dsad

Title: Hate You

Author: Diyun

Casts:

  • Kim Jennie
  • Kwon Jiyong

Genre: Hurt

Rating: SU

Lenght: Drabble

Summary: Aku membencinya, bukan karena kamu pergi bersama orang lain, tapi karena kamu datang ketika aku telah mengubur semua kenangan kita dalam-dalam.

Kerongkongan Jennie serasa tercekat tatkala melihat seseorang tengah duduk di bawah pohon willow; tempat favoritnya untuk bersantai sekaligus memikirkan kejadian yang seharian telah dialaminya. Dadanya terasa bergemuruh, mendadak dilema menguasai batinnya; antara mengusir orang itu pergi atau kembali ke rumahnya dan menunggu hingga esok hari. Dan akhirnya Jennie Kim memilih untuk pergi.

“Aku janji akan kembali.”

“Untuk apa? Kembali hanya untuk membuka luka lama lagi? Lebih baik jangan.”

“Dengar, aku mencintaimu. Bukan mauku begini.” Jiyong mengelus pipi Jennie lembut, menghapus sebutir air mata yang lolos dari mata Jennie. Namun Jennie berontak, ia menepis tangan itu,  matanya menyipit, “bullshit.” Ia mendesis. “Kamu mencintai Kiko, bukan aku.”

Gadis itu kemudian menundukkan kepalanya, walau sakit ia harus tetap membiarkan Jiyong pergi.

“Pergilah, aku akan baik-baik saja.” Dan hanya itu yang bisa dia ucapkan. Bukan sebuah janji atau apapun, hanya kalimat yang setidaknya akan menguatkan dirinya sendiri.

Ya, aku baik-baik saja.

Jennie memutuskan untuk kembali ke tempat yang sama esok harinya. Namun langkahnya kembali terhenti, hanya berjarak kurang lebih dua meter dari tempat favoritnya Jennie tertegun. Ia menggigit bibir ketika matanya bertemu dengan mata sosok lelaki yang sangat ia kenal. Dadanya mulai terasa sesak, tapi ia paksakan bibirnya mengulas senyum kecil. Tangannya terangkat dan ia melambai.

Lelaki yang kini sedang berdiri di bawah pohon kesayangan Jennie itu tak memberi respon apapun. Bahkan sebuah senyuman. Wajahnya datar tanpa ekspresi apapun, seolah ia berubah menjadi seonggok patung yang sengaja dipasang disana.

“H-hai,” Jennie menyapa canggung, tapi kemudian menunduk, ia menurunkan tangannya, mendekap sebuah buku yang ia bawa.

“Tak apa, aku akan pergi.”

“Apa?”

Jennie mendongak, yang ia lihat kini membuat jantungnya berdegup tak karuan. Lelaki itu berjalan mendekat, kemudian ia menyentuh bahu Jennie, mencengkeramnya erat.

“Lama aku menunggu untuk bertemu denganmu dan sekarang kau bilang akan pergi?!”

Suara lelaki itu terasa menembus jantungnya.

Ia rindu suara itu.

Ia kehilangan suara itu.

Bertahun-tahun Jennie menunggu suara itu kembali memenuhi otaknya, kembali membuatnya terjaga ditengah malam akibat kalimat-kalimat indahnya yang selalu ia katakan.

Sekarang dia telah kembali. Tapi kenapa Jennie merasa ada yang berbeda?

Kenapa semuanya terasa tak sama? Bahkan tatapannya. Apa yang salah?

“Jiyong.. aku..”

“Apa? Kau tidak merindukanku, hah? Aku melihatmu datang ke sini kemarin, tapi kenapa kau malah pergi?” Jiyong mengguncang tubuh kecil Jennie. Gadis itu diam, dan kepalanya terus menunduk.

“Kenapa.. kau kembali?” Jennie berbisik.

“Karena aku sudah berjanji.”

Jiyong menarik tubuh mungil itu mendekat, mendekapnya erat. Lelaki itu mengelus puncak kepala Jennie lembut, seakan tak ingin kehilangan gadis itu lagi.

Tapi Jennie tahu. Hati Jiyong tak bersamanya. Ia benci menerima kenyataan bahwa ia tak akan pernah bisa memiliki hati Jiyong seutuhnya. Jennie membencinya, bukan karena ia pergi bersama orang lain, tapi karena dia datang ketika Jennie telah mengubur semua kenangan mereka dalam-dalam.

“Aku masih mencintaimu, meskipun aku bersama Kiko.”

Jennie tahu Jiyong berbohong.

 

Jennie dan Jiyong. Double J yang selalu bersama, tiga tahun lalu. Mereka bertemu di SMU dan telah menjalin persahabatan selama kurang lebih empat tahun, dan empat tahun itu adalah waktu yang cukup lama bagi Jennie untuk memahami sifat Jiyong. Ia adalah tipe orang yang perfeksionis. Ia selalu memperhitungkan semua perbuatannya. Selalu memastikan semua perkerjaannya berjalan sempurna.  Dan Jennie yakin ia sudah memperhitungkan kehamilan Kiko. Ia juga yakin Jiyong telah memikirkan pernikahan mereka matang-matang.

 

Menyedihkan. Dia bahkan menganggap aku mengemis cinta padanya. Dia bahkan kasihan padaku.

 

Jennie mendorong tubuh Jiyong menjauh. Ia mundur beberapa langkah, tubuhnya bergetar.

“Aku tidak menyukaimu lagi. Pergi. Aku benci kau.”

Kemudian berlari pergi sembari mendekap bukunya, Jennie memejamkan mata.

Aku benci kau.

 

TAMAT

Author’s note: Maafkan saya kalau aneh, gaknyambung atau apalah hehe. Terimakasih sudah membaca😀