Sebuah apel yang sudah tak utuh menggelinding, berhenti di depan kaki beralaskan sepatu kets bermerek. Chaerin, sang pemilik kaki menunduk, kemudian membungkuk memungut apel itu. Ia mengedarkan pandangan, matanya berhenti pada sosok lelaki berseragam pasien yang sedang duduk manis di bawah sebuah pohon, tangannya mengepal memegang sesuatu.

Chaerin tersenyum, lalu melangkahkan kakinya, berjingkat menuju lelaki itu.

Jiyong nyengir sedikit, tangannya terangkat, beberapa saat kemudian tampak sebuah apel utuh melayang, mendarat tepat di perut Chaerin. Gadis itu menghentikan langkah, menyentuh perutnya kemudian mendongak, memberi tatapan sadis pada sang pelaku.

Jiyong lagi-lagi nyengir.

Chaerin manyun, segera ia berlari mendekat, dengan cepat memukul bahu Jiyong keras.

“Sakit, tahu!”

“Ih, sama!”

Sesaat, mereka berdua diam sambil mengelus bagian tubuh masing-masing yang baru saja kena hajar. Akhirnya Chaerin berjongkok, kemudian merangkak dan duduk di samping Jiyong.

Chaerin menoleh menatap wajah Jiyong yang tampak pucat. Tangannya terangkat, lembut mengelus rambut Jiyong yang tak tertutup topi kain putih yang ia kenakan.

“Bagaimana keadaanmu? Lebih baik, kan?”

Jiyong menggeleng, “tidak. Kemarin, dokter bilang aku tinggal menunggu waktu, sejak itu aku tidak pernah merasa baik.”

Lelaki itu menghela napas berat. Jiyong menggembungkan pipinya, menatap Chaerin dengan tatapan sok imut. Chaerin merinding.

Gadis berambut pirang itu mengangkat bahunya sejenak, ia kembali mengedarkan pandangan. Memperhatikan setiap sudut taman di tengah-tengah panti perawatan penderita leukimia yang asri. Pandangannya jatuh pada seorang wanita seumuran ibunya yang sedang duduk di sebuah kursi panjang, ia dikelilingi anak-anak botak dan berpakaian sama seperti Jiyong. Wajah si wanita tampak bahagia, begitu juga dengan anak-anak yang mengelilinginya, walaupun wajah anak-anak itu tak tampak jelas tapi suara tawa yang menggema cukup memberi bukti bahwa mereka sama bahagianya seperti wanita tua itu.

Ahjuma itu perawat di sini?” Chaerin bertanya tanpa memandang Jiyong. Jiyong yang tadinya sedang sibuk mendongak memandang daun-daun di atas mereka menundukkan kepala, mengikuti arah jari telunjuk Chaerin.

Dia menggeleng, “bukan, kalau tidak salah, itu ibu dari salah satu anak-anak itu.”

“Ah, manis sekali.”

“Memang. Itu sebabnya aku suka duduk di bawah sini.”

Chaerin mengangkat alisnya, “Oh ya…?”

“Heh, aku sering lihat pemandangan yang jauh lebih manis daripada itu.” Kata Jiyong seraya menunjuk-nunjuk kerumunan tadi. Chaerin tertawa.

“Iya, percaya.”

“…”

Hening.

Angin berhembus, menyapu wajah Chaerin dengan lembut. Gadis itu memejamkan matanya, merasakan setiap sentuhan angin yang terus-terusan bertiup. Merasakan detik demi detik waktu yang terus berjalan. Menghabiskan waktu berdua dengan Jiyong walaupun hanya dalam diam. Suasana ini akan terus ia ingat, sekalipun esok hari ia mungkin akan sendirian di bawah pohon ini. Hanya ditemani oleh bayang-bayang Jiyong yang sudah pergi.

Amit-amit.

Chaerin membuka mata saat merasakan sebuah tangan dingin menyentuh lehernya.

Jiyong menggelitik lehernya diam-diam.

“Geli! Hentikan! Ih!”

Jiyong terbahak. Chaerin cemberut, ia menunduk dengan kedua tangan dilipat dan diletakkan di dada. Bibirnya manyun. Dari dekat ia terlihat lucu sekali.

Jiyong bangkit, melompat kecil untuk meraih apel yang menggantung tepat di atas kepalanya. Jiyong mendongak, memperhatikan langit dari celah-celah daun. Langit sudah mulai berubah warna, perpaduan warna biru dan jingga yang indah.

“Hei, aku tadi berbincang dengan perawat. Katanya pohon ini ditanam kurang lebih tujuh tahun yang lalu.”

“Lantas kenapa?” Chaerin membalas jutek.

“Kata perawat itu pohon ini tumbuh subur di empat tahun pertama. Tapi di tahun kelima pohon ini tiba-tiba mengering. Daun-daunnya tidak lagi berwarna hijau segar, warnanya bahkan hampir menguning. Dia juga tidak berbunga, padahal menurut perkiraan di tahun kelima pohon ini harusnya sudah berbunga.

“Kata perawat, pohon ini hampir mati dipertengahan tahun kelima, tapi pohon ini terus berjuang, dan dengan bantuan semua penghuni panti, pohon ini bisa kembali hijau bahkan berbunga ditahun berikutnya. Hebat, ya?”

Perlahan tubuh Chaerin menegak, ia mengangguk, pandangannya kembali tertuju pada wanita tua dan anak-anak tadi.

Jiyong kembali duduk, “nah, aku ingin seperti pohon ini. Aku ingin terus berjuang. Dokter bukan Tuhan, kan? Dia tidak tahu umurku yang sebenarnya ada berapa.”

“Terkadang aku iri melihat anak-anak itu. Mereka bisa tertawa bahagia disaat ada penyakit yang menggerogoti tubuh mereka. Aku sudah melewati umur dua puluh dan seharusnya aku bisa lebih bahagia dari anak-anak itu. Menurutku, aku termasuk orang yang beruntung. Aku masih bisa merasakan hidup sehat selama delapan belas tahun. Sementara mereka harus berjuang dimasa-masa yang seharusnya mereka gunakan untuk bermain dan belajar tentang kehidupan yang sebenarnya.”

Mendadak Chaerin merasa matanya mulai perih. Dadanya sesak. Ucapan Jiyong terasa seperti tombak yang menembus tepat dijantung, terdengar seperti ia sudah siap mati, padahal Chaerin belum siap ditinggalkan.

Jiyong terdengar menarik napas dalam, kemudian melanjutkan,

“Aku sama seperti pohon ini. Dalam proses penyembuhan—yang entah kapan akan berhasil—aku butuh bantuan. Aku butuh dukungan. Chaerin mau, kan, terus mendukungku?”

Chaerin menoleh, menatap mata kucing Jiyong yang tampak bersemangat. Dia jadi malu sendiri. Tubuh kurus itu mempunyai sorot mata semangat yang selalu berhasil membakar rasa malasnya, sorot mata yang akan sangat ia sukai.

“Mau, kan? Chaerin mau, kan, selalu ada di sampingku sampai waktuku habis? Mau, kan, jadi orang terakhir yang aku lihat besok? Mau, ya, ya, ya?”

Chaerin memaksakan dirinya untuk tertawa, kecil dan pelan.

“Jadi maksudnya aku harus jadi kekasihmu? Atau apa?” Chaerin berucap pelan, tak ingin suara terdengar bergetar.

Jiyong menggeleng.

“Sebenarnya aku ingin, tapi,”

Jiyong menundukkan kepalanya, jemarinya bergerak-gerak gugup.

“Aku,” dia melanjutkan, “aku tidak ingin status itu mengekangmu, sebentar lagi aku akan mati dan aku tidak ingin ada beban dihatimu, kau masih punya hidup yang panjang, carilah laki-laki yang bisa mengayomimu sampai mati.” Jiyong mengangkat kepalanya sedikit, tampak ragu, Chaerin tertawa kecil walaupun air mata kali ini sukses membanjiri wajahnya. Pemikiran yang bodoh, Chaerin berdecak kemudian merenggut tangan Jiyong, menggenggamnya dengan erat, seerat yang dia bisa.

“Tentu saja aku mau, aku tidak punya pikiran kalau kau akan mati besok, yang jelas, manusia pasti mati. Aku hanya ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu…“

 

 

“…dan please, jangan buat aku jadi melodrama begini, dong. Hikshahahiks.”

 

 

Jiyong mengerutkan kening dan bibirnya tampak bergetar, ia setengah mati menahan tawa melihat wajah Chaerin yang penuh dengan ekspresi. Suasana melow yang susah payah dibangunnya runtuh seketika. Jiyong jadi merasa ini konyol, ia menarik tangannya dari genggaman Chaerin, dan berusaha tersenyum senatural mungkin.

 

“Hehehe. Kamu manis, ya. Aku pasti bakal kangen sama senyummu ini.”

“Mulai, kan. Sudah, ah! Aku pulang!”

“Eits.. Janjimu?”

“Kubayar lusa. Dah!”

Chaerin beranjak, berjalan cepat menuju koridor panti. Pikirannya sedang ruwet. Disaat seperti ini Jiyong benar-benar mengesalkan.

Sementara itu, Jiyong masih terus menyunggingkan senyum melihat punggung Chaerin yang semakin menjauh. Aku akan benar-benar merindukanmu, tapi, terima kasih, semoga aku masih bisa bertahan sampai lusa.

 

 

Fin.