BOY-JiforG

Title : Because of Tattoo | Because of Cake

Cast :

: Kwon Ji Yong

: Kwon Hyeon Ji aka Jiyong’s Sister (OC) :

: Choi Seunghyun, Dong Young Bae, Seungri

Author : JiforG

Lenght : Series? Maybe yes maybe no

If you curious, read and if you don’t like it just leave it. Easy!

__________

Well I’m back!!!! *noonecare -_____-“. Saya tahu terakhir saya post because of cake itu sekitar bulan Mei, dan sekarang sudah bulan desember…jadi reader’s itu waktu yang sebentar bukan? kkk~ Makasih kalau masih ada yang nungguin lanjutin Because Of Tatto dan Because Of Cake walaupun FF yang saya buat selalu gaje #sadar. Dan kali ini pun saya come back dengan kegajean level menengah TT. Harap maklum. Ok, happy Christmas, Eh Happy Reading😄 deh.

_________<>____________<>_____________

[Hyeon Ji POV]

“Sekarang belum saatnya” Apa maksud pria ini!

“Hey! Kalian darimana saja?” Seru Young Bae oppa menghampiri kami. “Aish! Hyeon Ji, bajumu sudah basah. Kau pasti kedinginankan? Pakai jacket ini” dia melepas Jacket yang dipakainya kemudian memasangkannya kepadaku. “ Kajja.. Jiyong sangat khawatir”

“Gomawo Oppa” kataku tersenyum simpul padanya sambil merekatkan jacketnya. Setelah itu aku tidak banyak bicara hanya mengayuh langkah mengikut Young Bae. Sedangkan Seunghyun? dia jalan di belakangku dan tidak mengatakan apa-apa. Begitu kami kembali ke kamar Jiyong, bajuku sudah basah, dan dia terlihat sangat khawatir begitu menyadari keberadaanku.

“Kau darimana saja? Kenapa bajumu basah?!” suara cempreng khas miliknya langsung terdengar begitu melihatku. Dengan langkah ragu aku mendekati tempat dia terbaring—menunduk tidak berani menatapnya. Untuk beberapa saat dia tidak mengatakan apa-apa. Hingga suara langkah kaki mendekat kearahku.

“Ini salahku” kata suara itu tepat di sampingku. Aku memberanikan diri menoleh dan ternyata benar saja, itu Seunghyun. Untuk apa pria ini berdiri disampingku?!

Jiyong hanya mendesah pelan. Di tariknya tanganku kemudian menepuknya pelan. “Pulanglah, aku tidak mau kau sakit. Biar Pria ini yang mengantarkanmu” dia menunjuk Seunghyun. Mwo? Pulang di antar Seunghyun? Tapi tentu saja aku tidak mengatakan apa yang ada dibenakku. Aku tidak mau membantah Jiyong sekarang. Aku hanya mengangguk menuruti kata-katanya. “Hyung, aku serahkan Hyeon Ji padamu. Young Bae akan menemaniku disini sampai manajer kembali”

“Nee” suara berat itu menyahut. “Baiklah, kami pergi dulu” pamitnya bersiap pergi. Kenapa manusia ini tiba-tiba jadi berubah semangat? Sebelum aku mengikutinya, sekali lagi aku meminta maaf pada Jiyong, dia masih terlihat sangat lemas dan aku benar-benar merasa bersalah. “Oppa…mianhe” kataku pelan. Bukannya menjawab dia malah menarikku kedalam dekapannya.

“It’s okay.. sebenarnya ini bukan sepenuhnya kesalahanmu” aku melepaskan dekapannya cepat dan memandangnya heran.

“Jiyong memang sedang kurang fit karena dia terlalu letih akhir-akhir ini” Jawab Young Bae yang lagi-lagi entah sejak kapan sudah berdiri di sampingku. “Sudahla, sebaiknya kau tidak perlu khawatir dengan naga cungkring ini, dia akan aman bersamaku” kemudian menarikku menjauh dari Jiyong.

“Oppa!” seruku sedikit galak. Bukannya berhenti dia malah mengangkat tubuhku kearah Seunghyun. Tepat di depan pria itu. “Nah, nona Kwon sebaiknya sekarang kalian pulang dan segera ganti baju. Aku tidak mau Hyungku yang tampan ini tidak bisa ikut konser selanjutnya. Arra. Soal Jiyongie~ dia sudah berada di tangan ahlinya.” Katanya mantap mengikuti gaya Seungri.

Aku hanya bisa mencibirnya membuat Jiyong tertawa. “Oppa, aku pulang dulu! Oh, Ia young bae oppa, ini jacketnya terimakasih!” pamitku pada Jiyong kemudian keluar dari kamar bersama Seunghyun.

______

Dari rumah sakit sampai sekarangpun kami hanya diam, hingga suara bersinku memecahkan keheningan di antara kami. “gwenchana?” tanya pria yang duduk di sebelahku, dia menoleh sekilas kearahku lalu kembali focus menyetir. Kenapa harus dia yang mengantarku pulang sih! Tapi sejak kapan si mata elang ini pandai menyetir?

“Di belakang ada jacket, pakai saja kalau kau merasa kedinginan. Aku tidak mau Jiyong menyalahkanku begitu tahu adik tercintanya langsung jatuh sakit padahal belum sampai kerumah” katanya sambil terkekeh pelan. Tsk, sampai segitunya.

“Ahni, aku bisa tahan kok” tolakku. Sepertinya aku memang masih bisa tahan.

“Cih, sok kuat padahal telapak tanganmu itu sudah berkerutkan karena kedinginan?” ujarnya. Aku menggigit bibir bawahku, ternyata dia memperhatikan tanganku.

Kemudian dia melepas salah satu tangannya dari stir dan menggenggam tanganku tiba-tiba membuatku meneriakinya “YA!” sontak aku memukul tangannya.

“YA! Kwon Hyeon Ji!! Pelankan suaramu!” dia balas meneriakiku dan melepas tangannya dari tanganku. Apa-apaan pria ini!

“Oppa!! Aku tahu, kau satu group dengan Jiyong Oppa, tapi bukan berarti  harus mengikuti kebiasaannya yang mesum dong!” seruku tidak terima di perlakukan semena-mena.

“Tanganmu itu memang dingin. Pabo~ya” gumamnya pelan di akhir kalimat. Sepertinya dia tidak mendengarkan kata-kataku yang terakhir. “Sudah pakai saja jacketku. Itu ada di jok belakang” tambahnya dengan nada datar seolah tidak ada yang terjadi barusan

“Gwenchana~ toh, sebentar lagi sudah sampai.” Tolakku. Dan tepat seperti dugaanku beberapa menit kemudian kami sampai. “Well, sudah sampai. Aku turun disini saja,” kataku begitu mobilnya berhenti tepat di depan apertemen. Aku tahu dia menatapku dan ingin menjawabku, “Sebaiknya Oppa cepat pulang kerumah, aku baik-baik saja” tambahku, sudah bersiap keluar dari dalam mobil, tapi tangannya malah menahanku membuatku kembali terduduk. Aku memandangnya heran, dan mencoba melepaskan genggamannya. ”Apa masih ada yang ingin Oppa katakan?” tanyaku, menunggunya berbicara. Sedetik..dua detik… dia diam. Perlahan genggamannya melonggar dan dia membuang pandangannya kearah lain. Ada apa sih dengan pria ini?

”Diam berarti tidak ada yang ingin Oppa katakan lagi kan? Aku mau masuk dulu. Ini sudah hampir sore, sebaiknya Oppa juga pulang dan segera ganti baju” aku kembali membuka pintu mobil. Baru saja hendak melangkahkan kaki kiriku keluar dia kembali menarik tanganku dan menahanku di tempat. ”Ya~ Oppa!”

”Aku mencintaimu!”

Mataku membulat dan  tercekat mendengarnya. Aku memandangnya tidak percaya dengan apa yang barusan ku dengar. ”M-w-o..?” aku terbata. Dia sama sekali tidak memandang kearahku sekarang. Aku menutup kembali pintu mobil dan terus memandangnya berharap dia balik memandangku. ”Oppa! Jangan bercanda! Aku tahu aku masih anak-anak, tapi bukan berarti Oppa bisa mempermainkanku!”

”A..K…U… sedang tidak bercanda Hyeon Ji” jawabnya sedikit terbata masih memandang kearah lain sedangkan tangannya masih menggenggamku.

Sesaat kami berdua diam, terbenam dalam pikiran masing-masing. Di luar memang masih hujan dan aku masih duduk—menunggu penjelasan pria ini ”Aku sudah menyukaimu sejak lama” dia kembali membuka suara dan secara perlahan mulai memandangku. Seunghyun… yang selama ini ku kenal aneh, cool, pendiam, pemalu, bingu ini.. kenapa sekarang jadi lebih aneh? Apa dia mau mengerjaiku lagi seperti yang di rumah sakit tadi?

”Heh?” Aku hanya bisa mengerutkan kening. Aku benar-benar shock, bingung, kedinginan semuanya sudah menjadi satu sekarang. ”Oppa… jangan bercanda lagi, ini sudah hampir sore , sebaiknya Oppa pulang dan cepat ganti baju. Arraseo..” pintaku mencoba tersenyum padanya dan kembali bersiap meninggalkan mobilnya. Walau lebih tepatnya ingin melupakan apa yang baru saja dikatakannya

”Hyeon Ji~ya! Aku mencintaimu. Sungguh!” nadanya meninggi membuatku tidak berani meninggalkan tempatku. Seunghyun? Choi Seunghyun? Mengatakan Cinta? Padaku? Hahaha..sepertinya dia benar-benar demam sekarang. Mana mungkin dia menyukaiku. Well, aku memang mengaguminya dan…yeah aku salah satu fansnya. Tapi, ini terdengar tidak masuk akal.

”Oppa… gwenchana?” aku menempelkan punggung tanganku ke dahinya, memeriksanya apakah dia sakit atau…

“Hyeon Ji!” Dia menarik tanganku dari dahinya. Matanya. Matanya…menatap kedalam mataku.

Spontan aku menarik tanganku sedikit salah tingkah. ”Mmm… Oppa tidak demam.” gumamku mencoba tidak gugup ”Sudahla Oppa, kalau mau latihan dialog untuk film, acting Oppa sudah bagus kok. Penghayatannya dapat, mimik wajahnya apa lagi, dan acting Oppa it…” belum sempat aku melanjutkan kata-kataku dia sudah terlebih dahulu membungkamku dengan bibirnya. Dia menciumku lembut.

Seolah baru sadar, cepat-cepat aku mendorong tubuhnya. Oh Tuhan, apa aku bermimpi? Ini sungguhan? My first kiss bersama Seunghyhun?

“YA-AA…!!! Apa yang oppa lakukan?” aku meneriakinya galak, cepat-cepat menutup bibirku dengan kedua tanganku. “Oppa…kau merebut ciuman pertamaku” reflex air mataku turun. “Oppa… kau jahat!!” teriakku buru-buru keluar dari mobilnya.

<<>><<>>

Kepalaku seakan diperintahkan untuk diam dan jantungku seakan berhenti berdetak untuk sesaat. “Apa ciuman tadi sungguhan? Atau hanya halusinasiku saja?” Bagaimana ia bisa melakukan itu? Apa jangan-jangan dia—memang—

Aku menggeleng cepat mencoba terbangun dari kebekuanku. Aku seakan tersihir sejenak olehnya ciumannya tadi. Aku berlari ke dapur meneguk minuman yang ada di dalam kulkas dengan cepat sampai habis, hampir-hampir membuatku tersedak. Ku beranikan diri untuk menoleh ke kaca, memandang rupaku yang terlihat— entahla aku tidak bisa mendeskripsikan rupaku sekarang. Kakiku lemas dan aku terduduk di dapur bersama gaho. Oh Tuhan, apa benar yang tadi menciumku Seunghyun?Seunghyun Oppa? Yang selama ini….

[Hyeon Ji POV End]

________<<<>>>________

Next Day~

“Ya! Iranayo!!” teriak Minkyung—stylist Jiyong pada Hyeon Ji saat di dapatinya gadis itu masih meringkuk di balik selimut tebalnya. “Hyeon Ji~ya…!! iranayo!!” di tariknya selimut gadis itu secara paksa. Dengan mata masih terpejam dan tubuh meringkuk di tempat tidur gadis itu meraba-raba kasur mencari selimutnya.

“Ya! ira…omo..tubuhmu panas!” ujar wanita itu kaget begitu memegang pergelangan tangan Hyeon Ji hendak memaksanya bangun. Cepat-cepat tangannya beralih ke kening gadis itu, dan menempelkan punggung tangannya disana. “Omo! Demammu tinggi sekali” ujarnya berubah panik. “Aish.. ini pasti karena kau kehujanan kemarin kan?”desisnya. Cepat-cepat di selimutinya kembali Hyeon Ji dan keluar dari kamar.

“apa dia sudah bangun?” tanya Seungri begitu melihat Minkyung keluar dari kamar. Pria itu di tugaskan menjaga Hyeon Ji semalaman oleh Jiyong selagi dia di rumah sakit sebelum Minkyung datang subuh tadi karena manajer dan orang yang biasa tinggal di apertemen sedang sibuk.

“Dia demam. Dan sepertinya demamnya tinggi. Aku mau menelpon dokter dulu. Kau tolong lihat dia sebentar. Aigo~ Jiyong pasti mengomel kalau tahu adiknya sakit” gumam Minkyung sembari berjalan melewati Seungri menuju tempat dimana tadi dia meletakkan ponselnya.

Pelan-pelan Seungri membuka pintu kamar berwarna putih itu seolah takut mengganggu sang empunya kamar. Di dekatinya tempat tidur yang terletak di pojok ruangan, berdiri sesaat sambil memandangi dengan rasa  khawatir. “Gwenchana?”

Gadis yang meringkuk di balik selimut itu hanya menganggukkan kepalanya. Tubuhnya kedinginan dan dia merasa lemas sekarang. “Panggilkan Jiyong Oppa” pintanya dengan suara hampir tidak terdengar. Seungri yang semula berdiri kini sudah duduk di tempat tidur, di rapikannya rambut Hyeon Ji yang berantakan. “Oppa..hiks..hiks…panggilkan Jiyong oppa” gadis itu mulai menangis. Gadis itu akan menangis tiap kali dia sakit dan tidak ada keluarganya di sampingnya. Manja? Ya, Hyeon Ji akan lebih manja jika ia sakit, terlebih pada orang tuanya dan Jiyong. “Nee…Minkyung Noona pasti akan menghubungi Jiyong Hyung. Aku disini menemanimu sampai dokter datang.” Seungri mencoba menenangkan Hyeon Ji.

“Bagaimana?” tanya Minkyung pelan begitu masuk kedalam kamar takut menganggu Hyeon Ji.

“Kapan dokternya sampai? Tubuhnya mulai menggigil. Noona sudah memberi tahu Jiyong?” rententan pertanyaan keluar dari mulut Seungri begitu dia melihat Minkyung memasuki kamar dengan nampan berisi baskom serta handuk kecil dan segelas air putih.

“Nee, Jiyong lagi di jalan. Mereka baru saja keluar dari rumah sakit” Kata wanita itu setelah meletakkan baskom di atas meja dekat tempat tidur Hyeon Ji. Di perasnya handuk kecil itu dan mulai menempelkannya pada kening gadis itu. “Hyeon Ji~ya, apa kau mau minum?” tanya wanita itu. Tapi Hyeon Ji menolak.

“Mana Jiyong Oppa?” tanyanya lagi. Membuat airmatanya kembali keluar. Seungri yang melihat itu menyekanya dan mencoba kembali menenangkan gadis itu. “Dia sedang menuju kemari. Hyeon Ji~ya kau harus minum, nanti kau bisa dehidrasi.” Di bantunya Hyeon Ji untuk duduk dan memberi air putih yang tadi di bawa Minkyung. Pria itu sudah terlatih dengan wanita yang sakit, mungkin karena dia juga punya seorang adik perempuan.

Begitu gadis itu meneguk air putihnya, “Onni dingin” gumamnya dengan suara pelan.

“Noona, tolong matikan AC nya” pinta Seungri. Di tariknya selimut yang membungkus gadis itu sedikit keatas hingga menutupi leher. “Kami disini. Sebentar lagi Jiyong Hyung sampai” Hibur Seungri lagi. Ini memang bukan pertama kalinya dia melihat Hyeon Ji sakit seperti ini. Daya tahan gadis itu memang lemah. Salah satu faktornya mungkin karena dia lahir premature. Tiga puluh menit kemudian dokter yang tadi di telpon Minkyung sampai bersamaan dengan Jiyong dan manajernya.

“Rabbit~ah” panggil Jiyong begitu masuk kedalam kamar adik perempuan satu-satunya itu. Seungri yang semula duduk di tempat tidur terpaksa bangkit berdiri untuk memberikan tempat pada Jiyong.

“Gwenchana?” tanya pria itu. Raut wajahnya terlihat begitu khawatir. Di letakkan punggung tangannya ke kening gadis itu. “Panasmu tinggi sekali” ucap pria itu pelan.

“Oppa” gumam Hyeon Ji. Tangisnya pecah begitu melihat Hyeon Ji. “Dingin” ujarnya.

“Uljima…, dokter sudah disini. Kau akan baik-baik saja” jawab Jiyong lembut. Di ciumnya ubun-ubun adiknya itu dengan lembut. Kemudian dia membiarkan dokter memeriksanya.

TOBECOOO…

<><><><><><>

How? Double GAJE?? I know it =___= mau tahu lanjutannya?? Well, ini dia sepotong cerita untuk next part..kkkk~ And, if you wanna now me more just follow my twitter : @goyaaprilia #promo hahaha. Dan utang-utang FF saya yang lain secepatnya akan saya publish dalam waktu dekat #Hope

___________________

Aku menatap piringku muak, kemudian menaruh sendokku dan menggeser piringku kedepan. Seungri  yang sadar dan kebetulan duduk tepat di sampingku  menatapku heran. “Kenapa makananmu tidak di habiskan?” tanyanya

“Kenyang,” ujarku pelan, kemudian tersenyum kecut. Entah kenapa aku jadi kesal sendiri. Jiyong  menatapiku dan aku yakin yang lainnya juga begitu. Tapi aku tidak menggubrisnya atau lebih tepatnya tidak peduli. Baru saja aku berdiri hendak menjauhi meja. “Mau ke mana?” tanya Seunghyun. Dia masih menganggapku ada di situ toh, aku kira sudah tidak. Aku kira dia sudah tenggelam dalam obrolan dengan wanita-wanita itu.

__________________________

See You ==> 2013😄