Title                : Unseen

Author            : @ShiraeMizuka

Genre              : Horor, Angst, Romance

Length            : Part 1 of Ficlet in series [1269 words]

Rating             : PG+15

Cast                : Shin Riyoung (OC), Lee Seungri (Bigbang), Lee Jiyoo(OC), Choi Seung Hyun (Bigbang)

Disclaimer      : I own the plots but no the casts. No plagiat, No Re-Post without confirm me!!!

Ehemph, langsung aja, ini dia ff request buat HYUN BAE… Maaf ya hyun bae… ampe jamuran nunggu rikuesannya baru jadi.  Sesuai permintaan, aku bikinin yang genre horor-sad romance. Ini pertama kalinya aku bikin horor, jadi maaf kalo kurang serem… hehe… .____.v

Dan kalo ada yang bingung soal length ff ini… ada yang bertanya-tanya mungkin ini series tapi kok pendek? jangan heran ya… Cerita ini emang aku kemas dalam ficlet berseri. Jadi tiap part emang bakal dipublish cuma sepanjang ukuran 1 ficlet. Arra?!

Tanpa banyak bacot… Let’s check it out…😀

xoxoxoxoxoxoxoxo

Prolog :

Mata gadis itu mengerjap berkali-kali. Pandangannya masih agak kabur dan buram. Kepalanya terasa sedikit berat dan yang pasti butuh waktu agar matanya beradaptasi setelah matanya disinari dalam tempo waktu yang cukup lama.

Riyoung, gadis itu duduk di kursinya. Membiarkan seorang lelaki dengan jas putih di depannya tenang membaca berkas pemeriksaan yang baru saja berlangsung.

Setelah beberapa lama, lelaki di depan gadis itu akhirnya mengangkat kepalanya dan memberikan senyuman hangat untuknya, “Selamat Shin Riyoung~ssi, semuanya dalam kondisi baik. Sekarang kau bisa menikmati kembali ke dunia yang penuh warna dengan mata barumu.” ujar lelaki itu.

Gadis itu balas tersenyum, “Terima kasih, dokter…” tanggapnya. Senyumannya yang paling tulus ia berikan kepada dokter itu. Dokter yang telah berjuang demi kesembuhan matanya.

Dan setelah beberapa lama kegelapan terus-menerus mengelilinya, kini dunianya kembali penuh warna. Meski tidak akan lagi menjadi sama tanpa kehadiran lelaki yang dicintainya. Lelaki yang telah menyelamatkan jiwanya dengan mengorbankan jiwanya sendiri. Lee Seungri.

~0~

‘Kau dimana sekarang, Riyoung? Aku menelpon ke apartemenmu ratusan kali dan kau tidak mengangkatnya. Ponselmu tidak aktif. Bagaimana pemerikasaanmu? Berani-beraninya kau membuatku cemas!!!’

Riyoung seketika menjauhkan ponselnya dari telinganya. Ponsel itu baru saja diaktifkannya dan tepat beberapa detik setelahnya ada sebuah panggilan masuk. Mengetahui siapa orang yang menelponnya, gadis itu segera mengangkatnya. Tapi apa yang justru ia dapatkan?! Hanya ocehan! Dan ocehan itu cukup membuat telinganya sakit.

Kau dengar? Jangan pernah non-aktifkan ponselmu!

Ocehan itu dimulai lagi.

‘Ya, Shin Riyoung, kenapa kau diam saja?!’

Riyoung mendengus, “Bagaimana aku bicara kalau kau terus mengoceh begitu?” tanya gadis itu berpura-pura sebal pada lawan bicaranya. Seharusnya memang ia benar-benar merasa sebal, tapi tidak tahukah, bahwa seorang Shin Riyoung telah mati ekspresi. Hatinya kebas, mati rasa, buta terhadap segala perasaan yang bisa membuatnya manusiawi.

Hening sejenak, ‘Baiklah. Jawab pertanyaanku, ada dimana kau sekarang?!’

“Halte 031, distrik Chunnam.”

‘Halte… Chun… CHUNNAM?!’ Suara di seberang terpekik, ‘Astaga Riyoung, sedang apa kau disana?! Berapa  jauh tempat itu dari apartemenmu?’

“Ada toko ramyun kesukaanku di dekat sini, mendadak aku ingin memakannya. Tenanglah, aku akan baik-baik saja. Sebentar lagi bis yang kutunggu akan datang dan tiga puluh menit kemudian, aku pastikan aku sudah kembali ke apartemenku. Kau jangan cemas.” ujar Riyoung dalam satu intonasi yang cepat dan datar. Sepertinya ini akan menjadi kalimat terpanjang yang ia ucapkan seumur hidup.

Gadis itu bukan gadis pendiam, tapi ia jarang sekali bicara panjang lebar. Namun apa boleh buat, lawan bicaranya di seberang sana sepertinya benar-benar sedang perlu ditenangkan.

‘Ah, malam-malam begini?! Kenapa tidak menunggu besok pagi saja baru kau beli? Kau seperti sedang mengidam saja. Kau tahu, ramyun tetap saja ramyun. Rasanya tidak akan jauh berbeda meski kau membelinya di Busan sekalipun.’

Riyoung terkekeh, hanya sebuah kekehan kaku sebenarnya. Karena entah sudah berapa lama ia berhenti tertawa. Karena ia tahu, serupa apapun bentuk kebahagiaan yang diumbarnya, maka semua itu hanya akan menjadi seonggok kepalsuan. Tak lebih. Bahagia itu sudah pergi menjauh dari hidupnya.

“Kau cerewet sekali…” celetuknya. Mencoba kembali untuk terdengar sebal dan ceria sekaligus. Entah berhasil atau tidak, ia hanya tidak ingin lawan bicaranya itu semakin mencemaskannya.

‘Biar saja.’ balas suara di seberang dengan nada cuek.

Ne, terserah kau. Bisnya sudah datang. Aku tutup dulu telponnya.” Riyoung tahu, semakin lama ia berbicara maka akan semakin terkuar keceriaan palsu dalam suaranya. Menutup sambungan telpon itu seharusnya menjadi pilihan terbaik.

Ne. Jangan lupa kabari aku kalau kau sudah sampai di apartemenmu.’

Riyoung mematikan ponselnya dan segera memasukkannya ke dalam tasnya. Gadis itu mendesah pelan. Matanya tertuju ke arah ujung jalan, arah datangnya bis berwarna putih itu.

Ia merapatkan sweaternya. Entah kenapa Kota Seoul terasa lebih dingin malam ini. Menyesal juga ia hanya memilih sweater tipis berwarna merah jambu itu sebagai perisainya. Seharusnya Riyoung memilih sesuatu yang lebih tebal. Tapi ya sudahlah, sudah terlanjur. Dia hanya ingin cepat sampai ke apartemennya sekarang.

Sesaat kemudian bibirnya mengulas senyum tipis mengingat betapa cerewetnya lawan bicaranya barusan. Meski hanya seulas, tapi nyatanya memang secercah rasa hangat di sudut hatinya. Ternyata hatinya belum sepenuhnya mati rasa.

Namanya Jiyoo, Lee Jiyoo. Gadis itu lebih dari sekedar sahabat bagi Riyoung. Perhatiannya bahkan terkadang sampai melebihi perhatian orangtuanya sendiri yang saat ini tinggal di luar negeri.

Riyoung tahu Jiyoo memang menyayanginya tulus, tapi ia juga mengerti bahwa separuh dari perhatian yang diberikan Jiyoo adalah karena demi memenuhi pesan terakhir lelaki itu. Pesan terakhir seorang lelaki bernama Lee Seungri─tunangannya, errr… atau mantan tunangan, mungkin? Karena tak akan ada lagi perubahan status. Karena kisah mereka telah membeku. Waktu tidak berhenti, tetapi kisah mereka yang telah berhenti. Terkubur jauh dalam dasar bumi. Dan segala kerinduan hanya tersampaikan lewat krisan-krisan putih yang selalu diletakkannya sebagai penghias nisan beberapa kali dalam seminggu.

Mengingat hal itu, tatapan gadis itu berubah sendu. Jemarinya mendadak bergetar dan perlahan bergerak naik nyaris menyentuh matanya sendiri.

“Seungri…” rintihnya. Sayang, tak ada yang menyahuti. Tak akan pernah ada…

Gadis itu menggeleng pelan. Tidak, tidak lagi. Sebelum pikirannya mulai melayang-layang tak tentu arah, Riyoung buru-buru menaikkan tubuhnya ke dalam bis yang baru saja berhenti tepat dihadapannya dan mencari posisi yang bisa membuatnya menyamankan diri. Memilih sudut yang paling tak terjangkau di deretan paling belakang agar tak ada yang melihat ketika mungkin nanti air matanya tak lagi tertahan  dan membuatnya terisak.

Bagaimanapun nama itu telah kembali mengusik memorinya… Menguar kerinduan yang selalu dipaksanya untuk bungkam. Kerinduannya pada pemilik sebuah nama, Lee Seungri.

oo000oo

Entah bagaimana tiga puluh menit menjadi terasa begini lama. Dingin malam semakin mencekam dan gadis itu masih mendekam di sudut paling belakang di bis yang akan membawanya pulang.

Tidak banyak penumpang lain dalam bis itu, hanya beberapa dan Riyoung sama sekali tidak berniat memperhatikannya. Diluar, pekat malam yang teramati lewat kaca jendela bis beberapa hari menjelang musim gugur lebih menarik perhatiannya. Hinggu sebuah bisik mengusiknya.

“Riyoung… Shin Riyoung…”

Kenyataan terkadang berbaur dalam fiktif ilusional yang menyesatkan. Maka Riyoung memutuskan untuk mengabaikan bisik kecil yang memanggil namanya. Apalagi ketika suara itu terdengar begitu khas dan terlampau mengingatkannya pada seseorang yang sejak tadi memang telah mengusik pikirannya.

“Riyoung… Shin Riyoung…”

Bisik itu lagi.

Riyoung menggelengkan kepalanya berkali-kali. Entah bagaimana bisik itu semakin mencengkeram ingatan, menyeret-nyeretnya hingga makin mendekat pada sebuah nama; Lee Seungri. Sementara, bersamaan dengan segala kemungkinan ─sekecil apapun itu─ hanya keberadaan lelaki itu yang nilai probabilitasnya paling harus diabaikan disini. Ada kepingan dimensi yang telah memisahkan mereka. Meski pengingkaran menjadi begitu menggoda, namun Riyoung tetap harus mengakuinya. Lee Seungri telah mati.

“Shin Riyoung…”

Bisik telah berubah menjadi desah. Riyoung yakin telinganya tidak mungkin salah. Bimbang, ia mengalihkan pandangan dari jendela bis dan menolehkan kepala kesamping.

Semua pergerakan terhenti. Bahkan waktu seakan beku. Kesunyian bernyanyi.

Lee Seungri ada disana. Hanya berjarak satu bangku dari tempatnya. Riyoung pasti sudah akan langsung berlari memeluk kekasihnya dan menganggap apa yang menimpa mereka beberapa bulan lalu hanyalah mimpi jika saja ia tidak melihat Lee Seungri duduk disana dengan keadaan bersimbah darah. Putih kemeja samar oleh percik kental berwarna merah. Bau amis yang khas kelewat menusuk penciuman. Seperti itulah keadaan Lee Seungri saat meninggalkannya beberapa bulan yang lalu, tepat beberapa saat setelah truk dengan kontainer itu menabrak tubuh lelaki itu dengan telak. Dan itu demi menyelamatkan nyawanya.

“Shin Riyoung…”

Lelaki itu kembali memanggil namanya, namun dengan getar suara yang berkali lipat dari sebelumnya.

Tubuh Riyoung sontak gemetar. Ada perasaan berkecamuk yang menghantuinya. Ia mencoba berpaling. Mencari sasaran lain bagi tatapannya. Dan sepertinya hal itu tidak menjadi pilihan yang lebih baik, beberapa penumpang bis yang awalnya terlihat normal kini terlihat berbeda. Wajah mereka pucat pasi dan semuanya menunjukkan gelagat aneh.

Tepat beberapa detik setelahnya, Riyoung tersadar, keadaan para penumpang lain tidaklah jauh berbeda dengan keadaan Seungri. Mereka semua bersimbah darah.

“Shin Riyoung…..” Didengarnya suara Lee Seungri kembali memanggilnya.

Tubuh gadis itu semakin bergetar, saat semua terasa menjadi semakin sulit untuk dibendungnya. Ia sadar, ia tidak lagi berhadapan dengan manusia.

Seketika, “KYAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!” Jeritan Riyoung menggema.

-TBC-