Title : Ultimately

Author : Atikpiece

Main Cast :

  • Seungri as Lee Seunghyun (BIGBANG)
  • Lee Chaerin (2NE1)

Subcast :

  • Kwon Jiyong (BIGBANG)
  • Park Sandara (2NE1)

Genre : Umm… I don’t know ._.

Rating : G

Length : Ficlet ? Oneshot ? ( Confused >< )

Desclaimer : Karakter punya Tuhan, sedangkan plot cerita punyaku. It’s my story and don’t be plagiarism.

Backsong : G-Dragon feat ? of New Girl Group YG – In The End

 

A/N : FF ini dibuat karena abis dengerin lagunya Jiyong-oppa yang tercantum diatas beberapa hari yang lalu. Pertama denger biasa aja, tapi setelah diputer berulang kali kedengarannya agak nyesek di hati T_T

 

 

Let’s Enjoy !

*****

Sedikit demi sedikit ia melangkah dengan kaki beralaskan sepatu putih kemerahan disertai kemeja kotak-kotak warna serupa. Kaos warna putih sebagai dalaman itu terlihat akibat kancing kemeja yang memang sengaja dibuka, menampakkan sebuah kalung salib warna keperakan melingkar di lehernya. Tangan kirinya bebas bergerak sedangkan tangannya yang lain menggenggam tali ransel bagian kanan dan dikenakan di bahu. Sorot mata kecilnya tertuju pada traffic light khusus pejalan kaki yang masih menyala merah. Ia mendesah berat dan kedua kakinya berderap kecil, menunggu lampu berubah hijau.

Tanpa menunggu waktu lama, lampu hijau itu menyala. Ia berjalan mengikuti beberapa orang di sekitarnya untuk menyeberang karena ada salah satu dari mereka yang melakukan itu sebelum ia bergerak maju. Suasana ramai di daerah Gwangju membuatnya sedikit berjinjit, menerawang jauh tempat yang akan ia tuju. Masih cukup jauh. Ia berjalan lagi seraya bersenandung, hingga jarak dua puluh meter itu berhasil ia tempuh.

Beberapa tempat duduk panjang yang tertata rapi, mengelilingi pohon besar dengan daunnya yang rindang itu sudah berada di depan mata. Sudut bibirnya tertarik dan tatapan teduh di wajah ovalnya mengarah pada salah satu tempat duduk bercat coklat muda selaras dengan warna tanah di sekitar pohon. Ia berdiam diri sejenak, lalu mulai mengistirahatkan diri di tempat itu. Tas ranselnya dipangku dan ia segera membuka resleting, mengeluarkan mp3 beserta headphone yang sudah terpasang semenjak ia kembali dari kampus.

Ditatapnya salah satu perangkat audio kesayangannya itu. Kemudian ia mendesah untuk kedua kalinya. Kepalanya terangkat dan tertuju ke arah langit biru ditemani sinar mentari dengan cahaya yang membuat matanya semakin menyipit. Headphone putih pemberian mantan kekasihnya ia genggam lebih erat, melebihi rasa—yang merupakan sebuah perihal penting namun sulit untuk didefinisikan. Setelah memantapkan hati ia memakainya dengan perlahan, diikuti jemari mungilnya yang telah menekan tombol play.

Serangkaian melodi indah mengalun menembus gendang telinga. Sebuah lagu mellow favoritnya beserta gadis itu, mengikuti suasana hatinya yang kelam. Membuat ia berkeinginan untuk menutup mata, menikmati musiknya. Hembusan angin semilir itu kini kian mendukung, seolah-olah hanya ada dirinya seorang yang berada di tempat ini. Ditemani bayang-bayang seorang gadis di sampingnya.

.

.

.

.

Di atas tanah lapang ditumbuhi beberapa rumput hijau serta ilalang di ujung pohon. Tempat penantianku untuk kehadirannya sampai beberapa hari karena tiada lagi pekerjaan yang harus kuselesaikan. Hari demi hari, menjelang hari esok, seakan benteng pertahananku tak dapat runtuh meski hujan badai menimpaku. Sebuah lonceng kecil keemasan berdenting seirama dengan sepasang sepatunya berderap diantara tanah gersang, menandakan jika dia datang mengabulkan doa dan janjinya untuk bertemu denganku setelah sekian lama. Napas terengah mengikuti debaran jantungnya sebisa mungkin dikendalikan agar dapat lebih leluasa mengucapkan kata maupun kalimat yang menyatu dengan suara kecilnya.

Sebatas insting yang kumiliki mengatakan dia mendekatiku. Tubuh tingginya kini berada di sebelahku, terpaku di depan sebuah danau kecil para anak angsa bermain bersama sang induk. Suara makhluk bersayap yang kian menggema mengikuti cipratan air tertoreh pada pembatas, menampakkan senyuman khas, juga eye smile yang selama ini ingin kulihat lagi.

“Mereka cantik.”

Aku mendesah, berbaur dengan udara dingin saat matahari akan terbenam. Aku tarik paksa kedua sudut bibirku dan tersenyum seadanya. Langit jingga keunguan menarik perhatianku untuk menatap beberapa benda langit di atasku. Mereka hampir bersinar, dan indah.

Seindahmu yang tak hanya cantik.

“…ya.”

“Maaf, sudah menunggu lama.”

“Tak apa, aku mengerti.”

Sesaat ia meletakkan tasnya, duduk bersila, memancing lonceng kecilnya berdenting lagi. Benda konkret berbentuk bulat dengan garis panjang di bagian tengah, seperti milik kucing rumahan, menggantung di bawah ponsel. Aku tersenyum, sebab ia menjadikan hadiah pemberianku sebagai gantungan ponsel, bukan untuk mempercantik tas atau dompetnya.

“Masih dipakai.”

“…ini hanya pengingat.”

“…kau dan aku ?”

Gadis ini diam membisu. Lalu menarik napas.

“…hubungan kita waktu itu.”

DEG !

Organ tubuh penetralisir racun dalam tubuhku serasa teriris. Mengabadikan setiap goresan luka saat dia kembali mengatakan hal itu. Dadaku sesak, serta napasku seperti tercekat di tenggorokan. Aku menelan ludah, menunduk dan bermain dengan jemariku. Diri ini merenung, mengingat kembali memori di masa laluku.

Dikala ku berpikir bahwa takdir Tuhan pasti indah.  Dikala setiap momentum penyemangat hidupku yang telah membusuk karena mengetahui ku tak dianggap lagi. Semuanya menjadi remuk, terpecah belah karena ada yang lain selain aku, hingga menjadikannya sebuah matahari dan bulan dalam rentang waktu siang menjelang malam. Hari-hariku yang makin kusam setelah dua tahun lamanya menjadi seorang tambatan hati untuknya.

Seperti sebuah kain perca. Jika rusak, pasti dibuang. Aku menganggap diriku macam itu.

Namun, jika aku boleh berteriak,

Jika aku boleh menjerit meski hanya dalam hati…

 

Katakan…

 

Bagaimana aku untukmu nanti ?       

 

Sebelum aku terinjak lemah…

 

Sebelum jantung yang ada di dalam tubuhku tidak diijinkan untuk berdetak lagi karena Tuhan…

 

Kau tahu, jika kedua mataku selalu perih membendung butiran mutiara yang tak kenal lelah membekas di kedua pipiku…

 

Jika buah bibirku selalu mengeluarkan cairan kental warna merah akibat gigi tajamku untuk menahan amarah…

 

Kapan kau tahu …

 

Kapan…

KLIK !

Aku kembali dari ingatanku dimana sebuah headphone terpasang sempurna di kedua telingaku. Kusentuh dan kuraba, menyadari jika dia juga mengenakan perangkat audio yang sama denganku. Dia memakaikannya untukku, dengan kedua tali penghubung sudah masuk ke dalam lubang ponsel. Ku bernapas seperti sedia kala ketika susunan melodi itu menyeruak dari dalam headphone. Bisikan kata cinta dari sang pelantun, kini tak sebanding dengan keadaan hatiku yang penuh luka.

Darahku seketika berdesir, menyipitkan kedua sudut mataku agar cairan bening bentuk kesialanku terhimpit hingga tak dapat keluar—meski kupaksakan. Kulirik wajahnya yang tertekuk, memperhatikan pergelangan tangan kecilnya. Aku mengerti. Namun kutanya mengapa, ada sebuah bisikan lain, memerintahku untuk meraihnya.

Kutatap wajahnya dari samping. Mimik mukanya datar, hampir tak ada ekspresi. Apakah lebih baik jika aku meraihnya ? Jujur, aku tak ingin namun entah racun dari para makhluk halus yang tak dikenal itu selalu menggerayangi otakku. Seakan aku terbuai dengan kata-kata mereka, kupejamkan mata ini dan secepat kilat kuraih, lalu kugenggam erat.

Tapi…

Jantungku terasa berhenti berdenyut …

SRAG !

“Apa yang kau lakukan ?”

 

Walau aku mendengar dia berteriak, tapi dengan segera aku melepas headphone, memandangnya penuh arti disertai perasaan berkecamuk dalam hatiku. Tak seperti dua tahun lalu yang selalu kuingat meski terasa sakit. Iris mata coklatnya menatap wajahku, mengikuti perasaan sensitive miliknya.

Bagaikan sebuah bintang jatuh…

 

Secepat itukah kau menghilang meskipun harapanku masih ada ?

“Kenapa ?”

“Maaf.” Suaranya bergetar, sedetik kemudian air mata yang tak ingin kulihat itu keluar dari kelopak, membentuk garis panjang di pipinya hingga mengering. “…sudah tidak bisa lagi…”

Seperti nyawaku yang tengah dikendalikan, nada bicaraku kini makin meninggi. “Kenapa tak bisa ?” Tiba-tiba napasku tercekat layaknya aku tak bisa bicara lebih banyak. “Kau bahkan pernah bilang jika aku berada di sisimu, maka semuanya akan baik-baik saja.”

“Jalan hidupku sudah berbeda. Jangan paksa dirimu untuk memasukinya lagi. Hatiku tak tenang jika sesuatu di dalam tubuhmu itu hancur…”

“Bukankah sejak awal memang sudah hancur ? Kau tidak tahu jika penyebabnya adalah dirimu.”

“Tapi, tidak seharusnya kau…”

“Kalau memang semua ini hanya untuk pengingat, maka untuk masa depanmu, aku akan dibuang ?”

“Atau mungkin dia lebih hebat dariku sehingga kau tak mau bersamaku lagi ?”

“Aku egois—aku tahu. Seakan kau hanya untukku seorang. Tapi, janji saat kau menangis di tempat ini, janji jika selamanya kau ingin bersamaku … ingin kau kemanakan ?”

Isak tangis yang kudengar seperti cambuk dalam hati karena aku telah menyakitinya. Aku tega—aku sadar. Kulihat wajahnya basah dan sembab. Pergelangan tangannya terkepal kemudian berdiri. Keputusan memenuhi hasratnya untuk pergi meninggalkanku sudah bulat. Dia mengambil paksa ponselnya hingga menyisakan headphone putih tergeletak di pangkuanku. Segenap amarah yang akan dia tujukan padaku ditelannya lagi seraya menggertakkan giginya.

“Sudah cukup. Jangan bicara lagi…”

Biarlah waktu yang akan melenyapkan kenangan menyesakkan ini…

“Aku benci Seunghyun… !”

.

.

.

.

Detik demi detik waktu terus berjalan, menyosong masa depan bilamana diriku diam terpaku di depan kaca jendela besar. Memperlihatkan ragaku yang terpantul begitu menyedihkan. Seolah aku akan dimakan usia. Perjalanan hidupku dirasa masih panjang, namun entah rasanya akan cepat berakhir.

Semenjak aku menatap matahari terbenam hingga angsa-angsa itu lelah karena terus beradaptasi, semakin lama semakin larut, hingga aku tak dapat melihat akan gelapnya malam selain benda langit itu. Hembusan angin yang dingin menusuk tulang, membuatku menggigil dan meniup kedua tanganku sebanyak ribuan kali. Meski begitu, aku tak bisa pulang.

Karena ingatanku telah membelenggu, hingga tubuhku tak ingin bergerak.

Tiada hal yang istimewa, selain headphone yang sengaja dia tinggalkan untukku…

Aku tertatih. Aku bingung harus bagaimana lagi. Saat ku terbaring dalam diam, mencari nomor ponsel seseorang yang kurindukan. Satu menit berlalu usai kutekan tombol call walaupun ku tahu dia tak ingin mendengar rintihanku lagi. Yang ingin kudengar hanya suaranya. Tapi, entah orang itu menambah satu goresan lagi di hatiku.

Yeoboseyo.”

Suara seorang pria, dan seketika keringat dingin bercucuran di dahiku.

“Siapa ? … Lee Chaerin ?”

Tidak ada lagi yang terdengar dari ponselku selain gemerincing aneh di luar sana. Aku tak bisa menebak dimana dia berada namun yang kutahu…

Sayup-sayup aku mendengar suara lonceng berdenting…

“Kwon Jiyong. I’m her fiancé.

DEG !

Sudah kuduga…

Diriku seperti dibelenggu lagi menggunakan tali pengikat yang kuat, menarikku ke dalam jurang pemisah antara aku dengannya yang amat dalam. Kukira aku telah jatuh. Sejak awal aku memang sudah jatuh. Seiring dengan kelopak mataku yang hampir memanas, mengeluarkan cairan hangat itu lagi.

Ternyata benar. Pria itu lebih baik dariku rupanya. Secepat itu mereka melanjutkan masa depan hingga proses yang lebih jauh.

Kini, aku sendiri lagi, sejak Tuhan tidak mengijinkanku untuk selalu bersamanya. Karena tiada daya ponselku terjatuh dari genggaman. Memutus hubungan hingga hancur berkeping-keping. Seperti hidupku…

Aku sudah terlambat …

… bodoh …!

Karena membiarkanku larut dalam kesedihan yang kubuat sendiri, sampai aku pergi jauh dari kebahagiaan…

.

.

.

.

“Lee Seunghyun.”

“…”

“…Seunghyun…”

“…”

“Seunghyun-ah…”

“…”

“…yak ! Seungri-ah !”

Pria itu mengedipkan matanya beberapa kali, setelah ia menundukkan kepalanya dan terkejut melihat wanita bertubuh ramping di hadapannya. Sempat termenung ketika melihat wajahnya yang sudah tak asing lagi. Headphone putihnya ia lepaskan—masih dengan tatapan mengarah pada wanita itu—seiring dengan bayang-bayang sang gadis yang menghilang tanpa jejak. Angin kencang berhembus, menggerakkan rambut pendeknya serta menyadari jika wajahnya sudah basah penuh air mata. Teringat akan imajinasinya pada masa itu.

Dengan segera ia membersihkannya dengan tangan kosong dan mendongak. “…Noona ?”

“Sedang apa kau disini ?”

Bibirnya tertutup rapat, enggan menjawab pertanyaan wanita itu. Ia melihat dirinya tersenyum ceria dengan wajah yang bersinar tertimpa cahaya mentari. Tapi, lambat laun berakhir dengan senyum menggoda.

“Kau menangis, ya?”

Kelopak matanya terbuka dan menggeleng cepat sesekali mengelap ingus. “Tidak. Mataku hanya berair.”

Aish, pembohong. Dasar cengeng.”

Wanita itu tertawa saat kedua pipinya menggembung. Kemudian hanyut dalam keheningan. Walau hanya diam namun senyumannya tetap merekah, terpampang jelas hingga pria itu ikut tersenyum.

“…Apa kau lapar ?”

Pria itu menunduk dan mengusap perutnya. “Lumayan.”

“Kalau begitu, ayo kita makan bersama. Akan kutunjukkan tempat makan paling enak dan nyaman di sekitar sini.”

Entah jika ia tengah melamunkan sesuatu, tiba-tiba dirinya seperti terbawa arus wanita itu saat dia menggenggam tangannya erat. Menariknya bangkit hingga dipaksa berjalan cepat mengikuti langkahnya. Ia hanya bisa tersenyum tipis akan tingkah laku seseorang yang berada di depannya.

Dan seketika itu pula jantungku terasa berhenti berdetak lagi…

 

Seperti ditakdirkan untuk menjadi penggantimu…

 

Semoga ini akan berakhir baik di hari esok…

-FIN-

Ada yang bingung ? Hehe,

Mian ya kalo nggak dapet feelnya dan ada yang nggak ngerti gimana maksud cerita ini -_-. Maklum, lagi belajar pake kata-kata yang.. emm, sulit untuk dijelaskan ^^ dan tanpa terasa aku menyelesaikannya selama 1 jam, uwoo.. rekor baru #duak

Oke, bila ada banyak typo mohon dimaafkan. Secepatnya aku tunggu kritik, saran dan komentarnya, Gomawoyo~! ^o^/