Title: Tell Me Why [Part 1]

Author: Winaasri

Main Cast:

  • Tiffany Hwang (Girl’s Generation)
  • Choi Seunghyun aka TOP (BIG BANG)
  • Kwon Ji Yong aka G-Dragon (BIG BANG)

Genre: Romance, Complicated, Hurt, dll dll (?)

Length: Chaptered~

Disclaimer: This story is really the result of my thoughts and imagination. if there is a common story is beyond my power. and all the characters have different properties from the properties of the original. Please do not plagiarism~ :*

Happy Reading :**

***

“K-kau? Sedang tidak bercanda kan?” tanya Seunghyun tidak percaya mendengar Tiffany mengatakan ‘Nado Saranghaeyo, oppa!’ apalagi ia mengatakan itu untuk dirinya,Choi  Seunghyun.

“Tidak, oppa.” Jawab Tiffany singkat.

“Hahaha…. Disaat seperti ini ternyata pikiranku bisa mendengarkan kata-kata yang seharusnya….” . “Oppa, apa yang kau katakan? Apa aku salah mengatakan seperti itu?” pekik Tiffany sedikit terisak. Bukan itu yang ingin ia dengar dari mulut Seunghyun.

“Jadi….” Seunghyun menggantungkan kalimatnya. Sengaja. Dengan tatapan ‘meminta penjelasan’ yang ia tujukan tepat di kedua mata polos milik Tiffany ternyata mampu memberhentikan isak tangisnya.

“A-aku sebenarnya sudah menyukai oppa sejak pertama kali aku melihat oppa saat upacara penerimaan murid-murid baru. Lebih tepatnya…. Sudah setahun aku menyukaimu.”

“Mwo? Setahun? Kenapa kau tidak mengatakannya dari dulu?”

“Mengatakannya dari dulu? Oppa, aku tidak mempunyai keberanian untuk itu…. Lagipula, kenapa aku yang harus mengatakannya terlebih dahulu?” pekik Tiffany sedikit geram. Tidak bisa dipercaya kalau namja bingu yang saat ini sudah resmi menjadi namjachingunya mengatakan ‘Kenapa kau tidak mengatakannya dari dulu?’.

“Kenapa kau tertawa seperti itu?”

“Itu karena ekspresi wajahmu yang terlihat konyol jika kau sedang marah.” Ucap Seunghyun dengan terbata-bata karena tidak mampu menahan tawanya yang semakin menjadi-jadi. Hembusan napas kesal Tiffany yang terdengar sangat jelas membuat Seunghyun mau tidak mau harus menahan tawanya. “Tapi…. Setidaknya aku sudah resmi menjadi namjachingumu, dan kau juga sudah resmi menjadi yeojachinguku.”

“Ne…. terserah kau saja.” Jawab Tiffany singkat.

“Terserah aku saja? Bagaimana kalau kau…. memberiku sedikit hadiah di sini? Kuharap kau tidak keberatan.” Ucap Seunghyun penuh dengan kelicikan sambil memegang bibirnya. Dasar namja yadong, maki Tiffany dalam hati.

“Bagaimana? Kau keberatan?”

“Keberatan? T-tentu tidak…. Bukankah itu sudah menjadi kewajiban sebagai sepasang kekasih?” elak Tiffany. Ppabo! kenapa kata-kata seperti itu yang justru keluar dari mulutku? Rutuk Tiffany dalam hati. Terus menerus.

“Baiklah kalau begitu….” Tanpa membutuhkan waktu yang cukup lama, Seunghyun langsung bangkit berdiri dari duduknya dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari wajah Tiffany.

“O-oppa, apa yang akan kau lakukan?” Tiffany benar-benar terkejut, apalagi dengan posisi wajahnya yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Seunghyun, membuat wajahnya sedikit tertabrak pelan oleh embusan napasnya yang panas dan menggelitik kulit Tiffany yang dingin karena gugup.

“Menciummu, bukankah kau tadi tidak merasa keberatan?” ucap Seunghyun sedikit berbisik. Tiffany hanya mampu menelan ludah dengan suara keras dan mengerjapkan kedua matanya berkali-kali, berharap apa yang saat ini dilihatnya tidak nyata dan merupakan sebagian dari imajinasinya. Tapi ia terlalu ragu jika ini adalah sebuah imajinasinya – karena ini terlalu nyata jika apa yang ia lihat saat ini dikategorikan sebagai sebuah imajinasi.

Seunghyun terkekeh, dan kembali terduduk di bangkunya. “Aku yakin jika kau masih perlu membutuhkan waktu sebentar.” Kata Seunghyun lambat-lambat. “Aku tidak ingin terjadi kesalahan terknis sedikit pun saat kita melakukannya, arraseo?” Seunghyun kembali berbicara lagi, nadanya terdengar santai. Sejenak, jari-jarinya membelai bibir Tiffany dengan lembut sebelum akhirnya Seunghyun kembali menyendokkan makanannya dan memasukkannya ke dalam mulut.

Walaupun Seunghyun sudah tidak lagi membicarakan masalah tadi, Tiffany masih menatap Seunghyun dengan tatapan tidak percaya. Membutuhkan waktu? Melakukannya? Cepat-cepat Tiffany menggelengkan kepalanya, berusaha memahami – disamping itu ia juga berusaha untuk tidak berpikiran berbagai hal yang negatif. (??)

“Cepat habiskan makananmu itu, chagi, selagi makanan itu masih hangat. Aku tidak ingin kau sakit karena kau memakan makanan yang sudah tak lagi hangat.” ucap Seunghyun saat mendapati Tiffany sedang menatapnya lekat-lekat.

“Oppa tenang saja, aku takkan sakit karena hanya memakan makanan yang sudah tak lagi hangat, aku bukan orang yang lemah seperti yang kau bayangkan – setidaknya begitu kalau memang makananku benar-benar tidak lebih dari sekedar dingin.” ucap Tiffany, tidak lagi menatap Seunghyun dan kembali memakan makanannya.

Seunghyun menghentikan makannya, menatap Tiffany dengan alisnya yang bertaut bingung. “Chagi, berbicaralah dengan kalimat yang mudah kumengerti.”

“Aku tidak akan sakit jika makanan yang kumakan belum menjadi basi.” Seunghyun hanya mengangguk-angguk mengerti sambil mencomot sendok yang ia pegang saat mendengar penjelasan dari Tiffany.

“Apa kau sudah selesai memakan makananmu? Aku ingin cepat-cepat keluar dari sini.”

“T-tapi aku belum menghabiskan makananku, bahkan kau juga belum menghabiskan makananmu. Apa makanan di sini tidak enak?”

Seunghyun mendesah, memikirkan kalimat yang tepat untuk menjelaskan. “Bukan begitu. Aku hanya tidak mau menghabiskan malam ini bersamamu di sini. aku ingin mengajakmu ke suatu tempat yang paling berkesan untuk menghabiskan malam ini. Dan satu lagi, aku tidak pernah mengatakan kalau makanan di sini tidak enak.”

“Tempat berkesan? Apa itu Sungai Han?”

“Sungai Han?” Seunghyun balik bertanya, menurutnya Sungai Han bukanlah salah satu dari banyak tempat yang paling berkesan – entah mengapa ia tidak begitu menyukai tempat itu.

Tiffany membalasnya dengan anggukan. “Aku sering mendengar dari orang-orang yang berada di sekitarku kalau Sungai Han adalah salah satu tempat yang indah karena pemandangannya, dan walaupun aku belum pernah menginjakkan kakiku di sana, tapi aku dapat merasakannya.” Seunghyun benar-benar ingin tertawa mendengar penjelasan yang keluar dari mulut Tiffany, tapi ia berusaha mati-matian untuk menahannya.

“Kalau begitu sebaiknya kita bersiap-siap untuk ke sana – Sungai Han, pasti pemandangan Sungai Han pada malam hari jauh lebih indah dari pada di siang hari.” ucap Seunghyun akhirnya memutuskan, walaupun ia sama sekali tidak setuju, tapi ini demi Tiffany – dan, siapa tahu ia bisa mulai menyukai tempat itu.

“Ah, benarkah? Kajja, oppa.”

***

“Fany-ah, sepulang sekolah apa kau ada acara? Toko pakaian yang sering kita kunjungi, mereka mengeluarkan stock pakaian terbaru dan itu limited edition, aku ingin mengajakmu sepulang sekolah.”

“Sepulang sekolah? Mianhae, Sooyoung kurasa aku benar-benar tidak bisa. Aku sudah mempunyai janji dengan seseorang.” tolak Tiffany dengan hati-hati – ia tidak ingin menyinggung perasaan Sooyoung, tetapi ia juga tidak bisa mengumbar janjinya dengan Seunghyun.

“Apa berita itu benar, Fany?” tanya Sooyoung sedikit berbisik seperti volume radio yang dikecilkan, tetapi walaupun suaranya sangat kecil dan hampir tidak terdengar, Tiffany masih mendengar pertanyaan Sooyoung dengan jelas.

“Berita?”

“Apa kau benar-benar sedang menjalin hubungan dengan Choi Seunghyun?” Tiffany benar-benar terkejut saat Sooyoung melontarkan pertanyaan itu. bagaimana ia bisa tahu? Kenapa berita itu cepat sekali menyebar? “Kau tahu itu dari mana?”

“Tadi pagi secara tidak sengaja aku melihatmu dan Seunghyun pergi ke sekolah bersama-sama, dan aku langsung menyimpulkan bahwa kau dan Seunghyun – “ Sooyoung sengaja menggantung-gantungkan kalimatnya, ia ingin supaya Tiffany yang akan melanjutkan kata-katanya, sekaligus meminta sebuah pengakuan.

“Well, aku dan Seunghyun – ya, Sooyoung-ah, kau pasti sudah mengerti, jadi aku tak perlu menjelaskannya padamu lagi.”

“Mianhae, Tiffany Hwang, aku belum mengerti.” ucap Sooyoung sedikit terkekeh geli. Inilah yang ia sukai, menjahili sahabatnya, Tiffany Hwang.

“Setidaknya kau sempat mengajukan pertanyaan untukku yang belum kujawab, dan aku menjawab pertanyaanmu dengan satu kata, ya!”

“Tiffany Hwang, memangnya aku sempat mengajukan pertanyaan padamu? Oh, kurasa penyakit Amnesia-ku kambuh.” ucap Sooyoung berbohong, nadanya lirih dibuat-buat dan sedikit berargumen dengan memegang kepalanya yang sama sekali tidak merasa sakit dan sedikit memberikan pijitan pelan. Sebenarnya ia tahu maksud perkataan Tiffany – ‘pertanyaan yang sempat kau ajukan’, dan itu terdengar seperti ‘apa kau benar-benar sedang menjalin hubungan dengan Choi Seunghyun?’

Tetapi Sooyoung tidak bisa membiarkan Tiffany mengakuinya dengan kata “Ya”, ia ingin mendengar lebih dari itu, seperti; “Ya, aku dan Seunghyun sedang berpacaran.”, atau, “Aku sangat mencintainya, Sooyoung!”, atau bisa juga dengan kalimat yang lain.

“Choi Sooyoung, mulai kapan kau menderita penyakit Amnesia?” tanya Tiffany dengan nada penuh selidik sembari mengernyitkan matanya dan menatap Sooyoung dari ujung kaki sampai puncak kepala. “Kurasa kau baik-baik saja.”

“Oh, ayolah! Kau tidak perlu sungkan-sungkan untuk mengakuinya. Bukankah aku ini sahabatmu?”

“Kau tahu? Itu tidak semudah yang kau bayangkan.” ucap Tiffany dengan wajah yang ia tundukkan ke bawah saat ia merasakan wajahnya sudah memerah.

“Apa sulitnya mengatakan, “Ya, Choi Sooyoung, aku sedang berpacaran dengan seorang namja bernama Choi Seunghyun”, mudah bukan?”

“B-baiklah –“ sela Tiffany, membuat senyum kemenangan berderai di bibir Sooyoung. “Seperti yang kau duga, saat ini aku, Tiffany Hwang sedang menjalin hubungan dengan seorang namja bernama Choi Seunghyun.” dengan ragu-ragu Tiffany memberanikan diri mengatakan kalimat itu supaya ia terbebaskan dari pembicaraan yang tidak masuk akal antara dirinya dengan Sooyoung.

“Apakah itu benar?”

“Apa aku terlihat berbo – eh!” Tiffany benar-benar terperangah kaget saat menyadari Choi Seunghyun yang entah kapan sudah berada di belakangnya. Apakah ia mendengarkan perkataanku yang memalukan itu barusan? Aish, kau ini! kalau ia tidak mendengarkannya, mana mungkin ia bertanya seperti itu, gerutu Tiffany dalam hati.

Wajah Tiffany kini sudah berubah menjadi merah padam setelah membayangkan apa yang seharusnya tidak dibayangkan olehnya.

“Lihat, wajahmu sudah memerah.” goda Seunghyun sembari memeluk tubuh Tiffany dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu Tiffany sebagai tumpuan dan sesekali namja itu menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang khas milik yeoja yang saat ini berada dalam pelukannya.

“Oppa, kenapa kau memelukku seperti ini? Kau tidak lihat kalau semua orang sedang memerhatikan kita? Bagaimana kalau tiba-tiba ada guru lewat di koridor ini dan memerhatikan kita berdua? Bisa-bisa kita di beri poin pelanggaran.” Tiffany berusaha melepaskan tangan Seunghyun yang melingkar di perutnya, tetapi Seunghyun memberikan penolakan dengan mempererat pelukannya.

“Biarkan saja. Apa kau tidak tahu kalau mereka memandang kita karena mereka merasa iri?” tanya Seunghyun sedikit terkekeh, membuat tengkuk Tiffany tertabrak pelan oleh hembusan napas Seunghyun yang hangat dan begitu menggelitik.

Teeetttt…… Teeettt……

Dengan terpaksa Seunghyun melepaskan pelukannya jika ia tidak ingin mendapatkan omelan dari Kim Seongsaenim – guru matematika yang mengajar di kelas Seunghyun – karena terlambat masuk kelas. Dengan terpaksa pula ia harus meninggalkan Tiffany.

“Apa kau keberatan jika aku harus pergi?” tanya Seunghyun dengan ragu sebelum ia pergi meninggalkan Tiffany dan kembali ke kelas.

“Oh, tentu tidak.” Jawab Tiffany dengan cepat, ia mendesah lega bisa terlepas dari pelukan Seunghyun – sebenarnya Tiffany tidak merasa bermasalah ketika ia sedang dipeluk oleh Seunghyun, tetapi ia merasa tidak enak jika dirinya dan Seunghyun berpelukan seperti tadi di hadapan orang-orang yang belum mengetahui hubungan mereka.

Chu~

Tiffany terperangah kaget saat Seunghyun menempelkan bibirnya dengan lembut ke bibir Tiffany. “Kutunggu kau sepulang sekolah.” Seunghyun nyengir – senyum lebarnya menampakkan sederet gigi yang sempurna – lalu mengecup pipi Tiffany dan berlari menuju kelas sebelum Tiffany sempat merespons.

“Apakah itu ciuman pertamamu, Tiffany-ah? Kau benar-benar tidak pandai menyembunyikan rahasia itu, lihat saja ekspresi wajahmu itu!”

“Ya, Sooyoung-ah! Kenapa kau bisa berbicara seperti itu?” pekik Tiffany seraya melemparkan tatapan tajam ke arah Sooyoung.

“Aigo, aku hanya bercanda, dan daripada kau marah-marah seperti itu, sebaiknya kita kembali ke kelas supaya tidak terlambat.”

***

“Hyung, sejak kapan kau berani melakukannya, dan – di tempat umum?” tanya Ji Yong sembari berusaha menyamai langkah Seunghyun yang terburu-buru, tidak mempedulikan seruan-seruan bernada kesal karena ia berusaha menerobos tubuh-tubuh yang saling berhimpitan demi mengejar Seunghyun.

“Melakukannya? Aku tidak mengerti.” Jawab Seunghyun, kembali bertanya. “Berbicaralah dengan kata-kata yang mudah kumengerti.”

Ji Yong memutar bola matanya, ia mendesah. “Lupakan saja.” Gerutu Ji Yong dengan nada kesal. Seunghyun hanya terkekeh geli mendengarnya.

***

“Choi Seunghyun, berhentilah mendesah seperti itu!” gumam Ji Yong dengan nada jijik, memerintahkan Sahabatnya yang entah sudah keberapa kalinya mendesah – well, sebenarnya Seunghyun hanya menghembuskan napas dengan suara keras, tetapi menurut Ji Yong itu terdengar seperti desahan.

“Kenapa kau ini? tidak seperti biasanya.” Seunghyun menatap Ji Yong dalam-dalam dengan mata yang ia ernyitkan(?). “Berhentilah menatapku seperti itu.” ucap Ji Yong sambil mengalihkan pandangannya ke arah Kim Seongsaenim yang tengah sibuk menorehkan berbagai rumus matematika di papan tulis, memenuhinya tanpa meninggalkan celah sedikit pun.

Ji Yong mendesah kesal saat mengetahui Seunghyun semakin mengernyitkan mata tajamnya, memperdalam tatapannya yang menatap Ji Yong. “Aku sedang kesal, hyung, dan desahanmu itu semakin membuatku kesal.”

“Begitukah? Kalau begitu aku minta maaf.” Jawab Seunghyun dengan datar sambil membenarkan posisi duduknya dan kembali menatap Kim Seongsaenim yang sedari tadi tampak  sibuk dengan kegiatannya, ia sudah tak lagi menatap Ji Yong.

“Ji Yong, kenapa Kim Seongsaenim membuat begitu banyak gambar yang terlihat seperti benang terlilit? Bukankah dia guru matematika? Kenapa dia tidak menulis rumus-rumus matematika di sana?”

“Kau berusaha melucu, hyung?” tanya Ji Yong datar.

Seunghyun menggeleng – seolah ingin menepis kemarahan Ji Yong yang sudah memuncak. “Well, aku sedang tidak berusaha untuk melucu.” Jawab Seunghyun, dari nada suaranya terdengar seolah-olah jawaban itu sudah sangat jelas, tidak perlu ditanyakan lagi.

Siang berlalu dengan cepat, sekolah pun usai. Tapi tidak bagi Ji Yong, baginya kelas ini bahkan terlalu lama daripada biasanya, mungkin ini karena ia sedang tidak bersemangat atau ia merasa sakit setelah apa yang ia lihat.

“Kau sakit?” tanya Seunghyun membuyarkan lamunan Ji Yong. Ia hanya menanggapi pertanyaan Seunghyun dengan menggelengkan kepalanya lemas.

“Kau – keadaanmu sangat mencemaskan, aku harus mengatakan pada Tiffany jika aku tak bisa pulang bersamanya, setidaknya untuk hari ini.” ucap Seunghyun, ia menghela napas dan berusaha memperdengarkan nada ceria. Ji Yong tahu bahwa Seunghyun berusaha menyembunyikan ekspresi kecewa yang kemungkinan teraut di wajahnya, bahkan perkataannya terdengar datar di telinga Ji Yong.

“Hyung, kau tak perlu melakukan itu. Apa kau tidak melihat bahwa aku baik-baik saja?” sergah Ji Yong dengan cepat, berusaha menghentikan langkah Seunghyun yang terus menjauhi Ji Yong, dan ia tahu kalau Seunghyun akan pergi menemui Tiffany dan membatalkan semua janji mereka untuk hari ini.

Seunghyun menghentikan langkah kakinya, membalikkan tubuhnya dan menatap Ji Yong dengan tajam. Tak lama, tatapan tajamnya itu mereda dan berubah menjadi tatapan heran, alisnya bertaut saking bingungnya. “Aku tidak melihat bahwa kau baik-baik saja.”

Ji Yong diam sejenak – memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk meyakini Seunghyun bahwa ia baik-baik saja, setidaknya sampai ia masih mampu menanggung rasa sakitnya itu di hadapan Seunghyun –.

“Kurasa aku benar-benar harus memberitahu Tiffany.” gumam Seunghyun sambil melangkahkan kakinya kembali dan beranjak pergi ke luar kelas. Ji Yong terperangah kaget, ia benar-benar bingung harus melakukan apa supaya Seunghyun kembali mengurungkan niatnya itu. Ia tidak mau menghancurkan kesenangan sahabatnya itu.

“Hei, hyung!” pekik Ji Yong, tanpa sadar ia bangkit berdiri dari duduknya dan berniat untuk untuk mengejar Seunghyun, tapi ia urungkan niat itu karena Seunghyun sudah menghentikan langkahnya. “Pergilah dengan Tiffany. Kau tidak perlu membuang waktumu hanya untuk mencemaskan keadaanku, aku baik-baik saja. kalau pun aku merasa sakit – well, kalau itu memang yang kau lihat – kau tidak perlu cemas, hyung. Aku bisa mengatasinya.”

“Sakit? Sudah kukatakan berkali-kali padamu, berbicaralah dengan kalimat yang kumengerti!”

“Aku – well, sebenarnya saat ini aku…. cemburu. Ya, saat ini aku sedang cemburu. Kurasa kata sakit merupakan istilah yang tepat untuk mewakili kata cemburu.” ucap Ji Yong menyimpulkan.

Seunghyun sedikit terkekeh geli mendengar penjelasan yang keluar dari mulut Ji Yong, membuat Ji Yong mengernyitkan wajahnya – bukan karena melihat Seunghyun sedang menertawai dirinya, itu sudah biasa, tapi karena Seunghyun yang seharusnya pergi meninggalkan dirinya untuk menemui Tiffany, malah berjalan menghampirinya dan terduduk kembali di bangkunya.

“Apa yang kau lakukan?!”

“Apa yang aku lakukan? Apa kau tidak melihat jika aku sedang duduk di sini, di kelas ini?” Seunghyun dengan polosnya berbalik bertanya.

“Tiffany? Apa kau melupakan janjimu dengan Tiffany?” tanya Ji Yong sedikit kesal. Ji Yong tahu atau mungkin sangat tahu jika keputusan yang sudah diambil oleh Seunghyun sudah tidak bisa lagi diganggu gugat, itulah enaknya menjadi seseorang yang mempunyai umur lebih tua.

“Dia pasti akan mengerti.” Jawab Seunghyun singkat.

Ji Yong mendesah, ia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran Seunghyun. Bahkan, tidak jarang Ji Yong menyangkal kenyataan bahwa Seunghyun memiliki kapasitas dan volume otak yang melebihi batas normal dari ukuran otak seseorang pada umumnya, maka dari itu Ji Yong selalu menganggap kepintaran yang dimiliki Seunghyun dalam pelajaran hanya sebuah keberuntungan belaka saja. “Hyung, bagaimana bisa Tiffany akan mengerti alasan kenapa namjachingu-nya membatalkan janjinya tanpa memberitahunya terlebih dahulu?”

“Itukah alasanmu sampai-sampai kau melarangku untuk tinggal diam di sini dan mendengarkan alasan kenapa kau seperti ini? Tenang saja aku sudah mengirimnya pesan sebelum jam sekolah usai, itu kulakukan karena aku sudah merasakan ‘sesuatu’ yang tidak beres dalam dirimu” jawab Seunghyun dengan santai sembari melihat Ji Yong dengan tatapan seolah-olah jijik.

“Baiklah, aku ingin mendengar alasanmu cemburu seperti ini.” ucap Seunghyun memulai pembicaraan, memecahkan keheningan yang sempat terjadi di antara mereka berdua. “Dan, ingat! Kau harus menceritakan masalahmu dengan kalimat yang mudah kumengerti.”

“Aku sudah sering mendengar itu.” jawab Ji Yong dengan nada yang menyerupai nada bicara Seunghyun, tetapi gagal total.

****

“Apa kau yakin tetap tidak mau menemaniku berbelanja? Kurasa itu keputusan paling tepat jika kau menerima ajakanku – setidaknya begitu, dari pada menunggu namjachingu-mu yang tak kunjung datang juga.” ucap Sooyoung memecahkan keheningan, dan tak jarang Sooyoung melirik ke arah jam tangan yang melingkar dengan manis di pergelangan tangannya dengan gelisah.

“….”

“Tiffany Hwang, sudah hampir dua jam kita menunggunya.”

Tiffany mendesah kesal. “Dari awal aku sudah menyuruhmu supaya tidak menemaniku di sini, tapi kau tetap memaksa.”

“Aku tidak mungkin akan memaksakan diri seperti ini jika tadi aku tidak mengetahui ‘sesuatu’, Tiffany Hwang.”

“Sesuatu? Apa maksudmu, Choi Sooyoung?”

“Kau pasti sudah tahu kalau Seunghyun bersahabatan dengan Kwon Ji Yong, bahkan hubungan mereka seolah-olah sudah seperti kakak-beradik. Dan, mereka rela mengorbankan, well, seperti hubungan percintaan mereka demi persahabatan yang terjalin di antara mereka. maka dari itu, kemungkinan besar kau akan sedikit dihiraukan oleh Seunghyun, lebih tepatnya kau dinomor duakan olehnya –“ Sooyoung menghentikan kalimatnya, ia terlalu takut jika ia tetap meneruskan perkataannya, karena itu dapat menyayat hati Tiffany. Sebelum ia kembali melanjutkan perkataannya, ia menatap Tiffany dengan tatapan ‘lanjutkan atau tidak’.

“Lalu?” Sooyoung benar-benar terkejut saat Tiffany memintanya untuk melanjutkan kalimat yang sempat Sooyoung hentikan dengan ekspresi yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda terluka.

“Sebelum aku memasuki kelas, aku mendapati Ji Yong-ssi tengah mematung di ambang pintu kelasnya dengan mulut ternganga, dan awalnya aku sama sekali tidak mempedulikannya. Tapi karena ekspresi yang ia pancarkan begitu berbeda dan berkebalikan jika apa yang ia lihat itu adalah ‘sesuatu’ yang ‘baik’, dan dengan rasa penasaran yang begitu besar, aku putuskan untuk memastikan apa yang ia lihat. Kau tahu? Ternyata yang ia lihat adalah ‘sesuatu’ yang ‘buruk’.”

“Memangnya apa yang kau lihat?”

“Lee Chaerin, dia sedang duduk berduaan dengan seorang namja. Dari situ aku langsung menyimpulkan kalau Ji Yong-ssi merasa cemburu karena mungkin ia memiliki perasaan suka terhadap Lee Chaerin, dan dapat kupastikan Ji Yong-ssi sedang bersama Seunghyun, menceritakan masalahnya. Bukankah itu yang dilakukan seseorang pada sahabatnya – saling terbuka tanpa menutupi sekecil apapun masalah yang sedang ia alami?”

Tiffany tertegun sejenak mendengar ucapan Sooyoung yang begitu dewasa sebelum akhirnya Tiffany memukul pelan bahu sahabatnya itu sembari terkekeh geli. “Kau ini! jangan asal sembarang menyimpulkan, bagaimana kalau kesimpulanmu itu ternyata salah? Siapa tahu apa yang kau pandang berbeda dengan yang Ji Yong-ssi pandang – maksudku, bagaimana jika Ji Yong-ssi saat itu sedang tidak memandang Chaerin?”

“Salah bagaimana? Tiffany, penglihatanku ini tidak mungkin salah.” elak Sooyoung sedikit kesal. Ia tidak habis pikir, kenapa sahabatnya ini terlalu dibutakan oleh cintanya terhadap Seunghyun, sampai-sampai Tiffany mengatakan kalau Sooyoung seolah-olah telah mengatakan hal-hal yang telah menyimpang jauh dari kenyataan.

“Baiklah, aku percaya padamu. Omong-omong, apa ajakanmu itu masih berlaku padaku, Choi Sooyoung?”

“Entahlah,” jawab Sooyoung singkat, dari nada suaranya terdengar sekali jika ia masih merasa kesal.

“Oh, ayolah…. Kecantikanmu akan hilang jika kau memasang muka cemberut seperti itu. sebagai permintamaaf-ku, aku mau menerima ajakanmu.” goda Tiffany. Tiffany tersenyum melihat raut wajah Sooyoung sudah tak lagi muram.

“Lalu, bagaimana dengan Seunghyun?”

“Mungkin dia sudah memberitahuku dengan mengirim pesan ke handphone-ku.”

“Memangnya handphone-mu tidak ada padamu?” tanya Sooyoung.

Tiffany menggeleng pelan. “Handphone-ku tertinggal di rumah.”

“Baiklah, kajja!” jawab Sooyoung singkat sambil menggeret Tiffany meninggalkan sekolah.

****

“Jadi itu alasannya kau menjadi sakit seperti ini?” Ji Yong hanya membalasnya dengan anggukan pelan. “Apa kau tahu siapa namja yang saat itu sedang bersamanya?” Seunghyun kembali bertanya.

Ji Yong menggelengkan kepalanya dengan lemas. “Aku tidak mengenalnya, tapi aku tahu namanya, itu saja aku tahu saat seseorang tengah berlari menghampiri mereka sambil meneriakkan sebuah nama.”

“Siapa namanya?”

“SeungRi.” Jawab Ji Yong singkat.

Seunghyun terdiam sejenak dengan mata terbelalak, sedikit tidak percaya saat mendengar Ji Yong menyebutkan sebuah nama yang sudah tidak asing lagi baginya.  Baru setelah ia tersadar dari ketidak percayaannya, Seunghyun lantas meledakkan tawanya. “A-apa yang kau maksud itu adalah Lee Seunghyun?” tanya Seunghyun dengan susah payah. “Sebaiknya kau berikan saja rasa cemburumu itu pada orang lain yang sama-sama menyukai Chaerin.”

“Apa maksud dari perkataanmu, hyung?” tanya Ji Yong lantas mengernyitkan wajahnya.

“Lee Seunghyun dan Lee Chaerin itu – mereka adalah kakak-beradik.”

“Mwo!?” pekik Ji Yong tak percaya. Kakak-beradik?

Seunghyun semakin tidak bisa mengontrol tawanya saat melihat wajah Ji Yong tengah memerah, mengeluarkan semburat malu dan terpatri jelas di wajahnya.

****

ToBeContinued

annyeongg!!! *teriak ga jelas di podium*

wina keombaeg *lempar permen… mian kalau ke-keombaeg-an saya terlalu lama kekeke~ habisnya waktu itu saya lagi gak keruan nunggu hasil ujian saya daannn eng ing eng.. hasil ujianku sangatlah tidak memuaskan T,T *nangis dipelukan abang GD&TOP*

eittsss… masalah belum kelar disitu aja! Saya juga lgi puyeng cari sekolah -,-“ *EH KOK MALAH CURHAT!!

Baeg to FF ~ mianhae kalo janjiku duluà masalah waktu yang di janjikan untuk ngepost nih FF keramat *saking anehnya* terlalu lama dari tanggal yg sdh kutentukan TT,TT… mian juga klo banyak typo-nya, kecepeten alurnya, dn satu lagi… ini FF perjuangannya besar banjet, sama perjuangan pas thn’ 45 mah kalah ._. pengen tahu? *readers: ENGGK!* wina kasih bocorannya deh…

Berhubung keyboard di rumah lagi bobrok ._. dan demi perjuangan temen2 yg selalu nantiin nih FF keramat *siapa juga yang nunggu* jadi saya rela ngetik nih FF dengan keyboard yang huruf a-nya bener2 ga bisa jadi setiap ngetik kata2 yang ada huruf “a”nya harus copas TT,TT

Mian buat Chandri unnie, para author lain yg ada di BBFF,  dan para readers, saya blm bisa jadi author yang baik di BBFF, KSI, maupun blogku sendiri _,_  dan klo ada yg tanya ‘kenapa ga di warnet aja’ itu karena ngetik ataupun buat FF selain dirumh sendiri itu ga nyaman banget…

Satu lagi… masalah poster itu asli buatan saya >,< mian kalau merusak mata kekeke~ biasa, orang buta seni nekat bikin poster ya jadinya gini -,- oh ya sebelumnya…. Big hug buat dewita yang tanpa lelah mengajariku bikin poster FF, dan atik piece yang udah sedikit memberi.. eh banyak perubahan pada poster saya :D tentu saja buat poster bikinan saya jauh lebih baik lah~~

Hehehehe udah segini saja curhatan saya :P mian kalo cerewet bgt -.- saya tunggu komen kalian :D kekeke~

Oh ya alamat blog saya sudah bukan kwonppa.wordpress.com tapi ganti jadi vitadolceonkpop.wordpress.com >,<. Gomawoo ;P