Title : Especially Her
Author : HelloWorld
Main Cast :
• Choi Seung Hyun
• Song Hye Rin (author’s imagination)
• Kwon Ji Yong
Support Cast :
• Bigbang
• Main Cast’s Family
• Se7en
Genre : Romance, Hurt, Complicated ?
Length : Chaptered

POV : Author
———-WINGS———
POV : CHOI SEUNG HYUN

Dua minggu yang panjang berlalu, dan lagi, tanpa gadis suster bernama Song Hye Rin. Jepang memang tempat yang indah, tapi seindah apapun tempat ini pasti akan lebih indah Seoul. Aku merindukan suasananya, juga penghuninya.
Tak sadar, sedari tadi aku menggenggam erat beberapa kartu berwarna-warni dari penggemar. Ya, selain Hye Rin aku juga memiliki sesuatu yang istimewa yang disebut Penggemar. Penggemar kami sangat baik, mereka perhatian, mereka sering membawakan kami beberapa vitamin di lokasi syuting atau seusai talkshow. Aku berusaha menghargai mereka, maka ku terima kartu-kartu mereka. Semuanya di tulis dengan bahasa Jepang, Korea, dan Inggris.
“Bagaimana keadaan kalian? Baik-baik kah? Jaga kesehatan kalian. Penampilan Alive Tour Bigbang tempo hari sungguh menakjubkan!”
“Kami selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian, dimanapun kalian berada. Keep hwaiting, Oppa! ^^ ”

‘Oppa’….
Kapan Hye Rin bisa memanggilku dengan ‘Oppa’ ?
Dua bulan terakhir aku merasa lebih banyak bicara. Gadis itu menyita perhatianku. Padahal bertahun-tahun aku susah payah berlatih untuk menjadi tak-bertampang-bodoh di hadapan siapapun, kini di depannya aku merasa kecil, konsentrasiku hilang begitu saja. Pikiran ini selalu melayang padanya, apalagi saat dia tersenyum, selalu berhasil membuatku tampak bodoh karena salah tingkah.
Ku cabik-cabik rambutku, Taeyang dan Daesung serentak menatapku keheranan.
Hanya Ji Yong disana, yang tampak nyaman berkutat dengan ponsel. Tentu tak sulit untuk menerka siapa yang sedang berpesan ria dengannya…
Kami turun dan segera melangkah menuju asrama, melepaskan penat setelah tiga jam perjalanan udara Jepang-Korea. Kini Daesung, Taeyang, dan Seungri sudah terpingkal-pingkal mengenang kegiatan menarik di Jepang, sejenis Rumah Hantu yang kami kunjungi dan ekspresi Daesung yang konyol saat ketakutan menaiki Roller Coaster.
Supaya aman, buru-buru aku meletakkan kartu-kartu tadi ke sebuah ruangan khusus di asrama yang kami sisihkan untuk meletakkan barang-barang dari fans. Tentu semuanya adalah harta karun kami, selain karya musik dan pernik fashion kami masing-masing.
Setelah melihat cermin, aku baru sadar bahwa rambutku masih berwarna hijau. Niat untuk segera mencucinya di kamar mandi tiba-tiba terhalau oleh suara cekikik kecil dari arah luar. Tidak mungkin rasanya jika itu adalah suara tawa Daesung.
Tepat dugaan, ketiga manusia yang kubayangkan sedang bercanda di ruang makan. Jadi, siapa yang tertawa? Aku menengok ke beranda.
Hye Rin.
Cukup, aku berhenti melangkah. Cukup dengan berdiri di sini saja, setidaknya aku bisa mendengar suara lugunya.
Ada yang sedang berbicara padanya.
“…Hye rin, kau sungguh gadis yang menarik…”
Deg
“…aku menyukaimu sejak pertemuan pertama kita di rumah sakit….”
Deg deg
“…Mau kau jadi pacarku?…”

Tidak akan pernah, Ji Yong!
Selalu. Ji Yong selalu mempermainkan perempuan, parahnya ia tidak pernah sadar dan tetap mendekati gadis yang menurutnya menarik dengan sesuka hati! Aku tak akan peduli jika Ji Yong mendekati Sandara Park atau Park Bom sekalipun, tetapi tidak untuk Hye Rin!!
Aku berlari, tak dapat menghentikan langkahku. Aku mendorong tubuh Ji Yong, tak menyukai caranya menyatakan perasaan kepada Hye Rin yang seakan tanpa dosa. Segala tingkahku tak terkendali. Tubuh ini seakan bukan milikku lagi. Akal sehatku sudah hilang entah kemana.
Yang ada tinggal perasaan.
Jadi, segera ku bungkukkan tubuhku yang terlalu tinggi untuk meraih bibirnya. Ku miringkan kepalaku, lalu dengan sigap kucium bibir Hye Rin yang sedang berdiri kaku.
Ku cium bibirnya dengan perasaan, selembut mungkin. Sampai waktu benar-benar berjalan lambat.
Entah halusinasi atau apa, aku bisa melihat air matanya terjun bebas saat kucium dia dengan mata terpejam. Seperti kisah dalam jilid komik jepang romantis yang pernah kubaca sebelum ini.
Tak kusadari, seisi asrama sedang menonton aksi gila-ku yang kekanakan. Aku terlalu canggung untuk melakukan ini. Lalu segera aku melepaskan diri dan minggir beberapa langkah, menjaga jarak darinya.
“Hyeong, k..kau menciumnya!” Seru Daesung syok.
“Yong Bae Hyeong, apa benar Hyun Hyeong telah menciumnya?” bisik Seungri menyenggol lengan Taeyang yang tak kalah syok.
Ji Yong sendiri kini masih terkapar diantara lantai dan dinding. Rautnya tampak kaget, pucat pasi. Apa aku terlalu keras mendorongnya tadi?…
Dengan muka yang terasa panas, kuputuskan untuk mengutarakan segala hal yang menjadi konflik dalam diriku dua bulan terakhir.
“Aku… Mencintainya…”
Lagi-lagi kau bertindak bodoh, Choi Seung Hyun! Beberapa pasang mata di sekitarku langsung terbelalak lebar. Hanya Hye Rin, yang masih tertunduk sedari—kucium bibirnya—tadi. Kenapa aku tak pernah melakukan hal yang benar…
Karena diantara kami semua tidak ada yang mau angkat bicara atau bergerak sedikitpun, kuputuskan untuk mengatakannya.
“Aku mengerti. Ji Yong sama sepertiku, mencintainya. Begitu juga dengan Hye Rin, dia juga menyukai Ji Yong. Jadi, mhhh, mian. Aku bodoh sekali. Aku tak mengharap apapun darimu” Nafasku yang tadinya tercekat kini mulai tenang. Kepalaku otomatis menoleh pada Hye Rin, walau dengan perasaan ragu dan serba salah.
Dia masih tertunduk. Entah perasaan apa yang menggeluti hatinya, persis seperti pertemuanku dengannya di lift maut itu : entah penyesalan, canggung, terlalu gembira, atau terlalu marah. Tak satupun dari rautnya yang bisa kubaca.
Kakiku mulai terangkat, berusaha menjauh. Jujur saja, aku tak menyukai suasana hening yang seperti ini.
Jika kesal ya kesal! Utarakan saja! Jangan diamkan aku begini!
“Jweisonghamnida, Oppa…”
Suara tersebut menghentikan langkahku.
Ketika aku menengok gadis itu sudah membungkuk sembilan puluhan derajat di hadapan Ji Yong yang sedang berdiri terpaku. Kami semua tak mengerti, kenapa dia malah ikut-ikutan meminta maaf? Sebenarnya siapa yang bersalah disini?
“Aku memang menyukaimu, aku penggemarmu. Semua tau itu” katanya, sedikit demi sedikit wajah yang tadinya murung kini berusaha mengumpulkan senyum. “Tetapi aku tidak mencintaimu, Oppa”
“Kurasa, Choi Seung Hyun, aku… ingin bersamanya…” lanjutnya dengan canggung.
Sungguh, belum ada yang bergerak diantara kami setelah pengucapan kalimat terakhir. Beberapa bagian dari tubuhku kini menyambut kalimat itu dengan gembira. Ingin sekali meraih langit untuk bersyukur kepada Tuhan. Tetapi ini bukan saat yang tepat. Ada yang sedang hancur disana…
Tatapan Ji Yong kosong. Mungkin karena ini adalah pertama kali dia ditolak oleh seorang gadis, apalagi seorang gadis biasa seperti Song Hye Rin. Seungri mendekat, menepuk pundak Ji Yong tanda menguatkan. Aku tak bisa berbuat apa-apa, masih mematung. Mengecewakan sekali jika mereka menganggap aku bukanlah Hyeong yang baik bagi mereka. Apa ini yang disebut ‘merebut gadis orang’ ?
Kali ini Ji Yong mendekat, berbisik padaku “selamat, hyeong” sambil memaksakan senyum yang kurasa getir, dan berlalu. Dia benar-benar diterpa patah hati. Daesung, Taeyang dan Seungri mengekor padanya. Mereka tentu tau apa tugas mereka dalam keadaan seperti ini.
Tinggal kami berdua.
Dan kali ini, aku dapat dengan sepuasnya menghirup harum aroma lembut rambut panjang yang berkibar dihembus angin.
POV : CHOI SEUNG HYUN – END
*
CHOI SEUNG HYUN

“Kenapa kau masuk sembarangan? Berani menyentuh itu pula,” Sepasang mata Seung Hyun langsung melotot kearah headphone Soul miliknya yang sekarang ada di tangan Hye Rin.
“Memang kenapa?”
“Kau tau, berapa harga benda itu?”
Hye Rin tak coba menebak.
“478.000 won!” lanjut Hyun dengan nada sedikit tinggi.
Mendengarnya Hye Rin langsung meletakkan benda tadi ke tempat asalnya—478.000 won tak lebih dari gajinya di Rumah Sakit selama dua bulan penuh.
“Aisshh, kenapa kau ini. sombong sekali…”
Tak kapok, sekali lagi Hye Rin menggeledah barang-barang Hyun seenaknya. Ketika dia menarik sebuah bagian kecil dari laci, selembar foto tertangkap oleh matanya. Foto yang telah menarik perhatiannya adalah foto seseorang yang ‘berisi’ berpose dengan seragam SMU. Siapa dia? Sepertinya aku pernah melihatnya…
Saat itu juga Seung Hyun menoleh “Wae jigeum?”
Spontan Hye Rin menggerak-gesitkan matanya. Dari melihat seorang yang di foto lalu beralih pada Seung Hyun, begitu seterusnya, berkali-kali.
“Apa yang kau lihat?…” Tanya Hyun menyirgai, seakan tau benda apa yang dipegang Hye Rin sekarang.
“Seseorang yang mirip sekali denganmu” Hye Rin masih menatap lekat foto tersebut. “Ini kau dengan seragam SMU…” simpul Hye Rin selanjutnya.
Beberapa detik sunyi.
“Lalu, bagaimana? Buruk kah?” dalam hati Seung Hyun sudah bisa menerima bagaimana reaksi Hye Rin setelah ini : menggelengkan kepala karena sulit menerima kenyataan.
“Tidak juga” jawab Hye Rin, diluar dugaan. “Kalian memiliki mata yang mirip, tatapan yang sama. Tentu saja, karena itu adalah kamu”
Walau sedikit bingung dengan perkataan Hye Rin, Seung Hyun tersenyum tipis. Entahlah, apa sebelum ini Hye Rin tau bahwa masa remajanya sangat suram—tubuh yang benar-benar berisi dan nilai rapor yang tak pernah bagus—dari infotainment atau kabar yang beredar di internet.
Semoga saja tidak.
Sehingga itu berarti Hye Rin mencintai dirinya apa adanya.
*
SONG HYE RIN

Grek
Seseorang telah membukan pintu kamar.
Itu Ji Yong, mendorong daun pintu sambil mengutak-atik sebuah tablet.
“Oh, Hye Rin, kau disini? Hmm… maafkan aku” Buru-buru Ji Yong berniat meninggalkan tempat itu setelah menyadari keberadaan Hye Rin.
“Tidak apa-apa, Oppa! Berhenti disana, aku akan menunggu…”
Tanpa diperintah Seung Hyun langsung keluar menyusul Ji Yong yang belum melangkah jauh. Mereka membicarakan pekerjaan, Hye Rin bisa mendengarnya dari dalam. Mereka terdengar formal.
Hal itu membuatnya teringat pada kejadian beberapa hari yang lalu, ketika Kwon Ji Yong dan Choi Seung Hyun menyatakan perasaan mereka pada Hye Rin di hari yang sama. Keberuntungan macam apa yang telah dianugerahkan Tuhan pada Hye Rin saat itu?
Tapi entahlah, ketika Kwon Ji Yong menyatakan perasaan dan mengajak Hye Rin berpacaran, Hye Rin tak merasakan getaran apapun. Hambar. Bukankah hal seperti itu yang selalu dikhayal-khayal oleh Hye Rin selama ini? Memiliki kekasih seorang G-Dragon, musisi perfeksionis?
Berbeda sekali jika bersama Choi Seung Hyun. Ketika Seung Hyun tersenyum kepadanya—walau langka sekali—seakan dunia ini juga ikut berbahagia bersamanya.
Sejak saat itu Ji Yong Oppa tak pernah berani memandang Hye Rin lama-lama. Tampak sekali hubungan Ji Yong dan Hyun juga merenggang.
Oh, tidak.
Semua ini karena aku.
Aku menghancurkan hubungan baik mereka.
“Oppa!” panggil Hye Rin, tertuju pada Ji Yong.
Ji Yong hanya menoleh.
Semua kata yang telah terangkai rapi di otak Hye Rin tiba-tiba musnah. “Emm, jaga dirimu baik-baik” ucapnya dengan kalimat seadanya.
Ji Yong membalas dengan senyum, beberapa detik kemudian berlalu begitu saja. Yah, Setidaknya kegelisahan Hye Rin sedikit terobati dengan senyum manis ala Ji Yong.
“Hei, kau”
Suara berat itu mendekat. Auranya mengerikan, ditambah lagi dengan bayangan sosoknya yang terbentuk oleh pancar cahaya lampu, tinggi dan besar.
Bulu kudu Hye Rin berdiri.
“Kau… selalu memanggilnya dengan ‘Oppa’! Sementara aku? Kenapa aku yang jelas-jelas lebih tua darinya tidak??” Tanya Seung Hyun meluap-luap.
“Emm…” Hye Rin mati kutu. Tampang Seung Hyun yang garang membuatnya ketakutan. Tetapi Hye Rin berhasil menangkis tatapannya. Dengan berani dia menjawab, “karena aku menyukai Ji Yong Oppa. Kau lupa? Aku penggemarnya, aku mengaguminya…” jawab Hye Rin dengan niatan menguji Seung Hyun.
Rasanya sejurus samurai telah menusuk dada Hyun terang-terangan. Kenapa ia tak pernah berpikir bahwa Hye Rin hanya memilihnya, bukan berarti sudah tidak menyukai Ji Yong lagi kan?
Perasaan kecewa menyeruak. Bodoh sekali jika setelah kejadian beberapa hari lalu membuat Seung Hyun percaya diri, mengira Hye Rin telah menjadi miliknya, seutuhnya.
“Asal kau tau saja, aku tak pernah mengagumimu”
Seung Hyun ingin sekali menutup telinganya, tetapi tidak sampai dengan detik itu. Detik ketika mata Hye Rin memancarkan kehangatan.
“Tetapi aku mencintaimu…”
*
SONG HYE RIN & CHOI SEUNG HYUN

Wajah Hyun tampak sangat syok. Setelah panas, dingin. Kini semuanya merah padam.
Hye Rin sudah terpingkal-pingkal, “Lagipula kau terlalu aneh untuk menggunakan panggilan sejenis itu. ‘Oppa’? Bingu Oppa?” Ia melanjutkan dan tawa renyah, kali ini terdengar lebih pada ‘menghina’.
“Daesung….!” respon tak terduga dari Top, tampak menahan sesuatu.
Daesung, dengan rambut acak-acakan muncul dari gawang pintu sambil menggaruk-garuk kepala, “Ada apa, hyeong? Jangan teriak—” Daesung langsung terlonjak, melotot mengetahui Hye Rin berdiri di samping Hyun, dengan cengiran-misterius mengarah padanya. Pertanda tak baik.
“Rin, siapa yang mengajarimu?”
Aura gelap Seung Hyun seakan diabaikan oleh Hye Rin yang menjawabnya enteng dengan gaya sok manja, “Dae-oppaa…~” dan menjerumuskan Daesung.
Hawa mengerikan Hyun muncul ke permukaan. “Bukankah sebelum ini kita sering membicarakan tentang ‘panggilan yang paling kubenci’?…”
Nyengir selebar-lebarnya adalah cara andalan Daesung untuk menghadapi hyeong—yang menurutnya paling menyebalkan—ini. Matanya yang sipit semakin tidak terlihat (?). Sepersekian detik kemudian mereka malah kejar-kejaran serupa Tom & Jerry (??)
Seung Hyun berhenti mengejar, ponselnya berdering. Pada saat itulah Hye Rin baru menyadari bahwa seorang T.O.P yang biasa digaji jutaan ribu won untuk menandatangani sebuah CF atau kontrak film itu adalah seseorang yang sederhana.
Handphone yang keluar dari saku Hyun hanyalah sebuah ponsel Touch-screen berwarna hitam, yang mungkin jika dibandingkan masih lebih mahal milik Hye Rin. Bukankah itu terlalu sederhana di kalangan selebritis setingkatnya?
“Yeoboseo… Hye Yoon?”
…..
“…Ne! Aku baik-baik saja. Bagaimana disana?” Choi Seung Hyun tampak sumringah menerima sambungan telepon itu. Senyumnya terus mengembang berbicara dengan seseorang. “…Itjanha. Jaga dirimu baik-baik, Yoon-ssi”
Dia, Yoon-ssi? apakah gadis yang menjenguknya di rumah sakit waktu itu?
Ragu, Hye Rin akhirnya memberanikan diri angkat bicara “dia.. yeojachingu-mu…?”
Setelah menutup sambungan, Hyun merasa bermasalah dengan pendengarannya. Sambil mengorek telinga ia bertanya “Mwo? Mworago?”
“Yoon-ssi, bukankah dia gadis yang menjengukmu di rumah sakit waktu itu?”
Pertemuan pertama di Rumah Sakit terputar kembali di pikiran Seung Hyun. Yang mana? Darimana Hye Rin tau bahwa—selain ibu—Hye Yoon-ssi juga menjenguknya di kamar rumah sakit waktu itu?
“Apa yang kau maksud Hye Yoon Eonnie?” Tanya Daesung sok meluruskan masalah.
Hye Rin masih terdiam, bingung. Sepertinya sedang berpikir keras.
Tak perlu lama menunggu, Daesung menjelaskan “Yoon-ssi itu kakak perempuan Seung Hyun Hyeong! Ahh, kau ini, Rin. Masa hal begitu saja tidak tau? Apa saja yang kalian lakukan setelah Jadian kemarin?…”
Otomatis dua pasang mata sekaligus menengok pada Daesung dengan pandangan tak-habis-pikir.
Daesung membekap mulutnya. Keputusannya untuk mengucapkan ‘kata sakti’ itu sungguh keputusan yang salah. Perlahan kaki Daesung melangkah mundur, menjauh dari aura horor keduanya, lalu menghilang di balik dinding.

“Emh… jadi..?” perkataan Daesung mengingatkan Hye Rin. Sulit sekali bagi Hye Rin untuk menanyakan tentang bagaimana ‘kejelasan’ hubungannya dengan Seung Hyun sekarang.
“Mianhaeyo, Hye Rin…” kata Seung Hyun menyadari dengan tepat apa yang dimaksud Hye Rin yang jantungnya semakin berdebar. “Setelah kupikir-pikir, aku tak ingin berpacaran denganmu,”
Perkataan tersebut membuat Hye Rin sedih, tentu saja. Hye Rin tau, jika seorang bintang seperti T.O.P bisa saja hancur di puncak popularitasnya hanya karena menyandang status ‘berpacaran’.
Tapi bohong, Seung Hyun sedang balas dendam. Semuanya hening, sampai Seung Hyun melanjutkan, “tunggu aku, aku akan melamarmu setelah ini!” dengan muka berbinar dan sedikit malu-malu.

THE END ^^V
Thanks to : yang udah mau baca FF ini, baik yang dari awal sampe akhir & yang baca part ini aja. Ini FF pertamaku yang tuntas. Thanks a lot ^^
Unnie Chanyb yang udah mau updet tulisan ini ^^