Baby… baby… (Ch. 1)

Title       : Baby…baby… Chapter 1

Author : Ms. Yongyong

Cast       :

  • Kwon Ji Yong
  • Park Hae Yong (You)
  • Other

Genre    : Romance, 17+, Chaptered

Twitter   : @diina_mp

A/N         : Annyeong all ^^ miss yongyong di sini. Ini bukan ff saya yang pertama sih, cuma ff pertama yang menggunakan cast member bigbang dan ff pertama pula setelah saya ganti nama panggung (?) hahaha. Ff saya kali ini bertemakan tentang seorang anak yang lahir di luar pernikahan. Mungkin idenya pasaran banget ya, tapi saya akan berusa sebisa mungkin untuk mengembangkannya menjadi sebuah cerita yang nggak bikin bosan. Tapi hasil akhir tetap berada di pendapat reader semua ^^ saya hanya ingin mencoba mengembangkan ide ini. Jadi harap dimaklumi ya reader kalau ceritanya agak ‘ajaib’ hehe😀

Ff ini bukan nc ya readers, hanya ada beberapa –mungkin banyak- situasi yang agak nggak pantes buat anak-anak dan kata-kata yang tergolong kasar yang mungkin bisa nambahin ‘vocab nggak pantes’ buat yang belum bisa nyaring (?) ah udahlah, dari pada saya makin gaje menjijikkan lebih baik langsung baca aja yaa. Semoga reader semua suka. RCL yaa reader ^^ *bow*

~Let’s Begin…~

Author’s Side

Hae Yong meringis menahan rasa sakit yang tiba-tiba saja mendera kepalanya ketika mencoba untuk bangun dari pembaringan. Susah payah ia membuka matanya yang terasa begitu berat, mencoba beradaptasi dengan sinar mentari yang menembus tirai. Rasa sakit lain yang terasa di sekujur tubuhnya mambuat Hae Yong kembali meringis. Ia terlihat begitu tersiksa. Disandarkannya tubuhnya di kepala ranjang yang –untungnya- empuk dan lembut itu, berharap rasa sakit di kepala dan sekujur tubuhnya dapat berkurang. Ia duduk dalam diam. Sedetik, dua detik, tiga detik. Bagaikan tertimpa benda yang begitu berat di bagian kepala ketika ia menyadari sesuatu. Dirinya polos! Benar-benar polos, tak tertutupi. Segera diraihnya selimut tipis yang berada di pahanya dan menarik benda itu hingga batas leher. Shock, itulah yang tergambar jelas di wajahnya kini. Hae Yong menghela napas dalam dan membuangnya perlahan, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Sepasang bola matanya bergerak-gerak liar menyisiri seisi ruangan tempatnya berada. Namun tak satu manusiapun selain dirinya yang ditemukan mata itu. Ia seorang diri dengan keadaan yang menurutnya sangat memalukan. Hae Yong kembali diam, mencoba tenang dan mengingat apa yang sebenarnya telah terjadi padanya. Sayang, memorinya seperti kosong. Tak ada yang tersimpan selain dirinya yang tengah minum di sebuah bar untuk mengusir jenuh. Sadar akan sesuatu, ia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, melirik ke bagian bawah. Lembab dengan bercak kemerahan yang memudar. Rasa jijik tiba-tiba menyelip di satu bagian hatinya. Ia merasa seperti wanita murahan. Tidur dan melakukannya dengan seorang pria yang entah siapa, yang wajahnya saja luput dari memorinya. Ia kehilangan sesuatu yang selama ini dijaganya setengah mati dengan begitu mudah, dan yang pasti dalam kejadian yang membuatnya ingin melemparkan diri ketengah laut saat itu juga. Bagaimana jika pria itu mengidap penyakit ‘parah’ dan ia tertular karena hal ini?, tanyanya dalam hati. Mati sajalah kau Park Hae Yong, umpatnya lagi pada diri sendiri. Rasa sakit itu kembali menerjang kepalanya. Berdenyut kuat serasa akan pecah. Menangis? Tidak. Hae Yong bukan tipikal yang suka menangis karena menyesali sesuatu. Menurutnya itu adalah hal yang tidak berguna. Buang-buang waktu dan pasokan air matanya yang terakhir kali menetes saat ia berada di bangku SMP. Ia hanya kecewa pada dirinya. Kenapa harus minum di sebuah bar hanya untuk menghilangkan jenuh. Kenapa harus minum hingga ia mabuk, dan banyak lagi kata kenapa yang memenuhi benaknya.

Rasa jijik yang tadinya menyelipi hati Hae Yong kini beralih menjadi rasa muak yang begitu kentara. Ia jengah berlama-lama di ruangan itu. Membuatnya semakin frustasi karena tetap tak bisa mengingat apapun menyangkut pria yang bersamanya semalam. Cepat ia bangkit, menahan rasa sakit di beberapa bagian tubuh sembari melilitkan selimut tipis itu agar bisa menutupi tubuhnya dengan baik. Dipungutinya pakainnya yang berserakan di lantai dan melangkah menuju kamar mandi. Tanpa bisa dicegah, Hae Yong menarasa begitu jijik pada diri dan tubuhnya. Ia adalah individu yang menentang keras gaya hidup ‘bebas’. Tapi lihat dirinya sekarang! Ia bahkan lebih memalukan dari pada para penganut kehidupan seperti itu. Seditaknya mereka tau dengan siapa mereka melakukannya. Sedangkan dirinya? Wajah pria itu saja luput dari ingatannya. Betapa murahannya ia terlihat.  Semua rasa yang menyiksa hati dan pikiran berkecamuk di dadanya. Semoga saja berendam dapat menghilangkan jejak-jejak semalam walaupun tak akan berpengaruh pada jejak yang nyata. Entah sudah berapa lama Hae Yong merendam dirinya di bath tub. Yang jelas kini tubuhnya mulai menggigil dan kulit jemarinya mulai mengerut. Ia keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang sudah rapi, selayaknya tadi malam ketika ia mengunjungi bar itu. Tanpa diperintah sepasang kakinya melangkah mendekati sebuah meja yang berada di sisi ranjang. Ia menemukan sesuatu yang menrik perhatiannya di meja itu. secarik kertas yang dirobek secara asal dan sebuah kartu nama yang tampak elegan. Diraihnya kedua benda itu dan membaca kertas tak berbentuk itu terlrbih dahulu. Hubungi aku jika terjadi sesuatu pada dirimu karena kejadian semalam. Hati gadis itu mencelos ketika membaca apa yang tertulis. Betapa dinginnya pria itu. Bahkan sebuah kata maafpun tak diucapkannya. Dalam hati ia berharap semoga pria itu bukanlah seorang yang buruk walaupun kelihatannya begitu buruk. Ia beralih membaca kartu nama di tangan kirinya. Hanya tertera nama, alamat kantor, nomor telpon kantor dan nomor ponselnya di sana. Acuh tak acuh ia memasukkan kartu nama itu ke dalam dompetnya dan berlalu. Di dalam hati ia berharap tak ada lagi yang terjadi padanya sehubungan dengan kejadian semalam. Itu adalah yang pertama kali baginya, yang berarti kemungkinan terburuk yang dapat terjadi sangatlah kecil. Semoga saja tuhan memaafkannya dan menjauhkan kemungkinan buruk itu darinya. Sejauh mungkin.

Baby…baby…

Hae Yong menatap kalender yang penuh dengan bulatan merah di beberapa tanggal dengan seksama. Berkali-kali ia membolak-balikkan kalender itu dari beberapa bulan sebelumnya ke bulan ini. Masih berusaha untuk tenang ia mengingat kembali kejadian naas malam itu. Guratan cemas seketika tergambar di wajah cantiknya. Sudah 2 minggu sejak malam itu, dan sepertinya sesuatu terjadi pada dirinya. Dilihat dari kalender bulan-bulan yang lalu, seharusnya minggu ini masa menstruasinya sudah berakhir. Tapi apa yang terjadi? Ia bahkan belum mengalami masa ‘merah’ itu hingga saat ini. Hae Yong mulai panik. Dadanya terasa sesak. Dalam hati ia masih berharap ini hanya masalah kecil pada hormonnya walaupun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam berkata lain. Dengan mengumpulkan segenap keberanian ia meraih gagang laci meja riasnya dan mengambil sebuah testpack yang dibelinya beberapa hari lalu. Hae Yong melangkah gontai memasuki kamar mandinya. Ia melakukan langkah-langkah yang tertera di kotak testpack itu dengan hati-hati. Sudah lima belas menit ia berada di kamar mandi dan menggenggam benda pipih itu. Matanya masih terpejam rapat. Belum berani untuk melihat garis merah yang muncul di benda itu. Dadanya bergemuruh. Berdentum begitu keras serasa ingin melompat keluar. Entah untuk yang keberapa kalinya Hae Yong menghela napas dalam. Perlahan, ia mulai membuka matanya dan mengintip hasil yang tertera pada testpack di tangan kirinya. Dua garis merah membentuk tanda positif tertera begitu jelas di sana. Membuat kedua lututnya seketika melemas. Ia terhenyak begitu saja di lantai kamar mandi yang dingin itu. Tak ada air mata yang mengaliri wajah halus itu. Hanya raut wajah kecewa yang begitu kentara.

Hancur sudah hidupnya. Semua terasa bagaikan debu yang ditiup angin. Ia positif hamil yang entah dari benih siapa. Segala rasa berkecamuk di dada gadis mungil itu. apa yang akan dilakukannya setelah ini? Bagaimana dengan mimpinya menjadi seorang wanita karir sukses yang akan menjelajahi duania suatu saat nanti? Ia sudah begitu terbiasa hidup seorang diri. Tanpa keluarga dan tanpa ada tempat mengadu. Tapi sekarang? Ada janin yang akan tumbuh di rahimnya dan berarti akan merubah segalanya. Memiliki anak adalah list terakhir di dalam rangkaian rencana hidupnya. Apalagi jika anak itu muncul dari kejadian yang begitu tak diinginkannya. Hae Yong menghembuskan napas berat. Apa yang harus dilakukannya? Apakah ia akan menggugurkan bayi itu? Tapi itu terasa sangat menakutkan. Masa bodoh dengan bayi yang ada di rahimnya itu. Jika menggugurkan kandungan hanya akan membunuh bayi itu tak akan jadi masalah baginya, karena ia sama sekali tidak menginginkan kehadiran bayi itu. Tapi menggugurkan kandungan akan sangat menyiksa dirinya. Ia pasti merasakan sakit yang teramat sangat atau bahkan bisa menghilang dari dunia ini bersama bayi sial itu.  Hae Yong mengacak-acak rambutnya kesal. Ia terlalu menyayangi tubuhnya untuk melakukan penyiksaan seperti itu. Ia tak terbiasa dan tak ingin merasakan itu. Lebih baik langsung mati saat ini juga daripada harus merasakan rasa sakit saat benda aneh memasuki tubuhnya dan mengeluarkan gumpalan darah yang akan menjadi bayi itu. Perlahan wajahnya tertunduk. Menatap perutnya yang masih datar dengan pandangan penuh kebencian. Ingin rasanya memukuli perut itu hingga puas jika saja tak akn menyakiti dirinya.

Sesuatu menyentak kesadaran Hae Yong. Pria malam itu mengatakan bahwa ia dapat menghubunginya jika terjadi sesuatu. Sesuatu terjadi padanya saat ini. Itu berarti ia harus menghubunginya. Lekas gadis itu berlari kecil mencari kartu nama pria itu dan menghubungi ponselnya tanpa pikir panjang. Ia menunggu dengan tidak sabar. Dalam hati begitu merutuki kenapa lelaki itu begitu lama menjawab panggilannya.

“Yeoboseyo..” suara seorang pria terdengan di seberang sana saat Hae Yong mulai kesal menunggu.

“Yeoboseyo.” Jawab gadis itu tenang dan datar. “Kwon Ji Yong-ssi?”

“Ya, nuguseyo?” tanyanya singkat.

“Park Hae Yong… wanita yang kau tinggalkan begitu saja setelah kejadian malam itu.” jawab Hae Yong lagi. Kali ini dengan nada yang agak lebih tajam.

Hening. Tak ada jawaban dari seberang sana. “Eo. Ada yang bisa kubantu?” akhirnya pria itu menjawab dengan nada yang begitu datar. Sangat berbeda dengan nada bicaranya di awal tadi.

“Ada sesuatu yang terjadi. Bisakah kita bertemu?”

“Aku akan mengirimkan alamatku padamu. Datanglah malam ini. Saat ini aku sedang tak bisa dganggu.” Jawabnya datar dan memutus sambungan begitu saja.

Hae Yong mendesah frustasi. Pria itu sangat dingin. Dia benar-benar parah. Bagaimana bisa dia bersikap seperti itu padaku, jelas-jelas ini kesalahannya juga. Dia menganggapku mengganggu dan seolah melimpahkan segala kesalahan padaku. Dasar sialan!, maki Hae Yong dalam hati. Ia terus-terusan mendesah membuang napas berat. Sekelebat bayangan-bayangan mengganggu melintasi matanya. Siapa pria itu? Bagaimana rupanya? Berapa usianya? Apakah ia sudah berumah tangga? Semua itu terus memenuhi benak Hae Yong. Membuatnya muak karena semua pertanyaan itu selalu berujung pada ‘bagaimana dengan nasibnya kelak?’ Ia bukanlah tipikal yang suka direpotkan oleh sesuatu yang tak diingini. Dan janin yang kini mulai tumbuh di rahimnya itu adalah satu dari beberapa hal yang tak diinginkannya. Ia tak akan siap menjadi seorang ibu diusianya yang masih muda itu. Dan lagi Hae Yong juga tidak menyukai anak-anak. Terutama bayi yang kerjaannya selalu menangis dengan suara nyaring. Ia bukan tipe wanita yang akan bisa menjadi seorang ibu yang baik. Ia tidak terbiasa dengan dibebani oleh tanggung jawab atas diri orang lain selain dirinya. Terlalu lama hidup sebatang kara membuatnya begitu egois dan tidak peduli pada banyak hal. Yang ada di kepalanya hanya dirinya dan apa yang akan dilakukan untuk membahagiakan dirinya. Tak pernah sekalipun ia berpikir tentang orang lain dan membahagiakan orang lain. Apa lagi bertanggung jawab atas orang lain. Itu benar-benar belum ada dalam rencana hidupnya.

“aaaaaaaaaaaaa” Hae Yong berteriak keras di dalam kamarnya. Frustasi. “Bayi sialan!”

Baby…baby…

Hae Yong berdiri tegap di depan pintu megah sebuah apartemen. Bangunan yang begitu mewah dan megah dengan lokasi yang begitu romantis bagi beberapa orang. Siapa yang tak tau seberapa mahalnya apartemen itu. Ia saja pernah bermimpi bisa menempati apartemen itu. Begitu menenangkan karena apartment ini menghadap langsung pada pemandangan indah sungai Han. Tapi tak berpengaruh sedikitpun pada hati gadis itu. Yang ada ia malah semakin galau. Demi apapun, jangan sampai pria yang akan ditemuinya adalah seorang om-om kaya hidung belang. Hae Yong menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. Menguatkan diri sebelum memencet bel di pinggir pintu itu.

“Nuguseyo?” seorang gadis belia melongokkan kepalanya dari celah pintu yang terbuka.

“Aku Park Hae Yong. Ji Yong-ssi, wasseo?” tanyanya sopan.

“Eo, silakan masuk, agassi!”

“Ya!”

Hae Yong melangkahkan sepasang kakinya memasuki bangunan megah bergaya minimalis yang begitu mengagumkan itu. Ia memperhatikan setiap sudut ruangan yang dilewatinya dengan seksama. Tata ruang di setiap sudutnya begitu ‘mewah’. Sedikit rasa kagum menjalari hati Hae Yong akan kerapian apartemen itu. Ia terus saja mengamati interior rumah itu sembari mengikuti langkah kaki gadis yang sepertinya adalah pengurus rumah.

“Silakan duduk, agassi! Saya akan panggilkan tuan.” Ucap gadis itu ramah.

Hae Yong hanya mengangguk pelan menanggapinya dan kembali sibuk dengan pengamatannya. Pandangannya terpaku pada sebuah replika kaki dan tangan bayi serta tangan –munkin milik sang ibu- orang dewasa di sisinya yang berada dalam sebuah frame berwarna emas. Senada dengan warna cetakan tangan dan kaki bayi itu. Hae Yong terus memandanginya dengan tatapan yang semakin sendu. Pajangan itu –entah bagaimana bisa- mengalirkan setitik kerinduan yang terasa telah begitu lama meninggalkan hatinya. Kerinduan akan sosok seorang wanita yang telah meninggalkannya sejak belia. Hae Yong mulai sibuk menata hatinya hingga tak menyadari kehadiran sosok lain di dekatnya.

Ji Yong yang telah mengetahui kedatangan Hae yong melangkah gontai menuju ruang tamu apartemennya. Langkahnya terasa begitu berat dan semakin berat ketika bayangan wanita itu kian jelas di matanya. Lelaki itu berdiri dengan menyandarkan punggungnya di ujung dinding pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga apartemen megahnya itu. Ia sibuk memperhatikan wanita yang tengah duduk tenang di sofanya dengan pandangan menilai. Wanita itu terlihat begitu simple dengan gaun berwarna pastel yang dikenakannya. Kesan ‘wanita baik-baik’ terlihat sangat kuat dari penampilannya. Dan itu membuat Ji Yong semakin berat untuk mendekatinya. Dia merasa seperti seorang lelaki bejat yang merusak hidup seorang wanita. Tapi ia akan terlihat benar-benar bejat jika terus diam dan lari dari tanggung jawabnya. Perlahan, dengan sedikit memaksakan gerak kakinya ia melangkah mendekat. Duduk tepat di sofa sebelah wanita itu. ia masih diam dan wanita itupun masih belum menyadari kehadirannya. Ia begitu sibuk menatap pajangan replika kaki dan tangan Ji Yong –saat ia bayi- dengan pandangan… sendu? Rasa ingin tau begitu saja merayapi hatinya. Kenapa wanita iru begitu tertarik pada pajangan itu. Perasaannya pajangan itu tidak terlalu menarik.

“Ehm…” Ji Yong sedikit berdeham agar wanita iru tersadar dengan kehadirannya. Dan benar saja, ia tersentak dan seketika memutar tubuhnya menghadap Ji Yong.

“Apa yang harus kau bicarakan padaku?” tanya Ji Yong yang sebenarnya sudah sangat tau apa yang sebenarnya ingin dibicarakan wanita itu.

Terlihat Hae Yong menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Ji Yong. “Aku hamil!” jawabnya cepat, tegas dan datar, setelah dapat mengendalikan dirinya dari keterpesonaan akan sosok pria di depannya itu.

Ji Yong membelalak. Ia memang sudah tau bahwa wanita itu pasti akan menyampaikan kabar kehamilannya. Tapi mendengarnya secara langsung tetap juga membuat Ji Yong sedikit shock. Segera ia merubah raut wajahnya sedatar mungkin sebelum wanita itu menyadari keterkejutannya.

“Kau yakin itu anakku? Err, maksudku apa kau tidak melakukannya lagi dengan lelaki lain setelah malam itu? Aku tak ingin mempertanggung jawabkan sesuatu yang bukan kesalahanku.” Tandasnya cuek sembari mengedik kecil.

Mata Hae Yong terbeliak. Shock. Harga dirinya benar-benar terluka karena perkataan kurang ajar pria dihadapannya itu. Seumur hidup belum pernah ada orang yang mengatakan hal sekeji dan semenjijikkan itu padanya. Wajahnya menghangat menahan amarah. Bibir tipisnya mengatup rapat.

“Maaf tuan, aku mungkin bukan wanita yang berasal dari keluarga yang begitu terhormat seperti dirimu! Tapi perlu kau tau, aku masih punya harga diri! Aku bukan wanita murahan yang begitu mudah tidur dengan sembarang pria. Dan aku juga bukan wanita gila harta yang rela melakukan hal menjijikkan seperti itu untuk mendapatkan seorang pria kaya raya seperti dirimu, tuan!” ujar Hae Yong penuh penekanan.

Ji Yong yang tadinya begitu terpukau dengan mata indah yang tengah membualat menggemaskan milik wanita itu tersentak seketika. Hatinya mencelos. Tak menyangka bahwa kata-katanya melukai harga wanita itu. ia memang tak terlihat seperti apa yang disebutkannya tadi. Bahkan ia terlihat begitu terpelajar dari gerak tubuh dan cara bicaranya. Tapi tetap saja. Ji  Yong hanya ingin memastikan, walaupun caranya memang salah.

“Baiklah kalau begitu apa yang kau inginkan? Kau ingin aku bertanggung jawab? Dengan cara apa? Menikahimu?” tanya Ji Yong dingin.

“Ani!” jawab Hae Yong tegas.

“Lalu apa yang kau inginkan, Hae Yong-ssi? Aku tak akan membiarkanmu menggugurkan janin itu. Aku masih manusia dan tidak sebejat itu!” nada bicara Ji Yong sedikit meninggi.

Sedikit rasa hangat menjalari dada Hae Yong. Ternyata pria itu tidak seburuk yang dikiranya. “Aku tak akan merusak diriku dengan menggugurkan bayi ini!”

Kening Ji Yong berkerut bingung. Ia tak habis pikir, apa sebenarnya mau wanita di hadapannya itu. “Lalu? Apa yang kau inginkan?”

Hae Yong kembali menghela napas. “Kau hanya perlu ada saat kubutuhkan sampai bayi ini lahir. Setelah itu kau bisa bebas.”

“Apa maksudmu dengan aku bisa bebas? “ tanya Ji Yong lagi

“Aku dan bayi ini akan pergi sejauh mungkin dari kehidupanmu. Aku akan melupakan apa yang telah terjadi dan membesarkan bayi ini dengan tanganku sendiri. kau bisa melanjutkan kehidupanmu!!”

TBC…

Segini dulu part 1 nya ya yeorobeun!!!! Kalau respon nya bagus saya bakalan lanjut haha. Tapi kalau gak bagus saya gak janji wkkkk😀 #nari gaje bareng jiyong wkkk