Title                : Winter Sadness

Author            : Shirae Mizuka

Length            : Threeshot

Casts               : Bigbang Seungri, Kim Ai Rin (OC)

Rating             : G

Genre             : Romance

Disclaimer      : Cast except OC belong to themselves, plot belong to me.

P.S Maap banget ya.. lama banget nggak bikin FF buat posting disini.. belakangan lagi males banget nulis *ditendang*.

Kalo udah baca jangan lupa tinggalin komennya ya… ^^

Seung Ri POV

Waktu seakan berhenti disana. Bumi terhenti ditengah rotasi dan diam pada satu titik lintasan elipsnya. Butir-butir kecil salju seperti mengawang begitu saja. Begitu pula dengan nafasnya yang seolah tercekat disana. Tapi sesuatu yang aneh telah terjadi, meski waktu beku tepat saat itu tapi jantungnya justru semakin dan semakin berdebar keras. Melewati batas ritme normal hingga ia merasa rongga dadanya akan segera meledak. Seketika ia bisa melihat segalanya menjadi lebih jelas. Akan tetapi tatapannya tak lagi bisa dialihkan. Pandangannya terkunci pada satu objek. Sepasang mata besar, bulat dan agak sipit milik seorang gadis dihadapannya kini. Sejak detik pertama tatapannya, ia sudah terpesona. Seung Ri sudah terpesona.

Yaa! Kamu benar-benar bisa menyetir atau tidak?” Seung Ri mendengar gadis dihadapannya itu berseru keras. Teriakan itu segera mengembalikan kesadaran Seung Ri yang sempat mengabur oleh rasa terpesonanya.

Mata lelaki itu mengerjap beberapa kali menatap gadis dihadapannya yang masih menatapnya dengan tatapan kesal. Sekarang waktu yang seakan sempat beku kembali berjalan normal.

Mianhae. Jeongmal mianhae…”Seung Ri menundukkan kepalanya berkali-kali.”Aku benar-benar tidak melihatmu melintas tadi. Seharusnya aku tidak menelpon sambil menyetir. Ini kesalahanku. Mianhae.” ujar Seung Ri penuh penyesalan dengan nada cepat. Lelaki itu mengutarakan permintaan maafnya berkali-kali dan setiap kalinya ia selalu menundukkan kepalanya.

“Tapi ini sakit tau!!” bentak gadis itu lagi sambil mengusap-usap lututnya yang memang sedikit memar.

“Ah, kau terluka? Ayo, sebaiknya kita kerumah sakit sekarang…” tanggap Seung Ri cepat. Ia meraih lengan gadis itu dan membantu gadis itu berdiri.

“Tidak perlu. Hanya buang-buang uang saja.” protes gadis itu.

“Tenang saja, aku yang akan menanggung semua biayanya. Sepenuhnya aku akan bertanggung jawab.” kata Seung Ri lagi.

Gadis itu terdiam untuk sesaat. “Kau akan bertanggung jawab?” tanyanya terlihat ragu.

Namun Seung Ri mencoba meyakinkan gadis itu dengan anggukan tegas.

“Baiklah, kalau begitu beri saja aku sebuah pekerjaan. Pekerjaan apa saja.” jawab gadis itu mengagetkan Seung Ri.

“Ngh…pekerjaan?” tanya Seung Ri bingung.

Ne…” gadis dihadapannya itu mengiyakan. Lalu ia merogoh secarik kertas dan sebuah pulpen dari dalam tasnya. Gadis itu mulai menuliskan sesuatu. “Kalau kau punya pekerjaan untukku, hubungi aku.” kata gadis itu sambil menyodorkan kertas yang baru saja ia tulisi.

Seung Ri mengambilnya dan membacanya, ada sebuah nama dan sederet nomor telpon di kertas itu:

KIM AI RIN

01385xxxx

Kim Ai Rin. Jadi itulah nama gadis itu.

“Pokoknya kau harus menghubungi aku jika kau punya pekerjaan untukku.” tegas Ai Rin. “Sudah itu saja, aku pergi…” katanya kemudian. Gadis itu dalam gerakan cepat menudungkan tutup kepala sweater bulunya ke kepalanya dan memasukkan telapak tangannya ke saku sweater abu-abu yang terlihat kebesaran di tubuh gadis itu. Lalu ia mulai melangkah perlahan menjauhi Seung Ri dengan langkah yang agak terseok. Mungkin kaki gadis itu benar-benar terluka.

Seung Ri sempat terpana untuk sesaat, “Hei, Ai Rin ssi, biarkan aku mengantarmu pulang…” seru Seung Ri. Ai Rin yang baru berjalan beberapa langkah dari Seung Ri kontan menghentikan langkahnya. Dia menoleh meski tak sepenuhnya membalikkan badannya. Untuk beberapa saat lamanya, gadis itu terlihat sedang menimbang-nimbang keputusan yang akan di ambilnya

“Baiklah. Rumahku melewati gang kecil yang tidak bisa dilewati mobil, tapi nanti kau bisa menurunkanku di jalan sebelum masuk gangnya.” ujar Ai Rin. Gadis itu kembali melangkah mendekat dan masuk ke dalam mobil Seung Ri. Seung Ri memang sudah membukakan pintu mobilnya untuk Ai Rin.

Ai Rin POV

Ah, sial sekali dia malam ini. Dan lagi-lagi kesialan itu datang tepat pada saat turunnya salju. Baginya turunnya salju adalah sebuah isyarat bahwa akan ada kesedihan yang akan datang di hidupnya, bahwa akan ada sesuatu lagi yang akan direnggut dengan paksa dari hidupnya. Musim dingin adalah sebuah kesedihan. Musim dingin adalah petaka. Ibunya, ayahnya dan adiknya direnggut dan meninggalkannya sebatang kara tepat pada saat turun salju. Inilah salah satu alasan mengapa Ai Rin membenci salju, membenci musim dingin.

Tak terkecuali malam ini. Mungkin salju belum puas hanya dengan merenggut nyawa orang-orang yang ia cintai. Dan kini salju menginginkan nyawanya sendiri. Hyundai silver itu melaju kencang ke arahnya, tepat di saat Ai Rin hendak menyusuri badan jalan. Langkah Ai Rin mendadak terhenti. Ia pikir itu akhir dari hidupnya. Gadis itu hanya bisa mengangkat kedua tangannya dan menutup kedua matanya yang disilaukan oleh lampu mobil itu yang terasa menusuk tepat ke retina matanya. Gadis itu terjengkang ke jalan dan terduduk di permukaan jalan yang basah oleh salju yang telah mencair. Lututnya menghantam aspal jalan dengan keras lalu disusul suara decitan panjang yang berasal dari suara ban mobil akibat di rem mendadak. Untuk beberapa saat Ai Rin hanya bisa memejamkan matanya. Ketika ia memberanikan diri membuka matanya, seorang pemuda sudah berjongkok tepan di hadapannya.

Yaa! Kamu benar-benar bisa menyetir atau tidak?” Ai Rin berseru keras. Pemuda itu terlihat bingung selama beberapa saat dan matanya mengerjap berkali-kali. Sepertinya bentakan Ai Rin terlalu keras. Namun beberapa saat kemudian, sepertinya kesadaran pemuda itu segera pulih. Dalam gerakan dan ucapan yang cepat, Ai Rin menatap pemuda itu yang kemudian menundukkan kepalanya berkali-kali dan mengutarakan permintaan maafnya yang tidak sepenuhnya dapat Ai Rin tangkap dengan pendengarannya saking cepatnya pemuda itu bicara.

“Tapi ini sakit tau!!” Ai Rin menunjuk lututnya yang memar karena terbentur aspal.

“Ah, kau terluka? Ayo, sebaiknya kita kerumah sakit sekarang…” pemuda itu dengan cepat menanggapi. Ai Rin kali ini benar-benar menangkap sorot penyesalan di mata pemuda itu dan ia terlihat begitu mencemaskan keadaan Ai Rin.

“Tidak perlu. Hanya buang-buang uang saja.” tanggap Ai Rin akhirnya.

“Tenang saja, aku yang akan menanggung semua biayanya. Sepenuhnya aku akan bertanggung jawab.” kata pemuda itu lagi

Ai Rin diam. “Kau akan bertanggung jawab?” tanyanya ragu dan pemuda dihadapannya itu mengangguk keras.

“Baiklah, kalau begitu beri saja aku sebuah pekerjaan. Pekerjaan apa saja.” Jawab Ai Rin sekenanya. Ia tahu apa yang baru saja ia ucapkan telah mengagetkan pemuda itu. Tapi Ai Rin serius. Ia memang butuh pekerjaan saat ini. Ia baru saja dipecat beberapa hari yang lalu

“Ngh…pekerjaan?”

Ne…” Ai Rin mengangguk. Gadis itu kemudian menuliskan nama dan nomor telponnya di secarik kertas dan memberikannya pada pemuda itu. “Kalau kau punya pekerjaan untukku, hubungi aku.”

“Pokoknya kau harus menghubungi aku jika kau punya pekerjaan untukku.” ucap Ai Rin lagi. “Sudah itu saja, aku pergi…”

Ahhh… Ai Rin nyaris terpekik. Saat tadi berdiri diam ditempat, lututnya tidak begitu sakit, tapi saat ia mulai berjalan, Ai Rin pikir tulang-tulang kaki kirinya akan segera rontok. Langkahnya pasti terlihat terseok. Tepat saat itu juga, ia mendengar suara pemuda itu lagi. “Hei, Ai Rin ssi, biarkan aku mengantarmu pulang…”

Ai Rin menghentikan langkahnya. Kebetulan sekali pemuda itu mau mengantarnya pulang. Tadinya ia pikir ia tidak akan pernah sampai ke rumahnya dengan keadaan kakinya saat ini.

“Baiklah. Rumahku melewati gang kecil yang tidak bisa dilewati mobil, tapi nanti kau bisa menurunkanku di jalan sebelum masuk gangnya.” ujar Ai Rin.

………………………………………………………………………………………………………

Seung Ri POV

Nyaris jam 1 saat ia sampai di apartemennya dan Seung Ri merasa kalau ia benar-benar lelah sekarang. Ia membuka jaketnya dan melemparnya asal-asalan ke lantai dan segera menghempaskan tubuhnya ke sofanya yang empuk. Seung Ri mencoba memejamkan matanya akan tetapi kejadian beberapa jam yang lalu kembali mengusik pikirannya. Semua hal tentang gadis itu telah mengganggu pikirannya. Gadis bernama Ai Rin itu…

Flashback

Beberapa jam yang lalu…

Gadis itu akhirnya setuju untuk ia antar pulang. Dan disinilah gadis itu sekarang, duduk tepat di sampingnya sementara Seung Ri mengemudikan mobilnya. Dari sudut matanya, Seung Ri masih dapat melihat kalau Ai Rin sesekali memegangi lutut kirinya. Mungkin gadis itu masih kesakitan.

“Kita ke rumah sakit saja?” Tanya Seung Ri memulai.

Ai Rin tersenyum kecil dan menggeleng. Dengan begitu Seung Ri tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Hingga beberapa saat lamanya mereka hanyut dalam suasana hening. Gadis disamping Seung Ri sepertinya tidak keberatan dengan kesunyian itu dan Seung Ri masih tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Tapi Seung Ri masih sesekali mencuri pandang pada gadis itu melalui sudut matanya.

“Ada sesuatu yang ingin kau tanyakan padaku?” mendadak Ai Rin berbicara.

“Apa?” Tanya Seung Ri tak mengerti.

“Dari tadi kau memandangiku terus, apa ada sesuatu yang ingin kau ketahui?”

Seung Ri mendesah. Kenapa gadis itu bisa tahu? Apa gadis ini peramal?

Ne… Jujur saja aku memang punya dua pertanyaan untukmu…” ucap Seung Ri. “Kau dari tadi bersikap sangat biasa padaku, apa kau tidak mengenalku?”

Ai Rin tersenyum kecil. Gadis itu melempar pandangan keluar, ke papan-papan reklame yang dari tadi terlalui begitu saja oleh mobil Seung Ri yang berjalan pelan. Di papan-papan reklame itu banyak dipasang foto-foto Seung Ri bersama hyunghyung nya yang berpose untuk majalah Marie Claire edisi bulan ini.

“Mana mungkin aku tidak mengenalmu, Seung Ri ssi… Lihatlah banyak sekali fotomu diluaran sana… Kau dan Bigbang terkenal sekali, asal kau tahu…”

Baiklah, jelas sekarang gadis itu mengenal Seung Ri tapi kenapa dari tadi gadis itu bersikap begitu tenang, seakan orang yang ditemuinya adalah bukan siapa-siapa. Ataukah karena gadis ini bukan salah satu fans Bigbang??? Biar bagaimanapun ia baru menemui seorang artis, haruskah gadis ini bersikap setenang itu? Seung Ri tak habis pikir.

“Baiklah, sekarang pertanyaan keduaku. Kenapa matamu terlihat lain?” Tanya Seung Ri lagi. Di sampingnya Ai Rin menoleh bingung padanya. “Maksudku, kau punya mata yang bulat dan besar. Biarpun matamu terlihat sipit, tapi tetap saja matamu terlihat lain…” jelas Seung Ri buru-buru.
Ai Rin mengangguk pelan, “Appa-ku orang Indonesia. Aku mewarisi matanya.” Jawab gadis itu cepat.

Seung Ri diam. Sekarang ia tahu kenapa mata yang sudah membuat ia terpesona itu terlihat berbeda.

“Ah, sudah sampai. Berhenti di depan gang itu, Seung Ri ssi…” pinta Ai Rin.
Benar kata gadis itu. Gang itu terlalu kecil untuk dilalui mobil, maka Seung Ri menghentikan mobilnya sampai di depan gang itu saja. Awalnya gadis itu ingin pulang sendiri saja. Tapi melihat keadaan kaki gadis itu, hari yang sudah cukup larut malam dan derasnya hujan salju diluar membuat Seung Ri juga berkeras untuk mengantar gadis itu sampai ke rumahnya. Tapi sesampainya di depan rumah gadis itu yang cukup sederhana, ada kejadian lain yang membuat Seung Ri terperangah. Barang-barang gadis itu sudah ditumpuk diluar dan seorang ahjumma berdiri berkacak pinggang menunggu kehadiran gadis itu.

“Ada apa ini ahjumma?” Tanya Ai Rin shock.

“Jangan pura-pura tidak tahu. Sudah 3 bulan kau tidak membayar sewa rumah dan bukankah sekarang kau sudah tidak punya pekerjaan? Bagaimana kau akan membayar hutangmu?”

“Dia sudah punya pekerjaan baru. Dia akan segera membayarnya!” dengan cepat Seung Ri menanggapi si ahjumma, meskipun harus berbohong. Dia tidak tahu apa yang merasuki pikirannya saat itu, tapi ia hanya ingin membantu Ai Rin.

Ai Rin diam. Nafasnya pelan dan ada uap yang keluar dari bibirnya setiap kali ia menghela nafas. Butir-butir salju jatuh dan tersampir di bahunya yang terlihat bergetar. Ketika Seung Ri menoleh pada gadis itu ia tidak henti-hentinya bergumam kecil.

“Aku benci salju. Aku benci salju. Aku benci salju.”

———————————–end of flashback————————————