewat senyuman ketika Hye Rin menoleh ke arahnya.

Tapi, lambaian serta senyuman lebar miliknya malah dibalas tatapan tajam nan berkilat oleh amarah.

“Hei, gadis urakan… Kenapa kau masih di sini, huh??”
Tegur Young Bae, menyingkap kaca (?) helmnya ketika ia melihat Hye Rin sedang berdiri di pinggiran gerbang dengan kepala tertunduk dan menendang-nendang batu kerikil di depannya.

“Aku tak berselera masuk ke kelas! Apa kau mau ikut aku membolos?”
Hye Rin mengangkat kepalanya, menatap Young Bae yang masih anteng di atas motor ‘Pesona 5’.

“Mwo… Bolos?? Oke… Arra arra! naiklah!”
Ujar Young Bae pasrah pada sahabatnya itu yang mengeluarkan tatapan memelas persis seperti dahulu saat Hye Rin menatap tempat bekal makan siang miliknya.

Tanpa banyak bicara Hye Rin langsung duduk di belakang Young Bae.

“Kita mau kemana??”

Hye Rin memutar bola matanya sejenak lalu berseru riang.
“Ke hatimu….!!”

“Yang serius! Atau kita tidak jadi bolos!!”

“Baiklah, tuang (ya) Dong, jangan bertanya pada ku kita mau kemana karena aku sendiri tidak tahu aku mau kemana!!”

Young Bae terus menambah kecepatan motor bebek ‘Pesona 5’ asli dari negeri komodo yang ia beli dengan cara mencicil atau sering disebut kredit oleh kebanyakan orang.
Ia tak berani mengeluarkan sepatah katapun meski Hye Rin mengajaknya berbicara tanpa henti lagipula suara Hye Rin tidak begitu jelas terdengar selain suara berisik mesin, headset pun terpancang ditelinganya.

Yang terdengar jelas dan terasa sekarang adalah degub jantungnya semakin liar berdetak seperti ada belasan bajaj jumping diwaktu bersamaan saat sahabatnya memegang erat pinggangnya dan (author mulai mengambil tali tambang) dalam jarak seintens itu terang saja membuat ia berkeringat dingin.

Akhirnya setelah 45 menit perjalanan, Young Bae menghentikan laju motornya, di tempat yang biasa dijadikan muda-mudi seumuran mereka tempat berpacaran.

Entah mengapa Young Bae tiba-tiba memutuskan ke tempat seperti itu, padahal mereka tidak berpacaran. BELUM.

“Turun!!”
Ujarnya, melepas helm berlogo SNI dari kepala berjambulnya.

“Kenapa kita ke sini?”
Hye Rin turun hati-hati, merapikan ikatan rambutnya yang sedikit berantakan serta membenarkan posisi kacamatanya.

“Aku tidak tahu!!”
Jawab Young Bae jujur lalu memegang pergelangan tangan Hye Rin, mengajak sahabatnya mendekat ke bibir pantai.

Yah, mereka memang sedang berada di pantai sepi pengunjung.

Ketika sudah tiba di bibir pantai, mereka duduk di atas pasir putih.
Young Bae berlagak romantis dengan menawarkan sebelah (?) headsetnya pada Hye Rin.

“Kau mau ikut mendengarkan??”

“Heh?? Tidak, terimakasih!! Aku tidak mau telingaku teriritasi karena sesuatu di dalam telingamu!!”

Hye Rin tertawa geli melihat perubahan airmuka Young Bae menjadi merah padam karena kesal.

Lama mereka terjebak dalam keheningan. Hanya deburan ombak yang saling berkejaran serta desauan angin yang bergesekan dengan daun-daun pepohonan mencemari pendengaran mereka sebelum akhirnya Young Bae mengeluarkan kata-kata mengejutkan.

“Saranghae….”

“Eh??”

XxxxX

Satu persatu anak tangga menuju atap gedung sekolah ditelusuri oleh Hye Rin secara terburu-buru setelah membeli sepotong sandwich, dan minuman kaleng di kafetaria.
Ia duduk bersila di pinggiran atap gedung kemudian mengambil sepotong sandwich dalam kantong kertas yang sedaritadi ia pegang.
Hye Rin menatap malas makanannya dan memasukkannya lagi. Lagipula ia benar-benar sedang tidak lapar.

Saat ini ia tidak ingin diganggu oleh siapapun.
Peristiwa kemarin hampir membuatnya gila. Sangat gila sekaligus tidak enak hati akibat menolak pernyataan cinta Young Bae tanpa ditelaah terlebih dahulu bagaimana perasaannya sendiri terhadap Young Bae.

Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan menangkap sosok Seunghyun tengah mondar-mandir tidak jauh dari tempatnya duduk.
Tampak sangat gelisah.

Tingkah Seunghyun itu tak tahu kenapa amat membuat Hye Rin risih.

“Kau memuakkan!!”

Sontak Seunghyun menatapnya heran dengan alis berkedut.

“Apa aku mengganggumu? Aku rasa tidak!!”
Ia tersenyum lebar mendekati Hye Rin dan duduk di samping si gadis urakan.
Sementara Hye Rin beranjak pergi meninggalkannya.

“Hye Rin-ah, mengapa kau bersikap dingin padaku? Padahal kemarin saat kita berangkat bersama kau baik-baik saja!!”

“Aku baik-baik saja kalau kau tidak menggangguku!!”
Ketus Hyerin tepat di ambang pintu atap gedung sekolahnya.

Seunghyun segera bermanuver mengejar Hye Rin lalu mencengkram lengan gadis di sampingnya agar tidak pergi.

“Saranghae….”
Ujar Seunghyun lancar mengungkapkan perasaan yang entah sejak kapan ia pendam. Mungkin saat ia lancang mencubit pipi Hye Rin di kafetaria atau saat ia berada dilapangan basket sering memperhatikan gadis itu duduk di bingkai jendela kelas mereka.
Atau bisa jadi jauh sebelum itu.

Hye Rin mendongakkan kepalanya ke arah Seunghyun yang notabene lebih tinggi darinya maupun Young Bae.
Ia galau harus menjawab apa karena 2 hari berturut-turut mendapat pernyataan cinta.

“Saranghae…”
Ulang Seunghyun lagi.

“Heh… Aku sebenarnya, engh… Sa…”

BRAAAAAKKK!!
Mendengar suara gaduh, baik Hye Rin maupun Seunghyun langsung menjatuhkan pandangan mereka ke kaki tangga.

“Young Bae??”

“Mian, aku mengganggu acara kalian!!”
.
.
.
.
.
– Udahan Dulu Yaw –

Gantung? Emang :p
saia belum memutuskan endingnya dipairingin sama siapa wkekekekeke. . . . .
#d’getok mrs. Tabi