Baby… baby… (Ch. 2)

Author : Ms. Yongyong

Title     : Baby…baby… Chapter 2

Cast     :

  • Kwon Ji Yong
  • Park Hae Yong (You)
  • Other

Genre  : Romance, 17+, Chaptered

Twitter : @diina_mp

A/N      :Annyeong all ^^ ms yongyong balik lagi haha. Pasti pada nungguin ff saya kaaan? #pede# haha lupakan. Sebelumnya saya mau ngucapin makasih bgt buat yang udah mau ninggalin jejak berupa komentar di ff sebelumnya #bow# walaupun terlihat sederhana, bagi saya komentar dari readers adalah satu bentuk penghargaan yang memotifasi saya buat tetap lanjutin ff ini J Langsung aj deh ini ch.2 nya. Semoga readersuka yaa ^^ RCL, please ^^

~Ch. 2 Begin…~


“Aku dan bayi ini akan pergi sejauh mungkin dari kehidupanmu. Aku akan melupakan apa yang telah terjadi dan membesarkan bayi ini dengan tanganku sendiri. kau bisa melanjutkan kehidupanmu!!”

Hae Yong menghembuskan napas berat. Matanya menerawang jauh tak tergapai. Ekspresinya menyiratkan kepedihan dan kebencian secara bersamaan. Tapi hatinya telah bulat. Bagaimanapun janin di rahimnya itu tercipta karena kesalahannya juga. Ia tak mungkin melakukan hal buruk pada bayi yang tak bersalah itu. Bayangan masa kecil yang selintas menghampiri kepalanya membuat Hae Yong seolah tersadar bahwa ia tak akan tega membiarkan janin di rahimnya itu tumbuh tanpa kasih sayang orang tua –sepertinya. Setidaknya bayi yang akan lahir itu bisa mendapatkan kasih sayangnya kelak walaupun ia akan tumbuh tanpa figur seorang ayah.

“Apa kau yakin?” Ji Yong kembali bertanya. Berharap wanita di hadapannya itu tak akan berubah pikiran karena ia merasa tak akan jika tiba-tiba menikahi seorang wanita tak dikenal dan langsung menjadi seorang ayah. Itu membuatnya mendapatkan dua pengalaman baru di hidupnya secara bersamaanan. Itu pasti tak akan mudah!

“Sangat!” jawab Hae Yong tegas dan mantap.

“Apa jaminannya? Aku tak ingin suatu saat kelak ketika bayi ini lahir, kau tetap memintaku bersamamu. Aku tak suka dipermainkan dan dibohongi. Aku tak terbiasa!” pria itu kembali mendapatkan sikap dingin dan angkuh yang untuk beberapa saat tadi menghilang dari dirinya.

“Aku jaminannya! Kau bisa memegang janjiku karena aku bukanlah orang yang hobi berbohong!”

Ji Yong diam sejenak. Terlihat menimbang usul wanita di hadapannya itu sebelum menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Baiklah! Aku akan pegang janjimu!” Ucapnya. Entah kenapa Ji Yong tak sedikitpun merasa ragu akan kata-kata wanita itu. Feelingnya mengatakan bahwa wanita itu dapat dipercaya dan logikanya mendukung pernyataan itu.

Hae Yong diam sejenak. Menunggu apakah masih ada yang akan pria itu katakan padanya. Setelah beberapa saat keduanya saling diam, Hae yong memutuskan untuk tak memperpanjang pertemuan mereka malam itu dan berpamitan. Ia berlalu dalam diam dan itu menambahkan kesan anggun pada dirinya di mata Ji Yong. Membuat sepasang mata ji Yong menatapnya tajam penuh rasa kagum. Ia begitu menikmati keterpesonaannya hingga tak menyadari bahwa sosok wanita lain yang sedari tadi bersembunyi di salah satu kamar kediamannya telah berada tak jauh darinya.

“Kenapa kau melarangku keluar, Ji?” rutuk wanita itu dengan wajah masam. “aku tak sempat melihat betapa cantiknya wanita itu hingga membuat pria kesayanganku begitu terpesona.”

Ji Yong tersentak kaget dan segera membalikkan tubuhnya. “Karena kau akan menggangguku dan membuat keadaan semakin buruk.” Tandasnya datar dan dingin, “Dan aku tidak terpesona padanya noona!”

Wanita yang sudah amat terbiasa dengan nada dingin pria di depannya itu hanya tersenyum meremehkan. “Aku tumbuh bersamamu selama dua puluh tahun, Ji. Itu waktu yang lebih dari cukup untuk sekedar membuatku paham akan arti dari tatapanmu. Berpisah selama 4 tahun tak akan membuatku lupa pada hal itu!”

Ji Yong terdiam. Dalam hati ia membenarkan perkataan Dami –nama wanita itu. Kakaknya yang satu itu begitu dekat dan pasti sangat mengenal dirinya. Tapi tetap saja ia tak terima jika Dami beranggapan seperti itu. Ia tidak terpesona. Hanya… Itu hanya dampak dari rasa bersalah di hatinya pada Hae Yong. Ia tak akan terpesona pada wanita itu atau pada wanita manapun. Ia tak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kali kedua.

“Sampai kapan kau akan terjebak di masa lalu, Ji? Berhenti beranggapan bahwa semua wanita sama seperti dia. Begitu banyak wanita yang lebih dari baik yang memenuhi dunia ini. Buang jauh pikiran picikmu itu! Itu menyebalkan!”

Perkataan Dami kembali membuatnya tersentak. Bahkan dampaknya jauh lebih buruk. Wajah Ji Yong menggelap, rahangnya mengeras dan bibir terkatup rapat. Ia paling tidak suka jika ada yang mengungkit masa lalunya dan berkomentar akan hal itu. Tak terkecuali Dami. “Aku lelah!” gumamnya menahan amarah sembari berlalu.

Dami terdiam dengan tatapan sendu. Rasa iba menjalari hatinya. Ia rindu Ji Yong yang riang yang selama ini tumbuh bersamanya. Dalam hati Dami mengutuk wanita yang telah merubah adik kesayangannya itu dengan segala makian yang diketahuinya. Wanita sialan yang telah membuat Ji Yong begitu terpikat dan menghancurkannya saat pria itu begitu membutuhkannya. Hanya sebuah kesalahan kecil, dan wanita sial itu mencampakkan adiknya.

Baby…baby…

 “Ada beberapa hal yang ingin kusampaikan padamu.” Ji yong mulai membuka suara. Beranjak dari kursi kerjanya menuju sofa tempat Hae Yong berada.

Hae Yong diam. Kedua bola mata indahnya itu menatap Ji yong dengan seksama. Tanpa bisa dikontrol, pandangan itu terus saja terpaku mengagumi segala yang ada pada pria di depannya. Perlahan, kesadaran kembali padanya. Tatapan kagum itu seketika berubah dingin dan datar. Seperti biasanya.

“Aku ingin memberikan sedikit persyaratan padamu. Bisakah?”

“Tergantung!”

“Jika kau tidak menyetujuinya, maka aku juga tak akan mengabulkan permintaanmu beberapa hari yang lalu.” Tandas Ji Yong. “Aku tak akan bekerja sama dengan orang yang sulit diajak kompromi.”

Mata Hae Yong membulat kesal. Sedikit tersinggung dengan perkataan pria itu. “Aku juga tak bisa bekerja sama dengan orang yang egois dan suka memerintah!”

“Baiklah, Kita mulai saja! ” Ji Yong tersenyum sinis. “Aku ingin kau tinggal di apartemenku hingga bayi itu lahir dan kau harus berhenti dari pekerjaanmu!”

“Apa maksudmu? Aku tak bisa melakukan itu! aku tak akan meninggalkan kediamanku apalagi melepaskan pekerjaan yang kucintai!” sanggah wanita iru emosi.

“Aku hanya ingin kau berada dalam pengawasanku dan aku tak ingin pekerjaanmu mengganggu janinmu! Aku tak ingin direpotkan dengan mengunjungi rumahmu saat kau membutuhkanku atau saat terjadi sesuatu yang membuatmu membutuhkan kehadiranku. Aku hanya ingin melakukan tanggung jawabku dengan mudah!”

“Tapi pekerjaanku tidak berat. Aku seorang general manager, pekerjaanku tidak akan menguras tenanga.” Sanggah Hae Yong tak terima jika ia harus meninggalkan pekerjaan yang dicintainya.

“Mungkin tidak menguras tenanga, tapi itu menguras otak. Beban berat pada pikiran lebih mengganggu daripada pekerjaan menguras tenaga!” ketegasan begitu kentara pada nada suara Ji Yong saat itu. Membuat Hae Yong terdiam. Keinginan untuk tidak disanggah begitu terasa dalam setiap kata-katanya.

Ji Yong menatap wanita yang masih tampak ragu itu tajam. Ia bukannya ingin mengekang atau malah berusaha tampak sangat memperdulikan wanita itu. Ia hanya ingin bertanggung jawab secara benar. Seumur hidup, kedua orang tua Ji Yong telah mendidiknya secara tegas perihal tanggung jawab. Dan egonya sebagai lelaki juga menuntutnya untuk bertanggung jawab secara benar pada wanita itu hingga janin yang dikandungnya lahir ke dunia ini. Toh, setelah ia lahir, Ji Yong akan kembali bebas. Apa salahnya jika ia melakukan hal yang benar sampai saat itu tiba. Bukankah janin yang akan terlahir itu adalah hasil dari perbuatannya? Bukankah ia akan tumbuh dengan menuruni beberapa gennya? Atau bahkan akan sangat mirip dengan dirinya.

“Aku melakukan ini hanya karena aku sudar terbiasa bertanggung jawab atas kesalahanku. Jangan berpikir bahwa aku meiliki perasaan padamu atau bayi itu.” tiba-tiba saja kata-kata itu meluncur dari bibir Ji Yong, melukai ego Hae Yong tanpa disadarinya.

“Aku bukan tipikal wanita yang mudah menarik kesimpulan bahwa seseorang memiliki perasaan padaku! Aku bukan remaja labil! Aku wanita dewasa yang beberapa bulan lagi akan menjadi seorang ibu!” Hae Yong menjawab dengan penuh penekanan, tak terima dengan perkataan Ji Yong tadi.

Hening. Kedua insan itu mulai terkepung dalam suasana canggung yang memuakkan. Tak ada yang berniat membuka percakapan guna mengusir kecanggungan itu. Tidak sebelum Ji Yong teringat sesuatu hal yang menurutnya sangat penting.

“Apa kau ingin makan malam?” tanyanya agak canggung.

Hae Yong menggeleng. “Aku tidak napsu makan.” Hatinya mencelos. Makan malam? Ia bahkan belum sarapan dan memakan apapun selain sepotong roti tawar dengan camembert dan secangkir espresso sejak beberapa hari yang lalu. Morning sickness dan segala rasa mual yang melanda membuatnya selalu mengeluarkan apapun yang dimakan selain 2 menu tadi. Dan itu benar-benar membuatnya tersiksa.

“kapan terakhir kau makan?” tanya Ji Yong saat menyadari bahwa wanita di hadapannya itu sangat pucat dan tampak lelah. Pantas saja ada yang terasa berbeda dengannya, batinnya.

Hae Yong mengedikkan bahu. “Entahlah, aku lupa.” Jawabnya cuek.

Tanpa pikir panjang, Ji Yong membuka jas yang dikenakannya dan menyampirkan benda itu ke sandaran kursi. Tak lupa ia menggulung lengan kemeja putihnya sebatas siku. Memperlihatkan tato di kedua lengan bagian atasnya. Tato-tato itu terlihat begitu pantas di lengannya yang putih bersih. Menambahkan kesan maskulin pada sosoknya. Kini pria itu benar-benar nampak ‘seksi’ dengan penampilannya yang santai. Tidak berantakan, tapi tidak pula formal. Menggoda mungkin tepat untuk menggambarkannya. Membuat mata Hae Yong mengkhianatinya dengan terus memandang kagum pria itu. Wajah tampan, karir cerah, kaya dan penampilan memukau. Sulit mencari cela di diri pria itu. Ia nyaris sempurna. Membuat begitu banyak wanita normal menginginkannya.

“Ayo, kita makan dan memeriksa kandunganmu ke rumah sakit!”

Baby…baby…

Ji Yong melajukan Bentley Continental GT nya dalam diam. Sesekali ia mencuri pandang pada Hae Yong yang tengah sibuk memandangi suasana malam seoul dari jendela mobilnya yang setengah terbuka itu. ia kembali teringat wanti-wanti Hyunsoo –dokter yang tadi memeriksa Hae Yong yang notabennya adalah sahabatnya- tentang dirinya yang harus menjaga Hae Yong dengan ekstra karena janin yang dikandung wanita itu sangat lemah. Ada begitu banyak pantangan yang harus dihindari Hae Yong dan tentunya tak satupun kerja yang agak berat yang boleh dilakukannya. Belum lagi menjaga emosi dan perasaannya, karena kata Hyunsoo, perasaan dan emosi seorang ibu hamil tak boleh terguncang. Itu sangat berpengaruh pada janinnya. Menjaga dan memperhatikan keadaannya bukanlah masalah bagi Ji Yong. Tapi menjaga perasaan dan emosinya? Itu terasa berat baginya. Takkan mudah bagi Ji Yong untuk bisa memahami seseorang yang sama sekali baru dalam kehidupannya. Apalagi jika harus menjaga emosi dan perasaan. Hae yong bukanlah wanita yang ia kenal yang diinginkan hadir dalam kehidupannya. Mana mungkin pria itu dapat memahami, menjaga perasaan dan juga menjaga emosi wanita itu. Mustahil, desahnya pelan, sangat pelan.

“Hae Yong-ssi!” panggil Ji Yong sembari terus memperhatikan jalanan dari balik kemudinya.

Hae Yong menoleh, menatap pria itu penuh tanya.

“Apakah orang tuamu tau tentang hal ini?” tanyanya pelan.

Wanita itu mengedikkan bahu.

“Kau belum memberitau orang tuamu tentang hal ini?”

“Aku tak bisa memberitau orang tuaku.”

“Kenapa?”

“Aku tak mungkin bicara pada orang yang telah tiada. Aku belum segila itu.” jawab Hae Yong datar. Menyembunyikan kegundahan yang mulai mereyapi hatinya.

Ji Yong terdiam. Seedikit salah tingkah karena merasa tidak enak hati telah menanyakan hal itu pada Hae Yong. “Maaf…” Rasa iba seketika menjalari hatinya. Hidup Hae Yong terasa begitu suram baginya yang terbiasa berada dalam kehangatan keluarga dan begitu akrab dengan kedua orang tuanya.

“Tak apa. Bagaimana denganmu? Apa orang tuamu tau?” giliran Hae Yong yang bertanya.

Ji Yong menggeleng. “Tapi kakakku tau. Dia pasti akan memberi tau orang tuaku begitu kembali ke Jepang.” Jawabnya yang hanya dibalas anggukan seadanya oleh wanita itu. “Eum, apa yang terjadi pada orang tuamu?” pria itu kembali bertanya, memuaskan rasa ingin taunya.

“Kecelakaan.”

“Baru-baru ini?”

Hae Yong menggeleng. “Saat aku SMP.” Jawabnya singkat. Seketika perasaan rindu akan kedua orang tuanya merayapi hati Hae Yong. Entah sudah berapa tahun mereka berpisah. Wanita itu tak begitu suka menghitung hal itu.

Ji Yong kembali diam. Kini ia bisa menjawab beberapa tanda tanya yang merecoki kepalanya. Wanita itu ditinggal kedua orang tuanya diusia yang sangat belia. Pantas saja sifatnya sedikit ‘berbeda’. Luka dan kerinduan yang tersimpan di hati pasti membuatnya tumbuh menjadi wanita dingin, tegar, dan memiliki hati yang kuat. Ia sudah terbiasa menghadapi masalah seorang diri sejak lama. Logikanya sudah terbiasa bekerja keras sebelum kebanyakan anak seusianya bahkan belum terpikir untuk melakukan itu. Dan itu berimbas pada pertumbuhan mental yang melebihi pertumbuhan fisiknya.  Bukan sesuatu yang aneh jika tak setetes air matapun yang keluar membasahi pipi wanita itu saat memberitahukan Ji Yong perihal kehamilannya beberapa hari lalu. Sungguh berbeda dengan sebagian besar wanita yang pasti akan menangis dan memohon pertanggung jawaban saat berada dalam situasi itu.

“Hae Yong-ssi. Aku ingin menanyankan satu hal lagi padamu.” Kembali Ji Yong membuka pembicaraan setelah tiba-tiba teringat sesuatu hal.

“Ya?”

“Kenapa kau ingin aku ada saat kau butuhkan? Bukankah kau bilang dirimu terbiasa hidup sendiri?”

“Aku hanya tak ingin melewatkan masa ini seorang diri.”

“Mwo?”

“Aku hanya ingin seseorang ada bersamaku, menjagaku dan membantuku. Aku terbiasa hidup sesuka hatiku. Kurasa aku butuh seseorang yang akan mengingatkanku agar tak berlaku seperti itu.” jawab wanita itu tanpa ekspresi.

TBC..

TBC lagii reader. Maaf ya ff saya semakin gaje. Saya lagi kena sindrome kehabisan ngadat inde kayaknya. Haha, tapi tenang, kalau yg ini responnya bagus saya pasti lanjut kok J