Rings of Promise

Title                 : Rings of Promise

Author             : Uty (@YM_yuliamukti)

Main Casts      :

  • Park Gi Soo (OC)
  • Kang Dae Sung

Other Casts      :

  • Choi Seung Hyun
  • Lee Sung Hyun / Seung Ri
  • etc…

Genre               : Romance (again?), complicated.

Length             : Oneshoot

Disclaimer       : Ide dan alur hanya milik author, sementara casts nya boleh dibagi-bagi deh #eh?

jangan lupa buka www.ourbigbangfanfiction.blogspot.com ya! #promosi

~Happy Reading~

“Mengapa kita harus berpisah secepat ini?, aku ingin lebih lama lagi bersamamu”
“Tidak , Oppa. Hidupku tidak lama lagi. Oppa cari saja penggantiku, yang lebih cantik dari aku” Ujarnya lirih berusaha menarik bibirnya, tersenyum.
“Oppa pasti akan menemukan perempuan yang lebih baik, tidak seperti aku yang jahat”
“Cukup! Aku tak mau dengar lagi! Kau pasti selamat Gi Soo-ah, bertahanlah!” teriakku sambil menggenggam tangannya.
“Setiap hari kau mengatakan itu supaya aku senang kan?” tanyanya lemah. Aku terdiam.
“Mianhae, Oppa.sudah menjual cincinmu .Saranghae…….” Ucapnya lalu tertidur. Tidur yang amat panjang.

CEMETERY

Hari ini hari terakhir aku melihatmu. Kau terlelap dengan balutan gaun putih itu.
Kau tampak seperti boneka yang tertidur didalam peti kaca.
Ketika peti diturunkan, kalimat-kalimat doa mengiringimu ke langit. Aku hanya bisa menangis sesegukan. Sebuah tangan menepuk pundakku.
“Aku turut bersedih atas meninggalnya Park Gi Soo” Kata Seunghyun hyung sambil menyerahkan sebuah cincin perak berukir  I Love U, dan sepucuk surat.
“Itu kutemukan di samping tempat tidurnya” Katanya sambil berlalu.
Aku langsung menjejerkan (?) jari manisku disebelah cincin itu. Cincin kami sama.
Aku langsung menggali ingatanku bersamanya.

FLASHBACK

Kamis, 31 Desember 2009.

Aku betemu dengannya saat pesta tahun baru SMA Y, sekolah baruku.
Dia duduk sendirian di pojok ruangan sambil membaca sebuah buku. Tidak ada yang mau ngobrol dengannya.
“Hei, siapa yang duduk di pojok itu?” Tanyaku pada Seungri, yang sedang dikerubutin cewek-cewek.
“Oh, “Si Aneh” Park Gi Soo. Sebaiknya kamu tak dekat-dekat dengannya. Dia tampaknya berbahaya!” Katanya datar lalu kembali ke para gadis yang sudah menunggunya.
Tapi, entah kenapa aku sangat ingin berkenalan dengannya. Kudekati dia lalu duduk di sebelahnya.
“Kang Dae Sung, X-2” kataku sambil mengulurkan tangan.Gadis itu menoleh, menatapku tajam. Sekeliling matanya hitam, dan ada bekas pukulan dan tamparan di pipi kanannya.
Sesaat dia menatapku, lalu kembali ke bukunya dan mencatat sesuatu.
“Aku ingin menjadi temanmu, boleh?” Aduh, Kang Dae Sung! Itu seperti pembicaraan anak Sekolah Dasar! Bodohnya aku.
Aku  menoleh padanya. Eh? Dia tetap sibuk dengan buku nya! GRRR, dia anggap apa aku ini?!
“COUNTDOWN!!!!” Teriak seseorang dari panggung. Lalu semua menghitung mundur-kecuali dia.
“10….9….8….7….6….5….4….3…2…………………..”
“Aku mau jadi temanmu” ujarnya cepat.Mwo?
“SATUUUUU!!!!……….Happy New Year Guys!!!!” Semua saling berpelukan dan meniup terompet.
“HEI, KAU DENGAR TIDAK??!” Dia teriak di kupingku. Sakit sekali.
“Wae?”
“Teman, kan? Aku mau menjadi temanmu. Boleh saja” katanya dingin.
Aku senang sekali, untuk pertama kalinya aku memiliki seorang teman -perempuan yang agak aneh.

Sejak saat itu aku selalu bersamanya. Makan, belajar, hingga jalan-jalan. Ternyata dia menyukai Doraemon! Sama denganku. Setiap kali jalan-jalan. Kami habiskan dengan melihat pernak-pernik Doraemon atau curi-curi baca komik Doraemon di toko buku.
Pernah aku iseng bertanya kenapa di pipinya ada bekas luka. Katanya dia sering dipukuli oleh managernya. Kutanya lagi kenapa tidak berhenti saja. Dia menjawab sambil tersenyum :
“Kalau aku berhenti, aku dan keluargaku akan makan apa? Ibuku lumpuh karena stroke yang dideritanya. Adik-adikku masih kecil, terpaksa aku harus bekerja demi semuanya” Lalu ia menangis di pundakku. Entah mengapa, jantungku berdebar kencang sekali. Mungkin aku suka dengannya. Aku suka dengan senyum dan sikap tegarnya.Seungri telah salah menilainya.

14 Februari, ulang tahun Gi Soo. Aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku. Dengan modal sepasang cincin murah yang kubeli di internet, aku datang kerumahnya. Rumah nya sederhana. Hanya sebuah rumah mungil bercat biru pucat dan sudah mengelupas.
Tidak ada garasi dan taman seperti yang kulihat biasanya.
TING….TONG…..
“Eng…..Siapa??” Kata seseorang di balik pintu. Aku rasa itu ibunya.
“Annyeonghaseyo,jeoneun Daesung imnida. Apa Gi Soo ada dirumah?” Nadaku sopan.
“Eh, euhm. Dia ada. Gi Sooo~~~~`ada tamu untukmu!!” Teriaknya.
“Ne? Daesung Oppa!!!” Teriaknya senang lalu menghampiriku.
“Annyeong~~, apa kamu ada acara hari ini?” Tanyaku-dan berharap semoga dia tidak ada  acara.
“Hmmm…….aku rasa tidak, ada apa?” Tanyanya polos. Yesssss!!! Berarti ini kesempatanku! Jugan disia-siakan!.
“Ma….ma….mau tidak kita ke taman sekarang?” Duh! Aku gagap. Tidak biasanya aku gagap kalau dihadapannya.
“Tentu saja! Eomma, aku pergi dulu ya!” Jawabnya ceria. Kami langsung pergi ke taman kota menggunakan vespa biru milikku.
Sepanjang perjalanan, dia memelukku. Rasanya seperti terbang ke awan. Oke, ini berlebihan. Tapi memang itu yang aku rasakan saat itu

Sampai di taman, aku membelikannya satu cone gelato yang besar untuknya.
Lalu kami duduk di sebuah kursi panjang dekat air mancur.
“Nnngg…..Gi Soo, ada yang ingin aku bicarakan” Kataku pelan.
“Hm? Apa ?” Jawabnya. Mukanya belepotan gelato cokelat. Lucu sekali.
“Ini” Aku menyerahkan satu dari sepasang cincin tersebut.
“Saengil chukka hamnida Gi Soo-ah, Saranghae” Kataku malu-malu dan menunduk.
Sekitar 5 menit hening diantara kami. Keheningan itu pecah oleh suara cempreng Gi Soo.
“Na do saranghae, Oppa”. Omo! Dia menerimanya?. Tanpa komando, aku langsung memeluk Gi Soo. Tak peduli bajuku kotor kena gelato.  Pokoknya hari ini aku senang sekali.
“Tunggu Oppa, bukankah ini cincin perak?”
“Wae? Apa iya?” Tanyaku kaget. Perak?
“Iya! Ini pasti mahal sekali! Aku akan menggantinya, Oppa!”
“Aish! Tidak usah! Asal berjanjilah kamu akan selalu memakai cincin itu” kataku sambil mengacungkan jari kelingkingku.
“Na jal hal kae, janji” Jawabnya pasti sambil menguncikan jariku dengan kelingkingnya

Tidak terasa 3 Tahun sudah kujalani bersama Gi Soo, my yeoja yang sederhana namun unik.
Sore ini aku menunggunya di Lotte Amusement Park. Katanya dia sangat ingin bermain di Lotte Park saat malam dan melihat kembang api disana.
“Dae-Oppa!” Panggilnya sambil berlari menghampiriku.
“Ck, lama sekali” Kataku pura-pura cemberut.
“Ah, mianhae Oppa. Tadi ibuku minta tolong padaku”  Katanya sambil menggaruk kepalanya-yang pasti tidak gatal karena rambutnya indah dan bersih. Aneh, aku tidak melihat dia memakai cincin pemberianku, apa ketinggalan ya?
“Gi Soo-ah, dimana cincinmu? Kenapa tidak kau pakai?” Tanyaku penasaran.
Gi Soo hanya diam.
“Dimana cincinmu Gi Soo-ah? Aku akan marah jika kamu diam saja” Kataku mulai tidak sabar.
“A……a..aku menghilangkannya, Oppa” Katanya lirih.
“Apa? Kau hilangkan?! Itu sama saja dengan menghancurkan cintaku!! Kau memalukan Park Gi Soo!” Teriakku marah dan melotot.
“A…aku bisa jelaskan,Oppa” Katanya memohon pengertian.
“Aku tak butuh penjelasan darimu! Ternyata Seungri benar! Kamu memang gadis yang berbahaya! Menghancurkan  cinta seseorang tanpa dosa ! ” Kataku dingin seraya pergi membiarkan Gi Soo menangis sendirian. Bahuku sudah menolak untuk jadi penopang tangisannya. Hatiku sakit sekali

Sesampainya dirumah, aku mengamuk. Semua barang di kamarku aku hancurkan. Aku rubuhkan rak bukuku, kupecahkan cerminku dan foto-fotoku bersama Gi Soo.
“AARRRRGGGHH!!!!” teriakku geram layaknya godzilla terkena laser.
Karena terlalu lelah, aku tertidur.
Paginya aku terkejut melihat kamarku seperti habis dilanda tornado. Apa yang terjadi semalam?
Aku langsung menyalakan televisi dan menonton berita.
‘KEJAM :  SEORANG IBU TUSUK PUTRINYA SENDIRI DEMICINCIN!!!’
Ibu? Tusuk? CINCIN?. Perasaanku semakin tidak enak.
Ketika melihat wajah pelakunya. Aku kaget sampai menutup mulut.
ITU IBUNYA GI SOO!. Berarti putrinya yang ditusuk itu………….
tanpa pikir panjang aku langsung menyalakan vespa ku dan tarik gas ke rumah Gi Soo.

Benar saja, begitu aku sampai rumahnya. Rumahnya kosong. Aku tanya pada tetangganya mengenai Gi Soo.
“Dia ada di dalam ambulance itu” Kata bapak itu sambil menunjuk sebuah ambulance yang tidak jauh dari rumah Gi Soo.
Aku langsung mengejar ambulance dan berusaha memberhentikannya. Ketika ambulance itu berhenti, seseorang keluar dari ambulance.
“Minggir kau, kau menghalangi jalan kami!”
“Izinkan aku ikut naik ambulance ini!” Pintaku sambil terengah-engah.
“Ada hubungan apa kau dengannya?” Tanyanya memastikan.
“Aku…….ng,pacarnya!” Kataku panik. “Cepatlah!”
“Ne! Naiklah!” katanya.

AT AMBULANCE

“Mengapa kita harus berpisah secepat ini?, aku ingin lebih lama lagi bersamamu”
“Tidak , Oppa. Hidupku tidak lama lagi. Oppa cari saja penggantiku, yang lebih cantik dari aku” Ujarnya lirih berusaha menarik bibirnya, tersenyum.
“Oppa pasti akan menemukan perempuan yang lebih baik, tidak seperti aku yang jahat”
“Cukup! Aku tak mau dengar lagi! Kau pasti selamat Gi Soo-ah, bertahanlah!” teriakku sambil menggenggam tangannya.
“Setiap hari kau mengatakan itu supaya aku senang kan?” tanyanya lemah. Aku terdiam.
“Mianhae, Oppa.sudah menghilangkan cincinmu .Saranghae…….” Ucapnya lalu tertidur. Tidur yang amat panjang.

FLASHBACK END

 

Sungguh indah saat-saat bersamanya. Namun berakhir menyakitkan.
Lalu aku membaca surat darinya.
To : My Beloved Namja, Daesung Oppa

Dae-Oppa, mianhae. Sebenarnya  cincin pemberianmu tidak hilang. Ibuku mengambilnya dariku beberapa minggu yang lalu. Awalnya aku kira ibuku hanya ingin menjaganya. Ternyata ibuku menjual cincin itu ke pegadaian hanya untuk minum-minum bersama temannya. Aku sangat sedih, semua hasil kerja kerasku dan cincin itu hanya untuk minum soju mahal.
Melihatmu marah tadi sore, aku jadi bertekad untuk mengambil kembali cincin itu-milik kita!
Tunggu saja, Oppa! Aku akan membawa cincin itu kembali melingkar di jariku!

Yeoja yang paling kamu benci
-Park Gi Soo-

Sekali lagi aku menangis. Bahkan air mataku lebih deras daripada sebelumnya.
“Mianhae, Gi Soo-ah. Harusnya aku yang bilang maaf, karena aku terlalu kasar padamu dan terlalu termakan emosi, Mianhaeyo……..”
Kedua cincin itu kini aku pasang di dua jari yang berhimpitan. Jari manis dan kelingking.
Jari manis menandakan hubungan tak terpisahkan, dan kelingking menandakan janji kami saat itu.

-FIN-