breathe

Nama author : HaranaPanda

Cast(s) :

  • Lee Seung Hyun (seungri bigbang)
  • Gong Minji (minzy 2ne1)
  • Lee Ji Eun (IU)

Genre : sad romance, friendship

Length : oneshoot

A/N : ah, ff ini udh pernah aku publish di http://www.koreaafanfiction.blogspot.com/

ff ini murni bikinan aku. Pokoknya, selamat menikmati ^^

twitter : @hauradhiea

***

“I love you. so love you.

I need your love like I need an oxygen..

for breathe,

for life..”

***

aku mengetuk-ngetukan jari lentikku ke meja kayu. aku mulai bosan dan pantatku mulai panas. ‘oh, ayolah, oppa! kamu dimana, sih?! bukannya kamu yang memanggilku kesini?’batinku jengkel. sudah satu jam aku terdiam sendirian seperti orang gila disini. pungunjung dikanan dan dikiriku saja, sudah berganti sebanyak 3x. lagipula, aku mulai terganggu dengan tatapan para maid dan butler cafe ini. mungkin karna aku menunggu selama satu jam tapi tidak memesan apapun. aku menghela napas berat. sepertinya, aku benar-benar harus memesan. ku angkat tangan untuk memanggil seorang maid. namun, tiba-tiba saja..
GREP!!

Seseorang menutup mataku dari belakang. nyaris saja aku menjerit kalau tadi aku tidak ingat sedang berada dimana. kurasakan dagunya bertopang di atas kepalaku. aku tau ini siapa.

“minzy-ah, tebak siapa aku?”
aku menahan tawaku. babo sekali orang ini. dari caranya menutup mataku sampai suaranya yang khas, jelas sekali siapa ini. untunglah dia hanya menutup mataku dan melupakan kedua tanganku yang bebas. lekas ku sikut perutnya itu. telak. ia mengerang kesakitan dan melepaskan tangannya dari mataku.

“argh.. apa yg kau lakukan? apo.” erang seungri.

nah, inilah orang yang membuatku berjamur disini. ia berjalan tertatih-tatih sambil memegangi perutnya lalu duduk di bangku di sebrang meja. diletakkan tasnya di lantai, masih dengan sebelah tangan memegangi perutnya.

“omo, oppa! sakitkah?”

“tsk, apa kau tidak lihat?”

“benar-benar sakit?”

“aigo! dwaesseo (lupakan)!”

aku tertawa. lucu sekali melihatnya sedang kesal. pipinya yang digembungkan seperti itu, selalu berhasil membuatku tersenyum dari dulu.

ya.

dulu, dan akan selamanya.

aku menatapnya tanpa menyadari bahwa diapun sedang menatapku dengan tatapan bingung.

“halo! wae, minzy-ah? ada sesuatu di muka ku?” tanyanya sambil menjentik-jentikan jari di depan wajahku. aku yang baru saja melayang-layang di alam khayal, dipaksa jatuh dan tersadar.

“eo.. ah, aniya, seungri oppa.” jawabku sambil berusaha menutupi rasa malu. ia hanya mengangguk-angguk.

“ngomong-ngomong, aku telat, ne? sudah berapa lama kau menunggu?”

“belum terlalu lama.”

“ah, sukurlah. ku kira-”

“1 jam lebih 27 menit.”

“eh, mwo?”

“aku bilang 1 jam lebih 27 menit aku menunggumu. belum terlalu lama, BUKAN.” tekanku di akhir kalimat. terlihat seungri menelan ludah dan dengan cepat mengeluarkan innoncent smilenya. aku mencibir.

“mianhae, ne, minzy..” pintanya

“aniya.” tolakku sambil memalingkan muka.

“jebal.” pintanya. kali ini dengan bonus puppy eyes.

“a.. ani..” aku meliriknya sekilas. pertahananku merapuh.

“jebal..” ok, aku sudah tidak tahan!

“ne, ne! berhentilah memohon sambil menatapku seperti itu!” omelku.

“jinjja kau memaafkan ku?” binarnya. aku menatapnya sinis.

“perlu ku jawab?”

“gomawo! jeongmal gomawo!” ia tersenyum dan langsung mencubit kedua pipiku.

“ya! kau membuatku malu, oppa!” jeritku sambil menepis tangannya. aish, sejujurnya, aku tak ingin tangannya lepas dari pipiku. rasanya hangat ketika pipiku merespon kehadiran tangannya. warna merah pasti telah melebar disekitar pipiku. untung dia sibuk dengan buku menu.

“minzy-ah, kau tidak memesan?” tanyanya. aku berdecak sebal.

“aku terus menunggumu, babo.” aish! lagi-lagi aku sinis padanya. jeongmal hamnida!! namun, seungri hanya membalas dengan cengiran tanpa dosanya.

“ahahaha.. baiklah. aku memesan dulu untuk kita.” seungri beranjak dari kursi.

“omo, oppa! tidak usah. aku nanti saja.” ujarku berusaha mencegahnya.

“ah, aku yang bayar.” balasnya sambil tersenyum lalu melangkah mendekati seorang butler. entah terhipnotis apa, aku terus menatap punggungnya. punggung seseorang yang ingin sekali ku jadikan tempat untuk bersandar dan tempat untuk mencurahkan semua perasaanku. ah, ingin sekali ku ungkapkan perasaan yang telah meletup-letup sejak pertama bertemu dengannya di gwangju ketika kuliah 3 tahun yang lalu dan, kalau tidak salah, bertepatan dengan hari ini.

kau lihat sendiri kan, betapa tergila-gilanya aku pada namja itu. hingga hari dimana senyumannya melelehkan hatiku yang telah lama tertutup ini, aku ingat. ah, dulu aku masih seorang yeoja 17 tahun cuek yang masa bodo dengan cinta. dia pun hanya namja canggung yang populer. masih sama-sama labil. dan kini, setelah 3 tahun lewat, dia sudah menjadi namja yang tampan dan dewasa di umurnya yang masih 22 tahun ini. entah kenapa, tiba-tiba aku terkekeh kecil mengingat tingkahku dulu.

“ya! kenapa kau tertawa sendiri? kau gila?” aku mendongakkan kepala. terpampanglah wajah seungri yang sedang menatapku dengan tatapan bingung. sepertinya ia baru saja datang.

“mwo?? enak saja kau mengataiku gila!” omelku.

“habis kau tertawa sendiri dan tanpa sebab.” ujarnya sambil meletakkan 2 buah cangkir di atas meja dan duduk. tersajilah di depanku 1 cangkir chocochino dan 1 cangkir vanilla latte, kesukaanku. ah, harumnya.

“minzy-ah, jangan hanya dipandangi saja. ige.” seungri menyodorkan vanilla latte itu padaku. aku lekas mengambil cangkir yang isinya masih menggebul itu.

“gomawo, oppa.” ujarku dan mulai menyesapnya. seketika rasa hangat menjalar di sekujur tubuhku. aku melirik seungri. ia pun tengah menyesap chocochino nya. pandangan kami sempat bertemu tadi. namun, aku lekas melirik ke arah lain dan meletakkan cangkirku. ia melakukan hal yang sama.

“bagaimana?”

“apanya? aku? baik.”

“bukan, babo! latte mu.”

“eh.. oh, hehehe.. enak.” hiyaaa!! malunya aku!

“baguslah.” ujarnya sambil tersenyum, kembali mengangkat cangkirnya dan meminumnya. aku turut menikmati latte ku kembali.

***

“i see. but, how about you,

if i am gone?

are you gonna die?”

***

“oya, oppa. ada apa kau memanggilku? kau bilang ada hal yang ingin kau sampaikan?” tanyaku setelah meletakkan cangkir. entah hanya bayanganku atau dia memang benar-benar tersenyum dengan lebar sekarang. aku merinding.

“ya! kau membuatku takut, oppa!” ujarku.

“hahaha.. jinjja? mianhae kalau begitu.” balasnya tanpa menghilangkan senyumannya.

“sebaiknya lekas. karna aku juga ingin menyampaikan sesuatu.” omo! benarkah akan ku ungkapkan sekarang? berani kah aku?

“ah, kalau begitu kau duluan saja.” suruhnya.

“mwo? kenapa harus aku dulu? oppa saja!” aku malah balik menyuruh.

“tidak mau. kau duluan saja. atau aku tidak akan bicara.” ia bersandar sambil terus meneguk chocochino nya. mungkin sebentar lagi habis.

“oppa..” mohonku.

“mwo?” ujarnya tanpa melirikku.

“kau duluan.”

“ani.” kali ini, sambil meletakkan cangkirnya. lihat. sudah habis.

“jebal.” ganti aku yang mengeluarkan puppy eyes.

“jika kau berpikir dapat mengalahkanku dengan jurusku, kau salah.” ujar seungri dengan santai. aku merenggut.

“arra, arra. aku akan bicara duluan.” kurasakan kini jantungku berdebar dengan irama yang tidak normal. sanggupkah aku bicara sekarang? apa reaksinya nanti? pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus menghujami kepalaku. aku takut. ku lirik sekilas wajahnya. terlihat sekali binar penasaran diwajahnya. aku menghela napas berat.

sepertinya memang ini waktunya.

“oppa..”

“ne?” balasnya mulai menegakkan posisi duduk.

“…”

“wae, minzy?”

“oppa..”

“ya! wae? ppali wa (cepatlah)!”

“oppa.. johahae (suka).”

“mworago (apa katamu)?”

“saranghae.”

***

“which answer do you wanna hear?

truth or lie?”

***

terkejut.

itulah ekspresi pertama yang kutangkap dari wajah seungri. setelah mengatakannya, aku hanya menunduk untuk menyembunyikan wajahku yang seperti apel ranum ini. aku benar-benar berdebar menunggu jawabannya. namun, selama apapun aku menunggu, ia tak kunjung menjawab.

pelan. ku angkat wajahku. kini tau lah aku apa yang sedang dilakukannya. tampak olehku ia yang sedang merogoh-rogoh isi tasnya. mencari sesuatu, mungkin. apa? aku juga tidak tau. hanya menunggu.

setelah mendapat apa yang dicarinya, sesaat seungri terlihat ragu. namun, ia akhirnya menarik keluar sesuatu itu dan meletakkannya di depanku. saat itulah aku merasa seperti jantungku melompat keluar dan napasku direnggut.

undangan.

undangan pernikahan.

dengan tulisan besar di tengahnya,

Seungri & Ji Eun

Ji eun? seperti aku kenal nama itu. ah, iya, aku ingat. diakan hobae ku di universitas jurusan theater dulu. seungri memang pernah bilang kalau ia menyukai ji eun hobae. tapi, aku tidak tau seungri benar-benar mengejarnya.

kugigit bibir bawahku. berusaha menahan bendungan air mataku yang hampir tumpah.

“mianhae. jeongmal mianhae..” bisik seungri lirih. penuh rasa menyesal.

“mwo? kenapa meminta maaf, oppa? oppa kan tidak bersalah.” kataku memaksakan senyum. ku ambil undangan tersebut dari meja. ku lepas sampul plastiknya, lalu mulai kubaca.

nyut.

perih. inikah rasanya patah hati?

“hiyaa.. ji eun hobae, ne? rupanya oppa berhasil mendapatkannya. pasti jiyong sunbae menyesal telah memutuskan ji eun hobae. beruntung sekali ya hobae menjadi milik orang sepertimu, oppa! chukkahae, ne!” omo! aku tidak bisa berhenti! seseorang, hentikan aku!

sebutir airmata tiba-tiba terlepas begitu saja tanpa kusadari. seungri yang melihatnya tampak terkejut.

“minzy-ah..” ujarnya.

“ne? wae?” tanyaku. ia menunjukan pipinya. lekas kuraba pipiku sendiri. akupun tersentak. cepat-cepat kuhapus.

“ah, sepertinya mataku kelilipan.” ujarku.

aku harus cepat pergi dari sini! oh iya, aku tau bagaimana caranya! lekas kuambil handphone. seungri tampak memerhatikanku.

“omo, oppa! eomma menyuruhku lekas pulang.” ujarku dengan wajah yang menunjukan penyesalan setelah berpura-pura melihat handphone. ok, aku tau aku tidak pintar berbohong. seungri pun pasti tau kalau aku, sebenarnya, tidak mendapatkan misscall atau email satupun.

“mianhae..” ucapku lirih.

mianhae, oppa. untuk semuanya. untuk kebohonganku. untuk rasa cinta yang tak dapat kuhentikan. dan mungkin, untuk ketidak hadiranku dipernikahanmu.

“arraseo. salam untuk eomma, ne.” kata seungri. aku tersentak. kenapa tidak menghentikanku, oppa? padahal kau tau aku berbohong. akupun hanya bisa menunduk.

“ne, oppa. aku.. pulang dulu.” aku berdiri dan menyampirkan tas selempangku di bahu kanan.

“annyeong-hi gaseyo.” pamitku sambil membungkuk.

“ne. annyeong.” jawab seungri. akupun berbalik. mulai berjalan sambil membiarkan air mataku terjun bebas. meninggalkan seungri yang menunduk dan menatap kosong vanilla latte kesukaanku yang masih tersisa setengah.

“jeongmal mianhae, minzy-ah..”

***

“of course a

truth answer.”

***

Aku membuka mataku. susah sekali. pasti mataku bengkak parah. berusaha kuangkat tubuhku dan kuposisikan untuk duduk. sekejap, aku menangkap bayanganku di kaca lemari. huwaa! aku hancur sekali dengan muka sembab, rambut berantakan, dan baju kemarin yang sangat kusut. cukuplah mendeskripsikan seberapa hancurnya aku. hatiku.

sejak pulang dari cafe kemarin sore, aku langsung mengurung diriku di kamar apartemen. yah, setidaknya kau tau apa yang kulakukan disana. apalagi kalau bukan menangis dan mengutuki diri sendiri karna menangis untuk seungri. ngomong-ngomong, ingat tentang namja itu, aku menarik undangan dari kolong kasur.

hampir hancur.

salah satu benda pelampiasanku.

aku mulai membukanya. untuk masih bisa terbaca. sekali lagi, aku melihat tulisan,
Lee Seung Hyun

&

 Lee Ji Eun’

kembali kugigit bibir bawahku yang sudah lecet, terlalu sering ku gigit. aku berusaha tidak menangis karna memang sudah lelah menangis. lekas ku balik halaman berikutnya. tertera disana tanggal dan waktu pernikahan mereka.

15 september, 20:00.

dengan kata lain, malam ini.

tes.

sebutir air mata, lagi-lagi luput ku tahan. makin lama, makin banyak.

“argh!!” jeritku frustasi sambil melempar kartu undangan malang tersebut ke dinding kamar. yah, mungkin menurut kalian, ke frustasi anku terlalu berlebihan. aku juga tidak tau mengapa aku seperti ini. mungkin aku sangat-sangat mencintai seungri. perasaan yang terlalu perih inilah yang mungkin menjadikan airmataku tidak akan mengering untuk waktu yang agak lama.

pada akhirnya, kubiarkan wajahku terbenam dalam bantal dan terus menangis. kubiarkan hingga aku lelah lalu terlelap. sambil berjanji menjadikan ini tangisan terakhir untuk seungri. namja yang begitu aku cintai.

tangis terakhir.

airmata terakhir.

benar-benar yang terakhir.

“jeongmal saranghae, oppa.”

***

@supermarket, 18:50

aku menghela napas. setelah menyelesaikan tidur sesi kedua di hari kelamku ini, aku memutuskan untuk membeli makanan di supermarket. hampir 24 jam tidak ada makanan yang masuk keperutku. dan sekarang aku benar-benar lapar. kini, aku tengah berdiri di depan berdus-dus kotak sereal. bingung. tiba-tiba, ekor mataku menangkap sebuah kotak sereal. berinisiatif, aku mendekat. menggapainya dan menatapnya hampa.

kesukaan seungri.

ah, peduli apa sih aku? aku amati sejenak. dia pernah bilang padaku rasanya enak. bolehlah kucoba. ku letakkan sereal itu di troli belanjaanku. ketika hendak beranjak, kurasakan handphone ku bergetar. email? dari siapa? kurogoh saku coat ku. eh? nomor tak dikenal? karna penasaran, lekas saja kubuka email tersebut. kurang lebih isinya seperti ini:

‘dimana kau, minzy-ah? lekas datang ke ruang rias setelah kau sampai, ne?

aku butuh kamu untuk menenangkanku!

                                                  -seungri-‘
aku membeku.

butuh aku?

manusia bodoh itu ingin membunuhku apa dengan menyuruhku datang kesana? akhirnya, hanya ku balas seperti ini:

‘butuh AKU?

                                                 -minzy-‘

terkirim.

ku jejalkan handphone dalam saku. lalu mulai kembali berjalan. ku dorong troli sampai kebagian roti. harum roti yang baru dipanggang, seketika merasuki indra penciumanku.

enak.

aku mendekati salah satu etalase. mengambil nampan dan pencapit. mulai melihat roti mana yang menarik hatiku. namun, belum satupun roti berpindah ke atas nampanku, handphone ku bergetar lagi. aku menghela napas. mau tak mau, aku harus meletakkan nampan dan pencapit itu dulu. setelah merogoh saku dan mendapatkan handphone ku, aku membuka email baru itu.

‘tentu saja, babo! kau itu orang yang paling mengerti aku!

makanya cepat! aku tunggu.

                                                        -seungri-‘

nyut.

aku tidak tau dia bodoh atau memang berkata jujur. yah, sepertinya dia bodoh. 2 hari yang lalu, dia baru saja meremukkan perasaan yeoja yang sedang kasmaran. kini, dia bilang begitu? bodohnya.

“babo.” bisikku perih. tiba-tiba, aku kehilangan selera untuk mengambil roti. langsung saja aku melenggang ke kasir dan segera membayar.

***

@different place, 19:35

aku menatap handphoneku kosong.

tidak ada balasan.

jelas. sepertinya aku menghancurkan perasaannya lagi.

argh! mengapa aku begitu bodoh mengirim email seperti itu? padahal aku tau hatinya belum pulih.

dasar seungri bodoh!

kriet.

pintu berderit. aku menoleh. agak terkejut. terlihatlah sosok cantik berbungkus gaun pengantin putih dari balik pintu.

“seungri oppa, kau sudah siap?” tanyanya.

“ne. sebentar lagi aku akan menyusulmu, yeobo.” balasku. seketika wajahnya merona. tersipu dengan panggilanku tadi. ia mengangguk. lalu, lekas menutup pintu.

sepi.

aku meraih jas putihku. mematut diri dikaca sejenak dan akhirnya melangkah ke arah pintu. sekali lagi kulirk handphone ku.

aneh.

aku masih menunggu.

***

@street, 19:45

berat.

terseok-seok kubawa 2 kantong plastik supermarket yang agak penuh. mengapa aku memilih jalan kaki tadi? tau aku akan membeli banyak barang, ku bawa saja motorku. aku terus mengumpat dalam hati.

eh?

aku baru menyadari sesuatu.

sepi? aneh sekali. biasanya jam segini jalanan masih lumayan ramai. yah, tapi siapa peduli? akupun masih terus melangkahkan kaki ke apartemenku yang mulai terlihat di kejauhan. tepat ketika aku menyebrang jalan, sebuah cahaya menyorot menyilaukan.

***

@YGent ball room, at the same time

dapat kurasakan jantungku berdebar dengan kencangnya. saat ini, aku tengah menunggu ji eun melangkah dari pintu di belakang sana. berulang kali aku melirik ke arah tamu-tamu dan 2 cincin yang bertulisan nama kami.

ji eun untukku

seungri untuknya.

semakin dipikirkan, aku makin kacau. keringat dingin tak henti-henti nya keluar. akhirnya, terlihatlah ji eun dengan gaun putih dan mawar putih ditangannya. perlahan tapi pasti, berjalan ke arah podium dimana aku berdiri. aku menelan ludah. namun, aku menyadari sesuatu dan kembali melirik para tamu.

mana minzy?

***

@19:48

cahayanya terlalu menyilaukan. sampai-sampai, aku tidak tau apa yang berada dihadapanku itu. tiba-tiba terdengar suara klakson yang lumayan keras. tapi, karna suasana sedang sepi, jadilah suara itu menggelegar. sepersekian detik berikutnya, aku baru sadar bahwa mobillah yang sedang kuhadapi sekarang. aku tidak dapat bergerak. seolah-olah, kaki ku tersemen di aspal.

seungri..

juseyo (tolong)..

***

@19:51

aku mengulurkan tanganku. ji eun menyambutnya dan mulai menapaki tangga mendekatiku. kini, ia telah berada tepat dihadapanku.

“aku berdebar, oppa.” bisiknya. dari suaranya, jelas ia terdengar sangat gugup.

“ne. aku juga, yeobo.” balasku sambil berusaha tersenyum. walau ku akui, aku juga sangat gugup.

seseorang (yang setelah kulihat wajahnya adalah daesung hyung) menyerahkan sepasang cincin padaku. aku mengambil satu dan mengangkat tangan kiri ji eun. aku benar-benar gugup. dikepalaku terus berputar wajah ji eun.

dan, entah mengapa..

minzy.

***

@19:54

mobil sudah dekat jaraknya denganku. kantong belanja di kanan dan kiriku, terhempas begitu saja ke jalan. klakson berkali-kali dibunyikan. aku masih belum bisa bergerak. bahkan, untuk berteriakpun aku tidak mampu. yang terus menerus aku gumamkan hanya satu..

“seungri.” gumamku lagi dengan lirih.

***

@19:56

cincin yang bertuliskan namaku mulai merayap dijari manis kirinya. namun, entah mengapa rasa gelisah merambati seluruh inci tubuhku. mendepak rasa gugup yang tadi.

cincin tersebut sudah sampai di pertengahan jari. ku lirik ji eun. senyuman terlihat di bibirnya walau tipis. rasa gelisah semakin mendentum-dentum.

ada apa ini?

***

“can you just answer me?

i’m tired of wait.”

***

@19:59

jarakku dengan mobil itu sudah sangat dekat. kira-kira 5 meter. hanya memerlukan waktu beberapa detik sampai nyawaku habis. detik demi detik berlalu. bayangan wajah seungri terus terputar di otakku.

tak henti-hentinya.

sesak.

4 meter.

sebutir airmata mengalir.

3 meter.

tubuhku kebas.

2 meter.

aku menghela napas. tersenyum tipis sambil berurai airmata.

1 meter.

“saranghae, oppa.. goodbye.”

Cit..

Brakk!!

***

“and the answer is..”

***

@20:00

kini, cincin itu sudah terpasang dengan manis dijarinya. aku mendengar ji eun menghela napas lega. namun, tidak denganku. sekeliling ku buram. aku mengangkat kepala. ji eun tersenyum manis padaku.

tes.

kurasakan airmata mengalir di pipiku. awalnya satu tetes. tiba-tiba menjadi beberapa tetes dan meluncur di pipiku. aku mengangkat wajah. tidak terlihat wajah khawatir di wajah ji eun. mungkin, ia mengira ini airmata bahagia.

tapi, bukan. dia salah.

bukan bahagia.

aku merasa sangat kehilangan.

kehilangan hal yang paling berharga di hidupku.

ia pergi. tapi akupun tak tau itu apa.

ia pergi, dan takkan pernah kembali.

***

“yes..”

***

-fin-