Title                : Hyangwonjeong’s Scandal (Part 1 of 4)

Author             : Sora Jang

Cast                 : Kwon Ji-yong (BigBang)

Ahn So-hee (Wonder Girls)

Genre              : Romance, Fantasy, Sageuk

Length             : Chapter

Twitter             : @Soieya

***

Halo VIPs ^_^

Well, this is the first time I sent my fanfict to BBFF. Although I’m still a newbie in FanFiction world, but I hope all of you can give me some advise so I can write in a better way next time. Since I am HeeDragon shipper, I end-up with pairing Jiyong with So-hee. If you don’t like this couple, you just can pass this story. Thank you ^_^

***

Aku selalu diajarkan untuk menghargai sesuatu yang terlihat sederhana. Dan saat aku mendapati sebuah fakta sederhana mengenai sebuah rasa yang terselip dalam hatiku, bahwa aku mencintainya, maka kini, tak ada alasan untuk selalu mengabaikan fakta sederhana tersebut

***

Kwon Ji-yong, Raja bijak kebanggaan Joseon yang telah menyandang gelar Raja Yongjo di usia muda, hanya sebatas dua puluh tahun itu dengan ragu meraih sebuah cangkir kecil yang terbuat dari keramik putih unggulan Joseon, kini didekatkannya cangkir kecil berisi ramuan obat itu di depan hidung menjulangnya, mencoba menerka jenis ramuan macam apa yang kali ini diberikan oleh Tabib Istana padanya.

Tak jauh dari tempat Raja Yongjo duduk, terhalang oleh meja baca, Tabib Istana, Kim Hee-chul tampak menunggu dengan raut cemas, takut jika ramuan buatannya kembali tak bisa menyembuhkan penyakit Raja Yongjo. Reputasinya sebagai Tabib Istana belakangan ini selalu menjadi pertaruhan, dan Tabib Istana itu tidak ingin terus menambah jumlah catatan dalam buku kesalahan miliknya. Kondisi Raja Yongjo yang tak kunjung terbebas dari penyakit yang dideritanya sejak satu bulan terakhir meskipun selama ini sudah semua ramuan diberikan oleh Kim Hee-chul, membuat reputasinya sebagai Tabib Istana seolah semakin berada di ujung tanduk.

“Tabib Kim, aku mencium aroma bawang putih yang sangat kuat dalam teh ini, apa aku salah menebak?” Raja Yongjo kini meletakkan cangkir tersebut di atas meja bacanya, Raja Yongjo menatap Tabib Istana berwajah tampan tersebut, meminta penjelasannya.

Ye Jeonha, teh tersebut bernama maneul-cha atau teh bawang putih. Seperti namanya, hamba membuat teh tersebut dari bawang putih. Bawang putih sejak dulu selalu digunakan sebagai obat, teh bawang putih sangat baik untuk sirkulasi darah, juga untuk menjernihkan pikiran. Penyakit Jeonha yang selalu mengalami kesulitan untuk tidur akan terobati dengan teh bawang putih,” Tabib Kim menjelaskan ramuannya dengan suara sedikit bergetar.

Keurae? Apa kali ini kau yakin Tabib Kim?”

Pertanyaan yang meluncur sempurna dari mulut orang nomor satu seantero Joseon itu terdengar tenang namun jelas mampu membuat tubuh Tabib Kim seolah telah terbungkus dalam bongkahan es, membuat tubuhnya kaku dan dingin secara bersamaan.

Ye Jeonha,” Tabib Kim berusaha dengan keras membuat suaranya terdengar normal, berusaha menyembunyikan raut cemas yang membungkus setiap inci tubuhnya, namun sia-sia, getaran dalam suaranya nyata terdengar di setiap telinga orang yang ada di dalam Gangnyeonjeong[1] tersebut.

“Sudah tak terhitung berbagai macam ramuan yang telah kau berikan padaku selama ini, namun tak sedetikpun aku mampu memejamkan kedua mataku, aku harap ucapanmu kali ini benar Tabib Kim,” Raja Yongjo mendesah sesaat, kini tangan kokohnya perlahan meraih cangkir yang sempat diabaikannya, berniat untuk segera meminum ramuan tersebut selagi masih hangat. Tabib Kim, Kasim Kang, dan Seung-hyun, pengawal pribadi Raja Yongjo tersenyum sekilas begitu cangkir kecil tersebut berubah menjadi kosong.

“Rasanya tidak terlalu buruk Tabib Kim, hanya saja aku merasa perlu mengunyah bunga kesturi untuk menghilangkan bau di mulutku. Aku tidak ingin para Menteri dan tamu Joseon berhamburan meninggalkan Geunjeongjeon[2],” dengan tergelak Raja Yongjo berucap sesaat setelah teh tersebut berhasil diteguknya. Ucapannya membuat Tabib Kim tersenyum sekilas, melupakan sejenak rasa cemas yang sejak tadi mengepungnya.

Jeonha, sebaiknya Jeonha beristirahat, jisi[3] telah tiba,” Kasim Kang mengingatkan.

Keurae arata, kalian boleh meninggalkanku, kecuali kau Seung-hyun ah,” setelah kembali menghembuskan nafas dengan pelan, Raja Yongjo memberi perintah. Semua orang yang sejak setengah jam lalu berada di dalam kamar tersebut akhirnya meninggalkan Raja Yongjo, kecuali satu orang, Choi Seung-hyun yang merupakan pengawal pribadinya.

“Seung-hyun ah, aku akan mencoba memejamkan kedua mataku. Jika kau merasa lelah, cobalah untuk  memejamkan matamu juga. Tak perlu harus mengawasiku, aku takut kau harus jatuh cinta padaku setelah menatap wajah tampanku,” Raja Yongjo berucap dengan mata terpejam, tubuhnya telah terbaring di atas kasur berwarna putih. Kalimat terakhir yang terlontar dari mulutnya berhasil membuat pengawal pribadinya tersebut tercengang.

Ye?” Dengan raut terkejut Choi Seung-hyun menatap sosok Raja Yongjo. Kata-kata yang tidak pernah disangkanya akan keluar dari mulut Raja Yongjo tersebut membuat Seung-hyun dengan tanpa sadar berucap dengan nada tinggi.

“Kau paham bukan Seung-hyun ah, para Menteri tidak akan memberi restu pada kita bahkan jika aku pun memaksa untuk menikah denganmu. Jadi sebelum terlambat, sebaiknya kau berhenti mengagumi wajah tampanku dan mulailah memejamkan matamu sepertiku,” seolah tak akan pernah mendapat kesempatan untuk menggoda Seung-hyun lagi, Raja Yongjo memutuskan untuk kembali melontarkan ucapan yang akan membuat Seung-hyun merasa semakin terpojok, terlebih lagi para dayang dan Kasim Kang bisa dengan jelas mendengar ucapannya dari balik pintu yang hanya terpisah oleh hanji[4] warna putih tersebut.

Jeonha…” Seung-hyun berucap dengan nada memohon. Berharap Raja Yongjo segera menghentikan gurauannya agar para dayang dan Kasim Kang tidak salah mengerti.

“Hahaha arata Seung-hyun ah, maafkan aku, aku tidak akan mempermainkanmu lagi. Kali ini aku akan benar-benar mencoba untuk tidur,” dengan tergelak, Raja Yongjo akhirnya berhenti menggoda Seung-hyun, kini Raja Joseon tersebut terdiam, mencoba untuk tertidur setelah selama satu bulan terakhir tak sekalipun dirinya mampu terlelap. Dan setelah beberapa saat, telinganya yang awalnya dapat dengan jelas mendengar suara desahan nafasnya sendiri kini tak lagi mendengar apa-apa. Telinga Raja Yongjo seolah tuli, tak sedikitpun mampu mendengar apa-apa, yang saat ini dirasakannya hanyalah gelap dan sunyi.

***

            “Tabib Kim, Tabib Kim…”

Suara bernada cemas dan tinggi itu terdengar memenuhi seluruh sudut Naeuiwon[5], membuat setiap pasang mata yang berada di dalam ruangan tersebut ikut mengalihkan tatapan mereka ke arah sosok suara tersebut berasal.

Oho, Shin haksaeng[6], pelankan suaramu. Kau hanya akan membuat pasienmu ketakutan hanya dengan mendengar suaramu itu. Mulailah bersikap seperti seorang tabib, jika tidak, kau tidak akan lulus dalam ujian,” Tabib Kim berusaha mempertahankan nada sabar miliknya di tengah rasa cemas yang masih mengganjal di hatinya.

Choesonghamnida Tabib Kim, aku hanya terburu-buru untuk menyampaikan pesan Kasim Kang,” masih dengan nada penuh penyesalan, Shin Dong-hee, calon tabib itu menjelaskan, berharap kali ini dirinya tak harus mendapat hukuman dari pemimpn Tabib Istana tersebut.

Begitu mendengar mulut Shin Dong-hee menyebutkan nama Kasim Kang, Tabib Kim dengan cepat menjawab, “Kasim Kang? Kau mendapat pesan dari Kasim Kang? Apa yang disampaikannya padamu? Oso malhaebogeora[7]!”

“Kasim Kang meminta Tabib Kim untuk segera menghadap Yang Mulia di Gangnyeonjeon sekarang,” dengan terbata-bata Shin Dong-hee menjawab.

Begitu pesan itu terucap sepenuhnya dari mulut Shin Dong-hee, Tabib Kim merasa seluruh persendiannya seolah terlepas satu sama lain hingga kini tak bisa lagi menopang tubuhnya, tubuh Tabib Istana itu lemas. Harapannya untuk tetap menjadi Tabib Istana dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengobati seluruh anggota keluarga Kerajaan kini lenyap begitu saja. Dan saat kakinya mulai terayun menuju Gangnyeonjeon, Tabib Kim tahu bahwa hari ini akan menjadi hari terakhir baginya untuk bisa menginjak tanah yang menjadi  tempatnya berpijak.

***

            Ahn So-hee, gadis yang baru berusia dua puluh tahun itu dengan malas menatap kerumunan orang yang sejak tadi pagi memadati pelataran gubuk sempit milik ayahnya. Meskipun pemandangan tersebut selalu dilihatnya setiap hari, namun fakta tersebut tidak sedikitpun mampu membuat gadis itu kehilangan rasa terkejut dan kesalnya setiap kali melihat kerumunan tersebut.

Seharusnya So-hee merasa senang begitu melihat masih banyak orang yang dengan rela datang ke tempatnya untuk berobat, bukankah dengan fakta tersebut, keluarganya tertolong dari keharusan untuk kembali terjebak dalam kelaparan seperti beberapa bulan yang lalu saat mereka sudah tidak memiliki apa-apa.

Saat itu mungkin So-hee bisa bekerja sebagai pelayan di kedai minum atau membantu menjahit pakaian milik para keluarga yangban[8] sehingga bisa membantu ayahnya untuk membuat mereka terbebas dari kelaparan, tapi So-hee tak seperti gadis Joseon pada umumnya. Semua hal yang seharusnya dikuasai oleh setiap gadis Joseon, tak satupun dikuasai So-hee, bahkan sikap lembut dan santun mereka tak menempel sedikitpun dalam diri So-hee. Gadis itu tidak pernah bisa memasak, menjahit, atau berbicara dengan nada pelan dan santun. Tak satu pun tabiat gadis Joseon melekat dalam dirinya, bahkan cara berjalannya pun lebih terlihat mirip laki-laki. Hanya jeogori[9] dan chima[10] yang membungkus tubuhnyalah yang menjadi satu-satunya penanda bahwa sosoknya adalah seorang perempuan.

So-hee adalah seorang mudang[11], dan orang-orang yang sejak tadi berkerumun di pelataran gubuk kecilnya itu adalah para pasien yang selalu datang, secara sembunyi-sembunyi, untuk berobat padanya. Mungkin memang benar, bahwa akan lebih terdengar bijak jika para pasien tersebut pergi berobat pada seorang tabib, terlebih lagi praktek mudang tidak diperbolehkan menurut hukum Joseon kecuali mudang resmi Kerajaan, tapi orang-orang yang membentuk kerumunan tersebut adalah rakyat sangmin[12] dan cheonmin[13] Joseon yang tidak mampu membayar upah tabib.

Jika untuk berobat pada tabib mereka perlu membayar dengan beberapa logan uang, tidak sama hal nya dengan saat mereka berobat pada So-hee, mereka bisa memberikan apa saja pada gadis tersebut. Selain itu, selama ini gadis itu pun tidak pernah melakukan praktek ilmu hitam yang memang dilarang oleh pemerintahan Joseon, dia hanya selalu mampu mengobati semua penyakit yang diderita oleh rakyat Joseon dengan melafalkan mantra-mantra yang So-hee sendiri tidak tahu darimana dia mendapatkannya, setelah itu tanpa menemui seorang tabib sekalipun, penyakit mereka sudah sepenuhnya menghilang. Meskipun memang benar bahwa So-hee tidak pernah mempraktekan ilmu hitam, tapi gadis itu selalu mengobati para pasiennya dengan sembunyi-sembunyi agar dia tidak pernah mendapat hukuman dari pihak kerajaan.

Baik So-hee maupun ayahnya, Ahn Seok-hwan, tidak pernah mengira bahwa So-hee memiliki kemampuan yang bisa mengantarkannya pada gelar seorang mudang, sejak kecil So-hee tidak pernah memperlihatkan petunjuk apapun yang bisa mereka simpulkan bahwa So-hee kelak akan menjadi seorang mudang, So-hee bahkan hanya menghabiskan waktunya untuk tidur.

Semuanya berawal sejak kelaparan beberapa bulan yang lalu, saat So-hee hampir saja kehilangan nyawanya karena gadis itu belum pernah mengisi perutnya dengan sebutir nasi pun selama hampir satu minggu. Saat akhirnya gadis itu merasa dirinya sudah benar-benar kehilangan nyawa, So-hee justru menemukan dirinya terbangun di salah satu kamar keluarga yangban yang tak dikenalnya dengan selimut hangat yang membungkus tubuh kurusnya. Dan sejak saat itulah So-hee selalu mendapat penglihatan mengenai hal buruk yang akan terjadi di sekelilingnya, gadis itu pun mulai memiliki kemampuan untuk mengobati seseorang.

“So-hee ya, apa yang sedang kau lakukan? Cepat bersihkan wajahmu itu dan mulailah duduk di dalam. Kau tidak lihat kerumunan orang-orang itu? Aish, gadis macam apa yang bangun saat matahari sudah naik seperti ini? Seharusnya kau bangun saat myosi[14],” ayah So-hee, Ahn Seok-hwan, pria paruh baya itu berjalan dengan langkah cepat untuk mendekati So-hee yang saat ini justru tampak sedang menguap di depan pintu gubuk mereka, suaranya pelan, namun nada kemarahan terselip sempurna di dalamnya.

Aigoo abeoji, tidakkah abeoji lihat bahwa mataku masih belum sepenuhnya bisa terbuka? Aku masih sangat mengantuk abeoji, sebaiknya abeoji usir kerumunan orang-orang tersebut dan biarkan aku kembali tidur. Mereka masih bisa kembali nanti,” So-hee membantah, beberapa kali gadis itu kembali terlihat menguap, membuat ayahnya semakin kesal, terlebih lagi orang-orang yang sudah menunggu sejak lama itu kini mulai merasa tak sabar, mereka berteriak meminta So-hee agar segera mengobati mereka.

“So-hee ya, apa kau ingin kita berdua kembali harus kelaparan?” Ayah So-hee kembali membujuk So-hee yang kini justru tampak membenamkan kepalanya di kedua telapak tangan yang bertumpu pada kedua lututnya.

“Kalau kita berdua tidak ingin kembali harus merasa kelaparan, berhentilah berjudi abeoji! Perbuatan abeoji itu yang membuat penghasilan kita menghilang setiap hari,” So-hee tidak mau kalah, gadis itu berteriak dengan keras, membuat Ahn Seok-hwan dengan cepat membekap mulut puterinya tersebut.

Arasseo, arasseo, abeoji tidak akan pernah melakukannya lagi. Sekarang cepatlah bersihkan pipi mandumu itu So-hee ya, kau tidak ingin bukan mandu itu menghilang dari wajahmu karena kau malas untuk membersihkannya?” Ahn Seok-hwan terkekeh sambil berlalu begitu dia menyelesaikan ucapannya, melarikan diri dari So-hee yang akan mendaratkan pukulan karena dia kembali memanggilnya dengan sebutan yang selalu membuat So-hee merasa kesal tersebut.

Abeoji berhenti memanggilku dengan sebutan menjijikan itu, aku sudah besar!” So-hee berteriak kesal. Gadis itu berjalan dengan kaki yang dihentakannya dengan sengaja di atas tanah, mempertegas kemarahannya.

Sebenarnya gadis itu merasa malas untuk membersihkan wajahnya, tapi keharusannya untuk mengobati para pasien dan mendapat uang dari mereka agar dia dan ayahnya tidak lagi mengalami kelaparan berhasil membuat So-hee terpaksa berjongkok di salah satu sudut luar gubuk mereka, gadis itu mulai membasuh pipi bulatnya dengan air dingin.

“Apa aku boleh membeli mandu bulatmu itu agasshi?”

Sebuah suara bernada ramah tertangkap oleh telinga So-hee, membuat emosi gadis itu membuncah.

Abeoji lihatlah, orang-orang bahkan mulai memanggilku dengan sebutan menjijikan itu!” So-hee berteriak, kali ini gadis itu mengalihkan tatapannya pada sosok ayahnya sehingga mengabaikan sosok orang yang saat ini berada di sampingnya, sosok yang beberapa saat lalu menyapanya.

“Kau berbicara terlalu keras agasshi,” suara itu kembali terdengar, membuat So-hee semakin kesal, dengan cepat dia mengalihkan tatapannya pada sosok orang tersebut, mulut mungilnya hampir saja mengeluarkan makian yang sudah disusun dengan sempurna di otaknya jika saja So-hee tidak dengan cepat membekap mulutnya begitu gadis itu menyadari sosok yang kini berada di hadapannyaa, tersenyum dengan manis padanya.

“Hee-chul doryeonim[15]…”

Ucapan bernada heran tersebut meluncur sempurna dari mulut So-hee, gadis itu menatap Hee-chul dengan raut terkejut dan heran. Di tengah rasa bingung yang menghampirinya, So-hee bersyukur karena dia berhasil terbebas dari kesalahan fatal yang hampir diperbuatnya. Entah apa yang akan Hee-chul pikirkan tentang So-hee jika gadis itu sempat mengucapkan kata makian padanya. So-hee dan ayahnya pasti akan terlihat seperti orang yang tidak tahu balas budi mengingat keluarga Kim lah yang dulu merawat mereka berdua saat So-hee hampir kehilangan nyawa.

“Terakhir kali kita bertemu kau masih memanggilku dengan sebutan ‘orabeoni[16], lalu apa karena kita sudah tidak bertemu selama satu minggu, kau mulai memanggilku dengan sebutan ‘doryeonim’. Apa itu artinya aku harus menemuimu setiap saat So-hee ya?” Kim Hee-chul, Tabib Istana yang masih muda dan tampan itu tersenyum sekilas melihat tingkah So-hee.

Animnida doryeonim, aku hanya merasa terkejut dengan kedatangan doryeonim yang terkesan tiba-tiba, terlebih lagi saat aku baru saja terbangun,” So-hee terkekeh.

Mungkin gadis lain akan tersipu begitu mendengar ucapan Hee-chul, namun sekali lagi, So-hee berbeda dengan gadis lainnya, dia hanya terkekeh tak paham dengan apa yang sebenarnya sedang berusaha Hee-chul sampaikan padanya. Untuk kesekian kalinya Hee-chul paham bahwa akan tidak mudah untuk membuat So-hee paham mengenai apa yang selama ini terkubur dalam hati kecil Hee-chul.

“Hee-chul orabeoni, kenapa kau datang kemari?”

Seolah baru saja tersadar dari kebodohannya, So-hee akhirnya melontarkan pertanyaan yang seharusnya sejak awal diucapkannya begitu melihat sosok Hee-chul.

Hee-chul mendesah, menarik nafas sejenak sebelum akhirnya pria tampan tersebut membuka suara.

“Kau ingat satu minggu yang lalu aku datang untuk menemuimu dan meminta pendapatmu tentang obat yang bisa membuat seseorang tertidur?” Hee-chul mengawali ucapannya, So-hee mengangguk dengan cepat sebagai pertanda bahwa gadis itu ingat dengan peristiwa satu minggu yang lalu.

Waeyo? Apa orabeoni masih belum bisa tidur?” So-hee mengerutkan keningnya.

“So-hee ya, saat itu aku lupa memberitahumu bahwa bukan aku yang selalu mengalami kesulitan untuk tidur,” Hee-chul dengan suara pelan berucap, membuat kening So-hee semakin berkerut.

Orabeoni animnikka? Nuguimnikka?” So-hee kembali bertanya dengan nada bingung.

Hee-chul menghembuskan nafas sekilas, sudah saatnya pria itu mengatakan semua hal pada So-hee saat ini setelah selama ini dia menyembunyikan semuanya dari gadis tersebut.

Jeonha-kkeso, Yongjo Jeonha-kkeso[17],” Hee-chul menjawab dengan pelan.

Jeonha-kkeso? Yongjo Jeonha-kkeso? Eotteokhae sseumnikka?” So-hee belum bisa mencerna semuanya, gadis itu kembali bertanya dengan nada bingung untuk kesekian-kalinya.

“So-hee ya, aku Tabib Istana,” nada suara Hee-chul terdengar penuh penyesalan. Pria itu takut So-hee akan meluapkan kemarahan padanya atas sikap Hee-chul yang tidak pernah berkata jujur padanya. Sejak awal memang Hee-chul tidak pernah mengatakan secara jujur pada So-hee bahwa dia adalah seorang Tabib Istana. So-hee hanya tahu dari ibu Hee-chul bahwa puteranya tersebut adalah seorang tabib.

“Maafkan aku So-hee, aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan semua ini darimu. Seharusnya sejak awal aku berkata jujur padamu,” kali ini Hee-chul tertunduk lemas begitu dirinya mendapati sosok So-hee hanya terdiam di sampingnya tanpa mengeluarkan sepatah kata.

“Hee-chul orabeoni…”

Hee-chul benar-benar menyangka bahwa hubungannya dengan So-hee akan berakhir begitu mulut gadis itu melafalkan namanya dengan nada pelan hingga Hee-chul merasa perlu untuk menahan nafasnya saat harus menunggu ucapan lain yang akan terlontar dari mulut So-hee. Namun apa yang terjadi selanjutnya benar-benar membuat Hee-chul semakin merasa bahwa So-hee adalah gadis yang berbeda hingga membuat Hee-chul semakin ingin memilikinya. Dengan wajah yang berbinar dan senyum yang tergurat nyata di wajahnya, So-hee berucap.

“Apa Istana benar-benar memiliki sadosi[18] yang dipenuhi berbagai makanan?”


[1] Bangunan yang digunakan sebagai kediaman utama Raja Joseon

[2] Bangunan tempat Raja Joseon memberikan titah dan menerima para utusan Negara lain.

[3] Ukuran waktu yang digunakan pada periode Joseon, menunjukkan pukul 11.30-12.30 malam.

[4] Kertas yang biasa digunakan untuk berbagai kerajinan, seperti lentera dan pelapis pintu

[5] Rumah Sakit Istana

[6] Murid

[7] Cepat katakan!

[8] Salah satu kasta pada periode Joseon, terdiri dari para birokrat dan militer.

[9] Atasan hanbok yang bebentuk jaket pendek yang digunakan dengan bawahan hanbok.

[10] Rok yang digunakan bersama jogeori dalam setelan hanbok

[11] Dukun

[12] Salah satu kasta pada periode Joseon, kasta ini terdiri dari para nelayan, petani, pedagang.

[13] Kasta terendah pada periode Joseon, terdiri dari para budak

[14] Ukuran waktu yang digunakan pada periode Joseon, pukul 5 -7 pagi.

[15] Tuan muda

[16] Kakak, panggilan yang digunakan oleh adik perempuan pada kakak laki-laki saat periode Joseon

[17] Kkeso, partikel yang digunakan di belakang nama orang yang dihormati, sebagai penanda subjek.

[18] Gudang penyimpanan makanan Istana.