Title : My Bad Boy

Author : @ChobyChoi

Main Cast :

  • • Lee Seun Hyun (BigBang’s SeungRi)
  • • Han Yong Kyung (OC)

Genre : Romance

Length : One Shoot

Rate : PG-16

A/N : Coretan pertama yang dikirim di blog ini. Coretan aneh yang ada nama Seungri Oppa ini pernah di publish di blog lain. Salah satunya blog pribadi saya ^_^ Terimakasih buat adminnya karena sudah mau meluangkan waktu untuk mem-publish coretan aneh ini -__-

Disclaimer : Milik Tuhan dan ChobyChoi. NO BASH! DON’T COPY PASTE!!!

—————————————————-Happy Reading——————————————— I was too harsh that night
I didn’t know you would really leave
The words, “I’m sorry”, is difficult for us
That we take it to the end
Because I’m ill-tempered
We fight over stupid things numerous times a day
You take off crying, I look around and think
She’ll come back tomorrow
She’ll definitely call me first in the morning

“YONG KYUUUNGG!!!!”
Aku tak memperdulikan teriakannya. Aku sudah kalap sekarang. Kakiku tak berhenti melangkah lebar, tak memperdulikan hujan yang sudah mengguyur tubuhku sedari tadi, sejak aku melihatnya bersama wanita itu. Dia sudah keterlaluan. Seung Hyun oppa sudah keterlaluan. Aku membencinya! Aku sangat membencinya! Seharusnya aku tahu resiko semua ini saat menerima seorang idol seperti dia.
Greepp!
Aku tersentak dan berbalik dengan mendadak karena tarikan dilenganku yang keras. Seung Hyun oppa memelukku erat. Sangat erat. Aku meronta, tak ingin dipeluk olehnya. Dia sudah keterlaluan. Aku sudah memberikan kebebasan dan kepercayaan padanya. Tapi dia malah memanfaatkan kepercayaanku.
“Lepaskan aku! Aku tidak mau dipeluk oleh pengkhianat!” kudorong dadanya keras, mungkin sangat keras, sehingga dia tersungkur beberapa langkah dariku. Dia menatapku kecewa. Aku memalingkan wajahku. Membiarkan air hujan terus membasuh air mataku. Bahkan aku tak tahu sejak kapan aku menangis. Suara petir menjadi penghias amarahku padanya.
“Chagi…” lirihnya hampir tak terdengar karena suara hujan yang deras. Aku tetap pada pendirianku. Tak mau melihatnya barang sebentar.
“Jebal… jangan seperti ini. Semuanya tidak seperti yang kau lihat” ujarnya mendekat dan mencoba meraih tanganku. Tapi aku menepisnya dengan kasar. Aku tak pernah semarah ini sebelumnya. Tapi semua ini terlalu sakit. Aku sudah berulang kali melihatnya bersama wanita itu. Bukan hanya tempat mencari ilmu kami yang berbeda, tapi profesi kami juga berbeda. Membuatku harus ekstra sabar menjalani hubungan ini dengannya.
Setiap hari aku harus merelakan dia bertemu dengan wanita itu di kampus mereka. Aku juga mengizinkan dia beradegan mesra dengan yeoja di salah satu MV lagunya, juga mengizinkannya berduet dengan wanita lain. Aku percaya padanya saat Daseung oppa mengatakan padaku bahwa dia menggoda yeoja lain saat di Jepang. Aku terus mempercayainya. Aku terus memberinya kebebasan karena dia selalu meyakinkanku bahwa hanya aku yang dia cintai. Bahwa hanya aku yang ada dihatinya. Dia selalu melarangku memikirkan pekerjaannya yang selalu berhubungan dengan wanita. Dia bilang itu hanya tuntutan pekerjaan. Yang benar adalah dia hanya mencintaiku.
Kudengar ia mendengus kesal karena aku hanya diam, tanpa melihatnya. Tiba-tiba tangannya terulur dan menarik tengkukku. Aku terkejut saat bibirnya membungkam mulutku. Aku berontak saat dia melumat dan menghisap bibirku dengan kasar. Sangat kasar. Aku merasakan perih dan asin di bibirku. Tanganku menahan dadanya karena tanganya terus menarikku agar mendekat. Dengar, Oppa! Sikapmu ini malah membuatku semakin membencimu! Kau tak pernah sekasar ini sebelumnya. Tapi ini benar-benar menyakitkan.
“Op-ppaa…” kata itu dengan susah payah aku keluarkan. Aku kembali menangis. Tapi aku yakin dia tak akan bisa melihatnya karena tertutup oleh air hujan. Kepalaku mulai berdenyut. Aku takut. Takut pada seorang Lee Seung Hyun yang kasar seperti ini. Kuremas kaosnya yang basah. Memberinya isyarat bahwa aku kesakitan. Aku terus mencoba berontak. Tak terasa aku terisak. Aku takut, dan ini sangat perih. Bibirku… hatiku…
Dia merasakannya, dan melepaskan ciumannya secara perlahan. Aku terus menangis tersedu. Sudah berapa kali kukatakan bahwa aku sangat takut. Tangannya ditengkukku perlahan turun, kemudian naik keatas. Mengusap pipiku dan mencoba membersihkan air mataku yang bercampur dengan air hujan. Mengusap bibirku yang sedikit berdarah akibat ulahnya. Aku tetap menunduk tak mau menatapnya. Terus mengeluarkan isakanku. Seung Hyun oppa menarikku kedalam pelukannya. Mendekapku erat, tapi kedua tanganku tetap siaga, menahan dadanya. Dia mencium keningku dan mengusap rambutku. Aku semakin terisak dan memukul-mukul dadanya keras lalu pelan. Kepalaku semakin berdenyut hebat. Sekarang suara isakanku terputus akibat terbatuk, kemudian melemah, dan aku tak bisa menopang berat tubuhku.

Baby, I can’t, I’m so bad
That I want to be good to you but it’s hard
Every day and night I’m so mean
‘Cause I’m so real, I’m sorry (But I can’t change)

Yong Kyung perlahan membuka matanya saat merasakan sinar matahari yang masuk dari celah ventilasi kamar. Ia meringis, sontak memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Matanya menatap sekelilingnya. Ini dirumah. Pikirnya saat mengetahui barang-barang didalam kamar itu adalah miliknya.
Suara pintu terbuka bersamaan dengan masuknya seorang wanita paruh baya dengan nampan putih berisi satu mangkuk bubur dan segelas susu. Wanita itu mengulum senyum saat melihat puterinya sudah bangun.
“Kepalamu masih sakit?” tanya wanita itu seraya duduk disamping Yong Kyung setelah meletakkan nampan diatas meja samping tempat tidurnya.
“Sedikit” sahut Yong Kyung masih menahan kepalanya. Wanita itu tersenyum tipis, kemudian tangannya terulur memegang kening Yong Kyung dan memijatnya pelan.
“Kau terlalu lama terkena air hujan” ujar wanita itu membuat Yong Kyung terdiam. “Untung saja Seung Hyun mau menggendongmu sampai ke rumah” lanjut wanita itu semakin membuat Yong Kyung membeku. Ia baru ingat kalau semalam mereka bertengkar ditempat yang jauh dari café dan mobil Seung Hyun.
“Apa dia jalan kaki?” tanya Yong Kyung setengah sadar.
“Geurae… Semalam dia basah kuyup dan terlihat lelah karena sudah menggendongmu. Eomma menyuruhnya untuk menginap, tapi dia tidak mau”
Yong Kyung kembali terdiam. Pikirannya mulai melayang memikirkan keadaan namja itu. Apa dia baik-baik saja sekarang? Apa dia terkena flu?
“Sebenarnya kalian darimana semalam? Kenapa harus hujan-hujanan sampai kau tak sadarkan diri?” tanya eomma. Yong Kyung berbaring dan meletakkan kepalanya dipaha wanita itu. Mengapit kedua tangannya dengan kedua kakinya. Ia kembali mengingat kejadian yang membuatnya harus lari dan bertengkar dengan Seung Hyun.
“Kalian ada masalah?” tanya eomma kembali memijat kening Yong Kyung.
“Tidak ada apa-apa” sahut yeoja itu dengan mata yang sedikit memerah.

I’m the one you love but sorry I’m a bad boy
Yes, just leave me, good bye, you’re good girl
The more time passes, the more you get to know me
Only disappointments will remain, but
Baby don’t leave me, I know you still love me
Why, yes, I’ll tell you the truth, I need you
My lay lay lay lay lady
My lay lay lay lay lady

Yong Kyung berjalan berdampingan dengan seorang namja yang merupakan sunbae-nya di kampus. Namja itu tak hentinya memberikan sebuah lelucon untuk Yong Kyung, sehingga gadis itu tampak menutup mulutnya dengan punggung tangan untuk meredam tawa. Meski berbeda jurusan, mereka kerap kali bertemu dan bercanda. Itu disebabkan karena saat duduk di sekolah menengah atas dulu, mereka adalah sunbae-hobae yang paling akrab sekaligus romantis. Hingga saat dipertemukan di sebuah universitas-pun, mereka masih menjaga hubungan, meski nyatanya tak lebih dari Oppa kepada Dongsaeng, atau mahasiswa biasa dan seorang selebritis. Jinwoon sering disibukkan dengan jadwalnya bersama 2AM. Meski begitu, namja itu selalu menyediakan waktu setiap harinya untuk menghibur atau sekedar menyapa Yong Kyung.
“Jadi Oppa benar-benar membekap mulutnya?” tanya Yong Kyung tak percaya. Mereka masih berjalan disepanjang area kampus. Tak memperdulikan tatapan mahasiswa lain yang melihat mereka dengan heran.
“Tentu saja. Dia bahkan tersungkur hingga menabrak meja”
“Hahahahahaha” kembali terdengar suara tawa Yong Kyung saat namja itu menjawab.
“Jinwoon oppa, kau sangat keterlaluan! Hahahaha” komentar Yong Kyung kembali dengan tawanya. Jinwoon membalasnya dengan senyuman lebar. Senang bisa menghibur yeoja didepannya setelah pagi tadi ia melihat yeoja itu murung, tak bersemangat.
Langkah mereka terhenti saat pandangan mereka tertuju ke depan. Senyuman yang menghias di wajah merekapun memudar dengan perlahan. Mendapati seseorang yang tengah berdiri memperhatikan mereka dengan kacamata hitam, topi dan sebuah jaketnya. Meski tertutup, mereka masih mampu mengenali sosok namja didepan mereka.
“Kyungie, aku pergi ne?” pamit Jinwoon yang mulai mengerti alasan Yong Kyung tak bersemangat pagi tadi.
“Ah! Ne, Oppa. Hati-hati” sahut Yong Kyung yang tersadar dan mencoba memberikan senyuman.
Setelah Jinwoon pergi, suasana hening tercipta diantara mereka. Hanya suara gemuruh yang dihasilkan mahasiswa lain yang menghiasi keadaan. Seung Hyun perlahan mendekat. Mencoba mengajaknya pergi kesuatu tempat untuk menyeselasikan semuanya. Sejak pagi pikirannya sangat kalut karena gadis itu tak menghubunginya, atau bahkan menjawab panggilannya.
Yong Kyung menepis tangan Seung Hyun yang mencoba menarik tangannya. Namja itu berdecak kesal, kemudian menarik kembali tangan Yong Kyung.
“Kita harus bicara” ujarnya sebelum benar-benar menarik pergi gadisnya.

You say that I’m different
Than other guys so it’s hard
You’re still like a young girl with soft heart
For you, who is always smiling next to me I’m still too young
With the excuse that I’m busy, I postpone our date
Because I’m sorry, because I’m frustrated, I turn my head
The bride in my dreams is just a friend now
Upset over the breakup, we are silent

Tangan Seung Hyun yang berada diatas meja terulur, mencoba meraih tangan Yong Kyung didepannya. Mencoba mencairkan suasana yang tercipta sejak mereka datang ke café yang biasa mereka datangi.
Kembali Yong Kyung menarik tangannya sebelum benar-benar digenggam Seung Hyun. Ia masih tidak bisa berdamai dengan hati kecilnya. Seung Hyun menghela nafas melihat respon Yong Kyung yang belum membaik. Ia sedikit bangkit untuk menggeser kursinya agar mendekat dengan Yong Kyung.
“Chagi…” Ia mencondongkan wajahnya agar bisa menatap mata Yong Kyung. Meski disebuah café, tapi mereka memesan tempat yang berada diluar café. Suasananya tidak begitu ramai karena ini sudah lewat dari jam makan siang.
Yong Kyung tak merespon. Gadis itu memilih mengaduk jus melonnya tanpa minat, enggan menatap Seung Hyun.
“Aku minta maaf” sambung Seung Hyun masih berusaha.
Ddrrrtt ddrrttt
Suara getaran dan dering ponsel terdengar, menahan kalimat yang ingin diucapkan Seung Hyun. Namja itu mengambil dan melirik ponselnya. Dari hyungnya yang bernama Jiyong. Mereka sudah berjanji akan berlatih untuk comeback album ke-6 mereka. Segera ia memencet tombol merah dan meletakkan ponsel itu diatas meja, tanda ia menolak panggilan. Tak ingin diganggu barang sebentar. Ia ingin menuntaskan masalahnya bersama gadisnya terlebih dahulu.
“Chagi, dengarkan aku… Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Yuri. Kaupun tau dia hanya teman kuliahku, dan kebetulan kami satu kelompok dalam mengerjakan tugas… Kau tau, ‘kan kalau aku hanya mencintaimu?” kembali Seung Hyun menggenggam tangan Yong Kyung. Meski gadis itu masih menolak, tapi ia kembali meraih dan menggenggamnya dengan sedikit paksaan.
“Aku mohon katakan sesuatu. Aku mencintaimu Kyungie-ya…”
“Lepaskan tanganmu sebelum para wartawan itu datang dan membuat berita yang macam-macam tentang kita” sahut Yong Kyung berbanding terbalik dengan apa yang ia harapkan.
“Aku tidak mau melepaskan tanganmu, meski kau yang meminta. Tolong, jangan seperti ini sayang”
“Lalu kau ingin aku seperti apa? Selalu mengerti tentang keadaanmu? Pekerjaanmu yang tak pernah luput dari makhluk Tuhan bernama ‘wanita’?” sahut Yong Kyung tajam. Akhirnya ia bisa mengatakan apa yang sudah membuat tenggerokan dan hatinya sakit.
“Tapi setidaknya kau tau bahwa aku hanya mencintaimu”
“Lalu membiarkan berita itu terus berkembang? Siapa yang tidak kenal seorang V.I Lee Seungri? Namja yang selalu mudah dalam urusan wanita. Bahkan disaat seperti itu aku masih tetap percaya padamu. Aku—”
Dddrrtttt dddrrrtttt
Ucapan Yong Kyung terpotong akibat suara dering yang kembali terdengar dari ponsel Seung Hyun. Mereka menoleh kearah ponsel, masih si pemanggil yang sama. Dengan sigap Seung Hyun kembali menekan tombol merah.
“Sebaiknya kau angkat telfonmu” ujar Yong Kyung menahan amarahnya.
“Tidak! Aku ingin menyelesaikan masalah denganmu terlebih dahulu. Aku mohon pertahankan rasa percaya itu”
“Kau mau aku percaya padamu sampai kapan? Sampai kau berhasil mengajak kencan wanita-wanita itu? Sampai kau bisa lebih leluasa berduaan dengan mereka?”
*Seungri’s POV
“Kau mau aku percaya padamu sampai kapan? Sampai kau berhasil mengajak kencan wanita-wanita itu? Sampai kau bisa lebih leluasa berduaan dengan mereka?”
Sungguh bukan itu Han Yong Kyung! Aku terus menggenggam tangannya meski aku tau dia tetap menolak. Sungguh! Aku tidak akan pernah melepaskannya meski dia terus meminta untuk meninggalkanku.
“Bukan itu maksudku” sergahku sedikit menaikkan nada bicaraku.
“Lalu apa?” tanyanya sedikit risih.
Ddrrrttt ddrrrttttt
Shit! Belum sempat aku menjawab, ponselku kembali berdering. Ini sungguh membuatku muak! Segera kutekan tombol merah untuk menolak. Aku mohon Jiyong hyung… jangan menghubungiku disaat seperti ini. Aku tau, aku sudah melewatkan setengah jam dari jadwal latihan kita. Tapi aku mohon untuk saat ini… saja.
“Sebaiknya Oppa angkat telfon itu dan pergi dari sini sebelum Hyun Shuk ahjussi benar-benar memecatmu!” Yong Kyung menghentak tanganku sehingga terlepas dari tangannya. Dia beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkanku tanpa memperdulikan teriakanku yang terus memanggil namanya. Aku mohon chagi… jangan seperti ini. Kau sudah tak bisa bersabar seperti dulu, tapi aku benar-benar tidak ingin melepasmu.
Dddrrrtt dddrrrrttt
Kulirik geram ponselku yang sudah menghancurkan semuanya. Segera kuangkat panggilan itu dengan kasar.
“ARRSEO! AKU AKAN SEGERA DATANG HYUNG!!!” teriakku marah dan segera menutup telfonnya tanpa memperdulikan tatapan pengunjung lain. Aku muak! Tak peduli besok akan ada berita apa mengenai diriku. Mereka benar-benar membuatku kesal hari ini. Tak bisakah mereka mengerti akan keadaanku yang sangat mencintai kekasihku? Segera kulangkahkan kaki meninggalkan café menuju gedung YG.

=oOo=

Tell me goodbye, tell me goodbye
dakishimeta te wo
Tell me goodbye, tell me goodbye
Hanasou…ou…o… boku wo wasureru koto ni jiyuu ni naru nara Baby
Tell me goodbye, tell me goodbye
Alunan musik yang dihasilkan dari lagu Tell Me Goodbye membuatku semakin terpuruk. Aku semakin menelengkupkan kepalaku diantara lipatan kedua tangan. Kenapa Taeyang hyung tega sekali memutar lagu itu? Meski Taeyang hyung memutarnya di ruang santai, tapi suara lagu itu terdengar sampai ke kamarku. Menyebalkan!
Aku benar-benar lemah sekarang. Setelah mendapatkan ocehan dari YGappa dan hyungku yang lain, aku memutuskan untuk pergi ke kamar dan mengurung diri. Bahkan aku tak mengizinkan Jiyong hyung masuk. Aku benar-benar ingin sendiri sekarang. Meski nyatanya aku benar-benar ingin melihat gadisku.
Aku kembali melihat ponselku. Tak ada pesan maupun panggilan balik darinya. Kutekan tombol dialup 2 untuk menghubungi Yong Kyung ‘lagi’. Suara nada sambung terdengar. Aku menunggu dengan gusar, dan beberapa detik kemudian hasilnya keluar. Dia tidak menjawab panggilanku. Entah sudah keberapa aku mengubunginya. Tapi dia sangat enggan untuk menjawab.
Kuusap layar ponselku yang memperlihatkan foto kami berdua sebagai wallpaper. Tengah tersenyum dengan tanganku yang merangkul pundaknya. Sangat merindukan senyuman itu. Tapi nyatanya akulah penyebab menghilangnya senyuman itu. Membiarkannya sakit dalam diam, bahkan memberikan tawanya dengan namja lain. Aku kembali mengingat kejadian kemarin saat melihatnya tertawa dengan maknae 2AM. Memang sangat kesal, dan tentu saja cemburu. Tapi… apa bedanya dengan apa yang kulakukan padanya? Aku memang seringkali membuatnya kecewa dengan sifatku yang mudah menciptakan kehangatan dengan seseorang. Pria dan wanita. Sayangnya lebih didominasi oleh wanita, dan itu malah membuat gadis yang paling kucintai membenciku.
Apakah aku harus melepasnya? Membiarkannya bebas menjalani hidup tanpa rasa khawatir karena memikirkanku dengan pekerjaanku? Bukan hanya karena aku yang dekat dengan banyak yeoja, tapi aku seringkali membuatnya kecewa dengan sikapku yang sering membatalkan kencan. Aku selalu memberikan alasan ‘sibuk’ dengan pekerjaanku sebagai seorang entertainer. Aku memang menyesalinya. Tak pernah datang tepat waktu, kembali dengan alasan pekerjaan. Bukankah aku pria yang jahat? Tak pernah memberikannya kebahagiaan yang berarti. Bukankah aku benar-benar pantas mendapatkan hukuman ini? Tak terasa cairan hangat membahasahi pipiku. Sejak kapan aku berubah menjadi sosok yang cengeng seperti ini?
Hanya karena kau, sayang… Aku bisa menjadi sosok yang lemah seperti ini. Aku merindukanmu. Aku memang lelaki jahat, tapi aku tak bisa melepasmu. Aku terlalu mencintaimu.
“Seung-chan?” suara panggilan itu terdengar setelah pintu diketuk. Aku tak peduli. Bahkan ketika pintu itu berhasil dibuka. Aku menangis tanpa suara, masih menenggelamkan kepalaku. Aku berubah menjadi sosok yang lemah sekarang.
“Gwenchanayo? Oh aigoo… kau menjadi cengeng sekarang” ejek Jiyong hyung yang kini telah duduk disampingku. Benar, hyung… aku memang cengeng karena Yong Kyung.
“Kau akan tetap seperti ini? Membiarkan air matamu dan Yong Kyung terus terbuang dengan sia-sia?” tanya Jiyong hyung dengan nada menyindir. Bukankah kau yang membuat kami harus membuang air mata ini? Tapi dengan cepat aku berpikir, mengingat keadaan Yong Kyung saat ini. Meski begitu, aku tetap yakin bahwa dia masih mencintaiku. Bahkan lebih. Mungkin saat ini dia lebih sakit daripada aku.
“Meski kalian saling mencintai, tapi wanita tidak akan pernah datang terlebih dahulu” lanjut Jiyong hyung. Seperti mendapatkan dorongan, aku bangkit dan mengusap air mataku. Benar… Yong Kyung masih mencintaiku, begitupun juga aku. Bagaimanapun caranya, aku adalah namja. Aku harus bisa membujuknya dan kembali padaku.
“gomawo, hyung…” Jiyong hyung memberikan satu tepukan sedikit keras dipundakku sebelum aku pergi meninggalkan dorm.

*Author’s POV
“Yong Kyung ada dikamarnya” ujar seorang wanita paruh baya setelah mempersilahkan masuk Seung Hyun. Namja itu menatap lantai dua dimana gadisnya tengah berada disana.
“Sejak tadi siang dia mengurung di kamar, tak mau diganggu, bahkan untuk diajak makan malam. Apa kalian sedang bertengkar?” tanya wanita yang masih terlihat muda itu. Seung Hyun menatap eomma Yong Kyung, tapi sesaat kemudian ia tertunduk mengingat kesalahan yang telah ia perbuat selama ini.
“Maafkan aku eomoni” lirih Seung Hyun hampir tak terdengar. Wanita itu terdengar mendesah pelan.
“Dalam sebuah kehidupan, kita pasti menemukan masalah yang tidak bisa kita duga sebelumnya. Menganggap semua yang selama ini kita lakukan adalah benar, adalah masalah yang sulit kita hindari. Perasaan setiap orang berbeda-beda dalam menanggapi sifat kita” ujar eomma Yong Kyung semakin membuat Seung Hyun menunduk.
“Aku tidak menyalahkanmu ataupun Yong Kyung. Tapi aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian jika kau sebagai namja tak bisa menyelesaikan masalah dan menaklukan puteriku” lanjut wanita itu membuat Seung Hyun mendongak.
“Temui, dan bawa dia kembali.” Perlahan senyuman itu terkembang. Satu tahun menjalin hubungan membuatnya mengenal dengan baik sosok eomma Yong Kyung. Bahkan wanita itu sudah menganggapnya sebagai calon menantu hingga membuat Seung Hyun berani memanggilnya ‘eomoni’.
“bawa ini” ujar eomma Yong Kyung seraya menyerahkan nampan berisi piring dengan nasi dan lauknya. Tak lupa segelas susu hangat. Seung Hyun segera menyeret kakinya menuju lantai dua setelah mengucapkan terimakasih pada wanita itu. Seperti mendapatkan sebuah energy tambahan setelah sebelumnya ia dapatkan dari Jiyong. Ia berani berjalan dengan percaya diri. Namja itu terdiam sejenak didepan pintu kamar Yong Kyung. Menghela nafasnya untuk memberikan ruang bagi paru-parunya. Perlahan ia mengarahkan tangannya dan mengetuk pintu bercat putih dengan hiasan gantungan huruf alphabet dengan nama ‘Han Yong Kyung’.
Tak ada jawaban dari dalam. Kembali ia mengetuk, namun hasilnya kembali nihil. Membuatnya semakin khawatir dan takut. Perlahan ia meraih gagang pintu berwarna kuning keemasan itu.
Ckleekk…
Suara khas itu terdengar setelah ia menekannya. Tidak dikunci. Pikirnya. Dilebarkannya pintu itu untuk melihat keadaan didalam. Kosong. Tak ada seorangpun disana, kecuali letak barang-barang yang tersusun rapi. Seung Hyun memberanikan diri untuk masuk kedalam dan menutup pintu. Dilihatnya sekeliling kamar gadisnya yang didominasi dengan warna biru dan tokoh kartun doraemon. Gadis pujaannya memang penyuka warna biru dan doraemon. Membuatnya semakin mencintainya dengan segala kekurangan dan kelebihan.
Seung Hyun duduk ditempat tidur Yong Kyung setelah meletakkan nampan itu diatas meja. Mengusap permukaan tempat tidur berwarna biru itu. Mencoba merasakan kehangatan yeojanya. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Kini ia yakin bahwa Yong Kyung tengah membersihkan diri. Sedikit sakit menyadari itu karena yang ia tau Yong Kyung sudah tiba di rumah sejak siang lalu, tapi yeoja itu baru membersihkan diri. Pandangannya beralih melihat bantal guling yang basah. Apa semenjak pulang gadis itu terus menangis dan lupa dengan kegiatannya membersihkan diri?
Suara pintu kamar mandi terbuka bersamaan dengan sosok yeoja keluar dari sana dengan piyama biru yang sudah melekat ditubuhnya. Yong Kyung berjalan seraya mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. Belum menyadari bahwa ada sosok lain yang berada di kamarnya.
“Oppa…” desisnya saat melihat Seung Hyun yang menatapnya intens. Gadis itu melempar handuk basah ke sisi tempat tidur.
“Mau apa Oppa kesini?” tanyanya ketus. Ia hendak berbalik untuk mengambil sisir yang ada dimeja rias, tapi dengan segera Seung Hyun menahan tangannya membuatnya terduduk disamping namja itu.
“ck! Lepaskan!” decaknya kesal menepis tangan Seung Hyun. Helaan itu lagi-lagi terdengar dari arah Seung Hyun.
Namja itu memperhatikan wajah Yong Kyung dari samping. Gadis itu masih tak mau menatapnya. Entah apa yang harus ia lakukan untuk membuat gadisnya luluh. Ia mengalihkan pandangannya dan mengambil piring diatas nampan yang tadi ia bawa. Menyendokkan nasi, sayur dan lauknya.
“Aku mendengar dari eomoni kalau kau belum makan” ujarnya, kemudian menyodorkan sesondok nasi dihadapan Yong Kyung. Gadis itu meliriknya sekilas, kemudian berpaling lagi.
“Aku tidak lapar” sahutnya ketus.
“Tidurmu tidak akan nyenyak jika perutmu kosong. Am?!” kembali ia menyodorkan sendok berisi itu. Awalnya Yong Kyung menolak, tapi gadis itu tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa dia memang sedang lapar.
“Aku bisa makan sendiri” Yong Kyung hendak merebut sendok ditangan Seung Hyun, tapi namja itu menolak dengan keras.
Akhirnya piring yang tadinya berisi makanan, kini telah habis dan bersih. Seung Hyun menyodorkan segelas susu dan Yong Kyung menerimanya. Namja itu tersenyum melihat gadisnya yang penurut. Salah satu dari beribu-beribu alasan konyol yang membuatnya bertahan bahkan semakin mencintai Yong Kyung. Tangan Seung Hyun terangkat keudara, memegangi kepala Yong Kyung dan sedikit mengacak rambutnya. Tapi gadis itu segera menepis tangan Seung Hyun, masih dengan caranya.
“Aku masih marah padamu” ujar Yong Kyung dingin, membuat namja itu tersenyum melihat tingkahnya.
Tiba-tiba Seung Hyun turun dari tempat tidur dan berlutut dihadapan Yong Kyung. Membuat gadis itu sedikit siaga. Seung Hyun memegangi kedua tangan dan menatap mata gadisnya.
“Sayang, apa yang dapat membuatmu bisa memaafkan aku?” tanyanya tepat menatap manik mata Yong Kyung. Ternyata namja itu sudah tak menginginkan adanya perdebatan. Tak ingin memperpanjang masalah. Tapi jika jawaban Yong Kyung adalah ‘berakhir’, dia tidak akan tinggal diam.
“Jika aku menginginkan sesuatu, apa Oppa akan mengabulkannya?” tanya Yong Kyung melembut. Sungguh. Gadis itu tak akan pernah bisa mempunyai rasa marah yang berkepanjangan untuk namja didepannya. Ia hanya ingin Seung Hyun mengerti bahwa dia adalah miliknya. Cemburu bukan alasan yang konyol untuk menunjukkan bahwa dia sangat mencintai namja didepannya bukan?
“Apapun… jika itu bisa membuatmu bahagia dan memaafkan aku” sahut Seung Hyun membuat Yong Kyung sedikit tegang, sekaligus senang dalam hati. Permintaan ini sudah matang ia pikirkan. Ini semua demi masa depannya dan hubungan mereka selanjutnya.
“Aku ingin kita menikah…” ujar Yong Kyung pelan. Membuat mimik wajah Seung Hyun berubah sedikit tegang. Pemintaan yang belum pernah ia pikirkan sebelumnya, kini dengan mudahnya terlontar begitu saja dari bibir gadisnya.

Don’t say a thing
I act tough but I’m not inside
Don’t abandon me
You know that there’s no one
Who will understand me like you, baby
Oh you, come back to me ye ye ye

“MWO? Apa kau ingin mati ditangan YGappa?!” TOP terbelalak dan berteriak kaget mendengar permintaan dongsaengnya.
“Bukankah kau juga diizinkan YGappa menikah dengan Jihyun noona?” balas Seung Hyun menginginkan pembelaan. Bukan alasan yang akan membuatnya menyerah jika YGappa yang menjadi alasan tak terkabulnya permintaan Yong Kyung. Sebenarnya bukan permintaan Yong Kyung sepenuhnya, namja itu juga tak dapat memungkiri bahwa dirinya menginginkan suatu ikatan yang resmi dengan gadisnya. Itu adalah impiannya sejak dulu. Mempersunting Yong Kyung dan memberikannya kehidupan yang layak. Bukankah dia sudah cukup mapan dalam hal materi? Restoran ayam goreng didaerah Myeongdong-nya mampu menghidupi keluarganya jika dia bukanlah seorang idol.
“Hey! Hey! Hey!! Aku tidak akan mengizinkanmu melangkahiku!” protes Jiyong menunjuk-nunjuk Seung Hyun geram.
“Bahkan aku belum mempunyai yeoja. Kau sudah mau menikah” sambung Taeyang sedih.
“Aku belum memikirkan hal sejauh itu dengan Cheryl” timpal Daesung. Seung Hyun menatap satu per satu hyungnya dengan tatapan sedih.
“Apa kau sudah meminta izin kepada orang tuamu?” tanya Jiyong yang mencoba mengulur semuanya. Sungguh. Baginya pernikahan bukanlah ikatan yang bisa dipermainkan.
“Mereka sudah mengizinkanku. Tapi mereka tetap memintaku untuk meminta izin kepada kalian dan YGappa” sahut Seung Hyun. Orang tuanya sudah lama mengenal Yong Kyung, jadi mereka tak perlu memikirkan hal yang terlalu berat untuk mulai menerima Yong Kyung sebagai menantu. Melihat member Big Bang yang lain hanya diam, Seung Hyun turun dari sofa dan berlutut dihadapan mereka dengan tatapan memelas.
“Aku mohon Hyung… izinkan aku menikah dengan Yong Kyung. Aku benar-benar mencintainya” mohon Seung Hyun dengan suara yang dibuat sesedih mungkin. Member Big Bang yang lain mendesis sedikit kesal dan berat.
“Aku mohon Seung Hyun hyung… aku ingin menikah” rengek Seung Hyun di kaki TOP. Membuat namja cool tapi konyol(?) itu meringis. Ia tau bagamana saat menginginkan sebuah pernikahan bersama Jihyun dulu. Sangat mendadak dan butuh pengorbanan mendapatkan izin dari semua pihak.
“Jebal hyung… izinkan aku menikah” kini Seung Hyun memeluk kaki Jiyong. Taeyang dan Daesung menatap Seung Hyun prihatin. Tetap saja mereka menyayangi dongsaeng mereka yang satu itu.
“Ok, Ok, Ok…” pekik Jiyong tak tahan. Seung Hyun mendongak, dan menatapnya dengan mata berbinar. “Tapi keputusan final ada di YGappa. Kau harus memintanya sendiri!” lanjut Joyong. Membuat ekspresi senang Seung Hyun berubah. Namja itu menatap hyung-hyungnya tak percaya. Bagaimana bisa mereka setega itu padanya?
“kami tidak mau ikut campur!” imbuh Jiyong dan mendapat anggukan dari yang lainnya. Membuat namja itu lemas. Dimana-mana rintangan terakhir selalu sulit.

=oOo=

Seung Hyun menatap pintu hitam yang tertutup didepannya. Ia sudah mengirim pesan kepada Yang Hyun Shuk, selaku CEO agensinya. Bagaimanapun caranya, ia harus mendapatkan izin untuk memuwujudkan impiannya bersama gadisnya. Seung Hyun mengetuk pintu itu dengan rasa takut.
“masuk” ujar suara dari dalam membuat nafasnya tertahan. Ia menelan ludahnya yang terasa berat. Perlahan tangannya terulur memegang gagang pintu.
“Hwaiting Lee Seungri!” pekiknya pelan sebelum akhirnya membuka pintu dan masuk ke dalam.
I’m the one you love but sorry I’m a bad boy
Yes, just leave me, good bye, you’re good girl
The more time passes, the more you get to know me
Only disappointments will remain, but
Baby don’t leave me, I know you still love me
Why, yes, I’ll tell you the truth, I need you
My lay lay lay lay lady
My lay lay lay lay lady

Yong Kyung berjalan lesu disepanjang trotoar. Satu minggu setelah pertemuannya bersama Seung Hyun dan dengan terang-terangan ia meminta menikah, mereka kembali hilang komunikasi. Ia tak berani mengirim pesan terlebih dahulu, tapi ia semakin sakit saat mengetahui Seung Hyun tak mengirimnya pesan maupun menelfonnya. Apa namja itu keberatan? Jika benar terjadi, itu semakin membuat gadis itu sakit. Seperti inikah seorang SeungRi Big Bang? Menghindar saat mendapat tekanan?
Langkah Yong Kyung terhenti saat melihat sebuah spanduk Big Bang. Beberapa minggu lagi grup idol yang satu itu akan segera melakukan comeback album. Apakah itu yang membuat Seung Hyun menghindar? Sedikit menyesali dirinya karena membuat tekanan sebelum demam panggung terjadi. Seharusnya ia memberikan semangat, bukan sebuah tekanan.
Yong Kyung mencoba menepis semua itu. Tapi dalam hati ia berjanji setiba di rumah ia akan menghubungi namjanya, meminta maaf dan memberinya semangat. Tapi saat ia berbalik, Yong Kyung langsung memekik saat telapak tangan kekar membekap mulutnya. Ia terkejut dan meronta, mencoba melepaskan diri saat pria dengan pakaian dan wajah serba tertutup menyeretnya menuju mobil audi hitam. Gadis itu dipaksa masuk dan dibawa pergi menuju tempat yang tak pernah ia ketahui.
=oOo=
Yong Kyung membuka matanya perlahan karena menerima intensitas cahaya yang dihasilkan dari lampu sebuah ruangan. Ia mencoba bangkit dengan memegangi kepanya yang terasa berdenyut. Menyadari bahwa dirinya tengah berada disebuah kamar yang terlihat mewah dan elegan. Matanya terbalalak saat melihat tubuhnya dibalut gaun serba putih dan mewah. Segera ia turun dengan susah payah dari tempat tidur menuju sebuah cermin. Melihat pantulan dirinya disana. Gaun mahal, tata rambut dan make up yang membuatnya terpesona. Terkejut dan takut. Itulah yang ia rasakan. Bagaimana bisa ia ada disini dengan keadaan yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Ckleekk…
Suara pintu terbuka. Yong Kyung segera menoleh keasal suara. Terlihat serang pria paruh baya dengan pakaian tuxedo lengkap tersenyum padanya.
“Appa…” lirihnya tak percaya. Kepalanya terasa berputar memikirkan hal ini. Apakah dia sedang bermimpi? Ia memang menginginkan pernikahan. Pernikahan bersama Seung Hyun. Tapi jika itu tidak akan terjadi, mengapa ide konyol itu sampai masuk ke alam mimpinya?
“Kau sudah siap?” tanya Mr. Han menghampiri Yong Kyung.
“Sebenarnya apa yang telah terjadi?” tanya Yong Kyung masih bingung.
“Bukankah kau ingin menikah dengan kekasihmu?” tanya Mr. Han seraya menyerahkan tangannya didepan Yong Kyung.
Kini batin gadis itu semakin berkecamuk. Seung Hyunku? Benarkah Aku akan menikah dengannya?. Mr. Han tak memperdulikan tatapan bingung peterinya. Dia menarik Yong Kyung saat gadis itu dengan tak sadar mengalungkan tangannya. Mr. Han membawa puterinya kesebuah tempat yang sudah disiapkan.
Dua pintu tinggi berwarna cokelat itu terbuka. Yong Kyung terpana melihat karpet merah yang memanjang didepannya dengan diapit barisan kursi yang tersusun rapi. Matanya mengikuti arah karpet itu menuju sebuah altar, seorang pendeta dan seorang namja memakai tuxedo putih tengah membelakanginya. Ia sangat mengenal namja itu. membuat kakinya seakan tak berpijak, melayang diudara yang bebas.
“Apa aku sedang bermimpi?” lirih Yong Kyung tanpa sadar. Mr. Han menoleh padanya.
“aww!” ringis Yong Kyung saat mendapatkan cubitan dari Mr. Han. Ia memandang dengan protes kearah appanya yang tersenyum geli.
“Untuk membuktikan bahwa ini semua bukan mimpi” ujar Mr. Han menjelaskan. Seketika hati Yong Kyung mendadak hangat. Tak menyangka ia berada dititik ini.
“Kajja” ujar Mr. Han. Yong Kyung mengambil nafas dan membuangnya perlahan. Rasa gugup itu tiba-tiba datang. Mr. Han segera melangkah, mulai mengiring Yong Kyung menuju altar.
Yong Kyung menatap dengan gugup kearah barisan tempat duduk yang dipenuhi tamu undangan. Beberapa diantara mereka adalah VIP. Mereka menunjukkan kepalan tangan, memberinya semangat. Yong Kyung dan Seung Hyun sudah lama menjalin hubungan, membuat public dan hampir semua penggemar Big Bang merestui hubungan mereka.
Beberapa langkah menuju altar, Yong Kyung melirik barisan tempat duduk paling depan. Terdapat semua member Big bang disana. Tak lupa istri dan putra TOP. Orang tuanya dan Seung Hyun juga berada disana. Sama seperti yang lain, mereka memberikan semangat, dan ia membalasnya dengan senyuman. Saat menatap lurus kedepan, matanya langsung menangkap sosok namja yang ia cintai sudah berbalik menghadapnya, tersenyum dengan gagah. Sungguh. Penampilan Seung Hyun sangat membuatnya kagum dan terpesona. Hatinya benar-benar hangat sekarang. Hampir saja ia meneteskan air mata.
“Sekarang kuserahkan puteriku padamu. Jaga dia sebaik mungkin” ujar Mr. Han seraya menyerahkan tangan Yong Kyung. Seung Hyun mengangguk dan membungkuk sekilas kearah Mr. Han sebelum akhirnya pria itu berbalik dan pergi menuju kursi yang telah disiapkan.
Yong Kyung dan Seung Hyun tersenyum saat mata mereka bertemu. Namja itu tak henti-hentinya memuji kecantikan gadis dihadapannya. Selama seminggu ini ia sengaja tak memberitahu Yong Kyung bahwa namja itu sudah mendapatkan izin untuk menikah dan mengajak gadis itu mempersiapkan semuanya. Ia ingin memberikan kejutan pada gadisnya dan memberitahu bahwa ia hanya mencintai Yong Kyung dan benar-benar ingin bersungguh-sungguh.
“Lee Seung Hyun! Apa kau bersedia menjadi pendamping hidup Han Yong Kyung dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit. Mencintainya sepanjang masa dan memberikannya kebahagiaan tanpa menyakitinya?” tanya seorang pendeta dihadapan mereka.
“Aku bersedia” sahut Seung Hyun mantap. Ia menoleh pada Yong Kyung yang juga menatapnya.
“Han Yong Kyung! Apa kau bersedia menjadi pendamping hidup Lee Seung Hyun dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit. Mencintainya sepanjang masa dan mengabdi padanya tanpa menyakitinya?” pertanyaan itu kini dilontarkan kepada Yong Kyung.
“Ne, aku bersedia” sahut Yong Kyung masih menatap Seung Hyun. Seakan menemukan kekuatan baru untuk menjalani hidup yang baru.
“Baiklah… sekarang kalian resmi menjadi sepasang suami isteri. Kau boleh mencium isterimu, Lee Seung Hyun-ssi” ujar pendeta itu. Dengan perlahan mereka menggeser kaki, membuat mereka kini saling berhadapan dan tersenyum penuh arti. Tangan Seung Hyun terulur dan mengusap lembut pipi Yong Kyung. Kemudian turun menuju leher, melingkarkan dan menarik tengkuk Yong Kyung bersamaan dengan ia mendekatkan wajahnya. Mereka berdua menutup mata saat bibir mereka dengan sempurna bertemu. Suara riuh tepuk tangan terdengar bersamaan dengan suara cepretan kamera yang dihasilkan dari berbagai media. Seung Hyun menarik pinggang Yong Kyung agar mendekat dan memperdalam ciuman mereka. Menciptakan kehangatan yang akan mereka jalani untuk membangun sebuah kehidupan baru dengan status baru. Keluarga kecil yang penuh dengan kebahagiaan akan segera tercipta, menghiasi lembaran yang baru saja mereka buka.

I’m always by your side, singing you a song
Would you look at me now, standing here
Turning a blind eye to the day, I’m born again
Come out
In my world
I’ll hold and protect you
(SeungRi – Outro ‘In My World’)

The end…

Note: aigooo… beneran senyum-senyum sendiri bikin ini #kelewat gaje sih iya -__-
Perpaduan tiga lagu. Bad Boy, Tell Me Goodbye dan Outro (In My World). Tapi lagu Bad Boy lebih mendominasi. Bagaimana? Haahh~~ maaf ya, coretan pembukanya sangat mengecewakan. Ini gara-gara Oppa sih….
Kkkkh~ baiklah…. Sekiranya coretan tidak berharga ini sangat membutuhkan apresiasi berupa komentar, kritik dan saran yang membangun. Terimakasih banyak telah membuka dan membaca. Sampai jumpa dilain kesempatan *bows*