That ½ Girl [1_2]

 

Author             : Dipta (@mradiptalintang)

Main Casts      :

  • Kang Daesung
  • Kim Sung Young (OC)

Other Casts     :

  • Choi Seung Hyun
  • Dong Young Bae
  • Kwon Ji Yong
  • Lee Seungri

Length             : Chaptered

Genre              : Romance, friendship

A/N                   : Annyeong semua ^^ Sebenarnya ini bukan FF pertama yang aku buat, tapi ini FF pertama yang aku kirim ._. Di sini ceritanya karakter Daesung-oppa aku bikin pemalu tapi sering keceplosan😛 Mungkin dari segi ide, ceritanya agak biasa, tapi mudah-mudahan semua suka ^^b Maaf kalau ceritanya agak muter-muter atau gak jelas, maklum masih amatir, kamsahamnida! \(_ _)/ Oiya numpang promosi blog : ourbigbangfanfiction.blogspot.com. Kerjasama dengan Uty a.k.a tukangbaca_FF a.k.a penulis The Stalker and the Hairdresser. Silakan dibuka dan difollow (?) Sekali lagi, kamsahamnida, selamat membaca! \(_ _)/

-0-

“Annyeong haseyo, Kim Sung Young-imnida. Mohon bantuannya!” kata siswi baru itu memperkenalkan diri. Menurutku dia cukup cantik, badannya mungil, kulitnya putih, dan gaya bicara serta tatapan matanya ceria. Namun rambut hitamnya yang bergaya pixie membuatnya terlihat seperti laki-laki.

Setelah memperkenalkan diri, dia berjalan menuju kursi kosong di belakangku – tepatnya sebelah salah satu teman dekatku, Seungri. Yah, cara berjalannya saja sudah seperti laki-laki. Sebenarnya, dia juga cocok menjadi laki-laki kalau dia memakai seragam dengan celana, bukan dengan rok pendek.

“Lee Seungri-imnida,” kata Seungri sambil mengulurkan tangan begitu yeoja itu duduk. Yeoja itu membalas uluran tangan Seungri sambil tersenyum.

“Ah ya, perkenalkan, mereka teman-teman baikku, Kang Daesung-hyung, Kwon Ji Yong-hyung, dan yang di belakang Choi Seung Hyun-hyung dan Dong Young Bae-hyung,” katanya lagi memperkenalkan kami semua.

“Aku harap kita bisa menjadi teman baik!” kata Sung Young sambil tertawa.

“Sung Young-ssi, kau harus hati-hati dengan Seungri-a! Dia itu playboy dan pikirannya yadong!“ kata Ji Yong-hyung. “Aku harus memperingatkanmu dari awal agar kau tidak terjebak kata-kata manisnya!”

“Hyung, jangan berkata seperti itu di depan teman baru kita!” kata Seungri.

“Tapi dia benar, kan?” tanya Seung Hyun-hyung sambil tertawa.

“Kalian ini lucu sekali!” kata Sung Young, tertawa lagi.

Aku hanya bisa diam dan ikut tertawa. Aku terlalu pemalu untuk berkenalan dengan Sung Young-ssi.

“Emm, apa aku boleh memanggil kalian ‘oppa’? Aku pikir dengan begitu akan terasa lebih akrab!”

“Tentu saja! Kami tidak keberatan! Benar kan?” kata Ji Yong-hyung, dibalas anggukan dari yang lainnya. “Hei, Daesung-a! Dari tadi kau diam saja! Ada apa?” katanya lagi sambil memukul pundakku.

“Ahniyo.. Aku baik-baik saja, hyung,” jawabku sekenanya.

“Ah, bicaralah sedikit, Dae-oppa!” kata Sung Young menepuk punggungku dengan agak keras. Entah kenapa aku merasa sangat senang saat dia memanggilku oppa. Darah dari seluruh tubuhku naik menuju ke wajahku.

“Wohoo~ Lihatlah Dae kita! Baru dipanggil oppa saja wajahnya sudah memerah!” goda Seung Hyun-hyung.

“Sudahlah hyung, berhenti mempermainkanku!” kataku, ingin memukul Seung Hyun-hyung yang jauh di sana.

“Ah ya, Sung Young-ssi, karena besok adalah akhir pekan, kami akan pergi ke game center. Apa kau mau ikut?” ajak Young Bae-hyung.

Game center? Mwo~~ Tentu saja aku mau! Aku sangat suka game, apalagi game menembak! Dor! Dor!” katanya sambil menirukan suara tembakan.

“Kau lucu juga!” kata Seungri sambil memberantaki rambut Sung Young.

“Eits, kalau kau berani menyentuhku lagi, akan kuhajar! Begini-begini aku jago taekwondo!”

“Hoo~ Kau tidak mungkin bisa mengalahkanku yang sudah menerima sabuk hitam ini!” balas Seungri.

M Mall

“Mianhaeyo aku terlambat!” kata seseorang yang tahu-tahu datang mendekati kami. Ah, Sung Young-ssi.

“Kau ini perempuan atau laki-laki sih?” kata Ji Yong-hyung sambil memperhatikan Sung Young-ssi dari atas ke bawah. Bagaimana tidak, gaya berpakaiannya seperti laki-laki dengan kaos oblong putih, jaket coklat, dan celana jeans biru selutut.

“Sudah, tidak usah banyak komentar! Aku suka berpakaian seperti ini!” jawab Sung Young-ssi.

“Dia itu perempuan jadi-jadian!” kata Seungri.

“Ahniyo! Menurutku Sung Young-ssi itu perempuan sekali!” tanpa sadar aku mengatakan hal itu dan menutup mulutku. Aku bisa merasakan wajahku memanas saat itu. Sesaat hening sejenak.

“Aah.. Daesung-a! Kau menyukainya kan?” tanya Seung Hyun-hyung sambil memasang muka troll.

“Ahni, apa yang kau bicarakan, hyung?”

“Hoi, Daesung-a! Wajahmu memerah! Akui saja kalau kau memang menyukainya!” kata Young Bae-hyung.

“Ahni! Sudahlah, ayo kita masuk saja!” kataku sambil menarik tangan Young Bae-hyung.

Di dalam, 3 hyung dan 1 dongsaengku berjalan di depan dengan bersemangat, sedangkan aku dan Sung Young-ssi mengikuti di belakang.

“Aaa.. Daesung-oppa,” Sung Young-ssi membuka pembicaraan. Sangat aneh mendengarnya memanggilku “oppa” sedangkan aku memanggilnya “ssi”.

“Ne?”

Sung Young-ssi tersenyum. “Gomawoyo sudah memujiku tadi,” katanya sambil menunduk, sepertinya ingin menyembunyikan wajahnya yang memerah, tapi masih terlihat olehku.

“Ah, sama-sama,” jawabku sambil senyum-senyum sendiri. Ah, wajahku memerah lagi.

“Hooi! Kalian lama sekali sih!” teriak Ji Yong-hyung.

“Iya, iya, aku akan segera ke sana!” jawab Sung Young-ssi sambil berlari.

“Whoa! Es krii~m! Kalian duluan saja! Aku akan menyusul! Es krimku, es krimku~~” kata Seung Hyun-hyung yang seketika berubah menjadi anak kecil.

Ketika kami sudah sampai di game center, entah kenapa aku tidak bersemangat bermain. Aku hanya duduk di salah satu kursi panjang dan menjadi penjaga tas-tas mereka. Meskipun begitu, aku tetap ikut senang melihat Sung Young-ssi terlihat sangat bahagia.

“Hei, Daesung-a, kau tidak ikut bermain?” tanya Seung Hyung-hyung yang tiba-tiba datang sambil membawa 2 scoop es krim mint. Aku hanya menggeleng.

“Tidak biasanya,” kata Seung Hyun-hyung lalu menjilat es krimnya. “Kau terlihat lemas sekali. Kau sakit?”

Aku menggeleng.

“Lalu?”

“Aku, aku hanya tidak ingin bermain.”

“Hm, baiklah,” jawabnya. “Es krim?” tanyanya lagi sambil menyodorkan es krimnya kepadaku.

Aku menggeleng lagi. “Hyung..”

“Hm?”

“Kau sudah pernah mencintai seseorang?”

Seung Hyun-hyung memandangku dengan tatapan heran. “Tentu saja sudah! Pertanyaanmu aneh sekali,” jawabnya lalu menikmati es krimnya.

Aku terdiam sejenak dan menghela nafas. “Bagaimana rasanya, hyung?”

“Hm? Es krim ini? Enak sekali! Kau mau? Kalau mau akan kubelikan! Aku serius!”

“Bukan itu!” jawabku. “Maksudku, bagaimana rasanya mencintai seseorang?”

“Kenapa tiba-tiba kau bertanya hal yang tidak penting?”

Aku terdiam sejenak. “Ah, aku, aku belum pernah mencintai seseorang sebelumnya. Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya,” jawabku. Tidak ada jawaban. Begitu aku lihat, Seung Hyun-hyung ternyata sedang asyik dengan es krimnya.

“Hyung..”

“Ah, mianhae, mianhae!” kata Seung Hyun-hyung. “Hmm.. Rasanya seperti.. Kau selalu memikirkannya. Sedang apa dia sekarang, dia sudah makan atau belum. Kau ingin lebih mengenalnya, ingin lebih dekat dengannya, ingin membuatnya tersenyum, ingin selalu ada di sampingnya, ingin dia memperhatikanmu, dan yang terpenting kau ingin selalu melindunginya.”

Aku mengangguk, menandakan kalau aku mengerti apa yang dia katakan, meskipun dia berkata dengan sangat cepat.

“Ah ya, ada lagi, kau tidak suka kalau dia terlalu dekat dengan laki-laki lain, apalagi temanmu sendiri. Bahkan kalau kau terlalu sering memikirkannya, dia bisa masuk ke dalam mimpimu!”

Aku mengangguk lagi. Apa yang dikatakan Seung Hyun-hyung tadi persis seperti apa yang kurasakan pada Sung Young-ssi. “Hyung, kalau aku merasakan hal itu pada Sung Young-ssi, apa berarti aku mencintainya?” tanyaku.

Bersambung..