Title                 : Hyangwonjeong’s Scandal (Part 3 of 4)

Author             : Sora Jang

Cast                 :

  • Kwon Ji-yong (BigBang)
  • Ahn So-hee (Wonder Girls)

Genre              : Romance, Fantasy, Sageuk

Length             : Chapter

Twitter             : @Soieya

***

Aku selalu diajarkan untuk menghargai sesuatu yang terlihat sederhana. Dan saat aku mendapati sebuah fakta sederhana mengenai sebuah rasa yang terselip dalam hatiku, bahwa aku mencintainya, maka kini, tak ada alasan untuk selalu mengabaikan fakta sederhana tersebut

***


“So-hee ya, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau baru kembali? Kenapa kau harus tinggal di Istana sepanjang malam?” Tanpa memberi kesempatan puterinya untuk terlebih dahulu duduk, Ahn Seok-hwan kini memegang kedua bahu So-hee dan mencercanya dengan berbagai pertanyaan begitu puterinya tersebut sampai di gubuk mereka.

Abeoji, biarkan aku masuk, aku sangat lelah,” So-hee memilih untuk mengabaikan pertanyaan ayahnya.

“Kau lelah? Yak So-hee ya, apa yang sebenarnya kau lakukan di Istana? Kenapa kedua matamu merah seperti itu? Katakan pada abeoji!” Ahn Seok-hwan belum juga menyerah, dia masih tidak ingin mengizinkan So-hee untuk masuk ke dalam gubuk mereka.

“Aku tidak bisa memberitahu abeoji, ini urusanku,” So-hee mulai merasa kesal, dalam hati dia mengutuk dirinya sendiri karena ternyata sisa air mata yang beberapa saat lalu mengalir dari kedua matanya masih meninggalkan jejak. Seharusnya So-hee membersihkan wajahnya terlebih dahulu, mungkin dengan begitu ayahnya tidak akan curiga.

“So-hee ya, abeoji berhak tahu!” Ahn Seok-hwan berteriak, membuat So-hee sadar bahwa ayahnya kali ini berbicara dengan serius. Tentu saja, ayahnya berhak tahu, So-hee paham hal itu, tapi apa yang dilakukannya bersama Raja Yongjo malam tadi bukanlah sesuatu yang harus dia ceritakan pada ayahnya. Bagaimanapun juga, apa yang terjadi malam tadi, yang masih akan terjadi pada malam-malam berikutnya, dan entah akan berakhir hingga kapan itu harus tetap menjadi rahasia So-hee dan Raja Yongjo.

Jeonha memberiku izin untuk belajar ilmu pengobatan di Naeuiwon sebagai balasan karena telah membantunya saat itu abeoji. Karena terlalu bersemangat, aku tidak terjaga sepanjang malam,” suara So-hee terdengar normal seperti biasanya, gadis itu memutuskan untuk berbohong.

“Benarkah?” Ahn Seok-hwan masih tak percaya dengan ucapan So-hee.

“Eish, untuk apa aku berbohong padamu abeojii?” So-hee berusaha meyakinkan ayahnya. Kali ini dia berharap ayahnya tersebut bisa mempercayai kata-katanya, So-hee sudah sangat kelelahan, dia tidak ingin kembali harus berdebat dengan ayahnya.

“Baiklah, kalau begitu sekarang kau istirahat saja. Hari ini abeoji tidak akan menerima pasien untukmu supaya kau bisa tidur. Kau harus menggunakan kesempatan ini dengan baik agar kau bisa menjadi Tabib Istana, dengan begitu kita tidak akan kelaparan lagi selamanya So-hee ya,” Ahn Seok-hwan tertawa dengan keras, membuat So-hee bisa bernafas dengan lega.

Gadis itu pun kini dengan langkah pelan berjalan memasuki kamarnya. Begitu So-hee berada didalam kamar sempitnya, gadis itu merebahkan tubuh, matanya terfokus pada langit-langit kamarnya, apa yang saat ini berada dalam benaknya seluruhnya bermuara pada satu hal, pada apa yang telah dilakukannya bersama Raja Yongjo malam tadi, yang masih harus dilakukannya entah sampai kapan.

Entah kenapa So-hee merasa cemas, meskipun dengan melakukan hal tersebut, So-hee mendapatkan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah gadis itu dapatkan. Gadis itu memang tidak pernah tahu apa yang akan terjadi suatu saat, namun perasaan mengenai kejadian buruk yang akan menimpa mereka terasa amat sangat kuat di dalam hatinya. Tapi So-hee juga tidak ingin merusak kebahagian Raja Yongjo, maka gadis itu hanya akan mengunci rapat mulutnya, seperti apa yang diinginkan oleh Raja Yongjo.

***

Jeonha, sudah tiga minggu ini kondisi Jeonha mulai membaik, detak jantung Jeonha bahkan sudah kembali normal. Apa Jeonha sudah mulai bisa kembali tertidur seperti biasanya?” Tabib Kim membuka suaranya sesaat setelah selesai memeriksa detak jantung Raja Yongjo di pergelangan tangannya pagi tersebut.

“Hohoho kau benar Tabib Kim, ramuan teh bawang putih yang kau berikan sangat mujarab, mampu membuatku tertidur dengan nyaman,” Raja Yongjo menjawab sambil tergelak, mencoba menghapus rasa pensaran Tabib Kim agar dia tak merasa curiga.

“Tidak perlu berterima kasih pada hamba Jeonha, semua itu sudah menjadi tugas hamba sebagai Tabib Istana,” sambil menundukkan kepalanya, Tabib Kim menjawab.

Jeonha, sebaiknya Jeonha segera bersiap untuk menemui utusan dari Qing,” Kasim Kang yang berdiri bersama Seung-hyun tak jauh dari Raja Yongjo kini berucap pelan, mengingatkan kembali jadwal yang harus dilaksanakannya beberapa saat lagi.

Keurae arata Dae-sung ah,” Raja Yongjo mengangguk pelan, kini tatapannya beralih pada sosok Tabib Kim, “Tabib Kim, kau boleh kembali.”

Ye Jeonha,” dengan gerakan hati-hati dan penuh rasa hormat, Tabib Kim pun berlalu dari kamar Raja Yongjo.

Sepeninggal Tabib Kim, Kasim Kang dengan cepat mendekati Raja Yongjo, Kasim Kerajaan Senior itu kini telah duduk dengan takjim di depan Raja Yongjo.

Jeonha, sebaikanya mulai saat ini Jeonha harus lebih berhati-hati. Sudah banyak orang yang mulai membicarakan tentang suara ggwaenggwari setiap malam. Mereka mulai merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya Jeonha lakukan di Hyangwonjeong selama tiga minggu terakhir. Bahkan sepertinya Kim Hojo[1]mulai mencari celah untuk menjatuhkan Jeonha lewat hal ini,” Kasim Kang berucap dengan nada cemas, mengingatkan Raja Yongjo untuk tetap berhati-hati.

Raja Yongjo menghela nafas sejenak, kini Raja Joseon tersebut tampak mempertimbangkan sesuatu. Saat nama Menteri Perpajakan tersebut terdengar, Raja Yongjo paham bahwa bukan tidak mungkin saat ini dia sedang mencari celah untuk menjatuhkannya dari tahta kerajaan. Terlebih lagi dia tahu bahwa Raja Yongjo tidak pernah menyukainya karena Menteri Perpajakan tersebut pernah terlibat kasus korupsi satu tahun lalu. Kim Hojo beruntung karena dokumen berisi bukti mengenai kejahatannya tersebut lenyap saat Saheonbu[2]mengalami kebakaran hebat.

“Tapi kau yakin bukan bahwa tidak ada satu orang pun yang tahu mengenai masalah ini?” Raja Yongjo bertanya dengan nada yang juga terdengar cemas.

Ye Jeonha. Tapi, apa tidak sebaiknya Jeonha menyerahkan semuanya pada Mudang Kepala Kerajaan? Atau jika tidak, Jeonha bisa meminta para mudang Istana lainnya, bukan tidak mungkin salah satu mudang Istana bisa melakukan hal yang sama dengan gadis itu,” Kasim Kang memberikan pendapat, berharap hal tersebut bisa membantu menyelesaikan masalah pelik mereka.

Aniya Dae-sung ah. Jika aku memanggil mudang Istana dari Seongsucheong[3], terutama Mudang Kepala Jang, semua orang akan semakin curiga, lagipula aku tidak yakin bahwa ada orang yang bisa melakukan hal yang sama. Hanya gadis itu yang bisa membantuku. Semuanya akan berjalan aman selama tidak ada orang yang membocorkan rahasia ini,” Raja Yongjo menjelaskan kenapa dirinya tidak memilih para mudang dari Istana pada Kasim Kang.

“Hamba mengerti Jeonha, Jeonha tidak perlu cemas, hamba dan Seung-hyun tidak akan membocorkan rahasia ini. Sebaiknya mulai sekarang Jeonha harus memerintahkan Seung-hyun untuk berjaga-jaga di sekitar Hyangwonjeong,” Kasim Kang kembali memberikan sarannya.

“Kau benar Dae-sung ah. Seung-hyun ah, mulai malam nanti kau harus berjaga-jaga di Hyangwonjeong, algeneunnya?” Raja Yongjo kini mengalihkan tatapannya pada sosok Seung-hyun yang duduk dengan sikap hormat pada Raja Yongjo.

Ye Jeonha.”

***

“Hee-chul orabeoni…

So-hee tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya begitu mendapati sosok Hee-chul yang kini telah berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Keduanya kini saling mematung di tengah jembatan Nam-mun.

“So-hee ya, kau ingin pergi kemana saat myosi seperti ini? Matahari bahkan belum terbit,” Hee-chul kini sudah berada tepat di depan So-hee, jaraknya hanya sebatas satu tangan.

“Aku justru ingin melihat matahari terbit orabeoni,” tak bisa menemukan alasan yang lebih baik, So-hee memutuskan untuk menjawab pertanyaan Hee-chul dengan apa yang terlintas dalam benaknya. Gadis itu berharap Hee-chul mempercayai apa yang dikatakannya, So-hee tidak mungkin mengatakan pada Hee-chul bahwa dia baru saja kembali dari Istana setelah menghabiskan malam bersama Raja Yongjo.

Keuraeyo?” Hee-chul mengerutkan keningnya begitu dia mendengar jawaban yang terlontar dari mulut So-hee. Gadis yang selama ini selalu sulit untuk bangun pagi dan terlihat aneh rela bangun pagi untuk melihat matahari terbit, semua itu terdengar lebih aneh di telinga Hee-chul.

Keureomyo, apa orabeoni tidak percaya dengan ucapanku?” So-hee menaikkan suaranya, bersikap seolah gadis itu tersinggung.

Aniya, aku percaya padamu So-hee ya. Kalau begitu, aku akan menemanimu untuk melihat matahari terbit,” Hee-chul akhirnya memutuskan untuk tidak mempedulikan sikap aneh So-hee. Lagipula tidak pernah ada orang yang paham dengan apa yang dipikirkan gadis itu, dan Hee-chul juga tidak ingin mempermasalahkannya. Justru ini adalah kesempatan yang sangat berharga bagi Hee-chul untuk mengungkapkan apa yang selama ini dirasakan pria itu.

Maka saat ini, saat keduanya berdiri di tengah jembatan Nam-mun, di atas sungai yang mengalir tenang di bawah mereka, Hee-chul memutuskan untuk melafalkan apa yang seharusnya dia lafalkan.

“So-hee ya, seperti apa cinta untukmu?”

Suara Hee-chul memecah kesunyian pagi Joseon yang masih tertutup kegelapan kabut tanpa sinar matahari. So-hee dengan cepat mengalihkan kepalanya, menatap Hee-chul yang kini menatap lurus ke arah tempat matahari muncul.

Ye?”

So-hee tidak dapat memahami arah pembicaraan Hee-chul, gadis itu tetap melayangkan tatapan menuntut, menuntut penjelasan Hee-chul.

Sarang, apa kau paham dengan kata tersebut? Seperti apa tepatnya cinta untukmu So-hee ya?” Hee-chul masih menolak untuk menatap wajah So-hee.

So-hee terdiam begitu telinganya kembali mendengar pertanyaan Hee-chul. Setelah beberapa saat gadis itu pun membuka mulutnya.

Sarang?” So-hee memberi jeda pada ucapannya, gadis itu mengerutkan keningnya lalu melanjutkan ucapannya, “keu maleun jeongmal moreugesseumnida[4].

Hee-chul tersenyum sekilas begitu mendengar jawaban So-hee, gadis itu memang tidak pernah merasakan apa yang selama ini dirasakan olehnya, nyatanya So-hee tidak mengerti maksud pertanyaan Hee-chul, gadis itu kini justru tampak terpesona oleh semburat cahanya matahari yang perlahan-lahan mulai  muncul dari arah timur.

“Rupanya kau memang benar-benar tidak paham So-hee ya,” Hee-chul berucap sambil tersenyum sekilas, seolah menertawakan dirinya sendiri.

“Lalu, bagaimana dengan orabeoni? Seperti apa tepatnya cinta itu?” So-hee kini bertanya dengan nada riang.

Hee-chul menarik nafas sejenak sebelum menjawab.

Sarangeun bom pi cheorom[5],” Hee-chul mulai berucap, suaranya terdengar tulus, membuat So-hee menatap pria tampan itu dengan tatapan lekat.

Bom pi cheoreom?” So-hee mengulang ucapan Hee-chul dengan nada pertanyaan, tak paham dengan ucapan Hee-chul.

“Benar, cinta bagiku seperti hujan saat musim semi yang membasahi hatiku dan menyisakan kenangan yang tak bisa terhapus. Meom chugoshipeun haengbokhan gieok[6],” Hee-chul tersenyum begitu dia menyelesaikan ucapannya. So-hee menganggukkan kepalanya.

“So-hee ya…” Hee-chul memberi jeda pada ucapannya, kini pria itu mulai menatap So-hee.

Ye orabeoni? So-hee balas menatap Hee-chul, mensejajarkan kedua bola mata mereka.

Hee-chul ingin sekali mengucapkan apa yang selama ini terpendam, tapi begitu melihat kedua bola mata So-hee yang terlihat begitu polos, Hee-chul kembali kehilangan keberaniannya.

Kim Hee-chul, gadis itu terlalu muda untukmu. Lihatlah kedua mata polosnya!

“Hee-chul orabeoni wae keurae sseumnikka?” Suara So-hee berhasil membuat Hee-chul tersadar dari perang batin yang dilakukannya beberapa saat lalu.

Hee-chul memang tidak bisa menyangkal fakta tersebut, bahwa So-hee terlalu muda untuknya. Usia gadis itu baru sebatas dua puluh tahun, sedangkan dirinya sudah dipenghujung dua puluh tahun, bukan tidak mungkin So-hee menolaknya karena alasan tersebut. Hee-chul belum merasa siap dengan penolakan tersebut, akan lebih baik jika pria itu tidak mengatak apa yang ingin disampaikannya. Setidaknya tidak saat ini.

Aniya So-hee ya. Sebaiknya aku mengantar kau pulang, ahjusshi pasti mencemaskanmu,” Hee-chul mennghembuskan nafas pelan, berusaha mengusir rasa kecewa dalam hatinya.

Kedua kaki mereka baru saja akan terayun, namun langkah tersebut harus terhenti karena kini dari ujung jembatan sosok ayah So-hee terlihat berlari ke arah keduanya.

Abeoji, apa yang abeoji lakukan di sini?” Kening So-hee berkerut begitu melihat sosok ayahnya.

Abeoji datang untuk menjemputmu So-hee ya, kau sudah pulang? Cepatlah kembali ke rumah, kau harus istirahat So-hee ya,” Ahn Seok-hwan menjawab dengan nafas tersengal-sengal.

Araseo abeoji, aku juga baru saja ingin pulang,” So-hee menjawab cepat.

“Kalau begitu cepat pulang dan makanlah, abeoji sudah memasak nasi dan sayur untukmu agar kau tetap sehat. Pergilah, abeoji harus pergi ke alun-alun Nam-mun pagi ini,” Ahn Seok-hwan kembali berucap.

Abeoji ingin kembali berjudi?” So-hee menaikkan suaranya, membuat Ahn Seok-hwan dan Hee-chul terpaksa menutup kedua telinga mereka.

Aniya! Abeoji harus bertemu dengan Tuan Shin, dia meminta abeoji untuk membantunya mengangkut beberapa barang ke pelabuhan, setelah itu abeoji akan mendapat upah,” Ahn Seok-hwan menjelaskan pada So-hee, tak ingin puterinya tersebut salah paham.

Keurae arata, aku akan membunuh abeoji kalau sampai abeoji berjudi lagi,” So-hee mengepalkan kedua tangannya di depan wajah ayahnya, membuat Ahn Seok-hwan meringis ketakutan sedang Hee-chul terkekeh pelan melihat tingkah ayah dan anak tersebut.

“Aku pulang kalau begitu,” setelah mengucapkan kata-kata tersebut, So-hee pun berlalu.

“Ah anak nakal itu rupanya bersama Hee-chul doryeonim. Seharusnya aku memberi salam sejak tadi doryeonim, maafkan aku,” Ahn Seok-hwan kini membungkuk pada Hee-chul yang dengan cepat tersenyum pada ayah So-hee tersebut.

Doryeonim, apa doryeonim juga baru saja kembali dari Istana bersama So-hee?” Ahn Seok-hwan tersenyum riang, ucapannya berhasil membua kening Hee-chul berkerut.

“So-hee baru saja kembali dari Istana? Apa maksud ucapan ahjusshi?” Hee-chul bertanya dengan bingung.

“Jadi kau tidak pulang bersamanya? Sudah tiga minggu ini So-hee selalu menghabiskan malamnya di Naeuiwon untuk belajar tentang pengobatan. Apa doryeonim tidak tahu? Bukankah doryeonim bekerja di Istana? Ah mungkin saja karena doryeonim sibuk lalu tidak bisa bertemu dengan So-hee,” nada riang dalam suara Ahn Seok-hwan begitu dia menceritakan tentang So-hee belum hilang. Dan apa yang diucapkannya tersebut semakin membuat kening Hee-chul berkerut. Hee-chul tidak bisa menemukan jawaban yang bisa memberinya penjelasan tantang apa yang sebenarnya terjadi.

Namun apa yang diucapkan oleh ayah So-hee, Ahn Seok-hwan, sebelum pria paruh baya itu memutuskan untuk meninggalkan Hee-chul mampu membuat Hee-chul terpaku. Walaupun Ahn Seok-hwan mengucapkannya dengan suara pelan, namun kata-kata tersebut tertangkap sempurna di telinga Hee-chul.

“Aku harus membeli ggwaenggwari dengan upah dari Tuan Kim. Aish, bagaimana mungkin So-hee menghilangkan benda itu? Apa dia tidak tahu kalau benda itu cukup mahal?” 

Begitu kata-kata tersebut berdengung di dalam benaknya, apa yang tadi pagi sempat didengarnya secara tak sengaja di kamar Raja Yongjo, pembicaraan Raja Yongjo dan Kasim Kang, kini nampak jelas bagi Hee-chul. Tentang So-hee yang selalu menghabiskan malam-malamya di Istana, tentang suara ggwaengggwari di Hyangwonjeong, tentang apa yang dibicarakan oleh Kasim Kang. Dan Hee-chul tahu hanya ada satu jalan untuk mengetahui kebenaran apa yang telah disimpulkan oleh dirinya, Hee-chul harus menyelinap masuk kedalam Hyangwonjeong, melihat sendiri apa yang terjadi di paviliun tersebut, malam ini juga.   

***

Saat ini seisi Naeuiwon sedang menyisir setiap sudut Istana untuk menemukan Tabib Istana, Hee-chul yakin dengan hal itu. Sebagai Tabib Kepala Istana, saat sulsi[7] seperti ini Hee-chul seharusnya menjalankan tugasnya untuk mengajari para calon tabib unggulan secara khusus di Naeuiwon, bukan sebaliknya justru berdiam diri menyembunyikan sosoknya di salah satu sudut gelap paviliun Hyangwonjeong.

Seberapa mahirnya Hee-chul menguasai ilmu beladiri, pria itu tidak bisa begitu saja mengesampingkan fakta bahwa dia harus menghadapi sosok Choi Seung-hyun, pengawal pribadi Raja Yongjo yang kemampuan ilmu pedangnya tidak bisa tertandingi di seantero Joseon. Namun tidak peduli seberapa benar fakta tersebut, Hee-chul tetap memutuskan untuk menyelinap. Bagaimanapun juga dia merasa dirinya berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, pria itu tidak bisa membiarkan benaknya tertanggu dengan kesimpulan tak pasti mengenai apa yang dilakukan oleh So-hee. Sekali lagi Hee-chul merasa dirinya berhak tahu, meskipun apa yang sedang menjadi pertaruhan saat ini adalah nyawanya sendiri.

Dan kini, setelah Hee-chul menunggu selama berjam-jam, tepat saat pintu Hyangwonjeong berderit dan terbuka lebar, dua sosok yang dikenal dengan amat sangat baik olehnya tampak berdiri di depan Hyangwonjeong. Seketika itu begitu melihat sosok mereka berdua, kedua lutut Hee-chul melemas.

Ditengah kegelapan salah satu sudut Hyangwonjeong, Hee-chul menatap kedua sosok itu dengan mata membulat tak percaya, terlebih lagi saat beberapa menit kemudian sosok So-hee dengan wajah riang mulai memukul ggwaenggwari dan menari di depan Raja Yongjo. Keduanya bahkan saling melempar senyum.

Hee-chul tetap menatap keduanya. Lalu kini apa yang dilihatnya berhasil membuat air mata Hee-chul yang hampir tidak pernah mengalir itu kini berhasil membasahi pipi pria tampan itu. Di hadapannya, Hee-chul melihat So-hee terbaring di lantai Hyangwonjeong. Sementara itu, beberapa detik kemudian, dengan kedua matanya sendiri Hee-chul melihat sosok Raja Yongjo membelai kening So-hee dengan amat sangat lembut, bahkan Raja Yongjo tak henti melayangkan tatapan intens pada sosok So-hee.

Selama beberapa detik kemudian pandangan itu mengabur oleh air mata Hee-chul, terlebih lagi saat telinga pria itu menangkap suara Raja Yongjo yang berucap dengan amat sangat pelan.

“Tidurlah, dan aku akan kembali menemanimu melewatkan malam ini.”

***


[1] Menteri Perpajakan.

[2] Kantor Polisi Pusat.

[3] Puri Bintang, tempat para dukun Istana tinggal dan berlatih.

[4] Aku benar-benar tidak paham dengan kata itu.

[5] Cinta seperti air hujan saat musim semi.

[6] Kebahagiaan yang tidak ingin dilupakan

[7] Ukuran waktu saat periode Joseon, menunjukan pukul 7-9 malam.