Title                 : Hyangwonjeong’s Scandal (Part 2 of 4)

Author             : Sora Jang

Cast                 :

  • Kwon Ji-yong (BigBang)
  • Ahn So-hee (Wonder Girls)

Genre              : Romance, Fantasy, Sageuk

Length             : Chapter

Twitter             : @Soieya

***

Aku selalu diajarkan untuk menghargai sesuatu yang terlihat sederhana. Dan saat aku mendapati sebuah fakta sederhana mengenai sebuah rasa yang terselip dalam hatiku, bahwa aku mencintainya, maka kini, tak ada alasan untuk selalu mengabaikan fakta sederhana tersebut

***

So-hee tidak pernah menyangka bahwa wajah Raja Yongjo akan terlihat begitu muda. Selama ini, So-hee mengetahui dengan amat sangat baik bahwa Raja Joseon itu telah menyandang gelar sebagai orang nomor satu seantero Joseon di usia mudanya, genap di usia dua puluh tahun, tepat empat tahun yang lalu. Namun So-hee tidak pernah menyangka bahwa wajahnya masih akan terlihat begitu muda seperti apa yang saat ini dilihatnya.

Tak jauh dari tempat So-hee bersujud untuk memberi penghormatan, terhalang oleh meja baca yang dipenuhi oleh beberapa gulungan kertas berwarna-warni, sosok Raja Yongjo itu berhasil membuat So-hee untuk pertama kalinya sadar bahwa gadis itu memiliki jantung begitu dia merasakan jantungnya tersebut berdetak dengan sangat cepat.

So-hee sering mendengar bahwa pria tampan akan terlihat semakin tampan saat mereka menarik kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman. Dan tepat saat sosok Raja Yongjo itu tersenyum padanya, So-hee dapat melihat dengan kedua matanya bahwa apa yang didengarnya selama ini adalah sebuah kebenaran, bahkan sosok Raja Yongjo itu terlihat jauh lebih tampan dari sosok Hee-chul yang dikenalnya saat sedang tersenyum.

“Siapa namamu?”

Suara Raja Yongjo berhasil mengusir kesunyian yang beberapa saat lalu memenuhi kamar miliknya meskipun tak hanya mereka berdua yang berada di ruangan tersebut, Kasim Kang, Choi Seung-hyun, dan Tabib Kim ikut duduk di belakang So-hee.

“Ahn So-hee irahaomnida,” So-hee berharap nada suaranya terdengar selembut dan sesantun gadis Joseon lainnya, namun apa yang saat ini terdengar di kedua telinganya hanyalah suara gadis dengan nada tinggi yang tak mencerminkan sedikitpun sikap seorang gadis Joseon sebagaimana mestinya. Bahkan So-hee yakin para pengawal yang berjaga di depan bangunan Gangnyeonjeong pun mampu mendengar suaranya.

Sesaat semua orang yang ada di ruangan tersebut membulatkan mata begitu mendengar jawaban So-hee.

Songgwahaomnida Jeonha,[1]” So-hee dengan cepat membungkuk, memohon ampun atas sikap lancangnya.

“Hohoho neoui moksorineun, aju malkeun moksorikuna[2],” ucapan Raja Yongjo yang disertai tawa renyah miliknya itu berhasil membuat So-hee merasa sedikit nyaman meskipun So-hee tidak sepenuhnya yakin bahwa suaranya cukup pantas untuk disebut sebagai suara yang jernih, tapi terlepas dari semua itu, So-hee untuk pertama kalinya merasa beruntung memiliki suara seperti apa yang dimilikinya.

“So-hee ya, aku dengar dari Tabib Kim, kau lah yang menyarankan Tabib Kim untuk membuat teh bawang putih sebagai obat yang bisa menyembuhkan penyakit sulit tidur yang selalu menyerangku? Sashilinya[3]?” Raja Yongjo bertanya dengan hati-hati, tak ingin membuat So-hee merasa cemas.

Ye Jeonha,” dengan suara pelan So-hee menjawab, sebersit rasa cemas kini mulai menghinggapi hatinya, takut jika obat yang disarankannya telah menjadi sesuatu yang mengganggu Raja Yongjo, terlebih lagi membahayakan kesehatannya.

“Bagaimana kau bisa mengetahui khasiat bawang putih tersebut?” Raja Yongjo kembali bertanya pada So-hee, semakin merasa penasaran dengan kemampuan gadis tersebut terlebih lagi Tabib Kim telah memberitahunya bahwa So-hee adalah seorang mudang. Awalnya Raja Yongjo terkejut begitu mendengar keterangan dari Tabib Kim mengenai pekerjaan So-hee, tapi Tabib Kim menjelaskan kembali bahwa So-hee tidak melakukan praktek ilmu hitam, dan itu membuat Raja Yongjo merasa tenang.

“Bawang putih selalu menjadi obat sejak dulu, bahkan setiap rakyat Joseon tahu mengenai hal tersebut,” dengan nada acuh So-hee menjawab, seolah sosok yang sedang berbicara dengannya bukanlah sosok Raja Yongjo. Tersadar dari kebodohannya, So-hee kembali meminta maaf, membuat Raja Yongjo tergelak.

“Tabib Kim, kau dengar itu? Lalu bagaimana bisa kau justru memberiku taechu-cha[4]? Apa mungkin kau salah membuat teh tersebut?” Raja Yongjo kini beralih pada Tabib Kim, mempertanyakan tentang teh yang pernah diberikan padanya.

Songgwahaomnida Jeonha, hamba tidak melakukan kesalahan saat membuat ramuan tersebut. Hamba memilih sendiri lima puluh biji buah bidara dan merebusnya dengan kadar panas yang tepat. Hamba sendiri merasa heran saat mendapati ramuan tersebut tidak bisa mengobati penyakit Jeonha mengingat khasiat biji buah tersebut yang bisa mendatangkan rasa kantuk. Hamba tidak pernah memperkirakan bahwa tanaman seperti bawang putih lah yang akhirnya mampu mengobati penyakit Jeonha,” Tabib Kim masih tertunduk saat dia menjelaskan mengenai ramuan buatannya.

Raja Yongjo menganggukan kepala beberapa kali begitu dirinya menyimak apa yang terucap dari mulut Tabib Istana tersebut.

“Tabib Kim, kau akhirnya mendapat pelajaran berharga, bahwa jangan pernah sekalipun kau meremehkan sesuatu yang terlihat sederhana. Terkadang hal besar justru terlahir dari sebuah kesederhanaan. Algeneunnya?[5]” Raja Yongjo dengan bijak berucap, membuat Tabib Kim akhirnya paham mengenai satu yang selama ini selalu dianggapnya remeh.

Ye Jeonha,” Tabib Kim menjawab dengan cepat sambil menganggukkan kepalanya, sadar dengan kelemahannya.

Raja Yongjo tersenyum, kini Raja Joseon tersebut mengalihkan tatapannya pada sosok So-hee.

“So-hee ya, apa yang kau inginkan sebagai hadiah karena telah berhasil menyembuhkanku?” Raja Yongjo berucap dengan nada ramah yang membuat So-hee dengan cepat mengangkat wajahnya, mensejajarkan kedua matanya dengan mata Raja Yongjo. Membuat satu lagi kesalahan yang tidak dipahaminya, bahwa tak seorangpun berhak menatap langsung kedua bola mata Raja Joseon.

So-hee terdiam sejenak, menimbang sesuatu, beberapa detik kemudian sebuah jawaban meluncur mulus dari bibir mungilnya.

“Izinkah hamba untuk berkeliling melihat Istana.”

***

Dan setelah jawaban itu keluar dari bibir mungil So-hee, Raja Yongjo tahu tempat seperti apa yang ingin pertama kali dia tunjukan pada gadis tersebut. Maka kini keduanya telah tampak berdiri di tengah jembatan Chwihyanggyo yang menjadi satu-satunya jalan untuk sampai di paviliun Hyangwonjeong, bangunan cantik yang menjulang di tengah-tengah sungai Hyangwonji yang tenang. Kasim Kang, Seung-hyun dan beberapa dayang istana berdiri di taman istana yang jaraknya tak terlalu jauh dari kembatan tersebut.

So-hee tak berhenti membuka mulutnya, gadis itu telah terpesona dengan keindahan paviliun dan jembatan tersebut, terlebih lagi dengan fakta bahwa keduanya terletak di tengah sungai yang tenang. Seperti seorang anak kecil, So-hee kini berlari dengan cepat ke arah paviliun berlantai dua tersebut, meninggalkan Raja Yongjo yang terkekeh di tengah jembatan Chwihyanggyo. Seolah tak ingin tertinggal, Raja Yongjo pun ikut berlari mengejar So-hee, membuat Kasim Kang dan Seung-hyun ikut tersenyum.

Jika Kasim Kang dan Seung-hyun merasa perlu untuk menarik sudut bibir mereka, membentuk segaris senyuman begitu melihat sosok Raja Yongjo dan So-hee, maka hal serupa tidak terjadi pada Hee-chul. Tabib Istana itu tak mendapat undangan untuk ikut menemani So-hee berkeliling, dan yang kini sedang dilakukannya adalah bersembunyi di balik salah satu pohon besar yang terdapat di taman istana tak jauh dari paviliun Hyangwonjeong, ikut mengamati So-hee dan Raja Yongjo. Dan begitu Hee-chul mendapati semua hal yang kini terekam di kedua matanya, pria itu tahu bahwa cepat atau lambat, Hee-chul akan kehilangan gadis tersebut, bahkan sebelum dirinya berhasil melafalkan apa yang selama ini tersimpan di hatinya.

***

Seharusnya So-hee sudah kembali ke gubuk mereka tepat satu jam yang lalu, gadis itu suda berjanji pada ayahnya, namun hingga saat ini, saat malam tiba, gadis itu tak kunjung menunjukkan sosoknya sama sekali. Ahn Seok-hwan cemas, pria paruh baya tersebut sudah hampir satu jam menghabiskan waktunya hanya untuk mondar-mandir di pelataran gubuknya.

Ahn Seok-hwan merasa resah, kebiasaan So-hee yang terlihat memalukan sungguh sangat mengganggunya. Tak ingin semakin merasa cemas, akhirnya pria paruh baya tersebut memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju Istana, menjemput puterinya yang hari ini sudah berhasil membuat mereka berdua terpaksa kehilangan puluhan pasien.

Ahn Seok-hwan tidak pernah menyangka bahwa pengalaman pertamanya menginjakkan kakinya di Istana harus dilaluinya dengan peristiwa memalukan. Jika beberapa saat yang lalu hatinya diliputi rasa cemas dengan kondisi So-hee, maka kini rasa cemas tersebut telah berubah menjadi sebuah kelegaan yang terbungkus rasa malu. Di depannya, hanya sebatas seratus sentimeter, sosok So-hee terbaring lemah di lantai bangunan yang tak dikenali oleh pria paruh baya tersebut.

Putera keluarga Kim yang dikenalnya, Kim Hee-chul, tampak sedang memeriksa detak jantung So-hee lewat pembuluh nadi di pergelangan tangan gadis itu. Beberapa dayang ikut mengelilingi sosoknya. Diliputi oleh rasa cemas, Ahn Seok-hwan berlari menghampiri puterinya, mengabaikan fakta bahwa pria paruh baya tersebut terlebih dahulu harus memberi penghormatan pada Raja Yongjo yang berdiri tak jauh di samping sosok So-hee, tapi tak sedikitpun pria paruh baya tersebut mengenali sosok Raja Yongjo meskipun Raja Joseon tersebut mengenakan jubah warna merah dengan lambang naga lima cakar yang menjadi penanda posisinya sebagai orang nomor satu seantero Joseon.

“So-hee ya…”

Dengan suara setengah histeris, Ahn Seok-hwan kini berlutut di samping sosok So-hee. Dicobanya beberapa kali mengguncangkan tubuh So-hee meskipun dia sadar bahwa usahanya hanya akan berujung sia-sia.

Ahjusshi, So-hee baik-baik saja, tidak usah cemas. Detak jantungnya normal,” Hee-chul berusaha menenangkan Ahn Seok-hwan. Hee-chul berharap ayah So-hee akan berhenti mengguncangkan tubuh So-hee.

Aigoo, tentu saja anak nakal ini baik-baik saja doryeonim,” nada suara Ahn Seok-hwan terdengar kesal dan malu secara bersamaan. Pernyataannya tersebut berhasil membuat semua orang tertegun heran.

“Apa maksud ucapanmu?” Kini giliran Raja Yongjo yang membuka suaranya, raut bingung masih mengepungnya. Sejak satu jam yang lalu kondisi So-hee memang berubah menjadi aneh, gadis itu tiba-tiba tidak sadarkan diri saat dia dan Raja Yongjo tengah menatap air sungai dari atas paviliun Hyangwonjeong, dan sampai saat ini gadis itu belum juga sadar meskipun Tabib Kim sudah sejak tadi memeriksa kondisi tubuhnya.

Ahn Seok-hwan membulatkan kedua matanya begitu dia mendapati fakat bahwa sosok yang beberapa saat lalu bertanya padanya adalah sosok Raja Yongjo, maka sebelum menjawab, pria paruh baya itu bersujud.

Songgwahaomnida Jeonha, puteri hamba memiliki kebiasaan. Dia mudah sekali tertidur, dan jika sudah tertidur, akan sulit sekali untuk membangunkannya. Hanya dia sendiri yang bisa membangunkan dirinya,” Ahn Seok-hwan menjelaskan dengan wajah tertunduk, malu dengan kebiasaan buruk puterinya.

Saat mendengar penjelasan yang terlontar dari mulut Ahn Seok-hwan, semua orang yang mendengarnya hanya mampu membulatkan kedua mata mereka, tak percaya dengan fakta tersebut. Raja Yongjo menatap sosok So-hee lekat, hal yang sama dilakukan oleh Hee-chul, sejenak kemudian tawa renyah Raja Yongjo pun memenuhi setiap sudut paviliun Hyangwonjeong.

***

Jika senyum dan wajah muda Raja Yongjo tidak terekam jelas dalam benak So-hee, maka mustahil bagi gadis itu untuk bisa mengenali sosok Raja Yongjo yang saat ini berdiri di seberangnya, berdiri diantara kerumunan orang-orang yang tampak riuh menonton pertunjukan jultagi[6]. Dengan po[7] kain sutera warna kuning yang membungkus tubuhnya serta gat[8] hitam yang melindungi kepalanya, Raja Yongjo yang kini berdiri di seberang So-hee bahkan terlihat jauh lebih menawan di mata So-hee dibandingkan saat terakhir kali gadis itu menatap sosoknya. Saat Raja Yongjo berjalan menghampirinya, untuk kedua kalinya So-hee sadar bahwa gadis itu benar-benar memiliki jantung.

Jeonha…” Suara So-hee tenggelam diantara riuhnya musik yang mengiringi jultagi.

“Aku menyelinap dari Istana, jadi bisakah kau membantuku bersembunyi?” Raja Yongjo yang kini berdiri di hadapan So-hee dengan jarak yang hanya sebatas satu tangan menjawab sambil melayangkan segaris senyuman pada sosok So-ra yang balas menatapnya dengan raut bingung.

“Bagaimana hamba bisa membantu Jeonha bersembunyi?” Dengan suara bergetar dan bingung So-hee memberanikan diri untuk bertanya.

“Pertama, kau bisa berhenti memanggilku dengan sebutan Jeonha, itu akan sangat membantu sekali So-hee ya,” Raja Yongjo mengedipkan sebelah matanya, membuat So-hee tiba-tiba merasa perlu mencari sesuatu untuk menopang tubuhnya.

Ye?” So-hee melayangkan tatapan bingung.

“Panggil saja aku doryeonim, Kwon doryeonim,” lagi-lagi Raja Yongjo melakukan kesalahan yang tidak disadarinya, tersenyum lembut pada So-hee, membuat gadis itu sulit untuk bernafas.

Ye algesseumnida, doryeo…nim,” dengan masih diliputi rasa canggung, So-hee pun berhasil mengucapkan kalimat tersebut.

Kehadiran sosok Raja Yongjo yang tak terduga oleh So-hee itu jelas mengganggu benaknya, seharusnya dari awal So-hee mengajukan pertanyaan yang dapat memberinya penjelasan mengenai tujuan kemunculannya tersebut. Namun sesaat sebelum So-hee membuka mulutnya, binar wajah Raja Yongjo yang tampak terpesona pada pertunjukan jultagi itu telah lebih dahulu berhasil mengunci rapat mulut So-hee. So-hee memang tidak tahu tujuan kedatangan Raja Yongjo, namun gadis itu juga tahu, bahwa dia tidak harus bertanya. Setidaknya saat ini.

***

Sesuatu yang salah nyata menghampiri So-hee, gadis itu bahkan tahu seberapa tepat fakta tersebut. Jika tidak ada satu pun yang salah dalam dirinya, maka malam ini So-hee tak seharusnya berada di dalam paviliun Hyangwonjeong, dan yang mempertegas seberapa salah semuanya, saat ini So-hee berada bersama orang yang salah, Raja Yongjo.

Raja Yongjo memiliki kekuatan mistis untuk membuat setiap orang mengabulkan apa yang diinginkannya, So-hee yakin dengan teorinya tersebut meskipun kemampuan mudang gadis itu tidak sedikitpun memberinya kesimpulan bahwa Raja Yongjo terbukti memiliki apa yang So-hee pikirkan. Jika memang benar Raja Yongjo tidak memiliki kekuatan seperti itu, lalu bagaimana mungkin So-hee bisa dengan mudahnya mengabulkan apa yang diinginkan oleh Raja Joseon tersebut?

Dibutuhkan waktu selama satu jam menonton pertunjukan jultagi untuk So-hee bisa mengetahui tujuan kemunculan Raja Yongjo yang terkesan tiba-tiba siang itu, dan apa yang didengar oleh So-hee saat itu mampu membuat tubuh So-hee seolah terpaku di atas tanah berdebu tempaknya berpijak. Seharusnya So-hee menolak permintaan Raja Yongjo kala itu.

Tidak!

So-hee seharusnya tidak membuka mulut besarnya itu dengan memberikan jalan keluar yang terdengar gila. Jika saja saat itu So-hee tidak melakukannya, Raja Yongjo tidak akan meminta bantuannya, dan saat ini So-hee tidak perlu harus berada di dalam paviliun Hyangwonjeong.

“Bodoh, kenapa aku bisa dengan mudahnya menyetujui permintaan itu?” So-hee berguman di tengah kesunyian paviliun Hyangwonjeong yang hanya diterangi oleh sebatang lilin.

“Aku yakin dia memiliki kekuatan mistis untuk menaklukan seseorang,” So-hee masih berguman.

“Apa senyum menawan rahasianya?” So-hee kembali melanjutkan monolognya.

“Aish, tidak heran dia selalu tersenyum padaku. Aigoo kau bodoh sekali Ahn So-hee, begitu mudahnya kau terpesona pada senyum seorang pria,” So-hee memukul keningnya sendiri.

“Apa kau yakin kita tidak membutuhkan apa-apa lagi?”

Suara Raja Yongjo kini bergema di tengah kekosongan paviliun Hyangwonjeong, sosoknya kini telah berdiri tak jauh dari tempat So-hee duduk. Gadis itu terlonjak begitu telinganya menangkap suara Raja Yongjo, So-hee jelas tidak menyadari kehadiran Raja Yongjo, gadis itu sibuk dengan dirinya sendiri beberapa saat yang lalu.

“Apa kau yakin kita tidak membutuhkan apa-apa lagi?” Karena tak ada jawaban terucap dari bibir So-hee, Raja Yongjo mengulang pertanyaannya.

Animnida Jeonha,” So-hee menjawab dengan cepat.

“Kau yakin kita hanya membutuhkan ggwaenggwari[9] itu?” Memilih untuk bersikap teliti, Raja Yongjo kembali memastikan. Kini ditatapnya sosok So-hee yang berdiri dengan sebuah ggwaenggwari di tangannya.

Ye Jeonha,” So-hee menjawab dengan singkat.

Keurae arata,” Raja Yongjo mengangguk paham.

“Tapi Jeonha, apa Jeonha yakin dengan semua ini? Suara ggwaenggwari saat chuksi[10] akan sangat mencurigakan,” So-hee masih mencoba untuk memperbaiki kesalahannya, gadis itu berharap sekali lagi Raja Yongjo akan mempertimbangkan keputusannya.

Raja Yongjo menatap lekat So-hee, sebelum menjawab, Raja Yongjo menarik nafas sejenak, “aku lelah So-hee ya. Aku butuh tidur. Tidak usah mencemaskan suara ggwaenggwari, seluruh penghuni Istana akan mengira Raja mereka yang-sudah-putus-asa-dengan-penyakit-sulit-tidurnya memutuskan untuk membunuh kebosanannya dengan bermain musik,” Raja Yongjo menjawab dengan sebuah seringai di bibirnya.

“Lalu, kenapa kita harus melakukannya di paviliun Hyangwonjeong? Kenapa tidak di kamar Jeonha saja?” So-hee berpendapat.

“Terlalu banyak orang yang akan dengan mudah melihat kita berdua So-hee ya, lagipula paviliun ini hanya digunakan untuk perayaan tertentu, selain untuk itu, paviliun ini hampir tidak pernah digunakan,” Raja Yongjo menjelaskan alasan kenapa dirinya memilih paviliun tersebut.

“Apa Jeonha yakin tidak ada yang tahu tentang semua ini?” So-hee masih saja merasa cemas.

“Aku hanya memberitahu Dae-sung dan Seung-hyun, mereka berdua tidak akan membuka mulut tanpa seizinku,” Raja Yongjo mempertahankan nada sabarnya.

So-hee menghela nafas sesaat, gadis itu paham bahwa kesempatannya untuk membuat Raja Yongjo mengubah pikirannya telah hilang.

“So-hee ya, kau bersedia melewatkan malam-malammu bersamaku bukan?”

Suara yang meluncur dari mulut Raja Yongjo itu pelan, penuh dengan nada putus asa, namun jelas mampu membuat So-hee terpaku seperti siang tadi, saat pertanyaan yang serupa itu menghampirinya. Tak ada senyuman di wajah Raja Yongjo seperti saat siang tadi, dan kenyataan itu membuat So-hee seolah mendapat keberanian untuk bisa menolak keinginan Raja Yongjo. Bagaimanapun juga, teorinya tentang kekuatan mistis dalam senyuman Raja Yongjo telah mengakar kuat di benaknya, dan ketika So-hee tak bisa menemukan senyuman itu, dirinya merasa yakin bahwa dia masih bisa berucap tidak.

Dan saat mulut So-hee ingin berucap tidak, kedua matanya justru menangkap sesuatu yang seharusnya tidak pernah So-hee tatap. Sorot mata Raja Yongjo. Sorot mata yang dipenuhi dengan raut putus asa dan rasa lelah, yang nyata tergambar di kedua bola matanya. So-hee salah menyimpulkan teorinya. Bukan hanya senyum Raja Yongjo yang memiliki kekuatan mistis, tapi juga kedua matanya. Sorot kedua mata itu mengintimidasinya, membuat kata tidak seolah takut untuk meluncur dari mulutnya.

Ye Jeonha,” kalimat itu seharusnya tidak keluar dari mulut So-hee, namun kalimat itulah yang kini terdengar bergema di ruangan Hyangwonjeong.

Saat So-hee akhirnya mulai memainkan ggwaenggwari dan melafalkan mantra sucinya, sebuah teori lain muncul dalam benaknya. Namun kali ini bukan tentang senyuman Raja Yongjo yang memiliki kekuatan mistis, tapi tentang Raja Yongjo sendiri. Raja Yongjo berbahaya. Semua yang ada dalam diri Raja Joseon itu berbahaya.

***


[1] Maafkan hamba Yang Mulia.

[2] Suaramu rupanya adalah suara yang sangat jernih.

[3] Apakah itu benar?

[4] Teh biji bidara, digunakan sebagai obat bagi penderita yang mengalami gangguan tidur, dengan gejala terserang kantuk saat siang hari, dan sulit tertidur saat malam hari.

[5] Apa kau mengerti?

[6] Tarian tradisonal Korea dimana penarinya melakukan pertunjukan berjalan dan menari di atas seutas tali.

[7] Hanbok pria kaum bangsawan yang biasa digunakan saat berpergian.

[8] Topi warna hitam yang dihiasi manik-manik, digunakan oleh kaum bangsawan saat berpergian.

[9] Alat musik tradisional Korea, terbuat dari logam, berwarna emas, dengan alat pemukul kecil. Mirip gong dalam ukuran kecil.

[10] Ukuran waktu yang digunakan pada periode Joseon, menunjukan pukul 1-3 pagi.