AUTHOR : ZULAIPATNAM

GENDRE : GOOD BYE

GENDRE : LIFE | POLITIK (Maybe) | ROMANCE | ACTION (Dikit) | FANTASY

RATING : [PG 15]

LEGHT : VIGNETTE

INSPIRED : Tragedy Tri Sakti

CAST :

  • Dong Young Bae | Tae Yang BIG BANG
  • Kang Hye Moon | OFC (Original Female Caracter)
  • ALL MEMBER BIG BANG

NB : Kalian bisa berkunjung kerumah saya dialamat ini:

www.ZulaiBigBangFanfic.Blogspot.com

www.ZulaiBigBangFanfic.Wordpress.com

“jika kita berjodoh, kelak di suatu masa dan tempat yang telah ditentukan olehNya. Kita akan bertemu kembali.”

>>> STORY <<<

Sekuntum demi sekuntum bunga liar ia petik dari batangnya, mengumpulkan hingga terbentuk buket kecil kumpulan dandelion, krisan, dan bunga liar yang tak ia ketahui namanya, berbusana belt hijau muda ia telusuri bukit belakang rumah seorang diri, mengenang masanya bersama Dong Young Bae, pria bertubuh pendek yang sudah mengumbar janji padanya. janji akan mengucap janji sehidup semati jikalau telah tiba dari Seoul dalam rangka demonstrasi besar-besaran mahasiswa se Korea Selatan yang menentang terpilihnya kembali Presiden XXX dalam 2 periode pemerintahan berturut-turut.

Dia, Kang Hye Moon menuruni bukit dengan kaki telanjang, buket di tangannya ia genggam erat takut terlepas. Seumbaran senyum mengembang tiada henti menyadari jika hari ini hari terakhir Dong Young Bae berada di Seoul. ‘esok Young Bae akan pulang’ fikirnya tiada henti, menjadikan setiap tarikan nafas tubuhnya begitu berharga dan mendebarkan. Dia sungguh merindukan sosok pria bertubuh pendek itu, merindukan suara lembut, tatapan sendu yang tentram, serta perlakuan lembut padanya. dia merindukan setiap inci dari Young Bae.

+++++++

Seoul Street

Mimbar bebas kini dibuka, menampilkan siapa saja yang ingin menyuarakan suara mereka dan untuk di dengar ribuan mahasiswa berseragam almamater warna-warni dari setiap universitas, Young Bae salah satu dari ribuan mahasiswa disana, dia mengenakan jas Hijau almamaternya, membawa spanduk dengan berteriak-teriak melompat-lompat saking semangatnya.

“TURUNKAN PRESIDEN, kembalikan stabilitas negara yang adil, makmur, dan jujur!.”

Teriak pengisi mimbar bebas kala itu, riuh teriakan setuju membahana. Barisan aparat bersenjata siaga, takut jika demonstran tak terkontrol.

Kini giliran Young Bae naik mimbar bebas, Seung Ri menepuk pundak temannya itu bangga.

“suarakan semua pendapatmu, teman!.”

Dukung Seung Ri, Young Bae mengangguk mantap, dia langkahkan kakinya menuju tengah mimbar yang adalah jalan layang. Beratapkan langit, disorot terik matahari, dan berpijak pada aspal panas. Young Bae mulai mengguncang panggungnya, menyuarakan segala unek-unek mengenai carut marut pemerintah saat itu, dia sudah tidak sudi lagi hidup dalam negara yang diperintah oleh ‘Setan’ bertopeng ‘malaikat’. Krisis moneter, krisis kepercayaan, korupsi meraja rela,

“kita sebagai actor utama dari Agent Of Change-penggerak perubahan, kitalah tonggak bangsa ini teman!. Jikalau bukan kita yang mengguncang setan-setan bertopeng malaikat itu untuk turun dari kursi mereka lalu siapa lagi?…..”

Segala kalimat Young Bae menyihir lautan manusia disana, mereka diam. Khidmat mendengarkan aspirasi Young Bae yang mengguncah. Mereka seolah mengiyai segala rangkaian pendapat itu, tidak sedikit tangan teracung keatas mengepal, menyemangati segala ucapan.

Usai sudah, kini Young Bae turun dari mimbarnya, tersenyum bangga pada 4 teman yang sudah menantinya.

“kau hebat teman.”

Puji Ji Young mengangkat jempolnya, mendapatkan anggukan terimakasih dari Young Bae kala itu.

Semuanya berjalan khidmat, aparat yang berjaga terlihat santai menjaga, tiada yang terlihat mencurigakan. Lautan manusia itu masih bernyanyi dan ber yel-yel saling menyemangati, sesekali olokan pedas terlontar namun itu dianggap wajar. Ban-ban yang dibakar di tengah jalan mengakibatkan kepulan asap hitam menggunung-gunung, menjadikan riuh gemuruh semangat demonstran semakin tersulut. Sudah hampir 5 jam demo terjadi, rasa lelah menggerayai para demonstran. Tujuan mereka berdemo hari ini adalah mendapatkan perhatian president dan dewan, tapi tak kunjung perwakilan turun atau mengeluarkan keputusan untuk menerima perwakilan dari mahasiswa dalam perundingan.

“sialan!.”

Umpat Seung Hyun yang berlari mendekati Young Bae dan Seung Ri.

“ada apa memangnya, hyung?.”

Tanya Seung Ri penasaran kenapa hyungnya itu terlihat marah. Seung Hyun menetralisirkan nafasnya, dia menelan ludah sebelum mulai berbicara.

“perwakilan kita ditolak untuk masuk istana, bahkan demo kita terancam gagal hari ini.”

Terang Seung Hyun masih terengah-engah. Young Bae dan Seung Ri yang mendengarkan membulatkan mata tidak percaya, mereka kini sungguh tersulut emosi, merasa tidak terima akan sikap pemerintah yang tidak memandangan mereka sama sekali, lebih baik dipandang sebelah mata. Namun kali ini mereka sungguh diluntah-luntahkan dijalan, dibiarkan berteriak-teriak tanpa mendapatkan perhatian.

Segera kabar tersebut menyeruak disetiap elemen demonstran, menjadikan satu demi satu demonstan meradang. Seung Ri membanting spanduknya keaspal, menginjak-injak dengan keras. Young bae menarik Seung Ri dari ijakan spanduknya.

“Kau kenapa?.”

Teriak Young Bae menyadarkan Seung Ri yang sudah benar-benar tersulut emosi.

“para kaum sialan itu sudah benar-benar, hyung. Aku tidak tahan lagi menyaksikan kita diinjak-injak dan dibodohi pemerintah. Aku tidak tahan!.”

Seung Ri melepaskan dirinya dari cengkraman Young Bae, berlari menyeruak pada kerumunan demonstran yang sudah memanas, diawali dengan percakapan antar teman kini mereka merangsek maju pada barisan aparat yang bersenjata lengkap. Melempari aparat dengan batu atau benda di tubuh mereka.

Keadaan tidak terkontrol, emosi yang membuncah mengiringi setiap adu fikis demonstran dengan aparat. Young Bae yang merasa cemas akan Seung Ri berlari bersama Dae Sung dan Ji Young mencari-cari, sebisa mungkin mereka menghindari kontak fisik dengan aparat.

“kemana bocah itu?.”

Gusar Dae Sung mencari-cari. Ji Young menggeleng takut, rasa cemas membeluncahi dirinya.

“itu dia!.”

Teriak Young Bae pada dua temannya.

“Omo.., bagaimana bisa?.”

Ketiganya berlari kencang, mendekati Seung Ri yang tengah dikeroyok 3 aparat, mereka membrondongi Seung Ri yang sudah tak berdaya dengan tinjuan di sekujur tubuh, membuat Seung Ri melengkung tak berdaya. Young Bae melesak maju, meninggalkan Ji Young dan Dae Sung dibelakang,  diberikannya pukulan mentah kepada aparat-aparat tersebut, menjadikan tubuhnya mendapatkan hantaman keras melalui tendangan pas diperut oleh salah satu aparat, Young Bae tersungkur ketanah, darah segar mengalir dari mulutnya. Perut rasanya tidak karuan, sepatu vantofel milik aparat itu sudah tepat mengenai perutnya. Young Bae kembali bangkit, dia terseok mendekati Seung Ri yang masih di pukuli, entah apa salah Seung Ri hingga aparat-aparat itu memukulinya sedimikian rupa, wajah Seung Ri sudah tidak berbentuk, darah segar menjadi pengganti coklat kulitnya.

“Hentikan!.”

Teriak Young Bae mendorong tubuh si polisi, menjadikan mereka berdua terhujam ke tanah, Young Bae yang berada di posisi atas segera menarik paksa helm pelindung si aparat, memukuli aparat itu berkali-kali dengan helm pelindung yang ia tarik paksa, gemuruh emosinya akan carut marut negara kini semakin ditambah oleh tindakan tidak terpuji aparat yang menganiaya temannya.

“rasakan ini, Bajingan!.”

Umpat Young Bae, tiada perlawanan dari si aparat, dia kalah telak akan posisi dan kekuatan emosi. Namun pada akhirnya, ketika aparat itu sudah tak kuasa, Young Bae mendengar suara teriakan Ji Young.

“awas Young Bae…”

DOORRR…!!!

JLEB

Pandangan Young Bae kabur. Nafasnya sesak, tubuhnya perih dan perlahan melumpuh, yang sanggup ia lakukan hanya menatap tidak berdaya pada langit yang berhias teriakan dan lengkingan senapan. Helm di tangannya terlepas perlahan, tubuhnya kini terasa lemas dan ambruk di atas tubuh si aparat yang ia pukuli. Diikuti dengan teriakan para demonstran yang masih saja berusaha memperjuangkan diri mereka beriri di atas tanah air demi mengangkat keinginan bersama.

“Young Bae…, bertahanlah!.”

Ji Young dan Dae Sung mengangkat tubuh Young Bae, membawanya berlari pontang-panting menuju tempat yang aman karena peluru-peluru aparat itu melayang tanpa diminta dan terus menjatuhkan lawan.

“bertahanlah Young Bae!.”

Rintihan itu terdengar dari Ji Young dengan menepuk-nepuk pipi Young Bae berkali-kali.

“Young Bae…!!! Bertahanlah!.”

Teriak Ji Young ketika temannya ini tidak kunjung merespon, terdapat denyut nadi dan nafas yang perlahan dari tubuh itu. menjadikan kegusaran pada diri Ji Young dan lainnya sedikit redah, mereka membawa Young Bae kerumah sakit terdekat dengan mengemudikan mobil jarahan dipinggiran jalan, mobil milik penduduk yang ditinggal begitu saja oleh pemiliknya yang ketakutan akan ricuh demonstran dan aparat.

Ji Young dengan kesetanan mengemudikan mobil jarahannya menuju rumah sakit terdekat, mencari ruas jalan kosong dan menyalip dengan gesit. Dengan melirik sepion Ji Young memastikan keadaan Young Bae yang dipangku oleh Dae Sung, seseunggukan Dae Sung memeluk tubuh temannya itu.

“errrggg….”

Sebuah erangan lirih terdengar dari bibir biru Young Bae, Dae Sung segera menghapus air matanya, semakin erat memeluk tubuh ringkih Young Bae, Ji Young tak kalah terkejut, dia segera menoleh cepat, menyaksikan temannya berusaha membuka mata dengan lemah.

“Young Bae-ah.., kau sadar!.”

Teriak Dae Sung dengan menangkup wajah Young Bae erat.

“dimana aku?.”

Tanya Young Bae serak, dia mencoba menggerakkan tubuhnya namun terhalang akan rasa sakit yang menyeruak dalam tubuhnya.

“AOW…”

Rintih Young Bae, Dae Sung yang menyadari kesakitan Young Bae segera merileks-kan tubuh temannya.

“jangan banyak bergerak, Young Bae. Bersabarlah!, kita dalam perjalanan kerumah sakit.”

Perlahan, sangat lambat malahan, Young Bae menyakukan tangannya, mencari sesuatu didalam sana dan menariknya keluar. Sebuah kotak berwarna biru, dibalut kain bludru. Dia mencari tangan Dae Sung.

“apa ini?.”

Heran Dae Sung.

“berikan ini pada Kang Hye Moon, aku sudah berjanji akan kembali padanya.”

“tap-tapi….”

“ssstttt, kumohon Dae Sung, berikan ini pada Hye Moon.”

“tidak!. Aku tidak mau memberikan barang ini, kau sendiri yang harus memberikannya.”

Kembali air mata menyeruak di bola mata Dae Sung.

“kau sendiri yang harus menyerahkan barang ini pada Hye Moon, Young Bae!.”

Tekan Dae Sung.

“ak-ku tid-dak bis-sa. Kumoh-hon…..

“Young Bae…!!! Young Bae…!!!”

Semakin erat Dae Sung memeluk tubuh Young Bae, Ji Young hanya mampu memejamkan matanya dalam. Mobil itu melaju ringan seirama tancapan gas Ji Young yang melemah.

+++++++

Ia buka pintu coklat rumahnya, menyaksikan 3 pemuda yang tak ia kenali.

“siapa ya?.”

Tanya Hye Moon bingung, salah satu dari 3 pemuda, yang berambut platinum mengulas senyum sembali menjulurkan tangan berjabat.

“perkenalkan, Dae Sung imnida.”

Ungkap Dae Sung. Hye Moon mengangkat alis.

“ada kepentingan apa?.”

Ji Young maju kedepan, dia memberikan Koran hari ini, Daily Seoul.

TRAGEDI KELAM

7 demonstran meninggal dikarenakan senjata aparat, nama korban anra lain: Han Chan Ga, Yoon Baek Hyun, Lee Seung Hyun, Park Nam Pyo, Dong Young Bae, Lee Seung Hwa, Lee Go San. Ke 7 mahasiswa tersebut mengalami luka parah di bagain vital seperti, kepala, dada, punggung, dan leher. Akibat layangan peluru yang dimaksudkan sebagai penggebrak demonstran untuk mundur dan menghentikan aksi konfrontasi. Meski pihak aparat mengeluarkan statemen jika peluru yang digunakan adalah peluru karet, namun hasil yang terlihat melalui forensic adalah peluru yang bersarang di tubuh korban peluru tajam.

Negara kita berduka, hujatan mengenai tragedi ini menyeruak dari segala kalangan, diperkirakan hari ini akan terjadi demo kembali menuntut akan kelalaian aparat dalam menangani demonstran hingga jatuh korban jiwa.(Daily Seoul /Han/Wook)

Hye Moon mengerutkan dahi, dia masih bingung akan apa maksud 3 pemuda asing ini memberikannya koran.

“Young Bae salah satu dari 7 korban.”

Seuara berat Seung Hyun mewarnai guratan dahi Hye Moon, ia arahkan matanya kepada list korban yang ia lalui begitu saja tadi.

nama korban anra lain: Han Chan Ga, Yoon Baek Hyun, Lee Seung Hyun, Park Nam Pyo, Dong Young Bae, Lee Seung Hwa, Lee.

Teman kami Lee Seung Hyun juga ikut terbunuh. Young Bae terbunuh karena berusaha membela Lee Seung Hyun yang tengah di keroyok aparat.”

Tambah Seung Hyun begitu enggan, nada suaranya segera serak, tak kuasa untuk mengenang kejadian mengenaskan tersebut. Hye Moon kini membekap mulutnya rapat, terdengar dengung sesenggukan tak terkontrol diikuti desakan air mata. Kepalanya menggeleng tidak mengiyai Koran ditangannya, dia tidak percaya.

“berita ini pasti salah!. Young Bae sudah berjanji padaku untuk kembali, dia berjanji akan menikahiku setelah demon usai. Kalian pasti salah!.”

Terang Hye Moon sesenggukan, dia mengembalikan Koran itu pada Ji Young.

“mungkin ini sulit Hye Moon, kami juga masih tidak percaya akan kenyataan yang terjadi.”

“huh, cepat pergi kalian dari rumahku!. Kalian pasti kumpulan orang gila bukan?.”

Tuduh Hye Moon sudah tidak waras. Dia kalut akan kenyataan yang ia hadapi, bagaimana bisa Young Bae meninggalkannya.

“dia menitipkan ini untuk diberikan padamu.”

Mata Hye Moon membulat seketika, sebuah kotak biru ditangan Dae Sung mencuri perhatiannya. Isakan tangisnya terhenti seketika.

“apa ini?.”

“terimalah terlebih dahulu. Terdapat surat didalamnya.”

Enggan, Hye Moon mengambil kotak tadi, membuka dan mendapatkan surat kecil bersama dua cincin pasangan. Cincin perak yang berukirkan nama masing-masing dibagian dalamnya.

[FLASH BACK]

Stasiun

“tunggulah aku, jika demo ini usai akan kupenuhi janjiku.”

Mata Hye Moon berkaca-kaca.

“benarkah?.”

“nde. Kita akan menikah setelah kepulanganku, kau dan aku akan menjadi suami istri yang memiliki banyak anak yang lucu, Hye Moon-ah.”

Terbuai, itulah yang saat itu Hye Moon rasakan, dia semakin berat untuk melepaskan Young Bae dari sampingnya. Tautan kedua tangan mereka begitu erat, hingga suara pengumuman keberangkatan kereta mau tidak mau memisahkan mereka.

“bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?. demo sangatlah berbahaya?.”

Gusar Hye Moon menahan langkah Young Bae. Young Bae maju kedepan, menarik lengan kecil Hye Moon dan menarik gadis itu kedalam pelukannya.

“kita pasti akan bersama. Karena jika kita berjodoh, kelak disuatu masa dan tempat yang telah ditentukan olehNya. Kita akan bertemu kembali, maka dari itu jangan takutkan langkahku menjauh. Karena pada akhirnya, dengan yakin kita akan bersama kembali.”

Penegasan itu membuai Hye Moon, memaksa gadis itu mengangguk sebagai tanda melepaskan Young Bae dengan ikhlas.

[END OF FLASH BACK]

“cincin ini seharusnya ia berikan dihari kami bertunangan.”

Keluh Hye Moon pada 3 pemuda dihadapannya.

“kami turut berduka sedalam-dalamnya.”

Ungkap Ji Young dengan anggukan Dae Sung dan Seung Hyun.

Hye Moon jatuh terkulai di lantai, dengan masih sadarkan diri dia menangis sesenggukan meratapi nasib. 3 pemuda dihadapannya tidak mampu berbuat apa-apa, mereka mencoba untuk mengerti apa yang tengah dirasakan Hye Moon. Duka teramat dalam ditinggalkan seorang yang dicinta menggelayuti atmosfer pagi.

>>> TAMAT <<<