Author : chanyb

Title : Dia, Pria itu, dan Kita

Cast(s) : Lee Seungri – Seseorang sebagai karakter ‘Aku’ (Boleh bayangi diri sendiri, kakak, adik, ortu, tetangga, de el el) #dihajar

Genre : Romance, comedy

Length : Oneshot or ficlet

Disclaimer: Yang saya miliki cuma plot.

NB : Jangan memaksakan diri untuk membacanya.

 

=====>>

Aku melirik sebuah diary bersampul biru laut serta sebuah pena yang berada di genggamanku secara bergantian. Jujur, ini baru pertama kalinya aku mencorat-coret tentang keseharianku yang membosankan dan juga mengenaskan. tak bisakah taman ini memberiku inspirasi untuk memulainya? kupikir menulis diary selagi menunggu Seungri merupakan ide yang bagus. ternyata…

Aduh, mengapa mengisi lembar pertama dalam diary begitu sulit bagiku? Bukankah ini amat mudah ketimbang aku harus beradu argumen dengan bocah SMA itu tentang hal-hal pribadi yang pada akhirnya malah dia yang akan berkeluh kesah. Apakah jawaban dari kesulitanku adalah engh… Karena aku terlalu keren! Baiklah. Baiklah, aku akan serius. Euhm, Di lembar pertama biasanya seseorang bakal menceritakan siapa dirinya.

Dear diary. Hoeks… Sepertinya kalimat pertamaku terlalu pasaran untukmu, ya kan? Coba kupikir adakah hal menarik dari seorang yeoja yang agak sedikit… Errhh… Haruskah aku menulis kelebihan lemak? Menyebalkan! Kau tahu, karena tubuh berselulit  ini aku selalu menjadi bahan olokan. Memang apa salahnya bila aku tidak seseksi teman kuliahku, aku malas menyebut nama si barbie Park Bom padamu! Tapi, sudah terlanjur kutulis T^T bagaimana ini?

 Pernah, aku mencoba menurunkan bobot tubuhku dan hasilnya cukup memuaskan aku sukses memangkas 3 kg. Ya. Ya. Ya. Aku memang hebat, aku tahu itu. Tak perlu memujiku lagipula seminggu setelahnya beratku naik 8 kg. Huuuaaaaaaa…. Wae? Wae? Wae? Jawab aku kertas bodoh! Hah, sudahlah, semoga diet kali ini berhasil. Harus. Percayalah, aku belum memakan apapun sedari pagi. Dua hotdog berukuran ekstra yang masuk ke lambungku tadi tidak dihitung. Alasannya, yah, karena aku melahapnya sambil berjalan jadi, jumlah kalori beserta teman-temannya pasti berkurang. Itu pendapatku :p.

Sebentar, apakah masih ada noda saus di bibirku? Dengan sigap aku merogoh salah satu kantung tas selempangku, mengambil sebuah cermin kecil kemudian memeriksa wajahku. Kalau Seungri sampai tahu. Ish, bisa-bisa bocah itu menyumpalkan sebotol minuman–entah apa. Yang jelas cairan itu hampir membuatku mati akibat dehidrasi parah. Lalu, dengan wajah tanpa dosa ia berkata : kau berhasil menurunkan beratmu noona. Sungguh pada detik itu aku ingin mencekiknya. Untuk sesaat aku menyapu penglihatanku ke sekitar taman sebelum melanjutkan aktivitas semula. Dimana Seungri? Apakah ia mengikuti pelajaran tambahan? Sebaiknya aku juga menulis tentang bocah itu. Teman semata wayangku.

Hei, diary kau perlu tahu jika bocah bernama Seungri itu adalah seseorang yang selama ini mendikte ku agar berdiet. Cish, berani-beraninya dia memerintahku padahal dulu aku menemukannya tengah terpuruk di tempat sampah. Aku tidak berbohong soal ini. Dia benar-benar kutemukan di sana. Di bulan Juni tahun lalu, ketika aku menyusuri gang kecil menuju rumah. Tanpa sengaja aku melihat perkelahian anak-anak SMA.

Tetapi, pantaskah aku menyebutnya sebagai perkelahian sementara Seungri yang terus dihajar hingga terjungkal ke tempat sampah? Pasalnya? Apalagi kalau bukan memperebutkan seorang gadis. Hah, seandainya gadis yang diperebutkan adalah aku >3< . Betapa indah dunia ini dan pada hari itu tiba, jangan-jangan dunia bakalan kiamat. Amit-amit. Sejak saat itu, hampir setiap hari Seungri merecoki hari-hariku. Sangat sukses membuat aku semakin dibenci oleh para gadis karena aku berdekatan dengan seorang pemuda hmmm… Tampan.

Tidak. Tidak. Tidak. Aku tidak boleh menulis kata tampan disini! Coret. Coret (Tampan) bisa besar kepala dia.

“Noona!” Setelah mendengar suara sengau milik Seungri, spontan aku mendongak sambil menutup diaryku. Ia berjalan dengan langkah gontai seraya memasang raut berantakan. Mengapa selalu begini? Datang dengan wajah ditekuk.

Mendadak ia mendorongku ke samping agar bisa duduk. “Noona, mengapa dia lebih memilih pria itu ketimbang aku, pacarnya? Apa salahku?” Lagi lagi tentang seorang gadis serta seorang pria bernama Ji Eun dan Young Bae yang selalu ia beri label dia, pria itu, blablabla… Perlahan, aku meraih sebungkus keripik kentang di tasku lalu merobeknya. Ayolah, mendengar ocehan Seungri akan sangat membosankan.

Aku baru meraup beberapa lembar keripik kala Seungri merebutnya secara paksa. “Noona, jangan memakan keripik ini! Lihat lemakmu ada dimana-mana, apa kau mau beratmu bertambah untuk kesekian kalinya, heh?”

“Aish, kau ini! Sebenarnya kau mau mengomentari masalah lemak dalam tubuhku atau ingin bercerita tentang ; dia dan pria itu.” Aku mendelik kesal. Ia nyengir lalu kembali suram, mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Menatap segerombolan anak kecil yang berlarian tanpa beban.

“Aku bahkan lebih tampan dari pria itu, ya kan, aku sangat tampan?”

“Tidak. Kau masih kalah tampan dari Daesung!”

Mwo? Tidak mungkin aku kalah tampan dibanding Daesung si sipit itu! Aku heran kenapa kau menyukainya, yang dari fotonya aku sudah bisa menyimpulkan kalau matanya tidak lebih besar dari biji kacang tanah! Buka matamu lebar-lebar noona, ketampananku setara aktor papan atas Choi Seunghyun, penampilanku tak kalah memukau dibanding si rapper fashionista Kwon Jiyong, aku yakin itu! Jadi, you know lah…”

“Tidak! Bagiku Daesung jaaauuuuh lebih tampan daripada si mata panda sepertimu ataupun dua orang yang kau sebut barusan!” Daesung memang benar-benar tampan, ah, andaikan ia tahu bahwa ada seorang perempuan yang berusaha keras menurunkan berat badan juga selalu berdoa supaya setiap pagi dapat melihat senyum menawannya. Aw, membayangkannya saja sudah membuatku gila.

“Tentu dia sangat tampan di matamu. Dan barangkali kau bakal terlihat seksi di mata sipitnya!”

“Ck, berani mengoceh sekali lagi maka, sampai kapanpun aku takkan pernah mau mendengar kisah asmaramu,arraseo!”

“Arra. Arra. Hmm, noona apakah aku ppabo? Hampir setiap waktu aku berusaha–sesering mungkin berada di dekatnya. Terutama saat dia butuhkan. Meneleponnya, mengiriminya pesan, mengucapkan kata cinta sebelum dan sesudah dia terlelap. Namun, mengapa hanya nama pria itu yang selalu kudengar? Kini, dia malah menyampakkan ku DEMI PRIA ITU! Semestinya DIA MENCINTAIKU!” Ia diam sejenak. “Noona, mengakulah kau pasti juga mencintaiku, kan? Mana mungkin selama setahun terakhir kau tidak terpesona oleh ketampananku!”

Apa-apaan bocah ini! “Hah, terpesona? Dengar! Aku tidak akan pernah mencintaimu Lee Seungri!”

“Jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa kau tak akan mencintaiku! Itu sama saja saat kau berkata tidak menyukai sannakji sebelum kau mencobanya.”

“Maksudmu?” Bukannya menjawab, Seungri malah menatapku lekat sambil tersenyum genit lalu–entah apa maksudnya, ia tiba-tiba mendekatkan wajahnya padaku. Astaga, aku bahkan bisa merasakan hangatnya embusan napas Seungri yang menggelitik wajahku. Jantungku… Tuhan selamatkan jantungku. Secara dramatis aku menutup mataku. Tak mampu bergerak barang sedetikpun. Diary tolong aku!

“Maksudku, cobalah dulu menjadi kekasihku. Baru kau boleh mengatakan kau tidak menyukaiku, noona.” Ia menjauh.

“Seungri-ya, akibat ulah konyolmu jantungku hampir terjun bebas ke lambung. Jangan pernah bermain-main seperti tadi! Jantungku tidak kuat, bagaimana jika mendadak aku terkena serangan jantung?”

Ia berdiri di hadapanku kemudian merentangkan tangannya lebar-lebar. “Nah kan, apa kubilang kau tidak bisa menolak pesonaku. Percayalah!”

“Berhentilah membual!” Aku menendang kakinya hingga ia mengaduh kesakitan.

“Aish, aku tidak sedang membual, aku serius. Bagaimanapun juga kau bertanggungjawab atas putusnya kisah cintaku!”

“Aku?” Layaknya gadis idiot aku menunjuk wajah bulatku sementara mataku terus berkedip. Coba pikir, bagaimana bisa aku yang penuh lipatan lemak ini adalah penyebab putusnya mereka.

“Hm… Hm… Kau noona, dia cemburu padamu! Aaaaarrggh… Aku tidak tahu mengapa saat dia menyebut nama pria itu, aku pun bakal menyebut namamu berulang kali dengan wajah berbinar-binar. Katanya.” Seungri mengempaskan tubuhnya lalu bersandar ke pundakku. Jangan sampai ia menangis lagi di pundakku, ini pakaian kesayanganku.

“Itu salahmu sendiri bukan aku!”

“Tidak! Ini salahmu! Kau harus tetap bertanggungjawab!”

Mwo?”

“Jadikanlah aku seseorang yang sulit kau hilangkan dalam benakmu seperti selulitmu yang sangat sulit kau singkirkan!”

What?

.

.

.

.

.

.

.

– Udahan Dulu Yaw –

#kabur

Sorry dorry stobery >3< bikin epep gaje begindang. Jangan salahkan saia, salahkan Seungri yang menghantui otak saia. Udah epep ini saia bakal fokus sm epep lama :3 (sebodo amat mau ada yang nunggu ato gak) Jadilah reader yang pengertian, okeh!