Title: Hyangwonjeong’s Scandal (Part 4 of 4)

Author: Sora Jang

Cast:

  • Kwon Ji-yong (BigBang)
  • Ahn So-hee (Wonder Girls)

Genre: Romance, Fantasy, Sageuk

Length: Chapter

Twitter: @Soieya

***

Aku selalu diajarkan untuk menghargai sesuatu yang terlihat sederhana. Dan saat aku mendapati sebuah fakta sederhana mengenai sebuah rasa yang terselip dalam hatiku, bahwa aku mencintainya, maka kini, tak ada alasan untuk selalu mengabaikan fakta sederhana tersebut

***


Kim Ki-won tidak pernah tahu jenis penyakit seperti apa yang saat ini sedang diderita oleh putera keduanya hingga membuat seorang Tabib Istana seperti dia harus terbaring di dalam kamarnya selama satu minggu terakhir. Beberapa tabib yang juga adalah rekan kerja Hee-chul di Naeuiwon menyebutkan bahwa puteranya tersebut hanya kelelahan, namun Kim Ki-won tidak sepenuhnya percaya dengan keterangan tersebut. Menteri Perpajakan Joseon itu melihat hal lain dalam diri puteranya yang tak mampu dia simpulkan dengan benar. Apa yang menimpa puteranya tersebut jelas membuat Kim Ki-won cemas, selama ini hampir tidak pernah sekalipun Hee-chul sakit.

Karena alasan tersebutlah, pagi ini, sebelum pria paruh baya berwajah tegas itu pergi untuk menjalankan tugasnya di Istana, terlebih dahulu dia memutuskan untuk melihat kondisi puteranya tersebut.

“Hee-chul ah, gwaenchanha?” Kim Ki-won mulai membuka percakapan.

Ye abeonim, gwaenchanseumnida,” Hee-chul msih terbaring di atas tempat tidurnya.

Sebelum kembali melanjutkan ucapannya, Kim Ki-won terlebih dahulu menghela nafas.

“Hee-chul ah, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kau tidak pernah sakit sebelumnya, kau juga bukan tipe orang yang akan merasa kelelahan karena pekerjaan,” Kim Ki-won menghentikan ucapannya sejenak. Hee-chul menelan air liurnya begitu dia sadar bahwa tidak ada yang bisa dia sembunyikan dari ayahnya.

“Katakan pada abeoji Hee-chul ah, kau tahu bahwa kau tidak bisa dengan mudah menyembunyikan apapun dari abeoji,” Kim Ki-won kembali berucap, membuat Hee-chul semakin terpojok.

Hee-chul bangkit, kini pria itu duduk menghadap sosok ayahnya. Dia ingin kembali berbohong pada ayahnya, kembali mengarang cerita dengan memberi ayahnya penjelasan tentang penyakit yang dideritanya, Hee-chul hanya perlu menyebutkan nama salah satu penyakit dan dengan sedikit penjelasan medis ayahnya akan berhenti mencurigainya.

Namun masalahnya menjadi semakin rumit ketika bayangan mengenai sosok Raja Yongjo yang menyentuh So-hee dengan sangat lembut di Hyangwonjeong kembali menguasai setiap inci benaknya. Hee-chul tidak ingin kehilangan gadis itu, tidak setelah selama ini Hee-chul mencintai gadis itu dengan amat sangat tulus. Hee-chul harus mendapatkannya. Tidak ada yang berhak mendapatkan gadis itu selain dirinya.

Abeonim, ada hal yang ingin aku bicarakan,” suara pelan Hee-chul mengisi kekosongan yang sempat tercifta di kamar tidur miliknya. Begitu mendengar nada yakin dalam suara Hee-chul, juga tatapan tajam di kedua matanya, Kim Ki-won yakin bahwa sesuatu yang akan didengarnya dari mulut puteranya adalah sesuatu yang besar, dan hari ini Kim Ki-won tahu bahwa dia tidak perlu datang ke Istana sepagi ini.

***

Jika bukan kedua matanya sendiri yang menyaksikan begitu hebatnya kekuatan mistis itu, maka Raja Yongjo tentu akan lebih memilih untuk tidak mempercayai apa yang kini tertangkap oleh kedua matanya. Dan jika bukan karena tubuhnya sendiri yang merasakan begitu hebatnya kekuatan mistis itu, maka Raja Yongjo tentu akan lebih memilih untuk menyangkal apa yang kini dirasakannya.

Tepat setelah alunan suara ggwaenggwari terhenti dan semua mantra terlafalkan, jiwa keduanya, Raja Yongjo dan So-hee, kini telah berpindah dengan sempurna. Dan seperti sebelumnya, jika bukan dirinya sendiri yang merasakan apa yang saat ini terjadi, Raja Yongjo tidak akan mempercayai semuanya. Bahkan sampai saat ini pun, setelah satu bulan berlalu, Raja Yongjo selalu merasa sulit untuk menerima fakta bahwa ada kekuatan mistis yang mampu membuatnya begitu tercengang seperti saat ini.

Awalnya, siang itu dia memutuskan untuk menyelinap dari Istana hanya untuk menemui So-hee dan bertanya tentang ramuan lain yang mungkin bisa membuatnya mampu tertidur selama yang dia inginkan. Teh bawang putih memang mampu membuatnya tertidur, tapi hanya sampai satu jam, dan fakta itu tidak bisa membuatnya merasa puas. Walau bagaimanapun, Raja Yongjo butuh istirahat. Dan begitu So-hee menjelaskan padanya dengan nada riang bahwa dia bisa menukar jiwa mereka agar Raja Yongjo bisa menggunakan tubuh So-hee untuk tidur, maka tidak ada alasan lain bagi Raja Yongjo untuk menolaknya, meskipun awalnya Raja Yongjo tidak yakin bahwa gadis seperti So-hee mampu melakukan hal tak masuk akal seperti itu.

“So-hee ya, setelah satu bulan berlalu, apa kau tahu kalau pikiranku menjadi sangat jernih, aku juga bisa tertidur dengan puas. Semua ini karena dirimu, gomapsu So-hee ya,” Raja Yongjo, yang kini hadir dalam wujud dan suara So-hee berucap sambil tersenyum pada So-hee dalam wujud Raja Yongjo.

Jeonha tidak perlu berterima kasih. Sudah sepantasnya hamba membantu Jeonha,” So-hee menjawab, suaranya yang kini berubah menjadi suara Raja Yongjo, mau tidak mau masih membuatnya seolah ingin terkekeh. Satu bulan menjalani semua itu tak dapat menepis fakta bahwa mereka berdua masih selalu merasa risih saat mendengar suara atau mendapati tubuh mereka berbeda sebagaimana mestinya.

“Ah, karena aku selalu merasa tak sabar ingin cepat tertidur, aku sampai tidak menanyakan padamu apa yang selama ini kau lakukan saat kau bertukar jiwa denganku. Kau tidak menggunakan tubuhku untuk melakukan hal konyol bukan?” Raja Yongjo terkekeh menggoda So-hee.

Animnida Jeonha, bagaimana mungkin hamba lancang melakukan hal konyol dengan menggunakan tubuh suci Jeonha,” So-hee dengan cepat bersujud. Raja Yongjo semakin tertawa dengan keras begitu melihat pemandangan di hadapannya. Tubuhnya yang terbalut dalam setelah lengkap kerajaan kini bersujud dengan penuh ketakutan pada sosok So-hee yang hanya mengenakan setelah hanbok usang.

Jeonha, kenapa Jeonha tertawa?” So-hee mengerutkan keningnya, heran dengan sikap Raja Yongjo.

Aniya, baru kali ini aku melihat raut wajah ketakutan milikku sendiri So-hee ya,” Raja Yongjo kembali tertawa.

Begitu mendengar apa yang terucap oleh Raja Yongjo lewat mulut So-hee, gadis itu, So-hee, yang kini terjebak dalam tubuh Raja Yongjo, dengan gerakan cepat menyentuh wajah Raja Yongjo sambil menyeringai malu. Keduanya lalu sama-sama tertawa dengan keras, dan tawa mereka pun berhasil memecah kesunyian Hyangwonjeong.

“Ah So-hee ya, bisakah kau mengembalikan jiwaku lagi? Malam ini aku merasa tidak ingin tidur,” setelah beberapa saat Raja Yongjo kembali berucap.

Ye?” So-hee membulatkan kedua matanya lebar-lebar, gadis itu tidak paham mengapa Raja Yongjo tidak ingin tidur malam ini. Seharusnya jika memang dia tidak ingin melakukannya, Raja Yongjo tidak perlu memintanya untuk datang, dengan begitu So-hee tidak perlu pergi ke Istana dan membuat perjalanannya sia-sia.

“Aku tidak ingin tidur malam ini, entahlah,” Raja Yongjo menjawab lembut.

Ye Jeonha,” So-hee pun menjawab patuh, kini gadis itu mau tidak mau harus kembali memukul ggwaenggwari dan melafalkan mantra yang sering diucapkannya selama satu bulan terakhir meskipun jauh di dasar hatinya So-hee merasa sedikit kecewa entah untuk apa.

Setelah semua mantra itu terlafalkan dengan sempurna, jiwa keduanya sudah kembali pada tubuh mereka masing-masing. Merasa tidak ada yang perlu dilakukannya lagi, So-hee bangkit setelah menyembunyikan ggwaenggwari di tempat yang aman, gadis itu berniat meninggalkan Hyangwonjeong dan kembali ke gubuknya.

“Kau ingin pergi?” Raja Yongjo bertanya pada So-hee.

Ye Jeonha. Jeonha tidak ingin tidur malam ini, jadi sebaiknya hamba pergi,” So-hee menjawab dengan nada riang. Meskipun ucapannya terdengar sopan, namun cara bicaranya tetap saja jauh dari kata lembut.

“Aku memang tidak ingin tidur So-hee ya, tapi siapa yang memberimu izin untuk pergi dan meninggalkanku sendirian di Hyangwonjeong?” Raja Yongjo pura-pura marah pada So-hee.

Ye? Apa maksud Jeonha aku harus tetap menemani Jeonha di sini?” So-hee mengerutkan keningnya, menatap wajah Raja Yongjo.

“Benar, kau harus menemaniku di sini,” Raja Yongjo tersenyum. Begitu senyum itu tersungging, So-hee dengan cepat menunduk, menolak untuk melihat senyum itu.

So-hee pun yang beberapa saat lalu tampak ingin meninggalkan Hyangwonjeong kini kembali duduk tak jauh dari tempat Raja Yonjo duduk. Mereka terdiam beberapa saat.

“So-hee ya, apa yang selalu kau lakukan saat aku tertidur?” Raja Yongjo memecah kesunyian mereka.

“Menatap Jeonha saat sedang tertidur,” So-hee menjawab dengan polos. “Ah aniya, maksudku menatap sosokku sendiri saat tertidur,” seolah teringat, So-hee kembali membenarkan kata-katanya, segaris senyum tipis tergambar di wajahnya.

Raja Yongjo hanya mampu menatap So-hee dengan lekat begitu dia mendengar apa yang terlontar dari mulut So-hee.

Jeongnyeong nal anboneun geosideonya?[1]” Raja Yongjo berucap setelah sebelumnya berdehem dengan sejenak.

Ye Jeonha, hamba tidak melakukannya,” So-hee dengan cepat menggelengkan kepalanya beberapa kali sambil terus menggerakan kedua tangannya, berharap Raja Yongjo mempercayai ucapannya.

“Ehm, kalau begitu, sekarang tatap wajahku!” Raja Yongjo memberi penekanan pada setiap ucapannya agar So-hee mematuhi perintahnya.

Ye?” So-hee membulatkan kedua matanya.

“Tatap wajahku, kalau tidak aku akan menghukummu,” Raja Yongjo masih mempertahankan nada sabar miliknya, membuat So-hee semakin merasa bingung.

Jeonha…” So-hee tidak tahu apa yang harus dilakukannya, gadis itu semakin merasa terpojok.

Oho, dangjang bogeora![2] kini Raja Yongjo menaikkan suaranya, berharap kali ini So-hee mau menuruti perintahnya hingga Raja Yongjo tidak perlu menggerakkan kedua tangannya untuk merengkuh wajah So-hee agar gadis itu mau menatap wajahnya.

So-hee tidak memiliki pilihan lain selain menatap wajah Raja Yongjo, maka kini dengan gerakan pelan dan mata terpejam, So-hee mulai mengangkat wajahnya, dan saat kedua matanya terbuka, So-hee mendapati sosok Raja Yongjo sedang menatapnya dengan lekat dan tersenyum manis padanya.

So-hee ingin kembali menundukkan wajahnya karena gadis itu tidak mampu menatap ulang ke dalam dua bola mata Raja Yongjo, namun ketika So-hee baru saja ingin menggerakan kepalanya, tangan Raja Yongjo terlebih dahulu menarik tubuhnya, hingga kini wajah itu terbenam sempurna di dada kurus Raja Yongjo.

Jika sebelumnya So-hee sadar bahwa dia memiliki jantung karena dia mampu merasakan benda itu berdetak di dadanya, maka kali ini gadis itu sadar bahwa dia tidak memiliki paru-paru, kerena nyatanya kini So-hee merasa tiba-tiba tidak bisa bernafas.

***

    Begitu mendengar suara pedang yang beradu di luar paviliun Hyangwonjeong, Raja Yongjo dan So-hee tahu bahwa sesuatu telah terjadi, dan mereka yakin bahwa salah satu pedang yang sedang beradu itu adalah pedang milik Choi Seung-hyun.

Jeonha…” So-hee menatap kedua mata Raja Yongjo dengan penuh ketakutan.

Gwaenchanha So-hee ya, aku akan mengurus semuanya. Kau bersembunyilah, aku tidak akan membiarkan mereka masuk!” Raja Yongjo menyentuh kedua bahu So-hee dengan lembut, mencoba menenangkan gadis itu.

Oso ka!” Raja Yongjo membantu So-hee bangkit, lalu mereka kini berjalan ke arah yang berlawanan, So-hee bersembunyi, sedangkan Raja Yongjo bergegas menuju pintu utama untuk melihat apa yang terjadi di luar sana.

Saat pintu Hyangwonjeong terbuka, Raja Yongjo tidak bisa menahan rasa terkejutnya karena kini di hadapannya telah berdiri para Menteri Joseon, puluhan prajurit, Kasim Kang, Choi Seung-hyun, dan beberapa dayang istana. Begitu melihat sosok Raja Yongjo yang sedang berdiri di ambang pintu Hyangwonjeong, dengan gerakan lihai Choi Seung-hyun berlari menghampiri Raja Yongjo, berdiri di samping Raja Yongjo untuk melindunginya.

Jeonha, sepertinya ada penyusup masuk ke dalam Hyangwonjeong dan melaporkan masalah ini kepada para Menteri,” Seung-hyun berujar pelan, menyampaikan masalah yang terjadi. Raja Yongjo menghela nafas pelan.

“Apa yang kalian lakukan di sini?!” Suara teriakan Raja Yongjo yang penuh dnegan kemarahan bergema di tengah kegelapan malam.

Jeonha, justru hal itulah yang ingin kami tanyakan. Apa yang sebenarnya Jeonha lakukan di dalam Hyangwonjeong selama satu bulan terakhir?” Menteri Pertahanan, Jang Byun-shik, melontarkan pertanyaanya, sekutu Kim Ki-won itu menyembunyikan senyum licik miliknya dibalik kepalanya yang kini sedang tertunduk memberi hormat pada Raja Yongjo .

“Menteri Pertahanan, apa hanya untuk mengetahui yang aku lakukan di dalam Hyangwonjeong kau sampai harus mengerahkan seluruh pasukan militermu? Tidakkah semua ini terlalu berlebihan?” Raja Yongjo melayangkan pandangan tajam pada Jang Byun-shik, tetap merasa tenang meskipun dia tahu bahwa saat ini para Menteri yang sebagian besar adalah para sekutu Menteri Perpajakan, Kim Ki-won, sedang berusaha untuk menjatuhkannya.

Jeonha, apa yang sebenarnya sedang Jeonha lakukan di dalam Hyangwonjeong?” Kali ini pertanyaan tersebut meluncur dari mulut orang yang Raja Yongjo yakini menjadi dalang dari semua ini, Kim Ki-won.

“Kim Hojo, mungkin kau sudah lupa bahwa sejak dua bulan yang lalu aku selalu mengalami kesulitan untuk tertidur, dan yang aku lakukan di dalam Hyangwonjeong adalah membunuh kebosananku karena aku masih tak mampu untuk tertidur,” suara Raja Yongjo mengalun dengan tenang.

“Dengan bermain ggwaenggwari?” Seolah bukan sosok Raja Joseon yang kini diajaknya untuk berdebat, Kim Ki-won tak juga menyerah, pria paruh baya itu yakin bahwa dirinya berada di atas angin, bahwa apa yang disampaikan oleh puteranya adalah sebuah kebenaran. Kebenaran yang akan mampu membawa Raja Yongjo pada kehancuran.

“Kenapa? Apa menurutmu hanya pemain ggwaenggwari yang boleh memainkannya?” Suara itu terdengar tajam, membuat semua orang yang kini tengah berkumpul di pelataran Hyangwonjeong seketika menundukkan kepala mereka.

“Maafkan kami Jeonha, tapi kami harus mengetahui dengan pasti apa yang sebenarnya Jeonha lakukan di dalam Hyangwonjeong. Kami harus memeriksa paviliun tersebut,” Perdana Menteri Shim Seung-hwan yang sejak tadi hanya terdiam tanpa mengatakan apa-apa kini membuka suaranya. Pria bijak itu tidak ingin Raja Yongjo terus dilecehkan seperti itu, dia yakin bahwa apa yang didengarnya dari Menteri Pertahanan bahwa Raja Yongjo menyembunyikan seorang gadis di dalam paviliun tersebut tidaklah benar. Raja Yongjo yang dikenalnya selalu bijak tidak akan melakukan perbuatan yang tercela seperti itu.

“Perdana Menteri Shim, sekarang kau seperti tak lagi mempercayaiku,” ucapan bernada kecewa itu berhasil membuat Perdana Menteri Shim tertunduk semakin dalam.

“Periksa seisi Hyangwonjeong!” Suara berat bernada perintah milik Kim Ki-won itu bergema di tengah keheningan malam, seulas senyum penuh kemenangan tergambar di wajahnya.

Jeonha…”

Kali ini ucapan itu keluar dari mulut Seung-hyun dan Kasim Kang secara bersamaan, gurat cemas tergambar jelas dalam wajah mereka. Keduanya paham bahwa hal buruk akan menimpa Raja Yongjo begitu para prajurit menyisir seluruh sudut Hyangwonjeong. Mereka akan berhasil menemukan So-hee dan semuanya akan semakin memburuk. Tak hanya bagi Raja Yongjo, tapi juga bagi gadis itu.

Raja Yongjo berharap dia bisa melakukan sesuatu yang akan mampu menghentikan prajurit memeriksa Hyangwonjeong, tapi pria itu sadar bahwa dia tidak akan mampu melakukannya, tidak saat para Menteri berdiri di hadapannya, menatapnya tanpa berkedip. Saat ini apa yang mampu dilakukannya hanyalah berdoa dan berharap, bahwa semoga saja para prajurit itu tidak akan menemukan So-hee, bahwa gadis itu bisa lebih sedikit pintar memilih tempat untuk bersembunyi.

Raja Yongjo hanya bisa berdoa dan berharap, meskipun beberapa menit kemudian doa dan harapan itu menguap seketika seiirng dengan teriakan salah seorang prajurit yang bergema dengan jelas, bahwa mereka berhasil menemukan So-hee di tempat persembunyiannya. Saat itu Raja Yongjo pun paham dengan amat sangat bahwa meskipun dia adalah seorang Raja Joseon tapi Langit tak selalu mengabulkan apa yang diinginkannya.

”Kami menemukan gadis ini di dalam Hyangwonjeong!”

***

            “Jeonha, apa yang ingin Jeonha lakukan?”

Kasim Kang dengan cepat berlari di belakang Raja Yongjo begitu dia melihat sosok Raja Yongjo bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah pintu dengan tergesa. Pertanyaan Kasim Kang diabaikan begitu saja oleh Raja Yongjo, saat ini dia tidak ingin mendengarkan nasehat apapun dari Kasim Kepala yang telah bekerja untuknya selama dua puluh tahun terakhir.

Tepat saat pintu kamarnya terbuka, langkah Raja Yongjo seketika terhenti begitu dia mendapati sosok Seung-hyun berdiri di depannya.

“Seung-hyun ah, apa yang kau dapatkan? Apa dia baik-baik saja?” Raja Yongjo meraih kedua pundak Seung-hyun, nada cemas terdengar dalam suaranya.

“Saat ini agasshi sedang menjalani gosin[3],” Seung-hyun menjawab dengan suara pelan, pengawal pribadi Raja Yongjo itu menundukkan kepalanya, tak mampu menyampaikan berita buruk tersebut dengan wajah tegak.

Seketika kedua tangan Raja Yongjo terlepas dari bahu Seung-hyun begitu dia mendengar apa yang telah disampaikan Seung-hyun padanya. Mata Raja Yongjo yang selalu terlihat jernih itu kini tampak memerah, air mata mulai menyeruak, menghalangi pandangannya.

“Dia pasti sangat kesakitan, gadis itu pasti sangat ketakutan,” Raja Yongjo merasakan sesuatu yang pahit di tenggorokannya begitu dia mengucapkan kalimat tersebut, air mata yang sejak tadi menghalangi pandangannya kini mengalir dengan pelan di kedua pipinya.

Jeonha…

Kasim Kang menatap sosok Raja Yongjo dengan perasaan iba.

“Dae-sung ah, aku harus pergi menemuinya. Gadis itu tidak bersalah, aku harus membebaskannya,” Raja Yongjo menghapus air matanya, kini dia kembali melangkahkan kakinya, berjalan melewati Seung-hyun.

Andwaemnida Jeonha,” Kasim Kang melakukan hal yang sama, dia kembali berjalan dengan cepat di belakang Raja Yongjo, mencoba kembali membujuk Raja Yongjo untuk tidak melakukan hal yang akan semakin membuat Raja Yongjo itu terpojok.

Jeonha, jika Jeonha melakukan hal itu, Jeonha hanya akam semakin memberi kesempatan kepada Kim Ki-won untuk menjatuhkan Jeonha,” ucapan Kasim Kang kali ini berhasil menghentikan langkah kaki Raja Yongjo yang kini telah berada di ambang pintu kedua.

“Saat ini para Menteri sedang mengadakan pertemuan mengenai masalah ini. Mereka menuduh Jeonha telah melakukan perbuatan tercela karena telah menyembunyikan gadis itu di dalam Hyangwonjeong, terlebih lagi gadis itu tidak memiliki ikatan apapun dengan Jeonha,”Kasim Kang kembali melanjutkan kalimatnya. Raja Yongjo hanya mampu terdiam.

Jeonha belum menikah. Jika So-hee agasshi adalah pelayan istana, atau gadis yang bekerja di Istana, semua itu tidak akan menjadi masalah, semua gadis di Istana adalah milik Jeonha. Tapi So-hee agasshi berbeda, dan semua itu semakin memperkeruh masalah,” Kasim Kang menjelaskan lebih dalam.

Jeonha juga tidak bisa mengatakan pada para Menteri bahwa gadis itu hanya membantu Jeonha untuk tidur dengan kemampuannya sebagai seorang mudang,” Kasim Kang menambahkan, membuat Raja Yongjo semakin terdiam, Raja Joseon itu tampak berpikir dengan keras.

Beberapa saat kemudian Raja Yongjo mendesah dan menatap lekat Kasim Kang.

“Dae-sung ah, jika apa yang kau katakan benar, maka aku merasa hanya ada satu hal yang bisa menyelesaikan semua masalah ini. Dan aku tahu bahwa aku harus melakukannya,” Raja Yongjo berujar pelan, dia masih tak mau melepaskan tatapanya dari kedua bola mata Kasim Kang yang kini membulat.

Jeonha apakah Jeonha…..” Kasim Kang tak mampu melanjutkan ucapannya, tak yakin dan terlalu takut jika dirinya salah menyimpulkan.

“Kau benar Dae-sung ah, aku akan menikahi gadis itu,” Raja Yongjo tersenyum pelan, suaranya kini terdengar lebih lembut dan tanpa beban, namun nyatanya suara tersebut tetap saja tak mampu membuat Kasim Kang dan Seung-hyun terbebas dari rasa terkejut.

Jeonha tidak perlu melakukan hal itu hanya karena merasa bersalah pada So-hee agasshi,Kasim Kang berucap, memohon pada Raja Yongjo.

“Aku tidak melakukannya hanya karena perasaan bersalah Dae-sung ah,” Raja Yongjo menjawab.

Jeonha…” Kasim Kang memohon.

“Dae-sung ah, aku selalu diajarkan untuk menghargai sesuatu yang terlihat sederhana. Dan saat aku mendapati sebuah fakta sederhana mengenai sebuah rasa yang terselip dalam hatiku, bahwa aku mencintainya, maka kini, tak ada alasan untuk selalu mengabaikan fakta sederhana tersebut,” Raja Yongjo untuk terakhir kalinya mencoba menyakinkan Kasim Kang bahwa apa yang ingin dilakukannya bukan hanya sebatas perasaan bersalah bada So-hee, tapi karena Raja Yongjo tahu bahwa dia mencintai gadis mudang itu.

Kasim Kang tidak pernah sekalipun merasa ragu terhadap apa yang diucapkan oleh Raja Yongjo padanya, namun perasaan cemas mengenai tahta kepemimpinan Raja Yongjo begitu menguasai setiap inci tubuhnya saat ini. Kasim Kang harus kembali membujuk Raja Yongjo agar Raja Joseon itu kembali mempertimbangkan apa yang ingin dilakukannya. Saat Kasim Kang berniat membuka mulutnya, kedua matanya justru mendapati sesuatu dalam sorot mata Raja Yongjo yang selama dua puluh tahun terakhir tak pernah sekalipun didapatinya. Sesuatu yang selalu Kasim Kang harap bisa dia temukan dalam sorot mata Raja Yongjo selama ini, sorot cinta yang begitu tulus.

Kasim Kang tahu bahwa dirinya mencemaskan Raja Yongjo, namun begitu sorot mata itu terlihat jelas olehnya, Kasim Kang tahu bahwa dia hanya perlu menemani Raja Yongjo berjalan menuju tempat dimana So-hee menjalani masa interogasinya, dan setelah itu semuanya akan baik-baik saja.

***

 Kain hanbok putih yang saat ini tengah melekat di tubuh kurus So-hee telah ternodai oleh darah yang mengalir dari tubuh gadis itu, darah yang keluar dari beberapa luka yang diterimanya selama masa interogasi yang harus dilaluinya sejak malam tadi. Interogasi itu masih tetap berlangsung sampai saat ini, saat matahari tepat berada di atas kepala gadis itu, dan So-hee tahu bahwa dirinya akan terus mendapat siksaan sampai orang-orang yang kini sedang menginterogasinya itu mendapat jawaban yang mereka inginkan, bahwa So-hee harus menerima tuduhan yang dialamatkan padanya. Bahwa gadis itu telah melakukan perbuatan tercela dengan Raja Yongjo di dalam Hyangwonjeong.

Mereka mengancam So-hee dengan kematian, dan So-hee tahu bahwa dia tidak perlu merasa takut hingga gadis itu harus menyerah dan mengakui apa yang tidak pernah diperbuatnya. So-hee tidak pernah takut pada kematian, gadis itu pernah sekarat sebelumnya, tidak ada alasan untuk kembali merasa takut. Yang terpenting baginya saat ini adalah keselamatan Raja Yongjo, tidak ada seorang pun yang boleh menyakiti Raja Joseon tersebut. Joseon tidak berhak kehilangan Raja bijak seperti Raja Yongjo untuk seorang gadis seperti So-hee, tidak berhak sama sekali.

“Sampai kapan kau akan terus bersikap keras kepala agasshi?” Kim Ki-won menatap So-hee dengan tatapan meremehkan, pria itu berdiri bersama beberapa sekutunya di hadapan So-hee, kembali mencoba membuat gadis itu menyerah dan bersedia mengatakan apa yang mereka inginkan.

“Kau tidak akan menemukan batas dari sikap keras kepalaku, Daegam[4],” So-hee menjawab dengan sisa tenaga yang masih dimilikinya, gadis itu menatap nanar ke arah Kim Ki-won dan sekutunya.

“Kurang ajar!” Kim Ki-won berteriak dengan lebih keras, kesabaran pria paruh baya itu sudah habis. Dia tidak ingin menunggu lebih lama lagi untuk bisa meruntuhkan posisi Raja Yongjo. Raja muda itu sudah terlalu bnayak menghalangi rencananya. Dia harus bisa membuat So-hee mengaku. Saat ini kartu yang dimilikinya hanya So-hee.

“Berikan aku pedang,” dengan suara dingin, Kim Ki-won berujar, membuat seluruh pasang mata yang ada di tempat tersebut terpaksa membulat.

Daegam, apa yang ingin Daegam lakukan? Jangan bertindak gegabah,” Jang Byun-shik dengan cepat berdiri di samping Kim Ki-won, memperingatkan sekutunya untuk bersikap hati-hati.

“Kau tidak usah cemas, aku tidak akan bertindak bodoh. Sebaliknya, aku akan membuat gadis itu membuka mulutnya,” sebuah seringai terukur di bibir Kim Ki-won. Kini dia berjalan ke tempat dimana tubuh So-hee terikat pada sebuah kursi, tepat berada di tengah lapangan Istana.

Agasshi, jika aku memberimu pilihan, mana yang sebaiknya kau pilih? Raja Yongjo yang bijak? Atau ayahmu yang malang?”

So-hee tidak pernah menyangka bahwa sosok Kim Ki-won, yang dulu sempat menolong nyawanya, akan berubah menjadi sedemikian licik dan kejamnya. Rasa kecewa pada sosok itu semakin bertambah dalam diri So-hee begitu dia kembali teringat dengan pengakuan Hee-chul malam tadi, tepat sesaat setelah So-hee terkurung dibalik jeruji kayu penjara Joseon. Pengakuan Hee-chul tentang perbuatan gegabahnya yang telah membocorkan rahasia So-hee dan Raja Yongjo pada ayahnya hingga berujung pada malapetaka yang kini menimpa gadis itu.

Kedua mata So-hee membulat begitu mendengar maksud yang terselip dalam pertanyaan penuh makna yang terujar dari mulut Kim Ki-won. Sementara itu Kim Ki-won hanya tertawa puas begitu melihat reaksi So-hee, itu yang diharapkannya, membuat gadis itu marah dan lemah hingga akhirnya dia akan menyerah dengan sukarela.

Daegam, kau pikir aku mudah untuk kau ancam? Aniyo, aku tidak semudah itu,” So-hee menjawab sambil menatap benci sosok Kim Ki-won, gadis itu menggertakkan giginya, menahan amarah.

“Kau ingin menguji kesabaranku rupanya,” Kim Ki-won memberi jeda sejenak, pria paruh baya itu lalu berbalik membelakangi So-hee, meninggalkan gadis itu dan berjalah ke arah para sekutunya.

“Cambuk gadis keras kepala itu!”

Teriakan Kim Ki-won bergema di sepanjang lapangan tersebut, beberapa detik kemudian seorang prajurit sudah berdiri di samping So-hee, siap untuk mencambuk gadis itu. So-hee memejamkan kedua matanya begitu teriakan bernada siap milik prajurit itu terdengar di telinganya, siap kembali menerima rasa sakit di tubuhnya.

So-hee tidak yakin apakah karena tubuh gadis itu telah menerima begitu banyak cambukkan sejak tadi malam hingga kini gadis itu tidak merasakan apa-apa atau apakah karena memang prajurit itu belum mengayunkan cambuknya? Dan saat semua kebingungan itu memenuhi benaknya, sebuah suara berhasil membuat kedua mata gadis itu terbuka lebar.

Jeonha….”

Suara yang telah berhasil membuat kedua mata So-hee terbuka lebar itu entah terlontar dari mulut siapa, So-hee tidak peduli. Yang dilakukan gadis itu sesaat setelah suara itu terdengar adalah dengan cepat mengalihkan kepalannya pada sosok Raja Yongjo yang kini telah berdiri di hadapannya, menatap lekat dirinya.

Jeonha, apa yang Jeonha lakukan? Jeonha tidak pantas berada di tempat seperti ini,” Di tengah posisinya yang kini tampak bersujud pada Raja Yongjo seperti yang lainnya, Kim Ki-won mengangkat kepalanya dan berujar tegas.

Raja Yongjo mengubah posisinya, berbalik untuk menatap sosok Kim Ki-won.

“Lalu apa seorang Menteri Perpajakan sepertimu lebih pantas berada di tempat ini?” Raja Yongjo menatap nanar Kim Ki-won yang dengan cepat menundukkan kepalanya, merasa tersulut emosi dengan permainan kata Raja Yongjo.

“Dengar semuanya!” Raja Yongjo berteriak keras, nada penuh emosi terdengar jelas, dia memberi jeda sesaat sebelum melanjutkan ucapannya, ditatapnya setiap sosok yang ada di hadapannya, sosok para Menteri yang selama ini menjadi penentang dalam setiap kebijakannya.

“Apa yang sedang kalian lakukan pada gadis ini adalah sebuah kesalahan besar. Gadis ini tidak pernah melakukan perbuatan tercela apapun denganku. Sebaliknya, dia mencoba membantuku untuk mengobati penyakit sulit tidur yang aku alami. Aku bisa meminta para Tabib Naeuiwon untuk membuktikannya,” Raja Yongjo masih berteriak dengan keras, mencoba untuk menyelamatkan nyawa So-hee.

“Seharusnya kalian mendapat hukuman besok, tapi aku tidak akan melakukannya,” suara Raja Yonjo kini berubah menjadi lebih tenang.

Setiap orang yang ada di tempat tersebut saling bertatapan heran begitu mendengar ucapan terakhir Raja Yongjo. Sesaat kemudian mereka semua kembali bersujud lebih dalam.

Manggeunsaomnida Jeonha…[5]” Suara yang berasal dari mulut setiap orang itu pun bergema memenuhi udara.

“Prajurit, cepat lepaskan ikatan gadis itu!”

So-hee tidak bisa menahan airmatanya begitu mendengar ucapan Raja Yongjo yang memerintahkan prajurit untuk membebaskannya, gadis itu hanya bisa tersenyum sambiil menatap sosok Raja Yongjo yang mengabur dalam pandangannya.

“Dayang Han, antar So-hee ke Hyangwonjeong dan minta Tabib Istana untuk mengobati luka-lukanya. Dia harus segera sembuh untuk menjalani seupwi[6],” Raja Yongjo kembali memerintah, kali ini ucapannya semakin membuat setiap orang tercengang, terlebih lagi So-hee. Gadis itu hanya bisa menatap Raja Yongjo dengan kedua matanya yang membulat. Sentuhan lembut dan penuh hati-hati milik dayang Han pun seolah tak dirasakan gadis itu, So-hee hanya mematung.

“Kalian dengar itu? Dia akan menjadi pengantinku. Menjadi Ratu Joseon,” Raja Yongjo kembali berteriak agar setiap orang mendengar dengan jelas ucapannya. Membuat setiap orang tak berhenti merasa terkejut.

Tanpa memperdulikan tatapan terkejut yang terpancar dari setiap pasang mata yang ada di tempat tersebut, Raja Yongjo berjalan mendekati So-hee yang kini berdiri berdampingan bersama Dayang Han.

“Pastikan tangan dan kakimu sembuh dengan sempurna agar kau tidak perlu memecahkan banyak piring saat menjalani supwi So-hee ya,” Raja Yongjo berbisik pelan sambil tersenyum lembut pada So-hee. Sementara itu So-hee tidak bisa berkata sedikitpun karena gadis itu masih tidak mampu mencerna apa yang saat ini sedang terjadi. Gadis itu hanya bisa menatap sosok Raja Yongjo, bahkan saat Dayang Han membawanya dengan hati-hati menuju Hyang wonjeong pun, So-hee masih tidak paham dengan semuanya.

***

     Persis seperti saat pertama kali Raja Yongjo menunjukkan Hyangwonjeong pada So-hee untuk pertama kalinya, kini keduanya tampak berdiri di tengah jembatan Chwihyanggo, di bawah bulan purnama Joseon yang membuat air sungai yang sebagian dihiasi oleh bunga teratai itu tampak berkilau indah. Tubuh So-hee belum sepenuhnya membaik, rasa sakit masih menjalar di setiap inci tubuhnya, namun fakta bahwa saat ini dia sedang berada di samping sosok Raja Yongjo mampu membuat rasa sakit itu seolah lenyap.

“So-hee ya,” Raja Yongjo mulai membuka suaranya di tengah keheningan malam yang sejak tadi menyelimuti mereka.

Ye Jeonha,” So-hee menjawab dengan cepat dan lantang, persis seperti saat pertama kali gadis itu bertemu dengan Raja Yongjo. Suaranya terdengar sampai di ujung jembatan, membuat Kasim Kang, Choi Seung-hyun, dan beberapa dayang serta prajurit tersenyum, begitu juga dengan Raja Yongjo. So-hee memejamkan matanya sejenak sambil berdecak, kesal dengan sikapnya yang tak kunjung berubah seperti gadis Joseon normal meskipun Dayang Han sudah melatihnya tanpa henti sejak tiga hari yang lalu.

“Menurutmu, apakah aku seorang Raja Joseon yang kejam?” Raja Yongjo menghela nafas begitu dia menyelesaikan ucapannya, matanya menatap lurus Hyangwonjeong.

Ye?” So-hee mengerutkan keningnya, gadis itu menatap heran Raja Yongjo.

“Tanpa bertanya padamu terlebih dahulu aku memintamu untuk menikah denganku. Bukankah itu kejam?” Suara Raja Yongjo terdengar sedih, kali ini dia menatap lekat ke dalam dua bola mata So-hee.

So-hee terdiam sesaat, mencoba mencari kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Raja Yongjo. Gadis itu tertunduk dalam.

Animnida Jeonha, Jeonha tidak perlu bertanya padaku. Tidap perlu,” So-hee mengangkat wajahnya lalu menjawab pelan, sebuah senyuman tergambar di wajahnya.

“Meskipun Istana akan mengurungmu, meskipun Istana akan memaksamu untuk berucap santun dan lembut, meskipun Istana akan memenjaramu dengan berbagai aturan, aku harap kau akan tetap berada di sisiku, tetap menjadi istri Kwon Ji-yong, tetap menjadi Ratu Joseon yang bijak,” Raja Yongjo menatap So-hee lekat.

Ye Jeonha,” So-hee menjawab lembut.

Saranghamnida So-hee ya.”

Kalimat tersebut tidak pernah sekalipun terlontar dari mulut Raja Yongjo pada seorang gadis kecuali ibunya sendiri, dan begitu ucapan tersebut terlontar, Raja Yongjo merasakan sebuah rasa yang dipahaminya sebagai sebuah kebahagiaan. Bersama dengan kalimat yang terlontar tersebut, Raja Yongjo ingin mengatakan pada So-hee seberapa besar keinginannya untuk menghabiskan sepanjang hidupnya dengan gadis itu, hanya dengan gadis itu.

So-hee pun tidak pernah benar-benar mengerti bagaimana perasaan cinta yang sebenarnya. Baginya cinta sama halnya dengan kekuatan mistis yang tidak akan pernah bisa dengan mudah dipahaminya, tapi apa yang saat ini dirasakannya adalah bagaimana hebatnya kekuatan cinta tersebut hingga mampu membuat dada gadis itu sesak oleh rasa bahagia yang menyelimutinya. Untuk pertama kalinya So-hee memiliki sebuah keinginan untuk menghabiskan seluruh hidupnya dengan orang lain selain ayahnya sendiri, dengan Raja Yongjo.

Jeodo saranghamnida Jeonha.”

Begitu melihat senyuman di wajah So-hee, Raja Yongjo dengan lembut menyentuh kedua bahu So-hee, membalas senyuman tersebut, dan dengan pelan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Kasim Kang, Choi Seung-hyun, para dayang dan prajurit yang sejak tadi menatap keduanya kini dengan cepat mengalihkan tatapan mereka, membiarkan keduanya tetap berdekapan di bawah sinar bulan purnama. Tak lagi merasa cemas bahwa apa yang saat ini mereka lihat adalah sebuah skandal, karena mereka paham bahwa tak lama lagi akan lahir seorang Ratu Joseon diantara mereka. Seorang Ratu yang mereka yakini akan mampu menjadi sebijak Raja Yongjo, menjadi sosok yang selama ini mereka nantikan kehadirannya, yang mereka harapkan akan mampu menopang Raja Yongjo. Dan mereka yakin bahwa gadis yang saat ini ada dalam dekapan Raja Yongjo itu adalah sosok yang selama ini mereka harapkan. Sosok Ratu Joseon yang bijak, yang akan membuat Joseon semakin bersinar.


[1] Kau benar-benar tidak melihatku?

[2] Cepat lihat!

[3] Penyiksaan selama masa interogasi.

[4] Tuan

[5] Terima Kasih atas kebijaksanaan Yang Mulia

[6] Latihan untuk upacara pernikahan Kerajaan