Baby… baby… (Ch. 3)

Author : Ms. Yongyong

Title     : Baby…baby… Chapter 3

Cast     :

  • Kwon Ji Yong
  • Park Hae Yong (You)
  • Other

Genre  : Romance, 17+, Chaptered

Twitter  : @diina_mp

A/N        : Annyeong all^^ ms. Yongyong kembali… pada kangen gak? #ya udahlah kalau gak ada yang kangen. Dari pada saya makin gaje lebih baik langsung  baca ff nya aja yaaa. RCL readers ^^

~Ch. 3 Begin…~

Hae Yong menghela napas panjang. Entah sudah berapa kali ia melakukan hal itu hari ini. Berada di apartemen mewah milik orang yang belum begitu dikenal membuatnya merasa tidak leluasa. Tak banyak hal yang bisa dilakukan untuk membunuh bosan yang mulai menggerogoti dirinya. Ia tak terbiasa diam di rumah seharian seperti apa yang telah dilakukannya selama beberapa hari ini. Dan lagi, ia juga tak punya cukup tenaga untuk melakukan hal-hal seperti berjalan-jalan mencari udara segar. Morning sickness yang selalu melanda membuatnya kehilangan banyak tenaga. Belum lagi tubuhnya yang belum bisa menerima makanan berat seperti nasi ataupun karbohidrat lainnya. Ia hanya menyantap sepotong roti tawar dan susu ibu hamil yang dibelikan Ji Yong beberapa hari yang lalu. Apakah itu cukup? Tentu saja tidak. Mana mungkin sepotong roti tawar dan segelas susu bisa mengembalikan tenaga seorang ibu hamil. Ia memiliki satu calon manusia yang tengah tumbuh di dalam rahimnya. Dan tentu saja calon manusia itu menyerap nutrisi dari apa yang dimakannya untuk tetap bertahan. Belum lagi ia harus menghentikan kebiasaannya mengkonsumsi beberapa menu favoritnya yang dilarang untuk ibu hamil. Apa lagi kalau bukan camembert dan espresso. Bisa dibayangkan seberapa tersiksanya wanita itu kini?

“Apa kau baik-baik saja?”

Hae Yong tersentak kaget. Cepat ia menoleh pada pemilik suara nyaring yang entah sejak kapan berada tepat di sampingnya itu. Pria itu menatap Hae Yong lama, seperti meneliti. Dan itu membuat jantung Hae Yong mengkhianati dirinya dengan berdetak begitu cepat. Bagian vital dirinya itu terus berpacu seperti memberontak ingin keluar. Tersadar akan hal itu, Hae Yong perlahan menggeser tubuh mungilnya menjauh dengan lembut. Ia merasa begitu terintimidasi dengan tatapan Ji Yong. Selain itu, berada dekat dengannya membuat Hae Yong susah bernapas. Dadanya sesak entah kenapa. Dan itu sungguh memuakkan bagi wanita itu.

“Apa kau sakit?” tanyanya setelah beberapa saat.

Hae Yong menggeleng.

“Kau yakin? Wajahmu sepertinya berkata tidak.”

Hae Yong kembali menggeleng. Ia belum mendapatkan kembali fungsi bibir dan lidahnya yang tiba-tiba terasa kaku.

“Apa kau sudah makan?”

Kembali, wanita itu menggeleng. Tapi kali ini lebih pelan dari yang tadi.

Raut muka Ji Yong sedikit berubah. “Kenapa?”

Hae Yong mengedikkan bahu.

“Bisakah kau menjawabku dengan kata-kata selayaknya seorang yang bisa bicara? Atau kau tiba-tiba menjadi bisu dan tak bisa menjawabku dengan benar?” suara pria itu sedikit meninggi. Kesal. Tanpa dikehendaki membuat Hae Yong tersentak.

Wanita itu menunduk dalam. Menyembunyikan raut mukanya yang terlihat sedih dan bola mata indahnya yang muali berkaca-kaca.

“Wae? Kenapa kau selalu memperlakukanku begini?” Ji Yong terus saja mempertahankan nada suaranya tetap tinggi. “Apa kau ingin membunuhku dengan rasa bersalah? Kau selalu seperti ini. Tak pernah menjawab pertanyaanku dengan benar. Kau bahkan seperti tak menganggap keberadaanku. Apa kau kira hanya dirimu yang tersiksa karena hal ini? Aku jauh lebih tersiksa karena harus menghadapimu yang dingin dan tak berperasaan itu setiap hari selama dua bulan ini!”

Deg! Hae Yong terenyak. Kata-kata Ji Yong terasa begitu menusuk di hatinya. Membuat jantungnya serasa sulit untuk berdetak. “Apa? Kau menyalahkanku karena aku bersikap dingin? Aku hanya lelah. Lagi pula aku tak pernah merasa bersikap dingin padamu. Aku memang begini. Terlebih dengan orang-orang yang tak begitu dekat denganku. Apa kau tak pernah menyadari seberapa dinginnya dirimu? Jangan hanya bisa menilai orang lain.” Jawab Hae Yong pelan, seperti menggumam. “Apa kau pernah bertanya pada dirimu seberapa banyak waktu luang yang kau miliki untuk sedikit saja mendekatkan diri denganku? Kau bahkan menghilang entah kemana saat weekend. Membuang waktu yang seharusnya bisa kau gunakan untuk sedikit saja membangun pertemanan denganku untuk hal –yang entah apa- yang menurutmu jauh lebih penting. Dan jika kau merasa tersiksa dengan keberadaanku, aku akan angkat kaki dari apartemenmu ini sekarang juga. Aku tak pernah memintamu untuk membawaku ke sini! Kau yang memaksaku!” setetes air mata jatuh di kedua pipi Hae Yong ketika menyelesaikan kalmat panjangnya itu. Cepat ia berlari menuju kamarnya dan mengunci diri.

Ji Yong terpaku. Ia melihat dengan jelas dua bulir air mata yang mengaliri  wajah cantik wanita itu. Kaget? Tentu. Saking tak percayanya, pria itu tetap saja menatap kosong kepergian Hae Yong. Ia tak pernah menyangka akan bisa melihat air mata menetes dari mata indah wanita itu. Di benaknya, Hae Yong adalah wanita dingin berhati keras. Bukan tanpa alasan Ji Yong menarik kesimpulan seperti itu, karena memang Hae Yong memperlakukannya dengan dingin selama dua bulan keberadaannya di apartemen mewah Ji Yong. Tapi saat ini, Ji Yong melihatnya dengan sangat jelas. Wanita itu menangis dan berbicara dengan nada yang sangat pilu. Itu membuatnya tersadar bahwa Hae Yong masih memiliki perasaan. Perasaan? Bagai tersadar dari alam mayanya, Ji Yong terlonjak. Segera ia melangkah lebar menuju kamar Hae Yong yang tertutup rapat. Dalam hati, Ji Yong merutuki kebodohannya. Bagaimana bisa ia melupakan perihal menjaga perasaan Hae Yong dan bicara sekasar itu padanya.

“Hae Yong-ssi… Buka pintunya…” pintanya lembut.

Hening.

“Hae Yong-ssi!”

….

“Aku akan mendobrak pintu ini jika kau tak juga menjawab!” Ji Yong mulai geram karena merasa cemas. Ia tak ingin disalahkan jika terjadi sesuatu pada wanita itu.

Pintu kamar itu seketika terbuka. Memperlihatkan seorang wanita yang telah siap hengkang dengan koper besar di tangannya. “Kau tak perlu merusak properti rumah mewahmu!” ucapnya sebelum melangkah melewati pria itu.

“Maaf..” Ji Yong tertunduk. “Aku tak bermaksud kasar padamu.” Katanya.

Hae Yong tersenyum remeh. “Kau tak bermaksud, tapi kau melakukannya. Aku menghargai kejujuranmu.”

“Kumohon, maafkan aku. Aku sama sekali tak bermaksud menyakiti hatimu.”

“Aku tetap akan pergi.”

“Akan kucoba untuk sedikit menjalin pertemanan denganmu. Aku akan melakukan apa yang sudah seharusnya kulakukan dngan benar. Aku akan mencoba lebih baik lagi padamu.” suara Ji Yong merendah. “Aku tak ingin sesuatu terjadi dan berada di posisi yang dipersalahkan.”

Hae Yong menundukkan kepalanya lesu. Ada sedikit rasa kecewa merayapi hatinya mendengar penuturan Ji Yong. Pria itu tak pernah sekalipun melakukan sesuatu dengan niat yang tulus padanya. Selalu hanya karena tak ingin dipersalahkan.

Baby…baby…

~Hae Yong’s Side~

Kutatap alarm ponselku yang berkedip-kedip tanpa suara memperlihatkan jadwal check up ku sore ini. Ini adalah jadwal check up ku yang ke 3 –kalau tidak salah- dan semakin ke sini aku merasa semakin berat untuk melakukannya. Kenapa? Karena aku selalu melakukan check up tanpa suami yang mendampingiku. Tentu saja, karena aku memang tak memilikinya. Bukan, bukan karena aku butuh didampingi. Aku hanya merasa asing dengan tatapan para pasien yang seolah meneriakkan bahwa aku adalah wanita tidak benar yang telah melakukan kesalahan besar dengan kekasihnya dan berakhir dengan ‘dicampakkan’. Aku merasa sangat terbebani dengan tatapan mereka yang tak tau apa-apa itu. Aku tak terbiasa dengan orang-orang yang memandangku dengan remeh seolah aku adalah seonggok sampah busuk yang mengganggu dan pantas dimusnahkan. Tapi apakah aku pantas marah? Apakah aku pantas tersinggung dengan tatapan mereka? Bukankah itu memang benar? Bukankah aku memang tak jauh beda dengan sampah busuk saat ini? Aku hanya sedikit lebih beruntung karena aku manusia yang bisa berpikir, bukan sampah. Hanya saja kami sama busuknya, bukan? Aku tertawa. Rasanya begitu perih saat menyadari betapa buruknya diriku. Ingin rasanya aku meminta Ji Yong untuk sekedar mendampingiku, agar mereka tau, aku bukan wanita yang dicampakkan bersama satu nyawa yang tengah hidup di rahimku. Tapi apakah mungkin? Apakah pria itu akan bersedia mendampingiku? Aku tak ingin berharap. Bahkan setelah hari itu, tak ada yang berubah darinya. Ia tetap sibuk dengan kegiatannya. Malah ia pulang lebih larut dari biasanya. Sepertinya aku harus mulai terbiasa dengan pandangan jijik orang-orang sekitarku mulai saat ini. Mungkin berat pada awalnya, tapi aku harus bertahan. Demi diriku dan… anakku.

“Hae Yong-ssi…”

Segera aku menyeka butiran air mata yang mengalir saat menyadari suara itu terasa begitu dekat denganku.

“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya lagi, sembari melangkah semakin dekat. Ia bahkan duduk di sisiku, di ranjangku.

“Ya” jawabku serak.

“Kau menangis?”

“Jangan tanya!” cegahku cepat. Entahlah beberapa hari ini aku merasa lebih sensitif. Aku begitu mudah terenyuh dan menangis.

Ji Yong menatapku penuh tanya. “Kau yakin baik-baik saja?”

“Sudah kubilang, jangan tanya…” suaraku mulai bergetar. Ah, aku benci ini. Apa yang terjadi pada diriku?

Ada sedikit raut kesal menyirati wajahnya saat ini. “Istirahatlah, aku akan menemanimu check up sore ini. Kau terlihat sakit.” Desahnya lelah.

“Maaf.” Gumamku sebelum ia bangkit dan menjauh. Semoga ia mendengar permintaan maafku. Aku sama sekali tak bermaksud membuatnya kesal. Aku hanya tak ingin menangis di depannya.

Baby…baby…

“Apa kau sudah siap?” lagi-lagi pria itu masuk ke kamarku secara tiba-tiba dan tanpa permisi.

“Ya.” Jawabku.

Segera aku menyambar tasku yang tergeletak di meja dan melangkah mendekatinya. Entah kenapa aku merasa begitu bahagia sejak ia mengatakan akan menemaniku check up hari ini. Membuatku merasa melihat malaikat tiap kali melihat sosoknya. Oh tuhan, apa yang terjadi padaku?

“Kenapa? Kau berubah pikiran?” tanyaku takut-takut saat ia tak kunjung bergerak. Kuberanikan diri menatapnya. Dan kau mau tau apa yang tengah dilakukannya? Ia memandangiku, bukan, maksudku perutku. Segera kututupi perutku yang mulai membuncit dan tak bisa disembunyikan dengan gaun longgar.

“Maaf. Aku hanya baru menyadari bahwa kandunganmu sudah semakin memebesar.” Katanya.

Sepanjang perjalanan, tak ada yang sudi membuka pembicaraan diantara kami. Ji Yong sibuk dengan kemudinya dan aku sibuk dengan perut buncitku. Tak tau kenapa, aku begitu bangga dengan kehamilanku saat ini. Aku tak lagi merasa terlihat seperti wanita yang dicampakkan. Aku datang dengan seorang pria yang adalah ayah dari anakku saat ini. Seorang pria sukses yang tampan. Aku yakin, mereka yang selama ini meremehkanku, akan merasa begitu iri saat melihatku. Bagaimana tidak, wanita mana yang tidak tergiur dengan Ji Yong dilihat dari fisik dan penampilannya yang maskulin? Tapi masalahnya sekarang apakah Ji Yong mau terlihat bagaikan suamiku nanti? Bagaimana jika ia berjalan mendahuluiku, bukan di sisiku? Aku kembali mendesahkan napas berat.

“Apa kau ingin diam saja di mobil dan aku yang melakukan pemeriksaan?”

Aku tersentak kaget. Cepat aku keluar dan menyamakan langkahku dengannya. Aku hanya menunduk dengan pandangan kosong. Ingin rasanya menggandeng tangan itu, tapi apakah pantas? Aku bukan siapa-siapanya. Bagaimana jika ia menepis tanganku dan mempermalukanku?

Greb! Sesaat aku merasakan sepasang tangan melingkari pinggangku dan merikku. Lebih tepatnya menahan tubuhku yang terhuyung entah karena apa. Menyadari Ji Yong yang terlihat kesusahan menahan tubuhku, segera kutarik tubuhku menjauh. “Maaf.”

“Berjalan sambil melamun itu berbahaya.” Katanya sebelum kembali menarik lenganku lembut dan melingkarkannya di lengan indahnya.

Tanpa bisa kukontrol, hatiku kembali menghangat diiringi dengan butiran bening yang mulai menggenangi peupuk mataku. Siap meluncur menghasilkan tangisan. Segera kupalingkan wajah dan menyeka butiran bening itu.

“Kau menangis lagi? Kau sakit?”

Ji Yong menghentikan langkahnya. Memutar tubuh dan menghadapku. Ia meletakkan kadua tangannya di pundakku, meremasnya lembut. Memberikan kehangatan pada hatiku. Tapi sayangnya itu malah membuatku kembali mengeluarkan air mata. Dan mengejutkan, Ji Yong mengarahkan jemarinya ke wajahku, menyeka air mata di pipiku. Apa yang terjadi pada pria ini. Kenapa ia seolah begitu menyayangi dan memperhatikanku? Apakah ia tengah berekting? Mencoba terlihat bagaikan ia adalah seorang suami yang tengah mendampingi istrinya, begitu? Taukah ia bahwa itu semakin melukaiku?

“Gwaenchana?”

“Ye.”

Baby…baby…

~Author’s Side~

Ji Yong duduk gelisah di depan ruangan dokter bersama Hae Yong dan beberapa pasien lainnya. Hyunsoo –dokter kandungan yang biasa memeriksa Hae Yong- tengan menangani persalinan saat itu, membuat mereka harus menunggu hingga persalinan itu selesai. Ruangan Hyunsoo yang dekat dengan ruang persalinan membuat suara jeritan wanita yang tengah melahirkan itu terdengar begitu jelas. Dan itu sangat mengganggu Ji Yong. Ia merasakan ngilu pada tulang-tulangnya tiap kali teriakan nyaring itu tertengkap indranya. Membuatnya merasa begitu tegang layaknya seorang suami yang tengah menunggui istrinya yang berjuang menjalani persalinan. Tanpa sadar Ji Yong meraih tangan mungil Hae Yong dan menggenggamnya lembut. Ia membayangkan Hae Yong yang begitu mungil akan merasakan sakit teramat sangat saat melahirkan nantinya. Darahnya mendesir. Sanggupkah wanita itu melakukannya?, tanyanya dalam hati.

“Apakah kau juga akan seperti wanita yang tengah melahirkan itu, nanti?” tanya Ji Yong spontan.

Hae Yong tersentak dan menatap Ji Yong heran. Ragu-ragu ia mengangguk. Jujur ia merasa begitu takut mendengar jeritan wanita itu. Membut pikirannya langsung menyimpulkan bahwa melahirkan itu sangat menyakitkan dan menyiksa. Dan itu membuat mentalnya lemah.

“Tak perlu takut, aku akan mendampingimu di saat itu nantinya. Janji.”

TBC…

Hehe gimana reader? Baguskah? Atau malah semakin gaje dan ngalur ngidul ceritanya? Dikomen yaa. Biar saya bisa tau apa yang kurang dari ff saya. Gomawo udah baca dan gomawo lagi buat yang mau ngomen atau like *bow*