Puzzle

Author: Diyun

Cast(s): Bom, Yongbae

Genre: Fluff

Lenght: Drabble (399 words)

Rate: General

Note: HALO!!!! Maaf kalo akhir-akhir ini saya jarang ngepost ataupun aktif di WP, bener-bener keenakan tumbleran saya ;~; Happy reading aja dehyaa…

 —


Ruang tengah kediaman Lee tampak sepi. Hanya ada seorang wanita berambut panjang kemerahan dan laki-laki mohawk yang sedang duduk diam di depan meja kaca berbentuk bundar.

“Bukan di situ tempatnya, Yongbae-ah.”

Bom mengambil kepingan puzzle yang diletakkan Yongbae di tempat yang salah. Yongbae tak menyahut, laki-laki sipit itu malah memanyunkan bibirnya sambil sok sibuk mencari tempat untuk potongan puzzle lain yang sedang dia pegang.

“Bukan di situ juga. Ish!”

Bom berdecak ketika lagi-lagi Yongbae meletakkan kepingan puzzle di tempat yang salah. Sekali lagi wanita itu harus mengambil kepingan itu dan membenarkan letaknya.

“Kamu bisa main puzzle tidak, sih?” Bom mengangkat alisnya, bicara dengan mulut yang sengaja dimaju-majukan. Yongbae diam saja. Dia masih terus berkonsentrasi, bergantian memperhatikan kepingan-kepingan puzzle dengan papan puzzle yang masih belum lengkap.

Yongbae mengambil satu keping puzzle, bagian lingkarnya ada dua, atas bawah, bagian datarnya ada dua juga, kanan dan kiri. Yongbae memutar bola matanya. Ekspresi wajahnya tampak sangat serius, seakan-akan dia sedang mengerjakan soal-soal ujian, padahal yang dia kerjakan hanya puzzle sederhana yang bahkan bisa dengan mudah disusun oleh anak kecil.

Bom mengacak rambutnya. Gemas.

“Yongbae! Serius, dong!”

“Aku serius, nuna. Puzzle ini sulit sekali dipasang.”

Yongbae mendongak, memanyunkan bibirnya. Bom mendelik.

“Jangan bercanda, darimana nilai delapanmu di sekolah dulu, main puzzle saja tidak bisa.” Bom mengangkat satu alisnya. Yongbae menggigit bibir bawahnya, tangannya yang dari tadi terangkat membawa kepingan puzzle, ia turunkan.

Matanya yang terlihat seperti orang bangun tidur itu menatap Bom dengan serius. Bom memiringkan kepalanya, memasang wajah bingung. Ia tidak mengerti arti tatapan Yongbae.

Yongbae menghela napas, meletakkan kepingan puzzle itu di meja. Meraih tangan Bom dan menggenggamnya.

“Eh? Y-Yongbae, a-apa—“

“Tetaplah bersamaku, ya, nuna.” Yongbae menyunggingkan senyum tipis yang membuat jantung Bom berdetak lebih cepat.

“Apa?”

“Aku tidak bisa mengerjakan sesutu dengan benar tanpamu, jadi, tetap bersamaku, ya?” Yongbae meremas tangan Bom, mengusap-usapkannya sedikit dengan tangannya. Tersenyum hingga kedua matanya tertutup.

Bom mengerutkan dahinya. Apa ini pernyataan cinta? Ugh.

“Yongbae-ah.. Apa kamu sedang—“

“Bukan. Ini bukan pernyataan cinta, kok, nuna. Aku Cuma minta kau tetap di sampingku.”

Dzz.

Wajah Bom memanas. Malu. Wanita dua puluh tujuh tahun itu menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah. Yongbae tertawa kecil, kemudian melepas genggamannya, kembali sok fokus memainkan puzzlenya.

“Lagi pula, aku tidak mau pacaran dulu.”

“Hm?”

“Kita ‘kan besok langsung menikah, iya, ‘kan, nuna?” Yongbae beringsut dari duduknya. Melenggang pergi ke dapur, meninggalkan Bom yang sekarang sedang terbengong-bengong menatap punggung Yongbae.

 

 

Fin.