Tittle     : Even If I die

Author  : Shin-B

Cast       :

  • Kwon Jiyong
  • Kim Hye Na (OC’s)

Genre   : Angst, sad

Lenght  : Drabble

A/N        : Maaf kalo aneh ‘-‘ ini aku bikin buat tugas sebenernya😄 makasih buat eonni-deul admin yang post ff ini. Happy reading ^^

Even If I die

*Jiyong POV*

Aku terdiam ditepi kasur, terdiam dalam kesunyian. Detak jarum jam menggema, memenuhi ruangan ini dan pikiranku. Kulirikkan pandanganku kearah jam yang menempel di dinding tepi ruangan. Pikiranku kosong, waktu terasa berjalan lambat sekarang. Tsk.. sudah berjam-jam Aku seperti ini, hari terasa sangat panjang, mungkin tak akan berakhir. Akankah pagi datang? Entahlah, Aku tidak tahu.

Aku memejamkan mataku, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya berat. Eng… sekelebat adegan terputar dalam otakku seperti film dokumenter usang. Wanita itu tersenyum nanar padaku dan mengatakan “Gwenchanna.” Seketika itu dadaku terasa sesak. Aku mengerti makna sebenarnya dibalik kata “Gwenchanna.” Aku mendelik kearahnya. Dia tersenyum lagi, menatap dalam ke manik mataku. Matanya berkaca-kaca, seakan cairan yang menggenang di pelupuk matanya hendak tumpah. Tapi Ia segera mengusap matanya dengan punggung tangannya.

Oh.. bahkan jika memang sekarang aku masih terlalu muda untuk mengetahui pahitnya dunia luar, bukan berarti aku tidak tahu rasanya ‘sakit’. Aku mengusap pelan puncak kepalanya, merengkuhnya kedalam pelukanku. Tubuhnya bergetar menahan tangis. “Menangislah..” ucapku meyakinkannya. Berharap rasa ‘sakit’nya hilang bersamaan dengan air yang membasahi pipi dan mati. Sepersekian detik berikutnya Ia mengangis keras dalam pelukanku. Aku menepuk pundaknya pelan meyakinkan bahwa Aku selalu ada untuknya. Tangisnya mereda, dia melepaskan pelukannya. Dia menatapku kembali, matanya memerah sekarang. Aku menggenggam erat tangannya “Aku terlahir dan bertemu denganmu. Aku mencintaimu sampai mati. Itulah takdirku.” Ujarku meyakinkannya.

Kubuka mataku, seraya film dokumenter di otakku terhenti. Oh, dadaku kembali sesak mengingatnya. Aku masih disini, terdiam, tak melakukan apapun, bahkan tak bergerak dari berjam-jam yang lalu. Otakku seakan berhenti bekerja atau mungkin organ tubuhku telah kehilangan fungsinya? Aku tidak tahu. Karena kini otakku penuh sesak dengan kenangan tentangnya, seakan tidak ada ruang untukku berfikir sehat.

Seketika pikiranku terlempar pada kejadian kemarin. “Mungkin  pertemuan kita yang terakhir, Ji.” ucapnya lancar dengan senyum manis yang sama. Aku menggenggam erat tangannya, aku membisu, otot mulutku terasa kaku, pita suaraku seakan tak berfungsi. Aku hanya menjerit dalam hati, menatap dalam padanya seakan berkata “Itu takkan terjadi, kita akan bertemu besok, pasti. Kita akan bertemu dengan senyum tanpa beban membingkai di wajah kita.” Kumohon mengertilah. Dia memalingkan wajahnya dan mendorong tubuhku kuat.

Eng.. film dokumenter otakku kembali terhenti. Pandanganku buram sekarang. Sepersekian detik berikutnya cairan asin itu jatuh dari pelupuk mataku. Hey, aku pria! Tidak seharusnya menangis, bukan? Tapi ini, Aku tak tahu, air mata ini turun dengan derasnya. Air mata yang kutahan sejak Aku tiba dirumah duka Hye Na, kekasihku, wanita yang terus menghantui pikiranku. Aku mengerang tertahan, menutup mataku erat. Bahkan sekarang Aku masih bisa merasakan kehadirannya. Aku membuka mataku, berharap Ia masih berada disampingku. Tapi nihil, yang kutemukan disampingku hanya sebuah meja dengan lampu, semangkuk buah dan sembilah pisau diatasnya. Oh, Aku tak dapat berpikir sehat sekarang. Bagaimana mungkin Aku bisa hidup tanpamu? Aku tak dapat membiarkanmu pergi, bahkan jika Aku mati. Beberapa menit kemudian pandanganku mulai mengabur, Aku bahkan tak mengingat sejak kapan pisau itu ku genggam dan mengoyak urat nadiku? Entahlah, Aku hanya memikirkannya, Hye Na. Tubuhku melemas, kulihat cairan merah pekat mengalir deras dari pergelangan tanganku. Tubuhku terhempas, kututup mataku. Dan… entahlah, Aku merasa melayang sekarang.

-TAMAT-