Title : Monster
Author : Shin-B
Main Cast :
– Choi Seung Hyun (TOP BigBang)
– Lee Park Bom (2NE1)
Support Cast :
-Kwon Jiyong (GDragon BigBang)
Lenght : Ficlet
Genre : Sad Romance
Rating : PG-13
A.N :
Ini FF abal, maaf kalo gaje. Bikin FF ini ngebut setelah denger lagu Monster – Big Bang. Lirik lagunya nyentuh baget :’D. FF ini udah pernah di post di blog pribadi, jadi ga plagiat😀
Happy Reading! ^^

*Seunghyun POV*

Aku terduduk di tepi kasur, mulai kesal dengan suasana canggung ini. Kubuka mataku perlahan, mencoba mencari setitik cahaya. Tapi nihil, aku tak dapat menemukan apapun. Gelap.

“Bom?” aku mencoba memecah keheningan.

“Hm?”

“Anni” ku coba menggapai tangan Bom, tapi dengan sigap Ia menarik tangannya.

“Aku harus pergi.” Kudengar suara langkah kaki yang mulai menjauh dan hilang dari indera pendengaranku.

“hhhh” aku mengerjap-ngerjapkan mataku.
“aaaarrrgh!” berteriak frustasi. Aku tak bisa melihat apapun! Tapi masih ku ingat paras cantik Bom, kekasihku. Aku tersenyum getir dan mulai merutuki diri sendiri.


Aku menghirup udara taman ini, segar. Sesegar ingatanku tentang kenangan di tempat ini, tentang canda-tawaku bersama Bom, aku tersenyum kecil mengingatnya, ketika Ia menyatakan cintanya padaku kekeke~

“Oppa, ada perlu apa kau mengajakku kemari?” melegakan sekali rasanya dapat mendengar suara lembut Bom lagi.

“Bogoshippo” ujarku tersenyum, dan merengkuh tubuhnya kedalam pelukanku. Menghirup dalam-dalam aroma rambutnya. Dia tak membalas pelukanku, tak seperti biasanya. Kulepaskan pelukanku.

“Gwenchanna?” ku pegang pipinya. Dan tak ada jawaban.

“Hmm aku sangat merindukanmu Bom-ah. Aku merindukan masa-masa bahagiaku denganmu Bom-ah. Kau ingat? Dulu kau stalker sejatiku kekeke~ Kau yeoja yang sangat menarik. Kau ingat? Saat kau terpergok olehku mengambil fotoku secara diam-diam, hm? Kau ingat? Disini cinta kita mulai terjalin, pada musim semi. Aku merindukan senyummu Bom-ah. Sayang sekarang aku tak bisa melihat wajahmu lagi.”

“HAJIMA!” aku terperanjat mendengar jeritan Bom tadi. Baru kali ini Ia berteriak padaku.

Aku mencoba menenangkannya, aku meraih-raih udara untuk menemukan rambutnya. Kuusap pelan puncak rambutnya. Ia menepis tanganku.

“Wae?” tanyaku ringan.

“You scared me!” teriak Bom lagi.

“Look! Apa yang salah dengan matamu Oppa?! Mereka berbeda warna! You scared me!”

Kurasakan angin berhembus pelan, membuat rambutnya terbang ringan menyentuh pipiku. Kudengar langkah kakinya yang mulai menjauh dariku, berlari dariku. Hatiku sakit mendengar pernyataannya.

“Kajima..” lirihku menggapai udara. Berharap Bom masih ada di tempatmya.

Sudah berhari-hari Bom menghindariku, tidak mau menemuiku, bahkan enggan mengangkat ponselnya.

Sebenci itukah Ia?

Aku sangat merindukannya, bahkan mendengar suaranya saja sudah cukup untuk menghapus rasa rinduku. Hanya dia yang menemaniku selama ini, orangtuaku meninggal 3 tahun yang lalu, dan kini aku tak mempunyai siapa-siapa lagi. Tragis kah?

Ya Tuhaaaaan.. sekarang satu-satunya orang yang sangat aku cintai membenciku.

“Let us be together forever no matter what happens. Let us be together when we’re happy and when we’re sad.” Terngiang janjimu padaku pada musim semi di taman yang sama pada saat kau menyatakan cintamu padaku. Kau tersenyum tulus padaku saat mengucapkan itu, tak ada tanda kebohongan dalam matamu, tak ada keraguan dalam matamu yang membuatku merasa tak akan pernah aku melepaskanmu.

Sakit. Kau telah mengingkari janji yang kau buat Bom-ah. Tapi aku tak bisa membencimu, aku sangat mencintaimu.

“Hyung!” lengkingan suara itu membuyarkan lamunanku.

“Jiyong-ah?” jawabku sambil mencari dimana Ia berada.

Kurasakan tangan menyentuh pipiku.

“Aku disini, Hyung.” Ujar lelaki yang sudah kuanggap dongsaeng ini. Dari nada bicaranya terdengar parau.

“Gwenchanna Ji?”

“Hyung, neo gwenchanna?” dia balik bertanya padaku. Aku hanya tersenyum menjawabnya.

“Oh. Yongie boleh kupinjam ponselmu?”

“Untuk apa? Pakai saja ponselmu sendiri” jawab Jiyong bercanda.

“Ini hyung. Kau ingin menghubungi siapa? “

“Bom.” Jawabku seadanya

“OK. Ini”

Ku genggam ponselnya, mendekatkannya ke daun telingaku. Menunggu gelisah sampai akhirnya suara sambungan terhenti digantikan dengan suara yang sangat aku rindukan.

“Yeobseo?” ujar perempuan di sebrang sana. Aku diam tak menjawab.

“Yeobseo Jiyong-ah? Ada apa?”

“Bom-ah.. bogosippho” ucapku akhirnya.

*KLIK*

Sambungan terputus. Aku mendengus pelan, dadaku sesak, aku menarik nafas dalam-dalam. Kepalaku terasa berputar, kurasakan kesadaranku menurun, ku tutup mataku erat.

“Hyung! Gwenchanna?” kudengar suara Jiyong menghampiriku.

“Dimana ini? Kenapa aku disini?” dapat kurasakan ruangan ini sangat asing bagiku, bau obat kental diudara terhirup olehku.

“Rumah sakit. Hyung kenapa kau tak pernah menceritakan ini padaku?!” kudengar suara Jiyong mulai bergetar. Aku mengerti kemana arah pembicaraannya.

“Aku tidak ingin menyusahkan orang lain, Jiyong-ah”

“Orang lain? Kau menganggapku orang asing hyung?! Setidaknya aku harus mengetahui kondisimu yang seperti ini hyung!” katanya ditengah isakan tangisnya.

“Ya! Mianhae, uljima, kau namja kkekeke~” ujarku mencoba menghiburnya.

“Eottohke? Aku tak dapat menghentikan air mataku hyung. Hiks..”

“Jiyong bolehkah aku meminta sesuatu?”

“Marhebwa”

“Hubungi Bom untukku, now”

“Arraseo”

…….

“Yobseo Noona?” kudengarkan seksama percakapan Jiyong, tapi aku tak dapat mendengarkan apapun.

…….

“Mianhae eommoni. Kenapa bisa?!”

…….

“Eh? Eodiseo eommoni?”

…….

“Arraseo, aku segera kesana”

*KLIK*

“Wae Jiyong? Eommoni siapa yang tadi kau ajak bicara?” tanya ku penasaran.

“Bom noona sekarang dirawat dirumah sakit yang sama denganmu” jawab Jiyong parau.

“Mwo? Wae? Kenapa Bom disini?!”

“Eoh.. eum.. Bom noona.. mengidap sirosis hati kronis hyung..” terang Jiyong terbata, mengatur nafasnya yang sudah memburu.

Keterangan darinya membuatku shock. Aku tidak pernah mendengar keluhan penyakit separah itu dari Bom. Apa dia menyembunyikannya dariku? Selama ini Bom sangat terbuka dalam bercerita apapun padaku. Tapi ini??

Kepalaku terasa berat sekarang dan.. eobseo.. aku serasa melayang..

*Bom POV*

“hhhhhh” sakit.. aku tak tahan dengan rasa sakit disekujur tubuhku. Rasanya ingin mati saja.

“Nyonya Lee? Kami mendapatkan pendonor hati, bisa kita lakukan operasi sekarang? Lebih cepat lebih baik” samar kudengar uisa berbincang dengan eommaku.

Ya Tuhan.. akhirnya ada pendonor hati, aku sudah putus asa karena tak ada harapan hidup lagi bagiku.

Kurasakan kasur yang aku tempati bergeser dari tempatnya. Memasuki ruangan lain. Ruang operasi? Mungkin. Kulihat Seunghyun oppa berdiri tepat disisiku.

Seunghyun oppa? Aku tersenyum kecil melihatnya. Dia membalas senyumku. Kurasakan semuanya perlahan mulai terasa gelap.

-Seminggu kemudian-

“Noona! Sudah baikkan?” tanya Jiyong ceria sambil mengganti bunga di vas dekat jendela kamar rumah sakit ini.

Aku hanya tersenyum mengangguk menjawabnya. Aku merindukan Seunghyun Oppa.

“Jiyong. Apa kabar Seunghyun Oppa? Aku merindukannya” kataku lancar, membuat Jiyong menghentikan aktivitasnya dan menatapku nanar. Eh?

“Jiyong, jahat kah jika ada seseorang yang mengatakan, bahwa Ia takut pada kekasihnya sendiri dan mulai menghindari kekasihnya itu?”

Jiyong tak menjawab, dia menatapku dengan tatapan tak mengerti.

“Aku berkata begitu pada Seunghyun Oppa.” Kataku mengaku dipenuhi rasa sesal.

“Apakah Seunghyun Oppa marah padaku? Aku menghindarinya karena aku tak mau dia sedih jika aku menginggalkannya untuk selamanya, aku tak mau dia merasa terpukul jika aku pergi, karna waktu itu memang sudah tak ada harapan hidup bagiku, tak ada transplantasi hati untukku.” Dadaku sesak. Aku merasa menjadi orang jahat. Apa Seunghyun Oppa marah padaku, ya?

Kulihat air mulai menggenang di pelupuk mata Jiyong. Dia menghampiriku, memberikan secarik kertas untukku.

“dari Seunghyun Hyung” ucapnya singkat dan berlalu dihadapanku.

Ku buka surat itu.

“Bom-ah. Jangan aneh kalau aku menulis surat ini, aku meminta Jiyong yang menuliskannya untukku kekeke~ Mungkin ketika kau membaca surat ini aku sudah tidak ada lagi di dunia. Takkan lagi ada disampingmu. Maaf. Tapi tenag saja, aku selalu bersamamu. Hatimu adalah hatiku. Jaga hatiku baik-baik. Aku selalu menyayangimu.

Bom-ah banyak yang ingin aku ceritakan padamu. Hmm.. ini tentang masalah pribadiku yang tak ingin seorangpun tahu tentang ini. Eum.. sebenarnya aku mengidap penyakit kanker otak stadium akhir. Aku enggan menjalani pengobatan terapi yang membuat rambutku rontok. Toh pasti tak berpengaruh banyak pada perpanjangan usiaku. Karena itu, penyakit ini telah menggerogoti mataku, merusak kornea mataku sehingga tak berfungsi lagi, dan mungkin lensaku juga rusak, sehingga warna mataku berbeda eoh? Mianhae, seharusnya aku bercerita ini dari dulu tapi aku tidak ingin kau merasa terbebani. Mianhae aku telah membuatmu ketakutan dengan perubahan lensa mataku. Aku tak tau akibat penyakit ini sampai begitu kekeke~~

Eum.. Bom-ah, Let us be together forever no matter what happens. Let us be together when we’re happy and when we’re sad. When the time passes, I will have to disappear. The world without you is like a capital punishment. The world doesn’t go correctly without you. Please remember the me that stood next to you. Please don’t ever forget me.

Saranghae Bom-ah! Aku selalu ada bersamamu, dihatimu.

I love you, baby i’m not a monster.

Yours till niagara fall
Choi Seunghyun ♥”

Kuremas surat itu, dadaku terasa sangat sesak, air mataku tak terbendung lagi. Kupegang letak hatiku, dapat kurasakan kau bersamaku Seunghyun-ah. Saranghae, jeongmal saranghae!

“You’re not a monster, my angel” lirihku.

-FIN-
gajekah? .____. haha aku bisanya bikin NC sih #plakk. Makasih buat yang baca. Dan terimakasih banyak buat Chan eonni yang mau post FF gaje ini🙂 gomawoooooooooooooo :’)