Big Sun-Day?

Author  : @chocolakay

Length  : Ficlet

Genre   : Romantic, Friendship, Brothership

Rating   : SU (semua umur)

Cast       : Bigbang member, Hyun

Taeyang membuka pintu dormnya. Ia sadar pintu itu tidak terkunci. Otaknya masih belum tersingkronisasi akibat penerbangan malam plus kelelahan setelah pulang dari Indonesia. Oke, Indonesia baru pertama kali mereka menjejakkan kaki disana, dan ekspektasi VIP luar biasa. Tapi mereka tetap lelah kan?

Jiyong dan kawan-kawan kaget ketika sosok yang mereka kenal baik berdiri dengan secangkir coklat hangat di tangan.

“As expected.” Perempuan itu menarik napas panjang, menoleh dan menunjuk ke meja di ruang tengah, dimana 5 gelas lain menguar aroma coklat kental. Semua tidak jadi masuk ke kamar, tapi malah menghampiri gelas yang menunggu mereka. Perempuan itu duduk di sofa terpanjang yang menghadap ke TV. Daesung memeluk kaki TOP sementara Seungri meniup coklatnya di sofa single sambil menaikkan kakinya. Jiyong duduk di sofa dengan TOP, yang menyeruput coklatnya.

“Hyun…” Taeyang menyingkirkan tangan perempuan itu dari pangkuannya dan merebahkan diri disana. Perempuan itu terkekeh geli saat rambut Taeyang menyentuh kulitnya yang terekspos.

“Aku harap 2NE1 juga ada disini.” Seungri menyesap coklat itu.

“Woow, Hyun, kau tahu tidak ada coklat panas yang lebih enak daripada yang kau buat.” Jiyong memuji calon adik iparnya.

“Bagaimana konsernya?” Hyun mengubah topik percakapan.

“Indonesia punya banyak VIP.” TOP menerawang, mengingat konsernya. “Eh, kapan kau datang?” sambung TOP lagi.

“Well, sekitar 4 jam yang lalu.” Hyun mengganti kanal televisi. Tidak ada acara yang menarik, pikirnya.

“Ngapain datang kesini?” empat jam yang lalu adalah jam 8 malam, dan sekarang sudah tengah malam. TOP bertanya-tanya kenapa bingu couplenya menunggu kedatangan mereka.

“Karena hari ini hari minggu.” Hyun melirik jam dinding sebentar. Sudah lewat jam 12 malam kan?

“Memang ada apa dengan hari minggu?” TOP bingung.

“Hyung, itu urusan mereka.” Jiyong menahan tawa melihat ekspresi bingung TOP.

“Semua juga sudah tahu kalau Hyun selalu datang hari minggu.” Daesung meluruskan kakinya.

“Minggu itu bahasa Inggrisnya apa oppa?” Hyun bertanya.

“Sunday?”

“Itu hyung tahu.” Taeyang melirik TOP.

“Maksudnya?”

“Pokoknya, hari ini hari punyaku.” Taeyang menatap Hyun.

“Gak mau ah.” Hyun membalas.

“Terus ngapain datang ke sini?” Taeyang mulai sinis.

“Oh ya, Indonesia juga punya banyak wanita cantik…” Seungri menatap kitchen set diseberangnya dengan pandangan mesum.

“Magnae, tidak bisakah kau berhenti memikirkan perempuan? Apa kata Chaerin kalau dia mendengarmu nanti?” Daesung masih memeluk kaki TOP, membayangkan bahwa kaki itu adalah guling.

“Well, Indonesia yang kalian lihat itu kan cuman 1 kota, yaitu Jakarta. Pasti banyak VIP lain yang belum bisa dan sempat melihat kalian konser disana.” (termasuk author) Hyun menghela napas lagi. Filmya tidak menarik.

“Sebanyak itu kah?” Taeyang membulatkan matanya.

“Gak usah sok imut deh.” Hyun memandang wajah di pangkuannya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah itu, hingga rambutnya menyapu wajah Taeyang. Kupu-kupu mulai beterbangan di perut Taeyang, membuat sebuah bayangan penuh kebahagiaan. Perlahan namun lemut, hembusan angin menerpa wajahnya, tidak tepatnya matanya. Lho? Apa-apaan ini?

Seluruh ruangan meledak dalam tawa, kecuali dua orang itu tentunya. Hyun memang bisa membuat kejutan lucu, pikir Jiyong. Dibalik mata gelap, dan bundar itu ada persamaan, antara hyungnya dan Hyun. Sama-sama aneh, tapi lucu.

Kenapa? Batin Taeyang.

Seolah tahu isi hati Taeyang, Hyun menjawab. “Menghapus ingatanmu akan perempuan cantik di Indonesia.”

Jawaban itu membuat mereka semua kembali melebur dalam tawa. Hyun cuma tersenyum melihat mereka. Taeyang menghela napas mendengarnya. Ia tahu Hyun-nya masih marah karena foto yang di uploadnya di Instagram jumat lalu.

“Nih, boneka yang dikasih fans yang aku upload di Instagram buatmu aja deh.” Taeyang bangkit, dan merogoh isi tasnya, mengambil boneka teddybear dengan jaket berwarna merah.

“Gak mau.” Hyun masih menonton terpaku pad TV, meski filmnya tidak menarik.

“Oh iya, Hyun, kau tahu. Kami kemarin dipijat loh.” Daesung senyum-senyum sendiri saat mengingat badannya yang segar-bugar habis dipijat.

“Ya, aku jadi ingat kamu.” Jiyong menerawang, teringat saat terakhir kali Hyun memijat badannya. Eits, jangan salah sangka dulu, Jiyong sering datang ke rumah Hyun cuman buat di pijat sama Hyun, atau kalau tidak, menelepon Hyun memintanya datang ke dorm .

“Hmm, mulai deh.” Taeyang cemburu.

“Hyun, pijat aku lagi…” Jiyong mengulurkan tangannya, mengucapkan kalimat itu dengan nada manja. Taeyang tahu, Hyun paling tidak bisa menolak permintaan member Bigbang, padahal kadang permintaan itu tidak sanggup ia tepati.

“Gak boleh.” Taeyang menepis tangan sahabatnya itu.

“Hehehe….” Hyun mengeluarkan tawa bingu khasnya. Ia bingung harus menjawab apa. Ia sih tidak keberatan memijat seluruh member Bigbang hari ini. Hari ini kan hari minggu, hari libur.

“Heuh, mulai deh. Overprotectivenya.” Jiyong memutar bola matanya. Tapi percuma, Jiyong dilarang, Daesung sudah siaga di depan Hyun, membuka bajunya (slurp…) dan menyodorkan minyak bayi. Tangan Hyun juga sudah mulai menggerayangi punggung Daesung, tanpa sepengetahuan Taeyang pastinya.

“YAH!” Taeyang melempar kaus Daesung dan mengusirnya, dengan menendang punggung Daesung. Kalau Hyun datang ke dorm, pasti jadinya begini. Makanya ia mendeklarasikan kalau hari minggu adalah harinya, Sun-Day is his day! Hanya dia yang boleh memiliki Hyun untuk hari minggu!

“Aish, hyung…” Daesung kembali bergeser.

“Gak apa. Ngantri tapi yah?” Hyun menggeser kepala Taeyang dan bangkit untuk mengambil gelas-gelas yang sudah kotor, dan mencucinya.

“Maksudnya?” Taeyang bertanya-tanya.

“Gak apa, tapi satu-satu kalau mau minta pijit.”

Taeyang cemberut. Gak bisa ya, dia menikmati pacarnya untuk hari ini aja? Apalagi setelah tweet pacarnya kemarin…

“Yes, hyung! Kau tahu doa orang teraniaya selalu didengar Tuhan!” Daesung bangkit dengan semangat. Sementara Seungri menjulurkan lidahnya. Jiyong ketawa senang dan TOP, terkikik sambil memukul-mukul sofa, melihat ekspresi Taeyang.

“Well, bye Mr. Piss-His-Girlfriend-Off!” Jiyong melangkah ke kamarnya. Ia tahu soal tweet Hyun hari jumat lalu dan di Indonesia ia tak henti-hentinya mengolok Taeyang.

Mereka berempat memutuskan untuk melakukan permainan gunting-batu-kertas, demi menentukan siapa yang duluan. Taeyang tidak peduli, ia membanting kepalanya ke sofa yang sejak tadi ditidurinya. Niatnya sih ingin menunjukkan bajunya yang ia pakai saat pergi ke Indonesia kemarin tapi…

Dalam 10 menit, Hyun sudah kembali dari kamar Jiyong. “Sudah selesai? Cepet banget?” Taeyang bangun dan menepuk bantalan sofa di sampingnya, mengisyaratkan agar Hyun duduk disampingnya.

“Aku gak buth waktu lama untuk meninabobokan mereka sekaligus.” Hyun tersenyum sumringah. Ia duduk lagi dan Taeyang kembali merebahkan diri di pangkuannya. Jemari lentik Hyun menyentuh wajah Taeyang, pelan tapi pasti mencapai hidungnya, mulai memberikan gaya tekan yang lembut.

Hangat. Sentuhan itu hangat dan menenangkan. “Gak capek apa?”

“Hah?” Setengah sadar Taeyang bertanya.

“Kenapa gak langsung tidur sih? Kan capek.”

“Hmm….”

“Aku gak marah kok. Cuman bete aja. Giliran baju yang modelnya aku suka, dipake gak di depan aku.”  Tangan Hyun berpindah ke kepala Taeyang.

“Krrrrr…..”

Hyun mendapati Taeyang sudah tertidur. Ia menguap. Ngantuk juga sebenarnya, namun untuk sekali lagi ia menatap wajah tidur orang yang ia sayangi itu.

Cup.

Dan Hyun menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Napasnya perlahan menjadi teratur, membiarkan televisi menjadi saksi lelapnya tidur mereka berdua.