Poster By : mbah gugel

 

author : chanyb

Title : AMeU

Main Cast : Dong Young Bae – Kim Ra Ra (OC)

Genre : fluff, romance

Length :drabble

Disclaimer : Plot kepunyaan saya, Taeyang juga punya saya walaupun janur kuning telah melambai.
Saya yakin tidak akan ada yang mau copas cerita gaje ini ^o^

======>

Entah ini sudah kali keberapa Rara melirik arloji dan pintu masuk kafe berdesain klasik, secara bergantian. Bola matanya yang bulat dengan iris gelap sekelam malam—tadinya tampak berbinar. Namun sekarang, kilatan cahayanya mulai meredup setelah lebih dari dua jam ia duduk di sana.
Menyibukkan diri dengan mengetuk-ngetuk meja sambil menyeruput kopi espresso. Menunggu seseorang yang tak lama lagi akan menghampiri dirinya. Mungkin.

Rara sudah berjanji ini kali terakhir ia memesan kopi espresso dan akan menyeruputnya pelan-pelan, berharap pada seruputan terakhir ia mendapati senyuman bulan sabit milik pemuda yang ia tunggu, telah terkembang di depan matanya.
Percayalah, ia takkan curang.
Rara akan benar-benar menyeruputnya sedikit demi sedikit, tidak seperti sebelum-sebelumnya menenggak dengan serakah.

Tapi, sampai espressonya kandas pemuda itu tidak kunjung menampakkan senyuman khas di garis wajah tegasnya. Memang, ini bukan sepenuhnya kesalahan pemuda itu, Bae.
Ini murni karena keegoisan dirinya yang tak mengizinkan Bae menjawab apalagi menolak ajakannya saat mereka berkomunikasi via telepon tadi pagi.

Baiklah sepuluh menit lagi!
Rara menggumam.

Kalau Bae tidak datang, ia akan menyerah dan akan tetap menyimpan perasaannya rapat-rapat sampai pemuda itupun tidak menyadari perasaannya.

Satu menit… Tiga menit… Lima menit… Delapan menit… Sembilan menit…
Demi Tuhan, apakah jarum jam pada arlojinya terlalu cepat? Tidak! Tidak mungkin! Arlojinya sudah diatur sedemikian rupa agar tepat menunjukkan waktu yang ia miliki untuk menunggu.

Seraya mendesah kecewa Rara melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja berbentuk bundar, lalu menyambarnya.
Ini sudah batas terakhir. Jadi, mau tidak mau Rara harus menyerah.

Namun setidaknya, sebelum Rara pergi. Ia akan menelepon Bae lebih dulu, memberitahukan pemuda itu agar tidak usah datang.

Bodoh! Kenapa ia masih peduli pada pemuda yang samasekali tidak memedulikan dirinya?

Karena cintakah?
Tak tahukah ia rasa cintanya itu terlalu naif? Asal dia—Bae bahagia ia juga bahagia. Ayolah, tidak ada yang seperti itu di dunia nyata! Yang ada hanya kata MENYAKITKAN!

Belum sempat ia menekan beberapa digit nomor, ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk dari Bae.

Pasti dia ingin meminta maaf karena tidak bisa datang. Pasti.
Batin Rara semakin kecewa. Tapi, ia tetap harus menjawab setenang mungkin.

“Tidak apa-apa, aku mengerti!”
Rara berujar sendiri. Bukan pada siapa-siapa. Mengingatkan dirinya agar tidak terbawa emosi.

Cepat-cepat Rara menempelkan ponselnya ke daun telinga dan seulas senyum tipis terkembang di bibir mungilnya, setelah panggilan itu berakhir. Kata Bae, “Tunggu aku sebentar lagi!”
Dia sedang dalam perjalanan.

Selang beberapa menit, Bae benar-benar datang menghampiri dirinya dengan mengulas senyum. Seperti dugaannya semula.

“Kau sudah lama menunggu?”
Bae berujar ketika ia sudah duduk berhadapan dengan Rara.

Rara tersenyum samar. Tidak mengiyakan juga tidak membantahnya.
Yang ia tahu, sekarang adalah waktu paling tepat untuk mengungkapkan perasaannya.

“Bae, aku….”

“Aku mencintaimu, Rara!!”

“Heh??”

“Tidak akan kubiarkan kau mendahuluiku!!”
.
.
.
– Udahan Dulu Yaw –