Credit pic goes to owner.

Truthfully

Cast(s): Lee Seungri, Selina Shin

Other: Choi Seunghyun (Tabi)

Lenght: Oneshot

Genre: Mmm, roman, humor sedikit, hurt, comfort dan genre lain yg tidak bisa dijelaskan lol.

Rating: G/PG-14 (M for languange)

Authors note: akhirnya setelah bersemedi di gunung salak(?) kemarin, saya dapet wangsit dan mood buat nulis. Maaf Shalsya unnie, fanficnya lama jadi *bow* mau sedikit warning aja, bahasa agak kasar di sini, buat yg gak suka disarankan gak usah baca, oke? *wink* Happy reading!

 


“Dan gadis itu malah pergi, padahal aku sudah—Selina Shin! Kau mendengarkan aku atau tidak?!”

Hentakan kaki Lee Seungri sedikit membuat gadis yang dipanggil Selina Shin itu tersentak. Matanya membulat menatap Seungri yang kini sedang memandangnya kesal. Gadis itu meringis polos.

Sorry, bisa kau ulangi?”

“Jangan harap.” Seungri meraih tas yang tergeletak di samping Selina, berbalik dan pergi menjauh. Tak peduli dengan teriakan Selina dari belakang. Selina memajukan bibirnya, alih-alih mengejar Seungri yang semakin jauh dari pandangannya, Selina malah mengeluarkan ponselnya. Bibirnya terus maju saat ia terlihat sibuk mengetikkan sesuatu lewat ponselnya.

Seungri-ah, Tabi oppa akan menjemputku sebentar lagi. Aku tidak ada waktu bertengkar dengamu, jadi cepat kembali!

Pelan tapi pasti, senyum Selina merekah, matanya menangkap sesosok tubuh kurus berlari dari depan. Seungri kembali, entah untuk apa. Tapi itu sudah suatu kebiasaan, Selina selalu mengancamnya dengan nama laki-laki itu—Tabi, dan Seungri pasti kembali.

Seungri menghentikan langkahnya ketika sampai beberapa meter dari Selina. Air mukanya tampak tegang, sedikit memerah.

“Dengar, Selina Shin, aku tidak peduli Tabi atau Choi Seung—siapa itu menjemputmu, kapanpun, dimanapun, dan apa tujuannya aku tidak peduli. Kuulangi, aku tidak peduli!” Seungri berucap, nada marah terdengar kental, matanya membulat sempurna, menatap Selina yang hanya menyunggingkan senyum tipisnya. Gadis blasteran Jepang-Korea itu melambaikan tangan. Tertawa.

“Ok, aku pergi dulu!” Beringsut dari tempat duduknya. Berlari menghampiri sebuah mobil sport hitam yang berhenti tak jauh dari mereka.

Rahang Seungri mengatup rapat. Benar, dia sudah tak peduli lagi, lebih tepatnya, mencoba untuk tidak peduli.

*

Selina menarik pensil yang dipegang Seungri cepat. Menyobek kertas dari buku tulisnya dan menulis. Seungri melongokkan kepalanya sedikit, mencoba untuk mengintip. Selina mendelik, membuat Seungri menarik kepalanya secara tiba-tiba, meringis polos.

“Jangan lihat dulu, nanti kau juga tahu.”

Seungri memutar bola matanya. Sebelum sempat menyandarkan punggungnya pada tembok dibelakangnya, kertas yang dipegang Selina sudah terlanjur ada di sela-sela kakinya. Seungri mengulurkan tangannya, menyomot kertas yang terselip dikedua betisnya. Membacanya dengan seksama. Sudtu bibrinya tertarik, tersenyum kecil membaca tulisan acak-acak dari Selina.

“Salah siapa kemarin meninggalkanku.”

“Salah siapa kemarin marah padaku.”

“Hehe.” Seungri tertawa garing. Selina terkikik.

Ruangan gelap dan sepi itu terasa sedikit berisik dengan suara tawa kecil mereka. Tak ada yang ditertawakan, mereka hanya tersenyum satu sama lain dengan sedikit suara. Tak ada kegiatan lain yang semenyenangkan ini bagi mereka.

Sudah hampir tiga tahun, tempat ini jadi saksi bisu semua kenangan yang mereka lakukan. Tanpa sadar mereka saling melengkapi satu sama lain. Tapi ketika seseorang masuk, menyeruak ke tengah-tengah mereka, ada sesuatu yang berubah.

“Kapan, ya, kita terakhir kali bertengkar?” Selina bersuara, menghentikan kikikan tidak jelas mereka.

“Kemarin?”

“Bukan. Aku rasa belum pernah, iya, kan?” Selina tersenyum, memamerkan mata sipit ala Jepangnya yang sudah jadi ciri khas. Seungri tergelak.

“Kau mau kita bertengkar, huh?” Seungri melayangkan jitakan ringan dikepala Selina. Gadis itu tertawa.

“Kalau ada kesempatan, aku mau menjambak rambutmu.”

“Seperti yang kau lakukan kemarin?”

“Hah?”

“Jangan pura-pura, yang kemarin dengan anak Sains itu apa?” Seungri kembali terkikik. Barisan giginya yang rapi terlihat, mata pandanya terpejam. Selina meringis.

Ring.

Seungri membuka matanya, memperhatikan Selina yang sibuk mengutak-atik ponselnya yang berbunyi. Pikiran Seungri hanya tertuju pada satu nama. Choi Seunghyun.

Kapan, sih, laki-laki itu pergi? Kapan, sih, Seungri bisa punya waktu berdua dengan Selina—selain ditempat ini. Laki-laki itu selalu mengganggu acara ngobrol mereka, dengan alasan menjemput Selina pulang, meskipun sebenarnya gadis itu bisa pulang ke rumah dengan selamat jika hanya berjalan kaki. Laki-laki itu selalu memandangnya sinis, saat dia kedapatan sedang berdua.

Menyebalkan.

“Ayo, pulang.” Suara Selina terdengar pelan. Seungri mengangkat kedua alisnya, matanya menyipit. “pulang?”

“Tabi Oppa tidak bisa datang, dan aku harus pulang sekarang. Ayo!” Selina berdiri, langsung menarik tangan Seungri yang dilihatnya belum memahami apa yang dia katakan.

“Jangan sok polos begitu, kau senang ‘kan Tabi tidak ada?!”

Seungri terkekeh.

*

‘Maaf, aku tidak bisa jawab panggilanmu sekarang, silahkan tinggalkan pesan. Ppyong~’

Beep.

Seungri memanyunkan bibirnya, menekan-nekan keypad ponselnya sambil cemberut. Selina tidak bisa dihubungi, padahal hari ini dia sudah janji akan menemaninya nonton.

Such a liar. Hah!” suaranya terdengar menggema, koridor kampus tampak lengang hari ini. Seungri mengedarkan pandangan, masih berusaha mencari Selina yang mungkin saja masih berkeliaran di kampus. Tapi nihil. Seungri akhirnya menyerah, ia menyelipkan ponselnya di saku celana jeansnya dan berjalan pelan. Sedikit menggerutu karena rencananya menonton film The Avenger gagal. Seungri tidak suka nonton film sendiri, bosan.

Angin lembut berkali-kali menyapu wajahnya, membuat rambut hitamnya yang agak panjang itu melambai-lambai aneh. Seungri cuek, toh tidak ada yang akan memperhatikan.

Slow, baby… ah…”

Langkah Seungri terhenti. Di salah satu pintu, ia mendengar suara desahan seorang wanita. Dahi Seungri mengernyit, ia sudah memikirkan hal yang aneh-aneh. Matanya membulat ketika sadar pintu itu terbuka sedikit.

“Choi Seunghyun, you….. fuck….ah.

Mata pandanya makin membulat sempuran.

Choi Seunghyun. Brengsek!

Seungri baru akan membuka pintu itu ketika tiba-tiba saja Choi Seunghyun berhenti. Laki-laki itu tampak memandangnya ganas. Matanya yang tajam menusuk menatap Seungri geram. Seungri melotot, sebelum ia sadar apa yang terjadi, tubuhnya sudah duluan ditarik ke dalam.

Sial.

*

Selina memutar-mutar ponselnya di tanah, keningnya berkerut dan bibirnya mengerucut. Matanya fokus memandang kerikil yang terletak diam di depannya.

“Dia….” Bibirnya bergetar, suaranya terdengar lemah. “aku tidak percaya.”

“Hah, bodoh. Apa luka-luka ini belum cukup? Dia bajingan dan kau tidak pantas jadi miliknya.”

Selina mengangkat kepalanya, menatap Seungri dengan mata sipitnya. Tak mengeluarkan sepatah kata apapun. Selina kembali menunduk, menggerakkan bola matanya, melihat apa saja yang bisa dia lihat.

“Tapi, dia pernah bilang padaku—“

“Lupakan—“

“Sebegitu bencinya kau pada Tabi Oppa? Kau itu sahabatku, Seungri-ah.”

“Aku sahabatmu dan aku tak mau kau disakiti pria brengsek itu.” Seungri menarik lengan Selina kasar, memaksa gadis itu untuk mendekat. Selina mendongak, tatapannya sinis. Gadis itu mengibaskan tangannya, kemudian berdiri.

Seungri mengangkat kepalanya, “it’s okay, kalau kau tidak percaya.”

Okay. Ingat, ini terakhir kalinya aku masuk tempat ini. Jangan harap aku kembali.”

Selina menyeret kakinya menjauh, pikirannya melayang, disatu sisi rasanya ia percaya dengan apa yang Seungri katakan, tapi di sisi lain, ia tak ingin kehilangan Choi Seunghyun. Seungri pernah bilang, cinta itu buta, dan sekarang apa itu yang dia alami?

Kakinya berhenti di depan sebuah mobil sport hitam mengkilat. Choi Seunghyun. Selina tersenyum masam, tiba-tiba moodnya hilang.

Choi Seunghyun mengangkat sebelah alisnya, melempar arah matanya ke samping kanan. “Naik.”

Selina tersenyum.

*

Oppa, boleh aku tanya sesuatu?”

Choi Seunghyun mengangkat kepalanya, mengalihkan pandangan dari sebuah majalah wanita ke arah gadis berambut panjang kecoklatan di depannya. Mengangguk.

“Emh, mm…” Dahinya terlihat sedikit berkerut. Selina menggigit bibir bawahnya, bola matanya terus bergerak.

“Ayo, katakan saja.”

Selina menarik nafas panjang, “apa kau benar-benar—“

“Cinta padamu, right?” Seunghyun menarik kedua sudut bibirnya, tangannya terulur meraih jari-jari kecil Selina, menggenggamnya.

I love you. Cukup?”

Semburat merah muncul di kedua pipi Selina. Gadis itu menundukkan kepalanya, malu.

“Jangan pernah percaya pada gosip-gosip belakangan ini, kau tahu, kan—“

“Oke, Oppa, aku percaya.” Selina menyunggingkan senyumnya yang paling manis. Seunghyun tertawa.

*

Langit tampak sangat cerah, awan putih bergerak pelan, sesekali menutupi sinar matahri yang sedang bersinar terik hari ini. Selina menyeret langkahnya dengan enggan. Setelah bertengkar dengan Seungri kemarin moodnya jadi anjlok. Rasanya sepi, biasanya ada Seungri yang cerewet di sampingnya. Entah mengoceh tentang gadis-gais yang selalu menghindar, dosen yang membosankan atau apa sajalah, laki-laki itu selalu bisa memancing pembicaraan saat mereka sedang berdua. Tapi sekarang? Selina jadi merasa sedikit bersalah pada Seungri, tapi apa yang dikatakan Seungri tidak benar pada kenyataan, Selina tidak sudi minta maaf.

Dia memang keras kepala, kok. Semua orang tahu itu.

Selina mengangkat kepala yang dari tadi ia tundukkan, langkahnya terhenti saat melihat sosok bertubuh tinggi berisi sedang berdiri di sebelah sepeda. Matanya terlihat sendu, bekas luka masih terlihat samar di wajahnya yang putih. Tak ada senyum ramah seperti biasa, laki-laki itu hanya mematung diam. Memandangnya.

Selina berkedip, dadanya terasa sesak sekarang, ingin rasanya ia lari, sembunyi dari tatapan itu, tapi kakinya serasa tertanam. Mata itu seperti menyiratkan sesuatu, Selina tak tahu, tapi ia bisa melihat kesungguhan laki-laki itu, mata Seungri seperti mengulang kalimat dua hari yang lalu; ‘Seunghyun itu bajingan, aku sahabatmu dan aku tak mau kau disakiti pria brengsek itu’

“Kau benar, Seungri-ah,”

*

Selina membanting tasnya di lantai, mendatangi Seunghyun yang sedang duduk sanati di pojok kelas. Memainkan ponsel pintarnya dan belum sadar akan kedatangan Selina. Gadis itu tersenyum sinis. Merebut ponsel itu dari tangan besar Seunghyun. Sontak Seunghyun berdiri dan melotot.

“Apa-apaan, kau, heh!”

“Tiga hari yang lalu. Apa yang kau lakukan dengan gadis lain?!” Mata Selina membluat, tatapan tajam, suaranya tegas terdengar. Seunghyun tertawa. “apa maksudmu, Selina? Gadis apa?”

“Jangan pura-pura bodoh! Oh, atau kau memang bodoh?! Kau memukuli Seungri karena dia memergokimu bercinta dengan gadis lain, kan?” Selina mendekatkan wajahnya dan berjinjit. Perbedaan tinggi badan yang kontras membuatnya sedikit sulit untuk fokus memandang mata Seunghyun.

Seunghyun kembali tertawa, kali ini dia tertawa sinis, alisnya terangkat, “memangnya kalau iya kenapa? Kau bisa apa dihadapanku, nona Shin Selina?”

“Brengsek!” Tangan Selina terangkat, melayang menampar wajah sempurna Seunghyun. Laki-laki itu terkesiap, matanya melebar, tangannya dengan cepat menangkap tubuh Selina.

“Kau tetap tidak lepas dariku, nona cantik.” Ekspresinya berubah, Selina melotot kaget ketika Seunghyun mulai mendorong kepalanya, memaksa Selina untuk mencium Seunghyun. Gadis itu meronta, berusaha melepaskan tangan Seunghyun dari pinggangnya.

Tapi gagal. Kekuatan tangan seorang gadis berumur dua puluh tahun tidak cukup melawan tangan seorang pria, berumur sama sekalipun. Selina menahan napas. Pikirannya kembali melayang.

Seungri!

Brak!

*

Brak!

Sesosok tubuh tinggi berisi muncul di balik pintu. Berlari menyeruduk ke arah Seunghyun dan Selina. Membuat keduanya terjatuh, saling bertindihan. Seungri menggeram. Menarik kerah belakang jaket Seunghyun, meninju wajahnya berkali-kali.

“Kau kurang ajar! Jangan sentuh dia! Brengsek!!” Tangan Seungri mulai terlihat mengeluarkan darah, dan wajah Seunghyun mulai tak berbentuk. Napas keduanya memburu.

Seunghyun tertawa kecil, tawa sarkastik yang membuat Seungri ingin membunuhnya saat itu juga. Laki-laki bertubuh besar itu bangkit. Menendang Seungri dengan kaki panjangnya.

Duk!

Seungri menyentuh kepalanya, “sialan.” Tangannya melayang, tapi segera ditangkap oleh tangan kiri Seunghyun. Dia itu kembali tertawa.

“Kau bisa apa, hah?!” tangan kanannya dengan bebas memukul perut Seungri. Laki-laki tinggi berisi itu terbatuk, darah segar keluar pelan dari sudut bibirnya.

“Payah!” Seunghyun menghempaskan tubuh Seungri ke lantai. Menendangnya sekali, lalu melangkah pergi. Bersikap seakan tak terjadi apa-apa, meskipun luka-luka di wajahnya menarik perhatian orang banyak.

Selina merangkak perlahan, menghampiri tubuh Seungri yang terlihat semakin melemah. Senyumnya mengembang seketika. Entah karena tergelitik meliaht Seungri yang biasanya hiperaktif dan bersemangat jadi lemah begini atau senang karena Seungri datang disaat yang tepat. Pokoknya Selina senang. Dia senang karena Seungri masih peduli padanya. Dia senang karena sekarang Seungri masih mau tersenyum kecil, menatapnya dengan tatapan teduh.

Sekarang rasanya Selina ingin menangis. Betapa bodohnya dia, selama ini ada seseorang yang selalu ada di sampingnya, memberitahu dirinya apa yang salah dan apa yang benar, mau berbagi cerita dengannya, rela bertengkar dengannya, mendengar semua ocehannya tentang si brengsek Seunghyun, dan rela babak belur demi dirinya.

“Aku bodoh. Seungri-ah. Aku bodoh.” Selina berbisik. Memangku kepala Seungri, mereka bertuar pandang. Seungri tertawa kecil.

“Kamu memang bodoh, kan? Aku tahu, kok.”

Selina tertawa, sekali lagi Seungri benar, dari dulu dia memang bodoh, mau saja percaya pada laki-laki itu.

“Maaf, ya.” Selina melupakan gengsinya, dia sadar dia salah dan dia harus minta maaf.

“Simpan saja buat nanti, ayo pulang. Aku antar.” Seungri beringsut, bangun dari baringannya. Sebenarnya, kalau boleh ia ingin tidur semalaman di pangkuan Selina. Tapi ia tak bisa lebih lama lagi berpura-pura lemah seperti itu.

“Kau gila, Seunghyun, sih, bisa nik mobil babak belur begitu, tapi kau? Naik sepeda lagi. Mau bunuh diri, huh?”

“Aku kuat, kok. Dengar ya, Lee Seungri itu tidak lemah, tidak seperti Selina Shin.”

Selina melotot. “Heh! Apa kau bilang?!” Seungri segera beranjak, berlari menghindari amukan Selina yang biasanya tak mengerti keadaan. Dari belakang, terdengar tawa heboh Selina. Seungri menggigit bibir bawahnya. Bahagia.

Seungri berlari kencang menghampiri sepeda biru yang sudah menunggunya sejak tadi. Laki-laki itu merentangkan tangannya lebar, siap menangkap Selina.

Sementara gadis itu tertawa semakin heboh, dia berteriak saat mendekati Seungri, dan memeluknya hangat. Selina tahu apa maksud rentangan tangan itu.

“Aku sayang Seungri!”

“Aku lebih sayang Selina.”

Keduanya tertawa.

“Yuk, pulang.”

Fin.