Tittle: Feel Like Different
Author: Shafi Rades (@SHAFImagINATIon)
Cast: Big Bang
Genre: friendship
Length: Twoshoot
A/N: MAAP KALO GAJE, DAN TYPO BETEBARAN.. POKOKNYA INI FANFIC ASLI PUNYA SAYA, GA NGOPI, GA NGETEH(?) enjoy ^^

~~~


Sebuah sekolah elit di Seoul. Ada 1 geng anak tenar, yang beranggota 5 orang, dan dikenal sebagai Big Bang. Mereka adalah:

1.Kwon Jiyoung, anak dari pemilik perusahaan Yunshik. Ia anak yang sedikit angkuh dan sombong. Tapi dia adalah anak yang pintar. Ia sebagai ketua di geng Big Bang ini. Ia duduk dikelas 2 SMU.

2. Choi Seunghyun. Anak dari pemilik sekolah. Duduk di kelas 3 SMU. Anak yang tangguh, perhatian, dan konyol. Awalnya Ia ditunjuk sebagai ketua dalam geng Big Bang ini. Sayang, kedudukannya kalah dengan Jiyoung.

3. Dong Young Bae. Tapi Ia lebih akrab dengan nama Tae Yang, setelah bermain drama musikal yang di adakan saat Ia duduk di kelas 2 SMP. Ia sama dengan Jiyoung, duduk di kelas 2 SMU. Anak yang baik dan kalem. Ayahnya adalah seorang musisi terkenal, yang menurunkan bakat pada anaknya ini dalam bidang musik.

4. Kang Daesung. Anak yang sebetulnya biasa biasa saja. Tidak kaya, tidak miskin. Tapi Ia terkenal setelah memenangkan lomba bernyanyi se-Seoul. Orang tuanya hanya seorang pegerja kantoran. Ia bisa masuk ke sekolah ini, karena beasiswa. Anak yang konyol, tapi sensitif. Ia duduk di kelas 1 SMU.

5. Lee Seunghyun. Tapi untuk membedakannya denga Choi Seunghyun, orang orang memanggilnya Seungri. Menurut usia, seharusnya Ia masih duduk di kelas 3 SMP. Tapi kecerdasan yang Ia miliki, membuatnya dengan mudah akselerasi. Kini Ia duduk di kelas 1 SMU. Anak yang manja tapi pintar. Ayahnya adalah pengacara hebat dan terkenal. Ia ahli dalam dance.

Kelimanya bersahabat sejak SD. Tak pernah terjadi pertengkaran antar mereka. Mereka selalu bersama dan selalu mengerti satu sama lain. Tapi setelah masuk SMU, Jiyoung sedikit berubah.

~~~

Pagi itu, kelimanya sampai di sekolah dengan mobil Jiyoung. Masuk di pintu sekolah, terlihat murid murid mengerubungi kedatangan mereka. Kebanyakan adalah para yeoja. Semuanya bersikap agak angkuh, sesuai perintah Jiyoung. Paling tidak hanya sedikit senyum. Tiba Tiba, seorang yeoja berteriak.

“DAESUUUUNG!!!” Daesung yang dari awal susah untuk bersikap angkuh, menjawab dengan senyum dan lambaian tangan.

“anyeong~” sang yeoja langsung kegirangan. Jiyoung yang melihatnya kesal. Ia meneplak lambaian tangan Daesung.

“ya! Sudah aku bilang, jangan berikan senyumanmu pada siapapun!!”

“eh? Tapi-”

“tak ada tapi!! Kalian harus mengikuti perintahku!! Terutama kau, Daesung!! Yang melanggar, akan aku keluarkan dari group ini.. Ara?!!” bentak Jiyoung.

“a.. Arasseo..” Merekapun berjalan ke kelas masing masing.

~~~

Di kelas, Daesung sedikit berpikir. “memang apa salahnya tersenyum? Dengan tersenyum, kitakan tak akan rugi.. Jiyoung hyung itu aneh..” batinnya. Tiba tiba Seungri mendekatinya.

“ya! Kau kenapa, hyung??” tanyanya, lalu duduk di meja Daesung.

“kau ini.. Kan tidak perlu mengagetkan! Ng.. Aku.. Hanya bingung.. Kenapa Jiyoung hyung menyuruh kita untuk tidak tersenyum pada siapapun?”

“karena kita tenar..”

“lalu kalau kita tenar? Apa orang tenar tidak boleh tersenyum?” tanya Daesung lagi. Tatapannya pada Seungri bingung.

“orang tenar itu, harus bisa jaga image.. Kalau kita tersenyum, kita seperti menjatuhkan harga diri, karena orang yang kita beri senyuman jadi merasa dekat dengan kita.. Apa lagi, ketua kita bersifat angkuh seperti Jiyoung hyung..” jelas Seungri. Daesung masih belum setuju.

“tapi derajat kita semua kan sama.. Kita semua manusia.. Tak ada perbedaan..” Seungri menghela napas.

“yah.. Sepanjang ini sih, itu semua pendapat Jiyoung hyung.. Entah, kalau ketua geng lain seperti apa.. Lagi pula, memang kenapa sih, kau protes dengan hal itu?”

“entahlah.. Hanya saja, aku tidak nyaman dengan peraturan yang dibuatnya..” Daesung menunduk. Seungri mengangkat sebelah alis karena bingung.

“hah.. Sudahlah, aku tidak mengerti dengan cara berpikirmu, hyung..” ujarnya, lalu turun dari meja Daesung dan beranjak pergi. Daesung hanya diam di kursinya.

~~~

Di kelas lain,

“Jiyoung.. Apa tidak terlalu jahat, memaksa Daesung untuk bersikap seperti itu? Diakan anak yang murah senyum, dan selalu bercanda..” ujar Taeyang pada Jiyoung yang sedang asik membaca komik. Jiyoung menatap Taeyang dengan pandangan kosong.

“dia cukup tersenyum dan bercanda di depan kita, dan orang orang yang dekat dengannya. Sebagai anggota Big Bang, dia harus mengikuti peraturan yang aku buat, dan tanpa terkecuali!” bentak Jiyoung kesal.

“tapi aku lihat, dia sudah terlalu terdesak dengan peraturan peraturan itu. Apa tidak sebaiknya peraturan itu dihapus saja?” Jiyoung menatap Taeyang kesal.

“kau siap keluar dari Big Bang?” ujarnya santai. Taeyang langsung kaget.

“eh? A.. Ani..” jawabnya. Jiyoung kembali membaca komiknya. Taeyang menatapnya, lalu bertanya

“ngomong ngomong, Jiyoung.. Kenapa sikapmu pada Daesung jadi seperti itu?” Jiyoung terdiam.

“entahlah.. Sejak dia masuk SMU, Aku.. Jadi kesal kalau melihatnya..” ujar Jiyoung pelan. Taeyang menatapnya bingung.

~~~

TEEET!!! bel berbunyi, tanda pelajaran terakhir selesai. Semua langsung bersiap untuk pulang. Tiba tiba sonsaengnim berujar.

“anak anak! Tunggu sebentar.. Ada sedikit pengumuman.. akan diadakan lomba sains, yaitu membuat alat peraga. Satu kelompok terdiri dari 5 orang. Kelompok boleh terdiri dari kelas lain, dan bisa gabung kelas 1,2, dan 3.. Yang berniat ikut, silahkan mengumpulkan hasil karyanya 2 minggu lagi! Kwon Jiyoung, orang tuamu mengharapkanmu untuk ikut.. Jadi, ikutlah..”

“hh.. Arasseo..” jawab Jiyoung santai.

“baiklah, kalian boleh pulang.. Sampai jumpa besok..”

~~~

“aigoooo~~~ Aku harus ikut, pula!! Aaakkhhh!!” Jiyoung mengecak acak rambutnya, setelah membanting tubuh di sofa markas mereka. Yang lain duduk sambil menatapnya.

“kalau tidak mau ikut, jangan dipaksakan” ujar Seunghyun.

“tapi itu orang tuaku yang menyuruh.. Yah, bagaimanapun aku harus ikut..”

“anak yang berbakti pada orang tua..” ujar Daesung. Semua tertawa. Hanya Jiyoung yang tertawa kecil seperti menganggap itu tidak lucu. Daesung menyadari, dan langsung berhenti tertawa.

“lalu, kita akan jadi satu kelompok?” tanya Taeyang.

“tentu saja.. Kau mau sekelompok dengan siapa lagi?!” ujar Jiyoung emosi. Taeyang hanya tertawa polos. Lalu Jiyoung menatap Daesung. Daesung balas menatap. Jiyoung langsung mengalihkan pandangannya.

“jadi, kita akan buat apa?” tanya Seungri.

“hm.. Bagaimana kalau gunung meletus..” usul Taeyang.

“itu banyak dibuat oleh anak SD, hyung.. Hm.. Aku terpikir untuk membuat robot.. Bagaimana?” ujar Daesung.

“otakmu dikemanakan, sih?? Itu terlalu rumit.. Belum lagi, batas pengumpulan hanya 2 minggu..” ujar Jiyoung dengan nada kesal. Semua menatapnya bingung. Daesung menunduk. Ia bingung harus menjawab apa. Seunghyun langsung mengubah pembicaraan.

“ah.. Aku tahu! yang mudah saja.. Struktur planet!”

“apa tidak terlalu simpel, hyung?”

“hm.. Kita buat yang besar! Dengan begitu, aku yakin kita bisa menang!” ujar Seunghyun, sambil merentangkan tangannya. Semua menatapnya. Lalu Jiyoung tersenyum.

“besok, kita cari alat dan bahannya..”

~~~

Esoknya, Big Bang bersiap mencari alat dan bahan untuk membuat alat peraga. Sebelumnya mereka berkumpul di markas.

“jadi.. Sebelum pergi, kita akan catat apa apa saja yang kita butuhkan..” Ujar Daesung sambil menyiapkan buku dan pensilnya.

“untuk membuat planetnya, kita butuh bola dengan ukuran yang berbeda..” ujar Taeyang. Daesung langsung mencatat. Lalu Ia berpikir.

“hm.. Kita cari saja bola bekas.. Lebih hemat, dan-”

“ya.. Ya.. Yang pasti bola ‘kan? Ya sudah, selanjutnya apa?” kata Jiyoung memotong kalimat Daesung. Daesung terlihat sabar.

“biasa.. Seperti cat, lem dan gunting..” ujar Seungri. Daesung kembali mencatat. Mereka terus berdiskusi. Tapi Daesung hanya bertugas mencatat. Ia tak mau lagi bicara. Takut Jiyoung bersikap seperti barusan.

Setelah berdiskusi panjang lebar, merekapun berangkat. Di sebuah pertokoan, mereka dibagi menjadi 2 kelompok. Seunghyun, Taeyang, dan Seungri. Serta Daesung dan Jiyoung.

Jiyoung dan Daesung terus berjalan. Tak ada percakapan yang terjadi. Mereka saling diam. Sedangkan Kelompok yang satu lagi,

“Seunghyun hyung, Seungri ah.. Apa kalian merasa ada yang aneh, dengan sikap Jiyoung pada Daesung?” tanya Taeyang setelah keluar dari sebuah toko. Seunghyun dan Seungri saling tatap.

“aku sih, sedikit merasa..” jawab Seunghyun.

“apa sih, hyung?” tanya Seungri.

“ya.. Sikap Jiyoung pada Daesung belakangan ini, jadi sinis..” kata Seunghyun.

“sinis?? Maksudnya?”

“aigo, maknae.. Sinis! Jadi sikap Jiyoung itu, seperti tidak suka dengan Daesung!” jelas Taeyang agak emosi.

“jjinja? Aku tidak memperhatikan..”

“ng.. Jiyoung pernah bilang padaku.. Sejak Daesung masuk SMU, dia jadi kesal pada Daesung” kata Taeyang.

“yang benar?! Kesal bagaimana?!”

“entahlah.. Aku belum sempat bertanya soal itu, karena sudah keburu bel pelajaran..” jelas Taeyang. Seungri dan Seunghyun menatap Taeyang. Lalu Seunghyun menghela napas.

“hh.. Aku harap, ini bukan awal dari suatu hal yang buruk..”

~~~

Big Bang memulai misi membuat struktur planet. Menyusun bola bola menjadi rangkaian planet. Mengecat, dan menempelkan bola-bola tersebut pada tangkai besi.

Setelah 4 hari mereka baru selesai mengerjakan setengah. Tapi disinilah hal yang ditakutkan Seunghyun malah terjadi.

Saat Jiyoung sedang memasang per pada bagian besi agar dapat berputar, Daesung berkata.

“hyung.. Per-nya diletakkan yang benar, ya? Kalau salah, takutnya malah tidak bisa berputar..”

“jangan sok tahu! Aku tahu apa yang harus kulakukan!!” bentak Jiyoung. Daesung langsung terdiam.

Daesung POV
apa, sih? Aku kan hanya mengingatkan. Kenapa dia marah begitu, padaku? Apa perasaanku selama ini benar, ya? Jangan jangan Jiyoung hyung memang membenciku. Tapi karena alasan apa? Apa karena aku orang biasa? Makanya Ia tidak suka?

Ya, pasti karena itu. Karena aku berbeda dengan mereka. Mereka orang kaya, dan anak dari orang orang terpandang. Sedangkan aku? Aku hanya anak dari seorang pekerja kantoran. Ditambah, wajahku tak setampan mereka. Memang, aku sering merasa terpencil ketika sedang bersama.

Rasanya, aku mau pergi dari sini.

Seunghyun POV
“a..aigo! Perutku!” ujar Daesung tiba tiba sambil memegangi perutnya.

“Daesung ah? Gwechannayo??” tanyaku.

“ne, hyung. Gwechanna. Tapi.. Boleh, aku pulang duluan? Badanku rasanya tidak enak..” ujarnya.

“biar kuantar..” usulku.

“andwae, hyung.. Kau bantu yang lain saja disini.. Aku bisa pulang naik taksi..” ujarnya, lalu mengambil tas dan berjalan kearah pintu keluar.

“Daesung ah..”

“kalau tidak mau kerja, bilang saja dari awal.. Jangan pura pura sakit begitu, deh..” ujar Jiyoung dengan nada kesal, sebelum Daesung membuka pintu. Kami semua terdiam menatap Jiyoung yang masih mengurusi kerjaannya, kecualinya Daesung. Ia mematung di depan pintu.

“Jiyoung!! Apa maksud kata katamu barusan?!!” bentakku. Aku tidak terima dengan kata kata Jiyoung barusan. Ia tertawa kecil.

“memang benar, bukan? Dari pada susah payah bekerja tapi tak rela, lebih baik tidak usah.. Itu hanya akan melelahkan tenaga..” ujar Jiyoung. Ia tersenyum sinis menatap Daesung yang masih mematung menghadap pintu.

“Jiyoung!!!”

“Mwo?! Kau membentakku?!! Berani?!!” bentaknya balik. Aku mengerti maksud Jiyoung dengan kata ‘berani’ itu. Lalu aku menatap Daesung. Tiba tiba Daesung berbalik dengan senyum yang dipaksakan.

“perutku memang sakit.. Tapi jujur, aku memang sedikit malas. Hehe.. Aku pulang, ya? Anyeong!!” kata Daesung lalu keluar dari markas.

Aku mengintip dari jendela. Terlihat dari belakang, Daesung berhenti sejenak di depan pintu. Tubuhnya gemetar. Lalu, Ia seperti menyeka air mata, dan langsung berjalan menjauhi markas.

“Apa Ia menangis?” batinku, lalu menatap Jiyoung yang masih sibuk. Aku lalu berjalan dengan kesal kearahnya.

“apa apaan kau ini?!”

“apa?” tanyanya polos.

“ada apa denganmu?!! Sejak 5 hari yang lalu, sikapmu pada Daesung, berubah!! Kau punya masalah dengannya?! Kalau ada, bicarakan baik baik! Tak perlu bersikap seperti itu!!” bentakku. Jiyoung tidak menjawab Ia masih terus sibuk dengan kerjaannya.

“hyung.. Sudah, jangan menambah masalah..” Taeyang berusaha menenangkanku. Aku terus menatap Jiyoung dengan kesal. Lalu Ia menghentikan pekerjaannya, lalu berdiri dan menatapku dengan dengan senyum tipis.

“tak ada masalah yang perlu dibicarakan. Santai saja, hyung. Arasseo, hari ini selesai. Kita lanjutkan besok..” ujarnya lalu keluar dari markas begitu saja.

Aku tak bisa berkata apa apa melihat sikap ketua yang bahkan lebih muda dariku itu. Aku duduk di sofa dan menyangga kepalaku dengan tangan.

“ini yang kutakutkan… Kenapa malah terjadi??” gumamku. Seungri menepuk pundakku.

“sudah, hyung.. Aku yakin, ini tak akan lama.. Jangan terlalu dipikirkan”

“lebih baik, kita cari tahu apa yang dipikirkan Jiyoung agar kita bisa menyelesaikan masalah ini..” lanjut Taeyang. Aku hanya diam. Berpikir, sambil menatapi jari jariku.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
hmm… Kepanjangan nggak, sih??? Kalo gitu bikin Part aja, ya??
Ya udah.. Sampai ketemu di patt selanjutnya ^^

JANGAN LUPA KOMEN!!!!!!!!!!