Baby… baby… (Ch. 5)

Author : Ms. Yongyong

Title     : Baby…baby… Chapter 5

Cast     :

  • Kwon Ji Yong
  • Park Hae Yong (You)
  • Other

Genre      : Romance, 17+, Chaptered

Twitter     : @diina_mp

A/N           : annyeong yeorobeun………. :O hehe ms  Yongyong  nyempil lagi di siniii. Apa kabar? Apa masih setia nungguin ff abstrak saya? Gak kerasa ya udh part 5 aj. Banyak yang bilang part sebelumnya kurang apa gitu. Saya juga ngerasa ada yg kurang di part 4 karena waktu bikin part 4 lagi kehabisan ide. Semoga part ini nggak mengecewakan, ya reader.

Happy Reading and RCL ^^

Someone’s Side

Hembusan angin  yang begitu kurindukan menyapaku lembut. Kuhirup dalam udara yang terasa begitu segar. Menikmatinya sesaat. Sepertinya tak ada yang berubah dengan pantai ini. Tetap menyenangkan. Sambil mengenang setiap memori yang pernah ada di pantai indah ini, aku melangkah. Dengan kaki telanjang menyusuri pasir lembut di bibir pantai. Sesekali aku menendangnya tanpa tujuan. Pikiran dan hatiku begitu penuh saat ini. Penuh akan sosoknya yang begitu kurindukan. Ya, aku merindukannya. Sangat. Tiga tahun menjauh ternyata menimbulkan dampak yang buruk padaku. Membuat rasa itu semakin kuat dan menyiksaku. Belum lagi rasa bersalah yang selalu ikut campur. Terkadang membuatku sulit bernapas.

“Apa kau membenciku setelah semua yang kulakukan?” desahku pelan.

Tak ada jawaban. Tentu saja. Itu hanyalah pertanyaan konyol yang tak butuh jawaban. Aku tau jawabannya. Bahkan kurasa semua yang ada di sini tau jawabannya. Bagaimana mungkin ia tak membenciku. Aku pergi dengan begitu kejam saat ia membutuhkan sosokku. Hanya karena masalah kecil, aku meninggalkannya. Tapi itu bukan mau ku. Keadaan yang memaksaku, dan aku tak bisa menolaknya.

Kembali aku melangkah. Menyusuri bibir pantai tanpa ada tujuan. Hingga akhirnya aku tiba di satu bagian pantai yang nyaris tak ada pengunjung. Sisi pantai yang begitu jauh dari keramaian. Sisi pantai yang selalu kukunjungi bersamanya di akhir pekan. Aku tersenyum. Semuanya silih berganti muncul di pandanganku. Seperti menonton rekaman diriku di masa lalu. Perih. Itulah yang kurasakan saat ini. Kenangan itu seperti pisau tajam yang menghujam jantungku. Aku terus melangkah mendekat. Duduk tepat di balik sebuah batu berukuran lumayan besar yang dapat menyamarkan keberadaanku. Dengan pandangan menerawang, kedua bola mataku menyisiri tiap bagian yang dapat dijangkau. Seorang wanita yang tengah bermain dengan anjingnya di bibir pantai menarik perhatianku. Ia terlihat begitu bahagia. Senyuman dan tawa tak lepas dari wajahnya. Bahkan cipratan air laut yang mulai membasahi tubuhnya tak menyurutkan kebahagiaannya. Sesekali wanita itu melompat girang melihat tingkah anjingnya dan tiba-tiba meronta geram yang entah karena apa. Tingkahnya begitu lucu, membuat seulas senyuman terukir di bibirku. Wanita itu mengingatkanku akan diriku di masa lalu.

Entah dari mana tibanya rasa tertarik itu, aku terus saja memperhatikan wanita yang tengah bermain bersama anjingnya itu. Hingga akhirnya, satu orang lagi tertangkap penglihatanku. Seorang pria yang sepertinya kekasih wanita itu. aku tak dapat melihatnya karena posisi pria itu yang memunggungiku. Aku masih setia sebagai penonton yang baik yang memperhatikan acara dengan tenang. Tapi itu tak bertahan lama. Ketenanganku menguap ketika sepasang mataku melihat sosok pria yang memunggungiku itu. Aku tau betul pria itu. Sosok yang sangat kukenal. Yang selalu memenuhi hati dan pikiranku selama ini. Pria yang bayangannya selalu menyiksaku dalam setiap helaan napasku. Tanpa bisa kukendalikan, kedua kakiku melangkah mendekat. Aku tak lagi dapat berpikir dengan jernih. Rasa rindu yang membuncah ini begitu sulit untuk kukendalikan. Aku benar-benar akan menghambur memeluk sosok itu sebelum percakapan keduanya menyentakku kembali pada kesdaran penuh.

“Kau tak boleh terlalu banyak bergerak, Hae Yong-ssi. Apalagi bermain bersama gaho lama-lama. Itu berbahaya.”

Wanita yang tengah mengunyah makannya itu tiba-tiba saja menunduk, melihat ke arah perutnya yang tercetak jelas di balik gaun yang menempel karena cipratan air. Dengan sayang ia mngelus perutnya menggunakan sebelah tangan. “Apa aku mengganggu tidurmu, aegi-ya? Maaf. Aku hanya terlalu bahagia karena akhirnya bisa bermain keluar. Sehatlah di dalam sana, aegi.” Gumamnya pelan.

Aku terenyak. Sekujur tubuhku terasa lemas seketika. Dengan tetesan air mata yang mulai berjatuhan, aku kembali melangkah. Menjauh dari kedua insan itu sebelum isakanku semakin keras. Aku tak dapat menahannya. Rasa perih yang membungkus hatiku sedemikian rupa. Aku mengutuk diriku dan segala penyesalanku atas apa yang telah kulakukan di masa lalu. Dia terlihat begitu bahagia dengan kehidupannya yang baru. Dan itu sangat melukaiku. Pria itu telah melupakanku sepenuhnya dan menemukan kebahagiaannya. Sekuat tenaga kutanamkan kenyataan itu di hatiku. Namun hati ini tetap lancang. Meneriakkan sanggahan-sanggahan yang membuatku semakin lemah. Menghadirkan keinginan yang tak seharusnya tumbuh di dalamnya.

Baby…baby…

Author’s Side

Pucat, lemah dan tidak sehat. Itulah kata-kata yang paling tepat untuk menggambarkan keadaan Hae Yong saat ini. Sudah beberapa jam ia hanya berbaring sembari menikmati tayangan televisi di sofa ruang keluarga. Rasa sakit yang mendera perutnya berhasil membuat nyeri hampir ke sekujur tubuh wanita itu. Rasa sakit yang bagaikan sesuatu bergejolak di dalam perutnya itu. Yang membuatnya begitu mudah merasa lelah jika beraktivitas. Tapi itu bukanlah masalah bagi Hae Yong. Ia tau. Sangat tau apa yang terjadi di dalam perutnya. Wanita itu hanya tersenyum sembari mengelus-elus penuh sayang perutnya. Menanggapi setiap gerakan bayinya di dalam sana.

“Hae Yong-ssi! Gwaenchana?”

Hae Yong yang tengah sibuk mengelusi perutnya berhenti sejenak saat melihat pria yang sudah beberapa bulan hidup bersamanya itu mendekatinya dengan raut wajah cemas. Ia tersenyum. “Gwaenchana.” Jawabnya pelan.

“Kau terlihat pucat, adakah yang sakit?” Ji Yong kembali bertanya dengan nada cemas yang belum kunjung hilang.

“Ani, aku hanya lelah.”

Ji Yong mengerutkan dahinya heran.

Hae Yong menunduk memandangi perutnya. Kembali ia mengelusinya dengan penuh sayang. “Dia terus menendangi perutku. Itu membuatku sedikit lelah.” Ujarnya.

Kedua mata Ji Yong membulat indah. Spontan ia mendekati Hae Yong. Duduk tepat di hadapan perut wanita itu dan menempelkan telapak tangannya di sana. “A, dia menendang!” pekiknya takjub. Ia tersenyum. Perlahan, telapak tangan itu mulai bergerak memutar mengelus perut Hae Yong. “Aegi-ya… ini aku, appamu. Jangan terlalu bersemangat menendangi perut eomma. Aku tak ingin terjadi hal buruk padanya. Ia tak sekuat yang kau bayangkan, aegi-ya…” tambah Ji Yong tulus.

Hae Yong tersentak. Dalam diam sibuk menata hatinya yang kembali bergolak. Mencoba sekuat tenaga mematikan rasa terlarang yang lagi-lagi dengan lancang merayapi hatinya. Bohong besar jika ia mengatakan tidak suka dengan apa yang baru saja diucapkan Ji Yong. Ia terharu mendengar serentetan kata-kata manis yang baru saja keluar dari bibir pria itu. Hanya saja itu membuatnya terganggu. Ia tak ingin Ji Yong menyayangi janin yang tengah tumbuh di rahimnya itu. Baginya, itu tak akan membuahkan sesuatu yang baik, seperti yang ia harapkan. Ia benar-benar ingin sejauh mungkin dari kehidupan Ji Yong setelah semuanya berakhir. Hidup bahagia dengan caranya bersama bayinya, kelak. Tanpa Ji Yong. Bukan bermaksud jahat dengan memisahkan pria itu dengan darah dagingnya. Hae Yong hanya merasa semuanya akan semakin baik jika mereka kembali ke kehidupan masing-masing setelah segalanya usai.

“Akan sangat menyenangkan jika bayi ini lahir dan ada yang memanggilku ‘appa’.”

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari sela bibir Ji Yong, yang tanpa disadari menciptakan suasana hening yang berbeda diantara ia dan Hae Yong. Keduanya diam. Ji Yong dengan rasa bahagia dan angan yang membuncah di hatinya, sementara Hae Yong dengan kegundahan memuakkan yang menyesakkan dada. Tepat saat Ji Yong tersadar akan apa yang baru saja diucapkannya, Hae Yong menatapnya sendu.

“Jangan menumbuhkan harapan yang akan menyakitimu, Ji Yong-ssi. Bayi ini seutuhnya milikku. Semuanya akan berakhir saat ia terlahir. Tak akan ada momen dimana ia memanggilmu ‘appa’.” Tandas wanita itu sebelum bangkit dan melangkah gontai meninggalkan Ji Yong yang terdiam.

Baby…baby…

Sore yang begitu indah. Langit yang mulai kemerahan karena sinar sang mentari senja membingkai bumi. Angin yang cukup hangat menerpa dedaunan, menggoyangkan rerumputan. Sungguh kolaborasi alam yang menakjubkan. Ji Yong melangkah pelan. Menikmati, meresapi, mengagumi seni Tuhan di setiap langkahnya. Ia menghirup udara hangat sore itu dalam dan membungnya perlahan. Berharap segala beban di pundaknya terbawa bersama karbondioksida yang dibuang. Namun sayang, kenyataan memang tak selalu sejalan dengan apa yang diharapkan. Apa yang menjadi bebannya bahkan tak berkurang setitikpun. Ia tetap terbayangkan wajah gusar Hae Yong beberapa menit yang lalu. Wanita itu terlihat begitu terganggu dengan kata-katanya. Ia tak bermaksud untuk itu. Di lubuk hatinya, memang tumbuh rasa sayang akan darah dagingnya yang ada di rahim Hae Yong. Entah sejak kapan, iapun tak begitu tau. Yang jelas, Ji Yong mulai menyayangi calon bayinya. Bahkan tak jarang ia membayangkan bayi itu akan terlahir membawa begitu banyak kemiripan dengan dirinya. Jika pria, mungkin akan setampan dan sepintar dirinya. Jika wanita, mungkin akan seanggun dan sepintar Hae Yong. Ia akan tumbuh menjadi sosok yang sangat menggemaskan yang akan memanggil Ji Yong dengan panggilan ‘appa’. Bermain bersamanya, dan melakukan hal-hal menyenangkan lainnya, mengukir kebahagiaan.

Membayangkannya saja sudah membuatnya begitu bahagia. Tapi pada kenyataannya, hal itu akan sangat sulit terwujudkan. Dari awal ia dan Hae Yong sudah berjanji akan berpisah setelah bayi itu lahir. Mereka akan kembali pada kehidupan masing-masing. Hae Yong pasti akan membawa bayinya itu sejauh mungkin darinya. Wanita itu terlihat begitu keras. Ia pasti akan benar-benar menghilang bersama calon bayi yang kini mulai sangat disayanginya itu. Ji Yong terdiam. Mulai menyadari bahwa ia mungkin akan sangat menginginkan sosok buah hatinya, kelak. Membayangkan Hae Yong akan memisahkannya dengan darah dagingnya itu saja, sudah membuatnya merasa sedih. Apa yang akan terjadi jika itu benar-benar terwujud. Ji Yong mungkin akan merasakan kembali sakit yang mendera hatinya seperti beberpa tahun yang lalu.

“Masih bisakah semuanya diperbaiki? Aku mungkin belum yakin dengan rasa nyaman yang tumbuh di hatiku akan kehadiran Hae Yong. Tapi aku sangat yakin dengan rasa sayang pada darah dagingku yang tumbuh di rahim wanita itu, Tuhan…”

@Ji Yong’s Appartment

Ji Yong menghela napas dalam sebelum melangkah memasuki apartemennya. Tekadnya sudah sangat bulat. Ia akan kembali bernego dengan Hae Yong. Ia akan meminta wanita itu untuk tetap bersamanya setelah bayi itu lahir. Rasa sayang itu membuatnya tak ingin Hae Yong membawa darah dagingnya pergi begitu saja. Bukankah ia ayahnya, dan ia berhak atas bayi itu? Dengan harapan Hae Yong dapat menerima permintaannya dengan pikiran jernih, pria itu melangkah masuk. Tepat saat ia memasuki ruang tamu, sepasang kakinya begitu saja berhenti melangkah. Ia terpaku di tempat.

“Bagaimana kabarmu, Ji?”

Ji Yong terdiam. Masih belum bisa mengendalikan bermacam rasa yang bercampur di dalam hatinya.

“Jangan bilang kau telah melupakanku, Ji”

Pria itu mulai dapat mengendalikan keterkejutannya. Nanar ia menatap wanita yang kini berdiri tepat di hadapannya. Wanita yang telah menciptakan luka mendalam di hatinya. Yang telah merubahnya menjadi sosok dingin menyeramkan seperti dirinya sekarang. Wanita yang telah membuainya dengan cinta yang begitu indah dan menghempaskannya ke dasar yang kelam. Masa lalunya yang menyakitkan.

“Apa yang kau lakukan di sini? Aku tak ingin melihatmu lagi. Keluar!” ujarnya dingin.

Wanita itu terdiam. Perkataan tajam Ji Yong menusuk hingga dasar hatinya. “Maafkan aku, Ji. Kau harus dengar penjelasanku.” Lirihnya.

“Tak ada lagi yang perlu kudengar, Nara-ya. Semua yang kau lakukan sudah lebuh dari penjelasan apapun.”

Akhirnya, perthanannya runtuh. Nara -nama wanita itu- menghambur memeluk Ji Yong yang masih berdiri kaku. Terisak pilu di dada Ji Yong, membasahi kemeja pria itu dengan air matanya. Rasa yang berkecamuk di relungnya, tak dapat lagi ia kendalikan. “Ji, maafkan aku. Kau boleh membenci sesukamu. Tapi dengarkan dulu penjelasanku, Ji…”

Ji Yong bimbang. Pertahannya mulai goyah. Sejak awal pertemuan meraka, ia paling tidak tahan melihat air mata mengaliri wajah cantik nara. Ia tau betul betapa lembutnya hati nara. Begitu mudah terenyuh dan menangis. Gadis manja itu bukanlah tipe yang mudah menyakiti orang lain. Dan kenyataan itu menggoyahkan hati Ji Yong. Ia yang tadinya begitu ingin mengusir Nara agar tak lagi muncul di hadapannya, malah melingkarkan sepasang tangannya di punggung wanita itu. Membawanya ke dalam dekapan hangatnya. Mengelus rambut panjang Nara dengan sayang. Perasaan itu, yang semula dirasa telah mati oleh Ji Yong, kembali muncul. Cinta yang begitu besar yang dulu sempat menyakitinya, kini bagaikan menjadi penyembuh luka di relung pria itu.

Dengan isakan yang masih belum reda, nara menceritakan segalanya. Bagaimana ayahnya menyeretnya kembali ke Jepang setelah mendengar Ji Yong terlibat kasus narkoba. Ayah Nara tak mengizinkannya berhubungan sedikitpun dengan Ji Yong karena merasa Ji Yong tak pantas untuk putrinya. Sekeras apapun usaha wanita itu untuk menyanggah keinginan ayahnya, tetap saja ia kalah. Ia belum sekuat itu hingga bisa mengalahkan keinginan ayahnya yang begitu keras. Bahkan setelah Ji Yong terbukti bersihpun tetap saja ayah Nara melarangnya untuk kembali pada Ji Yong.

“Kenapa tidak mengatakannya padaku?” tanya Ji Yong pelan.

“Appa tak memberiku kesempatan untuk menjelaskannya padamu, Ji. Dia memaksaku kembali dan membatasi gerakku.” Jawab wanita itu.

Ji Yong diam. Perlahan ia menghapus jejak air mata yang membekas di pipi wanita itu. “Maaf, karena aku sudah berpikiran buruk tentangmu selama ini.”

Nara menggeleng lemah. “Aku yang seharusnya minta maaf Ji. Aku menyakitimu. Aku menghilang saat kau membutuhkanmu. Aku meninggalkan luka dalam di hatimu. Kau berhak marah padaku, Ji.”

Ji Yong tersenyum. Begitu lembut, penuh kasih. Lembut ia meraih pergelangan tangan Nara dan menggiringnya ke sofa ruang tamu. “Bagaimana bisa kau kembali lagi ke sini, Nara-ya? Appamu sudah berubah pikiran?”

Wanita itu kembali menggeleng. “Aku kabur. Aku ingin kembali padamu. Tapi sepertinya itu tak lagi mungkin, Ji.”

“Apa maksudmu?”

“Aku tak mungkin merebutmu dari istrimu.”

Ji Yong diam. Istri? Istri siapa yang dibicarakan wanita itu? “Maksudmu Hae Yong?” tebaknya saat sadar akan siapa yang dibicarakan Nara.

Nara mengangguk. “Aku melihat kalian di pantai tadi pagi. Maaf, aku mendengarkan pembicaraan kalian. Aku hanya ingin tau.” Jawabnya polos.

“Dia bukan istriku.” Jawab Ji Yong dingin. Begitu menusuk. Membuat wanita di hadapannya itu memandangnya penuh tanya. “Hae Yong memang mengandung anakku.”

“Kau…?”

“Itu sebuah kesalahan, Nara-ya. Aku dan Hae Yong mabuk. Aku sama sekali tak menyadari apa yang kulakukan, dan dirinya juga.”

Wanita itu diam. Ia terlalu terkejut untuk bisa mengatakan sesuatu.

“Aku mencintaimu, Nara-ya. Hanya dirimu. Hingga detik inipun tak ada yang berubah dari perasaanku.”

“Tapi, kau tak mungkin meninggalkannya, Ji. Wanita itu mengandung darah dagingmu.”

“Tidak!” sanggah Ji Yong agak keras. Ia tak akan sanggup jika Nara meninggalkannya lagi. Ia tak akan membiarkan wanita itu pergi lagi darinya. “Semuanya akan berakhir saat Hae Yong melahirkan. Semuanya akan kembali seperti semula. Hae Yong ingin membawa bayinya bersamanya. Ia tak akan bersamaku lagi pada saat itu. maukah kau menunggu, Nara-ya?”

Wanita itu hanya mengangguk seadanya. Semua itu terasa begitu mengejutkan baginya. Tanpa berkata apapun, Ji Yong kembali meraih wanita itu ke dalam dekapan hangatnya. Ia begitu bahagia dengan kehadiran Nara yang menjelaskan segalanya. Menghidupkan kembali cinta yang sempat meredup di hatinya. Menyembuhkan luka yang tiga tahun ini menyiksanya. Kebahagiaan yang begitu membuainya. Membuatnya lupa akan apa yang tadinya ingin dilakukan. Lupa akan rasa sayang pada darah dagingnya yang berada di rahim Hae Yong. Bahkan ia lupa bahwa ada satu orang lagi di rumah itu yang tengah terluka karena kata-katanya.

“Kau tak perlu menunggu selama itu untuk mengakhiri semuanya, Kwon Ji Yong. Aku yang akan mengakhiri ini secepatnya.”

TBC…

Hehehe… tbc lagi ya reader. Gimana reader? Apa part ini memuaskan? Atau malah makin aneh? Jangan lupa komen yaa ^^  Makin banyak komen aku jadi makin semangat bikin lhoo. Dan sebelumnya aku mau minta maaf karna part selanjutnya pasti akan lama. Soalnya aku mau uts. Ditunggu yaa😀