Title : Yearning

Author : Atikpiece

Cast :

  • Choi Seunghyun
  • Park Bom

Genre : Romance

Length : Ficlet

Rating : General

 

Annyeong ! *lambai gaje*

saya balik lagi dengan FF  baru yang… hm, sedikit ‘gimanaa gitu’ menurutku *eh? . Karena masih ada sisa-sisa waktu di sore hari, akhirnya saya bikin ficlet kayak gini dueh ^^ Saya bikinnya ngebut banget, takut ntar ketinggalan kereta (?) wkwk (^^v)

 

 

Let’s Enjoy !

…..

 

Seunghyun’s side

Baiklah. Sepertinya hari ini aku bangun terlambat ketika cahaya matahari yang mulai meninggi itu telah menerobos jendela kamarku. Tidak hanya jendelanya, melainkan diikuti tirai gorden yang menutupinya. Aku mengusap-usap mataku juga rambutku lalu menguap sejenak, kemudian berdecak seiring dengan kedua kakiku yang menyentuh lantai marmer. Hawa di kamarku sedikit dingin karena air condition yang menempel di bagian atas dinding itu belum kumatikan sejak kemarin. Yah, aku yakin nanti bayaran listrik apartemen ini akan naik akibat ulahku.

Mungkin kali ini aku juga akan dimarahi managerku karena aku akan datang beberapa jam lagi dan tidak sesuai dengan jadwal—atau bisa dibilang ‘aku terlambat’. Orang itu juga sama sekali tidak meneleponku. Aku bosan ketika mulut kecilnya itu berkomat-kamit sendiri tanpa alasan. Apalagi ketika dia menyindirku. Baik, aku sudah terbiasa dengan kelakuan macam itu. Biar saja aku terlambat. Toh, aku juga butuh istirahat karena otak besarku terus dibayang-bayangi pekerjaan yang harus kulakukan dari pagi sampai tengah malam. Persetan dengan kata-katanya. Yang terpenting sekarang, aku sedang malas melakukan semua itu.

Tanpa aku sadari, langkahku tiba-tiba terhenti di depan bingkai foto yang tergantung di sebelah pintu. Agaknya, bingkai itu sedikit berdebu. Hanya dengan dua kali usapan, debu-debu itu sudah melayang tak tentu arah. Aku menarik napas sejenak saat arah mataku tertuju pada dua orang di foto itu. Mereka terlihat masih muda. Dengan foto hitam putih itu, aku masih bisa melihat diriku di masa lalu bersama gadis yang berada di sampingnya.

Ya, seorang gadis yang sudah menyelimutiku setelah sekian lama. Dia orang yang sangat … hm, aneh. Aku tidak bisa mendeskripsikan dirinya lebih rinci. Dia itu lebih dari segalanya, dan aku memang termasuk pria beruntung karena memilikinya.

Aku bertemu dengannya sebanyak dua kali. Eh, tidak. Menurutku itu tidak banyak. Malah, itu lebih sedikit dari yang kubayangkan. Padahal aku sudah hidup bersamanya selama dua tahun. Dan kita sama-sama menjadi seorang selebritis. Di duniaku yang seperti itu, sudah pasti aku tidak sering bertemu dengannya. Melihat dia di rumah pun jarang, apalagi bertemu. Kupastikan jadwal padat yang membayangi kami itu benar-benar menyesatkan. Ya, menyesatkan hatiku.

Kenapa ? Karena rasa rinduku padanya sudah lumayan besar. Tentu saja, dia selalu mengingatkanku dimana aku masih duduk di bangku sekolah menengah. Aku bertemu dengannya di sebuah laboratorium. Dia sedang melakukan penelitian semacam… ah, aku lupa namanya karena itu sama sekali tidak penting. Kau tahu, dia orang yang sangat pintar. Tidak sepertiku yang selalu tidur di kelas dan mendapatkan nilai 5 untuk ulangan harian—itupun sudah dirata-rata sejak semester awal. Aku bukan tipe pria polos yang suka membaca sejuta kata di dalam buku ilmu pengetahuan. Itu membuat kepalaku pusing dan mataku jadi berkunang-kunang—layaknya film kartun.

Belum lagi ketika dia pergi ke toko buku. Diam-diam aku menjadi stalker dan terus mengikutinya. Bisa dibilang, aku ini seorang penguntit. Penguntit si gadis cantik di depan mataku. Sungguh, sewaktu dia berjalan di ujung toko untuk membaca, aku ingin mendekatinya. Paling tidak, hanya berdiri di sampingnya saja. Tapi, debaran jantungku serasa begitu kentara sehingga aku enggan melanjutkan niatku. Aku pikir, melakukan pendekatan padanya akan terasa sulit karena aku baru pertama kali bertemu dengannya.

Eh, tapi… beruntung jika kerja otakku hari itu dirasa bertambah cepat. Aku akan melakukan langkah awal untuk mendekatinya. Pertama, aku pura-pura jatuh di depannya dan mengaduh kesakitan. Aku yakin jika posisiku saat itu sangat menguntungkan.

Dan alhasil, dia terkejut dan segera menolongku untuk berdiri dan memeriksa bagian mana yang sakit. Haha, taktik kuno. Aku tidak menyangka aktingku sangat bagus, sampai dia begitu percaya padaku bersamaan dengan mimik mukanya yang seketika berubah khawatir.

Tapi, aku hanya menggeleng pelan dan tersenyum, menggumamkan kata ‘tidak apa-apa’ untuknya. Mendengar jawabanku, dia langsung tersenyum manis ke arahku. Astaga, tidak kusangka jika itu adalah maut bagi jantungku. Organ tubuh yang satu ini berdetak lebih cepat, membuatku harus menelan ludah beberapa kali dan berteriak dalam hati. Senyum lebar yang jarang sekali aku perlihatkan di depan banyak orang itu tiba-tiba tertera di wajahku.

Ini kali pertamanya aku melakukan itu. Aku berpikir jika senyumanku ini kudedikasikan khusus untuknya. Rasanya hidupku terasa begitu hampa disaat aku tidak memikirkannya. Tidak. Mana mungkin aku tidak memikirkannya. Wajahnya yang cantik itu saja terus menerus membayangiku. Kadang-kadang, aku tersenyum sendiri ketika mengingat percakapanku dengannya. Terdengar seperti basa-basi. Tapi, itu sangat menyenangkan karena dia orang yang komunikatif—juga friendly. Jadi, aku tidak akan pernah bosan berbicara padanya.

Setiap hari, aku selalu meneleponnya meski hanya sekali dalam seminggu. Dia juga menanggapiku dengan santai—dan sedikit perhatian akan keadaanku. Berkali-kali dia mengatakan ‘jaga kesehatanmu’ padaku. Suaranya yang lucu juga sedikit menggemaskan itu membuat hatiku serasa meleleh. Yah, kurasa aku terlalu berlebihan. Anggap saja aku seperti salah tingkah jika mendengar suaranya.

Seiring dengan berjalannya waktu—dan juga semakin bertambahnya umur, akhirnya aku sudah 25 tahun, dan pekerjaanku pun jadi bertambah banyak. Begitu juga dengannya. Padahal hanya satu yang aku inginkan di dunia ini, dan itu sering kali aku panjatkan kepada Tuhan.

Untuk kali ini saja, aku ingin dia melihatku. Dan aku juga ingin melihatnya tidur di sampingku ketika aku terbangun di pagi hari. Aku ingin mengusap puncak kepalanya lagi dan mencium kedua mata juga pipinya yang lembut.

Sempat terpikirkan olehku, beginikah rasanya menjadi seorang selebritis ? Memang di kehidupanku, aku sangat senang ketika bertemu para fans yang terus berteriak memanggil namaku dan melambaikan tangan mereka dimana aku sudah berdiri di atas panggung untuk menyanyikan lagu-lagu favorit mereka. Aku tahu mereka adalah energiku, aku juga tahu kalau mereka adalah sumber semangatku.

Tapi, aku juga merasakan ada sesuatu yang hilang… dan sesuatu itu, aku yakin pasti dialah orangnya.

 

“Seunghyun-ah

 

Aku berbalik saat suara lembut yang sudah lama kurindukan itu terdengar di telingaku. Aku melihat seseorang mulai menginjakkan kakinya memasuki kamarku. Mataku terbuka lebar ketika aku memperhatikan gerak-geriknya. Dia tertunduk lemas di depan pintu. Kemudian memaksakan diri tersenyum kepada naempyeon-nya ini. Aku sudah tahu jika dia kelelahan. Dan bisa kuhitung dengan jari.

 

Oh, God ! Akhirnya aku bertemu dengannya lagi ! Aku sudah bertemu dengannya sebanyak tiga kali !

 

Aku berbicara dalam hati seiring dengan langkah kakiku yang berdebam mendekatinya. Kupeluk tubuhnya erat dan kuletakkan kepalaku dibahu kirinya. Aku tidak memikirkan konsekuensi jika dia sesak napas akibat pelukanku. Tapi biarlah, itupun karena aku berusaha menumpahkan rasa rinduku sehingga aku tidak bisa melepaskannya begitu saja.

Sejenak aku merasakan kedua tangannya mengusap punggungku pelan. Baik, kurasa dia menerimanya dengan hati yang tulus. Sudah kupastikan dia mengerti jika aku bersikap seperti ini karena aku sudah lama tidak melihat wajahnya, senyumannya, dan perlakuan yang saat ini sedang kurasakan.

Bagiku, semuanya terasa sangat berarti. Disaat-saat seperti ini aku yakin dia juga merindukanku. Banyak hal yang terjadi di kehidupannya sehingga bertemu dengannya pun seperti aku tidak melihatnya selama beberapa abad. Oh, ya. Aku mulai berlebihan lagi. Jika dipikir baik-baik, seharusnya aku berterima kasih pada naluriku karena aku belum berangkat bekerja. Jadi, aku bisa bertemu dengannya disini. Di tempat yang kuinginkan.

 

I really miss you, baby… we can like this forever, right ?

 

No problem…as your wish, my sweety…

 

 

I Love You…

-FIN-

 

Aih.. maap kalo aneh ._.v banyak typo, alur kecepetan, de el el, de el el. Soalnya ini dibikin dalam suasana hati yang cerah terang benderang.. dan tidak segundah dan segalau biasanya. ß emang saya ini orangnya sering nge-galau, Nyahahahaha~! ._.a *oke, yang ini nggak penting -_-* *siap-siap dilempar bangku*

Yah.. jadi, mianhae ya kalo feelnya nggak dapet ;3