Tittle: Feel Like Different
Author: Shafi Rades (@SHAFImagINATIon)
Cast: Big Bang
Genre: friendship
Length: Twoshoot
A/N: MAAP KALO GAJE, DAN TYPO BETEBARAN.. POKOKNYA INI FANFIC ASLI PUNYA SAYA, GA NGOPI, GA NGETEH(?) enjoy ^^

Part2
~~~

Taeyang POV
Empat hari berlalu sejak pertengkaran Jiyoung dan Daesung. Dan sejak itu, Daesung pergi entah kemana. Kami sudah mencari kemana mana. Seunghyun hyung mencoba mendatangi apartemennya, tapi tak ada orang. Aku coba menghubungi ponselnya, tidak aktif. Seungri mencoba bertanya pada guru dan teman sekelasnya, tapi tak ada yang tahu. Sedangkan Jiyoung, Ia tak melakukan apapun. Ia seperti tidak peduli dengan kepergian Daesung.

Disamping itu, struktur planet kami sudah hampir selesai. Kebanyakan Jiyoung yang mengerjakannya, karena kami bertiga sibuk mencari Daesung.
~~~
Hari ini kami kembali melanjutkannya. Sambil mengerjakan, aku masih kepikiran Daesung.

“kemana Daesung pergi, ya? Kenapa kami tak bisa menemukannya? Aigo… Aku jadi kepikiran.. Semoga tak terjadi apa apa, padanya..” batinku sambil terus mengerjakan tugasku mengecat bola.

Tiba tiba ada yang mengetuk pintu markas TOK TOK TOK

“Seungri ah.. Tolong buka pintu..” perintahku.

“ne, hyung” Seungripun Membuka pintu. Aku tak dapat melihat siapa yang datang. Tapi melihat wajah Seungri yang kelihatan kaget, membuatku bingung. Tiba tiba ia berteriak, dan memeluk orang yang datang tersebut.

“Daesung hyung!!” mendengar itu, aku, Seunghyun hyung dan Jiyoung saling tatap. Kami langsung berlari ke depan pintu, kecuali Jiyoung.Benar saja. Orang yang baru datang adalah Daesung. Aku dan Seunghyun hyung langsung ikut memeluknya.

“Daesung hyung!! Kau kemana saja??!!” tanya Seungri.

“aku? Hehe.. Pulang ke kampung..” jawabnya polos. Tiba tiba Seunghyun hyung menjitak kepalanya.

“dasar wild boy!! kenapa tak bilang?? Kami sangat mengkhawatirkanmu!!”

“omo~ Mianhae, hyung.. Appa mendadak mengajakku.. Jadi, aku tidak sempat bilang.. Mian~”

“lalu ponsel mu? Kenapa tidak aktif?” tanyaku.

“soal itu…. Ponselku memang sudah rusak.. Jadi diganti… Hehe..” jawabnya. Kami tertawa. Tiba tiba Jiyoung berkata dengan nada kesal.

“apa benar, kau pulang ke kampungmu? Bukan untuk kabur dari tugas mengerjakan ini?” tanyanya tanpa melihat ke arah kami. Seunghyun hyung terbawa emosi.

“neo…” geramnya sambil bersiap mendekati Jiyoung. Tapi Daesung menahannya.

“hyung! Andwae.. Jangan lakukan itu.. Biar aku..” semua menatap Daesung. Lalu Daesung berjalan mendekati Jiyoung yang tetap sibuk dengan catnya. Disamping Jiyoung, Daesung tersenyum.

Author POV
“hyung.. Maafkan aku, jika aku bersalah padamu..” Jiyoung menatap sinis Daesung. Daesung tetap tersenyum. Lalu Jiyoung berdiri dan berjalan kebelakang Daesung.

“salah? Rupanya kau sadar juga??” katanya sambil tertawa sinis. Daesung hanya diam tak mengerti.

“rupanya kau sadar, kalau selama ini kau salah” lanjutnya.

“hyung.. Aku tidak mengerti..” Daesung berbalik dan menatap Jiyoung bingung. Jiyoung menatap Daesung sambil tersenyum sinis. Tiba tiba Jiyoung mendorongnya hingga menabrak meja, dan menjatuhkan struktur planet yang hampir selesai.

“Daesung!!” teriak Seungri, Seunghyun, dan Taeyang sambil berlari mendekati Daesung. Taeyang menjauhkan Jiyoung dari Daesung agar Jiyoung tak makin menjadi jadi. Seunghyun dan Seungri membantu Daesung untuk bangun.

“hyung.. apa yang kau lakukan!!” bentak Seungri. Jiyoung hanya kembali tertawa sinis. Semua menatapnya bingung. Daesungpun berdiri.

“hyung.. Kenapa ka-”

“jangan tanya kenapa aku melakukan ini padamu!!!! Dengar, ya! orang sepertimu, tak seharusnya ada disini!! Kau tidak sama dengan kami!!”

“Jiyoung! Bicara apa kau ini?!” bentak Taeyang.

“diam!! Ini urusanku, sebagai ketua, dengan anak tidak penting ini!! Dan kau, Daesung! Lebih baik kau pergi! Ah, tidak hanya pergi.. Tapi juga keluar dari geng ini!!”

“JIYOUNG!!!” Seunghyun kali ini benar benar kesal dengan kelakuan Jiyoung. Ia siap memukul Jiyoung. Tapi Daesung menarik tangannya.

“ANDWAE, HYUNG!!” Seunghyun menatap Daesung yang menahannya sambil menunduk. Lalu Ia menatap Jiyoung, dan tersenyum dengan paksa.

“hyung.. Aku tahu.. Aku tahu aku memang berbeda dari kalian. Aku hanya orang biasa. Aku sadar akan hal itu. Aku juga sadar.. Kalau aku tak pantas ada disini.. Ini bukan tempatku. Sekarang, sesuai keinginanmu, hyung. Aku akan pergi dari sini.. Selamat tinggal..” ujarnya panjang lebar, lalu berlari keluar markas.

“Daesung!! Tunggu!! Seungri, Taeyang! Kalian disini dengan Jiyoung! Aku akan mengejar Daesung!!” ujar Seunghyun, yang dijawab oleh anggukan Seungri dan Taeyang. Seunghyun langsung berlali mengejar Daesung. Jiyoung hanya diam. Ia tak peduli apapun. Lalu Taeyang dan Seungri menatapnya.

“Jiyoung.. Kita harus bicara..”
~~~
Daesung POV
Aku memang bukan siapa siapa diantara mereka.
Aku tidak pantas berada di antara mereka.
Bahkan di dunia ini..
Aku tak pantas untuk hidup!

Author POV
Seunghyun berlari mengejar Daesung. Ia mengikuti Daesung sampai ke sebuah taman di atas bukit dekat apartemen Daesung. Taman itu tinggi dan bertebing curam. Daesung memijakkan kakinya dipagar pembatas. Seunghyun yang baru sampai langsung menarik tubuh Daesung.

“Daesung ah!! Apa yang kau lakukan?! Ini berbahaya!!”

“biarkan aku, hyung!! Biarkan!! Tak ada yang mengerti rasa sakitku saat ini!! Jiyoung hyung benar. Aku memang berbeda dengan kalian!! Tak pantas bergaul dengan kalian! Aku bukan siapa siapa.. Aku bukan siapa siapa di dunia ini!!” Daesung berusaha melepaskan dekapan Seunghyun. Seunghyun tetap mendekap tubuh Daesung dari belakang.

“tapi ini bukan alasan yang tepat untuk melakukan ini, kan??!! Apa tak ada cara lain?!! Hah?!!”

“lepaskan aku, hyung!! biarkan aku pergi!!”

“andwae! Jangan katakan hal seperti itu!!”
~~~
Seungri POV
Aku dan Taeyang hyung menatap Jiyoung hyung yang sedang duduk di sofa. Ia menunduk dengan perasaan kesal. Aku menghela napas.

“hh.. Hyung.. Katakan kenapa kau bersikap seperti itu!”

“sudah jelaskan?! Itu karena dia berbeda dengan kita!” bentaknya.

“Jiyoung, tak ada yang berbeda antara kita.. Kita sesama manusia, tidak memiliki perbedaan..”

“ne, hyung.. Kaya, miskin, jelek, tampan, pintar, bodoh.. Kelihatannya berbeda. Tapi selama mereka masih manusia, mereka semua sama..” lanjutku.

“Jiyoung.. Yang membedakan seseorang dengan orang lain, bukanlah derajat.. Melainkan sifat. Kalau sifatmu seperti ini, bukan Daesung yang berbeda diantara kita. Tapi kau.. Kau yang tidak sama dengan kami..” lanjut Taeyang hyung. Kami menatap Jiyoung hyung yang masih menunduk. Aku tak dapat melihat wajahnya. Tapi tubuhnya yang bergetar, membuatku tahu kalau dia menangis.

Tiba tiba ponselku berdering.
“yeobossayo??”
“….”
“Seunghyun hyung.. Waeyo?”
“….”
“Mwo?? Dae.. Daesung hyung?? Eo.. Eodisseoyo??”
“….”
“Ah, arasseo! Kami akan segera kesana!!”

“ada apa Seungri ah?” tanya Taeyang hyung. Mereka berdua menatapku. Aku terdiam menatap mereka.

“Seungri ah? Waeyo?”

“Dae.. Daesung hyung! dia berusaha lompat dari tebing di taman di bukit dekat apartemennya!” jawabku.

“Mwo?!! Kita harus segera kesana!” ujar Taeyang hyung. Kami berdua langsung bersiap keluar. Tapi Jiyoung hyung..

“hyung?? Kau.. Mau ikut?” tanyaku. Ia terdiam. Tiba tiba Ia berdiri.

“Jangan banyak bertanya! tak ada waktu lagi! Ayo kita pergi kesana, sebelum sesuatu yang buruk terjadi!” ujarnya, lalu berjalan keluar. Tanpa pikir panjang lagi, aku dan Taeyang hyung langsung berlari keluar.
~~~
Jiyoung POV
Aku terus berlari. Mencari Daesung dan Seunghyun hyung. Lalu aku menemukan mereka dipinggir tebing. Terlihat Daesung sedang memberontak. Tapi Seunghyun hyung mendekapnya dengan kuat.

“lepaskan aku, hyung!!” teriaknya sambil terus memberontak. Seunghyun hyung benar benar tak mau melepaskannya.

“Daesung!!” ujarku. Daesung dan Seunghyun hyung langsung menatapku. Aku menatap Daesung, begitupun sebaliknya. Tapi tatapan Daesung tampak takut padaku.

“Seunghyun hyung, lepaskan dia. Aku.. Ingin bicara dengannya” Seunghyun hyung menatapku. Lalu Ia melepaskan Daesung. Daesung langsung memanjat pagar. Tapi dengan cepat, aku berlari kearahnya dan menariknya.

“tunggu!! Jangan lakukan itu!! Daesung.. Aku minta ma-”

“Ani, hyung! Kau tidak perlu minta maaf! Aku yang harus meminta maaf.. Aku tidak sadar akan derajatku, dan dengan asal masuk diantara kalian.. Aku harusnya minta maaf.. Dan dengan cara inilah, aku bisa meminta maaf..” Daesung kembali memanjat pagar.

“ANDWAE!!” Aku menarik tangannya lebih kencang. Tapi Ia masih berusaha memanjat.

“Daesung!! Dengarkan aku! Aku minta maaf.. Aku sadar, perbedaan bukanlah hal bisa menghancurkan persahabatan kita. Derajat bukanlah hal yang membedakan kita. Tapi kesetiaan.. Itu yang menentukan berjalannya persahabatan kita..” aku menunduk dan menangis. Tapi tanganku masih menahan lengan Daesung.

“Akhirnya kau mengerti, hyung.. Aku senang.. Tapi, aku masih belum bisa memaafkan diriku sendiri.. Jadi, aku tetap harus-” Daesung tak melanjutkan kalimatnya. Ia menarik lengannya yang sedari tadi tertahan olehku, lalu melompat dari atas pagar. Iapun jatuh.

“Daesung!!” teriak kami semua. Untungnya, tanganku masih sempat menarik tangan Daesung. Aku menatapnya. Ia menatapku. Air mata kami semua sudah tak bisa ditahan lagi.

“Daesung… Jangan lakukan itu..”

“Ani.. Lepaskan, hyung.. Biarkan aku pergi.. Bukankah kau senang, kalau aku pergi?”

“jangan berkata begitu!! Tak ada yang senang, kalau kau pergi! Tak ada yang ingin kau pergi! Aku akan tarik kembali kata kataku yang menyuruhmu pergi tadi.. Aku.. Minta maaf.. Jeongmal Mianhae..” aku terus menangis. Daesung terdiam. Tiba tiba yang lain ikut menggenggam tangan Daesung.

“hyung? Taeyang? Seungri?”

“kalian ini.. Disaat seperti ini masih bisa ngobrol??” kata Taeyang sambil berusaha menarik Daesung. Aku menatapnya.

“tunggu apa lagi?! Ayo kita tarik Daesung hyung!!” ujar Seungri. Aku mengangguk, dan langsung menarik Daesung bersama sama.

Author POV

“1..2..3…!!!!!” semua menarik Daesung sekuat tenaga. Daesungpun berhasil terangkat, dan kembali menginjak tanah.

“berhasil..” semua kelelahan. Daesung terduduk ditanah. Ia memeluk lututnya, sambil masih menangis. Jiyoung menatap Daesung.

“A..aku.. Takut…” ujar Daesung. Napasnya terengah engah. Semua menatapnya.

“tenanglah.. Disini ada kami, sahabatmu.. Kau tak perlu takut..” Ujar Jiyoung sambil memeluk Daesung.

“hyung.. Mi.. Mianhaeyo..” ujar Daesung lemas. Jiyoung tersenyum dan makin memeluk Daesung.

“ani.. Nado mianhaeyo..”Semua menatap mereka dan tersenyum. Lalu ikut memeluk Daesung.
~~~
kelimanyapun kembali ke markas.

“Daesung.. Minumlah..” ujar Jiyoung sambil memberikan teh dari mesin yang ada di markas mereka. Daesung yang duduk di sofa, menatap Jiyoung.

“n..ne. Gomawo, hyung..”

“cheonmaneyo..” jawab Jiyoung sambil tersenyum, lalu duduk disamping Daesung. Taeyang dan Seungri mengambil struktur planet mereka yang sudah hancur lebur.

“aigoo.. Ada masalah..”

“Mwo?”

“struktur planet kita.. Rusak..” jawab Seungri. Semua menatap Jiyoung.

“m..Mwo?”

“ini gara gara kau, Jiyoung!! Untuk apa kau mendorong Daesung ke arah kerjaan kita?!” Seunghyun menjitak kepala Jiyoung sekeras mungkin.

“omo hyung.. Tadikan sedang emosi..” jawab Jiyoung sembari mengelus kepalanya yang sakit.

“tapikan tak perlu merusak kerjaan kita!!”

“Mianhae..”

“aigo.. Waktunya tinggal seminggu lagi pula.. Belum lagi bahan bahannya harus dicari ulang..” kata Seungri sambil membuka buku catatan Daesung yang berisi bahan bahan yang harus dibeli.

“hh.. Apa seminggu cukup ya, untuk membuat ulang??” ujar Taeyang. Semua saling tatap. Daesung berpikir.

“Hm.. Bisa!” ujar Daesung tiba tiba. Semua menatapnya bingung. Lalu Daesung merebut buku catatannya dari Daesung.

“kita tidak perlu beli semuanya lagi.. Pakai saja yang sisa.. kalau kurang, baru kita beli lagi.. Kalau bola, di rumah tetanggaku ada banyak bola plastik bekas.. Nah, untuk mempercepat, 2 orang mencari bahan, dan 3 orang mengerjakan..” jelasnya dengan semangat.

“apa.. Benar bisa selesai??” tanya Seungri masih belum yakin.

“kau ragu padaku?? Lagi pula, yang sebelumnya saja kita bisa hampir selesai dalam waktu seminggu.. Lalu dengan usulku tadi, kenapa seminggu jadi waktu yang kurang?” tanyanya dengan senyum meyakinkan. Semua saling tatap.

“arasseo!! Besok kita mulai lagi dari awal!!” ujar Jiyoung sambil mengepal tangan dan mengangkatnya tinggi tinggi. Semua mengikuti.

“NE!!!!”
~~~

Seminggu itu benar benar mereka gunakan dengan baik. Pulang sekolah pukul 3, mereka langsung pergi ke markas untuk mengerjakannya sampai pukul 9 malam. Lalu pulang ke rumah masing masing, dan kembali melanjutkan esok hari sepulang sekolah.

Dan pada akhirnya, hari yang ditunggu tunggu.
“dan.. Pemenangnya adalah…..” sonsaengnim menggantungkan kata katanya untuk membuat suasana menegangkan. Para peserta benar benar gugup, tak terkecuali Big Bang. Mereka saling menggenggam tangan satu sama lain.

“kelompok nomor 6! BIG BANG!!!!!”

“YEEEEEEEEEE!!!!!!!” semua anak Big Bang langsung berteriak dan berpelukan. Seluruh siswa bertepuk tangan. Lalu mereka berlima naik keatas panggung, untuk menerima hadiah dan penghargaan. Setelah menerimanya, sonsaengnim siap menutup acara. Tapi Jiyoung menahannya.

“arasseo.. Dengan ini, acara akan-”

“ah.. Sonsaengnim! Boleh aku mengatakan satu hal untuk siswa lain?”

“ah, ne..” sonsaengnimpun memberikan mic pada Jiyoung.

“kamsahabnida, sonsaengnim.. Ng.. Teman teman.. Mungkin diantara kalian ada yang berpikir, kalau kemenangan ini kami raih karena kami terkenal, ataupun karena Seunghyun hyung adalah anak dari pemilik sekolah. Tapi jujur, kemenangan kami ini tak ada campur tangan dari orang tua, ataupun teman teman yang senang pada kami. Tapi ini kami raih atas kerja keras kami sendiri. Sebenarnya, ada masalah yang terjadi ketika alat peraga kami dibuat, sehingga kami harus mengulang dari awal. Tapi dengan dan kerja keras kami, semua ini bisa kami selesaikan dalam waktu seminggu. Jadi sekali lagi, kemenangan kami bukan karena pihak orang tua. Tapi karena kerja keras, dan-” Jiyoung menggantung kalimatnya, dan menatap Daesung dengan senyum. Daesung balas tersenyum.

“dan… Kebersamaan kami.. Kamsahabnida..” ujar Jiyoung dengan senyum yang benar benar manis, lalu menunduk. Bukanya ramai dengan tepuk tangan, tapi suasana malah sepi. Para siswa dan siswi tidak biasa melihat senyuman Jiyoung yang seperti itu. Bahkan tidak pernah. Tiba tiba,

‘plok.. Plok.. Plok..’ seseorang berdiri dan bertepuk tangan. Diikuti satu orang. Dua orang. Tiga orang. Pada akhirnya semua siswa, bahkan para guru. Big Bang yang masih berada di atas panggung, terharu mendengar tepukan tangan sebanyak itu. Merekapun menunduk sekali lagi, lalu turun dari panggung. Di belakang panggung.

“omo!! aku tak menyangka, kita bisa menang!!!” teriak Seungri sambil melompat lompat kegirangan.

“nado!!! Aku benar benar senang!! Sampai sekarang saja, aku masih tidak percaya kalau kita menang!!” lanjut Taeyang mengangkat kedua tangannya tinggi tinggi.

“aneh, ya? padahal hasil karya kelompok lain banyak yang lebih keren.. Sampai ada yang buat patung saluran pernapasan..” ujar Seunghyun. Tiba tiba semua menatapnya. Lalu Daesung mendekatinya perlahan.

“hyung.. Kau tidak minta tolong pada appa-mu, kan?” bisiknya jahil.

“Mwo?? Ya!! Kenapa pikiranmu padaku selalu negatif begitu, sih?? Tadikan Jiyoung sudah bilang, kalau tidak ada pihak manapun yang membantu kita!!!” bentaknya kesal. Daesung terkekeh jahil.

“Hehe.. Bercanda, hyung..” Seunghyun melipat tangan karena kesal. Bibirnya Ia manyunkan. Semua tertawa terbahak bahak melihat ekspresi personel Big Bang yang tertua, namun kekanak kanakkan seperti itu.

Setelah puas tertawa, mereka menghela napas dan terdiam. Daesung menatap Jiyoung.

“yah.. Tapi yang membuatku lebih tidak percaya lagi, ternyata leader kita bisa mengatakan hal seperti itu di depan banyak orang. Ditambah lagi, senyumanmu tadi itu.. Jarang sekali aku melihatnya..” kata Daesung dengan niat sedikit jahil.

“bi.. Biasa saja.. Kau ini.. Berlebihan!” katanya membuang muka. Wajahnya memerah dan benar benar malu.

“omo, hyung!! Kau lucu sekali kalau malu malu begitu!!! Neomu aegyo!!!!” Daesung memeluk Jiyoung dengan erat. Jiyoung makin malu.

“a..apa, sih??! Sudah, lepaskan aku!!” Jiyoung mendorong melepaskan pelukan Daesung. Daesung tersenyum polos.

“su.. Sudahlah, ayo kita pulang, dan makan di Restoran appa-ku!” Jiyoung berbalik dan berjalan dengan wajah masih malu malu. Yang tertawa diam diam.

“ya! Jangan tertawa terus seperti itu!! Cepat!! Nanti aku tinggal, lho!!” ujar Jiyoung tanpa berbalik.

“ya! Tunggu kami! Haha!!!!” yang lain berlari mengejar Jiyoung. Daesung langsung merangkul Jiyoung dari belakang. Jiyoung Kaget. Wajahnya makin memerah.

Akhirnya mereka keluar dari sekolah tanpa ada rasa yang mengganjal lagi diantara mereka. Tapi ada perasaan aneh yang dirasakan Jiyoung, ketika Ia melihat atau ada di dekat Daesung. Dia tak tahu rasa apa itu.

Tapi yang pasti, tak ada lagi perasaan benci dan kesal diantara mereka.

The End……
~~~~~~
horay!!!!! Selesai!!
Makasih udah baca sampai selesaii.. (sampe pesen author yang nggak penting kayak gini juga dibaca-_-)

Tapi pas author bikin yang bagian belakangnya kayak G-Dae gitu, ya?? -___-
*plakplakplak

Nah.. Thanks for reading, and don’t forget to give a COMMENT!!!!
thank you ^^