AUTHOR : ZULAIPATNAM

TITTLE : PILIHAN

GENDRE : LIFE

RATING : [PG 15]

LEGHT : VIGNETTE | DRABBLE (Author Galau nentuinnya)

INSPIRED : Dapat ilham dari mimpi dan orang-orang disekitar saya | insyaALLAH dari sebuah novel.

CAST :

  • Lee Seung Hyun | Seung Ri BIG BANG
  • Kim Tae Ra | OFC (Original Female Caracter)

Twitter : @sitiJulaikha1 (insyaallah itu twitter saya / sitizulaipatnam@gmail.com)

“aku memilih dosa.”

>>> STORY <<<

Aku gusar. Diam seorang diri dalam ruang sepi bercat putih bersih tanpa noda. Berputar kesana-kemari tanpa tujuan, yang ada hanya kegusaran. Kugigit kuku jari secara  bergantian membuat kuku jariku terlihat jelek dan kasar. Tapi biarlah, dari pada aku melampiaskan kegusaranku pada tembok putih mulus ini.

Tik tok tik tok

Bunyi dentingan jarum jam yang bergerak memekikkan telinga. Kulirik sekilas, 15 menit lagi dia akan datang. Itu janjinya.

Mencoba terlihat biasa, kualihkan pergerakanku pada kursi kayu bersandaran. Duduk disana dengan santai dan menarik nafas dalam-dalam.

“ini keputusanmu, Tae Ra. Kau harus yakin!.”

Semangatku pada diri sendiri.

Tik tok tik tok

Jam terus berdetak, semakin memperkecil waktu yang menjarak iku dengan dirinya yang berjanji akan datang.

15 menit telah usai. Pintu kayu bercat putih pula itu bergerak pada knopnya. Perhatianku terlalu berpusat pada knop itu, kutarik nafas dalam-dalam. Inilah batas penantianku.

Akhirnya pintu itu terbuka. Seorang anak manusia berdiri disana, matanya menatapku begitu tajamnya, tubuhnya yang sedikit imut dengan celana ketat pendek ditambah sweeter berwarna merah bata. Rambutnya disisir rapi dan klimis, sebuah kaca mata bertengger di kepalanya.

Aku berdiri dari kursiku, membungkuk memberinya salam dan dia membalasku.

“Kim Tae Ra?.”

Tanyanya memastikan. Kutarik nafas dan mengangguk mantap.

“ya. Itu aku.”

Pastiku tegas. Kucoba hilangkan semua kegusaranku dan terlihat lebih kuat dihadapannya. Pria entah siapa namanya.

“anda?.”

Tanyaku meminta namanya.

Naneun Lee Seung Hyun, imnida.”

Aku mengangguk mengerti. Namanya Lee Seung Hyun. Dia melangkah masuk, tangannya menutup pintu cekatan dan mendekatiku. Kutarik diriku agar tidak terlalu dekat.

“duduklah!.”

Titahku cepat sebelum dia semakin mendekat.

Dia menghentikan langkahnya. Menatapku begitu intens dan lekat.

“duduklah!.”

Kembali kuulang perintah itu. diruang ini terdapat dua kursi serupa dengan yang kududuki tadi dan sebuah meja kecil berbentuk bulat.

“aku akan duduk, Tae Ra.”

Yakinnya padaku. Dia mundur dan menarik kursinya, duduk disana lalu meletakkan kedua tangannya diatas meja.

“lalu apa yang ingin kau bicarakan denganku?.”

Pertanyaan itu menohok hatiku, dia bertanya seolah aku yang membutuhkannya.

Aku berjalan mendekati kursiku, ikut bergabung dalam duduknya.

“kau tidak mau memesan minuman terlebih dahulu. Pesanlah sesuatu, aku tidak ingin pesanan ruang VIP ini menjadi percuma.”

Ucapku terlebih dahulu. Ya, sebuah ruangan bercat putih yang sangat polos ini adalah salah satu ruang VIP di restoran yang kupesan. Ruang yang memberikannya kenyamanan.

Dia menggeleng, menjadikanku menarik nafas terlalu dalam.

“katakan saja langsung pada pokok-pokoknya!.”

Aku terdiam. bibirku keluh untuk langsung berkata.

“apa ini tentang malam itu?.”

Pertanyaan hati-hati dari mulutnya mengagetkanku. Aku tercekat. Apa dia mengingatnya?.

Aku mengangguk.

“lalu apa yang kau inginkan?.”

“aborsi.”

Tekanku cepat tanpa kegugupan. Aku membuang kegugupan itu secepat kilat, suda hampir 2 bulan ketakutan dan kegugupan menyelimutiku hanya karena perkara ini. aku tidak ingin terbelenggu lagi, aku ingin permasalahan ini segera tuntas meski itu menyakitkan.

“jika kau menginginkan hal itu. untuk apa kau mengundangku kesini?. Bukannya kau bisa melakukannya sendiri.”

Kugenggam erat kain bajuku untuk meredam segala bentuk emosi dari dadaku.

“aku dapat saja melakukannya, seorang diri tanpa siapapun. Aku bahkan juga dapat menggugurkan bayi ini seorang diri.”

“lantas?.”

“kau ayahnya.”

Dia diam.

“aku tahu kita sama-sama tidak menginginkan bayi ini. bukan ingin menciptakan emosi diantara kita, sengaja aku mengundangmu hanya ingin kau tahu. Jika kita –kau dan aku-  akan membunuhnya. Aku tidak ingin dosa ini kutanggung seorang diri, Seung Hyun. Aku ingin kita menanggungnya bersama-sama.”

Terangku panjang lebar. Biar aku terdengar jahat, tapi inilah aku. Aku tidak menginginkan bayi ini lahir.

“ayo kita berangkat!.”

Dia beranjak dari kursinya. Tidak terlihat ketidak percayaan dalam matanya. Aku tersenyum senang seolah mendapat jack spot.

++++++

Lorong rumah sakit kami lewati bersama. Aku hanya mengenakan baju terusan berwarna kuning polkadot, baju yang kutaksir tidak akan memperlihatkan perutku yang terus membuncit karena daging hidup didalamnya. Kami berjalan sangat cepat. Dadaku berdetak tidak karuan setiap melangkah. Yah. Inilah akhir penderitaanku.

“aku sudah membuat janji dengan dokter pribadi keluargaku. Dia akan menutup mulutnya rapat-rapat dan rahasia kita tidak akan pernah terbongkar.”

Ucapnya dengan nada tegas. Kutautkan tanganku dilengannya, hal itu menghentikan langkah kami dan dia menatapku begitu aneh.

“aku berterimakasih padamu. berkat kau penderitaanku tidak akan berjalan lama. Kita bersama-sama menanggung dosa ini. kau dan aku.”

Tekanku diakhir kalimat. Ketimbang hidup dengan gunjingan orang tentang aku yang hamil diluar nikah lebih baik melakukan aborsi, tidak akan ada yang menghinaku kecuali tuhan nantinya.

Dia hanya diam. Diam dan diam. Apa dia lelaki pendiam?.

“ayo!.”

Tarikku pada lengannya yang kuapit. Aku sudah tidak sabar.

Kami masih berjalan. Hingga sampai pada ruang bayi. Dari kaca jendela terlihat banyak sekali bayi-bayi lucu yang tertidur pulas diranjangnya masing-masing. Aku tahu jika bayi sangat lucu, aku juga menyukai bayi. Tapi jika bayi didalam kandunganku. Dia mala petaka.

“kau sudah memikirkan semua ini matang-matang?.’

Pertanyaan yang memberatkanku. Dia memandang terpaku pada bayi-bayi tadi, terdiam dan terpaku.

“tentu saja. jika tidak kufikirkan matang-matang tentu aku tidak akan ikut denganmu kesini.”

Terangku yakin.

“lihatlah mereka!.”

Titahnya. Aku melongo.

Kenapa dia mencoba menciptakan emosi mengenai bayi-bayi itu disaat seperti ini. sedikit kutarik lengannya tapi gagal, kekuatannya sangat besar. Dan dalam satu kali hentakkan dia sudah menarikku kedalam rangkulannya. Memepetkan tubuh kami pada jendela dan melongok kedalam.

“lepaskan aku!.”

Protesku padanya. Dia tidak mengidahkan.

“lihatlah mereka!.”

Kembali titah itu terulang.

“singa tidak akan tega membunuh anaknya sendiri.”

Aku terhenyak. Kemana arah pembicaraan ini?. Dia menyindirku?.

“singa akan tega melakukannya jika dia kelaparan.”

“benarkah?.”

“kau tidak percaya.”

“tidak.”

“huh.”

Desahku melempar muka. Kenapa dia memperumit suasana.

“aku sanggup membunuh mereka.”

Kutatap dia cepat.

“apa?.”

“tapi aku tidak akan sanggup membunuh buah hatiku sendiri.”

Oh damn it.

“berapapun uang yang kau minta. Aku akan memberikannya, pergilah keluar negeri jika kau malu. aku yang akan membiayai segala keperluan yang kau butuhkan hingga anak kita lahir.”

Aku semakin terhenyak. Rasanya dunia sudah berputar terbalik.

“aku sudah bertekad akan menggugurkannya!.”

Sentakku padanya. Hal itu menarik perhatian beberapa orang yang berseliweran.

“aku yang akan merawatnya hingga ia dewasa. Kau hanya perlu melahirkannya dengan selamat!.”

PLAK.

Kutampar pipinya. Kenapa pria ini begitu rumit. Beberapa menit yang lalu dia menyetujui ideku dan sekarang dia memaksaku untuk menjadi benda sebagai tempat bayi ini.

“LEE SEUNG HYUN. Oke jika itu maumu, tapi bukan aku yang kan mengabulkannya. Anak ini adalah hak-ku, hidup matinya ditanganku. Aku salah besar jika mengundangmu datang.”

“dia bukan hak-mu. Dia hak sang pencipta, dia titipan yang harus kita jaga, bukan mala sebaliknya. Kau sanggup menanggung beban dikemudian hari jika dosa kita ini dipertanggung jawabkan?. Kau ingin kita kekal dalam nerakanya?. Kau ingin kita menjadi orang paling dikutuk dimataNYA?. Kau inginkan hal itu, Hah?.”

Sentakan yang bertubi-tubi itu mendiamkanku, membuatku terpekur dalam diam. Diam memikirkan setiap jengkal kalimatnya.

“aku memilih dosa.”

PLAK

Dia menamparku dan pergi menjauh.

“aku sangat salah besar jika telah mencintaimu.”

Sungutnya begitu bergemuruh.

Mencintaiku?.

>>> TAMAT <<<