MISS – ING YOU

Author : KTOP

Cast(s)  :

  • Park Bom
  • Choi Seung Hyun

Genre   : jujur ga tau tapi ketokke roman😄

Length : one shoot

A/N :  Annyeong haseo readers, choenun kresty imnda, bangapseumnida. Ini ff aku yg pertama, jujur aku sedikit malu, takut. Dan agak kurang yakin apakah ni ff bakal ada yg suka, atau hanya akan di anggap ff gmna gtu. Untuk itu saya selaku calon istri choi seung hyun #plak. Meminta  kritik dan saran. Dan mohon komen yang membangun, dan untuk silent reader moga amal ibadahnya di terima di kantong amalku yak :3 oia ini asli imajinasi saya, tak ada contek mencontek. Beneran deh ndak bohong.

Note : text yang italic itu menceritakan masa lalu

Twitter : maaf saya lupa password, jarang dibuka, mungkin sudah banyak sarang laba-laba, kecoa mati, atau tikus lagi main petak umpet sama sanak saudarannya, harap maklum, tapi kalau tetep bersekukuh mau minta bolehlah. @kenny_laras

0o0

Ulat yang berubah menjadi kupu-kupu cantik, manakah yang paling kalian suka? Tentulah kupu-kupu bukan? Jika kau bertanya tentang diriku mungkin aku akan menyukai kupu-kupu karna aku jijik dengan ulat. Tapi tidakkah kau lihat bagaimana ulat berusaha berubah menjadi kupu-kupu dan kini kusadar sesuatu yang indah bukan dari hasil akhirnya, namun perjuangannya menjadi yang terindah.

0o0

Terdengar derap langkah kaki mendekat, perlahan, tapi mata ini enggan untuk melirik siapa yang tengah duduk disampingku ini. Mata ini lebih memilih pemandangan kosong luar jendela kelas 3-F Senior High school Min-hwa.  walau hanya halaman sempit dan beberapa pohon tumbuh subur dan menjulang tinggi, menyuguhkan semilir angin musim semi yang hangat. Banyak kenangan yang tersimpan dihalaman itu. potongan-potongan gambar bergerak dengan kecepatan persekian detik mampu membuat bibir ini tersenyum, berkebalikan dengan hati ini yang ingin menangis.

3 tahun lalu perjumpaan pertamaku dengannya. Bukan, bukan dengannya namun suarannya. Suara yang mampu merubah tangisan kesedihan menjadi tawa bahagia. Mampu menghipnotisku kealam yang belum pernah ku jamah sebelumnya, membuatku berpetualangan bersama nada-nada harmoni, ketukan yang mampu membuatku dada ini bergejolak. Membuatku terbang tanpa sayap, tanpa tenaga dapat menjelajahi dunia aneh. Tapi itu nyata.

Dan 1 bulan penuh kuhabisakan waktu bersamannya, salah, bukan bersamannya hanya suarannya, setiap istirahat berlangsung aku menyempatkan diri duduk dibawah pohon, mendengar ia bernyanyi. Seperti kafein yang wajib aku konsumsi, tak bisa lepas dari suara itu. sehari tak mendengar suaranya membuatku gelisah. Menggelikan memang. Tapi aku tak bisa berbuat banyak. Aku sendiri pun tak tahu kenapa. Kala itu aku ingin sekali melihat wajahnya. Tapi suara itu melarangku untuk melihat wajahnya. Sejujurnya aku tak peduli akan penampilan fisik, toh dengan operasi plastic semua masalah itu terselesaikan. Aku hanya ingin tahu siapa gerangan pemilik suara itu. suara yang mencandu ku menjadikanku sebagai pecandu kelas berat.

Dan hari itupun datang, sebagai hadiah ulang tahunku dia memperlihatkan diriinya. Sedikit terkejut, tapi itu hanya sesaat. Aku sadar aku memang menyukainya, terlanjur menyukainya. Suatu hari aku ingin mengungkapkan rasa ini, aku tak peduli apa pandangan orang. Walau dia gendut,tak pintar dan tukang tidur dikelas tapi aku menyukainnya. Ini adalah perasaanku. Di halaman disini telah menjadi saksi, saksi kisah cintaku, saksi kebahagian dan juga kesedihan. Kencan pertamaku.

 Tak sempat rasa itu diutarakan, dia terlanjur melangkah pergi menjauh. Hanya meninggalkan bekas yang harusnya manis tapi yang kurasa hambar dibibir. Tak sanggup tangan ini meraih. Meraih sebuah bintang kecil yang suatu saat nanti menjadi bintang yang besar memancarkan cahayanya sendiri, bintang yang ku yakin mampu mengalahkan cahaya matahari, ku yakin. Ku berdoa untuknya. Walaupun di setiap doaku aku mengharapkan dia gagal dan kembali.

Hingga hari ini doa kecil itu belum terwujud. Walau di setiap ku melangkah ada dirinya, dirinya yang bercahaya, aku melihatnya, melihatnya setiap hari, mendengar tentang diriinya yang sibuk dengan dunianya. Adakah dia ingat aku? Pertemuan yang singkat, yang berjarak tak ada 2bulan, sebulan dengan suarannya dan beberapa hari dengan wajahnya. So naïve, sadarlah, belum tentu dia menyukaimu, mengingatmu. Banyak wanita cantik disana yang bersedia tidur dijalan demi mendapatkan cintanya. So silly jika masih menunggunya.

Gambaran yang bergerak cepat tadi telah pudar seiring dengan  sebuah earphone terpasang apik di telingaku, dan suara yang sangat kurindukan terdengar  kembali menyelusup kegendang telingga, perlahan mengalir bersama dengan aliran darah pada diriku, menusuk polar plexus.  Butiran air jatuh satu persatu dari pelupuk mata saat kupandang wajah yang kurindukan ini, tak ada yang berubah.

*As if nothing wrong*

I need you,come back

I want to tell you truthfully

My heart’s heavy falling

Where are you

I can never forget our first date (Why?)

Your birthday is still marked on my calendar

Oh no I don’t believe

People are saying my laughter has died

There was a familiarity like long lost friends

We used to talk on the phone all night

How we have so many things to say back then

How are you doing

The promises I weren’t able to

keep still clings to my heart

I worry about you a lot

I wonder if you stay awake at night like I do

and i feel sorry once again

“Mianhae, jeongmal mianhae, aku terlalu lama pergi. Maaf membuat mu menung~…”

Tubuh ini merasakan kelegaan yang luarbiasa, sebuah hasrat yang lama terpendam, semakin lama semakin menyayat hati. Bagai berbagai jenis pisau ditancap kehulu hati dan terlepas  secara bersamaan, perih memang, tapi begitu melegakan. Menangis sepuasnya, memeluk erat, hingga nafas berderu, tak kuhiraukan, aku tak ingin kehilangan namja yang kucintai lagi. Aku tak ingin melepasnya.  Karna dia rasa ini kurasakan, karna dia rasa ini juga melebur menjadi kebahagiaan.

“saranghae seung hyun.a, jeongmal saranghae. Bogoshipo” isakku masih dalam dekapan dada yang telah berubah menjadi dada yang bidang, dada yang ku yakin mampu melindungiku

“nado sarangahe my boo, my BOM”