Baby… baby… (Ch. 6)

Author  : Ms. Yongyong

Title     : Baby…baby… Chapter 6

Cast     :

  • Kwon Ji Yong
  • Park Hae Yong (You)
  • Other

Genre  : Romance, 17+, Chaptered

Twitter : @diina_mp

A/N      : annyeong………. :O hehe maaaaaaaaaafffff reader,,,,, ch 6 nya lama bgt. Saya UTS jadi mau fokus belajar *walaupun yaa begitu* tapi ttep gak bisa lanjutin ff karena gak ada inspirasi. Otak saya ngadat ggra mikirin UTS. Dan ch ini juga pendek bgt menurut saya soalnya saya bingung mau nyambungin apa lagi hehehehe. Sekali lagi maaf banget ya reader sekalian. Semoga ch 6 ini gak mengecewakan yaa😀

Happy Readeing and RCL😀

 

Author’s Side

Ji Yong duduk diam di sebuah ayunan besi berwarna putih yang indah. Di sekelilingnya bermacam bunga dengan warna-warna cerah melatari keberadaannya. Pria itu masih diam. Menikmati indahnya suasana taman tempatnya berada. Sesekali menghela napas dalam dan membuangnya perlahan, lalu tersenyum. Hanya untuk mengagumi indahnya sentuhan tangan Tuhan, ia tersenyum tulus.

“Appa…”

Ia menoleh. Demi suara kecil yang seperti memanggilnya, Ji Yong menyisiri setiap sudut taman itu dengan pandangan.

“Appa…”

Suara itu kembali tertangkap pendengarannya. Ji Yong berdiri. Memejamkan mata, menajamkan indra. Mencoba mencari tau dari arah mana suara kecil itu berasal.

“Appa…”

Pria itu terus memejamkan mata. Meresapi suara kecil yang terus memanggilnya. Begitu mengetahui sumber suara, ia melangkah. Pelan, tanpa keraguan.

“Appa…”

Suara itu semakin lirih dan samar. Menyulitkan Ji Yong untuk melacak keberadaan si pemiliknya. Tapi ia tetap melangkah. Mempercayakan sepasang kakinya untuk membawa dirinya pada si pemilik suara kecil misterius itu. Hingga akhirnya suara itu benar-benar hilang. Ji Yong memandang liar ke sekeliling taman. Menyisiri setiap sudut dengan bola mata yang bergerak-gerak gusar. Tak ada satu orangpun di taman itu selain dirinya. Kenyataan itu entah kenapa terasa begitu menyakitkan. Ia berlari. Berlari ke sana ke mari mengelilingi taman indah itu dengan harapan dapat menemukan si pemilik suara kecil tadi. Hatinya yakin, ada sosok lain selain dirinya. Sosok yang memanggilnya ‘appa’ dengan suara kecilnya. Ji Yong terus berlari hingga rasa lelah akhirnya menghentikan langkah-langkah lebarnya. Bulir-bulir air mata yang siap meluncur menggenangi pelupuknya.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaa…..”

Ji Yong tersentak. Sepasang matanya mengerjap menyesuaikan diri dengan sapaan sinar mentari pagi yang menembus tirai kamarnya. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Tubuhnya terasa lemas seketika. Mimpi itu sungguh menguras tenaganya. Seolah ia benar-benar berlarian mengelilingi taman itu. Dengan sisa-sisa tenaganya, Ji Yong mencoba bangkit. Duduk bersandar di kepala ranjang sambil terus membayangkan mimpi anehnya itu. Mimpi itu terasa lebih mengerikan daripada sebuah mimpi horor bagi Ji Yong. Benaknya sibuk mencari tau maksud dari mimpi itu. Siapa yang memanggilnya? Kenapa ia begitu ingin menemukan si pemilik suara kecil itu? Dan kenapa ia merasa begitu frustasi karena tak berhasil menemukan pemilik suara kecil itu? Rasa serak yang teramat sangat di tenggorokannya memecah lamunan Ji Yong. Perlahan ia bangkit dari ranjangnya dan melangkah gontai menuju dapur. Dan tanpa dikomandoi, sepasang kaki Ji Yong berhenti tepat di depan sebuah kamar. Kamar yang ditempati Park Hae Yong. Entah atas dasar apa, ia begitu ingin memasuki kamar itu. Dijulurkannya sebelah tangannya untuk memutar handel pintu itu dan… kamar itu kosong. Tak ada tanda-tanda keberadaan Hae Yong di sana. Rasa panik seketika menguasai benak Ji Yong. Seolah teringat akan mimpi anehnya tadi,  dengan cepat ia melangkah masuk. Memeriksa semua benda di kamar itu. dan ia menemukannya. Secarik kertas yang dirobek secara asal di atas meja di sisi ranjang besar itu.

Terima kasih atas segala yang telah kau lakukan selama ini, Ji Yong-ssi. Aku sangat menghargai kebaikanmu. Aku tak ingin keberadaanku dan bayiku mengganggumu lebih lama lagi. Nikmatilah kebebasanmu. Aku tak akan pernah muncul lagi di hadapanmu setelah ini. Anggap saja tak pernah ada yang terjadi diantara kau dan aku. Kita adalah dua orang yang tak saling mengenal, karena semuanya telah berakhir saat kau membaca surat ini. Selamat tinggal. Sekali lagi, terima kasih.

Park Hae Yong

Baby…baby…

Sekian jam telah berlalu dan Ji Yong masih tetap pada posisinya. Duduk memeluk lutut di sofanya dengan pandangan kosong ke arah TV yang menyala. Ia bagaikan patung yang memiliki nyawa. Tak bergerak sedikitpun. Hanya menghela napas dan begkedip. Sedih? Yang dirasakannya bahkan lebih dari sekedar sedih. Ada begitu banyak rasa yang melingkupi hatinya saat ini. Sedih, kecewa, marah dan benci. Sedih karena kehilangan darah daging yang baru saja mulai disayanginya, kecewa karena kepergian Hae Yong yang tak beralasan –menurutnya-, marah pada tindakan wanita itu yang seolah memisahkannya dari calon bayinya, dan benci pada dirinya sendiri yang tak bisa menjalankan tanggung jawabnya dengan benar. Dalam hati Ji Yong mengutuk Hae Yong dan tindakannya. Kenapa wanita itu malah melarikan diri saat ia mulai menyadari betapa ia menyayangi calon bayinya.

“Ji…”

Ji Yong bergeming. Sama sekali tak peduli dengan suara lembut yang memanggilnya.

“Kau kenapa, Ji? Kenapa kau terlihat begitu kacau?” tanya si pemilik suara itu lagi.

“Dia pergi, Nara-ya… dia membawanya… membawa lari calon bayiku…” lirih Ji Yong.

Hati Nara bagai teremas mendengar penuturan Ji Yong. Ia seolah merasakan betapa sakitnya hati pria itu dari nada suaranya. Kenyataan yang menohok hatinya. “Hae Yong?” tanya Nara pelan.

Ji Yong mengangguk lemah.

“Kenapa?”

Ji Yong menggeleng.

Keduanya hening. Ji Yong sibuk dengan kegundahannya dan Nara dengan kenyataan pahit yang merayapi benaknya. Ji Yong terlihat begitu terpukul dengan kepergian Hae Yong. Kenyataan yang begitu menyakitkan yang membuat Nara merasa tak lagi ada harapan untuk dirinya kembali pada Ji Yong. Wajahnya berubah pias.

“Kau… mencintainya, Ji? Wanita itu?”

Pertanyaan itu sukses menyita perhatian Ji Yong. Ia mendongak. Menatap Nara yang berlinangan air mata. “Ani… aku menyayangi bayiku, Nara-ya. Kenapa wanita itu membawanya saat aku mulai menyayangi bayiku?”

Nara tak mampu menjawab. Takut hanya isakan yang akan keluar jika ia membuka mulut. Ji Yong yang kini berada di hadapannya sungguh berbeda dengan Ji Yong yang ditemuinya semalam. Entah kemana perginya Ji Yong yang berjanji akan meninggalkan wanita itu dan bayinya kelak demi kembali menjalin hubungan dengan dirinya. Kemana perginya Ji Yong yang dengan tegas mengatakan bahwa ia akan kembali pada kehidupan semula saat segalanya berakhir. Kenapa kini, disaat semuanya telah berakhir, Ji Yong malah seolah berkata bahwa ia lebih memilih bayi itu dibandingkan dirinya. Kenapa disaat wanita itu mengakhiri segalanya, Ji Yong seolah lupa dengan apa yang semalam ia katakan kepada Nara. Hati Nara kebas. Dari awal ia sudah menyangka kemungkinannya dapat kembali bersama Ji Yong sangat kecil. Tapi kenapa semuanya terasa jauh lebih menyakitkan saat kenyataan itu telah di depan mata.

“Ji, jika kau menyayangi bayimu, kejarlah wanita itu. Cari dia, Ji. Aku rela kau bersamanya. Demi kebahagiaanmu.” Setetes air mata jatuh membasahi wajah cantik Nara. Ia memang sangat mencintai Ji Yong. Tapi ia bukan tipe wanita kejam yang akan melakukan segala hal demi mendapatkan pria yang dicintainya. Ia masih memiliki perasaan. Dan perasaannya berkata bahwa Ji Yong lebih membutuhkan wanita itu beserta bayinya. Bukan dirinya.

Ji Yong menatap wanita dihadapannya itu nanar. “Kau akan meninggalkanku lagi?”

Nara mengangguk pelan. “Kau akan lebih bahagia bersama bayimu dan wanita itu, Ji”

“Ani, Nara-ya… kau tak boleh meninggalkanku. Jangan lagi, Nara-ya… Jangan pergi lagi… Aku hanya membutuhkan bayiku, Nara-ya. Bukan wanita itu. Jangan meninggalkanku…” Ji Yong mencengkram erat pergelangan tangan Nara. Tak ingin wanita itu kembali pergi darinya.

“Kau tak mungkin merebut bayi itu dari ibunya, Ji. Jangan egois. Jangan mempertahankanku jika kau ingin melakukan hal keji seperti itu!”

“Ani, Nara-ya…”

“Ji… aku juga wanita. Aku tau, wanita itu pasti akan kesulitan. Dia pasti membutuhkanmu! Bayimu juga! Kau tak boleh melepas tanggung jawabmu, Ji!”

“Aniiii. Jangan tinggalkan aku lagi, Nara-ya… aku membutuhkanmu.”

“Ji…”

“Aniii” pria itu berteriak memohon. Dipeluknya tubuh Nara erat.

Nara bimbang. Tak tau harus berbuat apa. Disatu sisi hatinya merasa bahagia karena Ji Yong ingin mempertahankannya. Tapi di sisi lain, ia merasakan sakit yang teramat sangat karena hatinya tau betul, Ji Yong tidak benar-benar membutuhkannya. Pria itu hanya tak ingin ditinggalkan dua orang sekaligus di dalam waktu yang sama. Ia hanya tak ingin merasakan sakit yang sama untuk kedua kalinya. Gilanya hati Nara tetap berharap bahwa Ji Yong benar-benar tak ingin melepaskannya. Membutuhkan kehadirannya. Namun jauh di relungnya yang terdalam, ada rasa yang jauh lebih besar. Rasa bersalah pada Hae Yong. Karena kehadiran dirinya, Ji Yong seolah lupa akan tanggung jawabnya pada wanita itu dan lebih mementingkan kebersamaan mereka yang kemungkinannya hampir tidak ada itu.

Baby…baby…

Hae Yong’s Side

Akhirnya, setelah tiga belas tahun, aku kembali menginjakkan kaki di sini. Di depan sebuah bangunan megah yang dulunya kutinggali bersama ayah dan ibu. Tempat dimana ada begitu banyak kebahagiaan yang terukir. Dimana aku melalui hari-hariku yang penuh kebahagiaan dan kasih sayang. Tempat yang paling kuhindari setelah kepergian kedua orang tuaku. Yang begitu ingin kulupakan bersamaan dengan kenyataan pahit di hidupku. Yang membuat luka di hatiku semakin dalam dan dalam. Begitu berat rasanya untuk kembali ke tempat ini. Begitu banyak memori yang mengikis hatiku. Tapi dalam keadaan yang seperti ini, tempat ini adalah yang paling aman bagiku. Tak seorangpun yang mengetahui tempat ini. Itu berarti aku tak akan lagi bisa bertemu dengannya. Bahkan persentase kebetulannya pun akan semakin kecil. Aku hanya ingin memulai hidupku dari awal. Hidup bersama bayiku kelak tanpa ada pria itu.

“Aegi-ya… ini adalah rumah baru kita. Kuharap kau menyukai keputusanku. Kita akan memulai segalanya dari awal, di sini. Hanya kita berdua.” Gumamku sembari mengelus perutku yang semakin membesar.

Kuhela napas dalam dan membuangnya perlahan. Berharap keputusanku tak akan menimbulkan sesuatu di luar harapan, aku melangkah masuk. Hawa sejuk menyambut kembalinya diriku ke rumah ini. Kupandangi setiap sudut yang terjangkau oleh kedua bola mataku. Menilai hasil kerja jasa renovasi yang kusewa. Dan kuakui, tak ada cela dari hasil pekerjaan mereka. Semua persis sama seperti apa yang kuinginkan. Sungguh berbeda dengan rumahku tiga belas tahun yang lalu.  Aku tersenyum puas. Semoga saja segalanya berjalan sesuai rencanaku.

Baby…baby…

Hae Yong’s Side

Semilir angin menyapa kulitku lembut. Memainkan helaian rambutku yang tergerai bebas. Kubuka semakin lebar jendela mobilku. Membiarkan lembutnya angin sore ini menyentuh kulitku lebih lagi. Dingin, tapi menyegarkan bagiku. Terlalu lama tak berinteraksi dengan dunia luar membuatku begitu merindukan banyak hal. Lembutnya angin, teriknya sinaran mentari, dinginnya malam dan indahnya hujan. Ya, ini sudah begitu lama sepertinya. Dan sudah sekian lama aku hanya mengurung diri di rumah yang sebesar itu. Keluar hanya untuk membeli keperluan hidupuku di supermarket dan check up kehamilan. Tak sedikitpun aku berinteraksi dengan siapapun yang ada di luar sana. Aku bahkan tak sekalipun muncul di luar gerbang rumah tanpa mobilku. Bukan anti sosial. Hanya belum siap jika ada yang berinteraksi denganku. Aku belum siap dengan beberapa orang yang mengetahui keberadaanku. Lagi pula, beberapa tetangga mungkin akan menanyakan kemana aku selama ini. Itu membuka luka lama. Aku tak ingin itu terjadi. Hanya akan semakin mlukaiku. Aku benar-benar ingin sendiri. Memulai segalanya dari awal. Sesuai dengan apa yang kurencanakan.

“Chagi-ya… bertahanlah… aku di sini… aku akan menemanimu… bertahanlah, demi buah hati kita… Arra?”

Suara samar yang bercampur dengan ketukan langkah kaki tergesa itu entah kenapa terasa begitu keras menyapa telingaku. Secepat kilat aku menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita hamil terbaring lemah di ranjang yang didorong oleh beberpa suster rumah sakit. Disampingnya, seorang pria yang terus tersenyum penuh kasih begitu setia menggenggam jemarinya. Memberi semangat. Sepertinya wanita itu akan segera melahirkan. Mereka begitu tergesa. Setengah berlari. Melihat itu membuat hatiku mencelos. Aku kembali teringat sebuah janji yang sudah beberapa bulan ini kulupakan. Janji dari dia yang begitu kuhindari walau hanya bayangannya. Tanpa bisa kukendalikan, tetesan air mata itu mengalir membasahi kedua pipiku. Aku sadar, melupakannya pasti akan jauh lebih sulit dari apa yang kubayangkan selama ini. Cinta itu tak pernah sedikitpun berkurang. Dan asa itu tak pernah sedikitpun beranjak dari hatiku. Terus mengiris meninggalkan luka yng semakin parah.

Aku menunduk dalam. Menatap perutku yang sudah sangat besar. Dalam diam aku menangis. Menahan pilu yang begitu menyesakkan.

“Aegi-ya… ketika saat itu tiba, berjuanglah bersamaku… karena tak akan ada yang menggenggam jemariku… tak akan ada yang mendampingi perjuanganku…”

TBC….

Jeongmal mianhae… jeongmal mianhae… sekali lagi jeongmal mianhae… saya bener-bener kehabisan ide gara” UTS yang menyebalkan itu. semoga part yang sudah ditunggu sekian lama ini tidak mengecewakan reader semua. Jangan lupa komennya ya reader… *bow*