yak, saya juga pusing ngeliat segitu banyak wajah mempesona di poster jadinya posternya ukurannya dikecilin disininyah :B

Title: Complicated Love

Author: Kihyukha

Main Cast:

  • Kwon Taechin (OCs)
  • Kwon Jiyong
  • Lee Chaerin

Sub Cast:

  • Kwon Park Bom (ini maksudnya si Bommie._.)
  • Choi Seunghyun
  • Kang Daesung
  • Gong Minji
  • Park Sandara
  • Dong Youngbae

Genre: Romance, Complicated, Hurt, dll dll (?)

Length: Chaptered~

Disclaimer: The story are based from Taechin-Eonnie’s mind and I just make the story for her. Please do not plagiarism~ :*

Warning!!!: Full of 21BANG!

Annyeong haseyo yeorobun~~ emm ini FF request pertama author yang cakep ini di BBFF. Maaf lama banget keluarnya >.< Moga kalian suka yah~ yuk di check it out ajah :} dan notes tambahannyah, ini juga bakal berupa ficlet-ficlet begitu berhubung utang FF saya udah pada nagih minta utangnya diselesaikan (?) <– agak ngikut Diyan-Eonnie

For Tachin-Eonnie, this fanfiction is requested by you!^^

Happy Reading!

******

Oppa! Aku sudah bilang jangan letakkan sikat gigimu di kamar mandiku!”

Sesosok gadis dengan rambutnya yang panjang berlari keluar kamar mandi. Tangannya menggenggam sebuah sikat gigi berwarna merah. Mimik wajahnya bertambah jengkel setelah menemukan pemuda yang disebut oppanya itu masih menggunakan kaos putih tipis dan celana pendek hitam—pakaian yang ia gunakan untuk tidur semalam.

Yah! Sudah jam segini kau masih menggunakan kostum seperti itu!?” protes gadis itu lagi.

“Memang kenapa, sih? Aku akan segera mandi dan ganti baju setelah sarapanku habis. Kau tahu aku clean addict. Sikat gigiku hanya sekedar nitip kok, soalnya kamar mandiku sedang dibersihkan.” Jawab pemuda itu seadanya, menatap santai wajah adiknya yang masih merengut. “Dasar jelek, jangan merengut begitu.”

“Aish!” yeoja itu mendecak pelan. Rambutnya yang sudah rapi diacak-acak kembali oleh kakaknya, membuat paginya hari itu malah semakin bertambah buruk.

“Jiyong, jangan ganggu Tae! Kau tahu mood adikmu bisa hancur kalau kau memperlakukannya seperti itu!” Park Bom—kakak dari keduanya, datang dan memberikan sepiring roti bakar untuk adik bungsunya—Kwon Taechin, atau Tae. Sementara adik lelaki satu-satunya—Kwon Jiyong, hanya menjulurkan lidahnya dengan jahil lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Kwon Park Bom, Kwon Jiyong, dan Kwon Taechin. Tiga kakak beradik dengan kepribadian yang berbeda-beda. Park Bom adalah wanita yang sudah menghadapi dunia perkuliahan. Pribadinya tenang, selalu menjadi penengah jika kedua adiknya sudah bertengkar, namun sering menjadi konyol pada waktunya. Sementara Kwon Jiyong, adalah pemuda dengan kharisma yang luar biasa dan menjadi idola di sekolahnya, meski suka jahil terhadap adiknya. Dan terakhir, Kwon Taechin. Gadis remaja berwatak keras kepala namun polos, yang ingin melewatkan kehidupan remajanya dengan percintaan dan kedamaian, tanpa dibayang-bayangi kedua kakaknya yang memang adalah ‘bintang yang bersinar’ di sekolah masing-masing.

“Jiyong oppa selalu membuatku kesal.” Gerutu Tae. Dia membanting pantatnya di atas bangku meja makan dan menggigit roti bakarnya dengan kesal. Bom hanya tertawa kecil melihat kelakuan childish adiknya.

“Jiyong memang sulit untuk mengungkapkan rasa sayangnya.” Bom mengelus puncak kepala adiknya, melempar senyuman lembutnya untuk mengembalikan mood Tae.

“… Kecuali untuk Dara-eonnie, begitu?” gumam Tae. Bibirnya masih merengut, membuat Bom terdiam seketika.

“… Yah, siapa yang tahu isi hati Jiyong?” Bom mengangkat bahunya, berlagak tidak tahu. Sebenarnya dirinya sendiri juga kaget saat beberapa bulan lalu, adiknya mengaku bahwa dia menyukai sahabat kakaknya sendiri—Park Sandara. Dan yang lebih mengejutkan lagi, bocah yang masih kelas 3 SMA itu berhasil mendapatkan hati Dara yang sudah memasuki semester 4. Sulit dipercaya.

Bom mengoleskan selai cokelat ke atas rotinya, sementara Tae masih melahap sarapan pagi. Suasana tetap hening sampai bel berbunyi dan seorang pemuda masuk ke dalam, membawa serta tas gendong dan kunci mobilnya.

“Bommie, kita berangkat sekarang?” Pemuda itu—Choi Seunghyun, mengangkat kecil alisnya dan tersenyum khas dirinya. Ia berjalan ke arah kekasihnya dan mengecup ringan kening Bom.

“Seunghyunie, jangan menggodaku dulu pagi ini. Tae, kau naik motor dengan Jiyong saja, oke?” Bom memasang ekspresi setengah memelas, namun Tae hanya tambah cemberut.

“Dengan oppa? Aku lebih memilih diantar Seunghyun oppa daripada pria itu. Dia selalu menelpon Dara-eonnie sampai melupakan jalanan.” Protesnya.

“Ah… Sudahlah, Jiyong memang seperti itu. Eonnie hampir telat, jadi eonnie pergi duluan, ya?” Bom mengusap puncak kepala Tae dengan lembut, lalu berjalan keluar rumah dengan kekasihnya. Gadis yang ditinggal itu merengut sembari terus menatap tangga menuju ke atas. Dasar kakaknya, lama sekali. Bisa-bisa mereka terlambat.

“Jiyong oppa! Cepat atau aku pergi duluan!!” teriaknya.

“Iya, iya, nona. Ini juga sudah selesai kok.” Jiyong turun ke bawah dengan buru-buru. Sebuah handuk kecil masih tersangkut di rambut hitamnya yang basah, dan pemuda itu kelihatan sangat tampan. Tae benci mengakuinya, tapi itulah kenyataannya.

“Kau lama. Aku hampir jamuran menunggumu muncul, dasar lamban.” Umpat Tae jengkel. Jiyong hanya menatapnya dengan tatapan heran.

“Sekarang, kau yang malah memperlambat, adikku sayang. Bergerak dari bangku itu atau kau kutinggal.” Jiyong segera berjalan keluar dan menghidupkan mesin motornya, tanpa melihat lagi ekspresi masam adik satu-satunya itu. Entah kenapa pagi ini Tae sedang sangat bad mood.

******

“Aku kesal dengan si bodoh itu!”

Tae memukul mejanya dengan kesal. Ia melipat tangannya di depan dada, menggembungkan sebelah pipinya dan memasang wajah sejengkel-jengkelnya.

“Memang kenapa sih? Kemarin kau bilang Jiyong oppa orang yang keren..” Gong Minji, sahabat Tae, hanya menatap sahabatnya dengan tatapan bingung. Mood Tae memang suka berubah-ubah, tapi sekarang jadi lebih labil dari biasanya.

“Tidak untuk sekarang!”

“Ada apa lagi?”

“Aku tidak suka dia berpacaran dengan seorang noona. Meski sudah lama terjadi, tetap saja hal itu mengesalkan. Oppa sudah sulit untuk ditebak. Dia bilang kalau dia ingin dipanggil oppa oleh pacarnya, tapi nyatanya sebaliknya. Dia pembohong.” Gerutu Tae. Minji hanya terdiam sambil memainkan jarinya di atas meja. Berusaha menjadi pendengar yang baik, ia rasa.

“Oppa tidak pernah mau mendengarkan aku. Dia bilang kalau aku cerewet dan bawel. Padahal aku hanya mengingatkan dia saja.” Tambah Tae.

“Ah, aku mengerti kalau bagian yang itu.” Minji terkekeh geli, menatap wajah Tae yang tambah ditekuk. “Jangan cemberut begitu, Kwon Taechin~ kakakmu itu juga masih remaja, dia masih labil dan masih ingin menikmati hidupnya. Hati seseorang bisa saja berubah.”

Tae merilekskan otot-otot wajahnya. Lelah juga menekuk wajah lama-lama. Ia mengangkat dagu dan mulai tersenyum kecil pada sahabatnya. “Iya, kamu benar. Tapi aku tetap tidak suka.”

“Yah… Terserah kamu saja.” Minji mengulum senyumnya, memilih untuk tidak membalas ucapan Tae. Kalau dia membalas, Tae bisa tambah marah-marah dan bad moodnya bertambah.

… Mendadak, suasananya menjadi hening. Mereka berdua saling bertatapan sampai saking tidak tahannya, tawa mereka meledak begitu saja. Tae dan Minji adalah sahabat dekat, semua orang sudah tahu mengenai fakta itu.

“Tae! Chaerin-eonnie memanggilmu!” seru seorang teman sekelas disela-sela gelak tawa Tae dan Minji, membuat Kwon Taechin langsung menyunggingkan senyuman lebarnya dan berlari ke arah pintu kelasnya.

Eonnie!” serunya girang. Sedangkan gadis yang ditegur hanya tertawa dengan manis.

“Tae, kamu baik-baik saja, kan? Tadi kau seperti orang lain saja. Cemberut bukan ekspresi yang cocok untukmu, adikku.” Lee Chaerin—sunbae Tae, memeluk Tae dengan bersahabat. Gadis ini adalah kakak-kakakan Tae, sekaligus tempat curhatnya yang paling nyaman. Kelas tiga, seangkatan dengan Jiyong, tapi berbeda kelas.

“Daritadi aku bad mood gara-gara oppa. Aku sudah cerita tadi malam, kan?” Cengir Tae. Chaerin mengangguk pasti.

Ne. Tapi tidak baik kamu marah tanpa sebab seperti itu, karena Jiyong juga punya kebebasan. Minta maaf padanya dan jangan cemberut lagi, oke?”

Melihat senyuman Chaerin, hati Tae hanya bisa luluh. Entah kenapa gadis di hadapannya seperti punya kharisma yang membuat semua bebannya hilang seketika. Entahlah, kharisma itu rasanya seperti menyuruhnya untuk tunduk dan luluh tanpa melewati kata-kata. Tanpa berpikir lagi, ia mengangguk.

“Yasudah, aku kembali ke kelas, ya? Bilang pada Dae, belajar yang benar!” canda Chaerin, lalu melambaikan tangannya dan beranjak dari tempat itu, meninggalkan Tae yang tersipu malu. Chaerin sangat baik hati, kesini hanya untuk menanyakan keadaannya.

Oh, mengenai Dae, siapa dia?

Dia adalah Kang Daesung, sepupu dari Chaerin. Ibu Chaerin adalah kakak dari ayah Daesung, itulah yang menyebabkan marga mereka berbeda. Meski begitu kedua keluarga itu sangat dekat dan saling berkomunikasi satu sama lain, contohnya Chaerin dan Daesung yang selalu berangkat ke sekolah bersama-sama.

… Dan Dae adalah kekasih Tae. Sudah enam bulan hubungan itu, dan syukur mereka masih rukun-rukun saja.

“Tae-ya, Chaerin-noona sedang apa lagi tadi?” Daesung mendadak muncul di belakang Tae, ikut-ikutan menengok ke arah Chaerin pergi ke kelasnya.

“Dia mengkhawatirkan aku, jadi datang mengunjungiku.” Tae tersenyum puas, lalu menjulurkan lidahnya jahil pada Daesung.

Yah! Apa maksudmu menjulurkan lidah begitu!?” Daesung mengerjapkan matanya sementara Tae sudah kabur ke tempat duduknya lagi. Tae senang menggoda Daesung, mata pria itu lucu jika pura-pura marah. Dan itu menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Tae.

“Sudah selesai bad moodnya, Nona Taechin?” Minji terkekeh geli saat Tae sudah mendaratkan tubuhnya di bangkunya, dengan senyuman lebar yang terhias di wajahnya.

“Ya!” Tae mengangguk.

“Kalau begitu, bisa pulang sendiri kan nanti?” Daesung ikut-ikutan masuk ke pembicaraan. Tae hanya membalas kalimatnya dengan sebuah tatapan heran. “Nanti aku mau ngeband sebentar. Tidak sampai malam dan keluyuran kemana-mana kok. Ya ya ya ya ya??”

Melihat tatapan memohon Daesung, Tae hanya bisa mengangguk, membuat Daesung mengangkat tangannya ke atas dan mengecup ringan pipi merah Tae. “Gomawo, Nona Taechin~ Minji, bisa tolong titip Tae kan? Bye~” Daesung mengerlingkan matanya pada Minji, lalu berlari keluar kelas.

“Ada-ada saja si bodoh itu…” gumam Tae. Tapi sebenarnya, ia merasa gembira. Kecupan di pipinya terasa manis dan hangat.

Dan tanpa ia sadari, Minji sudah menatap lekat-lekat pria berambut cokelat itu, dengan jantung yang berdebar.

******

Oppa! Jangan makan kripikku!!”

“Beli lagi saja, sana.”

“Aish… Aku malas! Kenapa tidak kau yang beli saja? Itu kan kau yang makan! Itu hakku! Sebal! Sebal!!” Tae memukuli Jiyong yang tengah santai-santai di sofa dengan bantal, membuat pria itu melindungi dirinya dengan bantal yang lebih besar.

“Aduh! Iya! Jangan kasar-kasar!!”

“Aku sebal! Aku mau punya kakak seperti Chaerin-eonnie, bukan seperti oppa yang dulunya saja manis tapi sekarang semrawutan!” Tae mencibir kesal, lalu melipat tangannya di depan dada. Jiyong yang tadinya berlindung dengan bantal sekarang sudah memperbaiki posisinya dan menatap adiknya dengan tatapan bingung.

“Chaerin?”

“Iya, Chaerin-eonnie. Anak kelas tiga juga seperti oppa, masa oppa tidak kenal dengannya?”

Jiyong menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencoba mengingat sebentar. Chaerin? Entahlah, dia sering melupakan gadis-gadis di sekolahnya saking berisiknya gadis-gadis itu jika dia datang. Tapi… Gadis yang tadi… Namanya Chaerin bukan, ya?

Flashback

Jiyong bertengger di pinggir jendela lorong di depan kelasnya, 3-B. Temannya kebanyakan laki-laki karena dia cukup malas dengan gadis-gadis fansnya saking berisiknya mereka, dan Jiyong hampir selalu menganggap mereka angin lalu.

“Jiyongie, kau pacaran dengan gadis yang dua tahun lebih tua, ya?”

“Yap.”

“Kau harus tahu, pacarnya cantik sekali, loh!”

“Kau pernah melihatnya?”

Dan… Bla bla bla bla bla kwek kwek kwek. Entah kenapa akhir-akhir ini setiap kumpul, pasti yang jadi sasaran pembicaraan adalah pacarnya—Sandara. Kemungkinan sih kecantikannya itu yang membuat semua lelaki di sekolah penasaran, dan mereka bilang mengerti kalau level yang cocok untuk seorang Kwon Jiyong adalah yang seperti Sandara. Tapi jujur saja, Jiyong malas mendengar semua pembicaraan itu. Dia suka pada Dara karena gadis itu baik dan menarik, ia menjadikannya sebagai pacar karena memang ingin, bukan buat cari sensasi. Benar-benar.

BRAK!

“Tunggu—!”

Mendadak terjadi keributan di ujung lorong. Seorang siswi kelas dua dibawa kesana dengan segerombolan siswi kelas tiga yang berwajah kesal. Bully. Ya, bully. Tentu saja bully masih berlaku, kapanpun itu selama para senior tidak sensian dan dapat berpikir jernih.

“Senior, aku tidak melakukan apapun…!”

“Apa maksudmu menyindir kami lewat jejaring sosial?” *twitter* *anak jaman sekarang*

“Ti—tidak… Saya bukan menyindir senior…”

“Ngaku saja!!!”

“Tidak senior… Tolong…”

Jiyong kasihan melihat anak perempuan itu. Dasar. Gadis-gadis itu memang agak pengecut, menyerang satu orang saja harus beramai-ramai. Entah karena mereka memang ingin menghina gadis itu bersama-sama atau takut jadi perhatian jika sendirian. Atau malah mencari sensasi? Ha ha.

Jiyong beranjak dari tempatnya, berjalan dengan santai menuju gerombolan itu. Tapi sebelum dia bisa melancarkan aksinya, seorang gadis sudah maju duluan dan melindungi anak perempuan itu, saat ia mau ditampar.

PLAK!

“—! Maaf…!!!”

“… Kalian sedang apa, sih?” tanya gadis berambut sebahu itu ketus. Ia menatap semua siswi di hadapannya dengan tatapan tajam. “Memang masih zaman membully orang? Apalagi gadis ini sendiri. Dia ke sekolah bukan untuk mendapat tekanan seperti ini.”

“Tapi—tapi dia menghina kami! Dia bilang kami sok cantik dan sering pamer hanya untuk mencari sensasi!!”

“Terus kalian merasa seperti itu? Jujur saja, itu juga anggapanku. Jadi bukan hanya pendapat gadis ini saja.”

Mendengar itu, Jiyong terkekeh geli. Benar, gadis-gadis pembully itu menggelikan, sok cantik, dan apesnya mereka sering mendekati dirinya. Syukurlah ada yang berani jujur pada mereka.

“Ch—Chae…”

“Kalian ingin membullyku? Silahkan. Hanya tinggal tunggu saja tulang kalian patah sebagian.”

Dan setelah gadis berambut sebahu itu mengatakan hal itu, gerombolan itu langsung pergi. Jiyong mendecak kagum, merasa penasaran juga siapa gadis pemberani yang hanya dengan kedatangannya saja bisa membuat mereka bungkam. Mungkin dia punya suatu kharisma yang berbeda dari yang lain.

Setelah itu, gadis itu pergi untuk mengantar adik kelasnya yang tadi dibully kembali ke kelasnya. Gadis yang baik.

Flashback end

“… Ah, aku tidak yakin.” Jiyong menggelengkan kepalanya. Sedangkan Tae hanya menatapnya heran.

“Ada apa denganmu?”

“Tidak, tidak ada. Hanya mengingat sesuatu yang tadi terjadi saja.”

“Ah, baiklah. Pokoknya, aku harap oppa bisa jadi seperti Chaerin-eonnie! Dia contoh kakak yang baik!” ujar Tae dengan nada memerintah, lalu melengos pergi ke kamarnya, meninggalkan Jiyong.

“… Aku?” Jiyong terkekeh geli mendengarnya. Sebodoh amat dia seperti apa Chaerin itu. Yang pasti, ia ingin tahu siapa nama gadis pemberani yang tadi dilihatnya.

******

Minji berjalan mengitari pertokoan. Ia menggunakan topi baret berwarna hitam, kaos putih tipis dengan tulisan “Oh yeah! D.A.N.C.E” kecil berwarna hitam, jaket jeans, dan celana pendek hitam di atas lutut. Ia memperhatikan setiap baju yang dipasang di etalase toko.

“… Ah, kelompok street dance Youngbae oppa…” gumamnya pelan sembari memperhatikan beberapa orang yang tengah melakukan street dance di tengah jalanan. Banyak penonton mengitari mereka.

Mendadak, ia ingat percakapannya dengan Dong Youngbae—tetangganya yang merupakan seorang mahasiswa jurusan dance, mengenai kelompoknya. Youngbae sempat mengajak Minji untuk bergabung, tapi gadis itu memutuskan untuk berpikir dulu tentang itu. Jujur saja, dia belum pernah melihat kelompok oppanya itu secara langsung, jadi ini kesempatan untuk melihat.

Dengan segera, ia berlari ke arah kelompok itu, menonton dari dekat bagaimana mereka menari. Dan dalam sekejap saja ia sudah dibuat terkesima dengan shuffle, liquid, head spin, dan segala gerakan street dance.

“Hebat…!” Nafasnya tercekat. Tanpa sadar mulutnya menganga begitu saja, dan Youngbae yang secara tidak sengaja melihatnya hanya menorehkan senyumannya dan menghampiri gadis itu.

“Minji, jadi ikut?” Ajaknya, mengulurkan tangannya.

“Ya!” Minji mengangguk dengan semangat, lalu melakukan salto untuk masuk ke dalam arena dan mulai dengan liquidnya yang langsung menangkap mata penonton. Youngbae juga ikut kagum melihatnya.

Minji terus menari, mengikuti irama lagu dan melakukan poppin dance yang merupakan dance andalannya. Badannya bergerak secara refleks, tanpa bisa ia kontrol. Menari. Ya, Minji mengakuinya, kalau dia memang sangat menyukai seni tari modern seperti ini.

“Minji!”

Mendadak, debaran jantungnya mengeras. Matanya tertuju pada orang yang memanggilnya.

“Daesung!”

******

“Tadi kau keren sekali! Aku sampai terpesona. Kau juga bagian dari mereka?” tanya Daesung. Ia duduk disamping Minji yang tengah membuka tutup botol minumannya dengan sekuat tenaga.

“Eh? Bukan, aku hanya ikut saja. Kelompoknya punya tetanggaku, dan dia mengajakku bergabung.” Minji masih terus berusaha membuka tutup botolnya, dan dengan lembut Daesung mengambil alih botol itu dan membukanya secara cepat, membuat rona merah muncul di pipi Minji. “Te—terima kasih…” gumamnya.

“Sama-sama. Kenapa? Ikut saja kelompok itu! Aku tahu kau suka menari, di sela-sela jam olahraga kau suka diam-diam melakukan poppin dance. Aku kaget kau bisa melakukan hal lain selain itu.” Seru Daesung, dengan senyumannya yang riang seperti biasa.

“Hah…?” Minji terkejut mendengarnya. Kenapa Daesung bisa menyadarinya, ya? Padahal Tae saja yang sahabatnya tidak tahu tentang itu. Ia menahan debaran jantungnya yang semakin keras, berusaha untuk menahan luapan perasaannya. Apa-apaan sekali sih, dia merasa deg-degan seperti itu? Daesung kan… Kekasih sahabatnya!

Minji menggigit bibirnya pelan, lalu dengan salah tingkah melirik ke arah Daesung yang masih tersenyum ke arahnya.

“Jadi? Kau masuk saja ke kelompok tari itu! Akan kutonton setiap saat.” Ujar Daesung. Ia mengangguk yakin.

“… Jinjja?” Minji menahan rasa malunya, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Masuk, tidak. Masuk, tidak. Tapi, berhubung Daesung sudah berkata begitu, maka…

******

Eonnie! Aku tidur dulu yaaa~”

“Yaaa! Selamat tidur, Tae!”

Tae menutup pintu kamarnya perlahan, lalu menghela nafas. Ditatapnya layar ponselnya, tidak ada sms dari Daesung. “Kemana saja sih, pemuda itu? Awas saja kalau sampai aneh-aneh!”

Entah kenapa, firasatnya agak tidak enak tentang ini. Tapi ditepisnya perasaan itu dan beranjak ke kasurnya.

Dae… Kenapa kamu tidak mengabari aku?

Continued to part.2

******

Hai~ maaf telat yah._. Dan itu Taechin-Eonnie maap yah tibatiba Taeyang jadi punya kelompok dance dan Minji ikutan T.T di luar skenario memang…

Semoga segala cerita gajelas yang ada disini diampuni==”v tunggu apdetannya ya! Dan… Tunggu tiga FF yang udah pernah saya janjikan dari jaman bambu yang dimakan si panda masih lima meter *sekarang udah tinggal satu mili* untuk release😀 bismillah yaAllah itu FF bakal selesai…