20120403-095922

Tittle : The Prince Who Love to Sing
Author : Shafi Rades (@SHAFImagINATIon)
Cast : Big Bang
Genre : comedy
A/N : Ceritanya ngambil dari buku pelajaran Bahasa Inggris di sekolah.. Tapi mau author jadiin komedi. Hehe :p
========================================

Zaman dahulu kala, hidup seorang pangeran tampan berambut pirang bernama Kang Daesung. Dia sangat disukai para gadis di kerajaannya. Selain karena tampan, dia juga pandai dan hobi bernyanyi. Sayangnya, kepandaian bernyanyinya terkadang membuatnya jadi bersifat buruk. Setiap Ia bernyanyi, semua harus diam dan mendengarkan. Tidak ada yang boleh mengganggu. Jika ada yang mengganggu, dia akan menghukum orang itu.
Suatu hari, dia sedang berjalan di kota bersama pengawalnya, TOP. Di tengah jalan, Ia merasa ingin sekali bernyanyi.
“ya! Aku ingin bernyanyi..” kata Pangeran Daesung pada TOP.
“arasseo” jawab TOP sambil mengangguk. Ia lalu berteriak pada semua orang. “semuanya!! Pangeran Daesung akan berbaik hati memperdengarkan suaranya kepada kalian! Jadi diharap untuk tenang!!”
Dalam sekejap, suasana hening. Daesung tersenyum, lalu mulai bernyanyi. Semua mendengarkan dengan serius. Tapi ditengah nyanyiannya, tiba-tiba muncul seorang pengemis dengan tubuh kurus kering. Ia meminta uang kepada Daesung.
“mian.. Suaramu sangat bagus. Tapi, aku butuh uang untuk makan. Bisa kau berikan aku sedikit uangmu?” kata pengemis itu. Daesung mulai kesal.
“nugusseyo?!”
“nae ireum Jiyoung-imnida.. Aku mohon, beri aku uang..” sekali lagi pengemis itu meminta. Daesungpun mulai kesal.
“aku bisa saja membantumu!! Tapi tidak bisakah kau menunggu hingga aku selesai bernanyi?!! Apa kau tidak tahu kalau setiap aku bernyanyi, tidak ada yang boleh menggangu?!” teriak Daesung.
“hm? Aku tidak pernah denar ada peraturan seperti itu di dunia. Setahuku, yang tidak boleh diganggu itu saat orang sedang beribadah..” bantah Jiyoung sedikit polos. Daesung terdiam makin kesal.
“Pergi kau dari kerajaan ini!! Pengemis sepertimu yang tidak menghormati pemimpinnya hanya akan merusak image kerajaan!! TOP Hyung! Usir dia dari hadapanku!!” perintah Daesung pada TOP.
“ara!” TOP langsung menarik Jiyoung agar menjauh dari Daesung. “pergi!! Jangan ganggu pangeran lagi!!”
Jiyoung juga mulai kesal dengan sikap Daesung. Sambil berusaha melepaskan tarikkan TOP, Ia berteriak, “ya!! Pangeran macam apa kau ini?! Tidak bisa mengerti kesengsaraan rakyatnya!!”
“aku bisa saja mengerti.. Tapi kau tidak menghormatiku saat aku sedang bernyanyi! Dan kau harus pergi dari kerajaan ini!! TOP Hyung! Cepat bawa dia pergi!!” teriak Daesung.
“cepat kau pergi dari sini!!” TOP terus menarik Jiyoung pergi.
“arasseo!! Aku akan pergi!! Tapi ingat.. mulai sekarang kau aku kutuk! Kau tidak akan bisa lagi menyanyi!! Karena manusia sepertimu, tidak pantas memiliki suara yang bagus!! Haha!!” kata Jiyoung sambil tertawa, lalu melepaskan diri dari TOP. iapun pergi dari hadapan Daesung.
Sedangkan Daesung menatapnya aneh. “mengutukku? Haha! Ada-ada saja gembel itu..” batinnya sambil tertawa. “TOP Hyung! Ayo pulang!”
“arasseo”
———-
(Author NB: komedinya mulai dari sini ya )
Malam mulai tiba. Daesung sedang terdiam di kamarnya. Ia memikirkan kata-kata pengemis itu.
“apa benar dia mengutukku? Apa itu akan terjadi? Kalau benar terjadi bagaimana??” pikirnya. Ia takut Ia benar-benar tidak bisa bernyanyi lagi. “akh!! Sudahlah, dari pada mikirin itu, mendingan nyanyi!!”
Daesung menarik nafas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Lalu dilanjutkan dengan menyanyi. Tapi yang keluar dari tenggorokannya, bukanlah suara indahnya. Melainkan seperti suara kakek-kakek tua yang hinggap di jendela (?).
“i..ige mwoya??!!! Ini bukan suaraku!!”
Ia mencoba Menyanyi lagi. tapi tetap yang keluar bukan suara indahnya. Daesung sedikit terdiam.
“apa yang terjadiiii???!!!” Daesung berteriak sambil mengacak-acak rambut pirangnya. Tiba-tiba terdengar suara asing.
“ya! Jangan teriak-teriak begitu! Suaramu sudah tidak bagus lagi tahu?!” ujar suara yang tak disertai penampakan apapun.
“nu..nuguya?!” Daesung kaget dan langsung celingak-celinguk mencari sosok itu.
“i’m here~~” tiba-tiba muncul sosok pria berbaju serba putih, bercahaya, rambut jabrik dan pendek.
“lah?! Kok situ bisa terbang?!”
“aku peri SOL..” jawab sosok itu dengan senyum stay cool.
“pe… RISOL?? tukang jual risol?”
“…..” hening. “peri Taeyang.. Jelas?”
“peri? Zaman gini ada peri?! Haha! Namja pula.. Udah rambut mirip lobak gitu! Bwahaha!!” Daesung tertawa terbahak-bahak. Taeyang hanya diam kesal.
“diam kau!!” Taeyang lalu menempelkan lakban di mulut Daesung. “dengar ya, aku datang untuk membantumu keluar dari kutukan itu!!”
“hm?!!” Daesung melepaskan lakban di mulutnya. “jinjja?! Kau bisa melakukannya?!”
“ne..” ujarnya. Lalu Taeyang menjelaskan, “Pengemis yang tadi siang mengutukmu itu. Dia adalah seorang penyihir. Sayangnya dia miskin, dan tidak ada yang mengenalnya..”
“aku tidak mau tahu!! Yang aku mau, kau hilangkan kutukan itu sekarang juga!!” Daesung meminta, menatap Taeyang penuh harap sambil memeluk kaki Taeyang yang melayang itu. Taeyang menatapnya kesal.
“terserah kau sajalah!” Taeyang melepaskan tangan Daesung dari kakinya. “dengar ya?! tidak ada kutukan yang bisa hilang dengan sekali sihir. Kalau kau mau kutukan itu hilang, kau harus berbuat baik dulu kepada orang lain”
“berbuat baik?” Daesung bingung. “untuk apa berbuat baik? Apa hubungannya dengan kutukan itu?”
“dasar pangeran ppabo!! Kutukan itu datang padamu, setelah kau bersikap buruk pada pengemis itu, kan?! Nah, untuk menebus kesalahanmu, kau harus berbuat baik kepada orang lain! Ara?!”
“ohh.. Arasseo!”
“oke.. Aku pergi dulu. Anyeong!!”
“ya! Chamkkanman! Dimana aku bisa berbuat baik?!” tanya Daesung menarik kaki Taeyang.
“bodoh banget sih, nih orang? Berbuat baik itu bisa dimana saja! Kalau perlu, kau cari sampai di luar kerajaanpun pasti ada!! Sudah ah! Aku mau pergi! Anyeong!!” Taeyangpun menghilang dari pandangan. Sedangkan Daesung masih terdiam.
“di luar kerajaan? Apa benar?”
———-
Keesokan harinya, Daesung bersiap keluar dari kerajaan. Ia mengikuti kata-kata peri Taeyang itu. Awalnya, TOP berniat menemaninya, tapi Daesung menolak. Dia ingin semua Ia selesaikan sendiri.
Daesung sampai di hutan yang sudah jauh dari kerajaan. Iapun merasa lelah. Lalu Ia duduk di bawah pohon untuk beristirahat yang ketiga kalinya. Roti yang Ia bawapun tinggal yang terakhir. Saat hampir melahap rotinya, Ia sadar seseorang sedang memperhatikannya dari balik semak-semak.
“nu.. Nuguya?!” orang yang mengintip itu tidak menjawab. Ia terus memperhatikan roti yang ada di tangan Daesung. Daesung tahu kalau orang itu pasti kelaparan. “dia kelaparan? Tapi.. Ini roti-ku yang terakhir..”
Daesung kembali berpikir. Iapun berdiri, lalu mendekati orang itu. “kau mau?” tanyanya.
Orang itu menatap Daesung, lalu roti yang ada di tangannya. Tanpa menjawab, orang itu mengambil roti itu. Lalu mereka duduk di bawah pohon. Daesung menatap orang di sebelahnya itu.
“neo ireum?” tanya Daesung.
“mh.. Seungri-imnida..”
“kau kelaparan?”
“ne.. Dari pagi aku belum makan apa-apa. Appaku keluar mencari makanan dari pagi. Tapi sampai sekarang dia belum pulang..” jawab Seungri sambil terus melahap rotinya. Daesung menatapnya iba. “ada apa? Ada yang salah denganku?”
“ah! Ani.. Hanya saja-” Daesung belum sempat menjawab, Seungri bertanya,
“kau siapa? Kenapa kau baik sekali?”
“ah, ng.. Kang Daesung-imnida..” jawaban Daesung membuat Seungri mematung menatapnya. “m..Mwo?!”
“jeoseonghamnida, pangeran!! Aku minta maaf bersikap tidak sopan padamu!!” Seungri berlutut di depan Daesung. Daesung kebingungan.
“sudah, tidak apa-apa..” Daesung membangunkan Seungri dari berlututnya. “anggap saja aku ini temanmu..”
“jinjja?” Daesung mengangguk. “kamsahabnida, pangeran!!”
“ne”
“ng.. Pangeran! Bisa kau bernyanyi untukku? Hehe..” pinta Seungri cengengesan. Daesung kaget.
“Mwo?! Be..Bernyanyi?! Tapi aku-” Daesung mencoba Menolak. Tapi Seungri menyikut lengannya.
“ayolah, semua orang tahu kalau kau itu memiliki suara paling bagus” Seungri membujuk. “tenang saja. Aku akan diam mendengarkan, kok..”
Daesung menatap Seungri yang tersenyum penuh harap padanya. “suara bagus sih, dulu.. Sekarang suara mirip kakek tua hinggap di jendela gini? Mau nyanyi gimana??” batinnya.
“pangeran!” teriak Seungri membuat lamunan Daesung terhenti. “ngapain bengong sih? Ayolah.. Atau jangan-jangan, suara pangeran sudah berubah jadi kayak kakek tua hinggap di jendela? Haha! Piss, pangeran..”
Seungri mengangkat dua jarinya, dan tersenyum polos. Daesung menatapnya. “kok dia bisa tahu?”
“kok situ bisa tahu suaraku sudah jadi suara kakek tua hinggap di jendela?” tanya Daesung. suasana hening. Mereka saling tatap.
“maksud pangeran?”
“ng..” Daesung berpikir. Diapun menceritakan kejadian yang menimpanya kemarin. “kemarin, saat aku sedang bernyanyi, ada seorang pengemis yang meminta uang padaku. Akupun kesal, dan mengusirnya dari kerajaan. Tapi rupanya, pengemis itu adalah penyihir. Diapun mengutuk suaraku jadi jelek..”
Seungri menatap pangeran itu yang sedang menunduk. Tatapan tidak percaya. Hening.
“Bwahaha!!” tiba-tiba Seungri tertawa. “ya ampun! Pangeran itu lucu sekali!! Bagaimana mungkin hal seperti itu bisa terjadi?! Pangeran cuma mimpi mungkin!! Haha!”
Daesung menatap Seungri yang masih terus tertawa. “aku tidak bohong! Dan itu juga bukan hanya mimpi! Aku benar benar di kutuk..”
“jinjja?!” Seungri berusaha menahan tawa. “kalau begitu, coba dengarkan suaramu yang jelek itu padaku..”
“kau tidak akan menyesal?” tanya Daesung. Seungri menggeleng. Daesungpun menarik nafas, dan mulai bernyanyi. Ajaibnya, suaranya kembali menjadi bagus. Daesung sendiri bingung. Seungri tertawa.
“haha!! Apanya yang kutukan?! Apa suara seindah itu adalah kutukan?! Hhaha!!”
“ta..tapi tadi malam suaraku benar-benar jelek..” kata Daesung kebingungan. Diapun ingat kata-kata peri Taeyang. Berarti yang Ia barusan lakukan adalah kebaikan. Daesungpun memeluk Seungri yang masih tertawa. “Seungri-ya!! Kamsahabnida!! Karena kau, suaraku kembali seperti semula!! Kutukan itu sudah hilang!! Terima kasih!”
“a..apa?!” Seungri bertanya tidak mengerti. Lalu Daesung berdiri.
“terima kasih, ya? Sekarang aku bisa pulang” kata Daesung. Lalu Ia merogoh saku, mengambil uang dan memberikanya pada Seungri. “ini untukmu.. Sebagai tanda terima kasih sudah mengembalikan suaraku.. Aku pergi dulu, ya? Anyeong!!”
Daesung pun pergi meninggalkan Seungri. Seungri hanya diam kebingungan dengan uang ditangannya. Dan mulai saat itu, Daesung menjadi pengeran yang lebih baik. Semua orang tidak harus diam saat Ia sedang bernyanyi. Mereka bebas ingin berkomentar apa saja. Dan Daesung juga tidak akan menghukum lagi orang yang mengganggu ya di saat Ia sedang bernyanyi.





“and…….. CUT!!” ujar TOP dengan toa-nya. “oke!! Akting kalian bagus sekali!! Cerita ini akan jadi cerita yang paling menarik di antara semua parody Big Bang!!”
“tapi Hyung..” kata Jiyoung bersama Taeyang berdiri di depan TOP dengan wajah melas. “bagian kita kok dikit bangeeet???!!!!”
Jiyoung dan Taeyang menangis guling-guling di lantai (?). TOP menghela nafas. “karena peran kalian bukan yang utama!”
“kenapa bukan kita pemeran utamanya, Hyung?! Kenapa harus Daesung?!” kata Jiyoung protes. “ne! Kenapa bukan aku saja?!” lanjut Taeyang.
“soalnya Daesung suaranya paling bagus.. Sudah ah, jangan berisik! Aku sama Seungri yang lebih dikit aja nggak protes kok!” jawab TOP agak kesal. Taeyang dan Jiyoung cuma bisa nangis peluk-pelukan. “arasseo!! Pengambilan gambar sudah selesai! Sekarang, film ini harus kita perlihatkan pada YG appa!”
“ya! Camkkanman!!” teriak Seungri. “apa yang mau di kasih ke YG appa, Hyung?!”
“hah?!”
“maksudmu apa Seungri?” tanya Daesung. Seungri tidak menjawab. Dan dengan polos, Seungri membuka penutup kamera perekam yang sedari tadi masih menempel di sana. Suasana hening. Semua menatap TOP sinis.
“eh? Ng.. Ka..kayaknya kita harus ulang lagi, ya?? Hehe..” TOP cuma cengengesan.
“Kubur TOP Hyung hidup-hidup!!” – Daesung.
“bakar TOP Hyung!!” – Seungri
“penggal lehernya!!” – Taeyang
“kerok otaknya!!” – Jiyoung
“KEJAAAAR!!!” semua langsung mengangkat senjata masing-masing, dan mulai berlari menuju TOP.
“AMPUUUN!!!!!!!!!!!!!!!!”









– The End………………..
=========================================
Hehe.. Eottokhae?! Gaje,kah?! Pastinya~~ Hehe..
Tapi makasih, buat yang udah baca fanfic gaje ini..
Dan diharapkan meninggalkan jejaknya ya? OKE
COMMENT or LIKE please!! ^^