*pertama kali bkin poster, jd maap klo hasilnya jelek -__-v*

The Knit Hat
Author : Atikpiece
Main Cast : Gong Minji – Kang Daesung
Other Cast : Lee Chaerin, Sandara Park, Lee Seunghyun/Seungri, Kwon Jiyong
Genre : Romance, Friendship, AU
Rating : G
Length : Oneshoot

FF ini tercipta untuk memperingati (?) hari ulang tahun Kang Daesung-oppa ^o^ *saengil chukae hamnida,oppa !* #peluk Daesung #digorok VIP T_T
dan mnurut Author, FF ini beneran panjang, *sebenernya mau aq bkin twoshoot tpi ntar takutnya agak gimanaaa gtu ^^v* jadi siapkan mental kalian agar saat d tengah jalan kalian nggk ngantuk. wkwk ^^v

oke, let’s cekiduut ! –>

-KyeongIn High School at 13.30 KST-

Gadis berambut pendek sebahu itu mulai berdecak pelan ketika ia melihat ke luar jendela kelasnya, menatap bulir air hujan yang turun secara bergantian namun cepat.Ini menandakan bahwa gadis itu merasa kesal karena ia lupa membawa payung.Padahal, sepulang dari sekolah nanti, ia harus pergi untuk menjenguk Lee Chaerin karena sahabat karibnya itu sedang mengalami demam.

Di tengah-tengah pelajaran Sosiologi yang begitu membosankan itu, ia mulai berkutat sendiri dengan pikirannya.Sambil melihat bangku kosong yang hanya berjarak berapa meter darinya, ia hanya tersenyum simpul.Sudah ia duga bahwa pria yang selama ini ia kagumi itu tidak masuk lagi alias absen.Bahkan, sudah 1 minggu ini pria itu tidak datang.

Ya, tentu saja.Mana bisa di tengah-tengah kesibukannya pria itu menyempatkan diri untuk datang ke sekolah.Setelah seminggu yang lalu ia menjadi orang terkenal di kalangan para remaja sekaligus menjadi artis dengan debutnya sebagai seorang penyanyi.

“Tolong perhatikan baik-baik pelajaran saya,Gong Minji !”

Gadis itu terlunjak dan menoleh ke asal suara.Karena saking kagetnya ia meringis begitu mendapati guru berkacamata tebal dan berkepala botak itu sudah memberi peringatan atas apa yang ia lakukan barusan.Melamun.Melamun di saat jam pelajaran berlangsung.

“Maaf, seongsaenim.”

Selang berapa menit, guru itu pun kembali melanjutkan penjelasannya.Selebar apapun guru itu bicara, tidak ada satupun kalimatnya yang masuk kedalam memori otak gadis itu.Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan.Tidak hanya itu, siswa-siswa lain pun sama halnya dengan dia.Bahkan ada juga siswa yang langsung terserang virus kantuk kemudian ia letakkan kepalanya di atas meja, melanjutkan aksinya untuk tidur.

Tapi, tidak bagi siswa-siswa yang duduk di deretan depan.Mereka terus menyimak setiap kata dan kalimat yang guru itu ucapkan.Namun, di samping itu mereka juga harus mengalami pengalaman pahit akibat beberapa tetes air ‘hujan’ yang tidak sengaja keluar dari mulut guru itu.Tercurah, terciprat kesana kemari.Hmm..sepertinya setelah jam pelajaran Sosiologi usai, mereka akan langsung berbondong-bondong menyerbu toilet.Sungguh nasib yang malang…

****

-Lee Chaerin’s Apartement at 15.00 KST-

Gong Minji mulai menyibakkan rambut pendeknya ketika ia sudah memposisikan diri untuk duduk di samping ranjang milik Chaerin.Kepalanya ia condongkan ke depan menatap raut wajah Chaerin yang memang terlihat sedikit pucat.Tapi, dilihat dari kondisinya, mungkin sudah mulai membaik.Terlihat ketika ia mencoba tersenyum menatap Minji yang masih duduk terpaku melihatnya.

Kemudian Chaerin pun mencoba bangkit dari ranjang dan mulai menyandarkan tubuhnya yang sedikit lemas itu di kepala ranjang.Tidak lupa ia juga dibantu oleh Minji.Sambil tersenyum kaku ia memutar kepalanya menghadap gadis bermata sipit dan berpipi chubby itu.

“Bagaimana ? Apa dia sudah masuk ke sekolah lagi ?”

Gong Minji menggeleng.Dia sudah tahu, pasti yang dimaksud oleh Chaerin adalah pria yang saat ini tengah ia idolakan.

“Hahh… aku pikir dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya.“

Kali ini Minji hanya bisa diam.Jika dipikir baik-baik, mungkin memang benar.Pria itu sibuk dengan debutnya sebagai penyanyi.Jadi dia tidak bisa datang ke sekolah hanya karena ia harus bekerja demi keluarga juga fansnya.

Dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada, Chaerin melirik kearah Minji.

“Kenapa kau tidak cari pria lain saja ? Sudah jelas bahwa pria itu tidak begitu memandangmu sekaligus tidak begitu memperhatikan dirimu.”

”Tidak ! Tidak bisa begitu !” Bentak Minji.Kemudian dia menggeleng kuat-kuat, pertanda ia tidak setuju dengan usul Chaerin yang menurutnya sedikit mengesalkan itu.

”Dia itu cinta pertamaku sejak kecil, kau tahu ? Cinta pada pandangan pertama di saat ia menolongku di tengah badai salju di Itaewon.Jadi sampai kapanpun aku tidak boleh berpaling darinya.”

“Ya, ya.. dia menolongmu di tengah badai salju di Itaewon.Kau sudah berulang kali menceritakannya padaku.” Ujar Chaerin malas-malasan.”Tapi, itu sudah 12 tahun yang lalu dan itu adalah waktu yang sangat lama.Mungkin, setelah itu dia sudah tidak mengingatmu lagi.Lagipula, kita berdua satu kelas dengannya sedangkan kau sama sekali tidak berusaha untuk mengingatkan dia tentang kejadian itu lagi.Iya kan ?”

Minji membuka mulutnya lebar-lebar dan ingin mengatakan sesuatu, tapi ia menutup mulutnya kembali, mengurungkan niat untuk mengekang pendapat Chaerin barusan.

Tapi, Chaerin memang benar.Selama ini Minji terus mengingat kejadian itu dan menjadikan pria tersebut sebagai cinta pertamanya.Sedangkan pria itu, dia sama sekali tidak ingat jika Minji adalah orang yang ia tolong waktu itu dan Minji juga sama sekali tidak menceritakannya kembali kepada pria idolanya itu sejak mereka berdua duduk di bangku kelas yang sama.

Namun sebenarnya, 1 bulan sebelum pria itu menjadi artis, Minji sudah mempunyai niat untuk menceritakannya.Tapi, tidak tahu kenapa dia merasa gugup ketika dia sudah berada di dekat pria itu.Rasa malu,tidak yakin,gemetaran bercampur jadi satu.Maka dari itu Minji benar-benar tidak bisa melakukannya.Padahal itu pun sudah ia rencanakan.

Tatapan lesu tiba-tiba tercurah dari wajah Minji sambil menunduk.Terlihat bahwa gadis itu benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.Mengingat kejadian 12 tahun lalu sejenak membuat ia berpikir.Memang, kejadian itu sudah cukup lama.Tapi, terus terang ada satu hal yang sama sekali belum ia lakukan sejak pria itu menolongnya.

Dia belum mengucapkan terima kasih.

Dua kata yang singkat namun bermakna itu tentu saja belum ia ucapkan pada pria itu karena setelah menolong Minji, pria itu sudah buru-buru pergi.Jadi, menurut pemikirannya, tidak ada salahnya jika ia memberikan sesuatu untuk pria itu.Sebagai tanda terima kasih karena sudah menolongnya.Awalnya ia tersenyum begitu ide itu terlintas di dalam benaknya.Tapi, tiba-tiba senyumnya menghilang.Kenapa ide itu baru muncul di saat-saat seperti ini,hah ? Dasar pabo ! Rutuk Minji dalam hati.

“Chaerin-ah..” ucap Minji pelan sampai Chaerin menoleh ke arahnya. “Lupakan soal tadi.Biarpun saat ini dia sama sekali tidak mengingatku lagi, tapi, aku sudah punya rencana untuk memberikan dia sebuah ‘hadiah’.”

****

-Mall at 17.00 KST-

Lee Chaerin segera mempercepat langkahnya ketika ia sudah mendapatkan barang yang ia cari.Kepalanya menoleh kesana kemari mencari sosok Gong Minji yang sudah pergi entah kemana.Huh, kemana anak itu pergi ? Aku sudah berusaha mencari benda yang ia perlukan,eh… dia malah meninggalkanku.Gerutu Chaerin yang masih terus mencari gadis seusianya itu.Ia sudah mencari di setiap tempat.Tapi, ia sama sekali tidak menemukannya.

Kemudian ia buru-buru mengambil ponsel dari saku jaket tebalnya, mencari nomor ponsel Minji pada kontak sampai akhirnya ia menemukan nama Gong Minji tertera di layar ponselnya.Ditekannya tombol hijau hingga terdengarlah nada sambung ponsel Minji.

“Hei, kau dimana ?” tanya Chaerin setengah berteriak begitu ia mendengar suara Minji di seberang.

“Aku di lantai dua.Sebentar lagi aku akan turun.Tunggu saja aku di meja kasir.. Tapi, kau sudah menemukannya, kan ?“

“Sudah.Ternyata butuh waktu lama untuk mencarinya….Eh, tunggu, emm… untuk apa kau berada di lantai dua ? Yang aku tahu, di lantai dua itu hanya ada stand alat-alat tulis.”

”Aku mencari pernak-pernik.”

”Pernak-pernik ?” Lee Chaerin mengangkat sebelah alisnya sembari berjalan mendekati meja kasir dengan langkah yang diperlambat. “Untuk apa ? Jika ditambah dengan pernak-pernik, aku takut nanti hasilnya akan tambah jelek.”

“Bukan begitu.Ini hanya sebagai hiasan pada kotaknya saja.”

“Oh.” Ucap Chaerin datar. “Ya sudah.Aku sudah sampai.Sebaiknya kau cepat turun.”

KLIK !

Lee Chaerin memutus panggilan dan mengembalikan ponsel ke tempat asalnya.Sambil bersenandung pelan ia memandang ke sekeliling Mall.Gadis itu juga sedikit menikmati musik yang mengalun dari speaker kecil yang terpasang di setiap sudut Mall.Sampai akhirnya ia menemukan sosok Minji yang sedang turun lewat eskalator sambil membawa barang-barang keperluannya.

Minji lalu tersenyum begitu ia mendapati satu gulungan benang wol beserta dua buah stik sebagai pengait itu telah berada di tangan Chaerin.Tidak lupa Minji juga sudah membawa barang-barang berupa kotak, kertas kado warna biru, pita, pernak-pernik dan buku panduan yang telah ia persiapkan untuk membuat sebuah hadiah kepada pria idamannya.

Setelah semuanya terbayar, kedua gadis remaja itu berjalan beriringan menuju pintu keluar Mall sambil membawa barang-barang mereka.Wajah Minji seketika berseri atas rencana apa saja yang sudah ia susun sejak jauh hari.Yaitu semenjak ia pulang dari rumah Chaerin yang sedang demam sampai akhirnya sahabat karibnya itu sembuh dan bersiap untuk menemaninya berbelanja ke Mall.

“Kau yakin atas semua rencanamu itu ? Jika aku pikir baik-baik, cara membuatnya tidak semudah yang kau bayangkan.”

“Yakin ! Aku pasti bisa melakukannya.” ucap Minji tegas tanpa memandang Chaerin.

Selang berapa menit…

“Bagaimana jika saat kau akan memberikan hadiahmu padanya, dia tidak kembali lagi ke sekolah ? Atau mungkin selamanya dia tidak akan datang lagi ke sekolah ?”

“Aku akan datang ke apartemennya.”

“Benarkah ? Memang kau tahu alamatnya ?”

Sejenak Minji berhenti melangkah dan memandang Chaerin yang sedang menatapnya dengan tatapan bingung.Berpikir sebentar dan hanya beberapa detik Minji tersenyum lagi.

“Cari saja di ruang Tata Usaha.Mudah,kan ?” Kemudian ia melanjutkan langkahnya kembali, meninggalkan Chaerin yang masih berdiri mematung menatapnya.Dengan sekali hembusan napas, gadis berambut panjang itu hanya bisa bergumam.

”Aku sepenuhnya tidak yakin.Tapi… semoga berhasil, Gong Minji..”

*****

Next day..

-KyeongIn High School at 06.30 KST-

”Ooohh.. Jadi ini ya yang namanya Topi Rajut buatan tangan ?” tanya Sandara, teman Minji sambil memperhatikan baik-baik bentuk topi rajut buatan Minji yang baru jadi setengahnya itu.Gadis berambut pendek itu hanya membalasnya dengan mengangguk.

“Wah, hebat…. Aku tahu,kau pasti kesulitan ketika memasangkan benang wol ke pengaitnya juga merajutnya.Sampai berbelit-belit begini.Padahal, membuat yang seperti ini membutuhkan waktu yang lama,kan ?”

“Ya, begitulah.Tanganku sampai pegal karena melakukan hal yang tidak biasa.Ditambah lagi, aku benar-benar tidak terampil.” Minji kemudian menopang dagunya dengan sebelah tangan lalu ia letakkan di atas meja.Kedua matanya masih fokus memandang topi rajutannya.

Chaerin, yang tengah berdiri di antara keduanya langsung mengambil topi rajut itu dari tangan Sandara dengan hati-hati.Kemudian ia memperhatikan setiap benang yang telah dirajut itu dengan detail.Yah, Chaerin memang lebih handal soal jahit-menjahit.Dari ukuran, jarak, semuanya ia perhatikan.

“Apakah terjadi sesuatu saat kau merajutnya ?”

Mendengar pertanyaan Chaerin, Minji sedikit membuka mulutnya.Sahabat karibnya ini seakan-akan mengerti apa yang ada di dalam pikirannya sekarang.Dan yang pasti, selama pembuatan topi rajut itu memang terjadi sedikit masalah,membuat Minji akhirnya mengangguk antusias.

”Iya, dan itu semua karena oppa-ku, Seungri !!”

Flashback

Gadis itu sedang mengerjakan pembuatan topi rajutnya dengan santai sambil duduk di atas lantai yang beralaskan karpet merah.Tidak lupa ia juga ditemani oleh buku panduan yang sudah terpampang dihadapannya.Setelah ia belajar selama 1 jam yang memang membuat otaknya jenuh.Di tambah lagi ia merasa kesulitan ketika memasangkan benang ke pengaitnya hingga membutuhkan waktu 20 menit agar benang tersebut dapat terpasang.Tapi, begitu ia mulai merajut sampai hampir dari setengahnya..

BRAK !!

BREET !!

”Minji-aaaah.. !!” Teriak Seungri setelah ia membanting pintu kamar Minji dengan keras.Kedua matanya melotot seakan keluar dari tempatnya, menghadap Minji yang sedang menatapnya dengan tatapan polos, biasa saja, setelah ia kaget dan menggeser posisi ia duduk sedikit ke belakang.Tapi, dari dalam lubuk hatinya Minji merasa sungguh kesal dengan Seungri karena pria itu baru saja membuat masalah dengannya.

Sesaat hening.Tidak ada suara apapun yang menyeruak dalam keheningan malam di kamar Minji waktu itu.Dan hanya ada bunyi jangkrik yang suaranya berasal dari luar rumahnya.Seungri, yang masih berdiri di depan kamar hanya bisa menatap Minji yang mulai memutar kepalanya, melihat hasil rajutannya yang sudah…

“Aaaaaaaa !!! Rajutannya robek… !!!” Teriak Minji yang tidak kalah dahsyat dengan teriakan Seungri sebelumnya. “Pengaitnya juga lepas !! Aigo ! Bagaimana ini ?? Aku harus bagaimana ??”

Dirinya mondar-mandir kesana kemari di dalam kamar sambil memegangi kepala layaknya orang stress yang sedang mengalami gangguan jiwa akibat banyaknya pekerjaan yang belum terselesaikan.Selang berapa detik ia menatap rajutannya yang sudah rusak itu lagi, kemudian ia mondar-mandir lagi sambil menggerutu tidak jelas.

“Ada apa ? Kau ini kenapa,hah ?” tanya Seungri sambil melangkah masuk ke kamar.Ia tidak tahu bahwa sebenarnya Minji sedang menggerutu karenanya.Tatapan Minji pada Seungri kali ini tampak begitu menyeramkan, menakutkan.

”Oppa ! bukankah kau sudah diajari yang namanya tata krama ?? Seharusnya sebelum kau masuk, ketuk pintunya dulu ! Jangan asal dobrak ! Dasar, Oppa ini membuat orang kaget saja !” Bentak Minji yang hanya ditanggapi oleh senyum kikuk Seungri.Pria itu hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. ”Mianhae..”

”Dan lihat ! Karena Oppa, rajutan itu jadi robek !!” Seungri kemudian menatap rajutan hasil kerja Minji yang sudah robek, hampir terbelah menjadi dua itu dengan senyuman paksa, dan memasang tampang tidak bersalah.Dilihatnya Minji yang langsung menjatuhkan diri di karpet dan segera memperbaiki hasil rajutannya itu dengan mimik muka kusut.

”Mianhae, jeongmal mianhaeyo.” Kata Seungri di ikuti dengan aksi jongkok, menatap Minji yang hanya bergumam sebentar, kemudian ia melanjutkan pekerjaannya kembali.

”Hmm… ngomong-ngomong..Minji-ah, sejak sore Eomma belum pulang juga dari bekerja, Jadi… sekarang buatkan aku makanan,ya ? Oh, kalau kau tidak bisa, kau mau beli makanan di supermarket sebelah juga tidak apa-apa.Ya? ya? ya? Kau mau kan ?”

Gadis itu lalu melirik Seungri dan menatapnya dengan tatapan tajam.Membuat pria yang awalnya memasang mimik muka imut-imut dan di-aegyeo-kan itu menjadi bergidik ngeri dan merinding.Sudah jelas bahwa pria itu telah merusak hasil rajutan Minji.Tapi, dia masih sempat juga merecoki adiknya.Seperti dia tidak ada rasa bersalah saja.

”Shireo !! Oppa beli saja sendiri !”

”Aah.. kali ini saja,ya ? ya ?.. Jebal…”

”Huh ! Oppa ! Kau pilih beli sendiri atau aku akan buatkan makanan untukmu tapi dengan satu syarat bahwa aku akan menambahkan jahe ke semua makanan yang sudah aku buatkan untukmu ! Bagaimana ? Setuju ??”

”Yak ! Kau tidak bisa begitu !”

”Kalau Oppa tidak mau, aku akan melaporkanmu pada Eomma kalau kemarin secara diam-diam Oppa menghabiskan kue yang akan di sumbangkan ke Panti Asuhan.Padahal, yang makan itu Oppa, tapi aku yang dimarahi !” kata Minji dengan nada tinggi dan menggebu-gebu.

Seungri menelan ludah.Sudah ia duga bahwa adik perempuannya itu pasti akan mengancamnya.Ancamannya itu pun sudah diambang batas dan membahayakan.Mungkin karena ia merasa tidak senang karena pria itu telah mengusik ketentramannya sekaligus telah merusak rajutannya.Dan soal jahe, memang sejak awal, pria itu sudah tidak suka, bahkan sangat benci dengan bumbu dapur yang satu itu.

”Ya sudah.. lanjutkan saja pekerjaanmu.”

Akhirnya, pria itu melenggang pergi dari kamar Minji dengan tatapan muka lesu.Sudah lapar, tidak bisa makan, ingin beli makanan tapi uang bulanannya sudah hampir merosot.Huh ! Dasar, adik durhaka ! Batin Seungri.

Di samping itu,Minji pun masih berkutat dengan rajutannya sambil mendelik gusar dan mulutnya juga tak henti-hentinya berkomat-kamit.

Flashback End

”Begitulah.” kata Minji mengakhiri ceritanya yang disambut tatapan polos Chaerin.Begitu juga dengan Sandara.Kemudian mereka berdua kembali menatap hasil rajutan Minji dan seketika itu mereka hening.

”Pantas saja jaraknya berantakan.” ucap Chaerin di sambut anggukan kepala Sandara.Minji yang menatap mereka berdua pun hanya berdecak pelan dan pandangannya juga tampak kusut.Pupus sudah harapannya.Dia rasa,perjuangannya mungkin akan sampai disini saja dan akan terasa sangat sia-sia.

”Hei, wajahmu jangan seperti itu.Tidak apa-apa,kok.Seburuk apapun hasilnya, pasti dia akan menghargai usahamu dan menerimanya dengan senang hati.Lagipula, menurutku hasil rajutanmu ini juga sudah bagus.” Sambil menepuk kedua bahu Minji,Sandara berusaha untuk menghiburnya.Sekaligus berusaha untuk membangkitkan semangatnya lagi.

”Tapi, mungkin dia akan menganggapnya sebagai barang murahan.” wajah Minji masih kelihatan seperti sebelumnya, kusut.

”Tidak mungkin.Dia bukan tipe pria yang seperti itu.Kau tahu kan, kalau dia adalah pria yang sangat baik dan ramah.Bahkan, dia juga pernah menolongmu di saat badai salju.Iya kan ?” Kata-kata Sandara barusan seakan membuat Minji mengingat kejadian waktu itu lagi.Kemudian, tak berapa lama gadis itu akhirnya tersenyum, menatap Sandara yang tengah mengepalkan tangan di hadapannya.Walaupun rasanya sedikit terpaksa.

Benar.Memang sebaiknya dia tidak boleh putus asa.Tidak boleh putus harapan di tengah jalan.Dia harus meneruskan topi rajut itu sampai selesai demi pria itu.Dan dia harus menyelesaikannya dalam waktu dekat karena musim dingin di Korea akan segera tiba.

Chaerin hanya bisa menghembuskan napas panjang dan tersenyum begitu mendapati dirinya meletakkan hasil rajutan itu di meja Minji.

……..

”Wah !! Lihat ! Itu Kang Daesung !!”

Gong Minji langsung memutar kepalanya begitu nama pria idamannya itu disebut oleh salah satu siswa perempuan yang berdiri di ambang pintu dengan wajah berseri-seri.

“Mana, mana ??“ sahut yang lain sambil berlari keluar menghampiri siswa tersebut.Begitu juga dengan siswa-siswa perempuan lainnya.

“Itu, yang sedang berjalan kemari itu ! Lihat ! sekarang rambutnya dicat putih ! Oh, akhirnya dia masuk ke sekolah lagi. Aigoo !!“

“Benar ! Dia jadi bertambah keren ! Aah.. senyumnya juga masih sama !“

“Kyaa !! Daesung-aah !!”

Siswa-siswa yang sedang bergerombol di ambang pintu itu pun langsung berteriak histeris begitu pria bernama Kang Daesung itu telah masuk ke dalam kelas setelah menerobos kerumunan itu.Kang Daesung tak henti-hentinya tersenyum mendapati para siswa perempuan itu tengah berbondong-bondong mendekatinya.

Tidak hanya para siswa di kelas itu saja, para siswa perempuan yang berada di kelas lain pun saling berdatangan demi bertemu dengan Kang Daesung.

“Daesung-ah.Kau tahu, aku ini fans beratmu,lho !” Teriak salah satu siswa.

“Daesung-ah, aku ingin minta tanda tanganmu !”

”Aku juga, oh iya.. ini, aku ada coklat untukmu !” Tambah yang lain sambil menyodorkan satu kotak coklat pada Daesung.Daesung menerimanya sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih.Kasihan…di pagi buta seperti ini, pria bermata sipit itu harus rela mendengarkan teriakan-teriakan yang membahana di kelas tersebut.Maklum, dia baru saja menjadi artis terkenal.Tapi, biarpun begitu, ia harus melayani fansnya dengan baik, sopan dan ramah.Begitulah prinsipnya.

Namun, berbeda dengan ke-3 gadis yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan bengong.

”Wah, benar-benar diluar dugaan.Pria itu ternyata menyempatkan diri untuk datang ke sekolah lagi.” ucap Lee Chaerin pelan.

”Benar, aku kira, selamanya dia tidak akan datang lagi kesini.” Kemudian Sandara melirik Minji yang masih duduk terpaku menatap Daesung.

”Hei, pria idamanmu itu sudah datang lagi.Kau senang kan ?”

Minji mengangguk cepat sambil tersenyum senang.Diperlihatkannya gigi-giginya yang rapi,pertanda saat ini ia merasa sangat bahagia.Bisa bertemu Kang Daesung sekaligus cinta pertamanya itu lagi setelah sekian lama.

Dilihatnya rambut Daesung yang saat ini sudah dicat warna putih.Padahal, sudah jelas kalau itu melanggar peraturan sekolah.Tapi, karena dia sudah menjadi artis, para guru mana bisa menegurnya.Malah, guru-guru itu merasa bangga padanya.

Semakin lama, kedua tangan Minji semakin erat menggenggam topi rajut itu dengan tekat bahwa demi Daesung, ia harus menyelesaikannya sampai akhir hingga ia memberikan topi rajut itu tepat pada waktunya dan menunggu penantian pria itu untuk memakainya di musim dingin nanti.

****

~18 Desember 2011, Winter In Seoul~

-Kang Daesung’s Apartement at 12.00 KST-

Gadis bernama Minji itu sudah berdiri di depan pintu apartemen Kang Daesung dengan kedua kakinya yang sedikit gemetar.Gugup.Itulah yang saat ini tengah ia rasakan.Berhubung musim dingin di Seoul telah tiba, dan di wilayah tersebut juga sedang dilanda hujan salju, akhirnya gadis itu pun segera menyempatkan diri untuk datang ke apartemen Daesung, dengan tujuan untuk memberikan hadiah topi rajut yang sudah ia buat selama beberapa minggu itu.

Yah, walaupun menurutku hasil rajutanku sangat jelek dan jaraknya berantakan, tapi aku yakin, Daesung pasti akan menerimanya.Ayo, Gong Minji..semangat ! Gumam Minji menyemangati dirinya sendiri setelah ia menarik napas dalam-dalam dan ia hembuskan dengan perlahan.

TING TONG !

Minji telah menekan bel di samping pintu apartemen pria itu.Tapi, begitu ia mendengar suara derap langkah Daesung mendekati pintu apartemen yang kedengarannya sangat jelas, ia langsung meletakkan kotak berbungkus kertas kado warna biru yang berisikan topi rajut itu di depan pintu dan ia cepat-cepat bersembunyi di balik semak-semak yang sudah penuh dengan gumpalan salju sambil berjongkok.

Rasa gugup masih menyelimuti dirinya.Kakinya juga masih gemetaran.Aish ! Pabo ! disaat aku ingin sekali bertemu dengannya, kenapa aku harus bersembunyi darinya ? Aku ini, seperti anak kecil yang jahil dan suka menekan bel rumah orang sembarangan saja.Rutuk gadis itu dalam hati.Tapi, mungkin karena rasa malunya kepada Daesung teramat sangat besar, ia harus melakukan hal yang sangat memalukan itu.

CKLEK !

Kepala Daesung langsung menyembul keluar begitu pintu apartemennya terbuka.Kepalanya menoleh kesana-kemari mencari seseorang yang tadi telah menekan bel.Tapi, ternyata tidak ada siapa-siapa disana.

“Ish.. di musim dingin seperti ini masih ada saja anak kecil yang suka jahil.“ Katanya kesal sambil menghembuskan napas dengan sedikit tekanan.Gadis yang tengah bersembunyi tak jauh dari tempat Daesung berdiri itu hanya bisa menggigit bagian bawah bibirnya.Memang benar apa yang dikatakannya.. aku ini seperti anak kecil yang suka jahil, batin gadis itu.

Selang berapa menit, pria itu hendak masuk lagi ke dalam apartemennya.Tapi, sebelum ia kembali, kepalanya menunduk dan ia melihat ada sebuah kotak berbungkus kertas kado warna biru tergeletak di samping jemari kakinya.

“Apa ini ?“ gumamnya setelah ia mengambil kotak itu dan menatapnya lekat-lekat pernak-pernik yang menempel di sekitarnya.Ada sebuah tulisan “For : Kang Daesung“ di bagian atasnya di sertai dengan gambar kartun Daesung yang sedang tersenyum.Memang bentuknya sedikit berantakan tapi di sisi lain,gambar itu jadi kelihatan sangat lucu.

Kemudian, di sebelah kiri tulisan itu, terdapat sebuah tulisan “From : G.M.J“ warna merah muda.

“G.M.J ? Apa… G.M.J itu nama samaran dari fansku,ya ? … Ah.. entahlah.Mungkin ini darinya.“ Katanya sambil tersenyum, memperlihatkan kedua matanya yang menyipit.Dan karena senyuman itulah yang membuat semua orang menganggapnya bahwa ia adalah pria yang ramah juga baik hati.

Sambil membawa kotak itu, Daesung lalu masuk ke dalam apartemen sampai gadis itu muncul dari semak-semak dan bernapas lega.

“Syukurlah, dia menerimanya.“ Gumam gadis itu sambil tersenyum simpul.Dirasakan hatinya sudah plong, lega.Karena Daesung telah mengambil hadiah itu darinya dan ia juga menyambutnya dengan senyum khasnya.

Di sisi lain, akhirnya rasa terima kasih Minji telah terbalaskan.Semoga topi rajut itu akan sangat berguna dan gadis itu berharap semoga pria itu akan memakainya kemanapun dan kapanpun.

****

“Yo ! Siapa tamunya ? “ Sahut Kwon Jiyong sambil tersenyum, dia adalah teman Daesung semenjak pria bermata sipit itu memulai debutnya sebagai penyanyi.Dan dia berumur 1 tahun lebih tua dari Daesung.Saat ini, pria itu sedang mampir ke apartemen Daesung di sela-sela waktu senggangnya karena dia juga membutuhkan waktu untuk beristirahat sejenak dari kesibukannya sebagai rapper, produser, komposer juga penulis lagu.

Kemudian, pria itu meminum coklat panasnya tanpa mengalihkan pandangan dari Daesung.Sepertinya ia sedang menunggu jawaban dari Daesung yang masih berdiri mematung.

“Tamunya tidak ada.“ Jawabnya singkat. “Tapi, sepertinya ada seorang fans yang memberikan aku, ini.“ Sambil berjalan menghampiri Jiyong, Daesung meletakkan kotak itu di atas meja.Kemudian ia memposisikan diri untuk duduk di samping Jiyong dan menatap kotak yang sudah berada tepat di hadapannya itu.

“Ooh… di tengah hujan salju seperti ini, fansmu itu membelakan diri untuk datang ke apartemenmu, dan memberikanmu sebuah hadiah, ya.“ Ucap Jiyong girang dan ia cepat-cepat meletakkan cangkir berisi coklat panas itu di samping kotak. “Cepat buka kotak itu.Aku penasaran dengan isinya.“

Daesung mengangguk cepat.Lalu, dengan hati-hati ia melepas pita biru yang ada di atas kotak kemudian ia merobek kertas kado yang membungkus kotak itu dengan sedikit demi sedikit.

Ketika kertas kado itu sudah robek dan ia membuangnya di sembarang tempat, ia langsung membuka kotaknya dan mendapati sebuah topi rajut warna biru tergeletak di dalamnya.Di bagian depannya terdapat tulisan “D.S“ yang merupakan singkatan dari nama Daesung.

“Waah.. topi rajut… !“ kata Daesung sambil memperhatikan topi rajut yang sepertinya dibuat dengan tangan itu serta membolak-balikkan benda itu ke depan dan ke belakang.

Kemudian, Jiyong melirik ke arah topi rajut itu dan menatapnya lekat-lekat.

”Jaraknya tidak beraturan.” pria pendek dan ber-multi talenta itu memberi komentar. “Aku yakin, pasti fansmu itu baru belajar membuatnya.Jadi, kelihatan tidak begitu rapi.Tapi, kurasa itu cocok untukmu.”

“Benar, hyung !” teriak Daesung kemudian. “Walaupun berantakan, tapi ini bagus ! Sesuai dengan seleraku.”

Kwon Jiyong hanya mengangguk-angguk mengerti dan tersenyum.Sambil menepuk-nepuk bahu Daesung, pria itu menatap mimik muka Daesung yang kelihatannya sangat puas dengan hadiah dari fansnya itu.Tapi, lambat laun, raut wajah Daesung semakin lama semakin menciut.Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu.

”Ada apa ?” tanya Kwon Jiyong.

”Ah, tidak.. sepertinya aku pernah melihat topi rajut ini sebelumnya.”

Flashback

~12 Desember 2011~

-KyeongIn High School at 10.30 KST-

Waktu istirahat, Kang Daesung tengah menyusuri koridor sekolah sambil sesekali ia membungkukkan badan ketika melihat teman-teman maupun fansnya itu tengah menyapanya.Seperti biasa, ia sangat suka berjalan-jalan untuk mencari udara segar sambil memasukkan kedua tangan kedalam saku celananya.Kepalanya menoleh kesana kemari menatap sekeliling sekolahnya sambil mendengarkan musik yang mengalun dari headphone-nya.

Disamping itu, ke-3 orang gadis diantaranya Lee Chaerin, Sandara Park dan Gong Minji itu sedang berbincang-bincang di depan pintu kelas mereka.Tapi, Minji tidak menanggapi perbincangan itu dengan serius karena ia masih terfokus pada topi rajut yang saat ini tengah ia kerjakan dan memang sebentar lagi akan segera selesai.

”Kau tahu, di dalam film itu, dia memukul lawannya seperti ini.” Chaerin lalu mengepalkan tangannya dan mendorongnya tepat diwajah Sandara, karena ia tengah memperagakan salah satu tokoh dalam film action yang baru ia tonton kemarin.

”Eh, bukan ! Bukan seperti itu ! Dia memukulnya tepat di depan bahunya, seperti ini.” Giliran Sandara yang mengepalkan tangan dan mendorongnya sampai mengenai bahu Chaerin.Tapi, celakanya, dorongan tangan Sandara terlalu kuat sehingga Chaerin terdorong ke belakang sampai ia menabrak tubuh Minji.Karena saking kagetnya, topi yang tengah dirajut itu terlepas dari genggaman Minji.

PLETAK !

”Akh.. topinya jatuh !” teriak Minji dan langsung menoleh ke kedua temannya. ”Kalian ini.” tambahnya sambil menautkan kedua alisnya.Kemudian dia berjongkok seraya mengambil topi rajut itu.

Tapi, sebelum jemari tangannya hendak meraih rajutan itu, ada seseorang yang lebih dulu mengambilnya.Minji kemudian mendongak, menatap orang itu yang ternyata adalah seorang pria berambut putih, bermata sipit, yang sekaligus adalah cinta pertamanya.

”Oh.. Daesung-ah.” ucap Minji kaget dan ia pun cepat-cepat berdiri, menatap orang yang bernama Daesung itu dengan pipi merah merona.Malu.Setelah sekian lama gadis itu tidak pernah menatap wajah pria bermata sipit itu dengan jarak yang hanya beberapa senti seperti itu.Jantungnya pun tiba-tiba saja berdegup kencang.

Pria itu kemudian melepaskan headphone-nya dan senyumnya mulai mengembang.Lalu ia mengembalikan topi rajut yang hampir jadi itu kepada pemiliknya dengan mimik muka cerah. ”Kau Gong Minji,kan ? Ini.Untung saja rajutannya tidak rusak.”

”Emm… Gomawoyo.” kata Minji sambil menerima topi itu dan membungkukkan badan, kemudian kepalanya ia tundukkan, pertanda ia masih merasa malu.Karena detak jantung gadis itu yang kedengarannya sangat cepat seakan-akan membuat wajahnya jadi memerah, terbuai karena pria itu.

”Cheonmaneyo.. lain kali hati-hati,ya.” kata pria itu ramah dan kedua tangannya kontan menepuk bahu Minji yang semakin lama jantungnya semakin berdetak hebat.Senyum khas Daesung seakan membuat Minji ingin meledak.Tapi, gadis itu hanya bisa tersenyum simpul dan mengangguk pelan.

Dilihatnya langkah Daesung yang mulai menjauh dari tempat ia berdiri sekarang.Gadis itu menatapnya sampai pria itu benar-benar menghilang dari pandangannya.Walaupun sudah menghilang, tapi dia tetap saja memamerkan senyumnya.Karena topi rajut yang sebentar lagi akan menjadi milik Daesung itu sudah di sentuh oleh pria itu.

”Ehem.” Kedua gadis yang sedari tadi menyaksikan adegan malu-malu Minji pun berdeham sambil melipat kedua tangan mereka di depan dada.Gadis berambut pendek itu hanya bisa meringis begitu mendapati mereka berdua tengah menatapnya dengan tatapan menggoda.Sekaligus tersenyum.

Flashback end  

”Apa mungkin… topi rajut ini, dari gadis itu,ya ?”

……

”G.M.J ….. Gong-Minji ?”

****

~20 Desember 2011~

-Seoul at 16.30 KST-

Di sudut kota Seoul..

”Sebentar lagi, hari Natal akan segera tiba, kan ?”

”Iya, tapi aku belum ada rencana untuk membeli pohon cemara.Dan.. selain pohon, mungkin aku juga ingin beli pernak-pernik sekaligus loncengnya.”

”Ah, iya ! Aku juga harus cepat menyusun rencana liburan musim dingin kali ini bersama kekasihku.”

”Apa ??” Tanpa ber-ba bi bu Sandara langsung memutar kepalanya, menatap Chaerin karena teman sebayanya ini baru saja mengatakan satu kata yang membuatnya sedikit merasa tidak percaya.KEKASIHKU.

Padahal selama ini, ketika semua pria tengah menatap wajah Chaerin, mereka akan bergidik ngeri, takut atau semacamnya.Karena raut wajah gadis itu tampak sangar dan menakutkan.Sampai mereka pun enggan mendekati Chaerin.Tapi, kali ini tidak.Ternyata masih ada juga seorang lelaki yang berani mendekati Chaerin sampai-sampai menjadi kekasihnya.

”Kekasih ? Sejak kapan kau punya kekasih ?” tambah Sandara.

”2 bulan yang lalu.. Maaf ya, karena aku baru memberitahukannya pada kalian sekarang.” kata Chaerin sembari meringis.

”Aah… gwenchana..” ucap Sandara ringan sambil mengibas-kibaskan tangannya. ”Lalu, siapa nama pria itu ? Apa pria itu tampan dan berkarisma ?Atau aegyeo ? Atau…” tanyanya menggebu-gebu.

”Emm….” Kedua mata Chaerin mengarah ke atas dan jari telunjuknya menempel di bawah bibirnya, tampak sedang berpikir.Ia sengaja menggantungkan pertanyaan Sandara lebih lama agar rasa penasaran gadis itu semakin meningkat.Tapi, dibalik semua itu, sebentar-sebentar dia melirik Minji yang ternyata sedari tadi sudah bermain dengan dunianya sendiri alias melamun.Setelah beberapa saat Chaerin terdiam,bibirnya jadi melengkung, tersenyum.

”Lee Seunghyun.Tapi, nama panggilannya Seungri.Dia 1 tahun lebih tua dariku dan… yah, sedikit aegyeo.”

”Mwo ???” Minji tiba-tiba tersadar dari lamunannya dan menatap Chaerin dengan tatapan tidak percaya.Karena gadis itu baru saja mendengar nama Seungri disebut oleh Chaerin.Kedua sahabat Minji itu juga berhasil terlunjak akibat teriakkannya yang cukup keras.

”Kau…berpacaran dengan oppa-ku ??“ tanyanya sambil menunjuk Chaerin dengan sebelah alis yang sedikit ia turunkan, masih dengan tatapan tidak percayanya. ”Kenapa aku baru tahu sekarang ?? Kenapa kau berpacaran dengannya ?? Aku beri tahu,ya.. dia itu tipe pria genit, suka menggoda para wanita, dan mesum ! Terus, di dalam kamarnya,ada banyak sekali majalah yang isinya wanita-wanita seksi, bohai.Bahkan, wanita setengah telanjang pun ada !” jelasnya sambil berteriak, berusaha menjelek-jelekkan kepribadian kakak laki-lakinya itu di depan Chaerin, agar gadis itu merasa jijik, lalu memutuskannya.

“Tapi, aku lihat, dia bukan pria yang seperti itu.Dia sangat baik padaku dan dia menerimaku apa adanya !” Chaerin balas berteriak, membela Seungri.

“Yah… di luarnya memang bagus, tapi di dalamnya, jelek ! Sangat jelek !”

“Hei, jangan sembarangan menjelek-jelekkan Seungri-oppa di depanku !”

”Aku ini adiknya ! Jadi aku tahu bagaimana keseharian anak itu ! Tapi, memang kenyataannya begitu,kok !”

“Yak ! sudahlah !” Sandara pun menjadi penengah diantara keduanya sampai kedua mulut mereka menjadi bungkam.Tapi, dari lubuk hati mereka masih terpendam rasa emosi yang membara.

Gong Minji mendelik gusar kearah Chaerin dan kedua tangannya dilipat di depan dada.Sudah jelas Seungri-oppa itu orang yang mesum, otaknya penuh yadong.Kenapa anak itu masih saja membelanya ? Batin Minji.

Pandangan mata Minji akhirnya mengarah kedepan seraya memperhatikan kerumunan pejalan kaki yang berjalan kesana-kemari dari arah yang berlawanan.Dan semenjak itulah perdebatan kecil itu berakhir.Dia juga tidak ingin menggubris masalah itu lagi.Begitu juga dengan ChaerinLagipula itu juga tidak penting.Kedua tangannya dimasukkan kedalam saku mantel sambil setengah bersiul.

Tapi, setelah beberapa menit ia berjalan, ada sesuatu yang membuat kedua matanya terbuka lebar, karena saking kagetnya ia melihat sesuatu itu yang nampak sangat mempesona sekaligus membuat jantungnya jadi berdebar-debar.

Tatapannya mengarah pada seorang pria yang berjalan berlawanan arah dengannya sambil tertawa, karena di sampingnya ada salah seorang teman yang sedang membuat lelucon untuknya.Hari ini pria itu terlihat sangat manis dengan senyumnya yang selalu menghiasi wajahnya.

Namun, yang membuat Minji cukup terkejut sekaligus terkesan adalah…. pria itu tengah memakai topi rajut yang sengaja di rajut Minji untuknya !

Ya.Topi rajut warna biru yang bagian depannya terdapat tulisan ”D.S” warna biru muda.Dan topi itu kelihatan sangat serasi dengan mantel warna biru tua yang sedang dikenakan pria itu.Ukurannya juga sangat pas, sesuai dengan ukuran kepalanya.

Karena itu, Minji langsung menampakkan senyum termanisnya sambil membungkam mulutnya, pertanda dia ingin sekali berteriak karena senang.Tapi, dia mengurungkan niatnya itu karena ada banyak orang di sekitarnya.

Yah, walaupun kelihatannya sangat berantakan,atau bahkan lebih buruk, tapi pria itu tetap memakainya.Dan itu berarti….. pria itu menerimanya dengan senang hati sekaligus menghargai pemberian topi rajut itu.

Tanpa melihat kearah lain, Gong Minji masih memperhatikan pria itu.Dan pria itu semakin lama semakin menjauhi Minji sampai gadis itu memandangnya dari belakang.Kemudian, tak butuh waktu lama, pria itu memutar kepalanya ke belakang, melihat sosok Minji yang sedang tersenyum kearahnya.Membuat ia tersadar dan membalas senyuman Minji sambil menundukkan kepalanya.Seramah mungkin dia harus menanggapinya.

Karena pria itu sempat berpikir bahwa mungkin, Gong Minji lah yang memberikan topi rajut yang sedang ia kenakan itu untuknya.Tapi,ia tidak sepenuhnya yakin bahwa gadis itu yang memberikannya.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, beberapa orang yang berlalu-lalang di sana dalam sekejap membawa pria itu menghilang dari hadapannya.Tapi, di dalam benaknya, ia bersyukur, dan berterima kasih kepada Tuhan, karena sudah menemukan pria baik dan ramah seperti dia, yang telah mengisi kehidupannya, mempertemukan dia dengan pria itu sejak 12 tahun yang lalu dan menyelamatkannya dalam badai.

Tapi, sudah pasti pria itu tidak akan mengingat tentang kejadian itu lagi.Karena memang 12 tahun adalah waktu yang sangat lama.Tapi, biarlah.. biarlah peristiwa itu menjadi sebuah kenangan.Sebuah kenangan yang terindah di dalam benaknya.

Walaupun ia tidak bisa memiliki pria itu seutuhnya dan hanya sebatas mencintai saja, tapi, disaat pria itu telah menerima hadiahnya, itu saja sudah cukup membuat ia merasa tidak terbebani lagi sekaligus bahagia.Bukan karena cinta.Tapi karena rasa terima kasihnya yang telah terbalaskan semenjak dua kata itu tidak dapat ia diucapkan di depan pria itu, setelah pria itu menolongnya.

……..

”Minji-ah ! Sedang apa kau di situ ?” teriak Sandara, membuyarkan lamunan Minji.

”Ini sudah sore ! Kajja, kita pulang !”

”Ah.. Nae !! Tunggu aku !”

****

EPILOG

 

~12 years ago~

WINTER IN ITAEWON..

-16.45 KST-

”Eomma ! Aku pergi ke toko buku sebentar,ya ! Isi bolpoinku habis !” teriak seorang gadis kecil dari balik kamar sambil cepat-cepat mengenakan jaket dan berlari-lari kecil menghampiri Eomma-nya ke dapur.

Eomma-nya lalu tersenyum dan berjongkok sambil mengusap puncak kepala anak perempuannya itu.

“Ya.. tapi, tunggu sebentar.. akan Eomma suruh Seungri untuk menemanimu.”

”Ahh.. tidak usah.” ujar gadis itu cepat sambil mengibas-kibaskan tangannya. ”Aku bisa sendiri.Eomma kan tahu kalau aku harus bersikap mandiri.”

Eomma gadis itu kembali tersenyum.Kemudian kedua matanya menatap ke luar jendela.Hari sudah hampir sore dan raut wajahnya berubah was-was.Mana mungkin dia melepaskan anak perempuannya itu sendirian.Lagipula, di luar sana banyak sekali para penjahat berkeliaran.

”Tidak apa-apa,Eomma… sebentar saja,kok.Ya ??” gadis kecil itu terus membujuk supaya Eomma-nya mengizinkan ia pergi.Lalu, sesaat setelah keduanya hening, akhirnya wanita paruh baya itu mengizinkannya.

”Tapi, jangan lama-lama,ya.Kau harus cepat pulang.”

”Iya.” jawab gadis itu singkat kemudian ia berlari meninggalkan Eomma-nya yang masih terlihat khawatir akan keselamatan anaknya itu.Tapi, tak apalah.Biarkan anak itu sedikit terbebas dari pengawasannya.Lagipula, Gong Minji anak yang penurut, pasti dia akan mengingat pesan Eomma-nya untuk cepat pulang.

****

-17.00 KST-

”Ah.. akhirnya.” kata gadis itu lega begitu ia sudah mendapatkan bolpoin yang menjadi incarannya selama dua hari yang lalu itu.Bolpoin dengan patung boneka Winnie the Pooh di atasnya serta pita biru yang menghiasi boneka itu.Kelihatan sangat lucu dan gadis itu pun sangat menyukainya.

”Oh, iya, aku harus cepat pulang.Pasti Eomma sedang menungguku.” gumamnya sambil setengah berlari agar ia cepat sampai ke rumahnya.

Tapi, di tengah perjalanan, tidak ada tanda-tanda apapun, hujan salju tiba-tiba turun dan semakin lama semakin cepat.Tak berapa lama setelah itu, muncul angin kencang yang berhembus dari berbagai arah.Tidak hanya kencang.Tapi, sangat kencang.Sudah di pastikan bahwa ada badai salju di sekitar Itaewon.

Tidak ada seorang pun yang melewati jalan itu selain Minji.Sesaat ia berdiam diri di sana dan merasa sedikit menyesal karena ia hanya memakai jaket saja.Tubuhnya juga sudah merasa dingin dan wajahnya seketika jadi memerah.Raut wajah yang berawal dari kegembiraan, berubah menjadi was-was dan takut.

”Aigoo.. ! Bagaimana aku bisa pulang ??” teriak gadis itu.Lambat laun badannya jadi menggigil dan sedikit berguncang akibat angin badai.Kemudian ia mendekap tubuhnya sendiri dengan erat sambil menoleh kesana-kemari, mencari tempat untuk menghangatkan diri.

Tapi, di tepi jalanan itu hanya ada pepohonan yang bergoyang tertiup angin kencang, membawa butiran-butiran salju dan sukses membuat gadis itu tampak sedikit membeku.

”Appa… Eomma… aku takut…. tolong …” ucapnya lirih sambil menunduk.Kemudian ia menangis sejadinya sambil berjongkok.Sepertinya sebentar lagi dia akan terserang hipotermia karena tidak ada seorangpun yang dapat menolongnya di tengah badai salju seperti ini.

Tapi, memang dirasa Tuhan masih menyayangi Minji.Dari kejauhan, terlihat ada seorang anak laki-laki yang menghampiri gadis itu dengan langkah tergesa-gesa.Napasnya tampak memburu sehingga banyak sekali uap putih yang keluar dari bibirnya, karena saking terburu-burunya dia mendekati Minji.Ternyata Tuhan telah menciptakan seorang penyelamat kecil untuk gadis mungil itu.

****

”Hei !” teriak anak itu seraya menepuk bahu Minji, membuat gadis itu terkejut dan segera mendongak, menatap pria itu sambil menyipitkan matanya.Di kedua pipinya terdapat banyak bekas air mata karena ia terus menangis tanpa henti.

”Jangan menangis…” bisik anak itu tepat di telinga Minji.Sejenak gadis terdiam, lalu ia mulai mengelap ingus yang hampir membasahi jaketnya itu dengan tatapan lesu.Kemudian, ia menatap anak itu lagi.

”Kau tidak lihat ramalan cuaca ya kalau hari ini ada badai salju ??” teriak anak itu, supaya terdengar oleh Minji karena suara gemuruh menyeruak di sekitar mereka.Gadis itu hanya menggeleng pelan sambil membersihkan sisa air mata di pipinya.

Anak laki-laki itu hanya menghela napas panjang.Sambil tersenyum dia mengulurkan tangannya di hadapan Minji.”Kajja, berdirilah.. aku bantu kau berdiri.”

Gadis itu tidak mengucapkan sepatah katapun dan hanya menuruti perintah anak itu.Dengan tangan menggigil, Minji mencoba meraih tangan yang dilindungi oleh sarung tangan warna hitam itu sampai akhirnya ia berhasil dan berdiri dengan hati-hati.

”Kau tidak pakai sarung tangan,ya ? Kau kan seorang gadis.Lain kali kalau mau keluar rumah, pakai sarung tanganmu.” Komentar anak itu. ”Oh iya, di musim dingin seperti ini, jangan hanya pakai jaket.Pakailah mantel.Mantel sangat berguna untuk menghangatkan tubuhmu.” Tambah anak itu lagi.

Gong Minji hanya bisa diam dan dia juga tidak bisa berkata apapun.Karena dia merasa malu.Ditambah lagi, badannya juga masih menggigil kedinginan.Kepalanya pun ia tundukkan, enggan menatap anak laki-laki yang sedang tersenyum kepadanya itu.Di dalam pikirannya hanya ada satu pertanyaan.Yaitu : ”Bagaimana caranya aku bisa pulang ?”.Hanya itu.

”Aahh… Pabo ! Kenapa aku jadi banyak komentar ?” Rutuk anak itu beberapa saat kemudian setelah ia menepuk kepalanya yang tertutup topi wol coklat sambil mendengus kesal.

Tanpa banyak bicara, dengan sigap anak itu langsung melepaskan mantelnya hingga menyisakan kaos hitam yang melekat di badannya.Kemudian, dia memakaikan mantelnya pada gadis itu dengan terburu-buru sampai Minji menyadari bahwa pria itu tengah menyelimutinya dengan mantel.Meskipun bagi Minji mantel itu tampak kebesaran.

Topi wol coklat yang berada di kepala anak itu langsung ia lepaskan dan di pakaikannya topi itu pada Minji.Syal warna putih yang melingkar di lehernya pun ia lepaskan juga dan ia lingkarkan pada leher gadis itu.Sampai gadis itu merasa lebih baik dan merasa lebih hangat.

”Tidak baik jika aku membiarkan gadis kecil sepertimu kedinginan…”

Mata Gong Minji terbuka lebar dan sejenak ia menatap wajah anak yang selalu saja tersenyum kearahnya itu.Ia tidak tahu apa yang sebenarnya berada dalam pikiran anak itu.Tapi, yang pasti anak itu telah menyelamatkannya dengan memakaikan mantel, topi, serta syal yang ia miliki untuk dirinya.

”Itu… pakai saja..” kata anak itu ramah.

”Ta..tapi… kau…”

”Tidak apa-apa.Lagipula, sebentar lagi aku akan sampai ke rumahku.” ucap anak itu sambil memutar kepalanya, melihat sebuah rumah bertingkat yang letaknya memang sedikit jauh dari tempat ia berdiri.

”I… itu.. rumahmu ?” Minji memberanikan diri untuk bertanya setelah ia menunjuk rumah bertingkat itu dan dibalas oleh senyum lebar anak laki-laki itu.

”Nae… ” jawabnya singkat. ”Ah, mianhae… Aku harus pergi sekarang.Kalau aku berlama-lama disini, aku bisa mati membeku.” Anak itu kemudian tersenyum lagi dan mengusap-usap kepala gadis itu dengan pelan, menatap kedua bola mata gadis itu lekat-lekat, seakan-akan memberikan sentuhan lembut di dalam hatinya.

”Sudah ya, aku pulang dulu !! Ingat ! Kau juga harus cepat pulang ke rumahmu !” teriaknya sambil setengah berlari, meninggalkan Minji.

”Ah, tapi.. tunggu !” ujar gadis itu setengah berteriak agar anak laki-laki itu mendengarnya.Tapi, anak itu tidak menghiraukannya dan terus saja berlari menjauhi Minji hingga akhirnya ia sampai di rumah yang bertingkat itu.

Dilihatnya anak itu masuk kedalam rumahnya.Tapi, setelah itu, hanya ada suara gemuruh beserta angin kencang yang menerpa tubuh Minji.Suara anak itu pun sudah tidak terdengar lagi olehnya.Walaupun suasananya berlatar belakang angin badai, namun di dalam lubuk hatinya, entah mengapa rasanya sangat sepi.

”Aku… aku belum mengucapkan terima kasih…” gadis itu menyesal dan ia menundukkan kepalanya lagi seraya menatap syal putih yang melingkar di lehernya.Sampai kedua matanya bertemu dengan sebuah tulisan yang terpampang jelas pada syal berukuran sedang itu.Sedikit demi sedikit gadis itu membaca setiap huruf yang terlihat di sana.

”Kang-Dae-Sung…. Kang Daesung..” katanya ragu-ragu. “Apa mungkin, nama anak tadi itu.. Kang Daesung …?“ tanyanya dalam hati sambil mengusap-usap nama yang tertera di syal itu.Senyumnya kemudian sedikit mengembang diikuti dengan tatapan matanya yang mengarah ke rumah bertingkat itu lagi.

”Mungkin… begitu…”

Gadis itu masih berdiri mematung dan ia juga tidak bergerak sekalipun dari tempatnya berdiri.Karena di dalam memori otaknya masih terbayang wajah serta cara anak itu menolongnya.Terlihat begitu cepat.Tampak bahwa anak itu tidak ingin jika Minji mati kedinginan di tengah jalan.

Tidak terasa juga, bahwa pengorbanan anak bernama Kang Daesung itu sudah cukup besar bagi Minji.Gadis itu juga terlihat sangat bahagia.Karena masih ada seseorang yang dapat menolongnya di tengah badai salju seperti ini.Apalagi seorang anak laki-laki.Kalau tidak ada yang menolong, mungkin di saat itu juga, dia akan cepat kembali kepada Tuhan.

Dan entah apa sebabnya, di saat ia berada di dekat anak laki-laki itu, rasanya begitu hangat, dan nyaman.Memang dirasa sepertinya mereka sebaya.Tapi, bagi Minji, Kang Daesung itu seperti berumur lebih tua darinya.Dan ia tampak begitu senang, karena Tuhan telah menakdirkan mereka untuk bertemu.

Dia… anak laki-laki itu.. sudah berhasil menjadi tambatan hati Minji di waktu itu, menjadi orang pertama yang gadis itu cintai.Cinta pertama.Atas kebaikannya, juga senyumnya yang memikat.Bahkan, gadis itu berharap, semoga di lain waktu ia bisa bertemu lagi dengannya.Bertemu lagi dengan anak itu, saat dewasa nanti…

Untuk Kang Daesung… Jeongmal Kamsahamnida…

 

 

-END-

mian klo ceritanya kepanjangen -__- tpi, stelah baca harap komennya yoo ^^ gomawoyo..